"Zero, selamat datang..."

−Yuki Cross/Kuran 'Vampire Knight'


"Atarashii Hajimari"

新しいはじまり

Disclaimer: Semua yang ada di cerita ini bukan milik saia... TAT

Summary: Kehidupan para Vocaloid setelah menikah? Wew, apa ya yang terjadi kalau mereka menikah ya? Apakah ini happy ending? Atau... sebaliknya?

Rate : T

Warning: OOC(?), AU (semi AR), abalness, gajeness, lebayness, typo beranak-cucu(?), dwwl. Oh, hampir lupa. "Don't LIKE, Don't READ" tombol back masih setia ditempatnya~~


"Chapter 02 : Meet With You Again"

"Mama..." panggil seorang anak kecil berparas manis itu. Ia menggoyangkan bahu seorang wanita berambut pirang panjang yang sedang tidur bersandar di sebuah bangku taman. Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, ia kembali menggoyangkan bahu wanita itu lagi.

"Mamaaaaaaaaaa!" jeritnya. Wanita yang sedari tadi terlelap itupun dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya, menampakkan kedua bola mata secerah kristal sapphire miliknya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan membenarkan posisinya untuk duduk dengan nyaman.

"Ada apa, sayang?" ucap wanita itu, ia mengangkat gadis kecil itu dan membawanya ke dalam pangkuannya.

Anak gadis itu memberengut sebentar, lalu mendongak menatap wajah ibunya itu. Ia berkata, "Lenka kangen Papa, Ma..." ungkapnya.

Wajah anak kecil berumur lima tahun itu kian menggelap. Ibunya tersenyum lembut dan mengelus rambut anak kecil itu dengan penuh kasih sayang.

"Mama juga kangen papa kok, Papa juga pasti kangen sama Lenka," ucap wanita itu, atau lebih tepat kita sebut ia Rin. Lenka, sang anak menggembungkan pipinya sesaat.

"Lalu kapan Papa pulang, Ma?" tanyanya, Rin tersenyum kembali dan mengelus kepala Lenka pelan.

"Sebentar lagi sayang, pasti Papamu sebentar lagi pulang...," Rin berucap lembut. Lenka menunduk dan berseluncur kecil turun dari pangkuan Rin.

"Uhh, kalau begitu Lenka main lagi ya, Ma?" ucap Lenka, Rin hanya tersenyum kecil melihat putri semata wayangnya itu berlari menjauh.

"Len...," lirih Rin.

~xXx~

"Yo, Len, pekerjaanmu selesai?" tanya Piko, teman sekamar Len. Ia menepuk pundak Len pelan sambil tersenyum senang.

"Yah, begitulah, Piko. Kau sendiri?" tanggap Len, ia mulai mengemas pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.

"Tinggal tes patisiere terakhir dan aku bisa pulang," ungkap Piko, "Aku sudah rindu dengan Miki dan calon anakku," lanjutnya.

Len tersenyum dan menghentikan acara packing-nya sejenak.

"Oh iya, ya... dua bulan lagi dan kau resmi menjadi seorang ayah." kata Len, ia menoleh ke arah Piko yang sekarang telah duduk di tepi ranjangnya.

"Tenang saja, kelihatannya kau cemas sekali." ucap Len. Piko menggeleng pelan dan menolehkan kepalanya ke luar jendela.

"Aku takut terjadi apa-apa pada Miki," ungkap Piko, Len yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Piko itu menempuk pundaknya pelan.

"Tenang saja, Miki pasti tak apa-apa. Di sana juga ada Rin yang siap menjaga Miki 24 jam," ucap Len sambil terkekeh.

"Eh?" ceplos Piko kebingungan.

"Rin tak akan pernah membiarkan temannya kesusahan walaupun dia sendiri sedang dalam keadaan sulit." ucap Len. "Jadi tenanglah dan bawa mendali patisiere jenius sedunia padanya." lanjut Len, Piko tertegun tapi segera tersenyum dan mengangguk semangat.

"Oke!"

~xXx~

"Ohayou~" sapa Rin ketika memasuki sebuah rumah berpapan nama 'Utatane' itu.

"Rin-chan! Ohayou mo~" sapa sang empunya rumah, Furukawa Miki, atau sekarang kita harus menyebutnya Utatane Miki. Dia adalah teman baik Rin semasa SMA dulu.

"Nee, Miki-chan, bagaimana keadaanmu?" ucap Rin seraya mendekati Miki, ia menduduki salah satu kursi kayu di sana dan meletakkan tas kecilnya di meja.

"Baik kok, ngomong-ngomong, mana Lenka-chan?" tanya Miki setelah sadar bahwa Rin masuk sendirian tadi.

Rin tersenyum kecil, "Oh, dia–" ucapan Rin terpotong begitu suara kecil nan imut terdengar memanggilnya dari arah pintu masuk. Rin melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk, menghampiri malaikat kecilnya yang sedang berdiri di sana.

"Mama, ini." kata gadis kecil berusia lima tahun itu, Rin mengambil beberapa tas kertas yang dibawa sang anak dan membawanya ke dapur. Sedangkan Lenka sendiri langsung melewati Rin untuk memeluk Miki.

"Tante Miki~" ucap Lenka saat dia berhasil memeluk Miki, Miki tertawa kecil dan mengangkat Lenka untuk duduk di sofa-nya.

"Ada apa, manis?" jawab Miki, Lenka sedikit menekuk tubuhnya dan mendekatkan telinganya ke perut Miki.

"Kapan adik bayinya keluar, tante? Lenka ingin bertemu dengannya," tanya Lenka, Miki tersenyum dan mengelus kepala Lenka.

"Sebentar lagi. Nanti saat adik bayinya keluar, dia pasti juga sangat ingin bertemu dengan Lenka-chan." ucap Miki, mata kecil Lenka bersinar.

"Benarkah?" Miki mengangguk dan Lenka mulai bertanya macam-macam pada Miki tentang bayi yang dikandungnya itu.

~xXx~

'Tap'

Seorang laki-laki berparas tampan berambut blonde itu kembali menginjakan kakinya di bumi Tokyo yang sekarang dibalut warna oranye dominan. Yah, bagaimana lagi? Sekarang memang sedang musim gugur jadi daun-daun mulai berguguran untuk menyambut musim dingin. Lelaki itu segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar bandara, 'Setidaknya memberi kejutan sedikit tak apa,' ucapnya dalam hati.

Sang lelaki atau yang akrab dipanggil Len itu menunjukkan passportnya pada penjaga dan mengantri untuk diperiksa. Yah, sedikit prosedur keamanan bandara yang cukup merepotkan. Len dengan kalem masuk ke dalam antrian sembari mengeluarkan handphone flip-nya. Len tersenyum miring, ia membuka handphone-nya dan membuka contact listnya, mencari nama orang paling berharga untuknya.

~xXx~

"Sayang, Lenka mau makan malam apa?" tanya Rin ia telah memakai apronnya dan sedang mengeksplorasi isi kulkasnya.

Lenka yang dari tadi duduk di kursi meja makan pun menoleh ke arah mamanya dengan mata berbinar, "Lenka mau makan okonomiyaki, Ma!"

Rin tertawa kecil dan mulai mencari bahan untuk membuat okonomiyaki, "Baiklah,"

Rin menaruh bahan-bahan di atas meja dan mulai mencampurkan bahan-bahan itu, mata Lenka berkerlap-kerlip melihat gerakan-gerakan mamanya.

"Suatu hari, aku ingin seperti mama," ucap Lenka semangat, ia mengayunkan kaki kecilnya untuk turun dan memeluk mamanya. Tapi namanya juga masih lima tahun, Lenka hanya bisa memeluk kaki Rin. Rin hanya tertawa, ia mengelus kepala Lenka sebentar dan kembali memasak.

'Kriiiiiing,'

"Eh? Telepon?" Rin segera menyelesaikan adonan okonomiyaki itu dan berlari ke arah telepon rumahnya.

"Moshi-moshi," sapa Rin.

"Rii-chan" ucap seseorang dari seberang telepon tersebut. Rin mengerutkan alis sebentar, suara itu terasa familiar baginya.

"Lily-chan?" tebak Rin ragu, tak lama terdengar suara tawa kecil dari seberang.

"RightHisashiburi, Rii-chan" Rin tersenyum, ia memang sudah lama tidak berhubungan dengan Lily setelah pesta penikahannya lima tahun yang lalu.

"Hisashiburi, ne, ne, ada apa Lily-chan? Bagaimana kau tahu telepon rumahku?" tanya Rin antusias. Jelas saja, kabar terakhir yang ia dengar tentang Lily adalah bahwa ia akan pergi ke Paris dengan suaminya yang seorang artis itu. Oh, rasanya Rin melupakan sesuatu...

"Kau sepertinya lupa aku siapa~" ucap Lily bangga. Ya, dulu saat di SMA Lily dikenal sebagai si programer jenius. Tentu saja membobol suatu jaringan atau situs bukanlah sebuah masalah besar bagi Lily, catat itu.

Rin tertawa sejenak, "Tentu saja tidak, dan sepertinya itu menjawab pertanyaanku ya?"

"Kau tau saja," dan dengan itu pecahlah tawa antara keduanya.

"Mama!" teriak Lenka dari arah dapur, sepertinya ia sudah lapar dan lelah menunggu mamanya selesai bertelepon.

"Lily-chan, sudah dulu ya. Nanti telepon lagi, aku harus mengurus makan malam dulu." ucap Rin, Lily terkekeh pelan.

"Baiklah, Jaa Rii-chan" ucap Lily yang kemudian memutus sambungan telepon mereka. Rin menatap telepon yang ada digenggamannya sejenak mengingat sosok Lily yang dulu adalah teman baiknya itu, kedua setelah Miki lebih tepatnya. Sebelum teriakan Lenka kembali membuyarkan lamunannya itu.

Di sisi lain...

"Sepertinya Kau lupa memberitahu Rin bahwa kita akan kembali," ucap seseorang berambut kuning emas pada seorang wanita berambut pirang panjang.

Wanita itu tertawa kecil sembari menghadap sang pria dan berkata, "Biarlah ia menyadarinya sendiri, lagipula kau sudah mengurus semuanya kan, Nero?"

Nero mengangguk, "Aku sudah menyelesaikan semuanya, Lily. Kau tenang saja,"

"Baiklah,"

~xXx~

'Cklek' Rin menutup pintu kamar Lenka dengan halus, sekarang sudah jam sembilan jadi sudah waktunya Lenka untuk tidur.

"Huft, tinggal merapikan dapur dan meja makan." ucapnya pelan, Rin perlahan menuruni tangga untuk membersihkan meja makan dan dapurnya. Namun baru satu pijakan, handphone-nya berdering. Ia merogoh kantung bajunya dan mencari benda kecil berwarna oranye itu.

"Moshi-moshi?" sapa Rin tanpa melihat ID penelponnya itu.

"Rin, ohayou" ucap sang penelpon, Rin yang mendapatkan tanda tanya besar di atas kepalanya itu langsung menjauhkan sedikit handphonenya dan melihat siapa penelpon ngelindur yang menyapa 'ohayou' padanya.

"Len? Kau ngelindur?" ucap Rin spontan. Bisa dipastikan Len sedang cemberut di seberang sana.

"Jahat sekali... apa kau sudah tak mencintaiku..." ucap Len tersendat-sendat, kedengarannya ia sedang menangis sekarang. Rin gelagapan.

"E-eh? Ti-ti-tidak kok! Jangan ngambek dong Len..." pinta Rin, ia bahkan sepertinya lupa dengan tugasnya untuk membersihkan meja makan. Tak lama terdengar suara tawa lepas dari telepon Rin.

"Uhhh, Len! Kau membohongiku!" protes Rin, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi meja makan yang masih berantakan itu.

"Hahaha, maaf, maaf, habis kan sudah lama aku tak bermanja padamu," rajuk Len, muka Rin memanas mendengarnya.

"U-urussai, kau selalu saja seperti itu!" ucap Rin kesal, tapi akhirnya tersenyum juga. "Nee, kapan kau pulang? Lenka... dan aku sudah merindukanmu," lanjut Rin dengan suara lembut.

"Sebentar lagi, apakah kau sudah sangat merindukanku, eh?" gurau Len, Rin berusaha menahan tangisnya.

"Kau sudah tau sendiri, 'kan? Cepatlah, sebentar lagi ulang tahun kita bodoh." umpat Rin, perlahan air mata turun dari pipinya. Rin merasa sesak di dadanya, mendengar suara Len bahkan membuatnya semakin ingin menangis. Di ujung telepon, Len terdiam.

"Baik, baik, aku pulang sekarang." ucap Len, Rin tersentak.

"EH? Jangan! Kau masih ada pekerjaan 'kan?" ucap Rin kaget, ia tak ingin mengganggu pekerjaan Len dengan perkataannya tadi. Walau sebenarnya Rin senang jika Len benar-benar pulang, tapi tetap saja ia tak ingin mengganggu karir Len dengan rengekannya. Ya, Rin selalu seperti itu, sebenarnya dia ingin tapi ia terlalu sungkan untuk mengatakannya.

"Tidak usah bohong, aku tau siapa kau Rin. Sekarang daripada kau duduk di sana dengan muka memelas seperti itu lebih baik kau ke depan dan buka gerbangnya." ucap Len dari telepon, Rin terkejut dengan ucapan Len itu. Ia segera berlari ke arah pintu Rumahnya dan membukanya dengan kasar, tentu saja masih dengan handphone yang masih setia melekat di telinganya.

"Tadaima, Rin." ucap Len setelah ia melihat Rin yang sedang membelalak karena kedatangannya. Rin terpaku sejenak, Apa benar itu Len? Len suaminya? Len yang dicintainya? Bagaimana ia bisa ada di sini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang terus berputar dalam benak Rin. Rin perlahan maju mendekati sosok yang telah lama dirindukannya itu.

"Len? Kau benar-benar Len?" ucap Rin ragu, tingkahnya seperti ia sedang melihat hantu saja. Len menautkan alisnya, heran akan tingkah istrinya itu.

"Tentu saja, aku belum mati Rin." ucap Len sweatdrop, air mata mulai turun dari pelupuk mata Rin. Rin segera berlari, membuka gerbang rumah mereka dan memeluk Len. Len hampir oleng karena pelukan Rin yang tiba-tiba itu, tapi dengan segera ia kembali tegap dan balas memeluk Rin.

"Kau kenapa?" ucap Len halus, ia sedikit terkejut dengan reaksi Rin yang diluar dugaannya.

Air mata tetap turun dari pelupuk mata Rin, "Bodoh, kenapa kau tak bilang saja kalau kau sudah pulang!" ucap Rin ditengah isaknya. Len tertawa kecil.

"Aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan," kilah Len, Rin melepaskan pelukannya dan menatap kedua bola mata Len. Tersirat keriduan yang dalam di sana, Rin tersenyum.

"Seharusnya kau bilang saja kalau kau pulang, aku jadi tak menyiapkan apapun untuk menyambutmu 'kan." gurau Rin, Len tertawa.

"Kau ada di rumah pun sudah merupakan penyambutan teristimewa di hidupku." ucap Len, Rin tertawa dan mengusap air matanya.

"Ayo masuk, hari semakin dingin di luar." ajak Rin, namun Len sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Rin heran.

"Kenapa?" tanya Rin, Len menggeleng.

"Kau belum menjawab salamku, Rin." ucap Len, Rin tersentak sedikit. Ia kemudian memeluk Len dan mengecup bibir Len sesaat.

"Okaeri, Len"

Sebuah kebahagiaan kembali menyapamu, belahan jiwamu telah kembali. Namun, apa yang akan terjadi nanti masih merupakan misteri. Nikmatilah kebahagiaan yang tersodor padamu sekarang, tapi jagalah dirimu agar tak terjerumus ke dalamnya. Sekarang karena separuh nafasmu telah kembali. Ucapkanlah salam cintamu padanya, Selamat Datang.


"Chapter 02 : Meet With You Again"

~OWARI~


A/N :

Akhir naaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaa~~~

Chap 2 selesai~~ *nari-nari gaje*

Apa ada pemaksaan disini? Banyak typo? Huaaaa, *nangis-nangis*

Semoga minna suka ya dengan chap dua ini, walau saia akui ini masih jauh dari kata bagus... TAT

Sekarang saia akan balas review dulu~~

Reviewer pertama ada Airi Shirayuki~

Uh, iya, salam kenal Ai-chan. Umm, ini ngga sepenuhnya LenRin loh, maap yah...

Makasii uda mau ripiu~

Kedua ada Kyoura Kagamine~

Makachii desu~

Apa segitu ? *liat balik chap 1*

Iya saia juga tau fanart itu.. *.*

Ada nggak yaahh~ ikutin chap-chap selanjutnya yah~~

Makasii uda nyempetin ripiu~~

Okeh, karena semua ripiu uda dibalas undur diri, bye minna. See you soon~~


Patisiere = Orang yang ahli dalam masakan manis.

Ohayou = Selamat pagi.

Ohayou mo = Selamat pagi juga.

-chan = Panggilan untuk teman sebaya yang sudah akrab atau untuk orang yang lebih muda.

Okonomiyaki = Martabak Jepang.

Moshi-moshi = Halo(di telepon).

Hisashiburi = Sudah lama tak bertemu.

Urussai = Diamlah.

Tadaima = Aku pulang.

Okaeri = Selamat datang.

PS: Maaf kalau ada bahasa jepang yang meleset, soalnya saia belum mahir bahasa asing... m(_ _)m


REVIEW PLEASE~~