HILL OF ILLUSION
Genre :
Mystery,Supernatural, Angst
*Rated :
T
*Disclaimer :
Naruto punya Sasuke lah! siapa sih MasKim itu?
ngaku-ngaku aja.. #ditampol MasKim#
*Warnings :
OOC, typo(s) bertebaran, Semi -?- Shounen-ai,
Cerita masih amburadul dan kesalahan lain
*Summary :
Mungkin mereka bilang mengenalmu adalah hal paling mengerikan. Tapi bagiku, bertemu denganmu, mengenalmu, menjadi setitik bagian hidupmu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku
SHOUNEN AI HATER?
tenang, masih belon da Shou-ai kok... #kicked#
Yosh! readers,
Hope you'll like it, Minna-san
.
/Chapter 2 : Welcome To KHS/
.
.
"NARUTO!" Tsunade berteriak panic saat melihat tubuh Naruto limbung dan terjatuh pingsan dalam pelukan Jiraiya. Jiraiya pun tak kalah panicnya. Dengan cepat, Jiraiya menggendong Naruto yang tak sadarkan diri menuju kamar yang sejak awal memang sudah dipersiapkan untuk remaja pirang tersebut. Iruka dan Tsunade langsung melesat mengikuti Jiraiya, meninggalkan keempat orang yang tak dikenali naruto tadi dalam kebingungan juga kekhawatiran.
"Ah… ummm.., saya permisi sebentar, mungkin Tsunade-sama akan membutuhkan saya. Pe..permisi," pamit salah satu diantara keempat orang tersebut dengan gugup dan rasa tak enak. Gadis muda berambut hitam pendek tersebut sempat tersenyum nervous sekilas sebelum menyusul Tsunade dan yang lainnya ke lantai dua—kamar Naruto.
"Yah.. kurasa ada baiknya kalau kita menunggu di sini saja!" ucap seorang laki-laki berambut perak bermasker yang sukses memecahkan keheningan diantara tiga orang yang tertinggal di ruang tamu tersebut. Dengan gaya malas dan wajah bosan hidup, laki-laki tersebut mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul oranye dari saku celananya. Dibagian atas dari sampul oranye buku tersebut, terdapat tulisan yang sudah pasti merupakan judul buku tersebut—Icha-Icha tactics.
Memandang sekilas kearah sang lelaki bermasker, seorang laki-laki paruh baya diruangan itu hanya mengangguk dengan wajah datar, tangannya menggapai gelas kaca berisikan Ocha dengan asap yang mengepul lalu meminum minuman tersebut dalam diam. Mata lavender pucatnya menutup sejenak, menandakan kalau laki-laki tersebut menikmati minumannya.
Hembusan napas malas terdengar dari arah ujung sofa panjang tersebut. Namun, tak cukup untuk mengalihkan perhatian kedua orang lainnya dari dunia mereka. Merasa diabaikan, laki-laki berambut nanas tersebut memutuskan untuk membuka suara.
"Hey Kakashi , dan kau juga Hiashi, bagaimana menurut kalian tentang hal ini?" tanyanya ambigu, namun sepertinya laki-laki yang dipanggil Kakashi dan Hiashi tersebut mengerti maksud pertanyaannya, karena mereka berdua langsung mengalihkan pandang ke arah Shikaku—nama lelaki berambut nanas tersebut dan memandangnya dengan sedikit sorot mata serius.
"Entahlah. Lihat saja nanti!" sahut si rambut perak –Kakashi. Matanya kembali terarah ke buku di tangannya walaupun terlihat jelas sekali bahwa dia sama sekali tak focus dengan apa yang coba dibacanya.
"Ini seperti bukan kau, Shikaku. Sejak kapan kau jadi mengkhawatirkan hal-hal seperti ini?" Hiashi bertanya datar. Sorot mata lavender pucatnya sedikit menajam bagai mata burung elang.
Shikaku kembali menghela napas bosan dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Kepala clan Nara tersebut nampak seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu bagaimana caranya.
"ck, merepotkan. Maksudku, apa akan baik-baik saja jika Naruto kembali tinggal di sini? Tempat ini punya banyak kenangan buruk untuknya kan?" Shikaku bertanya dengan sedikit nada khawatir yang tidak bisa disembunyikannya. Wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Semuanya akan baik-baik saja. Toh Konoha juga tanah kelahiranya kan?" jawab Kakashi enteng.
"Kau tahu ini tak semudah kelihatannya Kakashi. Yang Shikaku katakan itu benar, aku takut dengan kondisi mentalnya. Belum apa-apa saja dia sudah pingsan, bagaimana jika dia harus tinggal di dalam kota yang seolah jadi gudang lubang hitamnya ini?" ucapan panjang Hiashi tersebut sukses membuat Kakashi dan juga Shikaku terdiam.
"Kita percaya saja padanya, toh Tsunade-sama dan Jiraiya-sama juga sudah mengatakan kepada kita tentang hal ini, kan?" Kakashi kembali mengatakan pendapatnya. Mata gelapnya melirik sekilas ke arah Hiashi dan Shikaku yang mengangguk bersamaan.
Diam-diam, Kakashi melirik ke arah dimana pandangan Naruto terpatri sebelum dia pingsan tadi, hiasan dinding itu- yang ternyata adalah sebuah pedang pendek di dalam tempat pedang yang terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran rumit yang cantik. Kakashi menghela napas, dan mengalihkan pandangannya ke bawah,
'Aku pasti akan menjaga anakmu, Sensei!' batinnya.
Di dalam kamar Naruto, terlihat Tsunade sedang sibuk memeriksa kondisi cucu tunggalnya tersebut, tampak Shizune -asisten Tsunade- juga ikut membantu. Sebenarnya, Tsunade adalah dokter dan Shizune adalah seorang perawat.
"Bagaimana, Tsunade?" Tanya Jiraiya yang sedari tadi berdiri di samping tempat tidur Naruto dalam diam. Iruka bergerak dari posisinya di dekat jendela dan mendekati Tsunade dengan wajah paniknya.
"Naruto baik-baik saja. Dia hanya shock dan kelelahan," ucap Tsunade dengan wajah lelah. Dia lalu berdiri dan memandang sekilas ke arah Naruto yang masih pingsan.
"Syukurlah…" Iruka mendesah lega dan mengatupkan kedua tangan di depan dadanya. Ekspresi wajahnya yang tadi tegang dan panic mulai mengendur tergantikan raut wajah lembutnya yang biasa.
Berbeda dengan Iruka, raut wajah Tsunade dan Shizune tetap resah dan prihatin walaupun terlihat mereka berusaha keras menutupinya. Iruka yang terlalu memperhatikan Naruto, tentu saja tak menyadari raut wajah Tsunad dan juga Shizune. Berbeda dengan Iruka, Jiraiya yang memang mempunyai mata dan insting tajam tentu saja menyadarinya. Memandang sekilas pada Iruka, pria berbadan besar dan berambut putih panjang tersebut melangkahkan kakinya keluar kamar sebelum kemudian berhenti di ambang pintu dan menengok ke belakang,
"Hey Iruka, tolong temani Naruto sebentar ya. Kasihan empat orang itu.!" Ujar Jiraiya lalu menoleh ke arah Tsunade dan Shizune sambil memberikan isyarat mata agar mereka berdua mengikutinya. Shizune mengangguk kuat, sementara Tsunade hanya memandang Jiraiya dan membuang pandangannya ke samping kirinya dengan sorot mata lemah.
"Ha'i, Jiraiya-sama!" ucap Iruka tegas sebelum Jiraiya, Tsunade dan Shizune berlalu dari kamar bernuansa putih-oranye tersebut. Saat dirasanya, ketiga orang tersebut sudah keluar ruangan, Iruka melangkahkan kakinya mendekati ranjang dan duduk di kursi di samping ranjang berukuran double bed tersebut, matanya memandang iba pada Naruto.
Disingkirkannya helaian pirang yang menutupi wajah tan tersebut lalu dirapikannya selimut yang membungkus tubuh remaja tersebut. Sang rambut cokelat mengusap punggung tangan yang tergeletak lemah di atas ranjang, lalu berujar pelan,
"Kau tahu Naruto, kau itu—kau itu sudah seperti anakku," dan dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke arah matahari senja yang semakin tergelincir turun ke cakrawala.
Koridor lantai dua dengan pencahayaan yang kurang dan terkesan remang-remang tersebut nampak hening dan sepi. Entah kemana para penjaga ataupun para pelayan dan asisten juga penghuni-penghuni lain di rumah tersebut. Tapi yang pasti, lantai dua rumah besar milik orang terpandang di Konoha tersebut benar-benar sepi. Namun, bunyi tapak kaki yang datang dari arah ujung koridor memecah keheningan tersebut, walaupun sama sekali tak sanggup mengurangi kesan sunyinya.
Tiga orang nampak berjalan dalam diam, sampai salah satu diantaranya memutuskan untuk buka suara-Jiraiya,
"Tak semudah perkiraan, ne tsunade?" Tanya Jiraiya ringan. Tsunade dan Shizune yang berjalan bersisian di belakang Jiraiya hanya menatap punggung lelaki berambut putih panjang tersebut.
"Ya, kelihatannya ini akan jadi lebih sulit dari perkiraan kita semula," balas Tsunade.
"Kita memang tak punya pilihan. Minato dan Kushina sudah meninggal, dan yang dimiliki Naruto hanya kita. Sebenarnya aku tak keberatan jika Naruto memilih tinggal sendiri di Oto, tapi seperti yang sudah kita bicarakan, dia berpuluh kali lipat lebih tidak aman jika tinggal sendiri daripada jika dia masuk hutan larangan," ucap Jiraiya panjang lebar yang diakhiri dengan kekehan kecil. Mata coklat madu Tsunade menatap tajam.
"Kau jangan main-main Jiraiya! Membiarkan Naruto tinggal sendiri dan membiarkan dia masuk hutan larangan itu sama berbahayanya." Tsunade berbicara dengan nada suaranya yang mulai naik satu oktaf. Shizune hanya diam, tak berani membuka suara. Namun perawat sekaligus asisten kepercayaan Tsunade tersebut nampak berpikir keras.
"Ya…Ya terserahlah! Toh kita sudah membicarakan ini sebelumnya." Jiraiya menanggapi enteng seolah sedang membahas ramalan cuaca.
Ucapan Jiraiya berusan seolah menjadi penutup mutlak pembicaraan. Tsunade yang masih terlihat geram dan ingin membalas juga memilih diam dan menahan segala makian yang akan diluncurkannya. Lagipula, mereka sedang menuruni tangga yang akan membawa mereka ke lantai dasar.
Kakashi, Shikaku, dan Hiashi menolehkan kepala mereka kea rah tangga saat mereka mendengar suara langkah kaki. Nampak dalam pandangan mereka bertiga, Jiraiya, Tsunade dan Shizune yang sedang melangkah ke arah sofa tempat mereka duduk sejak Naruto baru datang tadi, (Kakashi, Shikaku dan Hiashi sama sekali tak mengubah posisi duduk mereka sejak tadi)
"Maaf lama menunggu," Shizune berujar sopan menggantikan Jiraiya dan Tsunade yang hanya tersenyum kecil sambil mengangguk dalam diam. Dan hanya ditanggapi dengan senyum kecil dan anggukan oleh tiga orang tamu yang disapanya. Mau tidak mau, Shizune merasa sedikit jengkel juga, tapi gadis muda cantik itu berusaha menutupi kejengkelannya dengan senyuman manisnya.
Tsunade dan Jiraiya sudah duduk bersebelahan di salah satu sofa panjang ruangan tersebut sementara Shizune mengambil tempat duduk di sofa single di dekat Tsunade. Tatapan Jiraiya tiba-tiba jadi serius, sedikit banyak membuat kelima orang lainnya ikut terbawa aura serius juga.
"Ji-" Hiashi baru membuka suaranya saat Jiraiya menghentikannya dengan isyarat tangannya. Membuat Hiashi mengangguk mengerti walaupun mereka sama-sama belum mengucapkan sepatah katapun.
"Kita sudah membicarakan yang itu, jadi kita tak akan membahasnya lagi sekarang! Lagipula, kita seharusnya membicarakan hal lain kan?" Tsunade memulai tanpa interupsi sedikit pun.
"Bagaimana dengan urusan kepindahan dan administrasi sekolah Naruto? Lalu kesehatannya?" Kakashi bertanya, entah pada siapa. Dia sudah benar-benar menurunkan dan menutup buku Icha-Icha Tacticsnya. Benar-benar berkonsentrasi pada pembicaraan ini.
"Itu sudah beres Kakashi. Aku dan Tsunade sudah mengatur semuanya. Lagipula, aku adalah Kepala Sekolah Konoha High School," terang Jiraiya, membuat Tsunade mengangguk mengiyakan.
"Ya! Itu semua sudah beres. Dan lagi, aku Kepala Rumah Sakit Konoha, jadi aku bias menugaskan Shizune sebagai petugas medis di Konoha High School." Jawab Tsunade tegas. Memang, Jiraiya adalah Kepala Sekolah Konoha High School atau yang biasa disingkat KHS saat ini, sementara Tsunade, dengan reputasi dan pengalaman serta kemampuan medisnya sebagai dokter yang luar biasa, telah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Konoha sejak sekitar 15 tahun lalu.
"Dan kau Kakashi, kau yang akan jadi wali kelasnya," tambah Tsunade, yang hanya ditanggapi dengan anggukan kecil Kakashi.
"Apa bisa dijamin kalau dia dan Konoha akan baik-baik saja?" Tanya Hiashi datar. Jiraiya mengangguk yakin.
"Bulan Merah tak akan terjadi lagi!" timpal Shikaku yang sedari tadi diam. Membuat semua orang memandangnya dengan sorot mata yang menurut Shikaku ganjil. Nara tersebut balik memandang kelima orang yang memandangnya, lalu menggaruk belakang kepalanya,
"Apa? Apa aku salah bicara?" tanyanya, masih menggaruk belakang kepalanya.
Shizune menggeleng sambil memaksakan senyum, walaupun tampangnya masih takjub dan terkejut. Yang lainnya masih diam.
"Hanya tak seperti kau yang biasanya." Ujar Hiashi-tetap datar seperti biasanya.
"Wah! Aku tak tahu kalau kau juga pintar menggunakan bahasa-bahasa yang seperti itu Shikaku," sambung Kakashi jujur dan malas-malasan serta sorot mata tanpa dosa dan tanpa beban. Mau tak mau, pernyatan kakashi tersebut sukses membuat Shikaku jadi dongkol dalam hati.
"Ugh…." Erangan lemah terdengar diantara kesunyian malam dalam sebuah kamar berukuran sedang. Seorang remaja laki-laki yang nampak tertidur di ranjangnya menggerak-gerakkan tubuhnya dengan gelisah. Remaja tersebut tampak tak nyaman dalam tidurnya. Keringat mengucur turun dari dahinya. Namun mata itu masih belum mau terbuka.
"Jangan…jangan lakukan…." Gumam—ahh… lebih tepat jika disebut rintihan. Dahi pemuda blonde tersebut berkerut dan matanya semakin terpejam rapat. Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ingin mengusir bayangan yang mengganggu dalam kepalanya.
"pergi…pergi…." Rintihnya tak jelas. Baju yang dikenakan Naruto sudah basah oleh keringat. Gerakan tubuhnya semakin gelisah dan matanya juga tetap menutup erat.
"Arggg….." tanpa sadar, Naruto mengerang keras dalam tidurnya, namun setelah itu benar-benar sunyi. Tubuh Naruto tergolek lemas seolah dia tak pernah melihat hal yang mengganggunya dalam kepalanya. Raut wajah yang tadinya nampak tegang dan tersiksa kini mulai mengendur. Ekspresi kesakitan yang sempat melintasi wajah coklat tersebut kini tergantikan dengan ekspresi tenang dan rileks.
Seolah apa yang terjadi tadi tidak nyata. Seolah apa yang terjadi sebelumnya hanyalah ilusi semata. Naruto menyamankan posisi tidurnya dan berguling kea rah kiri, lalu memeluk guling yang ada disampingnya. Dan kali ini, dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Angin malam yang dingin berhembus diluar, menerbangkan daun-daun kering yang berguguran di halaman. Suara-suara binatang malam beradu dengan suara gesekan dedaunan yang dipermainkan alam. Ditengah-tengah pekatnya malam, sesosok bayangan hitam tampak melintas cepat di sekitar pekarangan Mansion yang ditempati Naruto.
Bayangan tersebut tergantikan dengan sosok yang tersembunyi di kerimbunan pepohonan. Matanya yang nampak dingin menyorot tajam. Ekspresi wajahnya yang datar mngeras. Dan bibirnya bergumam pelan dalam bisikan, sementara matanya menatap lurus seolah menembus penghalang,
"Naruto… Namikaze…"
Naruto menggeliat dalam tidurnya, lalu menguap malas. Matanya terbuka lalu kembali tertutup. Remaja tersebut merapatkan selimutnya dan semakin memeluk erat gulingnya. Tak dihiraukannya suara cicitan burung di luar jendela kamarnya. Naruto malah memutuskan untuk tidur lagi— jika bisa dibilang begitu, mengingat matanya tadi hanya terbuka satu detik dan kesadarannya sama sekali belum ada.
"Naruto-sama! Apa anda sudah bangun?" terdengar suara pelayan dari balik pintu kamar Naruto, namun yang bersangkutan masih enak-enakan tidur di balik selimut hangatnya. Pelayan tersebut mengetuk pintu kamar Naruto dengan sopan, namun masih tetap tak ada jawaban.
"Naruto-sama!" pelayan tersebut kini terdengar panic. Menghkhawatirkan keadaan tuan muda barunya bahkan tak mengkhawatirkan keadaannya sendiri. Sungguh ironis.
"Na—" ucapan pelayan tersebut terputus tiba-tiba. Naruto yang masih tidur tentu saja tak menyadarinya.
-CKLEK—
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Shizune melangkah masuk ke dalam
kamar Naruto dengan langkah ringan. Dia menghela napasnya saat melihat Naruto masih tidur bergelung di atas ranjangnya. Tapi gadis muda itu juga ingin tertawa saat melihat ekspresi polos Naruto saat tidur. Menggelengkan kepalanya pelan, Shizune meletakkan buntelan seragam sekolah yang terlipat rapi di meja kecil di samping tempat tidur kemudian menepuk pelan pipi kiri Naruto dengan tangan kanannya karena tangan kirinya sedang memegangi babi merah muda kecil peliharaan Tsunade—tapi jadi terkesan milik Shizune karena selalu Shizune yang mengurusnya.
"Ayo bangun, Naruto-kun," ujar Shizune sabar. Naruto tetap tak bergeming.
"Sudah pagi, Naruto-kun! Nanti bisa terlambat ke sekolah!" tak ada tanggapan, Naruto hanya mengerang dan menggeliat kecil. Shizune menghela napas sekali lagi dan berniat mengambil gelas berisi air yang terletak di samping buntelan seragam yang baru diletakkannya, namun Tonton— nama babi yan di bawa Shizune, sudah berhasil membangunkan Naruto lebih dulu. Babi kecil tersebut menjilati pipi Naruto, dan membuat yang bersangkutan terbangun tidak nyaman. Tonton hanya menguik kecil.
"Nggh…" erangan lemah terdengar sebelum Naruto terbangun dari tidurnya. Remaja tersebut menguap dan mengucek-ucek matanya yang masih setengah terpejam.
"Shizune-neechan..." gumamnya setengah mengantuk.
"Sudah bangun? Ayo cepat mandi, nanti terlambat! Tsunade-sama dan Jiraiya-sama sudah menunggu di ruang makan," ujar Shizune lembut. Naruto mengerlingkan matanya dalam bingung. Shizune tertawa geli melihat ekspresinya,
"Sudah pukul 06.25 lho, kalau tidak cepat, bisa terlambat dihari pertama sekolah," Shizune berdiri dan bersiap-siap pergi, Tonton melesat lebih dahulu.
"Sampai jumpa di ruang makan Naruto-kun, seragammu ada di di atas meja itu" ujar Shizune menunjuk buntelan di atas meja lalu menutup pintu kamar di belakangnya. Naruto masih diam, diliriknya jam dinding yang tergantung di sisi kiri dinding kamarnya dan kesadarannya kembali sepenuhnya,
"GYAA… AKU TERLAMBAT…!" teriaknya panic lalu segera menyambar handuk dan baju sekolah yang tadi disiapkan Shizune dan berlari ke kamar mandi yang memang tersedia di dalam kamarya. Shizune yang ternyata masih di depan pintu kamarnya tertawa mendengar teriakan tersebut, melangkahkan kaki menjauhi kamar Naruto, sang perawat masih tak bisa menghentikan tawanya, membuat para pelayan yang berpapasan dengannya memandang heran.
"Ohayou Tsunade-baachan, Ero-jiichan," sapa Naruto pada Tsunade dan Jiraiya yang sudah duduk di kursi di depan meja makan. Jiraiya berkedut sedikit dan menjewer telinga kanan Naruto saat remaja tersebut lewat di sampingnya,
"Ouch, sakit! Apa-apaan itu tadi," Naruto mengelus-elus telinga kanannya sambil mendelik kesal ke Jiraiya. Lelaki tua itu tampak tak terganggu dengan delikan Naruto,
"Jangan memanggilku dengan sebutan 'Ero'! Begini-begini aku itu kakekmu, bocah!" ujar Jiraiya enteng. Tsunade memberinya tatapan mencela,
"Che, Naruto itu pintar kalau memanggilmu 'Ero', tua bangka," Tsunade berucap sinis—dan sadis. Naruto tersenyum lebar saat mendengarnya, Jiraiya nampak tak terima namun juga tak berani protes.
"Tapi tentu saja, Naruto tak sepintar itu," tambah Tsunade, sukses membuat Naruto menggembungkan pipinya sebal. Tsunade dan Jiraiya tersenyum dalam hati,
'Setidaknya kesedihannya sudah berkurangkan, Minato? Kushina?' batin mereka lega. Shizune datang ke ruang makan dan langsung mengambil tempat di samping Naruto. Setelahnya, mereka makan dengan ketenangan yang menyenangkan.
"Ne, nanti aku berangkat dengan siapa? Apa dengan Ero-Jiichan?" Tanya Naruto sambil memandang Jiraiya.
"Tidak, nanti kau akan berangkat dengan supir Naruto." Jawab Tsunade
" Ngomong-ngomong, apa Iruka-san sudah berangkat?" Shizune ikut dalam pembicaraan.
"Ya, dia kebagian tugas sebagai guru piket di KHS, jadi hari ini dia berangkat lebih awal," jelas Jiraiya. Naruto memandang dengan mata berbinar.
"Iruka-Jisan juga menjadi guru di KHS? Apa dia akan jadi wali kelasku?" Tanya Naruto antusias.
"Tentu tidak bocah! Wali kelasmu itu Kakashi, Iruka hanya mengajar sebagai guru sastra disana," terang Tsunade, membuat Naruto sedikit kecewa dan juga bingung.
"Kakashi? Siapa dia?" tanyanya heran. Jiraiya memandangnya dengan sedikit sirat kebanggaan yang aneh.
"Kakashi itu lelaki berambut perak yang kemarin ada di sini saat kau tiba. Lelaki yang selalu membawa buku karanganku kemana-mana." Terang Jiraiya penuh nada bangga karena cucunya akan menjadi anak didik penggemar terberat buku karangannya—serial Icha-Icha. Naruto, Tsunade, dan Shizune hanya bersweatdrop ria mendengarnya,
'Dasar orang tua aneh,' batin Tsunade—dan mungkin juga Shizune. Naruto terang-terangan menghina,
"Hah? Aku harus menjadi anak didik dari orang tua yang sama mesum dan sama anehnya denganmu? Yang selalu membawa buku aneh dan tidak berguna itu?" dengan sangat tidak sopannya, Naruto menunjuk muka Jiraiya dengan jari telunjuknya sambil memasang muka terkejut dan tak suka. Jiraiya mendelik,
"Tau apa kau bocah? Buku itu buku yang legendaris tahu!" sangkal Jiraiya yang tak terima karena buku karangannya dilecehkan oleh cucunya sendiri,
"Apanya yang legendaries? Buku tidak laku saja," balas Naruto seenak jidatnya.
Jiraiya tambah mendelik tak terima. Baru saja Jiraiya akan membalas,suara Tsunade sudah terdengar.
"Kalau kalian tetap bertengkar konyol begitu, kalian bisa terlambat!" Tsunade menunjuk jam besar yang terlihat antic dan anggun di seberang ruangan. Jam tersebut menunjukkan pukul 06.50.
"Sepuluh menit lagi bel masuk pelajaran akan berbunyi," tambah Shizune yang berusaha menyembunyikan tawa gelinya. Naruto mengerucutkan bibirnya,
"Iya… Iya… Aku berangkat!" pamit Naruto seraya berdiri dari tempat duduknya dan melangkah kea rah pintu keluar. Tsunade dan Jiraiya memandang punggung cucu mereka sambil menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Shizune hanya bisa tertawa geli.
Naruto sudah berada di halaman mansion yang ditempatinya, sudah siap untuk berangkat. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya. Mobil yang kemarin ditumpanginya saat pulang ke Konoha dengan dijemput Iruka. Kaca di samping kemudi tiba-tiba terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki berkaca mata hitam tebal yang kemarin Naruto lihat berbicara dengan Iruka saat akan sampai di rumah kakek dan neneknya..
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa lelaki tersebut hangat. Naruto membalasnya dengan senyumannya walaupun sebenarnya pertanyaan seperti 'Siapa lelaki ini?' terus berputar di otaknya.
Seakan mengerti isi pikiran Naruto, lelaki tersebut tersenyum dan memperkenalkan dirinya,
"Saya Ebisu. Sopir yang bertugas untuk mengantar jemput anda saat sekolah," jelas Ebisu ringan. Naruto mengangguk mengerti dan kembali tersenyum.
"Silahkan masuk, Tuan muda. 10 menit lagi bel masuk sekolah!" ucapan Ebisu kali ini membuat Naruto menepuk jidatnya sendiri dan segera melangkah mendekat dan menaiki mobil hitam itu. Naruto mengambil tempat duduk di belakang kursi kemudi, di tempat dimana ia duduk kemarin.
"Aku sudah siap, Ebisu-jisan," seru Naruto dengan cengirannya. Ebisu mengangguk dan segera menjalankan mobil tersebut. Saat sampai di gerbang yang dijaga oleh dua orang satpam, Ebisu melambatkan laju mobilnya dan menyapa kedua satpam tersebut,
"Ohayou Izumo,Kotetsu," sapa Ebisu ringan. Dua satpam itu –yang baru tahu namanya adalah Izumo dan Kotetsu- membalas bersamaan,
"Ohayou Ebisu, Tuan Muda," sapa mereka berdua yang di hadiahi senyuman cerah Naruto yang sudah menurunkan kaca jendela di sampingnya.
Setelah sedikit pembicaraan pagi yang ringan, Ebisu kembali melajukan mobilnya dengan Naruto yang memandang keluar jendela. Mereka menuju ke arah yang sama dengan arah Naruto datang kemarin. Pada awalnya, Naruto mengira kalau mereka akan melewati hutan Larangan, tapi nyatanya tidak. Saat sampai di belokan tempat Naruto pertama kali bertemu Ebisu dan temannya, Ebisu justru membelokkan mobilnya ke
arah Utara, menjauhi Hutan Larangan.
Tak berapa lama kemudian, Ebisu berbelok ke arah kanan dan sekelebat—hanya sekelebat saja, Naruto seperti melihat bayangan hitam melintas sangat cepat di samping mobil yang ditumpanginya. Jantung Naruto langsung berdetak cepat,
'Apa artinya ini?' pikirnya mulai kalut.
"Kita sudah sampai, Tuan Muda." Naruto tersentak kaget dari lamunannya saat mendengar suara Ebisu. Remaja tersebut segera turun dari mpbil dan memandang ke arah sekolah barunya. Konoha High School.
Bangunan sekolah tersebut tampak megah dan indah. Dilihat dari luar, terdapat dua gedung utama dalam kompleks KHS. Entah bagaimana tampilan KHS dari dalam. Satu diantara dua gedung tersebut bertingkat tiga yang Naruto yakini sebagai gedung tempat ruang kelas berada karena bisa Naruto lihat, banyak murid yang berada di setiap ruangan di gedung tersebut.
Lalu gedung yang satunya lagi juga bertingkat tiga, tapi Naruto tak yakin dengan fungsi dan kegunaan gedung tersebut.
'Mungkin itu gedung untuk ekstrakulikuler' pikir Naruto seenaknya. Bangunan KHS berbeda dengan bangunan Oto High School, tempat Naruto bersekolah saat masih di Oto. OHS memiliki 3 buah gedung utama, satu gedung untuk kegiatan Ekstrakulikuler dan klub, dua gedung yang lainnya adalah gedung tempat belajar mengajar yang memang di bagi dua—gedung mengajar A dan B. Sedangkan ruang guru terdapat pada bangunan tersendiri yang terletak di antara gedung A dan B.
Entah bagaimana system bangunan KHS, tapi sejauh ini Naruto bisa menyimpulkan kalau OHS masih lebih megah dan luas daripada KHS.
'Ini Konoha Naruto, bukan Oto!' batinnya. Ada rasa sakit aneh yang menusuk dadanya saat pikiran tersebut menampar imajinasinya. Membuatnya berhenti membandingkan OHS dan KHS. Menghela napas sebentar untuk menenangkan degub jantungnya, Naruto segera melangkah ke arah sekolah barunya setelah berpamitan pada Ebisu.
'Kau akan dapat banyak teman baru di sini, Naruto!' batinnya mencoba menguatkan langkah. Naruto menundukkan kepala sebentar, lalu kembali mengangkat pandangannya,
'YOSH…! Konoha tidak akan lebih buruk dari Oto!' dan setelah itu dia kembali melangkah penuh tekad ke arah KHS. Sama sekali lupa kalau dia belum tahu dimana letak ruang guru yang menjadi tujuan utamanya.
.
.
Orang itu tak disadari keberadaannya. Pandangannya yang tajam menyorot ke arah KHS. Tepatnya ke arah anak yang baru saja menginjakkan kakinya untuk pertama kali di KHS,
"Naruto… Namikaze…" dan dia kembali menggumamkan nama yang sama.
.
TBC
.
Akhirnya~ jadi juga chapter ini. Maaf banget kalo updatenya lemot (banget). Nah, seperti biasa, kasih saya kritik ato saran ya. Dan beri tahu Vy apa pendapat kalian tentang fic gaje ini, apa bisa dilanjut? Vy harap bisa *ngarep*. Silahkan kalo ada yang mau main tebak-tebakan, tapi Vy gak punya hadiah buat yang menang *dihajar masa*.
Yosh..! sudah dulu A/N gak jelas ini, kalo direview pasti update cepet.. ^_~.
FLAME yg membangun diterima.
Mind to Review or Flame?
.
With Love,
.
Vy Murasaki
