Universe & Galaxy: Galaxy
©Skylar.K
Kris Wu and Huang Zi Tao as main cast
Drama / Romance / Fluff
Warning with the typo(s)!
.
.
.
Sunflower Galaxy, Andromeda Galaxy, dan Black Eye Galaxy adalah sebagian kecil dari kesekian banyak daftar nama galaksi yang di kenal. Di dalam Alam Semesta yang tak terbatas, Bimasakti yang tak terhingga, keberadaan galaksi lah yang membuat Alam semesta menjadi lebih indah. Galaksi juga lah yang membuat Alam Semesta ini menjadi lebih berarti.
Dan dari sekian banyak galaksi yang ada, hanya satu galaksi lah yang sangat berarti bagi manusia.
Bimasakti, atau bisa kita sebut sebagai Milky Way.
Dari sekian banyak galaksi yang ada, hanya Bimasakti lah yang memiliki kehidupan. Galaksi yang sangat berarti yang menjadi bagian penting dari Alam Semesta. Meski Bimasakti adalah galaksi terkecil di seluruh Alam Semesta, Bimasakti adalah pusat kehidupan di Alam Semesta. Meski masih banyak lagi galaksi yang lebih indah dan besar, tetap Bimasakti lah yang terpenting.
Meskipun keindahan galaksi lain lebih menggoda dan lebih menyilaukan, baginya tetap galaksi nya lah yang terindah. Tak tergantikan.
Galaksi yang membuatnya tahu jika meski Bimasakti bukanlah galaksi satu-satunya yang terpenting untuknya, sebagai manusia kecil yang hidup di dalamnya.
Karena Alam Semesta miliknya membutuhkan galaksi itu untuk tetap ada dan eksis. Untuk menjadikannya utuh.
Untuk menjadikannya berarti.
.
.
.
Tersenyum ketika kembali mengingat kedekatannya dengan Kris Wu yang sejak pertemuan pertama mereka, lelaki itu pada akhirnya menjadi pelanggan tetap coffee shop tempatnya bekerja. Tepatnya setelah dirinya memberikan nomor ponsel pada lelaki pirang itu, dan hubungan mereka menjadi lebih dekat sejak saat itu. Dan anehnya, dirinya yang sebenarnya seorang pemalu dapat mengobrol cukup lancar ketika bersama Kris.
Entahlah. Mungkin karena lelaki tinggi itu aktif mengajaknya bicara. Baik via teks, telepon, dan juga bertemu secara langsung. Kebanyakan Kris lah yang menemuinya, baik saat jam makan siang, ataupun mengajaknya untuk keluar bersama dan berujung dengan makan malam.
Tao sebelumnya tak pernah membayangkan akan dapat menarik hati seorang CEO seperti Kris. Karena sejauh ini hidupnya tergolong biasa-biasa saja, dengan rutinitas yang biasa, dan berada di lingkungan yang juga biasa. Tak ada satu pun temannya yang berstatus sebagai orang kaya atau apapun itu, tentunya perkenalannya dengan Kris membuat ritme hidupnya sedikit berubah. Sedikit tak terduga, namun ia menikmatinya.
"Kau yakin tidak ingin ku antar ke Rumah Sakit?"
Suara manis yang menginterupsi lamunan Tao sukses membuat sang empunya mengerjapkan mata, dengan membawa sebuag cangkir kopi dan lap bersih di tangan kanan, ia menoleh ke samping kanannya. Agak menunduk karena Byun Baekhyun sahabatnya memiliki tubuh yang mungil.
"Aku tidak sakit" jawabnya polos. Berkedip lucu, sambil melanjutkan mengelap cangkir kopi yang baru saja di cuci.
"Kau tahu? Aku sudah menahan diri untuk tidak mennyeretmu ke Rumah Sakit sejak satu minggu yang lalu"
"Memangnya aku kenapa?" sebelah alis Tao terangkat. Seraya meletakkan cangkir yang baru saja selesai di lap, dan mengambil camgkir lain yang sudah menunggu giliran untuk di keringkan.
Jika saat ini cafe tidak menjelang jam tutup, maka tidak akan ada kesempatan bagi kedua pemuda ini berbincang di dalam dapur. Sambil berberes peralatan dapur, mereka dapat sekaligus bersantai.
"Semua orang pun tahu kalau kau sering sekali tersenyum tanpa sebab. Kau yakin tidak sedang sakit 'kan?" Baekhyun memang suka sekali membully Tao. Mungkin karena mereka sangat dekat.
Gerakan tangan kanan Tao yang sedang mengusapkan lap kering pun terhenti seketika. "Benarkah? Aku sering tersenyum?"
"Memangnya kau tidak sadar huh? Oh yang benar saja... Apa laki-laki bernama Kris itu sudah mempengaruhi cara kerja otakmu? Begitu?" mata bulatnya menyipit lucu, dengan ekspresi yang cukup menyebalkan.
Bisa di tebak jika wajah manis Tao kini bersemu merah layaknya bayi yang baru saja lahir. Si manis bersurai gagak itu mencibir kecil.
"Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan laki-laki bertelinga aneh itu? Siapa namanya? Park Cha...Cha...?"
"Ya ya ya, Bukankah aku sudah bilang aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya?" tampik Baekhyun kesal. Wajahnya yang imut tertekuk tak suka. Sambil melanjutkan mengelap piring basah, dengan usapan yang agak kasar untuk meluapkan kekesalannya.
"Bukankah dia menyukai mu?"
"Dia bukan type ku, jadi berhenti menannyakan hal itu. Arrachi?"
Tao mengulum bibir bawahnya, seraya mengangguk kecil.
"Byun-ssi!" seorang wanita berseragam pelayan masuk ke dapur, membuat kedua pemuda yang sibuk mengelap perlengkapan dapur itu menoleh secara bersamaan kearah pintu dapur.
"Mencariku?" Baekhyun hanya menarik sebelah alisnya keatas ketika rekan kerjanya yang bernama Krystal tampak tengah merogoh saku depan apron hitamnya.
"Iya, ini. Ada pesanan yang harus kau antar sebelum cafe tutup" Krystal memberikan sebuah memo kecil berwarna pale pink pada Baekhyun, yang di terima pemuda mungil itu dengan dahi berkerut dalam.
Dan Tao ikut mengintip pada memo kecil yang di bawa sahabatnya itu, dan seketika paham kenapa wajah Baekhyun berubah masam.
"Cafe sudah mau tutup, kenapa masih menerima pesanan?" tanyanya heran. Krystal mengangkat bahu kecil.
"Aku juga tidak tahu, tadi Dio-ssi yang memberikan memo itu padaku. Katanya pesanan itu masuk sejak jam makan siang, tapi si pemesan meminta kau yang mengantarkannya, tapi karena kau sibuk seharian ini jadi dia bersedia menunggu sampai kau sendiri yang mengantar"
"Gila" Baekhyun mendengus.
"Kurasa dia benar-benar menyukaimu" celetuk Tao dengan polosnya.
"Aku tidak mau mengantar pesanan itu, suruh orang lain saja" Baekhyun menyodorkan memo di tangannya kembali pada Krystal. Membuat wanita cantik itu mengernyit.
"Kenapa? Lagipula sudah banyak karyawan yang pulang, kau tahu"
Entah sudah cangkir ke berapa yang sudah di keringkannya dengan kain lap bersih, sambil memperhatikan Baekhyun yang berusaha menolak permintaan seorang pelanggan, sementara Krystal bersikeras agar pemuda imut itu melakukan tugasnya. Dan dirinya sempat menangkap tatapan penuh permohonan dari sepasang hazel milik sahabatnya tersebut. Menghela nafas pendek, ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap.
"Aku tidak bisa menggantikanmu Baek. Lagipula apa salahnya mengantar pesanan itu sebentar lalu pulang?"
Baekhyun mencibir. Tao meletakkan cangkir kopi terakhir yang di keringkannya diatas teralis khusus peralatan yang sudah di lap bersih, kemudian melipat kain lap.
"Tugas ku sudah selesai, aku duluan ya. Ramalan cuaca bilang malam ini akan turun hujan, dan aku tidak ingin kehujanan karena tidak membawa payung. Sampai bertemu besok Baek, Krystal-noona" pamitnya tersenyum ceria, membuat Krystal yang agak kesal menghadapi Baekhyun ikut tersenyum dan balas melambai.
"Hati-hati Tao"
Pemuda bersurai gagak itu tersenyum lebar seraya melambaikan tangan pada Baekhyun yang menatapnya dengan memelas. Yah meskipun hal itu percuma karena Tao tetap melanjutkan niatnya untuk segera pulang. Tak lupa bertegur sapa dengan beberapa karyawan yang masih menyelesaikan tugas masing-masing, ia menuju ruangan karyawan untuk mengganti baju kerjanya dengan baju casual miliknya yang lebih nyaman.
Tao menyimpan barang-barang pribadinya di sebuah loker yang terdapat gantungan hanger di dalamnya, serta laci kecil tempat untuk menyimpan benda yang lebih personal. Ia mulai melepas apron yang melilit cantik pinggang rampingnya, melipatnya dengan rapih dan menyimpannya di dalam loker, kemudian membuka kemeja seragam berwarna dark choco yang di kenakannya, lalu menggantungnya dengan hanger, tak lupa celana panjangnya hingga membuatnya hampir polos jika tidak ada trunk berwarna abu-abu gelap yang melindungi bokong bulatnya yang menggoda.
Serasi dengan kulit tan nya yang seksi, bahkan Tao yang dalam kondisi hampir polos pun dapat membuat beberapa rekan sejawatnya merona merah ketika tak sengaja melihatnya berganti baju. Dan terhitung sudah cukup sering, seperti saat ini ketika pinti ruang karyawan tiba-tiba dibuka dan seorang pria berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata tertuju pada tubuh bagian bawah Tao dengan wajah yang merona.
Sang empunya sendiri rupanya tak menyadari jika dirinya berhasil membuat makhluk ber gender sama sepertinya merona malu hanya karena melihatnya hampir polos. Andai saja pria beruntung itu tak menutup pintu dengan debaman yanh cukup keras, mungkin Tao tidak akan pernah tahu jika baru saja ada seseorang yang hendak masuk ke dalam.
Pemuda cantik itu hanya mengangkat bahu samar, dan kembali melanjutkan kegiatannya. Memakai sweater berbahan wol super tebal berwarna putih, dan chino khaki hitam, serta sepatu kets hitam pula. Hanya menata rambutnya dengan jari, kemudian meraih backpack kecilnya yang hanya berisi beberapa benda saja. Tak lupa meraih long coat merah favoritnya, ia pun kembali menutup pintu loker dan tak lupa menguncinya.
Sambil memasang earphone di lubang kecil ponselnya, Tao tak lupa berpamitan pada manager cafe yang kebetulan masoh berada di tempat, dan juga beberapa rekan kerjanya yang lain. Dan udara yang begitu dingin berhembus menyapa kulit wajahnya yang seketika memerah karena suhu yang meningkat, merapatkan long coat yang di kenakannya, menikmati lagu yang di putar oleh aplikasi pemutar lagu di ponselnya, ia berjalan lebar-lebar menyusuri pedestrian yang masih ramai akan pejalan kaki.
Langkah kakinya begitu ringan, di iringi gumaman lirih yang keluar dari belah bibir merahnya yang merekah indah akibat suhu yang meningkat, dan juga pipi gembilnya yang merona layaknya buah apel matang. Menyimpan kedua tangannya di dalama saku mantel, Tao selalu tampak menikmati perjalanan pulangnya, menuju halte terdekat sebelum jam terakhir bus malam datang, iapun mempercepat langkah kaki jenjangnya.
Pukul 9 malam, Tao sempat menilik jam tangannya ketika mendaratkan bokong bulatnya diatas kursi besi panjang yang tersedia di halte, duduk sendiri sambil memperhatikan jalanan yang masih saja ramai. Dan sambil menunggu bus datang, si manis yang memiliki bibir layaknya kucing itu membuka backpack diatas pangkuannya, ia mengeluarkan sebuah buku yang tak terlalu tebal bersampul hitam dengan gambar bimasakti berwarna light blue.
Menautkan alisnya samar, Tao membalikkan buku karangan Dinah L. Monche itu dan membaca ringkasan di bagian belakangnya. Tampak menimang-nimang sejenak, lalu kemudian memasukkan buku itu kembali ke dalam tas dan mengambil buku yang lain, yang sama-sama bersampul hitam, namun bedanya bergambar titik-titik bintang berjudul Supernova.
Si manis itu tersenyum senang, lebih tertarik untuk menekuni buku yang lebih tipis itu. Dan baru saja ia membuka halaman pertama, sesuati yang terselip di dalam buku meluncur jatuh diatas aspal, membuatnya harus menengok ke bawah lalu membungkuk mengambil benda yang terjatuh itu.
"Lucunyaa~ Kris-gege memiliki anjing?" mutiara hitamnya berbinar indah melihat sebuah foto polaroid seekor anjing berbulu coklat menggemaskan dengan matanya yang bulat dan lidag menjulur hingga ke hidung.
Memang buku-buku astronomi yang di bawanya itu adalah milik Kris yang ia pinjam, karena ternyata lelaki dengan helai seterang matahari itu juga menyukai hal-hal yang berbau langit seperti dirinya. Dan ketika ia tahu jika koleksi Kris tergolong lengkap, dengan suka cita dirinya meminjam beberapa buku terkenal yang sudah lama di inginkannya.
Kesukaannya terhadap bintang membuat pemuda Huang itu ingin lebih banyak mengetahui perihal langit dan isinya. Hanya sebatas memandangi bintang dikala insomnianya kambuh, mengaggumi hiasan langit selayaknya remahan cookies hanya saja dapat berkerlap-kerlip indah. Berbeda dengan Kris yang lebih banyak tahu perihal langit, dan lelaki itu memang memiliki teleskop canggih di kediamannya untuk menikmati langit malam lebih jauh lagi. Dan sungguh, Tao ingin sekali berkunjung ke rumah pria Wu itu untuk mencoba teleskop yang tentunya sangat mahal itu.
Tao terlihat seperti seorang anak yang baru saja mendapat buku komik kesukaannya hingga membuat matanya berbinar-binar selayaknya kristal yang tertempa cahaya. Sama sekali tidak mempermasalahkan udara yang semakin dingin dan membuat hembusan nafasnya menjadi asap tipis yang membumbung dan dengam cepat hilang di udara. Jari lentiknya tekun membalikkan halaman demi halaman yang berbahan glossy itu dan sesekali menggumam kagum saat membaca fakta-fakta mengejutkan, juga potret angkasa yang luar biasa tak terbantahkan. Terlebih saat ia sampai pada bab pembahasan galaksi yang tersebar di alam semesta, yang entah kenapa malah membuatnya tersenyum saat membacanya.
Galaksi di alam semesta tak hanya Milky Way...
Bibirnya membentuk ah saat membuka halaman selanjutnya, dan semakin tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya setelah membaca lebih jauh. Membuatnya semakin tak bisa melepaskan pandangan matanya dari buku yang terbuka itu, menggigit bibir lembut, entah kenapa pikirannya melayang sejenak saat fokus kepingnya masih tertuju pada halaman tersebut.
"Galaksi..." ia menggumam. Mengangkat wajahnya dari buku yang di tekuninya dan menengadah menatap langit cerah.
Bernafas teratur, Tao mengerjap-ngerjap menyaksikan taburan bintang yang cantik diatas sana. Mengepulkan asap tipis hembusan nafasnya di udara, tersenyum tipis ketika menangkap setitik bintang yang berkedip-kedip seolah menyapanya.
"Alam semesta itu sangat luas bukan?" monolognya. Memangku buku bacaannya diatas paha, masih ingin mengamati keindahan langit malam. Meski pipinya telah meranum merah akibat udara yang dingin.
"Galaksi ada karena adanya alam semesta, tapi kenapa galaksi bisa begitu indah?" seperti mengguman pada hembusan angin. Kemudian ia kembali diam, memutuskan untuk tenggelam dalam hening yang ia sendiri ciptakan.
Di temani hembusan angin lembut yang membelai wajah lugu serta helai hitamnya yang lembut, menikmati memandang langit malam yang cantik. Mutiara hitamnya yang berkilau bergerak-gerak menjelajah langit, tak puas jika fokusnya hanya tertuju pada sebuah bintang yang sedang menghibur nya, hingga menciptakan seulas senyum di bibir kucingnya yang basah.
Langit malam yang indah, damai, penuh pesona, dan...sulit untuk di gapai.
Entah apa keterikatan pemandangan langit malam dengan Kris, karena tiba-tiba siluet wajah lelaki itu muncul di depan matanya. Sanggup menghapus sedikit demi sedikit lengkungan cantik di bibir mungilnya, hingga sorot matanya meredup, di gantikan oleh tatapan sendu.
"Bagaimana bisa aku menggapainya...benar kan? Sampai kapanpun itu mustahil" memaksakan sebuah senyum di bibirnya. Tao menutus kontak mata yang sudah beberapa menit menatap mesra langit, dan helaan nafas panjang meluncur dari belah bibir kucingnya.
Pemuda manis itu kembali berkutat dengan buku di pangkuannya, dengan semangat yang redup, dan pancaran yang berbeda dari manik hitamnya yang indah. Tapi belum sempat ia melanjutkan kegiatan membacanya, sebuah Audy hitam mengkilat muncul dan berhenti tepat di tepian halte -menghalau pandangannya. Membuat keningnya berkerut tak suka pada kendaraan pribadi yang mahal itu.
Namun saat tahu siapa pemilik mobil tersebut, kerutan di dahi Tao lenyap. Di gantikan oleh ekspresi terkejut dan sedikit kegugupan tampak ketika pemilik mobil berplat nomor cantik itu berdiri di hadapannya dengan senyum ramah bermain di bibir tebalnya.
"Kita sering bertemu disini ya" suara husky milik Kris mengalun di halte sunyi itu. Tao mengangguk kaku.
"Gege yang sering berhenti disini lebih tepatnya" ralat si Huang manis itu, memancing kekehan halus keluar dari celah bibir tebal Kris.
"Itu karena aku hampir setiap malam melihatmu duduk di halte ini. Belum ada bus yang datang?" Kris bergerak duduk di samping kiri Tao, menoleh memperhatikan pemuda manis itu. Tao menggelengkan kepalanya pelan.
"Jika ada aku tidak mungkin masih duduk disini gege"
"Ah ya, tapi ini sudah hampir pukul 9" ucapnya setelah menilik jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya.
Tao menghela nafas kecil, kemudian menoleh pada Kris yang duduk di sampingnya. Sementara pria itu melempar pandangan ke depan. Dan ia masih merasakan hal yang sama ketika tanpa sengaja memperhatikan lekuk sempurna wajah tampan pria bermarga Wu itu. Reaksinya masih sama seperti saat Kris meminta nomor ponselnya dulu. Berdebar, gugup, dan salah tingkah. Padahal pria itu tidak sedang memandangnya, Tao sadar akan pesona mengerikan yang menguar dari dalam diri Kris.
Dan keberuntungan apa yang membuatnya bisa menjadi dekat dengan lelaki itu? Karena lelaki se tampan Kris pasti memiliki banyak hal menarik yang patut di beri atensi ketimbang dirinya yang hanya pelayan sebuah coffee shop.
"Hei, melamun?" sebuah tangan melambai tepat di depan matanya. Sukses mengejutkan Tao yang tenggelam dalam lamunan.
Pemuda manis itu buru-buru memalingkan wajahnya yang perlahan memerah karena ketahuan sedang memandangi Kris terlebih pria itu saat ini tengah tersenyum melihat tingkahnya.
"Jadi, kau membaca buku itu?" suaranya yang hangat dan penuh perhatian selalu dapat membuat Tao merasa senang. Hingga tanpa sadar ia mengangguk, dan mengangkat buku di pangkuannya.
"Aku belum selesai membacanya. Apa gege akan memintanya?" akhirnya mata mereka saling bertautan saat Tao tak sengaja kembali menolehkan kepalanya.
"Tidak. Ku pikir kau akan bosan membaca buku itu"
"Aku tidak akan bosan ge, isinya sangat indah. Aku menyukainya"
"Benarkah?" Tao mengangguk lucu. "Syukurlah. Tapi masih banyak buku lainnya yang jauh lebih indah Tao-er"
Sebutan itu, entah kenapa sanggup menghangatkan hatinya. Walau sebenarnya udara malam ini terasa agak dingin, tapi anehnya dengan keberadaan Kris, udara dingin itu seolah terhalau oleh hal lain.
"A-apa gege selalu seperti ini?" tanyanya tiba-tiba. Entah hasutan keberanian darimana. Yang jelas setelah mempertanyakan itu, Tao segera menutup mulutnya dengan mata melebar lucu.
Terkejut dengan ulahnya sendiri.
"Maksutmu?" Kris mengernyit bingung. Tao menggelengkan kepala cepat.
"T-tidak. Lupakan saja ge"
"Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Tao hanya menggelengkan kepalanya cepat. Tapi Kris meragukan gerakan kepala itu.
"Galaksi itu indah, aku benar kan ge?" tiba-tiba Tao menolehkan kepalanya, menatap Kris yang otomatis memusatkan kedua dark choco nya pada sosok Tao.
"Memang indah. Kenapa?"
"Warnanya cantik, dan menakjubkan. Aku tidak pernah tahu jika ada hal seindah itu"
Kris menyamankan duduknya, dan menggeser tubuhnya memperkecil jarak diatas tempat duduk besi di halte tersebut. Hingga ia dapat mencium wangi lembut yang menguar dari helai gelap Tao.
"Galaksi memang indah, tapi selalu ada yang lebih indah dari hal itu" ucapnya, tak lepas memperhatikan Tao yang sudah membuang pandangan ke depan.
"Tidak sampai kita menyadarinya ge"
"Dan di butuhkan manusia lain agar kita menyadari keindahan lainnya"
Tao yang hendak mengucapkan sesuatu kembali mengatupkan bibirnya, merasa jika dirinya sedang di perhatikan, kepalanya pun tertoleh ke samping kiri. Menemukan sepasang mata menatapnya lekat dari lelaki Wu yang penuh dengan teka-teki. Yang tak ingin di tebaknya apa maksut tatapan itu, karena ia tidak ingin, dan takut menerka. Terlebih saat kedua manik dark choco itu menatapnya penuh arti, seolah tidak ada hal lain yang lebih menarik untuk di pandang.
"Gege benar...masih banyak hal yang lebih indah diluar sana. Tapi yang ku ketahui hanya satu, dan galaksi itu sangat indah, tak terhingga"
"Dan aku sudah melihat banyak keindahan, tapi hanya satu yang keindahannya menarik perhatian ku"
Tao dan Kris saling melempar senyum, kemudian tertawa karena suasan sok serius yang begitu saja tercipta. Di tengah tawanya yang segar, Tao melihat Kris yang masih tertawa dan pria itu masih saja terlihat tampan di matanya. Teringat obrolannya bersama Baekhyun dan Chanyeol -yang ia kenal karena lelaki itu menyukai sahabat Byun nya- jika Kris adalah sosok pimpinan yang cuek dan dingin, tapi saat ini ia melihat lelaki itu tertawa, dan sikapnya yang begitu perhatian juga lembut membuatnya ragu akan kebenaran cerita kedua orang itu.
"Gege tahu tidak?" Tao sudah menghentikan tawanya, kini mendekap buku milik Kris di dadanya. Lelaki itu berdehem kecil, kemudian menyahut.
"Hm? Apa?"
"Apa ada yang pernah mengatakan jika gege itu seperti galaksi?"
Kris mengangkat sebelah alisnya. "Tidak ada. Dan sepertinya tidak akan ada"
"Kalau begitu aku orang pertama yang mengatakan jika gege seperti galaksi"
Kris tersenyum geli. "Bagaimana bisa?"
"Karena gege menakjubkan. Gege misterius, tapi juga memikat, dan membuat banyak orang terkagum"
"Kalau begitu, apa galaksi ku juga memikat mu, hm?"
Tao mengunci bibirnya, mendengus kecil dengan pipi merona merah muda, yang membuat pria Wu itu tersenyum lebar hingga mencubit pipi tembamnya.
"Galaksi memang indah, tapi ada yang lebih indah dari itu" ucapnya, melepas pipi Tao yang menjadi terkaman jari-jari panjangnya, kemudian mengusapnya lembut. Sedikit merasa bersalah karena pili halus itu jadi agak memerah.
"Apa itu ge?"
"Kau lupa jika galaksi hanya sebagaian kecil dari alam semesta?"
Melihat wajah bingung Tao, Kris kembali melanjutkan.
"Alam semesta itu sendiri"
Tao masih diam. Mendengarkan.
"Alam semesta lebih misterius, lebih indah, lebih menakjubkan, dan lebih memukau"
"Tapi manusia tidak bisa menjelajah ke seluruh alam semesta ge. Tidak sejauh itu, dan galaksi adalah hal terindah di alam semesta"
"Ya memang, tapi karena hal itu manusia menjadi mengetahui jika keindahan alam semesta ini tak tertandingi oleh apapun"
"Karena itulah aku mengatakan jika galaksi itu indah"
"Dan aku mengagumi alam semesta yang menaungi galaksi itu"
Tao memiringkan kepalanya, tak melepaskan terkaman matanya pada dark choco pria yang duduk di sampingnya. Bertanya-tanya.
"Kau tahu kenapa?" Kris mengulurkan tangan kanannya, menyentuh helai poni Tao yang bergeser menghalangi satu mata pemuda manis itu, dan menyingkirkannya ke samping.
"Tidak" kepala bersurai kelam itu bergoyang pelan ke kanan dan kiri.
"Karena alam semesta yang menaungi seluruh isi di dalamnya. Galaksi tidak akan pernah ada jika alam semesta tidak terbentuk"
"..." Tao mengerjap, mendengarkan sungguh-sungguh apa yang terucap dari belah bibir tebal Kris.
"Apa yang lebih dari indah dari alam semesta? Jika segala hal ada pada dalam dirinya. Jika kau bisa menikmati banyak hal indah karenanya?"
"...tapi aku mengagumi galaksi" suaranya terdengar seperti bisikan.
"Dan galaksi mengagumi alam semesta. Tanpanya galaksi tidak akan indah, dan tidak akan pernah ada"
"Tidak semuanya menyadari jika mereka berada di alam semesta"
"Tapi mereka tahu"
"Kenapa harus mengatakan indah pada sesuatu hal yang jauh jika apa yang mudah di pandang mata lebih nyata?"
"Karena itulah yang spesial. Kau tidak tahu bukan jika saat ini aku bisa melihat alam semesta itu?"
Tao menggelengkan kepalanya, "Tidak"
"Karena galaksi hidup di dalamnya, tanpanya galaksi tidak berarti"
"Tapi-"
"Kau sendiri yang mengatakan jika aku seperti galaksi"
"Y-ya, karena gege menakjubkan, mengagumkan"
"Lalu apa kau bisa melihatnya?"
"Ya, aku melihatnya"
"Lalu apa salah jika galaksi lebih mengagumi alam semesta nya?"
"Kita sedang membahas galaksi ge, bukan alam semesta"
"Yang artinya kita juga membahas alam semesta. Karena galaksi ada di dalamnya, bagian di dalamnya, dan hidup karenanya"
"Aku..."
"Jika alam semesta tidak ada lalu apa arti galaksi yang hanya sebagai hiasan?"
"Dan alam semesta itu..."
"Kau"
Tao otomatis menundukkan kepalanya seiring dengan wajahnya yang terasa hangat hingga ke telinga. Jantungnya berdegup sangat kencang, sungguh. Dan ia hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan rasa malu sekaligus gugup yang mendadak menyerangnya.
"Tapi aku melihat galaksi itu pada gege..." cicitnya sangat pelan.
"Jadi itu artinya kita saling mengagumi kan?" nada menggoda di dalam suara Kris.
Tao memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, meski warna merah itu masih menghiasi paras manisnya.
"A-apa gege tidak merasa aneh kita membicarakan hal ini?" tanyanya pelan. Masih malu.
"Kenapa? Memang itu kenyataannya. Bagaimana jika kau menjadi alam semesta ku, dan aku jadi galaksi mu?"
"A-artinya?"
Kris meraih kedua tangan Tao yang terkulai diatas pangkuannya, mempertemukan jari-jari mereka, dan menyatukannya dalam genggaman hangat. Membuat pemuda Huang itu harus mengangkat kepalanya dengam benar untuk melihat wajah serius Kris, hingga tatapan mereka saling bertautan.
"Aku bukan seseorang yang mudah akrab atau tertarik dengan orang lain. Chanyeol bahkan menjuluki ku manusia teropong"
"Kenapa begitu ge?" Tao menautkan alisnya lucu.
"Karena setiap malam di waktu senggang aku selalu berdiri di belakang teropong"
"Untuk apa?"
"Untuk melihat langit"
"Pasti menyenangkan"
"Dan saat ini lebih menyenangkan lagi karena aku bisa melihat langit malam lebih dekat"
"Bagaimana caranya?"
"Karena langit malam ku, alam semesta ku saat ini ada di hadapan ku"
Blush!
Wajah Tao kini benar-benar memerah. Semerah kepiting rebus yang baru saja matang.
"Jadilah alam semesta ku, untuk menjaga galaksi mu agar tetap hidup, Huang Zi Tao"
Tao dalam kondisi mengenaskan saat ini. Ibaratnya di tusuk tepat di hadapannya, dan ia tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apa, karena bibirnya hanya bisa bergerak terbuka-menutup-terbuka-menutup seperti seekor ikan yang terdampar mengenaskan di daratan.
Hingga akhirnya ia menemukan suaranya kembali.
"Gege curang!"
Kris mengerutkan keningnya dalam. "Aku curang kenapa?"
"Aku sedang membicarakan galaksi, bukan alam semesta. Tapi gege tidak berhenti memuji alam semesta, itu menyebalkan!"
"Karena itu kenyataannya Taozi"
"Tapi kan-"
"Kalah begitu tanyakan hal yang sama padaku. Tanyakan pada galaksi mu"
"Bu-bukan itu ge...t-tapi..."
Kris melepaskan genggaman kedua tangannya dan menatap taat pada bola kelam berkilau milik makhluk indah di sampingnya. Ia melipat kedua tangannya di dada, menunggu untuk Tao mengucapka n sesuatu yang sedang sangat ingin di dengarnya.
"Ge~" Tao merengek dengan mata berkaca-kaca. Seperti menahan air matanya agar tidak tumpah, "Gege~"
"Hm?" oh sungguh. Sebenarnya Kris ingin lebih menggoda makhluk menggemaskan di hadapannya itu, tapi ia lebih memilih untuk menunggu reaksi Tao selanjutnya.
"Aku tidak bisa ge, jangan memaksa ku~"
"Baiklah..." Kris melepaskan lipatan tangannya di dada. "Jadi?"
"Jadi?" Tao mengerjap polos.
"Kau bersedia atau tidak? Menjadi alam semesta ku"
Tao merasa mendadak sesak nafas -lagi. "J-jika tidak?"
"Maka galaksi yang kau sukai akan menghilang"
"Kenapa begitu?"
"Karena alam semesta tidak menginginkannya"
"Tidak. Tidak boleh!"
"Jadi?"
Tao mengangguk patah-patah. Warna merah segar kembali mewarnai pias manisnya yang menawan. Dan sepatah kata yang terucap dari belah bibirnya, menjelma layaknya oase bagi Kris di tanah tandus yang gersang.
"Y-ya...akumaumenjadisemestagege"
Dalam satu tarikan nafas Tao mengucapkannya. Membuat Kris tertawa lepas melihat wajah memerah Tao yang menggemaskan dan jawabannya yang tanpa jeda. Tao segera membuang muka karena sangat malu, sekigus kesal. Padahal ia membutuhkan semua keberaniannya untuk mengatakan itu, tapi lelaki itu malah tertawa.
Tapi karena tangan kirinya yang tiba-tiba di genggam, membuat Tao harus menoleh ke sisi kirinya dimana ia menemukan sepasang mata menatapnya lembut, serta senyum hangat.
"Be my universe for your galaxy"
Entah terbuat dari apa pria bernama Kris Wu itu. Kenapa dia selalu berhasil membuat Tao merona malu dengan segala hal yang di ucapkan nya, kenapa dia pintar sekali bicara, dan kenapa Tao dapat jatuh cinta pada galaksi yang bahkan baru di ketahuinya itu.
"I need my galaxy for my universe"
Tao bersungguh-sungguh. Jika Kris bisa mengatakannya, kenapa dirinya tidak? Ya, meskipun saat ini ia harus menanggung malu karena mengatakannya. Dan tak tahan untuk tidak menyembuyikan wajah matangnya di lengan Kris yang spontan ia rengkuh selama tangan mereka saling menggenggam. Usapan lembut di kepala nya lah yang membuatnya semakin nyaman, dan tak ragu untuk menyembunyikan wajah merahnya di lengan Kris yang berhimpitan dengan lengannya.
"Mau gege antar pulang sekarang?"
"Tidak mau, aku tidak mau pulang"
"Lalu? Ini sudah pukul 11 malam peach"
"Aku masih ingin melihat bintang ge. Langitnya cerah malam ini, sayang kalau di lewatkan"
"Tidak lebih indah dari langit malam dan bintang gege"
"Uhm? Memang ada? Dimana?"
"Gege melihatnya di matamu"
"Ge! Berhenti mengatakan hal memalukan seperti itu!"
"Apanya yang memalukan? Memang salah kalau gege memuji kekasih gege sendiri?"
"Gege!"
"Kau tahu peach?"
"Hum?"
"Kita sedang bermesraan di halte bus"
"Ini salah gege"
"Kalau begitu besok kita kencan sambil menikmati langit malam di kamar gege, bagaimana?"
"Kenapa harus di kamar gege?"
"Karena disana ada tempat tidur, sofa, karpet. Kau bisa memilih dimana kita bisa menghabiskan malam setelah mengamati langit"
"GEGE!" /
END
Maaf kalau kurang puas sama endingnya, gw udah berusaha x'D
Ff ini spesial untuk Decaf Caramel Machiato yang udah repot2 nagih tanpa bosan, semoga ga kecewa ya x'D
Ciao di ff lainnya! :*
Buat yg ga review awas aja, bintitan ntar :v
Regards, Skylar
