Greetings, this is my first fic, and I need your help to coment on.
Seraphina Hall-Pratiwi
DISCLAIMER: I DO NOT OWN HARRY POTTER
Bab 2
U'll Meet Them Someday
"Kita punya kesepakatan kalau begitu", Dr Irfan, masih dengan seringainya yang licik berjalan meninggalkan Lucius.
"Beri dia nama Rose Hermione. Aku akan membunuhmu kalau kau tak memberinya nama itu", sahut Lucius tiba-tiba. Dr Irfan menghentikan langkahnya, berbalik kemudian tersenyum dengan dipaksakan.
"Baiklah Mr. Malfoy. Apapun untuk anda", jawabnya kemudian benar-benar berlalu dari sana.
+TMD+
"Titipkan anak ini ke panti asuhan manapun yang kau inginkan. Di panti asuhan Muggle pun tak masalah", Dr Irfan meyerahkan bayi mungil berbalut kain merah muda itu pada seorang wanita berpakaian perawat. Sang wanita menerima bayi tersebut kemudian memperhatikannya. Bayi itu begitu cantik dengan rambut kecokelatan dan mata cokelat madu yang begitu teduh.
"Ini bayi Draco dan Hermione?", tanyanya memastikan. Ia sempat melihat data bayi itu dari temannya, Emilly Husttle, seorang suster yang membantu persalinan Hermione.
"Ya. Kau mengenal mereka?", Dr Irfan memasang wajah curiga.
"Tentu. Mereka seangkatan denganku di Hogwarts", jawabnya.
"Well, Lavender kuharap dengan saling kenalnya kau dengan pasangan Malfoy itu tak lantas membuatmu menghancurkan segalanya. Ini permintaan langsung dari Mr. Lucius Malfoy kalau kau tahu", ujar Dr Irfan.
Wanita itu, Lavender mengernyitkan dahinya. "Jadi Malfoy tua itu yang membuang bayi ini. Padahal ia begitu manis".
"Dengarkan Lavender. Bayi ini Down Syndrome dan dia akan mencemarkan nama besar keluarga Malfoy jika tidak segera disingkirkan. Beruntung Mr. Lucius hanya menyuruhku menitipkannya dipanti asuhan, tidak membunuhnya. Ohh, dan jangan khawatir, aku akan membagi bayaranku denganmu", Dr Irfan berujar sinis. Sementara Lavender mengernyit tak suka.
"Dan jangan lupa memberi nama bayi itu Rose Hermione. Ingat, Rose Hermione", tambah Dr Irfan kemudian berlalu meninggalkan Lavender.
+TMD+
"Panti asuhan? Bayi ini?", tanya Timothy Schott suami Lavender Schott. Ia tengah menggendong sang bayi. Wanita berambut ombak itu hanya mengangguk ringan kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang, disamping sang suami. "Ohh, padahal bayi ini begitu manis".
"Ya. Tapi dia Down Syndrom, Tim. Itulah alasan Lucius membuangnya", jawab Lavender dengan nada sinis. Ia memang tidak pernah menyukai Malfoy yang satu itu.
"Dan kenapa kau tidak menitipkannya dipanti asuhan?", sang suami kembali bertanya. Lavender menghela nafas berat. Beberapa lama kemudian ia membalikan wajahnya menata Timothy.
"Tim, aku berpikir untuk mengadopsi anak ini", jawabnya. Mata hazel Timothy membulat tak percaya, tapi ia berusaha tak menggerakan badannya terlalu keras, takut sang bayi terbangun.
"Tapi Lav, dia Down Syndrome", balas Timothy. Lavender kembali menghela nafas berat.
"Aku tahu, Tim. Tapi bukankah kau sendiri yang bilang dia manis?"
"Tapi bukan berarti kita harus mengadopsinya"
"Lalu kau mau bagaimana, Tim? Kau tega aku menitipkannya dipanti asuhan? Kau tahu anak-anak itu akan mengejeknya setiap hari. Aku tidak tega Tim. Lagipula kupikir ini jawaban atas semua keinginan kita"
"Keinginan kita Lav? Aku mau merawat darah dagingku dan bukan milik orang lain. Lagipula kau…", Timoty menghentikan perkataanya. Lavender memandang sang suami dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Lagi pula apa Tim? LAGI PULA APA?", teriak Lavender membuat emosi Timoty pecah.
"LAGIPULA KAU YANG MANDUL LAVENDER. KAULAH YANG TIDAK BISA MEMBERIKU KETURUNAN, DAN SEKARANG KAU MEMBAWA PULANG ANAK CACAT KE RUMAHKU", bentak Timoty. Sementara Lavender masih terhisak.
Timoty bangkit dari ranjangnya. Ia meletakan bayi perempuan itu diatas ranjang tanpa memperdulikan sang bayi yang sudah menangis keras karena teriakan mereka beruda.
"Lavender, kau harus memilih. Anak itu atau aku. Kalau kau memilih membesarkan anak itu, ceraikan aku", katanya tegas.
Lavender masih terhisak. Ia begitu sayang pada bayi sahabatnya. Ia tak mungkin membuangnya, menitipkannya di panti asuhan. Ia pernah berhutang begitu banyak pada Hermione dulu saat di Hogwarts. Tapi ia begitu mencintai suaminya. Beberapa menit kemudian, Lavender bangkit kemudian menyambar tongkat, dan mantel kulitnya. Ia kemudian menggendong sang bayi yang masih menangis.
"Aku akan kirim alamat baruku padamu. Setelah itu kau bisa mengirim surat perceraian kesana", ujarnya kemudian melakukan apparate.
+TMD+
Dua Bulan Kemudian
Lavender Brown –nama aslinya- membukakan jendela mempersilahkan Rowiie, burung hantu kesayangannya masuk. Satu eksemplar Koran Daily Prophet edisi terbaru diikat dikakinya. Lavender melepas tali yang mengikat Koran itu kemudian memberikan Rowiie minum dari pialanya.
Ia kemudian mendudukan dirinya di sofa tua berwarna merah. Baginya mengurus seorang Rose tidaklah mudah. Bayi itu makin aktif hari ke hari, dan anehnya, ia tidak menemukan sama sekali gejalah-gejalah Down Syndrome pada bayi dua bulan itu. Mungkin akan muncul saat ia berusia setahun atau lebih, pikirnya.
Setelah penatnya agak hilang, Lavender mulai membaca Daily Prophet edisi terbaru dengan halaman utamanya.
Penampilan Pertama Penerus Keluarga Malfoy
Setelah dua bulan menunda, akhirnya keluarga Malfoy dengan resmi memperkenalkan penerus mereka. 'Kami sempat shock saat bayi kedua kami, saudara kembar Scorpius meninggal. Tapi sekarang kami sudah siap untuk mengumumkan calon penerus Malfoy', ujar sang kepala keluarga Draco Malfoy. 'Scorpius Hyperion Malfoy, akan menjadi pewaris tunggal atas kekayaan Malfoy', tambah Lucius Malfoy.
Lavender meletakan kembali Koran tersebut tanpa ada niat membacanya lagi. Ia ingat dua bulan yang lalu, Lucius Malfoy mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa bayi kedua Draco dan Hermione telah meninggal saat dilahirkan. Ia yakin Draco dan Hermione tidak tahu bahwa Rose masih hidup.
Buktinya, saat Lavender menghadiri upacara pemakaman yang direkayasa oleh –menurut Lavender- Lucius Malfoy. Ia melihat jelas bagaimana Hermione dan Draco meneteskan air mata mereka dengan Scorpius dalam gendongan Hermione
Lavender meneguk teh hangatnya. Ia tidak bisa membawa Rose ke Hermione dan Draco sekarang. Sekarang bukan saatnya. Ia akan membesarkan anak itu, dan entah bagaimana ia akan membawa Rose pada Hermione dan Draco nanti. Tidak saat Lucius masih di Inggris. Selama Lucius masih di Inggris, ia yakin Lucius tidak akan menerima Rose. Lavender yakin itu, karena menurut teman squibnya yang juga bekerja di rumah sakit yang sama, Lucius Malfoy belum menerima Hermione seutuhnya.
Belum lagi jika Lavender tiba-tiba muncul membawa Rose. Ia yakin bukan hanya dia saja yang dibunuh, tapi Rose juga, dan mungkin Hermione.
Sejak ia memutuskan untuk membawa Rose bersamanya, ia telah mengundurkan diri dari pekerjaanya di rumah sakit, mengirimkan surat palsu pada Irfan bahwa bayi itu telah dititipkannya di panti asuhan Muggle di London, menyewa flat kecil di pinggiran London, dan bekerja paruh waktu di took roti Muggle didekat flatnya. Semua demi menghapuskan jejaknya dan Rose.
Ia membuka pintu kamar Rose dan mendapati bayi dua bulan itu sedang tertidur dengan lelapnya pada box bayi. Lavender membelai rambut kecokelatannya pelan. Ahh, betapa miripnya bayi itu dengan Hermione. 'Rose, suatu saat nanti aku akan mempertemukanmu dengan keluargamu. Suatu saat nanti'.
TBC
Haaa,, finally…. Makasih yahh yang udah di review,,
N buat yang lain,, Review Plisss
