Naruto disclaimer Masashi Kishimoto dan Fate/Stay Night disclaimer Type-Moon

Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.

Author hanya meminjam karakter untuk cerita ini dan tidak mengambil keuntungan materi apapun dari cerita yang dipublish.

.

Warning : OC, OOC, AU, AR, AT, Typo (s), miss-Typo, dan banyak kesalahan yang lainnya.

.

.

.

My Library

Drama, Friendship, Romance, Humor, Parody, Family, Suspense, Spiritual, Hurt/Comfort, Poetry

.

.

.

Chapter 2 Tips Jitu

.

Harum parfum seperti aroma cokelat manis itu menusuk pernapasan sang pemuda bergurat tiga. Terlebih senyuman semanis buah peach yang Arthuria berikan mampu membuat degup jantung Naruto berdetak tidak stabil.

'Perasaan apa ini?'

Batinnya bergumam saat bertatapan langsung dengan sang ketua BEM, yang mana membuat Naruto harus mengakui apa yang dibilang Utakata kepadanya tempo hari.

'Kau tahu, Naruto. Terkadang sampul tidak sama dengan isi begitupun sebaliknya. Dia memang terlihat sangat jutek dan mungkin mengerikan. Tapi jika kau mau mencoba lebih dalam mengenalnya, maka jangan salahkan jika hatimu akan terluka karena menyesali mengapa tidak sejak lama kalian sudah saling mengenal.'

Naruto menatap wajah cantik Arthuria di hadapannya yang kemudian duduk berjinjit untuk mengambili buku-buku perpustakaan yang terjatuh. Tak ingin kehilangan moment yang jarang terjadi dan untuk menutupi dirinya yang sedang terkesima, Naruto ikut berjongkok dan mengambili buku-buku tersebut. Ia tampak berusaha mencuri pandang saat Arthuria tidak melihatnya. Arthuria sendiri tampak cuek dan tetap fokus membantu Naruto untuk mengambili buku-buku yang jatuh berserakan itu, lalu meletakkan kembali pada lemari buku perpustakaan. Tanpa terasa, buku-buku itu telah kembali ke tempat semula.

"Baik, sudah selesai." Arthuria tersenyum kepada Naruto dan segera beranjak meninggalkannya. Menyadari hal itu, Naruto lekas-lekas bertanya.

"Tunggu! Siapakah namamu?" tanya Naruto spontan.

Arthuria yang sudah membalikkan badannya membelakangi Naruto itu kemudian menoleh ke arah Naruto, tersenyum.

'Ehhhhh?'

Naruto tidak habis pikir jika sang gadis hanya melemparkan senyuman atas pertanyaan yang ia ajukan. Dengan segera Naruto berusaha mengejar Arthuria, tapi entah mengapa tubuhnya terasa berat.

'Eh, kenapa aku malah jalan ditempat seperti ini?' Naruto bingung saat ia tidak dapat melangkahkan kaki untuk mengejar Arthuria.

"Ehem!"

Terdengar deheman seseorang dari belakang tubuh Naruto. Naruto pun menoleh.

"Se-sensei ..." Naruto tersadar jika cardigan hitam panjangnya di tarik oleh Kaguya, sang dosen sekaligus penjaga perpustakaan.

"Mau kemana?" tanya Kaguya ketus.

"Em, ano, aku ingin ... mengejar dia," ucap Naruto sambil menunjuk Arthuria yang keluar dari dalam ruang perpustakaan.

"Oh, begitu ..."

"I-iya."

"Cepat letakkan semua buku-buku yang ada di tanganmu!" seru Kaguya yang nampak kesal melihat ulah Naruto.

Tak lama Naruto tersadar jika ia sedang memegang beberapa buku yang belum sempat ia letakkan ke tempat asalnya.

"I-iya, Sensei-"

"Habis ini, sapu dan pel seluruh lantai perpustakaan!" teriak Kaguya memekakkan gendang telinga.

"Tap-tapi, Sensei-"

"Tidak ada tapi-tapian, kau ingin tidak diluluskan di mata kuliah bahasa, Naruto?!" ancam Kaguya.

Naruto menekuk dahinya, ia sweatdrop mendapati ancaman dari sang dosen.

"Ba-baiklah, Sensei," sahut Naruto yang ketakutan atas ancaman Kaguya.

"Bagus."

Kaguya lalu beranjak pergi meninggalkan Naruto dan kembali duduk di tempat registrasi. Terlihat mahasiswa lain yang menahan tawanya saat melihat Naruto dimarahi oleh Kaguya.

"Astaga," ucap Naruto pelan.

'Jadi, apakah semua wanita seperti Kaguya-sensei? Jika iya, maka tamatlah para pria di bumi ini,' batin Naruto bergumam sambil meletakkan kembali buku-buku yang berada di tangannya pada lemari buku perpustakaan.

.

.

.

Satu jam kemudian...

"Naruto, pssst ..." Utakata menegur Naruto yang tertidur di kelas.

Naruto tidak menjawab, sepertinya ia sangat kelelahan setelah bekerja keras di perpustakaan kampus.

"Hei, Naruto, bangunlah." Utakata mengguncang-guncang tubuh Naruto dari kursi belakang.

"Hmmm ..." Naruto bergumam, hanya itu.

"Naruto, Kaguya-sensei datang, Naruto!" teriak Utakata.

"Hah? Apa?! Kaguya-sensei?!"

Mendengar nama Kaguya disebut, Naruto lekas-lekas bangun dari tidurnya.

"Ahahahahaha ..."

Terdengar gelak tawa dari mahasiswa lain saat mendengar Naruto panik. Naruto sadar akan sikapnya saat itu, segera saja ia membalikkan badannya ke kursi belakang tempat di mana Utakata duduk.

"Sial kau, Utakata!" Naruto geram karena merasa dikerjai Utakata.

"Eh, maaf, Naruto. Habisnya kau tidur sungguh lelap sekali. Aku khawatir jika Kaguya-sensei datang dan menghukummu kembali." Utakata menjelaskan.

"Hah, aku tidak perduli, Utakata! Kau pikir aku berani padanya? Tidak, ya!" seru Naruto.

"Naruto!" tiba-tiba terdengar seseorang berteriak memanggil namanya dari depan kelas.

"Naruto, benar apa kataku ..." Utakata segera menutupi wajahnya dengan buku.

Jantung Naruto berdegup kencang seketika saat ia berusaha mengenali suara siapa gerangan yang memanggil namanya dari depan kelas.

'Sial, sepertinya mulai hari ini aku harus menjaga perkataanku ...'

Naruto perlahan-lahan membalikkan badannya ke depan, dan ia dapati jika Kaguya sudah berjalan mendekat ke arahnya.

'Matilah aku, hiks...'

Naruto meratapi nasibnya hari ini.

.

.

.

Jam kampus sudah usai, Naruto terpaksa pulang terlambat karena lagi-lagi terkena hukuman. Tidak terlalu menguras tenaga, hanya membantu meng-entry data buku keluar di komputer perpustakaan. Setelahnya, ia lekas-lekas menemui Shikamaru di kelasnya untuk memberikan buku yang telah dipesan. Tapi sayang...

"Sai," sapa Naruto yang bertemu Sai di depan kelas.

"Naruto." Pemuda berambut klimis yang memakai pakaian serba hitam itu ternyata sedang mengunci pintu kelasnya dari luar.

"Di-di mana, Shikamaru, Sai?" tanya Naruto sambil melirik ke dalam kelas Sai.

"Oh, dia sudah pulang, Naruto. Ada apa ya, bisa kubantu?" tanya Sai.

"Hm ... begitu," Naruto sedikit kecewa.

"Kalau ada perlu dengannya nanti kusampaikan," Sai menawarkan bantuan.

"Em, tidak sih. Aku hanya ingin memberikan buku pesanannya ini." Naruto menunjukkan buku yang dipesan oleh Shikamaru.

"Hhh ..." Sai terlihat menghela nafasnya saat melihat buku apa yang dipesan oleh Shikamaru.

"Ternyata, dia benar-benar pemalas," Sai sweatdrop seketika.

"Naruto, ini sebuah amanah. Sebaiknya kau menyampaikannya secara langsung. Aku khawatir, aku tidak dapat memegang amanah dengan baik." Sai keberatan jika harus menyampaikan buku yang dipesan Shikamaru.

"Oh, baiklah. Tak apa, Sai," sahut Naruto.

"Baiklah, mari kita pulang. Hari sudah mulai gelap." Sai memberi saran.

"Hu-um." Naruto mengangguk mengiyakan saran dari Sai.

Walau ada perasaan sedikit kecewa karena tidak bertemu Shikamaru, setidaknya Naruto dapat mengobrol sebentar dengan Sai yang merupakan salah satu anggota BEM di kampusnya.

Mereka berdua kemudian beranjak meninggalkan kampus kesayangannya, dan lekas-lekas kembali ke rumahnya masing-masing.

.

.

.

Malam harinya...

Rasa penasaran akan buku yang dipesan Shikamaru kepadanya, membuat Naruto mulai membuka buku tersebut. Ia mulai membaca apa isi dari buku yang membuat Shikamaru malas untuk mencarinya.

'Ini ...'

Naruto tampak sweatdrop saat membaca judul pertama dari daftar isi buku tersebut.

'Tips jitu menarik hati wanita ...'

"Hah?! Apa-apaan ini?"

Naruto terkejut saat mendapati tips jitu yang menjadi isi pada bab pertama buku itu. Tapi yang namanya Naruto, walaupun dirinya terkejut masih saja ia meneruskan membaca buku tersebut karena rasa penasaran yang menerjangnya.

"Sa-pa." Naruto membaca tips yang pertama.

"Sa-pa." Naruto membaca tips yang kedua.

"Sapa." Naruto tampak bingung kenapa tips jitu itu mengulang kata 'sapa' hingga tiga kali.

"Buku macam apa ini, mengapa tips jitu menarik hati wanita dengan sapa, sapa dan sapa?"

Terlihat raut wajah Naruto yang bertekuk duabelas karena tidak mengerti. Tidak ingin mengambil pusing, ia meneruskan ke tips nomor empat.

"Senyum dan salam. Hm, yang ini bisa kumengerti," ucap Naruto kemudian.

Naruto terus membaca tips-tips tersebut hingga sampai ke tips nomor tujuh. Dan entah mengapa ia malah teringat akan sosok gadis yang membuat dirinya penasaran, Arthuria.

"Tips yang kelima, buat target penasaran akan dirimu. Hm, tapi mengapa aku yang penasaran dengan dirinya ya?" gerutu Naruto sambil melihat langit-langit kamar.

"Tips keenam, kirimi satu, dua sajak di tempat-tempat yang sering terlihat olehnya. Ini seperti ... hmm, apa ya ... aku jadi bingung sendiri."

Naruto tidak habis pikir jika tips yang ia baca saat ini akan menjadi amunisi untuk mendekati Arthuria. Kenapa Arthuria? Karena hanya Arthuria lah yang mampu menarik perhatiannya.

"Tips ketujuh, tunggu respon sebelum menuju ke tips nomor delapan. Ahahahaha ..."

Tiba-tiba saja Naruto tertawa sendiri saat membaca tips nomor ketujuh.

"Entah mengapa aku merasa geli membaca buku ini, ada-ada saja. Ahahaha ..."

Naruto kemudian merebahkan diri di atas kasurnya dan meletakkan buku itu di sampingnya. Sinar matanya tiba-tiba berubah cerah seperti melihat sepercik cahaya di antara kegelapan yang ada.

"Bagaimana saat aku berusaha tersenyum kepadanya dengan niatan agar dia menyukaiku, tetapi malah aku yang terbalik menyukainya saat melihat dia membalas senyumannya kepadaku.

"Hah! Aku jadi penasaran dengan dirimu. Tapi siapakah namamu? Apa benar namamu itu ... Arthuria?" Naruto bertanya sendiri.

Mungkin ketidaktarikkan akan menjadi sesuatu yang menarik, dan mungkin rasa penasaran akan membuahkan simpatik. Dalam gelapnya malam Naruto berusaha menenangkan pikiran untuk melangkah di hari esok, hari di mana tidak satupun makhluk yang mengetahuinya.

Masa depan, sebuah masa yang menjadi sangat misterius dengan adanya campur tangan Tuhan.

.

.

.

Pagi hari, di Universitas Osaka.

Empat orang pemuda keluar dari mobil BMW berwarna hitam. Mereka tampak seperti artis kenamaan, F4. Pemuda berambut silver itu mengenakan cardigan lengan panjang yang berwarna merah, dan celana jeans serta sepatu sport yang berwarna hitam.

Sedang di sebelah kirinya ada seorang pemuda tampan berambut hitam mengenakan kaus pas badan berwarna putih yang dibalut kemeja hitam lengan panjang, yang kancingnya dibiarkan terbuka, jeans dan sepatu sport berwarna biru.

Dan di sebelah kanannya ada pemuda yang tubuhnya tempak lebih kecil dari keduanya. Berambut merah memakai t-shirt putih lengan panjang, jeans dan sepatu sport hitam.

Sedang yang bertindak sebagai supir mereka adalah seorang pemuda yang tak kalah tampan. Dia berambut biru keungu-unguan, memakai mantel dan jeans yang berwarna cokelat, sedang sepatunya berwarna hitam.

Mereka adalah boy band dari Universitas Osaka, Jepang. Empat orang pemuda dengan ciri khasnya masing-masing. Sedang yang mengetuainya adalah pemuda yang berambut silver yang tak lain adalah Archer.

"Akhirnya, kita kembali," ucap Archer sambil melepas kaca mata hitamnya, begitupun dengan ketiga temannya.

"Hm, apa akan ada yang menarik perhatianku hari ini?" tanya sang pemuda berambut biru keungu-unguan, Shinji.

"Hari yang kubenci," sahut pemuda berambut hitam, Kiritsugu.

"Hah, kalian selalu seperti ini," balas pemuda berambut merah, Shirou.

Mereka berempat berjalan bersama melewati lapangan kampus yang mana kedatangan mereka disambut sorak sorai para gadis yang sangat terobsesi dengan gaya dan penampilan mereka.

"Archer!"

"Shinji!"

"Aaaaa!"

"Kiritsugu!"

"Shirou, sayangku!"

Terdengar lantunan suara yang menyakitkan gendang telinga mereka saat nama mereka diteriak-teriakkan oleh para gadis. Tapi sayang, tidak semua dari para mahasiswa Universitas Osaka menyukai mereka. Ada saja yang membenci gaya absurd keempat F4 ini.

BRUGGGH...

Tiba-tiba saja Archer terjatuh di hadapan para gadis, yang membuat dirinya kesakitan.

"Aduuuhh ..."

Ia memegang pinggangnya sambil menahan sakit. Melihat hal itu, segera saja baik Shinji, Kiritsugu maupun Shirou membantunya bangun.

"Kau kenapa, Archer?" tanya Shinji.

"Iya, lagi-lagi kau terjatuh," tambah Kiritsugu sambil memasang wajah bingung.

"Apa kau kurang tidur?" Shirou ikut bertanya.

Archer pun menahan rasa sakit yang ia rasa sambil berusaha berdiri.

"Sial! Pasti ada yang mengerjaiku lagi. Aduuhh ..." Archer menahan sakit sambil melihat apa yang membuat dirinya terjatuh.

"Heh, ini kan kulit pisang yang dilumuri minyak?" sebut Shinji sambil melihat sesuatu berwarna cokelat di bawah kaki Archer.

"Iya, benar," kata Shirou.

"Oh, sialan! Cepat cari tahu siapa dalang dari semua ini. Cepaaaat!" pinta Archer kepada Shinji dan Shirou.

'Ya, ampun. Tugas lagi ...' sebut Shinji dan Shirou bersamaan di dalam hati.

Sementara Kiritsugu masih membantu Archer untuk berdiri.

"Sepertinya jika dirimu terus-terusan seperti ini, maka aura ketampananmu akan hilang, Archer." Kiritsugu memberikan pendapatnya.

"Agh! Aku tidak peduli. Wajah itu bisa di-setting. Yang penting bawa aku ke ruang perawatan sekarang. Ini sakit tahu!" gerutu Archer.

"Hm, baiklah ..."

Kiritsugu menuruti permintaan Archer untuk membawanya ke unit perawatan kampus, sedang Shinji dan Shirou mencari siapa dalang dari terjatuhnya Archer, sang ketua.

Ada-ada saja yang terjadi pada sang ketua hingga membuat ketiga temannya ikut kerepotan.

.

.

.

Siang hari di Universitas Tokyo...

Cuaca yang sedikit panas membuat Naruto bersama Utakata duduk di bawah pohon yang rindang. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk membaca buku pesanan Shikamaru yang belum sempat diberikan Naruto.

Saat mereka tengah terbelalak melihat satu persatu isi dari lembaran buku itu, tiba-tiba pandangan Naruto tertuju pada sosok gadis yang berjalan bersama seorang pria berambut merah. Dari kejauhan keduanya tampak berjabat tangan dan sang pria tersebut mempersilakan sang gadis untuk berjalan bersama.

"Uta-kata ..." Naruto menepuk bahu Utakata yang saat itu tengah duduk santai di sebelah kirinya.

"Hm, nani-"

"Itu, lihat!" Naruto menunjuk ke arah sosok gadis dan pria yang berjalan bersamaan.

Utakata memandang lebih jelas siapa gerangan yang ditunjuk oleh Naruto.

"Itu kan ... Arthuria, Naruto," sebut Utakata.

"Arthuria ya, dan siapa yang berjalan bersamanya?" tanya Naruto.

"Eh, mengapa sekarang kau terlihat aneh seperti ini, Naruto?" tanya Utakata.

"Aneh maksudmu?" Naruto menoleh ke Utakata.

"Iya, dulu kau tidak berminat dengan dirinya, mengapa sekarang berubah? Oh atau jangan-jangan sekarang kau-"

"Hei, kau ini. Aku hanya bertanya siapa pria yang bersamanya!" seru Naruto yang tiba-tiba marah tanpa sebab.

"Ya, mana aku tahu. Aku bukan Shikamaru yang serba tahu. Kau tanya saja dia," Utakata memberikan saran sambil meneruskan membaca buku yang dibawa oleh Naruto.

"Oh, begitu ya. Tapi ..."

'Ini aneh, mengapa tiba-tiba aku menjadi penasaran dengan dia ya. Hm ...,' bisik Naruto di dalam hati.

Semenjak pertemuannya dengan sang ketua BEM di perpustakaan kampus, entah mengapa Naruto menjadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam siapa sosok Arthuria yang sebenarnya.

.

.

.

Sore hari...

Sore ini terlihat jajaran BEM di kampus Naruto sedang mengadakan rapat internal. Niat hati ingin memberikan apa yang dipesankan Shikamaru, ternyata ia malah mengintip keadaan rapat dari luar ruangan.

"Mengapa teman ku begini?" Utakata menepuk-nepuk keningnya sendiri.

"Pssst, jangan berisik," pinta Naruto.

"Hei, Naruto! Jika kau ingin bergabung, masuk sajalah. Daripada mengintip seperti ini, ini tidak lebih dari seorang pecundang, kau tahu!" Utakata tampak bingung menghadapi tingkah temannya.

"Eh!" Naruto segera membalikkan badannya menghadap ke Utakata.

"Aku di sini sedang menunggu Shikamaru selesai rapat, Utakata!" sergah Naruto.

"Shikamaru atau Arthuria?" skak Utakata.

Seketika itu juga Naruto terdiam, ia bingung harus menjawab apa.

"Tuh kan benar, kau sedang dilanda asmara," cetus Utakata sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

"Eh, tidak-tidak. Kau salah Uta-"

"Sudahlah, itu Shikamaru," Utakata memutus pembicaraan Naruto lalu menunjuk ke arah Shikamaru yang baru saja keluar dari dalam ruangan.

"Hei, Naruto, Utakata," sapa Shikamaru yang saat itu mengenakan pakaian serba hitamnya. Dari cardigan lengan panjang, jeans dan juga sepatu, semuanya berwarna hitam.

"Shikamaru, apa boleh kami ikut bergabung dengan BEM?" tanya Utakata memulai percakapan, hal ini ia lakukan demi Naruto agar bisa mendekati Arthuria.

"Eh, tidak Shika, dia saja!" Tapi sayang Naruto malah beralibi dengan menunjuk Utakata.

"Hn ..."

"Bagaimana Shikamaru?" tanya Utakata lagi.

"Kalian yakin ingin ikut bergabung?" Shikamaru balik bertanya.

"Iya," jawab Naruto segera sambil melebarkan senyumannya.

Sikap Naruto yang berbanding terbalik dengan ucapannya saat itu sontak saja membuat Utakata memijat pelipis keningnya.

'Dasar pecundang!' gerutu Utakata dalam hati.

"Hn, baiklah. Nanti akan aku sampaikan kepada Arthuria. Untuk sekarang, persiapkan saja mental kalian terlebih dahulu sebelum bergabung dengan jajaran BEM.

"Dan untuk kau, Naruto. Sudah kau temukan apa yang kupesan?" tanya Shikamaru kepada Naruto.

Naruto bergegas mengeluarkan buku dari tas ransel berwarna hitamnya. Mengambil buku tersebut lalu ia menyerahkannya kepada Shikamaru.

"Ini," ucap Naruto.

Shikamaru pun menerima buku tersebut lalu memberikan Naruto dua buah tiket nonton sebagai balasannya.

"Ini komisi untukmu, tiket nonton hanya berlaku untuk tiga hari ke depan. Jadi, jangan sampai terlewat," pesan Shikamaru kepada Naruto.

"Ini kan ..." Naruto melihat tiket itu.

"Semoga saja, kau sudah mempunyai seorang teman wanita untuk kau ajak nonton nanti, Naruto. Jika tidak, sia-sialah kerja kerasmu menyapu dan mengepel lantai perpustakaan. Ahahahaha ..."

Utakata tertawa dengan kerasnya mengingat Naruto menceritakan kisah kelam saat berusaha mengambil buku tersebut.

"Hn, sudah ya. Aku tinggal dulu. Masih ada rapat. Sampai jumpa, Naruto, Utakata." Shikamaru pun berpamitan.

"Arigatou, Shika," ucap Naruto yang dibalas jempol oleh Shikamaru. Utakata sendiri terlihat beranjak meninggalkan Naruto sambil tersenyum menahan tawa.

'Tiket nonton ya, bersama siapa tapi, hm ...' gumam Naruto di dalam hati.

.

.

.

Malam harinya...

Naruto, menyempatkan diri berbelanja kebutuhan bulanan di sebuah mini market yang tak jauh dari rumahnya. Tapi, tiba-tiba hidungnya mencium aroma parfum yang tak lazim.

"Seperti aroma cokelat yang manis," gumamnya pelan.

Ia tidak menghiraukan aroma itu karena masih asik memilih-milih makanan instan yang akan ia beli. Tapi aroma itu semakin lama semakin mendekat ke arahnya.

TAP!

Di saat bersamaan baik Naruto dan pemilik parfum yang beraroma cokelat manis itu mengambil kaleng sarden yang sama.

"Kau ..."

"Kau,"

Keduanya sama-sama terkejut saat mendapati jika...

"Ar-arthuria,-kah?"

"Teman, Shikamaru?"

"Ehhh?"

Naruto seketika lupa dengan apa yang sedang dicarinya kala tangannya bersentuhan dengan tangan sang pemilik perfum beraroma cokelat manis, yang tak lain memang benar Arthuria.

"Ma-af." Arthuria segera melepaskan tangannya dari kaleng sarden yang sama-sama Naruto pegang.

"Um, eh, iya, ma-af." Naruto tampak kikuk saat menyadari jika tangannya menyentuh tangan Arthuria.

'Inikah yang dinamakan di balik sebuah musibah mempunyai suatu hikmah,' batin Naruto berbisik.

"Hm, silakan kau saja yang ambil sardennya," ucap Arthuria kemudian sambil membalikkan badan.

"Eh, tunggu!" Naruto berusaha menahan kepergian sang gadis dari hadapannya.

Arthuria pun memberhentikan langkah kakinya saat sang pemuda bergurat tiga ini memanggil.

"Bolehkah, aku mengetahui secara langsung siapa namamu?" tanya Naruto kepada Arthuria.

Dinginnya udara di dalam mini market itu hampir tidak dapat mengikis rasa hangat yang tengah melanda Naruto. Naruto merasa bahwa mungkin tiket yang ia dapat itu sebagai jalan bagi dirinya untuk lebih mendekat kepada Arthuria.

Arthuria kemudian membalikkan badannya ke arah Naruto, ia pun tersenyum manis semanis buah peach seperti warna bibir kecilnya yang membuat degup jantung Naruto berdetak tidak karuan.

.

.

.

TBC