Ane lupa disclaimer kemaren.
Me not own InReality. Sonico is mah waifu, so she is MINE! :hammer:
'Hanya bersih-bersih, nyapu, ngepel, masak, mudah kan?'
Sonico hanya bisa menghela nafas melihat kapal pecah yang disulap menjadi sebuah rumah yang ditinggali oleh tuannya.
Randi Kitsu atau Randz KitsuneKyuu yang menjadi handle namenya di internet. Seorang laki-laki keturunan Indonesia-Jepang dari ayahnya yang bernama Randy dan ibunya yang bernama Kyuubi Kitsu. Jangan tanya mengapa, ini hak author.
Dengan kegantengan turunan bapaknya dan juga ibunya yang tidak kalah cantik, Randi tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Tampan, banyak duit dan pintar. Kriteria yang banyak diburu oleh para wanita, tetapi, anime telah mengajarkannya untuk tidak menjadi playboy dan anti NTR.
Ya… Sifat mesum dan malasnya sepertinya memang turunan dari bapaknya, dan terkadang sifat sombongnya muncul karena pada masa SMA dia bergabung dengan sebuah grup yang mewajibkan para anggotanya untuk sombong.
Hei, ini fic saya, saya bisa membuat chara saya se OOC mungkin dan nyerempet gary stu.
"Mumumumu, untuk seminggu awal, Sonico akan berusaha sekeras mungkin!"
Sonico sedikit demi sedikit mulai merapihkan ruang tamu yang lantainya penuh dengan barang berserakan. Piring, gelas, sendok, garpu, dan bahkan ada pisau daging disitu. Kalau mengenai kaki seseorang bagaimana?!
"MASTER!" Sonico berteriak.
"Apa?" terdengar suara dari atas, dari kamar di lantai atas tepat diatas ruang tamu lebih tepatnya.
"Kenapa di ruang tamu ada PISAU DAGING?! Dan apaan pula ini baunya!" Sonico mulai mengamuk.
"Kau tidak suka dengan suasana seperti itu kan?" terdengar suara Randi bertanya.
"Tentu saja." Balas Sonico.
"Jadi bereskan." Timpal Randi.
"Baik!" Sonico mulai mengambil pisau daging tersebut dan naik ke lantai atas menuju gua tempat bersarangnya Randi.
"Randz-sama!" Sonico menggedor pintu kamar pribadi Randi.
"Ap—HOLYSHIT!" didepan pintu, terlihatlah sosok Sonico dengan muka polos dan moe dengan mata tertutup dan senyum mengembang menodongkan pisau daging kearah pintu yang sekarang terbuka dan tertuju ke arah Randi yang terkejut.
BLAM! CKREK.
"SONICO JADI YANDERE! TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAK~" suara keras nan lebay Randi terdengar keras dari dalam kamar tersebut, Sonico yang terdiam di depan kamar mulai menggedor pintu kamar tersebut dengan menggunakan pisau daging yang dibawanya.
"Saya cuma mau nanya dimana tempat menyimpan ini pisau!" teriak Sonico.
"BOHONG! Pasti saat aku buka pintu kamar ini, kau akan menerkamku, memperkosaku sambil menodongkan pisau itu padaku!" tiba-tiba pikiran Randi teringat pada sesuatu.
Pintu kamar terbuka.
"PERKOSA AKU WAHAI SONICO YANG MOE~" dengan terkejut, Sonico menikamkan pisau dapur itu kearah Randi yang meluncur dari arah kamar tersebut.
JLEB.
"ARRRRRGGGGGHHHH!"
"MASTER!"
Randi berhasil menyetop pisau dapur laknat itu, dengan tangannya yang kini berlubang. Tidak tunggu, pisau daging tidak bisa digunakan untuk menusuk, karena bentuknya persegi panjang bukan lancip.
"Bahaya oi! Untung pisau daging, coba kalau pisau biasa, ketusuk beneran! Dasar yandere!" Randi memegangi perutnya yang nyaris saja menjadi korban tikaman pisau daging laknat itu.
"Mou! Sonico bukan yandere! Hmph!" Sonico membuang muka.
"Yandere dan Tsundere gak bisa menyatu oi!"
"Hmph." Sonico turun kembali kebawah, belum juga lima menit, sudah kembali lagi naik ke atas. Dengan menodongkan pisau dapur laknat itu kembali.
"Tempat nyimpan ini dimana master?" tanya Sonico dengan muka innocent.
"Di hatiku Sonico sayang~" Sonico mulai melangkah sambil terus menodongkan pisau.
"DAPUR! HENTIKAN! JANGAN DITERUSKAN! MAMAH! PAPAH! HELP!" sebuah sabetan dengan menggunakan bagian yang tumpul membuat Randi diam untuk beberapa jam kedepan.
"Mou, master no baka." Sonico menggelembungkan pipinya sebelum turun kebawah.
"Ngghh…"
Randi terbangun dari pingsannya, melihat keselilingnya yang masih didalam kamar pribadinya yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun.
2 etalase besar penuh dengan berhala-berhala orisinil keluaran baru atau lama baik yang biasa maupun yang limited edition berjejer dengan rapih. Nendoroid buatan Goodsmile Company juga tampak berjejer rapih di etalase yang satunya lagi. 2 bantal dakimakura dengan gambar Lightning Farron dan Hakurei Reimu terlihat berdampingan diatas kasur queen size dengan sprei bergambar Black Rock Shooter.
"Jam berapa ini?" guman Randi. Dirinya mengambil handphone Nokia N8 yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun dan mengecek waktu sekarang.
"Jam 5 sore… Apa Sonico sudah membuatkan makan siang?" Randi bertanya-tanya, dirinya langsung keluar kamar dan menuju kearah dapur untuk melihat jika sesuatu sudah dimasak atau belum.
Didapur Randi mendapati Sonico tengah tidur terduduk dilantai, lelah setelah membereskan rumah berantakan ini seharian. Pakaian yang digunakannya tidak berubah sama sekali dari hari kemarin saat dipakai untuk melamar kerja.
"Sonico." Randi menggoyang-goyangkan tubuh Sonico, dada Sonico pun ikut bergoyang.
"Nggghh?" Sonico membuka matanya dengan perlahan, mendapati mata coklat tuannya dan wajah tampannya sedang memandang kearahnya.
"Apa kau sudah masak?" pertannyaan itu membuat Sonico bangun seketika, dirinya terkejut bahwa sudah ketiduran dan meninggalkan tugasnnya yang lain.
"B-B-Belum Randz-sama. Maafkan saya, saya ketiduran dan belum memasak."
Sonico menunduk malu, hari pertamanya disini dan dia sudah gagal untuk melaksanakan tugasnya. Apakah akan dipecat langsung sekarang?
"Sepertinya kamu minta dihukum." Mata Sonico mulai berair.
Apapun hukumannya akan Sonico terima, asalakan jangan dipecat dulu dari pekerjaan yang mulai Sonico nikmati sekarang ini.
"Apapun hukumannya… Randz-sama." Randi hanya menyeringai.
"Hmhmhm… Bagaimana kalau aku makan sushi diatas tubuh telanjangmu?" Sonico langsung memutih. Si kampret ini, ternyata sama dengan yang lain. Sama dengan babi-babi yang lain.
"Bwahahahaha, hanya bercanda Sonico-chan. Untuk kali ini aku maafkan karena melihat pekerjaanmu yang baik dalam membereskan rumah ini. Sebagai hukumannya, Kamu beli bahan makanan sana, aku yang masak." Randi hanya tersenyum, Sonico menghela nafas lega. Mempunyai pikiran kotor tidak berarti akan melakukannya.
"Baik, master." Sonico dengan riang berjalan keluar rumah untuk membeli bahan makanan untuk makan kali ini.
'5… 4… 3… 2… 1…'
"Master, uangnya mana!?"
Sonico membuka pintu rumah tuannya tersebut dan mendapati tuannya sudah berada didepan pintu sambil menyeringai. Ditangannya terdapat uang sepuluh ribu yen dan memberikannya kepada Sonico.
"Ini, beli apapun bahan makanan yang kamu mau, jangan lupa kasih saya struk dan kembaliannya."
"Roger!"
Sonicopun akhirnya pergi untuk membeli bahan makanan mereka berdua.
"Mwehehehe, apapun yang dibeli Sonico, hasilnya tetap akan jadi… Mwehehehehe."
Sonico hanya bisa merinding saat memilih disupermarket terdekat.
"Tadaima!"
"Okaeri, Sonico."
Sonico bergegas melepaskan sendalnya dan masuk kedalam ruang makan. Dan menemukan Randi sudah menyiapkan 2 mangkuk besar ramen yang baunya menusuk perut mensalivakan lidah. (blame orang intelek)
"Ano… Ini bahan makanannya master…" Randi yang sedang duduk mendongakan kepalanya dan menemukan dada Sonico, lebih keatas menemukan wajah Sonico yang terheran-heran.
"Simpan saja di kulkas. Sekalian ambil air putih dan jus jeruk dari situ."
"Baik."
Sonico pergi kedapur dan meletakan bahan makanan tersebut kedalam kulkas, yang ternyata isinya penuh dengan bahan makanan. Semakin bingung, Sonico lalu mengambil jus jeruk dan air putih yang dingin dari dalam kulkas lalu bergegas kembali ke ruang makan.
"Ayo makan." Sahut Randi yang melihat Sonico masuk dengan membawa minuman untuk makan siang yang terlanjur sore hari tersebut.
"Lalu tadi nyuruh-nyuruh beli bahan makanan buat apa?" tanya Sonico.
"Hi-mi-tsu~" Randi hanya menyeringai sebelum menyeruput mie ramen yang sudah tersaji didepannya.
"Inmiw rwamwen dawimwanwa, mwastwer?" tanya Sonico dengan mulut penuh mie.
"Telan dulu baru ngomong."
Glek.
"Fuhaa~, Ini ramen darimana master? Enak banget~" Sonico yang memang penggemar ramen mulai memuji ramen misterius yang tiba-tibat ada di ruang makan saat dirinya pergi.
"Beli di restaurant bintang lima. Tadi di anterinnya pake limosin." Randi menjawab datar sambil menyeruput nikmat ramen bintang lima tersebut.
"EEHH?" mendengar informasi tersebut, Sonico sekarang makan ramennya dengan pelan-pelan, menikmati setiap helai mie dan tetesan kuah ramen tersebut. Randi hanya tersenyum.
"Hahaha, Cuma ramen kok, gak usah segitunya juga kali makannya. Seperti tadi saja." Randi kembali menyeruput ramennya dengan tenang.
Selesai makan, Sonico membereskan mangkuk dan gelas bekas lalu membawanya ke dapur. Saat sampai di tempat cucian piring, Sonico menemukan panci kotor, beberapa kulit telur dan 4 bungkus sesuatu yang bertuliskan 'Mie Sedap Rasa Soto Koya'.
"Puh, ramen bintang lima dianter pake limosin apanya, ramen kaki lima sih iya." Sonico mencuci mangkuk dengan sangat hati-hati karena sadar dirinya adalah dojikko yang salah sedikit bisa-bisa pecah semuanya.
Sonico mulai memikirkan master barunya, orang kaya yang tidak mau hidup dirumah mewah dengan fasilitas segudang dan maid-maid moe yang siap melayaninya. Malah hidup dirumah normal tanpa maid—sekarang ada Sonico—yang membuat rumahnya menjadi kapal pecah.
Otaku hardcore yang tak tahu malu, mesum tiada duanya tetapi mempunyai tablemanner yang baik dan respek kepada perempuan yang tinggi. Seorang NEET yang mengklaim dirinya bukan pengangguran karena membuat orang lain tidak menganggur.
Tetapi tetap. Daripada kembali kedunia gravure dan terus dipaksa untuk turun ke JAV, lebih baik jadi maid dirumah normal ini. Walaupun yang punya agak-agak aneh.
Setelah selesai mencuci piring, Sonico kembali keruang makan yang sekaligus ruang rekreasi tersebut dan menemukan Randi sedang tertidur pulas disofa. Posisi tidurnya terlihat kurang nyaman dan terus menggigau mengucapkan nama seseorang.
"Erina… Erina…"
Kini Sonico bingung, apa yang harus dilakukan, sebelum akhirnya sebuah ide muncul dikepalanya.
"Se-no!"
Dengan sekuat tenaga yang dimilikinya, Sonico menggendong Randi dari sofa untuk dibawa kedalam kamarnya agar tidurnya lebih enak. Tetapi karena berat, saat ditangga Sonico oleng dan alhasil terjatuhlah mereka berdua dengan posisi Randi dibawah dan Sonico diatas.
"Erina…?"
Randi terbangun dengan mata memerah dan seketika berdiri sambil melihat kesana kemari.
"Ah…"
"Ittatatai…" Sonico mengaduh kesakitan sebelum sadar bahwa dirinya sudah menjatuhkan master dari tangga.
"Uwah! Maafkan aku master!" Sonico langsung duduk seiza dengan kepala menunduk. Randi yang menatapnya tajam dengan mata merahnya berjalan menaiki tangga sedikit demi sedikit.
"Tugasmu hari ini sudah selesai Sonico, pulanglah." Perintah Randi yang menaiki tangga dengan perasaan kepala berputar dan pusing.
"Master!" Sonico memegangi Randi yang hampir terjatuh karena keseimbangannya tidak terjaga.
"Pulanglah!, pekerjaanmu sudah cukup untuk hari ini. Kau tidak perlu melakukan ini." Randi kembali menaiki tangga dengan pelan.
"Tidak!" seru Sonico, menolak untuk pulang dan menolak untuk meninggalkan masternya kesulitan.
"Aku tidak akan pulang dulu! Setidaknya sebelum master sampai ketempat tidur." Dengan begitu, Sonico memegangi Randi dan menuntunnya menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, Randi berbaring dikasurnya, tubuhnya entah kenapa lemah dan kepalanya sangat pusing.
"Apakah perlu aku ambilkan parasetamol?" tanya Sonico.
"Haha, tidak perlu, nanti yang kau ambil malah antibiotik. Pulanglah, nanti terlalu malam sedangkan aku tidak bisa mengantarmu pulang karena kondisiku ini."
"T-tapi, bagaimana denganmu master?" tanya Sonico khawatir.
"Haha, aku sudah biasa sendiri. Dari SMP aku sudah apa-apa sendiri, jadi bukan hal sulit jika aku sakit. Tapi sekarang kan ada Sonico yang besok bisa menemaniku dari pagi." Tersenyum lemah yang membuat Sonico sedikit memerah.
"Ehehe, baiklah kalau itu yang master inginkan, aku pulang dulu. Jaa ne, master." Dengan begitu Sonico menutup pintu kamar Randi dan pulang kerumahnya, menyisakan Randi yang sendirian dikamar gelapnya. Pikirannya kini mulai melayang jauh ke awang-awang.
"Erina…"
Done.
Masalah dengan gloating saya? Well, fuck you.
My fic, my rule. Gak suka, berhenti baca.
Ada istilah wibu yang gak ngerti? Google, jangan manja.
Randz out.
P.S: Gak terlalu butuh review. This shit is for my fun only. Tapi kalau ada yang pengen sih gapapa. :v
P.P.S: Jangan menyuruh saya membuat lemon untuk fic ini, walaupun saya mau dan bisa, tetapi tidak. Kalau plot baru yang gak ada sangkut pautnya dengan fic ini sih MUNGKIN.
