Disclaimer: Kazuki Takahashi

Pairing: Seto Kaiba X Yami Yuugi (as Atem), Katsuya Jounouchi X Yuugi Moutou, Ryuuji Otogi X Anzu Mazaki.

Rate: Teens? Yeay, Teens! (Akankah rate ini berpindah? Huooooo stay tune, dude :P)

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst, Family. Bloody Paraoh, Its my first Hurt/Comfort and Angst's fic! Wish me luck to make you feel the sense!

Warnings: Boys Love, OOC, typo(s)— Fantasi dan imajinasi author mengambil posisi dominan dalam fic ini. CMIIW (Correct Me If I'm Wrong), guys!

A/N: Disini aku buat pake setting kota Jepang asli— bukan seperti di Yu-Gi-Oh tapi yang bener-bener Jepang. (ya meskipun ga pure Jepang banget sih hehe—tapi intinya settingnya Jepang dan isinya(:?) )

.

DUN LIKE DUN READ! GET IT, RITE?

YOU CAN CLICK 'BACK' BUTTON IF YOU UNDERSTANDITS MEAN YOU DUN LIKE TO READ

,

,

,

The Violet Sunshine

Chapter 2:

The Truth. He's Gone.

.

Yuugi adalah orang yang sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia seringkali memperhatikan sekelilingnya bahkan tentang hal sekecil apapun agar ia bisa tahu jika mungkin saja akan ada hal yang berubah. Ia juga orang yang ramah dan suka menolong. Terlebih lagi jika hal itu menyangkut orang yang penting dalam hidupnya.

Tapi apa yang bisa ia lakukan ketika ia akan menolong seseorang yang bahkan ia tak tahu masalahnya?

Apalagi masalah ini menyangkut kakak kembar kesayangannya, Atem Motou.

Kemarin, ia merasa Atem masih baik-baik saja. Malah kakaknya itu terlihat sangat ceria dan bersemangat. Mulanya ia tak tahu kenapa Atem bisa seperti itu tapi akhirnya ia tahu apa yang terjadi. Hari jadi Seto dan Atem yang keempat. Ah, pantas saja kakaknya itu kelihatan bahagia!

Sebenarnya Yuugi tak menyangka jika hubungan mantan kedua rival itu akan berjalan hingga 4 tahun lamanya. Eh, bukannya ia tak ikut senang dengan hal itu, hanya saja ia merasa sedikit aneh dengan Seto. Bukannya apa-apa, tapi ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Kaiba sulung itu dari Atem. Entah apa, ia juga tak tahu.

Namun, ia mencoba bersikap biasa saja dengan itu semua. Lain halnya dengan sang kekasih, Katsuya Jounouchi yang memang sejak awal tidak suka dengan CEO Kaiba Corp. itu. Pemuda berambut pirang tersebut memang merupakan rival bagi Seto selain Atem— dulu, tentunya.

Bahkan saking bermusuhannya, kedua pemuda itu punya julukan masing-masing. 'Jamur Coklat' untuk Seto karena rambutnya mirip dengan bentuk jamur dan warnanya cokelat serta 'Puppy' karena kata Seto, muka Katsuya mirip sekali dengan anjing yang sedang merengek dan juga saat pemuda pirang itu disuruh memakai kostum anjing (Yuugi— yang kekasihnya sekalipun berusaha keras menahan tawanya).

Oke kembali ke cerita. Intinya sepasang kekasih itu sebenarnya tak setuju dengan hubungan Seto dan Atem. Tapi saat melihat hubungan mereka yang adem ayem saja dan jarang terkena masalah, juga Atem yang merasa bahagia, Yuugi dan Katsuya pun mencoba menghilangkan rasa curiga mereka.

Dan permasalahan yang sekarang adalah...Atem menjadi super pendiam.

Yuugi tahu jika Atem memang pada dasarnya adalah seorang pendiam, tapi ia juga tahu, sependiam-diamnya sang kakak, pasti ada batasannya juga. Bukannya malah diam saja dan tak mengatakan apapun sejak semalam kan?

Ia ingat sekali saat kemarin sore, ia sempat menitipkan bekal pada Atem agar diberikan pada Seto yang kemungkinan besar masih berada di kantornya. Dan saat berangkat pun Atem masih tersenyum ceria, sedang saat pulang kakak kembarnya itu hanya diam dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir. Bahkan ia dan Katsuya benar-benar diacuhkan saat bertanya oleh sang kakak. Hanya terkadang dijawab oleh Atem dengan gerak tubuh maupun anggukan atau gelengan.

Meskipun tidak tahu apa yang telah terjadi pada Atem, namun Yuugi bisa menduga hal ini disebabkan oleh Seto sendiri mengingat seharian ini sang kakak hanya sibuk mengurusi hari jadi mereka yang sialnya juga tak dirayakan— yang mungkin juga tak diingat oleh pemuda beriris biru azure itu.

Untung saja Yuugi bisa menahan Katsuya yang setelah mendengar dugaan adik kembar Atem— ngotot ingin pergi ke Kaiba Corp. hanya untuk menghajar Seto yang bahkan belum jelas apa pemuda adonis itu bersalah atau tidak. Emm, apa itu pantas disebut Brother Complex? Ya semacam itulah, intinya.

Dan sejak kemarin pula mereka berada dalam suasana yang tenang. Katsuya dan Yuugi memang masih mengobrol panjang, bercanda, bertengkar dan— bermesraan tentunya, namun tanpa Atem di dalamnya. Pemuda itu hanya diam dan memandang bumi dengan kosong. Ia hanya melakukan gestur-gestur kecil untuk menjawab.

Katsuya dan Yuugi yang kedua-duanya adalah tipe orang yang pantang menyerah— tak pernah berhenti dan lelah untuk terus menerus bertanya pada Atem tentang masalahnya. Hingga akhirnya mereka bungkam.

"Ku mohon, berikan aku waktu sendiri."

Aksi mogok 'ngomong' Atem terus berlanjut hingga jam 8 malam saat keberangkatan mereka. Pemuda itu hanya menampakkan wajah datar walau terkadang tersenyum kecil— yang terlihat sangat dipaksakan— saat mendengar gurauan yang dilontarkan Katsuya. Meskipun tetap saja hal itu tak bisa menutupi ekspresi kosongnya yang entah mengapa terlihat begitu memilukan.

Yuugi melirik jam hitam mungil yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Sekarang sudah jam 11 malam, berarti sekitar 3 jam dari keberangkatan mereka. Memang Desa Koyota yang jauh dari gemerlap kota besar— adalah desa yang alamnya masih hijau dan polos yang jarang sekali tersentuh polusi seperti di kota. Desa itu juga sejuk dan tenang— khas desa 'polos' pada umumnya.

Serta medan yang ditempuh memang cukup rumit tapi hanya memungkinkan untuk dilewati oleh mobil 'porsi' keluarga. Dan untung saja, Katsuya menitipkan Ferarri-nya di rumah Ryuuji atau ia akan melihat mobil kesayangannya itu sudah lecet sana sini saat sampai di desa nantinya.

Kala itu langit sudah berwarna pekat kebiruan dengan bintang-bintang yang bertebaran dengan dinamis. Bulan sabit terlihat indah dengan cahaya kuning kepucatannya membias cantik di tengah danau kecil yang baru saja dilalui oleh mobil mereka. Begitu juga dengan sekumpulan kunang-kunang yang berterbangan dengan cahaya kerlap-kerlipnya yang memukau, semakin menambah indahnya suasana.

Sayang, hal itu bahkan tidak bisa mempengaruhi kegalauan hati seorang Atem Motou.

Dari kaca depan mobil, Yuugi bisa melihat ekspresi sang kakak yang masih tetap saja datar. Ia duduk di sebelah Katsuya yang mengemudi dengan Atem di kursi penumpang. Pandangan mata kakaknya menerawang ke arah jendela mobil seolah ia sedang memikirkan tentang kejadian yang dialaminya hari ini. Ekspresi wajah Atem yang seperti itu terlihat begitu kontras dengan keadaan yang ada. Sebagai adik, Yuugi sendiri pun bingung harus melakukan apa.

Melihat keadaan Atem yang seperti itu juga membuatnya bahkan Katsuya merasa sedih dan miris. Apa yang sebaiknya kami lakukan?

Tiba-tiba merasa tangan mungilnya dilingkupi sebuah rasa hangat yang menenangkan. Ia melihat tangan kiri(*) Katsuya yang tidak digunakan menyentir, menggenggam erat tangannya seolah hendak menyalurkan kekuatan. Yuugi menatap bingung sebelum dibalas senyum simpul oleh Katsuya meski pemuda pirang itu tetap fokus pada jalanannya.

Mengetahui maksud dari genggaman Katsuya, Yuugi balas tersenyum dan menggenggam balik tangan kekasihnya erat serta menautkan jemari keduanya, lalu ia kembali menatap lurus jalanan di depannya.

'Percayalah, semua akan baik-baik saja.'

.

The Truth. He's Gone.

.

Sejak kecil, Seto dan Mokuba yang ditinggal mati kedua orang tuanya— Seto 10 tahun dan Mokuba 5 tahun(*)— terpaksa harus hidup di panti asuhan karena tak punya sanak saudara yang dikenal. Sang ibu meninggal saat melahirkan Mokuba dan ayah mereka meninggal saat Seto berumur 8 tahun.

Mereka memang hidup berkecukupan karena ada sokongan dana warisan hingga suatu saat mereka memutuskan untuk tinggal di panti setelah uang mereka habis. Meskipun hidup berkecukupan saat di panti asuhan, tapi tetap saja mereka kekurangan kasih sayang dari orang tua.

Hingga suatu saat datanglah Gozaburo Kaiba, seorang pengusaha terkenal yang kekayaannya melimpah ruah lewat sebuah perusahaan teknologi di Jepang. Pria paruh baya itu bermaksud hanya untuk melakukan aksi publisitas dengan menyumbangkan sedikit kekayaannya, bukannya mengambil seorang anak asuh— mengingat ia sendiri tidak menikah— yang bisa meneruskan perusahaannya kala ia meninggal kelak. Namun, ternyata beberapa anak disana berpikiran seperti itu.

Termasuk Seto, hanya saja ia tak terlalu peduli. Baginya, yang penting ia masih bisa bertahan hidup dan makan bersama sang adik. Sayangnya, Mokuba tak berpendapat demikian. Bagi anak kecil itu, ia masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya yang sangat dirindukannya.

Mokuba kecil memang tidak merengek seperti anak kecil lainnya— yang terkadang tidak tahan berada di panti asuhan dan bersaing untuk menjadi anak adopsi. Tapi Seto dapat mengetahui hal itu dengan jelas— dan sebagai kakak yang baik, ia akan melakukan apapun agar Mokuba merasa bahagia.

Dengan berani, ia menantang Gozaburo bermain catur dengan syarat; jika dia yang menang maka Gozaburo harus mengadopsi Seto dan adiknya, sementara jika Seto kalah, pemilik Kaiba Corp. itu justru tak meminta apapun mengingat Seto dan Mokuba hanyalah anak yatim piatu biasa. Sayangnya, pria paruh baya itu terlalu meremehkan Seto yang ternyata bisa memenangkan pertandingan catur tersebut.

Lalu Gozaburo pun menepati janjinya dengan mengadopsi Seto beserta Mokuba. Dan bergantilah nama kedua bocah itu menjadi Seto Kaiba dan Mokuba Kaiba. Ia pun mendidik dan menganggap kedua anak itu sebagai anaknya sendiri. Hingga akhirnya, entah karena masalah apa— Gozaburo bunuh diri dengan terjun dari atap gedung Kaiba Corp. Meski Seto dan Mokuba tidak terlalu dekat dengan figur ayah angkat mereka yang workaholic, namun tetap saja mereka merasa kehilangan. Bahkan Mokuba sempat menangis semalaman dan mogok makan selama beberapa hari.

Dan saat itulah, Seto sebagai anak sulung segera ditunjuk sebagai CEO Kaiba Corp. yang baru menggantikan sang ayah. Mulanya semua terasa sangat berat. Memang apa yang diharapkan orang-orang dari seorang anak lelaki berumur tak kurang dari 12 tahun(*) untuk memimpin perusahaan? Tentu saja, banyak yang meragukan kemampuannya. Namun, Mokuba selalu memberikan dorongan semangat untuk sang kakak.

Selama itu pula, ia mulai terbiasa dengan cacian, makian bahkan keraguan dari orang lain saat mereka tahu jika ia adalah CEO yang baru. Saat itu juga, ia menguatkan dirinya sendiri agar terus melangkah ke depan tanpa memperhatikan perkataan orang lain— kecuali saran dan kritik yang membangun— terutama cemooh dan omong kosong.

Hasilnya? Bisa orang lain lihat sendiri sekarang. CEO perusahaan game virtual dan teknologi terbesar se-Jepang dan kini mulai melebarkan sayapnya di seluruh dunia, cabang perusahaan dimana-mana, tampan, kekayaaan melimpah ruah, dan banyak lagi yang lainnya. Bagi banyak wanita dan pria (dengan kata lain gay dalam konteks ini) tergila-gila akan semua yang melekat padanya.

Hal itulah yang membuat pribadinya angkuh dan acuh dengan sekitar kecuali sang adik— yang meskipun ia kadang bersikap dingin pada Mokuba. Ia terbiasa dengan orang-orang yang memuja dan mengaguminya. Sempurnakah ia? Ya, mendekati, lebih tepatnya.

Hingga suatu saat ia bertemu Atem dan Yuugi, sepasang saudara kembar dengan kemampuan duel card (permainan kartu berbasis visual yang saat itu baru saja perusahaannya keluarkan) yang luar biasa. Kedua pemuda mungil itu mempunyai berbagai strategi dan pemikiran yang tangguh dalam bertarung. Dan Seto merasa tertantang dengan itu.

Namun sosoknya lebih 'bermusuhan' dengan Atem, sang kakak kembar yang bersikap acuh dan cuek yang sangat berbeda ketimbang pribadi adiknya, Yuugi yang ceria dan peduli. Dan akhirnya (entah karma atau apa) ia malah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Atem, pada akhirnya. Hingga saat ini.

Anehnya, sejak kemarin malam ia menghubungi Atem, pemuda itu sama sekali tak menjawab panggilannya juga tidak mengirim sms ataupun e-mail sama sekali. Oke, Atem memang sempat mengiriminya sms tadi pagi, dan saat itu ia sedang menjalani rapat bulanan, lagipula isi sms itu hanya berbasa-basi saja. Walaupun tadi sore ia juga diberitahu oleh security jika Atem sempat datang ke kantornya, tapi security itu lupa jam berapa kekasihnya itu datang. Ia bisa saja menanyai Milka, sekertarisnya, hanya saja saat itu sudah larut malam dan ia tahu jelas bagaimana norma kesopanan.

Dan juga, kalau saja waktu tidak menunjukkan pukul 11.30 pm., bisa dipastikan Seto akan segera melesat ke rumah Atem dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ia tahu Atem bukan tipe mudah ngambek seperti seorang gadis remaja labil, hanya saja bukan tidak mungkin kan hal itu akan terjadi? Lagipula, ia tak tahu apa yang mungkin menjadi alasan Atem untuk ngambek padanya.

Drrrt...Drrt(*)

Getaran kecil dari smartphone berwarna hitam dengan aksen biru dongker yang tergeletak id atas meja kerjanya membuyarkan lamunan Seto. Saat itu ia tengah bersantai karena pekerjaan dan berkas-berkas sudah ia selesaikan. Di layar LCD yang tengah berkedip itu terlihat nama 'Mokuba' calling. Tanpa basa-basi segera diangkatnya panggilan itu.

"Ya, Mokuba?"

"Nii-san? Apa Nii-san masih ada di kantor?"

Memang biasanya, Mokuba lumayan sering menelfonnya saat anak lelaki itu tak ada kerjaan. Tapi entah kenapa, Seto merasa nada suara sang adik terdengar berbeda dari biasanya— em, ceria mungkin? "Ya, tentu. Memangnya kau tak kemari?"

"Tidak, aku malas." Terdengar suara tembakan— yang jelas sekali berasal dari game. "Aku sedang main game, kok."

Seto mendengus kecil. "Terdengar jelas, Mokuba."

Kali ini suara tawa yang berdengung cukup keras dari speaker ponsel Seto. "Kakak selalu tahu segala sesuatu ya? Aku jadi iri." Saat mengucapkan kalimat terakhir, suara Mokuba makin melirih. Seto tahu, terkadang banyak orang yang membandingkan kedua kakak beradik itu. Seto dengan segala kesempurnaannya dibanding Mokuba, si anak kecil yang tak bisa apa-apa.

Namun, justru Mokuba lah yang sebenarnya memegang peran penting dalam perkembangan Kaiba Corp. karena dia lah yang selama ini menyumbangkan ide pada Seto baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.

Misalnya, Mokuba sering mengeluh karena game simulasi perang yang ia mainkan tidak memberikan keasyikan tersendiri karena gambar yang dihasilkan tidak bisa membuatnya berimajinasi dengan baik. Setelah itu, Seto berinisiatif membuat kacamata 3D khusus game(*) sehingga permainan akan terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Bukan hanya itu, Mokuba juga sangat pandai memasak dan mengolah bahan makanan apapun, sama seperti mendiang ibu mereka (Seto ingat dulu ia sering berada di dapur menemani ibunya memasak). Dan hal itu adalah satu-satunya hal yang menjadi kelemahan seorang Seto Kaiba.

"Kau kan pandai memasak, adik kecil. Tidak sepertiku." ucap Seto mencoba menghilangkan keheningan yang sempat terjadi dengan mencoba melucu walau— yah, nadanya benar-benar terdengar sangat memaksakan.

"Haha, ya!" Diseberang sana, Mokuba menangis tanpa suara. Bukan tangisan pilu melainkan tangisan bahagia. Dari luar, kakaknya itu memang orang yang dingin, namun sebenarnya pribadi pemuda itu sangatlah hangat. Dan yang mendapat sisi hangat itu hanya segelintir orang yang sangat Seto sayangi saja, yaitu adiknya dan Atem, sang kekasih.

Mengingat nama Atem, Mokuba baru ingat apa alasannya menelpon sang kakak. "Oh ya, bagaimana kemarin kak? Apa kakak sudah melamar Atem?"

"Apa?" tanya Seto bingung. Ia dan Atem memang sudah menjalin hubungan sejak beberapa tahun yang lalu, tapi masih belum pernah terpikirkan sama sekali di kepalanya agar secepatnya melamar sang kekasih. "Kenapa aku harus melamarnya?"

"Kan kemarin itu hari jadi kalian yang keempat tahun, jadi kukira moment-nya pas!"

Seto serasa membeku. Astaga! Ia bahkan baru ingat jika kemarin adalah hari jadi mereka yang keempat! Pantas entah kenapa kemarin ia sempat merasa ada yang kurang dan— Crap, ia lupa soal janjinya pada Atem kemarin!

"Nii-san? Apa kau masih disana? Halo?" suara Mokuba terdengar sedikit cemas. Ia heran mengapa sang kakak tiba-tiba tak menjawab perkataanya. Namun, seakan mengetahui sesuatu yang tidak berjalan dengan tidak baik, Mokuba melanjutkan, "Apa...kau lupa tentang hari jadi kalian sendiri?"

Seto terdiam kembali. Apa karena itu Atem mendiamkannya lagi hari ini? Semenjak pagi, ia sudah harus mengerjakan bertumpuk-tumpuk dokumen jadi ia belum sempat pergi ke rumah Atem. Ia memang punya banyak bawahan, tapi ia tak terbiasa meluruskan sebuah masalah dengan campur tangan orang lain, terlebih ini masalah pribadi.

—Tunggu, bukankah kemarin kata salah seorang security-nya Atem sempat mendatangi kantor? Tapi kapan? Damn! Apa jangan-jangan—!

"Mokuba, nanti kuhubungi lagi!"

Tanpa menunggu jawaban sang adik, Seto segera menutup panggilan dan bergegas mendatangi Milka. Ia yakin sekertarisnya tau pasti kapan Atem berkunjung. Jangan sampai apa yang kupikirkan adalah kenyataan, jika iya...

"Milka!"

Milka yang sedang mengecek jadwal harian Seto, hampir saja terlonjak ketika melihat bosnya itu berlari ke arahnya dengan raut wajah yang...pucat? "Ya, ada apa, Kaiba-sama?"

"Jam berapa Atem datang ke sini kemarin?"

"Sekitar jam 6.30, Atem-san sempat berbincang dengan saya lalu beliau segera pergi ke ruangan anda, tapi tak lama kemudian Atem-san berlari ke luar...dan sepertinya beliau menangis. Sungguh— Kaiba-sama!"

Seto berlari cepat menuju tempat parkir dan meninggalkan Milka yang berteriak memintanya kembali karena ia masih punya banyak jadwal hari ini. Tapi bukan itu yang dipedulikannya. Ia hanya ingin meluruskan semuanya. Karena jika benar Atem keluar sambil menangis, maka berarti ...pemuda itu telah melihat semuanya.

Tidak.

Seto tak pernah ingin kehilangan Atem.

.

The Truth. He's Gone.

.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Seto Kaiba benar-benar merasa depresi.

Baru saja satu jam yang lalu ia bergegas menuju rumah Atem. Setelah menemukan Range Rover Sport(*) kesayangannya di tempat parkir khusus, ia mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Tak dihiraukannya rambu-rambu lalu lintas atau juga kejaran dari polisi yang sedang berpatroli. Dan tentu saja kebut-kebutan seperti itu benar-benar memacu adrenalinnya. Nampaknya, Dewi Fortuna kali ini berpihak padanya karena ia bisa dengan mudah lolos dari kejaran polisi.

Begitu sampai di depan rumah Atem, ia segera memencet bel dengan tidak sabaran. Yang ada dipikarannya kali ini hanyalah; Atem mau mendengarkan penjelasan dan percaya padanya. Seto tahu jika dirinya sudah sangat keterlaluan dan mungkin saja putra sulung keluarga Moutou itu akan meminta untuk mengakhiri hubungan mereka dan membencinya seumur hidup.

Tuhan, hanya dengan membayangkan saja, Seto sudah merasa kembali kosong seperti dulu saat ia belum mengenal arti 'cinta'. Dan ia tak mau hal itu terulang lagi.

Sayangnya, sudah sekitar lima belas menit lebih ia memencet bel namun tak ada satupun orang yang keluar untuk membukakan pagar. Alhasil Seto (mengorbankan harga dirinya yang sangat tinggi— untuk) mengintip melalui celah lubang kecil pada pagar kayu yang ada.

Untungnya saat itu ia bertemu dengan salah satu tetangga yang kebetulan sedang ada di luar rumah. Betapa kagetnya ia ketika tahu Atem, Yuugi dan Jounouchi telah pindah dari rumah itu. Dan sialnya, wanita paruh baya yang menjadi tetangga kekasihnya pun tak tahu kemana tempat mereka pindah.

Seto mengacak rambutnya frustasi. Aneh memang, mengingat ia adalah orang yang tenang dalam menghadapi masalah apapun. Bukan masalah sembarangan kali ini— apalagi menyangkut seorang Atem Motou, pemuda yang telah menjadi separuh nyawa baginya. Pemuda itu kini menghilang entah kemana— tanpa jejak.

Baru saja Mokuba menelponnya dan segera membombadirnya dengan banyak pertanyaan menyangkut hubungannya dengan Atem kemarin. Yah, dan akhirnya ia terpaksa menceritakan kejadian sebenarnya pada adik semata wayangnya— kecuali bagian dimana Atem mendatanginya ketika sore dan menemukannya...'membelot'.

Selebihnya, sang adik menasehatinya panjang lebar agar segera mencari Atem, bahkan anak itu sudah mengerahkan beberapa detektif ternama untuk mencari keberadaan Atem dan keluarganya.

Sebenarnya, Seto sudah mencoba menghubungi Atem kembali. Bodohnya ia lupa tak meminta nomor telepon Yuugi maupun Jounouchi karena ia berpikiran bahwa hal itu tidak terlalu penting. Ia juga sempat mendatangi tempat kerja Puppy tapi pihak 'Duel Card Academy and Stadion' memilih untuk tetap mulut demi menjaga kerahasiaan informasi.

Yeah, sempurnalah sudah penderitaanya hari ini.

"Permisi?" sapa seseorang dari luar pintu diikuti bunyi ketukan pintu.

Merasa mengenali suara itu, Seto segera menjawab, "Masuk saja."

Pintu terbuka dan menampakkan diri beberapa orang pria berperawakan tegap dengan jas hitam rapi serta kacamata yang warnanya juga hitam— tanpa berbasa-basi segera memasuki ruangan dan berbaris rapi berbanjar tepat dihadapan Seto.

"Apa sudah ada petunjuk dimana keberadaan mereka?" kata Kaiba memulai pembicaraan. Pria-pria yang ada dihadapannya inilah para detektif ternama yang sudah disewa oleh Mokuba untuk mencari dimana keberadaan Atem.

"Belum, Tuan. Masih dalam pencarian." Pria yang tinggi tubuhnya paling pendek menjawab dengan tenang. Lanjutnya, "Kami mengusahakan untuk segera menemukan Atem-san secepatnya."

"Baiklah, jika kau sudah mengetahui sesuatu— sekecil apapun petunjuknya, segera hubungi aku."

"Ya, Kaiba-sama. Kami permisi." Para detektif itu pun beranjak meninggalkan ruangan, meninggalkan Seto seorang diri di sana.

Putra sulung Kaiba itu kini merasa begitu bodoh karena sempat melupakan janjinya pada Atem dan malah sibuk dengan pekerjaanya lalu berujung pada...shit, ia merasa begitu brengsek. Dan lihatlah sekarang, Atem pun menghilang juga karenanya.

Apa ini cara Tuhan untuk menghukumnya? Atau inikah yang namanya hukum karma?

Sebenarnya, bukan mau Seto untuk 'bermain' di belakang Atem, hanya saja, ia benar-benar tak bisa menolak pesona wanita pirang itu. Wanita itu mungkin sedikit angkuh dan dingin, sangat sama sepertinya— tapi sebenarnya wanita itu punya perangai dan hati yang baik, hanya saja, ia lebih senang menutup semua sifat aslinya dalam 'topeng' dan hanya akan membukanya dihadapan orang yang ia percaya dan sayangi.

Beruntungnya, tentu saja, Seto adalah satu-satunya orang yang mendapat kehormatan tersebut selain keluarga wanita itu sendiri.

Alasan lainnya, adalah Seto tak memungkiri jika ia tak sepenuhnya gay. Berbeda dengan Atem yang pure gay seperti Yuugi atau bahkan si Puppy, Seto bukan orang munafik yang mengatakan bahwa ia tak menyukai dada besar dan hal-hak tertentu yang hanya dimiliki wanita. Apalagi wanita yang menjadi pasangan 'main belakang'nya itu mempunyai paras yang cantik dan tubuh yang indah— dambaan setiap wanita.

Mulanya ia hanya bertemu sekilas dengan wanita itu di restoran mewah langganannya namun lama kelamaan mereka menjadi bertambah dekat saat wanita itu tak sengaja mengotori jas Seto dengan vodka yang dibawanya. Alhasil, wanita itu pun bersikeras untuk mengganti jas itu dan Seto— yang saat itu (selalu) dingin, hanya menyerahkan kartu namanya saja. Namun, nyatanya intensitas pertemuan mereka yang bertambah membuat keduanya makin lengket dan terlibat dalam jalinan asmara.

Jika Atem adalah sosok yang menenangkan bagai semilir angin yang sejuk, maka bagi Seto sosok wanita itu adalah mataharinya. Sosok yang ceria dan semangat itu selalu bisa menyemangati Seto setiap kali pria itu mendapatkan masalah. Atem mungkin bisa menenangkannya dan bisa membuat ia berpikir jernih, tapi hanya wanita itulah yang bisa membuat semangat Seto bangkit kembali setelah berulangkali hilang.

Ia sadar jika tindakannya ini sungguh tak berperasaan. Mempunyai hubungan romantis dengan dua orang sekaligus yang tentunya tidak diketahui kedua orang yang terikat bersamanya. Mengingat wanita itu berasal dari negara lain, jelas saja ia tak mengetahui jika seorang Seto Kaiba sudah memiliki kekasih 'asli' yang merupakan seorang pria juga sama sepertinya bernama Atem Motou.

Jadi wajar saja jika Seto merasa hubungan dengan sang wanita itu menjadi aman-aman saja.

Dan jika memang ia harus memilih, sampai sekarang pun ia tak kan bisa menjawab.

Dilema.

"SETO~"

Terdengar suara lengkingan perempuan yang sangat Seto kenal. Ia segera berbalik dan langsung terjungkal ke belakang tepat di sofanya saat mendapati wanita itu kini sedang memeluknya erat. Ia sedikit heran melihat sosok itu kini tengah asyik menyerukkan wajahnya di perpotongan bahunya.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau seharusnya sedang ada di butik?"

Sedang yang ditanya hanya mengerucutkan bibirnya tidak suka. "Aku kangen padamu tau! Entah kenapa aku merasa ada yang hal buruk yang terjadi."

Seto tersentak namun kemudian ia bisa menutupi hal itu dengan baik. Memang insting kekasih wanitanya ini tidak bisa dianggap remeh.

"May—"

Sebelum ia melanjutkan kalimatnya, May Valentine— kekasihnya itu sudah terlebih dulu mencium Seto telak di bibir hingga akhirnya kedua pasangan itu larut dalam dunia mereka sendiri.

Dan hanya saat itulah, Seto sejenak melupakan Atem-nya yang telah menghilang.

.

The Truth. He's Gone.

.

Atem membiarkan semilir angin menerbangkan helaian rambutnya. Pagi tadi ia sekitar jam delapan, mereka sudah sampai di desa ini.

Saat mereka tiba, ketiga pemuda itu langsung disambut sukacita oleh nenek, ibu serta adik Jounouchi— Shizuka. Bahkan disana juga ada Honda— yang mana merupakan teman dari mereka bertiga, yang ternyata juga sedang menjalin hubungan dengan Shizuka. Refleks, ketika itu Jounouchi langsung menjitak kepala Honda disertai banyak nasihat, peringatan juga ancaman jika pemuda berambut spike itu sampai membuat adiknya terluka apalagi menangis.

Setelah itu, mereka semua segera menyantap sarapan yang memang telah disediakan. Suasana yang ceria dan harmonis melingkupi rumah yang sederhana itu. Meski hatinya masih terasa askit gara-gara masalah Seto kemarin, toh setidaknya ia sedikit bisa mendapat energi positif dari kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang yang ada disana.

Seusai sarapan, ketiga pemuda itu disuruh untuk beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan semalam penuh. Tapi karena memang perjalanan yang menguras banyak tenaga dari malam hingga pagi itu membuat Yuugi dan Jounouichi terkapar tak berdaya dan sudah pergi tidur sejak sampai di kamar masing-masing. Bertanya kenapa mereka tak sekamar? Alasannya logis, tentu saja, mengingat mereka berdua adalah sepasang kekasih, takutnya nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jadi, kamar ditentukan: Jounouchi dengan Honda dan Yuugi dengan Atem. Adil bukan?

Lain halnya dengan Atem yang memang tidak terlalu ingin tidur, tapi malah ia butuh refreshing dengan tempat-tenpat segar nan hijau seperti pada desa yang sangat minim polusinya ini untuk mengurangi rasa lelah yang menderanya. Ia memang sempat mengantuk tadi, tapi entah hilang kemana rasa kantuknya itu setelah melihat pemandangan indah yang ada.

Seperti sekarang ini, ia sedang duduk selonjoran di atas bukit kecil yang ada tepat di belakang rumah nenek Jounouchi. Pikirannya melayang ke sore kemarin. Potongan-potongan adegan itu terekam jelas di dalam otaknya.

Setonya mencium seorang gadis.

Setonya bercumbu panas dengan seorang gadis.

Setonya melupakan hari jadi mereka yang keempat.

Apakah Seto bermaksud untuk mengakhiri hubungan mereka selama ini? Tak cukupkah ia hanya dengan Atem seorang?

Setonya hanya mementingkan gadis itu ketimbang Atem sendiri.

Setonya lebih memilih gadis itu dibandingkan Atem.

Setonya mencampakan Atem.

Berbagai spekulasi itu memenuhi otaknya. Apakah itu semua memang benar adanya?

Ia segera menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah manisnya disana. Tanpa bisa dicegah lagi, air mata yang sedari tadi ditahannya terjun dengan bebas seolah makin gencar mengejek sang pemilik wajah. Tak lama kemudian, isakan lirih yang menyayat hati terdengar begitu pilu. Terserah jika ada orang yang melihatnya seperti ini dan orang itu akan menyebutnya cengeng, ia sudah tak peduli lagi. Baginya, pelampiasan emosi lah yang terpenting sekarang.

Bisakah ia mencoba tegar dan bertahan?

Bisakah ia tak menangis lagi dan mencoba tersenyum walau rasanya perih?

Bisakah ia menganggap ini semua hanya mimpi?

Tidak. Ini nyata. Dan kau harus hadapi kenyataan yang ada.

Atem bisa mendengar ada suara lain yang berkata dalam otaknya. Ya. Ia tak boleh lemah seperti ini. Jika memang Seto sudah mencampakannya, ia harus menerima kenyataan yang ada. Perlahan, ia hapus linangan air mata yang masih dengan asyiknya keluar terus menerus.

Ia harus tegar. Demi dirinya sendiri. Demi harga dirinya.

Entah apa yang akan terjadi nanti. Entah apa Atem akan menjadi lebih tegar, kuat atau malah menjadi pribadi yang berbeda.

Namun, hanya ada satu hal yang pasti. Atem akan pindah— benar-benar pindah— ke tempat ini dan meninggalkan Tokyo, untuk bisa melupakan rasa sakit yang tak kunjung berhenti menyerangnya.

.

.

Tsuzuku

.

(*) Di Jepang, nyetir pakai tangan kiri.

(*) Umur kakak beradik itu versi asli Yu-Gi-Oh anime C:

(*) Disini aya buat skip time-nya langsung tambah umur dua tahun.

(*) Jujur asli, bingung banget, orang kayak Seto ini ringtone-nya bunyinya gimana ya? Daripada bingung2 makanya saya lgsg pake yg standar aja hehe :P

(*) Asli men, pengen banget ada game yg kayak begini! Biar game itu bener2 kerasa hidup dan ga ngebosenin gitu hoho B) eh tp krn saya bukan gamer sejati, saya gatau ya apa game kyk gini emang nener2 ada apa engga

(*) Aish, mobil impian saya tahun lalu haha :p

Maaf, udah lamaaaaa bgt ga updet T^T saya sibuk ngurusin sekolah hehe

Ada yang kengen? #gampared

Yasud, sampai ketemu chapter depan ya *U*

Balesan review:

s3iy4n4'sherania: Hehe iya, makasi reviewnya :)

Seiyanakhena: Saya juga newbie kok :D eh kesel ya sm fic ini? maaf DX iya tuh cewek emang ngajak bentrok XD makasi buat reviewnya

Araishi: Ini sudah updet, maaf kelamaan. Trims buat reviewnya :)

Qren: Oh bukan gitu kok, baca terus ya~ kalo mau saran juga boleh kok, makasi udah review :D

Uchiha Ryoma: Ini udah updet, maaf ga kilat. Trims reviewnya :)

SQUALL: Maaf ya baru updet, makasi buat reviewnya :)

Rina: Makasi udah review :)

Kamui: Iya, kasian :( tapi trims buat reviewnya :)

Seiyana shiraoh: Oh trims buat koreksinya :) Tenang aja, pasti ntar Atem juga ada bahagianya kok :) dan makasi udah review :D

Berkenan untuk meninggalkan jejak? Trims C;

V

V

V