Oke, buat teman-teman yang ingin cepat update... Ini, Rha udah update. Udah asap kan? Heheh :p. Tapi, mian buat yang minta dipanjangin lagi ceritanya. Jangankan bertambah panjang, bertambah pendek malah iya. Sekali lagi maaf ya #bow# Besok-besok bakal Rha panjangin lagi, oke
Oh iya, semalam memang ada paragraf yang tercopy ulang. Maaf maaf, Rha lupa menghapusnya
Lalu buat tulisan yang masih amburadul, typo(s) dimana-mana, juga bahasa yang aneh akan Rha coba memperbaikinya. Mohon bantuannya ya Gomawo
This is the Story, I Hope You Enjoy
Last Chap
"Aku mohon, jangan buat ini semakin rumit. Aku, benar-benar membutuhkannya"
Kyuhyun mengubah posisinya menjadi setengah tidur. Ia dapat melihat bagaimana wajah Sungmin yang meredup dan menundukkan kepalanya.
Kyuhyun turun dari ranjang empuknya. Menghampiri Sungmin yang masih setia menunduk.
"Aku tidak peduli uang itu akan kau pergunakan untuk apa. Tapi, mungkin akan kupertimbangkan kalau kau..."
Kyuhyun menyeringai. Oughh, jika seorang Cho Kyuhyun sudah menampakkan senyum iblis seperti itu, sudah bisa dipastikan ia memiliki ide gila di otak iblisnya.
"Berlutut dan memohonlah padaku".
Jung RhaBear
CHAP 2
I dont Love Him! But..
"Berlutut dan memohonlah padaku".
Sungmin tak bergeming sedikitpun. Ia bimbang. Disatu sisi, ia benar-benar mengharapkan uang ini untuk suatu hal. Tapi, berlutut dihadapan orang lalu memohon kepadanya, itu pasti akan benar-benar menjatuhkan harga diri Sungmin. Sungmin dilanda dilema rupanya.
"Ya sudah kalau tidak mau..."
Kyuhyun akan segera berguling diranjang lagi. Namun...
"Aku mohon"
Ketika Kyuhyun berbalik, ia dapat melihat Sungmin yang secara perlahan turun perlahan lalu mengambil posisi layaknya orang berlutut.
Sungmin menundukkan kepala.
"Aku mohon, bekerja samalah denganku. Karena aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon", ujar Sungmin. Mata Sungmin mulai terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
"Ckck, nasibmu memprihatinkan ya, kasihan sekali. Setelah kupikir-pikir, ternyata jawabannya tetap saja TIDAK. Pulanglah"
"Terimakasih sambutanmu, Cho Kyuhyun. Tapi harus kutegaskan satu hal padamu. Aku bukanlah pria yang butuh belas kasih mu. Aku benar-benar membencimu!"
Habis sudah pertahanan Sungmin. Air matanya mengucur dengan deras. Seumur-umur ia tidak pernah memohon seperti ini, apalagi dengan berlutut. Benar-benar memalukan!
Sungminpun kembali tegak. Ia menyeka air matanya. Ia pun meraih gagang pintu yang memang dari semula tidak terkunci. Yang diingini Sungmin saat ini hanya pergi sejauh-jauhnya dari sini. Dan berharap tidak akan lagi pernah berurusan lagi dengan pria brengsek barusan.
'Apa aku keterlaluan padanya?'
Cho Kyuhyun POV
"Berlutut dan memohonlah padaku". Ujarku. Hn, seenaknya saja datang-datang lalu menyuruhku untuk mau bekerjasama dengannya. Memang untung apa yang akan kudapatkan? Tanpa belajarpun aku juga pasti akan bersekolah disekolah bergengsi itu. Itu kan milik appa ku sendiri.
Lagipula, menyuruhnya berlutut dan memohon padaku ia pasti akan langsung menolaknya. Baguslah, biar dia langsung mundurkan diri.
"Ya sudah kalau tidak mau..."
"Aku mohon"
Oh tidak. Perkiraanku salah. Aku pikir ia akan menolak, tapi ia memohon sambil berlutut padaku.
"Aku mohon, bekerja samalah denganku. Karena aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon", Ternyata uang dapat merubah segalanya itu tidak salah.
"Ckck, nasibmu memprihatinkan ya, kasihan sekali. Setelah kupikir-pikir, ternyata jawabannya tetap saja TIDAK. Pulanglah"
Jawaban ku tetaplah tidak. Meskipun ia sudah melakukan pinta ku.
"Terimakasih sambutanmu, Cho Kyuhyun. Tapi harus kutegaskan satu hal padamu. Aku bukanlah pria yang butuh belas kasih mu. Aku benar-benar membencimu!"
DEG
Mendengar bahwa ia membenciku ditambah lagi air matanya yang mengalir, tiba-tiba membuat hatiku tidak enak padanya. Rasa bersalah menyelimutiku sekarang.
Ia pun meraih gagang pintu lalu beranjak keluar kamarku.
'Apa aku keterlaluan padanya?'
Ahh,, sudahlah, untuk apa memikirkan dia, kenal aja baru tadi. Mendingan ku lanjutkan permainan yang ku paused tadi.
.
Beberapa jam kemudian...
Kulirik jam wekerku yang berada diatas meja sebelah tempat tidurku.
19.57
Padahal, baru beberapa menit saja pemuda itu meninggalkanku, tapi kenapa rasanya sudah sangat lama begini ya.
Baru pertama kalinya aku merasa permainan PSP kesayanganku itu sangatlah membosanku.
'Semua itu gara-gara Lee Sungmin!' pikirku. Karena, semenjak kepergiannya, rasa bersalah itu terus menghantuiku.
"Akhh! Menyebalkan! Sebaikanya aku keluar untuk mendinginkan otakku terlebih dulu".
Dengan baju kaus biru serta celana selutut, aku pun pergi keluar. Mungkin ke taman pilihan bagus untuk mendinginkan otakku sejenak.
Cho Kyuhyun END POV
Lee Sungmin POV
Benar benar menyebalkan!
Bagaimana tidak? Pemuda bermarga Cho tadi benar-benar mempermalukanku. Semumur hidupku baru kali ini aku dipermalukan seperti tadi!
Aku pun menumpahkan lebih banyak lagi cairan bening dari mataku.
Huuft!
Kalau aku menangis seperti ini, aku teringat perkataanku tadi siang kepada Henri. Aku melarangnya menangis karena menangis itu dilakukan kebanyakan yeoja. Hanya namja lemah yang boleh menangis. Tapi nyatanya, aku pun lebih buruk dibandingkan tersedu-sedu sendirian dijalan.
"Sungmin! Kau namja yang kuat! Jangan menangis lagi! Lupakan yang terjadi barusan! Hidup masih panjang! Pekerjaan melimpah didunia ini! Kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik dibandingkan yang ditawari ! Dan kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan memiliki uang yang cukup, aku akan langsung membelikan Henri biola! Lee Sungmin, SEMANGAT!"
Aku hapus air mata dipipiku. Kubentuk seulas senyum dibibirku. Dan kulanjutkan perjalananku menuju halte untuk menunggu bus yang akan mengantarkanku kerumah tentu saja.
"Ahh, kenapa tiba-tiba aku menginginkan eskrim, ya? Ohh, ditoko itu sepertinya ada menjual eskrim".
Aku membeli eksrim cup ukuran kecil saja. Soalnya yang menengah mahal, apalagi yang besar, huuft mending uangnya kutabung. Tapi, kata mutiara itu kusimpan dulu saja. Entah kenapa perutku ingin dimanja. Ckckc :p
Kusimpan eskrimnya dalam tasku sementara. Akan kumakan nanti saja didalam bus.
"Tunggu! Kenapa anak itu berlari-lari seperti itu?"
Kuperhatikan anak kecil yang mungkin berumur 6tahun yang sedang berlari-lari yang ternyata sedang mengejar bola biru yang sedang menggelinding kearah...
JALAN!
TINTIIIIINNNNN
"AWAAAS!" Secepat kilat aku berlari ketengah jalan menuju bocah itu lalu menyelamatkan dirinya juga diriku dengan cara menghempaskan diri ketrotoar.
BUUKK
Perlahan-lahan, kubuka mataku. Pertama kali yang kulihat adalah rambut hitam anak kecil yang berhasil kuselamatkan tadi. Ougghh, kakiku sakit sekali.
"Gwencanayo?" ujar anak kecil itu sesenggukan.
"Ne. Gwencana. Ooh! Apa kau ada yang terluka?" ujarku dengan panik.
"Ani, gomawo" anak itu menangis lagi. Kupeluk anak manis itu sehingga sekarang ia menangis dipelukku. Dia pasti syok.
"YA! Kalian sudah bosan hidup rupanya ya?".
Suara ini,, jangan-jangan pemuda evil itu...
"Heh, bocah! Cepat minta maaf jangan hanya ucapkan terimakasih!"
"Ya! Sebaiknya kau diam saja bocah yang menyebalkan" bentakku balik.
"Mwo? Siapa yang kau bilang bocah, eoh?" Aku geleng-geleng lihat tingkah lakunya. Seenaknya bilang orang bocah, lalu dia sendiri apa?
"Ya ya, kau bukan bocah. Tapi balita"
"Kau.."
"Mianhe, jeongmal mianhe. Ini salahku, mianhe" Anak itu berujar memotong perkataan Kyuhyun. Baguslah.
"Gwecana. Ya! Kyu, kau juga cepat minta maaf kepada anak ini, karena kau sudah membentaknya!". Kyuhyun memutar bola matanya bosan.
"Ini, anggap saja ini bayaran karena telah membentakmu" ujar Kyuhyun dengan nada ketus
"Bola kesayanganku! Gomawo hyung"
'Anggap saja ini permintaan maafku' itu baru tepat, batinku. Tapi, ternyata pemuda Cho ini ada sisi baiknya juga. Yaah, walau lebih banyak evilnya sih.
"Sekarang sudah malam, kau pulanglah" ujar Kyuhyun dengan nada memerintah.
"Ne" ujar anak itu sambil mengangguk.
"Tunggu!" Aku obrak-abrik isi tasku. Setelah aku mendapatkan benda yang kucari aku menyerahkannya ke anak kecil itu.
"Ini untuk cemilanmu, nah pulanglah" anak itu tersenyum lebar. Setelah memberi salam pada kami, bocah itu lalu pergi meninggalkanku dengan Kyuhyun.
END POV Sungmin
"Nah, selesai!"
"Gomawo" ujar Sungmin kepada Kyuhyun yang dengan senang hati memberikan perban keluka-luka ditubuh Sungmin.
"Tidak perlu. Anggap saja ini sebagai balasan atas perlakuanku tadi. Tapi, aku tetap tidak bisa menerima kau menjadi guru privatku"
"Ne. Aku memaafkanmu kok"
"Siapa bilang aku meminta maaf? Aku bilang ini bayaran atas perlakuanku padamu tadi"
"Ya ya, terserah apa katamu. Yang penting aku sudah memaafkanmu, aku bisa cari pekerjaan lain kok"
"Tentu saja kau harus cari pekerjaan lain. Tapi sekali lagi kukatakan, kalau aku tidak memin..."
"Permisi, kita sudah sampai" Ouggh, terimakasih buat Pak Taxi yang telah menyela perkataan bocah disamping Sungmin ini.
Taxi?
Iya Taxi, mereka lagi didalam taxi. Dan selama perjalan dari taman menuju kediaman Lee, Kyuhyunlah yang memberi Betadine pada tangan juga kaki Sungmin yang lecet.
'Ini rumah dia? Kecil sekali' pikir Kyuhyun
"Ayo turun, biar kubantu". Kyuhyun memapah Sungmin keluar dari mobil taxi yang mereka tumpangi menuju rumah kediaman Lee.
TING TONG TING TONG
"Aishh, lama sekali sih orang rumahmu membuka pintunya?"
"Kalau memang terburu-buru, pergi saja" usir Sungmin.
"Aissh, kau ini tidak tau terima kasih ya, sudah untung ku tolong. Kalau tidak, kau pasti tidak akan bisa pulang dengan selamat, eoh! MENYEBAL.."
CKLEK
"Hyung!" Betapa terkejutnya Henri ketika melihat kakak kesayangannya pulang dengan tubuh luka-luka.
"Hyung, gwencana? Sini kubantu" Ketika Henri hendak mengambil Hyungnya ke rangkulannya, Kyuhyun menahannya.
"Sebaiknya, kau beritahu dimana kamarnya, biar aku yang papah" tawar Kyuhyun.
"Ah, nde"
Kyuhyun memapah tubuh lemas Sungmin kekamar. Ternyata, dikediaman Lee, hanya memiliki satu ruang tidur, untuk dipakai bersama. Dan ternyata, umma Sungmin sudah tertidur di futon miliknya. Tidak ingin membuat kegaduhan, setelah memastikan Sungmin berada ditempat tidur, Kyuhyun pamit pulang.
"Aku pulang dulu ya" pamit Kyuhyun pada Henri.
"Hyung, tunggu!" Kyuhyun menghentikan langkahnya. Henri menghampiri Kyuhyun
"Terimakasih banyak telah mengantarkan hyungku pulang, hiks, kalau tidak ada hyung, hiks, pasti Sungmin hyung akan kesusahan pulang, hiks. Apalagi ini dimalam hari, hiks, pasti banyak penjahatnya, hiks, bisa saja kan Sungmin hyung diculik lalu dimutilasi, dan potongan-potong itu dibuang kesungai, huwaaaaa. Andwae!" pecah sudah tangis Henri, membuat Kyuhyun reflek memeluk namja imut itu. Ia tidak mau membangunkan mereka yang telah tertidur (?)
"Ssstt, Sungmin hyung tidak kenapa-kenapakan. Lalu untuk apa memikirkan hal seperti itu, hah? Sudah sudah, jangan menangis lagi ne" ujar Kyuhyun sambil mengusap-ngusap punggung Henri.
Henri melepaskan pelukan Kyuhyun. "Gomawo hyung kau sudah membujukku. Kalau Sungmin hyung melihatku menangis pasti dia sudah mengataiku tadi. Sekali lagi, terimakasih ya hyung" Ujar Henri sambil tersenyum hangat pada Kyuhyun.
"Ne. Oh, aku harus pulang. Sampai jumpa lagi". Kyuhyun cepat-cepat pergi dari hadapan Henri lalu masuk kedalam Taxi yang tadi mengantar Kyuhyun dan Sungmin yang ternyata sedari tadi menunggui Kyuhyun.
Henri hanya terbengong melihat tingkah Kyuhyun yang tiba-tiba pergi. Tidak mau ambil pusing, ia pun menutup pintu lalu pergi ketempat umma dan Sungmin. Berniat menyusul mereka yang sudah tertidur.
.
Didalam taxi, Kyuhyun tak henti-hentinya memegangi jantungnya yang berdetak keras.
'Omo omo! Kenapa jantungku berdetak kencang sehabis memeluk Henri ya? Apalagi setelah melihat senyumannya. Untunglah tadi aku cepat pulang, kalau tidak ia pasti bisa melihat pipiku yang memerah. Ck! Seperti yeoja saja' pikir Kyuhyun.
"Tunggu! Aku sedang tidak jatuh cinta, kan?"
.
.
To Be Continued
Author Note:
Terimakasih buat teman-teman yang sudah membaca serta mereview ff buatan aku. Aku seneeeeng banget. Sekali lagi terimakasih, ne.
Tapi, maaf tidak bisa membalas review teman semua. Maklum, aku newbie jadi belum tau caranya. Adakah yang berkenan menunjukkan caranya pada aku yang gaptek ini #ngarep# ?
Seperti biasa chingu, sampaikan pendapatnya di review ne. Gomawo
