"Eh? Siapa yang mengajariku?"
"Tentu saja aku, bodoh."
"Um.. Dimana tempatnya, Sir?"
Bingo. Rivaille menyeringai senang mendengar pertanyaan itu.
"Di rumahku."
.
.
.
.
Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama
What's wrong with me?! by Rivaille Yuki Gasai 2
.
.
Teen, AU!Transgender, Romance, Typo(s) everywhere, first FFn.
Rivaille x Female!Eren
Note: Cerita ini terinspirasi dari kisah hidup Ryan McKenna. Tapi saya tidak mengambil sepenuhnya cerita dari beliau. Separuhnya adalah dari otak saya sendiri. Kisah ini menceritakan dimana Eren seorang remaja laki-laki yang nantinya akan bertransformasi secara alami menjadi perempuan.
.
.
.
Enjoy^^
.
.
.
Chapter 2: Meet and Sick.
"Eh?"
Apakah dia tidak salah dengar?
"Benarkah Sir Rivaille akan mengajariku secara privat?"
"Ya. Kenapa? Ini adalah kesempatanmu. Jarang-jarang aku mau mengajar secara privat."
Ya! Eren tidak boleh melewatkan kesempatan ini! Bagaimana pun juga ini adalah peluang besar untuk merubah nilai fisikanya.
"Baiklah, Sir. Aku terima kesempatan ini." Eren menjawab dengan senang, tapi dia tidak tahu maksud dari kesempatan ini.
"Ini alamat rumahku dan nomor telepon ku." Rivaille memberikan kartu kepada Eren sebagai peta menuju rumahnya.
"Kapan kita akan memulainya, Sir?"
"Besok, jam empat sore kau datang ke rumahku." Terdengar seperti ajakan berkencan untuk Rivaille, namun berbeda dengan Eren. "Oke. Aku tidak akan terlambat, Sir!"
"Terserah. Sekarang kau bisa kembali ke kelasmu."
.
.
.
.
Setelah menutup pintu ruang guru Eren kembali berjalan menuju kelasnya. Tidak disangka hari ini adalah keberuntungannya. Walaupun dihukum, tetapi Sir Rivaille tidak menghukum mereka. Jangan lupa dengan kesempatan emasnya untuk memperbaiki nilai fisika. Memang kelas 2-A adalah kelas yang memiliki siswa dan siswi terbaik, tapi tetap saja tidak sepenuhnya siswa dan siswi kelas 2-A terbaik. Akan selalu ada beberapa murid yang tidak memenuhi tingkat terbaiknya dalam beberapa mata pelajaran.
Saat sedang berjalan, Eren teringat dengan sesuatu yang harus dilakukannya setelah bel istirahat berbunyi. Terpaksa dia harus berhenti untuk berfikir sambil memegangi dahinya dengan tangan sebelah kanan dan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku─
"─Ah! Aku ingat!" Cepat-cepat tangan kiri yang sedang merogoh di dalam saku celana nya dikeluarkan. Surat berwarna merah jambu ini membuatnya penasaran setengah mati. Langsung saja ia membuka kembali dan melanjutkan membacanya.
'To: Eren Jaeger
Hai, Eren. Mungkin kau bingung ada surat seperti ini di lokermu, haha. Maaf ya, tapi ini semua sengaja aku lakukan. Oh ya, Eren, sepulang sekolah nanti datanglah ke belakang gedung sekolah. Jangan sampai terlambat karena aku menunggumu.
From: FC'
"Huh? FC? Siapa dia?" Eren bergumam setelah membacanya dan ia dibuat penasaran season dua. Mau tidak mau dia harus datang untuk menghilangkan rasa penasarannya. Melipat kembali surat merah jambu tersebut dan memasukannya ke dalam saku celana. Tiba-tiba saja bel berakhirnya jam istirahat berbunyi.
"Sial! Aku belum sempat makan dan ini sudah masuk jam pelajaran Matematika." Menghela nafas dan Eren pun segera lari menuju kelasnya.
.
.
.
.
Eren sudah sampai di kelasnya dengan terengah-engah di depan pintu. Belum sempat melanjutkan jalannya untuk ke tempat duduk, Mikasa dan Armin sudah menegurnya kembali. "Eren! Ada apa denganmu? Apa si pendek itu melakukan sesuatu yang jahat padamu?" Selalu seperti ini. Mikasa khawatir layaknya seorang ibu yang menemukan anaknya babak belur. Menghela nafas kembali, Eren tidak mau menjawabnya sebelum dia duduk di kursinya. Armin mengerti maksud Eren, lalu Armin menarik tangan Mikasa agar tidak menghalangi Eren untuk berjalan ke tempat duduknya.
Mikasa sempat ingin protes tetapi Armin sudah memberikan isyarat bahwa Eren ingin istirahat dulu dan akan menjawabnya saat dia sudah ingin berbicara. Mikasa mengangguk dan mereka berdua mengekori Eren dari belakang. Setelah si brunette duduk di tempatnya, ia pun langsung berpangku tangan.
"Eren, jawab pertanyaanku tadi." Mikasa selalu menuntut, Eren sudah terbiasa dengan sikap sahabat kecilnya yang satu ini.
"Baiklah. Aku tidak apa-apa, Sir Rivaille tidak melakukan sesuatu yang jahat padaku. Sudah jelaskah jawaban ini?"
"Sudah. Tapi kenapa kau terengah-engah?" Lagi. Mikasa akan selalu bertanya, kalau sudah begini Eren harus menjelaskannya secara detail.
"Aku tadi lari setelah bel berakhirnya jam istirahat berbunyi, kau tahu, ini 'kan sudah masuk jam pelajaran Matematika." Mikasa dan Armin mendengarkan dengan khidmat. Tiba-tiba saja Jean bertanya kepada Eren yang membuat Mikasa dan Armin kembali penasaran.
"Hoi alis tebal, apa yang kalian lakukan setelah Sir Rivaille menyuruhku kembali ke kelas?"
Langsung saja mata Mikasa menajam ke arah Eren tanpa maksud untuk mengancamnya, melainkan sangat penasaran tingkat Titan kesayangan guru Biologinya. Armin yang menyadari itu menghela nafas dengan kelakuan Mikasa.
"Muka kuda! Sudah kubilang jangan sebut alisku!" Eren ngambek sambil mengembungkan pipinya. Mikasa yang melihat itu tidak tahan ingin mencubitnya. Jean mendengus, Armin yang penasaran pun ikut bertanya.
"Memangnya apa yang kau dan Sir Rivaille lakukan?"
"Jangan berfikir yang macam-macam. Sir Rivaille menjelaskan kepadaku bahwa nilai fisika ku ini buruk dan dia memberikan kesempatan padaku." Heh. Mana mungkin Eren menjelaskan secara detail tentang nilai fisikanya yang lebih buruk daripada nilai Jean. Harga dirinya akan terinjak-injak kalau si muka kuda tahu.
Dan disini Mikasa lah yang langsung bertanya. "Kesempatan apa, Eren?" Mencoba memberikan nada bicara yang biasa saja agar Eren mau menjawabnya.
"Dia akan mengajariku secara privat di rumahnya." Ringan dan tanpa beban saat mengucapkannya. Tiba-tiba saja Jean tertawa sampai terbahak-bahak, Armin facepalm dan Mikasa menggebrak meja Eren yang membuat si empunya meja terkejut.
"K-kenapa? Hei muka kuda berhentilah tertawa! Armin dahi mu merah! Mikasa, meja ku hampir retak!"
"Eren, maafkan aku soal meja, ada yang lebih penting untuk ku beritahukan padamu."
"Eh? Apa itu? Dan Jean, bisakah berhenti tertawa?!" Sebelum Mikasa berbicara kembali, ia menatap tajam penuh ancaman kepada Jean dan akhirnya dia berhenti tertawa. Jean langsung sembunyi dibelakang tubuh Armin. Dasar modus.
"Eren, walaupun dia adalah kakak kandungku tetapi keselamatan bokongmu harus diutamakan."
"A-apa kau bilang?!" Masa bodoh, Mikasa tetap melanjutkannya.
"Kau tahu, si pendek itu adalah peny─"
Kriet.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka menampilkan sosok pria berambut kuning dengan kumis tipisnya. Langsung saja siswa dan siswi segera kembali ke tempat duduknya. Begitu juga dengan Mikasa, Armin dan Jean. Eren penasaran season tiga karena Mikasa belum sempat melanjutkannya. Niatnya ingin bertanya kepada Jean, tapi Sir Mike termasuk guru yang tegas.
'Kalian membuatku penasaran.'
.
.
.
.
Matematika di Maria Senior High School sangat menyiksa kebanyakan murid. Umumnya pelajaran matematika itu hanya tiga jam, tapi karena ini adalah sekolah yang memiliki prestasi terbaik, jadilah matematika menjadi empat jam. Walaupun empat jam, pihak sekolah tidak mungkin sekejam yang kalian pikirkan. Kepala sekolah Maria Senior High School yang memiliki rambut berwarna kuning emas dan selalu memberikan senyuman tampan berwibawanya memberitahu bahwa setiap guru matematika harus memberikan 30 menit murid-muridnya untuk istirahatkan otak mereka. Jadi sekolah terbaik tidak selamanya memberikan siksaan kepada muridnya.
Siswa dan siswi kelas 2-A sekarang sedang menikmati waktu istirahat otak mereka selama tiga puluh menit. Tapi seperti yang diberitahukan sebelumnya, bahwa Sir Mike adalah guru yang tegas dan dia melarang keras murid-muridnya untuk mengobrol ketika mereka sedang mengistirahatkan otak. Bila melanggar, hukumannya adalah mengerjakan matematika sebanyak sepuluh soal saat itu juga.
Eren yang tadinya ingin bertanya lagi, diurungkan niatnya itu.
.
.
.
.
Kriing. Kriing.
"Baiklah, pelajaran matematika kita sudahi hari ini." Sir Mike sudah keluar dari kelas 2-A. Setelah itu Mikasa yang sedang merapihkan tas nya terkejut karena Eren menuntut jawaban dari Mikasa.
"Mikasa, kau belum selesai menjawab pertanyaanku yang tadi." Yang tadinya wajah Mikasa biasa-biasa saja, sekarang berubah menjadi gelap akan kebencian. "Ah, si pendek itu ya." Nada bicaranya sangat datar dan jelas-jelas mewujudkan nada kebencian.
"Dia itu penyuka sesama jenis."
"Eh?"
Mikasa diam. Armin yang sudah ikut berkumpul dengan mereka pun diam. Jean menahan tawa dari jauh.
"…."
"APA?!" Eren sukses membuat Jean tertawa terbahak-bahak season dua. Mikasa mulai mencaci maki kakaknya dalam hati. Armin geleng-geleng kepala.
Eren tetap tidak percaya. "Jangan bercanda Mikasa! Dia adalah kakakmu! Kenapa kau berkata seperti itu?" Membela sang guru fisika yang sangat mencintai kebersihan. Tapi adiknya tidak mau membela kakaknya sama sekalipun. "Aku tidak bercanda, Eren. Lebih baik kau batalkan saja les privat itu."
"Tidak. Aku tetap akan pergi ke rumahnya besok. Bukankah kalian itu satu rumah?" Tiba-tiba Mikasa muntah, Armin panik dan Jean berhenti tertawa karena takut salah paham. Mikasa langsung saja meludah ke lantai lalu menginjak-injaknya.
"Tch. Tidak sudi aku satu rumah dengan dia. Dia sudah memiliki rumah sendiri dengan hasil kerja kerasnya. Aku merasa tenang karena dia tidak satu rumah denganku."
"Alis tebal, apa yang dibicarakan Mikasa itu mungkin benar. Minggu yang lalu aku mendengar berita bahwa Sir Rivaille itu penyuka sesame jenis. Christa dan Sasha yang berbicara di kelas."
"Dasar tukang gosip." Eren mulai menyindir Jean yang membuat batas kesalnya mencuat. "Hoi itu tidak sengaja!"
"Eren, meskipun begitu aku jadi khawatir denganmu." Armin yang sedari tadi diam akhirnya berbicara juga.
"Sudahlah, kalian terlalu berlebihan. Aku tidak peduli asalkan nilaiku tidak buruk lagi. Aku pulang duluan." Kesal dengan semua omong kosong teman-temannya, Eren langsung pergi dari kelas meninggalkan Mikasa, Armin dan Jean yang sedang memasang wajah kosong. Di dalam hati, mereka bertiga berdo'a.
'Semoga bokongmu selamat.'
.
.
.
.
"Tch. Apa-apaan mereka! Meskipun begitu, aku ini 'kan laki-laki tulen. Aku bisa menolak Sir Rivaille jika dia berbuat sesuatu padaku." Sepanjang di koridor, Eren menggerutu dalam hati tentang kejadian tadi. Tapi tunggu dulu, dia merasa punya janji setelah pulang sekolah. Dengan Sir Rivaille besok, belanja buku bersama Armin dilakukan setiap hari sabtu, bertemu dengan seseorang berinisial─
"Ah! FC! Aku harus ke belakang gedung sekolah!" Eren langsung mempercepat langkahnya untuk bisa sampai ke belakang gedung sekolah. Dia tidak boleh terlambat.
Sebelum sampai kesana, dia harus menuruni anak tangga agar bisa sampai ke lantai dasar, karena kelas Eren terletak di lantai satu. Sekarang posisi Eren sudah berada di lantai dasar, ya, dia harus melewati pintu keluar dan belok ke kiri. Sebentar lagi akan sampai, tinggal belok ke kiri lagi, dan─
─sampai.
Tunggu dulu. Kenapa tidak ada orang nya? Apakah terlalu awal?
"Mungkin aku harus me─"
"Hei!" Eren tersentak dan langsung membalikan badannya ke asal suara.
Saat sudah berhadapan dengan lawan bicaranya, Eren perlahan-lahan memperhatikan wajahnya. Dia laki-laki memakai seragam Maria Senior High School, dasinya berwarna merah yang menandakan dia adalah senior, rambutnya berwarna cokelat susu yang setiap pagi Eren teguk, matanya sewarna dengan rambutnya namun agak keemasan, tubuhnya tinggi─mungkin hanya beda beberapa senti saja dengan Eren. Karena terlalu asyik memperhatikan, laki-laki itu menegur Eren.
"Hei, kau benar Eren Jaeger 'kan?"
Tersadar dari lamunannya, Eren segera menjawab. "Ah, iya. Apakah senpai yang memberiku surat merah jambu ini?" Eren bertanya sambil memperlihatkan surat yang ia temukan di dalam lokernya.
"Yap. Maaf, apakah aku membuatmu menunggu lama?"
"Tidak kok, aku juga datang kesini beberapa menit yang lalu sebelum senpai."
"Ahaha begitu ya." Laki-laki itu tertawa renyah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Eren merasa basa-basi ini terlalu lama, jadi dia langsung menanyakan maksud dari pertemuan ini.
"Maaf kalau aku lancang, tapi.. Apakah senpai yang berinisial FC? Jika ya, ada perlu apa senpai memanggilku untuk datang kesini?" Memaki dalam hati, Eren merasa dirinya terlalu banyak omong.
"Wah, wah, aku lupa menjelaskannya padamu, ya? Baiklah." Laki-laki itu berdeham pelan.
"Perkenalkan, namaku Farlan Church kelas 3-B."
'Farlan Church? Aku tidak mengenalinya sama sekali.' Eren bertanya-tanya dalam hati.
"Dan untuk pertanyaanmu yang tadi, sebenarnya aku memanggilmu kesini karena aku ingin mengenalmu."
'Mengenalku?'
"Eh? Mengenalku? Bukankah Church-senpai sudah tahu namaku?" Sebisa mungkin Eren berbicara sopan kepada seniornya.
"Bukan itu maksudku, dan jangan bawa embel-embel senpai. Itu membuatku terlihat sangat tua, kau tahu."
"M-maaf, Church-san?"
Farlan menghela nafas. "Panggil saja Farlan. Oh, di surat itu aku menyebutmu Eren 'kan? Apakah itu mengganggumu?"
"Baik, Farlan-san. Tidak, sama sekali tidak mengganggu." Eren tersenyum untuk meyakinkan kepada seniornya bahwa Eren tidak merasa terganggu.
"Oke. Eren, apakah besok kau sibuk?"
"Besok?" Hmm. Eren berfikir sejenak. Tiba-tiba dia ingat janji dengan seorang guru.
"Maaf, besok aku sibuk."
"Benarkah? Sayang sekali." Farlan merasa sedikit kecewa. Eren yang mendengar nada sedih seniornya itu merasa tidak enak.
"Maafkan aku Farlan-san, tapi di hari lain aku tidak sibuk."
"Oke, oke. Hari rabu aku ingin mengajakmu pergi ke taman Sina jam tiga sore."
"Um. Tidak masalah, aku akan datang." Eren tersenyum menanggapi ajakan Farlan. Yang mengajak sangat senang dengan respon Eren.
"Baik. Aku tunggu jam tiga sore. Dah, Eren!" Farlan berbalik sambil melambaikan tangannya kepada Eren, tanda bahwa Farlan berpamitan untuk kembali ke urusannya. Si brunette pun melambaikan tangannya. Padahal Eren belum tahu siapa Farlan selain seniornya, tapi Eren tetap menerima ajakan seniornya itu. Mungkin mereka bisa menjadi teman baik. Dilihatnya jam tangan digital berwarna hitam merk B-Shock.
'Sudah jam setengah tiga, huh? Aku harus segera pulang.' Saat ingin melanjutkan perjalanannya ke rumah, tiba-tiba saja di bagian dada Eren─tepatnya di payudara, ia merasa sedikit sakit dan ngilu. "K-kenapa ini? Rasanya ngilu sekali."
Eren menahan rasa ngilu di daerah payudaranya. Tidak mungkin dia terkena kanker payudara seperti wanita yang jelas-jelas dirinya adalah laki-laki.
'Aku harus tenang. Berfikir positiflah, Eren. Ayo kau pasti bisa.' Sebisa mungkin Eren memberikan sugesti kepada diri sendiri. Tapi perjalanan untuk sampai ke rumah harus tetap dilanjutkan karena ibu nya akan pergi ke supermarket dan Eren sudah berjanji akan pulang sebelum jam tiga sore.
"Yosh. Meskipun dalam keadaan seperti ini, aku harus sampai di rumah."
.
.
.
.
.
.
.
Kriet.
"Aku pulang."
"Selamat datang, Eren."
Melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu, setelah itu menghampiri ibu nya yang sedang berada di dapur. Hari ini Eren lelah sekali, istirahat belum sempat ia rasakan dan inilah saatnya mengisi perut di rumah dengan masakan sang ibu tercinta.
"Ibu, aku lapar sekali." Eren mengadu sambil menahan ngilu di daerah payudara dan perutnya.
"Tenang saja ibu sudah membuatkanmu makanan, kau bisa melihatnya di atas meja makan dan─Eren? Kenapa kau berkeringat sekali? Dan kenapa wajahmu itu? Kau seperti sedang menahan rasa sakit." Carla, yang sedari tadi sedang merapihkan piring dan gelas tiba-tiba saja terkejut melihat air muka anaknya seperti sedang merasa sakit.
"B-benarkah? Aku baik-baik saja, bu. Mungkin ini karena aku menahan rasa laparku, ahahaha.." Mati-matian dia menahan rasa sakit dengan cara tertawa. Namun yang di dengar Carla seperti tawa menahan sesuatu. Carla yakin perubahan Eren sudah bereaksi saat ini juga.
"Tolonglah, Eren. Apa yang sedang kau rasakan? Jangan berbohong pada ibu."
Eren bingung, ingin bercerita tapi malu dan takut. Kalau tidak cerita, apa yang akan dia lakukan? Menahan terus rasa sakit dan membuat ibunya khawatir? Tidak. Tidak boleh. Eren harus menceritakannya.
"Ibu.. Kenapa payudara ku s-sakit sekali?"
'Benar dugaanku. Mungkin inilah saat yang tepat untuk memberitahu Eren.'
"Eren." Carla secara tiba-tiba memeluk Eren, berusaha menenangkannya.
"Ada apa, bu?" Eren bingung dan kaget melihat tindakan ibunya yang tiba-tiba memeluk.
"Kemarin saat sepulang dari pemeriksaan kondisimu, dokter Pixis memberitahu kepada kami."
"S-soal apa?"
Carla menghela nafas, jari-jari lembutnya masih menyisir rambut cokelat Eren.
"Kau di diagnosa mempunyai kelainan."
'Maafkan kami, Eren.'
"Kelainan? Kelainan apa?" Eren menuntut penjelasan.
Tiba-tiba Carla melepas pelukannya dan langsung menatap wajah anaknya dengan rasa bersalah.
"Tidak lama lagi tubuhmu akan bertransformasi menjadi perempuan."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Hai. Terimakasih banyak atas waktunya untuk membaca fiksi ini. Apakah ceritanya terlalu bertele-tele? Kalau ya, memang aku setting begitu. Entahlah, mungkin jalan cerita cinta itu enaknya step by step, biar kerasa feelsnya (padahal nggak kerasa). Dan juga apalah aku ini ngasih genre Humor tapi humor gagal yak /direbus.
Yak, disini pairingnya tetep RIREN tapi namanya juga Eren, muka manis nan imutnya itu bisa mengundang para calon seme untuk mempersuntingnya. Jadilah seperti harem tapi gak harem-harem amat kayaknya. Nggak kok. Ini Cuma dua cowok yang memperebutkan Eren. You know lah XD
Ohya di fiksi ini juga mungkin ada beberapa pairing yang muncul.
Balas review disini saja ya! ^^
To xxchancimit : Hai. Terimakasih sudah membaca^^ ini sudah dilanjut, semoga tidak mengecewakan ya~!
To DarkWings88 : Hai. Terimakasih sudah membaca^^ yap, dia adalah raja modus haha. Ini sudah lanjut, semoga tidak mengecewakan~!
Makasih yang udah mau baca dan meninggalkan review! /kissukissu. Semoga para pembaca sekalian terhibur ya!
Oke sampai disini dulu! Sampai jumpa di chapter selanjutnya~~~~!
NEXT;
Chapter 3: Interesting.
