Hetalia: Axis Powers © Hidekaz Himaruya.
saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam bentuk apa pun dari pembuatan fanfiksi ini.
luka yang kautanggung
Arthur duduk, kedua tangan terlipat, kepalanya lurus-lurus menatap dua buah bunga mawar dalam vas bunga di atas meja. Mawar merah dan mawar putih, memperingati dimulainya Perang Mawar yang dimulai lebih dari lima setengah abad lalu. Sudah lama. Tapi lukanya masih ada, dan akan selalu demikian.
Dibenamkannya kepala.
"Rasanya mau mati saja."
Arthur mendongak.
Mengangkat alis.
"Al." Ia menyahut, reaksinya datar terhadap lawan bicara berkacamata yang tiba-tiba sudah duduk dengan pose yang sama—tangan terlipat—di hadapannya. Berusaha tidak terlihat terkejut karena Alfred bisa dengan tepat menyuarakan apa yang ia pikirkan saat membenamkan kepala tadi. "Kok di sini?"
"Kuminta Ivan yang menjelaskan detail konten pertemuannya hari ini."
"Tumben menggantungkan jalannya pertemuan padanya."
"Iya."
Arthur yang semula membuang muka ke luar jendela kini menatapnya, mengerutkan kening. Jarang sekali Alfred menjelma menjadi pemuda yang begitu penurut dan mengiyakan apa yang ia katakan, setiap kali saling melemparkan kalimat apa pun bersahut-sahutan. Tapi Arthur tak mengatakan apa-apa tentang itu, karena dilihatnya Alfred sibuk memandangi dua mawar merah dan putih di dalam vas.
"Kenapa merah dan putih?" Alfred coba bertanya dengan tenang.
"Karena memang itulah jalannya Perang Mawar," Arthur menjawab dengan intonasi yang sama.
"Arth, kautahu kalau aku nggak tahu apa-apa soal ini," pemuda di hadapannya membenarkan letak kacamata yang sebenarnya baik-baik saja, menghela napas, "kalau Francis pasti lebih tahu, ya?"
Arthur menatap pemuda itu sebentar, sebelum kemudian menganggukkan kepala, agak tidak berselera dengan konversasi yang berjalan di antara mereka. "Begitulah. Perang Mawar ini adalah akibat dari Perang Seratus Tahun, soalnya."
Ada gumaman, "Oh, pantas," yang tak begitu jelas keluar dari mulut Alfred.
Lalu jeda sejenak.
"Omong-omong," Arthur sengaja membelokkan percakapan, "bagaimana kamu bisa ada di sini? Aku sengaja memilih kafe yang jauh dari tempat pertemuan rutin."
"Tapi ini kafe terdekat yang memfokuskan teh sebagai minuman utamanya."
Uh-oh; skakmat. Mulut Arthur membuka, tapi tak ada satu kata keluar.
"Jadi," Alfred coba mencairkan suasana dengan terus berbicara. "Bagaimana kurang-lebih jalannya Perang Mawar itu? Maksudku, kenapa mawar merah dan putih, yang secara kebetulan punya arti 'permintaan maaf' dan bisa kauberikan untuk Francis keesokan harinya?"
Arthur seketika mendelik. Ekspresinya terang-terangan tak terima bagaimana pemuda ini bisa sampai mengetahui. Oh, oke, benar juga, pasti bocah kesenangan itu yang pamer ke penjuru dunia. Ia mengubah posisi tangannya yang semula terlipat menjadi bertopang dagu, membuang muka, kesal. "Sebenarnya aku nggak berpikir kalau itu ada kaitannya. Kebetulan aku punya mawar merah dan putih, dan kebetulan artinya itu. Sayang saja kalau dibuang."
Alfred mengulum senyum. Entah mengapa sikap Arthur yang tetap keras kepala mengelak sekalipun sudah tertangkap mata benar-benar menyenangkan baginya. "Oke, kamu bisa bilang itu kebetulan saja artinya kamu meminta maaf, tapi kamu nggak memberikan barang yang sama padaku—"
"Nggak ada peringatan apa-apa yang khusus untukmu besok—"
"19 April maksudku."
"..."
Melihat perubahan air muka Arthur yang mengeras, dan kedua tangannya yang langsung terkepal, Alfred sadar bahwa ia salah bicara. "Maksudku, maaf. Dengar, Arth, aku ..."
"Aku minta maaf? Al, kamu bahkan yang memulai tembakan pertama!"
"Iya, iya, ssst," Alfred mendesis; mengisyaratkan pada Arthur untuk memelankan volume suara. Percuma juga peringatannya karena Arthur memang tidak berniat untuk melanjutkan kalimat lebih lagi. Usai meneriakkannya, pemuda itu terdiam bagai batu. Alfred mengatur napas.
Ia memandang.
Pemuda di hadapannya ini, tanpa ia bisa ketahui secara harfiah, barangkali memanggul beban seberat Bumi di pundaknya. Barangkali menanggung luka sebesar ledakan matahari di sekujur tubuhnya. Tapi Arthur tak pernah benar-benar membiarkan siapa pun tahu—Alfred berani jamin bahwa sekalipun ia selalu membuntuti Arthur dan berusaha memahami pemuda ini, ia tak dibiarkan masuk menyelami masa lalunya barang sekali pun. (Hei, ia bahkan lupa semua masa kecilnya!)
"Perang antarkeluarga."
Alfred terkejut, mendapati suara Arthur yang berikutnya ia dengar alih-alih suaranya sendiri yang masih menunggu hasil dari otak terkait penentuan topik pembicaraan yang baru. "Ya?" ia buru-buru menyahut.
Jemari Arthur bergerak maju, memegang tangkai bunga mawar merah. "Yang ini Keluarga Lancaster," kemudian berpindah pada tangkai bunga mawar putih, "dan Keluarga York. Kerajaan Plantagelet. Perebutan tahta Inggris. Dinamakan Perang Mawar karena masing-masing keluarga itu bersimbol mawar."
Arthur masih melanjutkan, bagaimana perang itu dimulai, bagian-bagian pentingnya, apa latar belakangnya, dan sebagainya. Sekalipun ia sudah lupa, tapi Alfred masih bisa sayup-sayup merasakan bahwa cara penyampaian Arthur persis—mungkin sebelas-dua belas—dengan gaya pemuda itu menceritakan dongeng sebelum tidur saat ia kecil dulu.
Diam-diam, dan sejujurnya ia sering melaluinya, perasaan bersalah menghantui Alfred. Ia hanya sangat salah pada pemuda di hadapannya ini. Entah luka yang tak terhitung banyaknya (walaupun oke, ada juga kesalahan Arthur yang menyebabkan ia terbesit pikiran untuk menjadi independen, tapi sekali lagi; ia yang memulai tembakan pertama, 'kan), entah lupa yang barangkali tersimpan jutaan memori di sana.
Setengah menyimak setengah tidak, Alfred terdiam.
Terlalu banyak luka yang kautanggung, Arth.
Menjalin kontak, mau baik maupun buruk tapi yang terpenting adalah berbekas—hampir di semua negara. Perang. Revolusi. Konflik luar negeri dengan Francis atau dengannya, atau bahkan konflik dengan diri sendiri. Hanya sekilas yang Alfred tahu, dan Alfred bisa jadi perlu menghabiskan waktu selamanya untuk mengumpulkan keberanian dan bertanya; tentang kehidupan Arthur, mulai dari keinginan menghilangkan rasa sepi, sampai pada puncaknya seramai apa pun sekeliling tetap seolah sendiri.
Entah di mana dirinya saat itu.
[1] Perang Revolusi Amerika, antara Amerika dengan Britania Raya, dimulai pada 19 April 1775.
.
.
a/n
IYA YANG MULAI NEMBAK DI REVOLUTIONARY WAR ITU AMERIKA ;v; /gafokus
by the way saya pengen banget bisa menaklukkan revolutionary war dan war of 1812 soalnya saya tertarik sama peranan kanada di sana … tapi tapi TAPI saya selalu nggak tuntas :"") entah kenapa kisah inggris-amerika itu emang bikin saya berasa lagi ngupas bawang ;;v;; /gafokus(2)
