"Terima kasih senpai. Senang membantumu"

"Aku.. tak pernah punya teman."

"Semua menertawakanku karena aku selalu terjatuh, haha… aku mungkin terlalu ceroboh ya?"

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

PAIRING: ULQUIHIME

WARNING: AU, OOC, GAJE, ABAL, TYPO(S), ect

"SANDARAN"

.

KYAAAAA….

"Senpai… Ada senpai Ulqui dan senpai Grimmjow…"

Huh, menyebalkan sekali. Inilah alasan mengapa berat sekali rasanya melangkahkan kakiku menuju kantin.

"Hei, Grimm.. Cepat selesaikan ini. Apa sih yang hendak kau beli di kantin?" tanyaku kesal pada lelaki disampingku yang sedari tadi senyum-senyum tidak jelas menyapa para FGnya.

"Tidah ada. Aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu dan mendengar teriakan-teriakan ini" jawabnya polos tanpa rasa bersalah.

"Cih.. Kau…" aku menggeram kesal padanya.

"Haha.. Habisnya wajahmu itu menyenangkan sekali kalau dilihat. Aku ingin sekali menggodamu"

"Ayo lekas balik!" ajakku padanya.

"Oh, ia. Aku lupa kau kan sudah punya kekasih. Kau takut dia cemburu ya? Apa kau mulai menyukainya?"

"Dia bukan kekasihku! Dan berhentilah mengatakan itu!" sahutku asal.

"Apa yang kau bilang itu benar senpai?"

Sontak aku melihat kearah suara itu. Itu.. Arisawa.. Sahabat Orihime.. Yang sedang menatapku marah, kecewa, kesal dan itu.. kurasa adalah tatapan 'benci'.

"Ada masalah dengan itu?" tanyaku lagi datar. Ah, lagi-lagi sifat aroganku muncul.

PLAAAAAAAAKKKK

Apa ini? Rasanya sakit. Hampa. Ditampar oleh seorang perempuan di depan banyak orang. Cih, memalukan.

"Sudah kuduga. Kenapa? Kau memanfaatkan Inoue-chan? Padahal ia begitu tulus padamu?" tanyanya dengan ekspresi yang kutau pasti.

"Dia.. Tidak keberatan. Lagipula dia sudah tahu" jawabku datar.

"Setidaknya hargai dia senpai. Kau.. Keterlaluan!" geram gadis itu sampil pergi menahan amarahnya.

"Hei, Ulqui.. Daijobu?" tanya Grimmjow dengan rasa bersalah.

Aku hanya menyunggingkan senyum simpul. Grimmjow menepi memberikanku jalan. Dan pasti ia tahu arti senyumku.

'Ini gara-gara kau. Brengsek'

"Gawat. Ulqui marah padaku" sahut Grimmjow pada dirinya.

. . .

Hmm… Disini lagi aku. Bersama awan-awan yang tak lagi seputih kapas. Dan dengan irama suara burung yang terbang kembali pulang. Bersama warna senja yang terlukis di langit.
Senja…

'Orihime Inoue'

Aku tersadar dari lamunanku. Senja, persis seperti warna rambut gadis itu. Kenapa aku ingin mendengar suaranya? Aku ingin ditemani olehnya disini. Sial! Aku tak mungkin suka padanya kan? Aku bertanya pada diriku sendiri. Frustasi tidak mendapatkan jawaban. Aku menutup wajahku dengan sebelah tanganku.

'Orihime Inoue'

'Kenapa? Kau memanfaatkan Inoue-chan? Padahal ia begitu tulus padamu?'

Pertanyaan itu. Mengapa selalu terngiang-ngiang di kepalaku memenuhi kepalaku. Sesaat aku sakit mengingatnya kembali. Senyumnya, suaranya, tingkahnya.. Aku, ingin bertemu dengannya. Tapi, kenapa? Ini, kali pertama aku merasakannya. Perasaan ini.. Apa?
Ah, aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tapi, mengapa hari ini aku tidak melihatnya di sekolah? Ada apa?

'Orihime Inoue'

. . .

'Ting..Tong..'

"A-ano.. Permisi. Saya teman sekolahnya Orihime Inoue" ah, kenapa aku ikutan gagap?

"Ulquiora kan?" sahut laki-laki berkacamata itu.

"Inoue sedang sakit. Ada apa?" tanya laki-laki itu padaku.

Ah? Sakit? Kenapa dia tidak memberi kabar padaku? Bukankah aku ini pacarnya? Eh, pacar? Sejak kapan aku ingin diakui sebagai pacarnya?

"Ah.. Ingin menjenguknya" jawabku gugup.

"Siapa?"

"Aku. Boleh aku menjenguknya?" tanyaku ragu.

"Kau kira kau siapa?" sahut laki-laki itu dingin.

"Nii-san… Kenapa diluar?" tanya wanita dibelakangnya.

"Ah, kenapa keluar? Istira..

"Inoue-san. Daijobu?" tanyaku refleks.

Orang yang tadi kupotong omongannya hanya mendelik kesal kearahku.

"Hm.. Daijobu senpai. Ada apa?" sahutnya dengan senyum khasnya itu.

Ah, betapa kurindukan senyum itu.

"Ah, hanya heran saja sebab hari ini tidak jumpa denganmu di sekolah jadi berhubung kita bertetangga aku jadi ingin mampir sebentar" jawabku.

"Arigatou.. Jangan khawatir senpai. Mungkin besok Nii-san mengizinkanku masuk sekolah"

"Tidak! Istirahatlah yang cukup dirumah, Nii-san juga besok mulai bekerja setengah hari saja untuk merawatmu,"

"Tapi Nii-san….

"Jangan membantah! Nah, jam kunjungan sudah habis! Sebaiknya kau pulang anak muda!"

"Ah, Arigatou. Sampai jumpa lagi Inoue-san" jawabku ragu.

"Sampai jumpa lagi senpai" jawabnya dengan senyum yang kurindukan.

Sesaat setelah gadis berambut senja itu masuk. Laki-laki berkacamata yang belakangan baru kuketahui adalah kakaknya menatapku kesal, berjalan kearahku dan

BUAAGH..

"Arrgh.." sakit. Ya itu yang kurasa. Sambil memegangi perutku, aku berusaha menatapnya. Kenapa? Kenapa ia melakukan itu?

"Menghilanglah dari hidupnya. Kau, hanya akan membuatnya semakin sering terjatuh"

"Apa? Maksudmu?" tanyaku innoncens. Sakitku belum hilang.

"Pikirkan sendiri!" sahutnya sambil menutup pintu.

BLAAAMM..

Setelah itu, rasanya duniaku kosong.

. . .

Sial! Aku penasaran. Ada apa ini?
*Sigh* Dimana Arisawa? Aku mengacak-acak rambutku frustasi menunggu Tatsuki Arisawa pulang. Sambil berdiri di koridor aku memperhatikan kelas Arisawa. Haaah… Kapan kelasnya berakhir kenapa dia belum keluar juga.

TEEEEEEEETT..

Ah, akhirnya bel pulang sudah berbunyi.

"Aku duluan ya. Jaa~"

Ah, suara itu.

"Ehem.. A..Arisawa" aku menghampirinya sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.

"Kau.. Ah, senpai. Ada apa?" sahutnya dingin.

Ah, nada bicaranya itu seolah dia tidak ingin bicara denganku.

"Boleh aku bicara sebentar denganmu?" tanyaku mantap.

"Tentang apa?" tanyanya dingin.

"Orihime Inoue" jawabku.

"Aku sibuk. Tak ada waktu untuk bicara denganmu" jawabnya dingin sambil pergi meninggalkanku.

"Tunggu. A..Arisawa" aku ingin mengejarnya. Tapi tunggu, kenapa badanku tak ingin bergerak. Ah, sial! Lagi-lagi aku terlalu gengsi untuk mencari tahu tentang gadis berambut senja itu.

'Baka Ulqui!' teriakku dalam hati.

. . .

Hmmh… Langit yang sama. Senja yang sama. Tempat yang sama. Tapi aku merasa diriku tak lagi sama. Aku membaringkan tubuhku menghadap langit. Memejamkan mata dan menikmati setiap belaian angin yang lembut membelai wajahku. Aroma ini..

'caramel'

Aku membuka mata spontan mencari arah bau. Tapi nihil! Seharusnya aku tahu bahwa aku sedang sendiri disini.

'Orihime Inoue'

Aku menutup wajahku dengan sebelah tanganku, berusaha menahan rasa yang begitu membuncah didada. Apa ini? Dengan gemas aku meremas dadaku, dan entah mengapa ada rasa yang membingungkan bergetar disana.

. . .

Masih sama seperti semalam aku pulang sendiri ke rumah setelah berhasil melewati blockade para FG-ku. Hari ini sepertinya barisan FG-ku bertambah panjang, melelahkan sekali melewatinya. Kenapa begitu terasa bahwa dia tidak berjalan disampingku mengiringi lanngkahku untuk pulang. Untung sekarang sudah hampir sampai di rumah. Rasanya aku ingin segera membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku melihat kearah rumah tetanggaku itu, rumah Orihime Inoue. Rasanya ingin sekali kakiku melangkah kesana. Ah, senyum itu..

'Orihime Inoue'

Entah mengapa rasanya hatiku kembali penuh setelah sesaat tadi aku merasa hatiku begitu kosong. Aku mempercepat langkahku untuk mendekatinya. Tapi hei, tunggu dulu. Itu..
Cih, bukankah itu Ishida Uryuu? Kenapa Inoue tersenyum padanya? Ah, apa yang ingin dilakukan lelaki itu? Aku melihatnya, Ishida menempelkan keningnya pada kening Inoue dan wajah Inoue bersemu merah karena perlakuannya. Tidak. Seharusnya hanya aku yang boleh membuatnya bersemu seperti itu. Jarak mereka begitu dekat, hingga kurasa adrenalinku terpicu. Aku menggretakkan gigiku menahan rasa yang kembali membuncah didadaku. Brengsek! Beraninya dia mengambil kesempatan. Kepalan tangganku semakin menguat, yang kurasa sekarang adalah kemarahan. Panas sekali rasanya, wajahku memerah menahan rasa ini. Rasa cemburu yang menahan langkahku untuk menemuinya seperti niatan awalku. Cemburu? Ah, tunggu dulu. Bukankah dia hanya mainanku? Tidak perlu sampai merasa seperti ini kan? Aku terdiam, tersenyum miris dan kembali berjalan menuju rumahku. Aku mendengarnya, suaranya..

"Senpai… Besok aku ke sekolah lo. Nii-san memberiku izin" teriaknya riang.

Aku yang mendengarnya hanya menatapnya datar dan kembali melirik laki-laki menyebalkan yang sedang berdiri disampingnya dengan wajah yang sok innoncens itu. Kurasa dia tahu apa arti lirikanku padanya, aku bisa lihat dia tersenyum sinis. Dan aku juga mengerti apa arti senyumnya itu.

'Mau apa kau disana'

'Mau tahu saja kau baka'

Muak! Aku masuk ke rumah dan membanting pintu.

DUAAAAAAAAKK

Aku tahu bagaimana wajah kagetnya Inoue melihat sikapku.

'Maaf. Orihime Inoue'

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Fufufufu.. Akhirnya chapter yang ke-2 siap juga next chapter mau certain apa ya?
*blank*

Maaf author payah. Baru kali ini buat multichap. Maaf kalau jadi ngawur ceritanya. Makasih untuk yang udah review.. Sangat membantu Sasa dan sangat menginspirasi Sasa.

Arigatou..
Ara Nara Tika: yaya.. Semoga Ulqui juga cinta Hime *ngarep juga*

Zae-Hime: Orang ketiga ya? Hmhm.. **

Kuro Nami: Hiks.. Hiks.. makasih. Semoga chap yang kali ini nggak mengecewakan. Arigatou

AriadneLacie: Hola~ Huaa.. Makasih udah mau ngajarin. Semoga kali ini bener ya. Arigatou

Mohon reviewnya serta saran yang membangun.
^o^/