"N-Naruto, kamu kenapa?" Tanya Hinata heran. Naruto tidak mengindahkan panggilan Hinata. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Naruto mengambil sedikit langkah kebelakang, seperti ia menjauhi Hinata.

"I-ini…tidak bohong kan?"

.

.

Takdir Benang Merah

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Fantasy

Rate : T

Warning: Alur laju, typo atau miss typo, OOC.

.

.

Naruto semakin menjauhi dirinya dari Hinata. Pikirannya berkecamuk, bercampur aduk tak menentu. Ia teringat, baru saja kemarin sepupu jauhnya mengatakan hal-hal aneh mengenai mitos di Jepang. Salah satunya adalah…

"…Benang merah…" gumam Naruto tidak percaya.

Hinata menautkan alisnya, ia tidak mengerti kenapa pemuda yang berada dihadapannya itu bersikap aneh. Melihat tingkah Naruto, mengingatkan Hinata pada dirinya tadi pagi. Wajah pucat, pikiran melayang, tak bisa berkata-kata. Oke, benar-benar sama persis. Hinata manggut-manggut ditengah kejanggalanya terhadap pemuda pirang itu.

"Naruto? Kamu baik-baik saja kan?" Panggil Hinata, mencoba menyadarkan Naruto.

BLUSH!

Seketika wajah Naruto memerah. "A-a-aku b-baik kok, hahahah." Jawabnya gagap. Digaruknya kepalanya yang tidak gatal. 'Aduh, bagaimana ini..' batin Naruto menangis. Ia akui, ia gelagapan menghadapi situasi seperti ini, mengingat mereka harus segera ke gedung upacara.

Hinata semakin merasa janggal. "Naru-"

"Y-ya!?" sela Naruto cepat. Saking gugupnya, Naruto bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. 'Ya Tuhan, aku ini kenapa sih' Naruto meringis dalam diam.

"Kamu tahu, dari tadi kita sudah ditinggalkan oleh kedua temanmu." Ucap Hinata yang sukses membuat Naruto memasang wajah konyolnya.

"APAA?"

"Pffft hehehe.." Hinata terkekeh pelan melihat reaksi Naruto. Pemuda yang baru ditemuinya itu benar-benar memberi banyak kejutan. Pertama, muncul bak pahlawan. Kedua, bersikap aneh dihadapannya. Dan sekarang, wajahnya seperti orang bodoh. 'Benar-benar unik.' Batin Hinata sembari tersenyum simpul.

Tentu saja, mendengar Hinata yang seperti menertawainya itu membuat Naruto terdiam seketika. "T-tunggu dulu! K-kau menipuku ya?!" ucap Naruto dengan nada panik. Semburat merah masih menempel di kedua pipinya, dan melihat wajah Hinata yang sedang tersenyum itu…

BLUSH!

Naruto benar-benar diluar kendali.

"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Habis, dari tadi sikapmu aneh sekali." Kata Hinata. Lalu kemudian ia berjalan melewati Naruto. "Sudahlah, ayo. Kedua temanmu sudah menunggu di depan." Tangannya memberi isyarat kepada Naruto agar segera bergerak.

Naruto terkesiap, lagi-lagi ia hanya terdiam menatap gadis bersurai indigo yang sedari tadi membuat kinerja jantungnya kacau. Naruto menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. "Kalau memang benar…benang merah itu…" dialihkannya pandangannya ke arah punggung Hinata yang semakin menjauh. "Apa mungkin dia…"

"Naruto! Cepatlah!" seru Hinata.

"I-iya!"

.

.

.

PROK PROK PROK

Terdengar tepukan tangan yang menggema di sebuah gedung besar setelah seorang wanita –maaf- berdada besar menyelesaikan pidatonya. Hinata, Naruto dan kedua temannya berhasil masuk dengan cara mengendap-endap. Mereka duduk di barisan pojok paling belakang, dan beruntung sekali tidak ada yang memperhatikan mereka.

"Ya ampun, syukurlah kita berhasil masuk. Terima kasih untuk kalian bertiga." Ucap Hinata pelan dengan tersenyum ke arah tiga pemuda yang ikut menyelinap ke sekolah bersamanya. Senyumannya semakin lebar saat menatap pemuda eksentrik dengan rambut pirang yang –entah kenapa- duduk jauh darinya. "Terutama kamu, Naruto." Sambungnya. Telinga Naruto memerah mendengar namanya disebut, sekilas membalas tatapan Hinata. "A-ah…bukan masalah…" dan langsung membuang muka.

.

Hinata memperhatikan sekitarnya, mencari-cari adakah orang yang dikenalnya. Ia pun menghela napas, panjang. 'Tentu saja Tenten dan yang lainnya duduk di depan.' Wajahnya tampak pasrah. Yah, tapi paling tidak, ketiga pemuda itu telah membantunya masuk dengan aman. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia ketahuan terlambat, diberi hukuman, dan dilapor pada ayahnya. Benar-benar mimpi buruk!

Sementara Hinata sibuk dengan pikirannya, Naruto justru masih berusaha mengendalikan detak jantungnya yang semakin bergemuruh, menyesakkan dadanya. Ini kali pertamanya Naruto merasakan sensasi luar biasa berkepanjangan dikarenakan seorang gadis yang baru ia temui. Sulit baginya untuk menafsir perasaan apa yang sedari tadi bergejolak di hatinya.

Naruto meremas kerah seragamnya. Dadanya memanas. Sungguh, ia sudah tidak tahan lagi.

"Hah, hah..hah…" napasnya yang terputus-putus memecah lamunan sahabat Naruto yang duduk di sampingnya.

Pemuda dengan kuciran rambut yang tinggi itu menyentuh pundak Naruto. Sontak Naruto kaget. "J-JANGAN SENTUH!" pekik Naruto tiba-tiba.

Sahabat Naruto itu menatapnya tidak percaya. Apa-apaan Naruto ini?

Tentu saja mendengar suara Naruto dengan oktaf tinggi secara tiba-tiba itu, juga membuat Hinata dan pemuda dengan coretan merah dipipinya menoleh dengan cepat. Naruto kenapa?

Hinata memasang raut wajah sedikit khawatir. Sudah ia duga, ternyata memang ada yang aneh pada Naruto. Pemuda berkulit tan itu bahkan tidak bersuara semenjak mereka tiba di gedung upacara. Kecuali jika ditanya. Itupun hanya sebatas anggukan atau gelengan.

"Hei Naruto." Panggil sahabatnya. Mencoba menyentuh lagi pundak Naruto. Namun Naruto menepisnya pelan.

"Sudahlah, Shikamaru. Aku tidak apa-apa." Jawab Naruto setengah berbisik tanpa menatap sahabatnya sedikitpun.

Pemuda yang disebut Shikamaru itu meneguk ludahnya. 'Apanya yang tidak apa-apa?' pikirnya heran. Shikamaru tahu. Ketika Naruto dibanjiri oleh keringat dingin dengan tidak elitnya, berarti memang ada yang tidak beres.

Tapi, dirinya yang selalu menganggap banyak hal itu merepotkan, tidak mau ikut campur dalam masalah sahabatnya. Toh dia yakin, Naruto pasti bisa mengatasinya sendiri. Shikamaru mengangguk yakin.

.

Bedanya dengan Hinata, ia justru malah merasa bersalah. Disangkanya keadaan Naruto yang makin memburuk itu dikarenakan pertemuan mereka. Siapa tahu kan Naruto juga tertular kutukan Dewa darinya.

Tapi, itu tidak mungkin. Hinata menggeleng kuat.

Sampai saat ini pun, Hinata masih dapat melihat dengan jelas benang-benang merah yang terikat disetiap jari orang-orang yang ada disana. Sangat jelas.

Benang merah dengan pola pita itu hanya seutas saja. Tidak terhubung dengan pasangan hidup seperti yang dibicarakan Hanabi. Ya, hanya seutas saja.

Namun, menyangkut kasus Naruto. Apa ia juga mengalami hal yang sama? Hinata berpikir keras. Tidak mungkinkan? Ya kan?

Diliriknya Naruto yang masih menunduk itu. Penglihatan Hinata mengatakan bahwa Naruto mengalami kegundahan hati yang terdalam. Seperti berusaha menyangkal fakta yang tiba-tiba mengejarnya. Tadinya Hinata juga seperti itu. Tapi efeknya tidak separah Naruto.

Lalu, bisa jadi yang dialami Naruto melebihi apa yang ia alami kan?

Tapi, itu tidak mungkin. Hinata masih menggeleng kuat.

Haruskah ia menanyakannya?

Tidak. Hinata tidak bisa. Memangnya ia siapa?

Jika ini sebuah cerita dongeng, Hinata akan mengkategorikan dirinya sebagai tokoh yang 'numpang lewat'. Tidak lebih, hanya itu.

PROK PROK PROK

Hinata tersentak mendengar tepukan tangan di gedung itu. Ah, ia sudah kelewat jauh dengan lamunannya. Ternyata upacara pembukaan sudah selesai. Dan Naruto…

Hinata menoleh cepat ke arah kursi yang tadinya diduduki pemuda pirang itu.

…sudah tidak ada.

Jadi, beginilah akhir pertemuan mereka.

Hinata hanya menatap kursi kosong itu sendu.

.

.

.

"Hey kamu! Gadis yang masih membawa tas dan tidak memakai sepatu khusus!"

Ah, Hinata kenal suara itu. Ia memutar kepalanya ke belakang. Tatapannya beradu dengan gadis yang memiliki cepolan kembar di rambutnya. Tampak mirip seperti telinga beruang.

Hinata terkekeh pelan. "Tenten, ada apa?" tanyanya.

Sedangkan gadis yang dipanggil itu Tenten menaikkan sebelah alisnya. Apa-apaan nih anak. Pikirnya.

Tenten merapikan seragamnya, lalu berdehem pelan. "Hinata, sikapmu terlalu santai. Aku tahu kamu nyaris telat kan?"

Bingo! Tenten memang keren. Instingnya kuat. Hinata hanya tersenyum seadanya.

"Setidaknya aku masih sempat masuk kan?" balas Hinata. Ah tidak. Sebenarnya ia sudah telat. Tapi berkat ajakan Naruto, ia tertolong.

Tenten melipat kedua tangannya. "Ya sudahlah."

Untuk kali ini Hinata tidak ingin menceritakan apapun mengenai kejadian tadi pada orang-orang. Tidak peduli apakah mereka sahabat baik Hinata atau tidak. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Dipikirnya pertemuannya dengan Naruto tadi memberikan dampak juga. Karena pemuda itu, pikirannya jadi berantakan.

Belum lagi masalah penglihatan benang merah yang baru didapatnya. Ah ia tidak ingin pertemuannya dengan Naruto dijadikan masalah baru baginya. Pun kalau bisa, ia berharap Naruto tidak muncul lagi dihadapannya.

Bodohnya ia. Naruto saja satu sekolah dengannya. Hinata merutuki dirinya.

"Hei Hinata."

Lagi-lagi Hinata tersentak. Ya ampun, sudah berapa lama ia melamun tadi?

Hinata menggaruk pelan pipinya sembari terkekeh. "Y-ya Tenten? Ada apa?"

Tenten menghela napas. "Sejak kapan melamun menjadi kebiasaanmu? Hari ini semester baru dimulai. Apa kepalamu terbentur saat liburan lalu?" Tanya Tenten heran. Tenten tahu jelas sifat Hinata. Ia dan Hinata adalah sahabat dekat sejak usia kanak-kanak.

Hinata yang benci dongeng cinta itu biasanya selalu ribut karena kelakuan adiknya. Dan baru kali ini Hinata jadi bertingkah sedikit berbeda.

"Nah lupakanlah. Kita harus segera mencari kelas baru kan?" ajak Hinata, dan dijawab dengan anggukan senang dari Tenten.

"Kamu benar! Wah, kuharap kita bisa sekelas lagi." Seru Tenten riang.

'Ya, semoga saja aku tidak sekelas dengan Naruto.'

.

.

.

"Ya tuhan…"

Hinata mengatup mulutnya tidak percaya. Matanya membulat sempurna. Apa yang ada ditatapannya saat ini benar-benar tidak disangkanya.

"Yah…kita tidak sekelas lagi Hinata." Ucap Tenten cemberut. Tapi perkataannya tidak mendapat respon dari Hinata.

Tenten menepuk pundak Hinata berkali-kali. "Hei hei Hinata." Panggilnya. Tapi Hinata tetap tidak menggubrisnya.

Akhirnya Tenten mencoba mengikuti arah pandang Hinata. "Eh? Jadi kamu duduk sebangku dengan cowok ya? Pfft pantas reaksimu berlebihan." Tenten manggut-manggut melihat denah tempat duduk yang sedari tadi mencuri perhatian Hinata.

Tangannya bergerak menunjuk ke arah denah yang ditempel di papan pengumuman tersebut. "Biar kulihat…"

Seketika matanya cerah. "Wah Hinata, kamu keren sekali bisa duduk sebangku dengan keponakan Jiraiya-sensei!" seru Tenten. Sebenarnya ia sedang berusaha menahan tawanya. Siapa juga yang tidak kenal keponakan Jiraiya-sensei? Si tukang onar yang dulunya pernah mempermalukan pamannya sendiri saat penerimaan siswa baru.

Penampilannya yang sangat mencolok lah yang membuat orang-orang tidak akan melupakannya.

Seseorang yang juga dikagumi karena bakatnya dibidang atletik. Pemuda dengan kecepatan lari paling sempurna di sekolahnya.

Seseorang yang juga telah membantu Hinata untuk menyelinap masuk ke sekolah.

Dan seseorang yang tidak ingin Hinata temui lagi.

"…Uzumaki Naruto."

.

.

Hancur.

Hancur sudah.

Bukan hanya sekelas. Tapi mereka juga sebangku!

'Jantungku…jantungku tersiksa..' batin Hinata menangis.

.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"

"Oi oi Naruto! Kau ini kenapa teriak-teriak seperti itu?!" Shikamaru Nara. Sahabat karib Naruto itu mencoba menenangkan kegilaan Naruto.

Baru saja mereka melihat papan pengumuman, dan Naruto tiba-tiba saja lari dengan cepat. Shikamaru dengan tubuhnya yang selalu malas-malasan itu tentu saja sampai kehabisan tenaga hanya untuk mengejar Naruto yang melejit dengan hebatnya.

"Hah hah hah…" napas Naruto memburu. Ia meremas kuat lututnya. Dadanya, hatinya, jantungnya, semuanya menyesakkan. Kakinya bahkan terasa lemas.

Shikamaru memandang heran Naruto. Sejak kapan Naruto menjadi seperti ini?

"Naruto, dari tadi aku bertanya kepadamu. Kau ini kenapa?!" Tanya Shikamaru, sedikit membentak. Tingkah pemuda pirang yang ada dihadapannya ini benar-benar membingungkan. Sekaligus membuatnya kesal. Dan itu membuat Shikamaru mau tidak mau harus ikut campur juga dengan masalah sahabatnya.

Naruto menatap tajam Shikamaru. "Kau tidak tahu…"

Kedua tangannya berpindah meremas kuat rambutnya. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika takdir jodohmu sudah ada dihadapanmu sementara kau baru mengenalnya!"

"A-apa maksudmu, Naruto?"

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Akhirnya bisa update juga.

Saya author yang nista ini memiliki banyak kendala saat menulis. Jadi harap maklum ya, heheh.

Chapter kali ini pendek ya? Maaf deh /slap/

Soalnya ga mau bikin yang lain nunggu terlalu lama, saya juga korban php soalnya *curhat*

Udah bisa nebak jalan ceritanya kayak apa kan?

Oh ya, terima kasih untuk reader yang udah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini, untuk yang fav, follow dan yang ngasih review, saya hadiahi ciuman deh /plak/

Yosh, seperti biasa, silahkan atuh reviewnya. Kritik dan saran sangat dibutuhkan loh~