Annyeong~
Author balik lagi nih bawa lanjutan SWLLM.. Berhubung ada readers yang pengen ff ini dilanjutin (walau ga banyak yg review), jadi author memutuskan untuk melanjutkannya... Moga-moga aja setelah ini yang review bertambah, seiring dengan bertambahnya chapter ff ini... Aaamiiin... u.u
Oia, author ingatkan lagi. Kalo semisalnya ada yg pernah baca ff ini di fb (dengan nama author C Ryu), berarti itu memang ff ini... ^^
Ok. Tanpa banyak bacot lagi, happy reading~ Hope u like it~
.:Someone Who Looks Like Me:.
.
Jo Twins (Boyfriend)
.
Warning: YAOI! Gaje. Typo(s) bertebaran.. Don't like, Don't read...
.
.
.
"Perkenalkan. Dia Lee Kwangmin yang mulai hari ini akan belajar bersama kalian di kelas ini,"
Tepat sekali. Seseorang yang diperkenalkan songsaengmin itu benar membuat seluruh murid yang berada di kelas itu sedikit err- atau mungkin sangat terkejut.
.
~~~ Someone Who Looks Like Me - Chap 2~~~
.
"Heii, kau.. Haruskah kau bersikap seperti itu terhadapku?" tanya seorang namja kepada namja lain yang sedang bersamanya.
"Ya, harus," jawab namja tersebut singkat. Membuat namja yang bertanya padanya mengalihkan pandangan ke sekitar mereka.
"Dan satu lagi, haruskah mereka menatap kita dengan ekspresi yang seperti itu?" tanyanya lagi.
"..." namja yang ditanya hanya diam. Ia benar-benar merasa tidak nyaman berjalan beriringan dengan namja yang sedang bersamanya saat sekarang ini.
"Heii, haruskah kau menjadi seperti orang bisu begitu?" Sang namja yang dari tadi bertanya masih tidak menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan namja yang bersamanya. Ia terus saja melemparkan pertanyaan-pertanyaan tanpa henti.
"Akh! Haruskah kau selalu bertanya padaku?" Akhirnya namja yang diketahui bernama Jo Youngmin itu tidak bisa lagi menahan kekesalannya. Ia tiba-tiba saja berhenti berjalan dan membalikkan badannya supaya bisa bertatapan langsung dengan orang yang membuatnya kesal saat itu. Siapa pun yang melihat ekspresi wajah Youngmin saat itu pasti akan langsung mengetahui bahwa namja itu saat ini benar-benar marah.
"Ada apa denganmu, heh? Kenapa kau berteriak begitu padaku?" Lee Kwangmin, namja yang sukses membuat Youngmin marah tersebut dengan mudahnya membalas kemarahan Youngmin dengan balik menunjukkan kekesalannya karena baru kali ini ia diteriaki seperti itu oleh orang lain. Bahkan orang tuanya sendiri tidak pernah melakukan hal itu terhadapanya.
"Kenapa katamu? Karena aku tidak suka denganmu!" jawab Youngmin masih dengan penuh kemarahan. Bagaimana tidak? Orang yang berada di hadapannya saat ini adalah orang yang telah membuat semua orang salah paham terhadapnya. Dialah orang yang telah merusak nama baiknya.
"Tidak suka? Apa alasanmu berkata begitu padaku?"
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskannya padamu," ucap Youngmin dingin kemudian melanjutkan langkahnya dengan cepat. Ia ingin segera terlepas dari namja yang berwajah sama persis dengannya itu. Memang tadinya dia berharap ada orang lain yang berwajah mirip dengannya dan melakukan perbuat yang buruk itu. Tapi setelah mengetahui kenyataan bahwa benar-benar ada orang yang seperti dirinya, membuat perasaannya jadi tidak karuan.
"Oke, kau memang tidak punya kewajiban untuk menjelaskan itu. Tapi kau punya kewajiban untuk mengantarku berkeliling sekolah ini. Kau tidak mungkin lupa dengan apa yang diucapkan songsaengmin padamu tadi kan, Jo Youngmin,"
Benar. Seperti yang diketahui, Kwangmin adalah murid baru dan dia belum tahu tempat-tempat dan ruangan-ruangan apa saja yang ada di SMA Taeyong. Jadi maklum saja kalau ia memerlukan seseorang untuk memberitahukan semua itu padanya. Terlepas dari 'gosip' yang beredar hari itu, Youngmin memang benar adalah seorang murid teladan dan ialah yang dipercayai oleh songsaengmin untuk melakukan itu semua.
Youngmin kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kwangmin yang saat itu sedang berdiri dengan penuh rasa kemenangan karena ia merasa telah menang dalam perdebatan kecil yang mereka lakukan.
"Ck. Disaat seperti ini aku merasa menjadi murid teladan itu benar-benar tidak menyenangkan," ucapnya kemudian berjalan ke arah Kwangmin.
"Oh, jadi kau murid teladan? Tidak tergambarkan dari sikapmu," ucap Kwangmin yang diikuti oleh tatapan tidak senang dari Youngmin. Youngmin benar-benar yakin bahwa ia memang tidak menyukai namja yang entah kenapa bisa menduplikasikan wajahnya itu.
'Memangnya siapa yang membuatku bersikap seperti ini padamu, heh?' gumam Youngmin di dalam hati. Ia sudah tidak ingin lagi memperlihatkan sikap tidak patut dicontoh itu kepada murid-murid yang sudah sejak tadi melihat kejadian tersebut. Mereka menatap kedua nemja itu dengan tatapan tidak percaya. Entah itu tidak percaya karena melihat kesamaan wajah manusia yang ada di hadapan mereka, ataukah tidak percaya karena melihat sikap Youngmin yang sangat berbeda dari yang biasanya ia perlihatkan. Hanya mereka dan Tuhanlah yang tahu.
Menyadari tatapan orang yang berada di sekitarnya, Youngmin kemudian membungkuk sebagai permohonan maaf -entah untuk apa-, kemudian 'menyeret' Kwangmin menjauhi tempat itu. Kwangmin yang terkejut dengan 'penyeretan' Youngmin hanya bisa berjalan dengan sangat tidak elitnya sambil berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah Youngmin. (Silahkan bayangkan sendiri seperti apa itu.. :3)
.
"Permisi Jo Youngmin sang murid teladan.. Bisakah kali ini aku bertanya padamu?" ucap Kwangmin disaat jam pelajaran kosong yang dialami(?) murid kelas 2-A saat itu. Proses kegiatan 'mengelilingi sekolah' yang dilakukan kedua namja itu tadi memang berjalan tanpa sekalipun Kwangmin bisa angkat bicara. Youngmin sengaja membuat dirinya sendiri terus saja berbicara panjang lebar tentang sekolah mereka tanpa sedikit pun memperlihatkan adanya kesempatan Kwangmin untuk mengeluarkan suaranya. Setiap kali Kwangmin ingin berbicara entah itu untuk bertanya atau hanya sekedar memberikan komentar, Youngmin selalu saja menghentikannya dengan kembali bercerita yang mungkin sudah bosan didengarkan oleh Kwangmin.
Dan kali ini, Kwangmin berusaha memulai percakapannya dengan Youngmin yang diharapkan bisa menjawab semua pertanyaan yang sudah sejak tadi dipikirkannya. Tapi sayang, sepertinya Youngmin memang tidak ingin berbicara dengannya. Terlihat saat sekarang ini namja itu hanya fokus melihat ke arah buku yang sedang berada ditangannya.
Minwoo, sahabat sekaligus tetangga Youngmin yang duduk di sebelah Youngmin mulai risih dengan keberadaan Kwangmin yang matanya terus saja memperhatikan Youngmin sejak ia mengucapkan kalimatnya tadi.
"Ahh, Lee Kwangmin.. Kau tahu, sepertinya Youngmin memang tidak ingin berbicara padamu," ucap Minwoo mulai angkat suara setelah kebisuan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Kwangmin menoleh ke arah Minwoo tanpa mengeluarkan satu kata pun. Ia hanya memperlihat raut wajah yang seakan berkata 'Lalu? Apa hubungannya denganmu?'
"Aku akan mencoba menjawab pertanyaan yang ingin kau ajukan padanya," Minwoo berkata sambil melirik ke arah Youngmin yang masih sibuk dengan bukunya.
Beralih menatap Minwoo, Kwangmin kemudian mulai angkat suara, "Kau siapa?"
"Aku sahabatnya. Mungkin untuk saat ini akulah orang yang paling dekat dengannya di sekolah ini,"
"Umm, baiklah,"
"Sebelumnya, kusarankan kau untuk mengambil salah satu kursi di dekatmu dan duduklah disana. Jangan hanya menjongkok tidak jelas seperti itu,"
"A..eh.. Iya juga ya. Ternyata kakiku terasa kesemutan karna itu," ucap Kwangmin yang kemudian mengikuti saran Minwoo.
'Ini orang aneh bener, serius ==" ' ucap Minwoo dalam hati.
"Jadi, yang ingin kau tanyakan?"
"Itu, kau tahu kenapa dia terlihat begitu membenciku? Padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya,"
"Sebelumnya, kau ingat apa yang kau lakukan tadi malam?"
"Eh, tadi malam? Aku hanya pergi berjalan di sekitar tempat tinggal baruku. Memangnya ada apa dengan itu?"
"Apakah kau bertemu dengan seorang yeoja?"
"Ya, aku bertemu dengan seorang yeoja dan kemudian mencegatnya," jawab Kwangmin terus terang. "Ah, jangan-jangan.." lanjutnya kemudian.
"Benar. Kalau kau hubungkan kejadian itu dengan kemiripan wajahmu dengan Youngmin, kau akan temukan alasan mengapa ia membencimu,"
"Ahahaha... Aku mengerti sekarang. Jadi dia bersikap tak bersahabat padaku karena ia merasa apa yang aku lakukan terhadap yeoja itu telah membuatnya dituduh dan itu membuat posisi murid teladannya terancam atau sejenisnya begitu?" ucap Kwangmin sambil tertawa yang membuat seisi kelas melihat kearahnya.
"Heii, murid teladan.. Haruskah aku umumkan ke seluruh murid yang ada di sekolah ini bahwa akulah yang melakukan itu? Haha. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Image 'murid nakal' sudah tidak asing lagi bagiku," terang Kwangmin kemudian yang masih diiringi dengan tawa.
Mendengar respon yang diberikan oleh Kwangmin terhadap alasan kenapa dirinya membenci namja itu, Youngmin pun menutup buku yang tadi dibacanya dan mulai angkat suara, "Lakukan itu."
Kwangmin berhenti tertawa lalu menatap lekat mata Youngmin. Terlihat disana Youngmin membalas tatapan yang diberikan Kwangmin padanya dengan tatapan yang sama. Kebisuan terjadi untuk beberapa saat yang kemudian diakhiri oleh ucapan Kwangmin.
"Baiklah," ucap Kwangmin tegas.
Seminggu berlalu sejak kejadian itu. Tetapi belum juga terlihat adanya perbedaan sikap yang ditunjukkan oleh Youngmin kepada Kwangmin. Youngmin masih saja mempertahankan sikap dinginnya terhadap namja yang satu itu. Sebisa mungkin ia akan menghindari pembicaraan dengan Kwangmin kecuali ada pembicaraan yang menyangkut dengan diskusi kelompok atau sejenisnya. Entah apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Youngmin sampai bersikap seperti itu. Padahal Kwangmin sudah melakukan hal yang diinginkannya sehingga nama baiknya sudah kembali dan akibatnya Kwangmin menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah. Tetapi sepertinya semua itu tidak cukup menjadi alasan supaya Youngmin merubah sikapnya kepada namja yang berwajah serupa dengannya itu.
.
Hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Pagi ini Kwangmin kembali mencoba memulai percakapan dengan Youngmin tetapi hasilnya nihil. Masih tidak ada respon baik yang ditunjukkan oleh Youngmin. Hal itu membuat Kwangmin risih.
Youngmin hanya menunjukkan sikap dingin itu kepadanya. Dengan orang lain? Youngmin selalu berbicara lembut dan menunjukkan sikap teladannya. Guru-guru pun begitu. Sekali pun Kwangmin mendengar Youngmin berkata bahwa ia membenci seorang guru, tapi disaat ia berbicara dengan guru itu, ia tidak pernah menunjukkan rasa bencinya. Ia tetap akan berbicara dengan dihiasi senyum simpul di wajahnya. Tapi kenapa perlakukan berbeda ditunjukkan Youngmin padanya?
Apakah ada hal lain yang dibenci oleh Youngmin yang ada pada dirinya? Kwangmin benar-benar berpikir keras mengenai hal itu. Sampai suatu hari ia mengajak Minwoo berbicara disaat Youngmin sedang dipanggil untuk menemui salah seorang guru di kantor.
"Bisa kita bicara?" ucap Kwangmin kepada Minwoo yang saat itu sedang sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya.
Minwoo menghentikan kegiatannya kemudian menoleh ke arah Kwangmin. "Ya?"
"Pernahkan Youngmin cerita padamu kenapa sikapnya masih sama saja walaupun aku telah melakukan apa yang dia ucapkan waktu itu?"
"Bercerita tentangmu saja dia tidak pernah," jawab Minwoo cepat yang sukses membuat Kwangmin terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan perasaannya.
"Tidak pernahkah?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu kenapa dia masih saja membenciku,"
"Kau keberatan dengan perlakuannya itu?" tanya Minwoo.
"Tentu saja," jawab Kwangmin tanpa mikir panjang.
"Kau begitu mudah saja,"
"Mudah?"
"Iya. Kalau kau tidak mau Youngmin membencimu, buatlah agar dia menyukaimu," ucap Minwoo enteng.
"Eehh.. Menyukaiku? He-heii.. A..aku tidak punya perasaan yang seperti itu terhadapnya," jawab Kwangmin dengan sedikit terbata-bata karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan Minwoo.
"Kenapa? Aku hanya sekedar memberikan saran padamu. Kalau kau tidak mau ya tidak usah lakukan,"
"A..ahh.. Itu..."
.
.
TBC
(Words: 1.585)
.
Oke. Author udah lanjutin chap 2nya tuh. Ceritanya udah diperpanjang (dikit)... :3
Review juseyo~ ^^
