Summary:
Namanya Haruno Sakura. Usianya baru 16 tahun, tetapi ia sudah kehilangan masa depannya. Kehilangan segalanya karena terpaksa. Ia harus menghidupi dirinya sendiri yang kini sebatang kara, tanpa saudara dan orang tua. Semua meninggalkannya, ia terpaksa melakukan itu semua karena tuntutan untuk terus hidup. Namun, semua itu akhirnya berakhir saat ia bertemu laki-laki itu.
"Untitled"
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning:
'semi-hard' Lemon, OOC, Bad plots
Pair: SasoSaku
Hope you like it.
"NI"
"Putuskan Sakura, dan serahkan tubuhnya padaku," ujar Sasori sambil mengeluarkan seringai iblisnya, membuat Sakura bergidik ngeri.
Rahang Sasuke seketika itu juga mengeras. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus mengorbankan kekasihnya demi menjaga pamor seorang Uchiha? Ataukah ia harus membiarkan Sakura tetap dalam pelukannya, tetapi pamornya runtuh.
"Tidak mau," sahut Sasuke dengan nada datar. Matanya memandang tajam tepat ke arah iris hazel milik Sasori.
"Cih. Ternyata nyalimu besar juga, Uchiha," ejek Sasori sarkastik, "Yah, kau bisa memastikan seisi sekolah ini akan mengetahui hubungan seks kalian dalam waktu tiga jam," lanjut Sasori tajam, "Hanya tiga jam."
Sasori pun berjalan menjauh dari kedua sejoli yang saat ini hanya terpaku di tempat masing-masing. Namun berbeda dengan Sasuke, Sakura ternyata memberi respon yang lebih cepat daripada lelaki itu.
"Tunggu, Sasori-san!" seru Sakura, menghentikan pergerakan Sasori yang segera membalikkan tubuhnya dan menyeringai. Sakura pun melanjutkan, "Aku ikut permainanmu."
Sasuke tersentak akan pernyataan Sakura. Namun pandangan memohon dari Sakura pun mengurungkan niatnya untuk mencegah wanita itu. Ia hanya menelan kepahitan karena harus kehilangan kekasihnya. Rahangnya kembali mengeras. Kedua tangannya mengepal erat, membuat buku-buku jari laki-laki itu memutih dan urat-urat di tangannya tampak dengan jelas.
'Maafkan aku, Sasuke. Ini demi dirimu,' batin Sakura, sambil menahan tangisnya yang seharusnya sudah tumpah sedari tadi.
Sasori pun puas akan jawaban Sakura. Tanpa ba-bi-bu, ia segera berjalan ke arah wanita bersurai merah muda itu dan menatapnya dengan pandangan menggoda, kemudian mengecup bibir gadis itu sekilas. Melihat kekasihnya diperlakukan demikian, emosi Sasuke pun meledak. Ia segera melayangkan tinjunya ke arah wajah Sasori. Namun Sasori tidak tinggal diam, ia segera menahan gerakkan Sasuke dan memelintir tangan besar itu ke punggung sang empunya.
"Sakura, kupikir kau mencari ini," ucap Sasori sambil merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah benda yang sangat dikenal Sakura. Ekspresi Sakura yang terkejut akan keberadaan bra-nya di tangan Sasori, membuat laki-laki itu menyeringai puas. Tanpa tedeng aling-aling, Sakura segera menyambar bra-nya dan berniat pergi ke toilet untuk memasangnya, namun tangan Sasori yang bebas menahan pergerakkannya. "Biarkan aku yang memasangkannya, Sakura-chan," bisik Sasori tepat di depan telinga Sakura, membuat Sakura mendesah pelan.
"Sakura, pergilah!" seru Sasuke. Perkataan Sasuke membuat Sasori geram, sehingga laki-laki itu mempererat pelintirannya di tangan Sasuke, membuat Sasuke meringis kesakitan.
"Uchiha Sasuke, ingatlah. Sakura sudah menjadi milikku," desis Sasori dingin, kemudian melepaskan pegangannya pada tangan putih pucat itu. Pandangan Sasori pun teralih kepada Sakura. Ia berjalan mendekati wanita itu dan menyudutkannya di antara tubuh Sasori dan tembok di belakangnya. Sasori membuka kancing kemeja Sakura dan melepaskannya dari tubuh wanita malang itu. Pemandangan kedua bukit yang cukup besar itu membuat Sasori gemas. Laki-laki itu pun mencubit kedua puting merah muda milik Sakura, dan membuat Sakura mendesah hebat karena kenikmatan.
Sasuke geram melihat pemandangan itu, namun lagi-lagi ia tidak berbuat apa pun.
Setelah itu, Sasori memakaikan bra Sakura pada tubuh wanita itu dan membiarkan Sakura mengenakan kemejanya seorang diri. Setelah itu, ia segera melingkarkan tangannya di bongkahan kenyal di bagian belakang tubuh Sakura dan menuntun wanita itu menjauh dari pemuda raven yang tengah melihat mereka dengan geram.
"Awas kau, Sakura. Akan kubuat kau menyesal," desis Sasuke pada dirinya sendiri.
"Welcome to our home, Sakura-chan!" kata Sasori sambil tersenyum menggoda pada wanita di sebelahnya.
Sakura memandangi bagian dalam rumah itu sembari menggenggam pegangan kopernya. Bangunan dengan gaya kuno khas victorian kini terpampang jelas di depan matanya. Ia mendesah kagum saat melihat interior rumah yang terlihat sangat mahal dengan sebagian besar bahan dasarnya adalah kayu mahoni yang dipelitur sedemikian rupa sehingga mengilap. Rumah dengan kesan gelap itu seakan-akan menghipnotis Sakura, membuat kakinya melangkah entah ke mana, menuntunnya untuk melihat-lihat segala perabotan yang ada.
Sebuah permadani indah dengan gambar abstrak berwarna gelap, tergelar bebas di bagian utama rumah itu. Sakura berjongkok untuk meraba permukaan permadani itu. Seketika itu juga indra perabanya mengangkap kelembutan dari permadani itu. Pandangannya teralihkan pada sebuah bingkai besar di salah satu sisi ruangan. Bingkai dengan lukisan seorang wanita berambut merah yang tampak elegan dengan gaun panjang model victorian woman yang ia kenakan.
"Kau menyukai rumah ini, Sakura-chan?" tanya Sasori sambil memeluk Sakura dari belakang. Tanpa sadar, Sakura mengangguk, membuat pria berambut merah itu tersenyum senang. 'Awal yang baik,' pikir Sasori senang. Pria itu menyibak rambut Sakura dan mulai menciumi tengkuk Sakura. Jilatan dan gigitan-gigitan kecil ia hujani di tengkuk wanita yang tengah mendesah itu. Tanpa banyak bicara, Sasori segera membalikkan tubuh Sakura dan melumat bibir Sakura. Sakura hanya pasrah dan membalas ciuman yang Sasori berikan.
Tangan Sasori mulai jahil dengan menggerayangi dada Sakura yang cukup menggiurkan baginya. Ia melepas kancing kemeja Sakura dan mulai menjilat bagian di atas bra hitam Sakura yang tadi sempat ia simpan di saku celananya. Karena menganggap bra itu mengganggu, ia menarik paksa bra itu sehingga talinya putus. Tanpa ba-bi-bu, Sasori segera melahap buah dada Sakura yang sangat seksi untuknya.
Sakura mendesah tidak keruan kala Sasori menggigit dan sedikit menarik putingnya yang cukup besar. "Sasori... aaahh.. Ahh Saso... aahh," desah Sakura. Peluh mulai menetes di setiap inci tubuhnya, membuat wanita itu tampak lebih menggoda dari sebelumnya.
"Panggil aku 'Sasori-kun', Sakura-chan," ucap Sasori saat ia menghentikan sebentar aktivitasnya.
"U-uh," sahut Sakura. Wanita itu sudah tidak tahan lagi. Ia segera mendekatkan bibirnya pada bibir Sasori dan melumatnya dengan keras. Sakura dapat merasakan Sasori yang tersenyum di sela-sela pagutannya.
Tiba-tiba, saat mereka tengah berpagutan, dengan Sakura yang setengah telanjang, seseorang berdeham agak jauh di sebelah mereka, "Sumimasen."
Sasori segera melepas pagutannya dan menoleh. Ia mendapati kakak sepupunya tengah memandang mereka dengan tatapan horror. Sasori mendecih dan melambaikan tangannya untuk mengusir laki-laki itu. Namun laki-laki dengan rambut merah seperti Sasori itu tidak beranjak dari tempatnya, ia justru memandangi mereka dengan seringai yang tak kalah menyeramkannya dengan milik Sasori―mungkin lebih menyeramkan karena mata pemuda itu dikelilingi warna hitam tanda ia kurang tidur.
"Bisakah kau melakukannya di tempat lain, Saso-chan?" tanya pemuda itu dengan suara datar, namun dengan seringai dan mata yang berkilat penuh nafsu saat melihat wanita setengah telanjang yang tengah berdiri di depan Sasori.
"Gaara-nii, pergilah. Kau tidak lihat kami sedang asyik?" tanya Sasori kesal. Ia membuang pandangan muak pada pemuda bernama Gaara itu.
"Hanya ada dua pilihan. Pindah atau kulahap wanita itu," ucap Gaara sambil tetap mempertahankan seringainya.
Sasori pun mendengus kesal. Ia bergegas mengangkat tubuh Sakura dengan mudahnya ke atas pundaknya. Saat ia melintas di depan Gaara, Gaara sempat meremas pantat Sakura, membuat gadis itu mendesah pelan. Desahan itu membuat Gaara bernafsu. Namun ia menahannya, dan memilih untuk menunggu tanggal mainnya.
"Aku juga ingin mencobamu, wanita merah muda," bisik Gaara sambil tersenyum miring.
"Sasori-kun, kita mau apa?" tanya Sakura saat Sasori selesai menutup pintu kamarnya yang sangat megah itu. Sakura saat ini tengah duduk di atas sebuah ranjang berukuran king size yang sangat mewah. Ranjang itu empuk dan sangat nyaman untuk ditiduri.
"Seharusnya kau sudah tahu, Sakura-chan," ucap Sasori sambil melepas kemejanya. Ia berjalan mendekati Sakura dan menempelkan dahinya di dahi Sakura. Mereka berpandangan sejenak. Pandangan mata Sasori berbeda dari biasanya. Lebih lembut dan sarat akan proteksi, membuat pipi Sakura memerah. Wanita itu menundukkan kepalanya, namun dagunya segera ditahan dengan satu jari oleh Sasori. Pria itu mengecup bibir Sakura dengan lembut. Sakura tidak menolaknya, bahkan ia memejamkan mata dan menikmati kala Sasori membuka paksa bibirnya dan meminta akses lebih ke dalam mulutnya.
Perlahan, Sasori mendorong tubuh Sakura dengan lembut dan membuat wanita itu berbaring di hadapannya. Tanpa menunggu waktu lama, ia menindih tubuh Sakura, dan sambil tetap memagut bibir wanita itu, Sasori memainkan kedua puting Sakura yang sudah mulai mengeras itu.
"Ngh..." desah Sakura. Tubuhnya menggeliat hebat di bawah Sasori. Ia menggenggam tangan kanan Sasori dan menuntunnya untuk memainkan lubang senggamanya.
Dengan senang hati Sasori memainkan lubang senggama Sakura. Ia memasukkan jari tengahnya ke dalam daerah lembab itu dan mulai memutar-mutarnya, mencari-cari titik-titik sensitif yang mampu membuat tubuh Sakura menggelinjang hebat. Sasori tersenyum dan menambahkan sebuah jari lagi untuk menemani jari tengahnya. Semakin cepat Sasori memaju-mundurkan jarinya, semakin cepat pula pinggul Sakura bergerak untuk meminta pelayanan lebih dari Sasori.
"Mmmmhhh..." Sakura berusaha melepaskan bibir Sasori dari bibirnya, agar ia dapat mengatakan keinginannya. Sasori mengetahui maksud wanita itu dan bergegas melepas bibirnya dari bibir Sakura, sehingga meninggalkan jejak-jejak saliva yang menggantung membentuk sebuah jembatan penghubung antara kedua bibir itu.
"Hm?"
"Ahh.. kumoho-n.. aahh.. mm.. Saso.. aahh.. masukkan... aaahh.. ooh.. anghh.." racau Sakura tidak keruan saat Sasori semakin cepat memaju-mundurkan kedua jarinya.
"Katakan, Sakura-chan," bisik Sasori dengan suara yang sangat menggoda.
"Masukkan... ooh.. aahh.. masu-masukkan milikmu... aahh.. kumohon..." Sakura kembali meracau saat keinginannya tidak juga dipenuhi oleh Sasori.
Alih-alih mempercepat gerakannya, kini Sasori justru memperlambatnya, membuat Sakura kembali menggila. Laki-laki itu tersenyum penuh arti dan bertanya, "Apa, Sakura-chan?"
"Ah, kumohon masukkan penismu, Sasori-kun," bisik Sakura lirih. Sasori tertawa mendengar penuturan Sakura. Ia segera melahap buah dada Sakura dengan satu tangan melepaskan celana panjangnya.
Sasori berdiri di samping tempat tidur untuk melepaskan celana dalamnya. Batang kejantanannya pun mengacung dengan sempurna di hadapan Sakura, membuat wanita itu tersipu malu.
"Duduklah, Sakura," bujuk Sasori. Sakura pun segera mengikuti perintah Sasori. Ia duduk di pinggiran ranjang, dan segera mengetahui keinginan Sasori. Wanita itu bergegas memasukkan batang kejantanan Sasori ke dalam mulutnya. Ia mengulum dan menggigit pelan seluruh bagian penis yang bisa masuk ke dalam mulutnya. "Eeerrhh.. Terus Sakura-chan.. aahh.." erang Sasori. Ia merasakan kenikmatan yang tidak terhingga merayapi tubuhnya.
Sakura mempercepat kulumannya. Tanpa melepaskan penis itu, Sakura memijit testis Sasori membuat pria itu meracau dengan tidak jelas. Tangan Sakura tidak berhenti menggerayangi batang kejantanan Sasori dan juga buah zakar pemuda itu. Ia bahkan menggigit ujung penis Sasori saking gemasnya. Sasori semakin kuat mendesah, dan tanpa terasa, ia mencapai klimaksnya dan menyemburkan spermanya yang cukup banyak ke dalam mulut Sakura. Dengan lahap, Sakura menjilati seluruh sperma yang mengalir dari penis Sasori sampai habis.
"K-kau hebat, Sakura-chan," puji Sasori sambil membelai rambut Sakura dengan rasa sayang.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Sakura mendongak dan menatap Sasori dengan penuh permohonan. Ia tidak peduli siapa partner bersetubuhnya saat ini. Yang jelas ia sangat membutuhkan kepuasan dan kenikmatan di dalam lubang senggamanya. Melihat raut permohonan yang sangat jelas dari wajah Sakura, Sasori segera tersenyum simpul. Ia segera membaringkan tubuh Sakura dan tanpa banyak bicara, ia berjongkok di depan kemaluan wanita itu. Dengan rakus, ia menjilati lubang senggama gadis itu yang masih kering.
Sakura mendesah hebat saat Sasori memasukkan lidahnya ke dalam daerah lembabnya. Lidah pria itu memijit dan menekan-nekan vaginanya, membuat libido Sakura semakin kuat.
"Aaaahhh.. teruss.. aaahh.. nghhhh.. lebih cepat... aaahh.." erang Sakura dengan kedua kaki yang menjepit kepala Sasori, agar kepala pria itu semakin terbenam di antara kedua pahanya.
Tanpa dikomando, Sasori menjilati daerah wanita yang sudah tidak perawan itu lagi. Ia mengaduk-aduk dengan penuh semangat vagina itu, membuat lawan mainnya menggeletar hebat.
"Aaahh.. Saso-kun.. aku.. aahh.. akan sampai.. aaahh.." jerit Sakura.
"Keluarkan, Sakura," ujar Sasori di sela-sela jilatannya.
Tak lama kemudian, cairan yang menurut Sasori enak itu pun keluar dari dalam vagina Sakura. Sasori menjilat dan menyeruput cairan itu sampai habis, sedangkan Sakura terkulai lemah di atas tempat tidur.
"Suara itu benar-benar seksi," gumam Gaara dari balik pintu kamar Sasori. Pria berambut merah dengan tato kanji 'Ai' di dahinya itu tengah menguping perbuatan adik sepupunya terhadap wanita berambut merah muda itu. Tangannya tidak bisa diam. Ia terus memijit-mijit penisnya untuk menyalurkan nafsunya pada wanita incarannya itu.
Perlahan Gaara mendesah akibat perbuatannya sendiri. Ia membuka ritsleting celanannya dan mulai mengocok penisnya dengan tempo yang teratur saat desahan wanita yang tengah dipermainkan oleh Sasori itu merayap di telinganya. Desahan yang sangat seksi dan membuatnya ingin segera menyetubuhi wanita itu tanpa ampun.
"Aaah.. Aku tidak tahan... aah.." desah Gaara dengan mata terpejam.
Sasori kini berada tepat di atas tubuh Sakura. Tangannya tengah menuntun penisnya ke dalam vagina Sakura. Saat penis Sasori sudah hampir seluruhnya masuk ke dalam lubang vaginanya, Sakura menggigit bibirnya dan memejamkan mata untuk menikmati sensasi luar biasa yang diberikan Sasori.
"Mmhh..." desah Sasori. Pria itu merasakan lubang yang masih sempit itu memijat-mijat batang penisnya yang sudah kembali tegang. Ia pun mendorong pinggulnya sedikit lebih keras agar seluruh batang penisnya masuk ke dalam lubang itu. Perlahan tapi pasti, Sasori mulai menaik-turunkan pinggulnya, sehingga menimbulkan gesekkan di dinding vagina Sakura.
"Aarrhh.. fuck me harder, Sasori... aahhh," pinta Sakura dengan desahannya yang hebat.
Sasori pun menuruti kemauan Sakura. Ia mempercepat gerak pinggulnya, dan membuat Sakura keenakkan. Tak hanya Sakura yang merasakan nikmat duniawi itu. Sasori pun merasakannya. Pria berambut semerah darah itu memejamkan matanya selama pinggulnya naik-turun, dan batang kemaluannya dijepit vagina Sakura.
"Rrhh.. Seharusnya.. ahh.. dulu aku yang membawamu pulang dari pelacuran itu, Sakura-chan... nghh.. aahh," racau Sasori sambil tetap menjaga tempo gerakkan pinggulnya.
Sakura menghentikan sejenak gerakan pinggulnya yang sedari tadi menyelaraskan gerakan Sasori. Ia mencerna kata-kata Sasori barusan. Ia memejamkan matanya dan berusaha menafsirkan maksud perkataan Sasori. Detik berikutnya ia mengerti.
Dan ingatan akan hari itu pun kembali menghantui otaknya.
To be continued.
Wkwkwkwk, gimana lemonnya? Cukup hot gak?
Fuuhh.. agak gemeteran nih aku nulisnya ._. belom pernah melakukan 'itu' sih aku -_-
Mendingan, kita liat balesan review aja nih yaa~ cekidot!
-Anonymous Hyuuga: Ahahahahaha~ udah gak penasaran kan? Um, Sasori parah yaah xD Makasih yah udah mau baca dan mereview ;) *peluk dan cium*
-hanazono yuri: Update kilat? Siap bos! Kalo gak ada kendala, yaahh.. ;) Arigatou Yuri-chan, udah membaca dan mereview ceritakuu~
-angodess: ah bisa aja kamu / update kilat mungkin bisa, tapi kalo tiap hari... um... kita liat aja yaah~ ;) arigatou gozaimasu!
