Declaimer: hetalia kepunyaannya himaruya-sama yang awesome! Kalo hetalia punya saya pasti ore-sama sudah saya nikahi! XD
Warning: OOC, OC, ABAL, typos, tidak sesuai dgn judul.
DON'T LIKE DON'T READ
-RnR-
Ch.2
'Capek banget! Gak awesome banget sampe gak bisa istirahat.' Keluh Gilbert dalam hati. Sudah mendekati tengah malam dan di luar hujan deras.
"Terima kasih atas kerja samanya!" Rapat baru saja selesai. Gilbert sangat lelah. Otaknya bekerja seharian penuh, dipenuhi ini dan itu.
'Setelah ini aku harus pergi ke klub untuk menemui dua orang ga awesome itu.' Pikir Gilbert dalam hati. Ia menghela nafas dan mengemas barang-barangnya ke dalam tasnya. Kemudian ia keluar ruang kerjanya dan turun kebawah. Membuka payungnya dan berjalan melewati derasnya hujan yang mengguyur kota London tersebut. Ia terpaksa tidak menunggangi kudanya karena kudanya dia tinggalkan di kandang di rumahnya sepulang dari makan-makan bersama 2 sahabat terbaiknya.
Tak lama kemudian, Gilbert sampai. 'Bangunan yang hidup.' Pikir Gilbert dalam hati. Bangunan tua klub sekaligus penginapan milik Francis ini memang seakan tak pernah tidur. Lampu-lampu bangunan itu memang masih banyak yang menyala. Suara-suara nyanyianpun masih terdengar.
Saat Gilbert membuka pintu klub. Di sana terlihat 2 sahabatnya sedang duduk menyantap cemilan di bar. Francis menoleh, "Lama sekali kau! Kami sudah menunggu disini berjam-jam!" Keluh Francis.
"Ah, sudahlah. Karena aku sudah datang, lebih baik kita langsung aja!" Gilbert langsung mengeluarkan kostum polisi mereka, "Ini aku bawakan bajunya. Sudah dicuci dan disetrika, jadi jangan complain lagi, Ok?"
Begitu mereka menerima baju dari Gilbert, mereka langsung ke kamar mandi untuk mengganti baju. 5 menit kemudian mereka keluar.
"Semua lengkap?" Tanya Gilbert.
"Tentu!" Kata kedua sahabatnya.
"Lebih baik kita keluar lewat pintu belakang saja." Usul Francis.
"Tentu saja. Kalau tidak, repot kalau sampai ketahuan yang lain." Kata Antonio sambil merapikan bajunya.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo!" Kata Gilbert. Mereka keluar dari belakang dan berjalan di bawah remang-remang lampu kota London yang basah.
"Brrr.., dingin sekali! Bener-bener ga awesome! Seharusnya aku tadi membawa jaket." Keluh Gilbert kedinginan. Ia memeluk dirinya sendiri untuk mendapat kehangatan.
"Iya benar. Seharusnya kita tadi membawa jaket." Kata Antonio yang dalam keadaan yang sama seperti Gilbert, memeluk dirinya sendiri untuk mendapat kehangatan sambil memakan tomat segar yang entah datang dari mana.
Di tengah jalan tiba-tiba ia mendengar teriakan wanita. Mereka langsung bergegas pergi ke sumber teriakan. Kemudian mereka berhenti di depan sebuah mension besar bergaya eropa barat. 'Sepertinya terjadi pembunuhan lagi.' Pikir mereka.
Terlihat seseorang berbaju maid keluar dari mension. Wanita itu terlihat berkeringat dingin dan ketakutan. "Tolong! Tolong!" teriak wanita itu. Wanita itu kemudian melihat Gilbert, Francis dan Antonio.
Ia mendatangi Gilbert, Antonio dan Francis. "Tolong, Pak Polisi! Nyonya saya.." Teriak wanita itu disela-sela sesenggukannya. "Ada apa, Wanita cantik?" Tanya Francis.
"Nyonya saya dibunuh.. hiks.. darah bercipratan dimana-mana.. hiks.. tubuh nyonya saya di potong-potong.. hiks hiks.." Kata wanita tersebut dan kemudian kembali menangis.
"Baiklah kalau begitu. Francis dan aku akan tinggal di sini untuk mengurus ini, Antonio kau pergilah ke markas dan laporkan tentang hal ini ke atasan." Perintah Gilbert.
"Markas? Markas apa?" Tanya Antonio bingung.
"Tentu saja markas polisi, bodoh! Memang kau bekerja dimana? Dasar gak awesome." Balas Gilbert.
"Oh, Ok!" Kata Antonio mengerti. Kemudian ia mulai berlari menuju markas polisi terdekat dan kami berjalan masuk ke dalam mansion.
"Sudah jangan menangis. Semua akan baik-baik saja." Hibur Francis sambil menautkan sebelah tangannya ke pundak wanita tersebut.
"Kamar nyonyamu ada di mana?" Tanya Gilbert.
"A-ada di lantai dua." Jawab wanita itu.
Gilbert berjalan menaiki tangga. Kemudian berbelok ke kanan dan berhenti di depan pintu yang terbuka. Seperti yang dikatakan wanita tadi, kamar itu penuh dengan cipratan darah segar. Tuan rumah tergeletak tak berdaya dengan tubuh yang sudah terpisah-pisah. Gilbert memasuki ruangan penuh dengan darah itu. Ia memeriksa seluruh ruangan tersebut, tetapi tak ada tanda-tanda si pelaku meninggalkan bukti. Semua di kerjakan sangat rapi oleh sang pelaku. 'Gak awesome! Gak ada petunjuk sama sekali.' Pikir Gilbert dalam hati. Kemudian Gilbert memeriksa ruangan tersebut sekali lagi. Matanya tertuju pada sebuah sobekan kertas kecil yang terkena bercak darah dengan tulisan tangan bertuliskan "EM 21" di tangan korban.
Saat akan mengambil sobekan kertas tersebut, terdengar derap langkah kaki yang sedang berlari. Gilbertpun menoleh. Ia melihat beberapa orang polisi, seorang inspektur, dan Antonio.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya si Inspektur dengan nada yang sedikit membentak.
"Saya hanya memeriksa, kok, Inpektur..." Kata-kata Gilbert terhenti. 'Waduh gawat! Aku tak tahu nama si alis tebal yang ga awesome ini.' Pikir Gilbert dalam hati. Gilbert mencoba melihat nama dada sang Inspektur. 'Ah, aku tau namanya sekarang' Pikir Gilbert, "Inspektur Arthur Kirkland." Lanjutnya.
"Oh,bagus kalau begitu. Apa yang kau temukan?" Tanya Inspektur Arthur.
"Pelaku tak meninggalkan barang bukti, tapi ditemukan sobekan kertas di tangan korban." Jawab Gilbert. Karena penasaran, Inspektur berjalan mendekati mayat korban. Gilbert menyingkir sedikit agar Inspektur dapat melihat tubuh mayat lebih dekat.
"Sepertinya sama seperti kasus-kasus sebelumnya." Gumam Inspektur Arthur.
"Sama? Benarkah?" Tanya Gilbert penasaran.
Sang Inspektur menoleh keheranan. "Hei, kemana saja kau selama ini? Bukannya semua anggotaku wajib ikut menangani masalah ini?" Kata Inspektur dengan nada sedikit marah.
"Maaf, Pak. Saya sedang sakit saat itu, jadi saya ijin tidak masuk." Kata Gilber mengindar. Inspektur hanya dapat ber-Oh ria dan kemudian kembali memeriksa Tempat Kejadian Perkara bersama para anak buahnya.
Tiga puluh menit kemudian pemeriksaan selesai. Mayat korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Semua polisi sedang bersiap kembali ke markas.
Francis datang, memasuki kamar bau darah itu dan berjalan ke arah Gilbert dan Antonio. "Apa yang kalian temukan?"
"Saat pertama aku memeriksanya, aku menemukan sobekan kertas bertuliskan 'EM 21'." Kata Gilbert.
"Mungkin ada sobekan kertas atau teka-teki yang lain di pembunuhan-pembunuhan sebelumnya." Kata Antonio.
"Sedang apa kalian di situ? Cepat beres-beres kemudian kembali ke markas!" Kata Inspektur Arthur setelah mendapati tiga orang yang dikiranya anak buahnya berbisik-bisik di pojok ruangan.
Gilbert, Antonio dan Francis tersentak kaget. "Baik, Bos." Jawab Gilbert, Antonio dan Francis bersamaan. Mereka bertiga segera ikut beres-beres dan ikut pergi ke markas.
"Sepertinya rencana kita berjalan dengan lancar." Bisik Antonio sambil berjalan mengikuti yang lain ke arah markas.
"Bahkan lebih baik dari apa yang kita kira." Balas Francis Berbisik.
"Kalau begitu, lebih baik kita diam. Kalau kita berisik bisa menimbulkan kecurigaan." Gilbert diam sebentar, "Francis, karena kau tadi tidak melakukan apa-apa, nanti kalau sudah sampai markas, kau cari catatan tentang kasus pembunuhan sebelum ini." Lanjut Gilbert.
"Enak saja tidak melakukan apa-apa! Aku tadi sedang menghibur nona cantik yang sedang menangis, tau!" Bela Francis.
"Sudahlah! Kau mau melakukannya atau tidak? Dasar ga awesome!" Tanya Gilbert sedikit marah.
"Ok, Bos. Pasti semua akan berjalan lancar." Kata Francis sambil mengeluarkan Jempol tangannya.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan menunggumu di luar." Kata Antonio.
"Ok."
-xXx-
01:30 a.m, rencana sedang di laksanakan. Gilbert dan Antonio menunggu di luar, berpura-pura menjadi penjaga, sedangkan Francis mulai menjalankan tugasnya.
Francis berjalan dengan tenang di koridor. Ia menyapa dan membalas sapaan dari orang yang dilewatinya. Berjalan lurus dan kemudian berbelok di belokan pertama dan berhenti di depan pintu ruang ke 3. Di atas pintu terlihat papan tulian bertuliskan 'Ruang Data'.
'Ini dia ruangannya!' Pikir Francis. Ia berjalan memasuki ruangan. Di dalam ruangan hanya ada 2 orang polisi yang sedang mengecheck data. Francis terus berjalan dengan tenang dan kemudian memeriksa satu persatu tulisan di depan loker untuk menemukan loker yang benar. Akhirnya Ia menemukan loker dengan tulisan ' data kasus pembunuhan' dan membukanya. Tak butuh waktu lama untuk mendapat data yang ia cari. Dengan segera Francis mengambilnya, menutup loker tersebut dan menaruhnya di meja terdekat. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan bolpen dan kemudian menyalin data tersebut.
-Dilain tempat-
"Si mesum yang ga awesome itu lama sekali!" Gerutu Gilbert. Gilbird –elang milik Gilbert- pun ikut berkomentar.
Antonio menyebul-nyebul tangannya. "Iya! Bisa-bisa kita mati beku di sini. Untung saja persediaan tomatku masih ada."
"Dasar manusia tomat!" Kata Gilbert sambil memukul tangan temannya itu dengan bercanda. Kemudian Gilbert dan Antonio tertawa.
-Kembali ke tempat Francis-
Saat hampir selesai menyalin data, tiba-tiba ada orang yang berkata padanya dengan sedikit membentak, "Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau lupa kalau semua data yang ada disi tak boleh disalin tanpa perintah apapun dari atasan?"
Lelaki berambut pendek berwarna coklat itu menatap tajam Francis. 'Waduh, gawat! Aku ketahuan.' Kata Francis dalam hati. Francis berhenti menulis dan menurunkan topinya agar wajahnya tak dapat dilihat dengan jelas oleh si polisi yang ada di depannya itu.
"Oh, itu, tadi Inspektur Arthur menyuruhku mengumpulkan data yang ada dan menyalinnya begitu kami kembali dari pemeriksaan." Kata Francis mencari alasan.
"Oh, begitu? Kalau begitu teruskan!"
Francis menahan tawa. 'hahaha.. tertipu kau!' Pikir Francis dalam hati. Ia melanjutkan menyalin sementara polisi tadi berjalan menjauh. Tak lama kemudian ia selesai. 'Akhirnya. Sekarang lebih baik aku segera keluar menemui Antonio dan Gilbert.' Pikir Francis. Tapi semua urusan tak selalu semudah itu. Saat Francis akan berjalan keluar ruangan setelah ia menaruh kembali data-data yang tadi ia keluarkan ke tempatnya dan memasukkan hasil salinannya itu ke dalam sakunya. Ia bertemu dengan Inspektur Arthur yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Francis tak lama sesudah polisi berambut coklat tadi meninggalkan ruangan.
"Apa yang barusan kau lakukan?" Tanya Inspektur Arthur dengan nada mengintrogasi.
"Oh, itu.. tadi saya.." Jawab Francis ragu.
-TBC-
Cerita ini terinspirasi dari novel The Historian karangannya Elizabeth Kortova yang tebel (meskipun ga setebel harpot 7) rencananya saya mau buat yang versi hetalia, tapi karena saya lagi males…(- _ -) Lupakan!
Yang bisa saya katakan sekarang adalah maaf lama, dan Buat yang udah review makasih… buat yang belum jg makasih.. buat yang Cuma baca jg makasih.. tapi saya akan terus mengingatkan kalian..
Mind to review? *bow*
