"Sasuke, apa tidak apa-apa meninggalkan sepupumu sendirian di sana?" tanya Ino pada Sasuke yang sedang menyetir.

"Hn, tidak masalah. Dia bisa menelpon ibuku untuk minta dijemput," jawab Sasuke sekenanya.

Ino terlihat sedikit tersenyum, tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang ada di kursi mobil Sasuke yang sedang didudukinya ini. "Ini Handphone siapa?" tanya Ino sambil mengangkat sebuah handphone bermerk 'I-phone' di tangannya.

Sasuke dengan malas-malasan langsung melirik handphone yang Ino pegang, seketika bola matanya membulat. Kaget. Tentu saja, "Itu handphone Sakura!" serunya.


NARUTO Disclaimer is Masashi Kishimoto

Warning! : OCC, AU, Ceritanya abal, pasaran, kesalahan pada pengetikan, dan kekurangan lainnya

We are Cousin ?

Summary: Hidup Sakura terasa berubah secara drastis saat ayahnya tiba-tiba menyuruhnya pindah dan tinggal di Konoha dengan 'alasan' yang tidak wajar. Sakura terpaksa tinggal di rumah Sasuke yang katanya 'sepupu'nya.


...

"Haduh..." keluh Sakura sambil melap peluh yang keluar dari pelipisnya, Wajahnya terlihat depresi. "Bagaimana aku pulang..." gumamnya. Sakura langsung mengedarkan pandangannya di sekitar parkiran mobil khusus murid ini.

Sepi. Satu kata inilah yang dapat mendeskripsikan keadaan yang Sakura lihat. Hanya tinggal beberapa unit mobil saja yang masih terparkir di sana.

Sakura langsung memikirkan caranya pulang dengan serius. Otak dengan kapasitas sedangnya itu mulai memanas.

Bagaimana kalau menelpon Mikoto lewat telepon umum? Tidak bisa. Karena Sakura tidak hafal berapa nomor telepon ataupun handphone Mikoto.

Bagaimana kalau naik taksi saja? Tidak bisa. Sakura tidak tahu alamat lengkap rumah Sasuke. Dia hanya tahu sampai saja. Kalau dia nekat naik taksi, pasti dia hanya berkeliling tanpa tujuan dan tentu saja hal itu memakan banyak uang.

Sakura langsung mengepalkan tangannya, matanya terlihat sedikit berembun. "AAARRGG! Aku memang tidak suka di sini! Aku ingin pulang ke Kiriiiiiiiiii!" serunya kencang-kencang untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya, mumpung sudah sepi jadi tidak ada orang yang mendengarnya.

'Ya ampun, suara siapa itu?' gumam seseorang sambil memegangi sebelah telinganya. Niat orang ini yang ingin memasuki mobil tertunda karena mendengar teriakan Sakura yang lumayan nyaring.

Bola mata orang ini langsung menyusuri sekitar parkiran sekolah, untuk mencari sumber suara dan dia berhasil menemukannya.

"Sakura?"

Mendengar namanya dipanggil Sakura langsung memutar tubuhnya ke belakang dan emeraldnya menemukan sesosok lelaki yang ditemuinya pagi tadi,

"Ah, Saori.." gumam Sakura sambil tersenyum canggung. Canggung karena malu seruan tidak jelasnya barusan ada yang mendengar.

Sasori terlihat mendengus, "Sasori. Bukannya Saori!" sahut Sasori memperingatkan. Sakura hanya tertawa pelan sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

"Sedang apa di parkiran sendirian?"

Wajah Sakura langsung cemberut mendengar pertanyaan Sasori. Dia teringat akan Sasuke dan Ino yang meninggalkannya sendirian di sana.

"Entahlah..." jawab Sakura sambil mendengus kesal.

Sasori menautkan alisnya. Melihat ekspresi wajah Sakura, dia sudah tahu kalau Sakura sedang kesal. "Kenapa masih di sini? Kau tidak ingin pulang?" tanyanya lagi.

Sakura langsung menekukkan ujung bibirnya sedikit. Bukannya tidak ingin pulang, dia hanya tidak bisa pulang.

"Aku menunggu jemputan," jawab Sakura sambil tersenyum kecut. Menunggu jemputan? Memang siapa yang menjemputnya.

Sasori hanya ber-ooh-ria lalu menggembungkan sebelah pipinya sambil berpikir.

"Kalau masih lama, bagaimana kalau ku antar?" tawar Sasori sambil tersenyum ramah.

Sakura langsung mengigit bibir bawahnya saat mendengar tawaran Sasori ini. Bagaimana? Terima tawaran baiknya atau tidak? Sakura tidak ingin merepotkan orang lain apalagi yang baru dikenalnya. Tapi kalau menolaknya, Sakura tidak akan bisa pulang cepat. Tapi.. belum tentu Sasori tahu dimana rumah Sasuke.

"Mm.. tidak usah. Sebentar lagi aku dijemput, kok. Lain kali saja, ya?" jawab Sakura sambil tertawa, padahal innernya menangis.

"Yah.. Apa boleh buat.." gumam Sasori dengan wajah yang sedikit lesu karena tawarannya ditolak Sakura, "Kalau begitu aku pulang ya, Sampai besok." Sasori tersenyum lalu melangkahkan kaki menuju mobilnya yang diparkirkan tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Sasori menyempatkan diri membalik badan saat jaraknya dengan Sakura sudah belasan meter, "Sakura... Hati-hati ya.. Di sini kalau sudah sore banyak hantunya..." ucap Sasori dengan tampang horor-menyeringai seram, dan dengan suara yang dibuat-buat.

Sakura yang mendengar itu langsung menelan ludahnya, "Be, benarkah?" Jujur saja, Sakura takut dengan hal berbau mistis dan gaib seperti itu.

"Haha bercanda! Aku pulang yah? Dadah."

Tak berapa lama Sasori pun langsung memasuki mobilnya, sejurus kemudian Sasori sudah meninggalkan sekolah dengan mobilnya.

Sakura menatap nanar pada mobil Sasori yang sudah jauh dari pandangannya. Kenapa dia menolak tawaran Sasori barusan? Menyesal? Tentu saja.

Hiks...

Bulu kuduk Sakura langsung merinding disko ketika medengar suara isakan yang sayup-sayup memasuki gendang telinganya.

"Wa, wah! Suara anginnya kencang! Ha ha ha!" ucap Sakura entah pada siapa sambil tertawa getir. Kakinya saja sudah gemetaran.

Hiks Hiks.. To, tolong...

"Ahahahahahahaha! Suaraku bergema ya?" Sakura mencoba menghibur dirinya sendiri agar tidak takut. Dia tidak berani menoleh ke kiri, ke kanan ataupun ke belakang. Pandangannya hanya ke depan.

Hihihihihi... Hihihihi...

Sakura langsung berlari kencang ketika mendengar suara horor yang terkikik tepat di gendang telinganya.

Kabur. Itulah yang ada dipikiran Sakura.

"Hosh.. Hosh.." Sakura langsung mengatur napasnya yang tersengal-sengal, jantuknya berdetak lebih cepat dari biasanya. Saat ini Sakura sudah berada di depan gerbang sekolahnya setidaknya di sini masih ada orang lalu lalang.

"Fuuuh.. Su, su, suara apa tadi! Menyeramkan!" gumam Sakura yang masih ngos-ngosan. "Benar apa kata Sasori, sekolah ini ada hantunya!" seru Sakura lalu melirik jam di pergelangan tangannya.

16:01

Itulah angka yang tertera di jam digital miliknya.

"Sudah jam segini?" Sakura langsung celingukan, sepertinya hanya dia murid yang tersisa di sekitar sekolah.

"Hantunya tidak akan mengejar kemari," Tanpa pikir panjang Sakura langsung menghempaskan pantatnya di atas trotoar yang ada di pinggir gerbang. Dia tidak peduli kalau roknya akan kotor kalau duduk di situ.

"Kalau saja aku tidak pindah, pasti jam segini aku masih bersama teman-teman, jalan-jalan..." gumam Sakura dengan wajah sebal. Pikirannya melayang.

Kenapa nasibnya seperti ini? Coba saja ayahnya tidak memaksanya pindah ke sini. Coba saja Sasuke tidak meninggalkannya sendirian di sini.

Sasuke?

Memikirkan Sasuke hanya membuat Sakura jengkel. Sepupu sialan seperti Sasuke layak dibunuh, begitulah pemikiran Sakura.

"SASUKE BRENGSEEEK!" teriak Sakura tiba-tiba.

"Haaachii!" Sasuke yang sedang nonton film horor dengan Ino, bersin mendadak.

"Sasuke? Kau masuk angin?" tanya Ino sambil melirik Sasuke yang ada di sebelahnya.

Sasuke hanya menggeleng pelan lalu melirik jam tangannya,

"Jam empat lewat lima menit.." gumam Sasuke, "Pasti si pink bodoh itu sudah pulang, jadi aku tidak perlu menjemputnya.." gumamnya lagi lalu meneruskan acara nonton barengnya bersama Ino.

o.O.o

"Aku pulang..." seru Sasuke ketika memasuki rumahnya. Sasuke segera melepas sepatu kets hitamnya lalu meletakkannya di dalam rak sepatu yang berada di sisi kanan tubuhnya.

Mikoto langsung menyambut anaknya dengan senyuman lembut, "Selamat datang.. Loh? Mana Sakura?" tanya Mikoto saat menyadari tidak ada Sakura di situ.

"Dia belum pulang?"

"Kamu ini bagaimana! Tentu saja belum, dia 'kan berangkat denganmu tadi." seru Mikoto sambil berkacak pinggang. Sedikit kesal juga menghadapi anaknya yang dingin tidak ketulungan ini.

Sasuke langsung melirik jam dinding yang tepajang di sudut ruangan. Jam enam kurang sepuluh menit. Sasuke langsung memasang sepatunya lagi lalu segera pergi mencari Sakura.

"Haduh..." keluh Mikoto sambil menggelengkan kepala. "Tidak ada perkembangan.." gumamnya lalu berjalan ke dalam rumah.

o.O.o

"Cih, menyusahkan." gumam Sasuke sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Tidak perlu makan waktu yang lama Sasuke sudah sampai di depan gerbang sekolahnya. Dari dalam mobil dia dapat melihat Sakura yang sedang duduk meringkuk memeluk lututnya di atas trotoar.

Sasuke segera keluar dari mobilnya lalu menghampiri Sakura,"Ayo pulang! Kau ini merepotkanku saja!" seru Sasuke sambil menyilangkan tangannya.

Hening.

Tidak ada respon dari Sakura.

"Oy."

Lagi-lagi Sakura tidak merespon, bergerak saja tidak.

Dengan gemas Sasuke langsung menghampiri Sakura, "Hey!" seru Sasuke sambil menepuk pelan bahu Sakura. Sakura langsung menepis tangan Sasuke yang menyentuh bahunya. Sakura tetap menutupi wajah di balik lututnya.

"Hey! Kau ini kenapa!" Sasuke langsung mengangkat wajah Sakura dengan tangan kekarnya. Matanya langsung membulat.

Sakura habis menangis. Matanya sembab.

"He, hey.. Kau menangis?" Sakura langsung melepaskan tangan Sasuke yang tadi mengangkat wajahnya.

"Kau pikir ini jam berapa...?" gumam Sakura lirih sambil menatap tajam mata Sasuke.

"Jam enam lewat lima menit," jawab Sasuke sambil memundurkan tubuhnya. Aura menusuk sudah keluar dari tubuh Sakura.

"NAH! SILAKAN HITUNG BERAPA JAM, BERAPA MENIT, BERAPA DETIK, AKU MENUNGGUMU DI SINI! AKU DI SINI MASIH BARU! TIDAK TAHU JALAN! TIDAK PUNYA TEMAN! JAHAT SEKALI KAU MENINGGALKANKU SENDIRIAN! GARA-GARA MENUNGGUMU AKU DIGANGGU HANTU! DASAR SIALAN BODOH BRENGSEEEEEEKK!"

Sasuke tertegun. Mengerikan sekali amukan sepupunya ini. Sasuke lebih memilih diam dan mendengarkan omelan Sakura. Bunuh diri namanya kalau angkat bicara sekarang. Dan ini juga salah Sasuke sendiri.

"AKU DARI AWAL MEMANG TIDAK INGIN PINDAH KE SINI! AKU HANYA INGIN TINGGAL DI KIRI!" Teriak Sakura lagi, Sudut matanya mulai berair. Sasuke menutupi gendang telinganya dengan telunjuk, bisa pecah gendang telinganya kalau mendengar teriakan Sakura.

Sakura terlihat terisak, dia menggigit bagian bawah bibirnya. Mencoba menahan air matanya yang terus keluar. Sasuke menggaruk bagian belakang kepalanya, dia bingung harus bagaimana. Dia tidak pernah menghibur ataupun membujuk seorang gadis yang menangis.

"Cepat naik ke mobil, kita pulang." ucap Sasuke lalu mengambil langkah memasuki mobilnya.

"Ayah! Ibu! Kenapa aku harus tinggal dengannyaaa?" seru Sakura sambil melap air mata yang ada di wajahnya dengan tangan mungilnya, lalu melangkahkan kakinya memasuki mobil Sasuke.

Sasuke hanya bisa mendengus kesal, ternyata benar-benar repot bermasalah dengan sepupunya yang satu ini.

o.O.o

Di sepanjang jalan Sakura hanya diam dan tidak bicara. Matanya terlihat sayu karena mengantuk, mungkin efek samping dari menangis barusan.

Sakura memutar kepalanya dan menatap lekat-lekat Sasuke yang sedang menyetir, "Apa? Sudah berhenti nangisnya, cengeng?" tanya Sasuke yang sadar Sakura sedang menatapnya.

Sakura hanya mencibir lalu memutar tubuhnya menghadap jendela mobil di sebelah kirinya, tanpa menghiraukan Sasuke. Sasuke langsung mendencak kesal. Menyebalkan sekali kalau tidak digubris.

"Brengsek." gumam Sakura dengan wajah sebal dan masih memfokuskan pandangannya keluar jendela.

Sasuke terdiam. Memang salahnya juga meninggalkan sang sepupu sendirian di lingkungan yang 'asing' baginya. Tapi Sasuke bukanlah seorang lelaki melankolis yang gampang minta maaf. Harga diri dan gengsinya sebagai seorang Uchiha membuatnya jarang minta maaf bahkan tidak pernah.

"Hn..."

Suasana menjadi hening, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar. Tidak ada lagi bahan pembicaraan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tak berapa lama Mobil Sasuke sudah memasuki garasi rumahnya, garasinya cukup luas dengan empat buah mobil mewah di dalamnya.

Sasuke langsung keluar dari mobilnya. Ia melirik Sakura yang tengah bersender di kaca mobil yang tertutup. Ia tertidur.

Sasuke mendengus pelan, lalu dengan perlahan membuka pintu mobil di sisi kiri Sakura. Dan langsung menangkap tubuh Sakura yang oleng karena senderannya—pintu mobil, sedang terbuka.

"Bangun. Kita sudah sampai.."

Sakura tidak menjawab. Sepertinya dia tertidur pulas karena kelelahan.

Sasuke menatap lekat wajah Sakura yang sedang tertidur. Begitu polos, tenang dan... Terlihat cantik.

Sasuke langsung menepis pikirannya lalu segera menggendong Sakura (bukan bridal stlye) menuju ke dalam rumah.

"Aduh, badan kerempeng seperti ini lumayan berat.." gumam Sasuke.

CKLEK

"Kami pulang..." salam Sasuke ketika membuka pintu rumahnya.

Hening, sunyi, senyap. Tidak ada sambutan dari Mikoto yang biasanya ia dapatkan ketika memasuki rumah.

"Kaasan...?" seru Sasuke agak nyaring sambil melepaskan sepatunya dengan kaki.

Tidak ada respon. Rumah Sasuke sedang kosong alias tidak ada orangnya.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya dan Sakura berada.

"Aduh, tambah berat,.." gumam Sasuke ketika menyusuri anak tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu.

"Mmmh..." Tiba-tiba Sakura yang masih tertidur, mengerang pelan lalu langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke. Seperti memeluk guling. Dagu Sakura bersender di bahu Sasuke.

"A, aduh." ringis Sasuke. Lehernya terasa dicekik.

Cklek.

Pintu kamar Sakura pun terbuka. Sasuke menekan sakelar untuk menyalakan lampu kamar Sakura yang agak gelap itu agar terang.

Perlahan-lahan Sasuke meletakan tubuh Sakura di atas ranjang kingsize yang ada di dalam sana.

Setelah melepaskan sepatu sekolah Sakura, Sasuke segera menyelimuti tubuh yang katanya 'kerempeng' ini dengan selimut.

Sasuke memandangi wajah polos Sakura yang tertidur lelap. Kasihan melihat gadis yang terpisah oleh orang tuanya ini.

"Maaf." Sasuke segera keluar dari kamar Sakura lalu mengambil langkah menuju kamarnya.

o.O.o

Sasuke sedang berjalan santai menuju dapur. Saat ini ia sedang mengenakan piyama abu-abu dan selembar handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah akibat keramas.

Sasuke.. Ibu, ayah dan Itachi sedang pergi. Kami tidak bisa mengajakmu dan Sakura karena kalian besok masih sekolah. Mungkin besok siang kami baru pulang. Di dalam kulkas ada sandwich ekstra tomat. Jangan lupa makan ya sayang dan jangan lupa beri Sakura juga. Ttd Mikoto.

Sasuke berdencih pelan setelah membaca 'note' yang tertera di depan kulkas. Dia bukan seorang anak kecil lagi. Umurnya sudah enam belas tahun. Dan juga kemana perginya mereka? Bukankah saat Sasuke pulang sebelum menjemput Sakura tadi Ibu nya masih ada?

Sasuke segera mengambil botol air mineral kecil di dalam kulkas lalu langsung meneguknya sampai habis. Dia kehausan.

Sasuke menghela napasnya setelah selesai minum. Lalu segera meletakkan botol minumannya tadi di atas meja dan pergi mengambil sandwichnya di dalam kulkas.

o.O.o

"WA!" seru Sakura lalu segera bangkit dari tidurnya. Sepertinya dia mimpi buruk.

Sakura memegangi dadanya yang berdegup kencang, pelipisnya mengeluarkan keringat dingin, "Untung hanya mimpi.." Sakura mendesah lega. "Hantu itu mengikutiku!" seru Sakura sambil celingukan.

"Loh? Aku Sudah di kamar?" tanyanya entah pada siapa.

Sakura langsung melirik sekitarnya, entah kenapa suasananya menjadi horor. Sakura kebanyakan menghayal.

Sakura langsung mengintip ke bawah kolong ranjangnya, jaga-jaga kalau ada 'sesuatu' di bawah sana. Seperti yang terjadi di mimpinya tadi.

Aman. Tidak ada apapun di situ.

Sakura langsung melirik lemari pakaian yang terletak di sudut kamarnya.

Sakura menelan ludah sebelum membuka pintu lemari pakaian itu. Dadanya berdegup. Takut 'sesuatu' keluar dari sana lalu memakannya bahkan membunuhnya. Seperti yang dimimpikannya.

Kriieeet

Suara derit pintu lemari yang terbuka memasuki gendang telinganya. Sakura langsung mendesah lega, tidak ada apa-apa di sana. Berbeda dengan mimpinya.

Sakura mengambil handuk dan baju mandinya yang bergantung rapi di dalam lemari itu. Tubuhnya lengket, ia ingin mandi.

Sakura langsung melongos menuju kamar mandi yang ada di sebelah kamarnya.

Perlahan-lahan Sakura menengok ke dalam kamar mandi. Entah kenapa semua yang dilihatnya menjadi horor.

Sakura membuka pakaian seragamnya dengan was-was. Takut sesuatu menjambak rambutnya lalu menariknya sampai copot. Seperti yang dimimpikannya.

Sakura melepaskan ikatan rambutnya dan membuatnya tergerai, rambut indah sepunggungnya ini sangat jarang ia urai.

Sakura tidak berani melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di kamar mandi, takut bila melihat 'sesuatu' berdiri di belakangnya. Seperti yang terjadi dimimpinya.

Sakura langsung memutar kenop untuk menyalakan shower. Seketika shower itu mengucurkan air segar yang membasahi seluruh tubuhnya.

Sakura 'mencuci' rambut dan tubuhnya dengan sampo serta sabun yang wangi. Di tengah-tengah menyampo rambutnya, Sakura langsung membelalakan matanya yang tadi tertutup secara tiba-tiba membuat matanya sedikit perih. Sakura langsung menoleh ke belakang, takut 'sesuatu' ikut menyampokan rambutnya.

"Biasanya 'kan di film-film horror begitu.." gumam Sakura.

Astaga.. Sakura dibodohi film..

o.O.o

Saat ini Sakura sedang mengenakan piyama berwarna krim dengan lilitan handuk di kepalanya, untuk mempercepat pengeringan rambut secara alami.

Sakura berjalan menyusuri anak tangga. Dia ingin ke dapur. Lapar.

"Yoo.." sapa Sasuke yang sedang duduk di ruang makan ketika melihat Sakura mendekat.

"Mana bibi?" tanya Sakura lalu berjalan menuju lemari penyimpan lauk makanan.

"Pergi." sahut Sasuke lalu menggigit sandwich ekstra tomat miliknya.

"Jadi kita hanya berdua?"

"Hn."

Sakura mendengus kesal. Kenapa harus berdua saja dengan orang menyebalkan seperti Sasuke di rumah sebesar ini.

Sakura menyipitkan matanya ketika melihat lemari penyimpan makanan yang tidak ada isinya alias kosong. 'Bibi tidak memasak ya..' gumam Sakura.

Sakura langsung melirik Sasuke yang sedang menyantap sandwich ekstra tomat dengan lahap.

"Apa lihat-lihat?" tanya Sasuke dengan cuek.

"Hm, siapa yang lihat." jawab Sakura lalu melangkahkan kakinya, dia ingin kembali ke kamar dan tidur. Supaya rasa laparnya hilang.

"Tidak makan?"

"Tidak lapar," sahut Sakura sambil memasang wajah cemberut. Tidak rela ia jika harus minta sandwich milik Sasuke itu.

Kriuuukkk..

Wajah Sakura langsung merah seketika. Malu? Tentu saja. Baru saja berkata tidak lapar tapi perutnya berkata lain. Sakura dapat melihat dengan jelas wajah Sasuke yang mati-matian menahan tawa.

"Perut sial." gumam Sakura lalu berlari secepat mungkin menuju kamarnya. dia tidak mau melihat wajah Sasuke yang menertawakannya. Mending mati daripada ditertawakan cowok menyebalkan itu, kata Sakura sih.

Tawa Sasuke langsung menggelegar, sepertinya dia sudah tidak tahan menahan tawanya, "Benar-benar cewek aneh.."

o.O.o

Sakura menatap langit-langit kamarnya dengan mata sayu. Dia mengantuk, tetapi tidak bisa tidur. Pandangannya langsung beralih ke jam dinding di sudut kamar. Sudah jam sepuluh lebih.

"Aih.. Tidak bisa tidur, mungkin gara-gara lapar.." gumamnya sambil memegangi perutnya.

TAK.

"Gyaaaaaa!" Sakura langsung berteriak histetis ketika listrik tiba-tiba mati. Tangan mungilnya langsung meraba-raba permukaan ranjangnya untuk mengambil ponselnya.

Sakura langsung menyentuh layar ponselnya dan menggunakan cahaya lampu ponselnya itu untuk memberikan sedikit penerangan.

Sakura langsung berlari keluar kamarnya. Takut. Itulah perasaan Sakura.

"Sasuke! Sasuke!" teriak Sakura lalu membuka pintu kamar Sasuke yang tidak terkunci.

"Ng? Ada apa...?" sahut Sasuke dengan suara parau. Sepertinya Sakura sudah mengganggu tidurnya.

"Ma, mati lampu! Gelap! Menyeramkan!" seru Sakura lalu segera melompat memasuki ranjang Sasuke dan menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut.

Sasuke bangkit lalu mengucek matanya pelan, memperjelas pandangannya yang terlihat gelap. Tentu saja, 'kan mati lampu.

"Apa yang kau lakukan di kamarku? Sana pergi. Ambil lilin di bawah dekat dapur." ucap Sasuke sambil membuka selimut yang menutupi Sakura.

"Hey! Aku takut! Bagaimana kalau hantu yang di sekolah tadi tiba-tiba ada di bawah? bagaimana kalau dia membunuhku!" seru Sakura lalu menarik selimut Sasuke lagi untuk menutupi tubuhnya.

"Ya terserahlah, cepat keluar dari kamarku."

"Tidak mau. Aku takut tidur sendirian kalau mati lampu begini!"

"So?"

"Biarkan aku tidur di sini,"

Sasuke langsung mendengus kesal, dia tidak menyangka sepupunya ini penakut sekali.

"Laki-laki dan perempuan tidak boleh tidur bersama sebelum menikah," jelas Sasuke lalu menarik selimutnya yang menutupi Sakura -lagi-.

"Alah, tidak apa-apa! Kita kan sepupu! Kau juga tidak mungkin 'menyerang'ku 'kan!" seru Sakura yang mulai kesal berdebat dengan Sasuke.

Sasuke terlihat menyeringai, Sasuke perlahan-lahan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sakura.

"Ma, mau apa kau?" tanya Sakura yang mulai risih. Sasuke semakin menyeringai dan semakin merapatkan tubuhnya di tubuh Sakura.

Jantung Sakura langsung berdetak tidak normal, begitu cepat. Seakan ingin melompat keluar.

"Aku..." bisik Sasuke tepat di depan telinga Sakura, "Aku tidak tertarik dengan cewek kerempeng sepertimu." sambungnya lalu menjauhkan tubuhnya dari Sakura.

"Brengsek!" Sakura langsung memukulkan guling ke kepala Sasuke.

"Aish, Sakit!" ringis Sasuke sambil memegangi kepalanya, "Yasudah! Kau boleh tidur di sini, tapi cuma malam ini!" Sasuke langsung merebahkan tubuhnya lalu membalik badan memunggungi Sakura.

Sakura hanya meruntuki dirinya sendiri. Menyebalkan sekali harus membuang harga diri memohon untuk tidur di sini. Tapi daripada tidak bisa tidur dan terus ketakutan, lebih baik harga diri itu disimpan dulu.

Perlahan mata Sakura mulai terasa lelah rasa kantuk sudah mengusai matanya. Detik berikutnya Sakura pun tertidur.

Yep. Malam itu Sasuke dan Sakura tidur bersama di satu ranjang..

o.O.o

"Be, berat..." Perlahan Sasuke membuka matanya karena merasakan sesuatu yang berat di atas perutnya.

Sasuke mengerjapkan matanya lalu menoleh ke arah perutnya. Kaki. Ya, kaki kanan Sakura sedang bertengger di atas perutnya. Sasuke segera menoleh ke sebelah kiri tubuhnya. Dan melihat Sakura yang sedang tertidur.

Posisi tidur Sakura sangat tidak 'elegan' ataupun 'feminim' . Kakinya terbuka lebar. Mulutnya sedikit menganga, rambutnya terlihat acak-acakan.

"Astaga." gumam Sasuke lalu bangkit. "Eh, bangun cewek jadi-jadian!" seru Sasuke sambil menyentil dahi Sakura keras-keras.

Sakura terlihat meringis pelan lalu menarik kaki kanannya dari perut Sasuke. Sakura langsung membalik tubuhnya dan memeluk guling. Tidak menghiraukan Sasuke dan kembali menuju alam mimpinya.

Sasuke langsung mendengus kesal lalu melirik jam yang ada di sudut kamarnya.

Jam tujuh lewat dua menit.

Sasuke melebarkan matanya, "KITA TERLAMBAT! HEY BODOH! CEPAT BANGUN!"

To be continued...

A/N : Haloo halooo halooooooo :D maaf baru apdet niihh.. Soalnya baru ngetik dua hari yang lalu.. Otak ime jadi konslet gara-gara UN.. Maaf kalo ceritanya tidak menarik yah.. ==a

BIG HUGS AND KISS, ALSO SPECIAL THANKS TO :

Uchiha Eky-chan, Lady zhion, Antk4-ch4n, Zetta Hikaru, Iya Risaskey, Princess Iceberg, Highschool me, Enda-Versailles, Sky pea-chan , Vytachi W.F , and then to :

Me : Maaf gak bisa apdet kilat hehe, soal Ino sama Sasuke pacaran atau ngga mungkin akan dijelaskan di chapter depan,

vvvv: Iyah sih, Sasukenya kejam yah? Haha.. Ini sdah apdet :)

Mayu Akira : Yah, ketahuan mayu deh wkwkw, salam kenal juga :D

Rizuka Hanayuuki: Iyaa, makasih banyak yah ;p

Meity-chan: Ini sudah apdet :D walopun gk kilat hehe, RnR lagii :D

Micon: Hehehe, makasih yah micon-san! Maaf yah ceritanya ini tidak seperti yang Micon bayangkan T-T pdahal niat ime juga gitu.. Pen ngebuat Saso sama Saku pulang bareng, tapi.. Malah begini, hahaha.

Maya: Iya, gk diapus kok :D dan Konfliknya juga akan banyak, ini masih bagian perkenalan kok hehe.

Misterious Girl: Iya! Makasih yah :D

Ayumu Rukawa: Sasu emang gitu ==a , Pertanyaan Ayumu sudah terjawab kan? Si Saku tetep pulang bareng Sasu, hehe.

Hoshi Yamashita: Gyyaaaa! Ada Hoshiii yamashitaaa-san! *dibekep* Tebakan Hoshi bener kok hehe.

Kikyo Fujikazu: Iya iyaa, ngga di delete kok :D, niat ime emang membuat Sasu cemburu parah entar sama si SasoSaku, dan dijamin Sasu patah Hati buahaha.

Natasya: Wah, pacarnya Saso yah? Aku pacarnya Sasu.. Biarin aja Saku ga ada pasangannya *gampared*, iya iyaa, permintaanmu bakal ime wujutin :D

Reiko Fujyo Edogawaa: Tenot-tenot! Bayangan anda salah! *berisik-plaked*, Saku tetep pulang sama Sasu kok hehe. Soal SasuIno akan dibahas di chappy depan :D

Jus Ana ga login: Iyaa :D ime bakalan buat Sasu Cemburu, tapi tetap sesuai plotnya kok.. Perjalanan mereka masih panjang *apadeh*

Sekiaan :D Yang Login sudah ime bales lewat PM, yang gak login ya yang di atas itu :3

Numpang promosi twitter ( immeboy) , follow yah *gampared*.

Last Word..

Review?