Second chapter!
Okay, I was planning to update it yesterday but whatever
Aku ini suka nunda-nunda, duh
Anyway, enjoy the story!
MyLife is Imperfect
Di sebuah rumah mewah ala Joseon, duduklah sepasang suami istri, menatap anak mereka yang baru lahir dengan bahagia. Buntelan itu tertidur dengan nyenyak sementara orangtua-nya tersenyum bangga dan lembut padanya. Saling menatap penuh haru dan bahagia bersama keluarga kecil mereka.
Waktu berjalan, dan anak tadi telah tumbuh menjadi gadis mungil 13 tahun yang cantik dan anggun. Ayahnya adalah seorang menteri finansial di kerajaan mereka dan ibunya terus mendampinginya di rumah.
Namun di malam itu, ketika dia sudah terpilih melewati seleksi putri makhota yang digelar untuk anak seumurannya dan dia telah dengan bahagia berkomunikasi dengan putra mahkota, sesosok roh muncul dan merampasnya ke kegelapan.
Gadis itu diperangkap ke sebuah sel, berhias tulang-belulang dan rantainya dari perunggu. Dia menangis sementara sosok bersayap kelelawar menatapnya dengan mata merah menyala bengis. Makhluk itu memegang sebuah kapak di tangannya yang kekar dan berbulu, dan dengan raungan memotong kaki sang gadis, membuatnya pingsan seketika.
Tulangnya, dengan khidmat ditumpahkan ke sebuah kuali mendidih, dan dengan seketika berubah menjadi abu-abu menjijikkan sementara dua makhluk di sekitarnya berkomat-kamit membacakan doa.
Dan perlawanan gravitasi terbentuk ketika warna darah mendominasi, cairan itu naik ke atas kuali dan melayang, membentuk sosok tanpa daging, hanya tulang terbungkus kulit, yang secara perlahan berubah menjadi sosok gadis cantik, yang sama persis dengan putri tadi.
Sebuah Changeling telah lahir.
Dan tanpa keraguan, tak sampai hingga waktu satu bulan, seluruh keluarga gadis itu telah mati dengan mengenaskan di tangan sang Changeling. Roh itu menyeringai, menanggalkan hanbok berwarnanya menjadi gaun dalam putih panjang, rambut keemasannya menghitam, meninggalkan sedikit semburat pirang, dan giginya berubah menjadi taring, sementara matanya menghitam secara utuh.
Luhan menjauhkan matanya dari bola kristal tersebut, cairan hitam di dalamnya telah memudar. Dia menatap Xiumin, Changeling yang sama dengan yang dia lihat tadi. Yang lebih muda mengerjap, dia mengerti betapa mengerikannya roh itu, tapi dia justru melihat sekelebat rasa sedih di matanya.
"Jangan mengira aku tak membaca pikiranmu." Ucap Xiumin, menatap Changeling di depannya lekat-lekat, seolah dia mengerti setiap seluk-beluk yang dimiliki Luhan. "Aku tahu keraguanmu, aku tahu perasaanmu. Tapi apa kau tahu kenapa kita harus membunuh mereka?"
Luhan tak menjawab, hanya menggeleng pelan.
"Mereka adalah tonggak kita di dunia manusia," Xiumin menjawab sendiri pertanyaannya dan yang lebih muda menatapnya tak mengerti. Bukankah bagus memiliki sesuatu yang membuat keberadaan mereka di dunia manusia?
Xiumin menghela nafas ketika yang lebih muda menanyakan hal tersebut, mencoba menjelaskan. "Hidupmu bukan milikmu jika mereka masih ada. Di tubuh kita masih ada darah mereka, dan itu mengikat kita, akan sulit kembali ke negeri orang mati jika mereka terus mengikat kita bersama mereka." Dia memperhatikan Luhan yang mengernyit, "Lihat saja, kau akan kelelahan saat kau pulang nanti."
"Apakah membunuh adalah satu-satunya kesempatan?" tanya Luhan, mencoba mencari celah dimana dia tak harus membunuh dua manusia yang menjaganya, namun Xiumin hanya menatapnya nanar.
"Kau tahu kenapa aku seperti ini?" Luhan menggelengkan kepalanya, menatap mata hitam kosong roh yang baru saja memberikan petuahnya. "Itu karena aku membunuh mereka, bukan merelakan mereka."
Luhan mengerjapkan matanya dan mengerang lemah, memutar-mutar lengannya yang entah kenapa terasa pegal, semua tubuhnya kesakitan. Xiumin benar, berada di negeri orang mati benar-benar menguras energinya walaupun dia berasal dari sana.
Dengan hati-hati, gadis itu menuruni tangga dan mendapati kakaknya sudah berada di ruang makan, menatap sesuatu dengan tajam. Luhan berjingkat naik lagi ke atas dan mencoba mendengar apa yang Sehun katakan.
"...menyangkal, aku tahu ini ulahmu." Ucap suara remaja itu dan Luhan mengernyit, tak mengerti dan mendekatkan telinganya lagi. "Sudah kukatakan untuk tidak mengganggu keluargaku lagi."
"Kau makin lemah sejak kematian ayahmu." Dia dapat mendengar suara gebrakan meja setelah suara yang amat sangat familiar memenuhi telinganya. Itu Xiumin. Apa dia juga mengenal kepala keluarga Oh? "Kau mau apa? Memukulku? Aku takkan mati."
Bahkan Luhan yang berada di balik dinding dapat merasakan tatapan marah Sehun, "Ayahku mati karena kalian, dasar makhluk menjijikkan! Sekarang berani-beraninya kau mengganggu adikku!"
Luhan merasakan hantaman rasa sakit di dadanya seketika. Mendengar Sehun mengatakan hal seperti itu membuatnya merasa bersalah telah menggantikan adiknya dan menyembunyikan rencana busuknya untuk membunuh keluarga itu. Sehun sangat menyayangi Hani, dan Luhan merasakan air matanya jatuh ketika membayangkan apa yang akan terjadi jika remaja itu tahu dia bukan adiknya.
Seekor Amphisbaena melata ke dekat kakinya, mendesis sebelum berdenyar ditelan udara, dan Luhan tersenyum, negeri orang mati adalah habitatnya dan dia mengingat betapa dia sangat ingin hidup.
Benar, dia harus membunuh mereka. Dia harus menuntaskan misinya sebelum hati manusianya berulah lagi dan mengacaukan semuanya. Anak 12 tahun itu mengusap air matanya kasar, dia bukan manusia dan bahkan hatinya sendiri tak bisa menggoyahkannya.
"Hani?" Dia berjengit mendengar suara kakaknya dari samping dan segera berdiri, mengalungkan tasnya. "Kau sudah siap?" tanyanya dan dia mengangguk. Sehun tersenyum dan menarik tangannya, namun Luhan tak beranjak dan menatapnya sedih. "Ada apa?"
Luhan menatapnya dengan sedih, membuat Sehun makin mengernyit bingung. Sementara Luhan masih terbayang perkataan kakaknya tadi, dan hatinya makin terasa sakit. Sialan dengan Luhan yang mencoba mengalahkan hatinya sendiri, sementara kenyataannya air matanya sudah hampir menetes.
"Aku... Oppa, aku," gundukan di tenggorokannya tak bisa di kompromi, hingga akhirnya gadis itu menelan ludah, "Aku tak mau berangkat denganmu." Dan perkataan itu sontak membuat Sehun makin mengerutkan dahi, sebelum remaja itu dapat menjawab, Luhan sudah menyeret tasnya dan berjalan keluar dari rumah.
Ayahku mati karena kalian, dasar makhluk menjijikkan!
Luhan tidak bodoh. Jika serangan jantung adalah penyakit manusia, itu berarti Sehun sudah berbohong padanya. Ayah Hani tak mati karena serangan jantung, dia mutlak dibunuh oleh makhluk astral dari negeri orang mati.
Gadis itu berjongkok, meraungkan tangisnya, tak mempedulikan pandangan orang padanya. Entah kenapa hatinya merasa bersalah dan ingin melarikan diri dari semua itu. Dia tak peduli jika dia harus mati di tangan dua makhluk yang mengirimnya kesini, dia tak peduli, dia hanya ingin Sehun jauh darinya. Dia benar-benar tak sanggup untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Dasar lemah." Ucap seseorang dan Luhan mendongak ke atas. Xiumin menatapnya ke bawah, gaun putihnya masih menjuntai bersama dengan rambutnya. Roh itu berjongkok hingga sejajar dengan Changeling muda itu. "Lihat aku." Pintanya dan gadis itu dengan patuh menatap yang lebih tua. "Kau ingin wajahmu seperti ini nantinya?"
Dan Luhan menatap gigi taring, kulit pucat, dan mata yang sepenuhnya hitam kelam yang melihatnya balik. "Kau ingat apa yang kuucapkan?" tanyanya dan Luhan menggeleng, "Aku seperti ini karena membunuh mereka, bukan merelakan mereka."
Luhan menatapnya polos dan Xiumin merapikan poni gadis itu dengan lembut, "Aku hanya tak ingin ada yang berakhir sepertiku."
Changeling tak sempurna.
Kunci dari pelepasan mereka dari dunia manusia adalah rasa rela dan ikhlas. Rela untuk menghilangkan sisi kemanusiaan dan ikhlas untuk mengotori tangan dengan darah.
Namun ada beberapa Changeling yang tak sanggup untuk melakukan itu, mereka hanya membunuh, namun hati mereka belum tenang dan rela untuk melepaskan sisi manusia yang bertumbuh sekian lama mereka terjerat di luar negeri orang mati. Dan dengan itu mereka menjadi Changeling tak sempurna.
Wujud yang seharusnya adalah berwajah cantik, dengan kulit putih sempurna dan mata bersinar, rambut tergerai panjang dengan indah dan sayap melebar di belakangnya. Mirip peri. Namun seolah kebalikannya, Changeling tak sempurna akan merubah diri menjadi monster. Gigi taring, rambut hitam kusut, mata gelap kosong, dan kulit pucat. Bahkan jalannya tak sempurna, lebih seperti membungkuk.
Dan Luhan menyadari Xiumin adalah salah satu dari Changeling tersebut.
Seolah sudah lama sekali, Luhan mengingat ketika dia pertama bertemu dengannya dan mengatainya mengerikan. Dia menyesalinya, siapa yang tahu jika hati Xiumin merasa terluka atau tidak.
Sekali lagi, Luhan menemukan dirinya di negeri orang mati, dan dengan hati-hati dia berjalan menyusuri lorong-lorong berpencahayaan obor tersebut. Hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan penuh sel, spartoi berjaga di sekelilingnya.
"Aku ingin menemui Oh Hani." Ucapnya memberanikan diri dan makhluk tulang itu bergemeretak sebelum mempersilahkannya memasuki sebuah sel, dimana Oh Hani masih berada dalam dekapan makhluk bersayap kelelawar.
Luhan berjongkok, tak menghiraukan tatapan mendengus monster itu. "Aku tahu dia milikmu sekarang, tapi aku harus bicara dengannya sebentar." Pintanya dengan tenang, dan perlahan, monster itu melepaskan dekapannya.
Dan Oh Hani membuka matanya.
Mata manusia itu membelalak ketika melihat Luhan berjongkok di depannya – tampak persis seperti dirinya – dan menatapnya dengan perasaan bersalah. "K-K-Kau..."
"Aku tahu." Jawab Changeling itu singkat, menghela nafas. "Aku takkan bertanya apapun tentang bagaimana kau disini, aku tahu bagaimana, tapi aku harus menanyakanmu satu hal." Ketika Hani tak menjawab dia melanjutkan pertanyaannya. "Apa kau tahu bagaimana ayahmu mati?"
Bahkan makhluk kelelawar itu menegang ketika mendengar pertanyaan Luhan dan Hani melirik monster itu. "Dia bilang," dia menunjuk sosok astral yang menjaga rantainya, "Appa dibunuh oleh Empusa."
Empusa. Untuk apa sosok itu membunuh seorang laki-laki, apalagi seorang pria dewasa yang bisa saja dia hisap darahnya? Luhan mengernyit, Empusa adalah sosok wanita bagi Vampir, jika Vampir menghisap darah wanita muda, Empusa akan menghisap darah pria yang dia goda. Atau mungkin sang ayah mati karena godaan makhluk itu?
"Dia bilang Appa mencoba mengusirnya, jadi Appa mati." Dia menyaksikan Hani terisak di belenggu sel mereka, "Appa mencoba menolong Oppa yang hendak dihisap darahnya, justru dia yang mati."
Sehun?
Benar sekali, mustahil jika sosok Empusa tak mencoba memikatnya, dalam ukuran manusia, remaja itu sangat mempesona. "Bolehkah aku bertanya?" Luhan mengangguk, "Sehun Oppa, apa dia tahu kau bukan aku?"
Luhan menggeleng pelan, "Dia tak tahu." Dan Changeling itu menangkap rasa khawatir dari kilatan mata sang manusia, hingga dia harus menggenggam tangannya dan membuat janji paling berbahaya yang pernah dia buat. "Aku takkan pernah menyakitinya, aku janji."
"Oh Hani!" Luhan terlonjak dari tidurnya ketika suara gurunya mengagetkannya, membuatnya mengusap wajahnya perlahan untuk menghilangkan kantuknya. Seluruh mata tertuju padanya dan gadis itu menunduk malu, wajahnya memerah. "Kerjakan soal ini ke depan, cepat!"
Dengan perlahan, Luhan berdiri menuju papan tulis. Energinya masih banyak terkuras karena tadi dan dia hanya bisa terpincang menuju ke depan kelas. Hingga akhirnya pemandangannya berubah hitam dan dia merasakan dirinya ambruk ke lantai kelas.
Changeling itu terbangun di ruang kesehatan sekolahnya, di sampingnya adalah Xiumin yang menatapnya kesal. "Kau bodoh atau apa? Jika ingin pergi kesana beritahu aku dulu!"
Luhan menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia tanpa sadar pergi kesana ketika mendapati dirinya tertidur di kelas, dan karena kebetulan dia berada disana, dia pergi untuk menemui Hani. "Maaf."
Yang lebih tua menghela nafas, "Mereka memberitahu Sehun, aku harus pergi karena anak itu bisa merasakan kehadiranku." Ucapnya dan setelah Luhan mengangguk, sosoknya berdenyar dan hilang.
Tak lama kemudian, Sehun berderap masuk ke ruang kesehatan, bersyukur karena sekolah mereka yang mencakup SD, SMP, dan SMA masih berada di satu area. Jika tidak, sepertinya Sehun juga akan ikut pingsan saking khawatirnya.
Dia memeluk adiknya yang membelalak melihat sang kakak yang muncul secara tiba-tiba. "Kau tak apa? Apa yang terjadi?" Sehun terus memborbardirnya dengan pertanyaan tanpa melepas pelukannya, membuat Luhan mendorongnya sekuat tenaga.
"Aku tak apa." Ucapnya dingin.
"Hani, kau baru pingsan di sekolah, kau dengar aku? Pingsan! Lalu kau bilang kau tak apa-apa?" Luhan tak mau menatapnya, alih-alih, dia menyibakkan selimutnya dan beranjak dari tempat tidur, terhuyung. "Lihat, kan?"
Gadis itu menepis tangan yang memapahnya. "Sudah kubilang aku tak apa." Dia berbaik, tak melihat tatapan terluka sang kakak di belakangnya, "Oppa seharusnya di kelas, aku akan kembali juga."
"Tidak, kau pulang." Luhan memutar matanya, "Jangan lakukan itu, kau menurut padaku dan pulang sekarang." Dia menarik tas yang gadis itu genggam, "Aku akan mengantarmu."
Luhan merebahkan dirinya di tempat tidurnya, merasa bersalah atas perlakuan yang dia berikan pada Sehun tadi. tak seharusnya dia bersikap dingin seperti itu dan dia tak mengerti kenapa dirinya bertindak seperti itu.
"Kau nampak kacau." Ucap roh disampingnya yang terus mengikutinya. Jika dulu Changeling muda itu akan merasa terganggu dan ketakutan, sekarang dia menerima keberadaan Xiumin dengan baik.
"Aku hanya bingung." Ucapnya, tangan di atas jidatnya dengan lelah, "tapi aku tak yakin bisa menceritakan padamu atau tidak."
Roh itu memanjat ke atas tempat tidur Luhan, menyilangkan kakinya, "Kalau begitu panggil aku Eonnie untuk sekarang dan ceritakan masalahmu." Luhan tersenyum, merasa akhirnya bisa mempercayai mahkluk yang sama sepertinya.
Dan Luhan pun mulai bercerita.
Bagaimana rasa bimbang terus menyeruak setiap kali dia melihat wajah Oh Sehun, ketika dia telah menetapkan bahwa dia takkan bersikap lembut, wajah remaja itu akan muncul di pikirannya dan membuatnya goyah. Menyadarkan sisi kemanusiaannya yang awalnya memudar.
Dan betapa hangatnya ibu Oh Hani padanya, membuatnya tak ingin menumpahkan darah wanita itu. Dia seolah seorang manusia yang terlalu baik untuk dibunuh. Dan sekali lagi, rasa kemanusiaannya muncul, walaupun lebih kuat ketika itu tentang Sehun.
"Apa kau pernah merasakan hal seperti itu?" Xiumin mengerucutkan bibirnya, mencoba mengingat, kemudian mengangguk. Mata Luhan melebar, "Benarkah?"
"Dia adalah putra mahkota." Bisik Xiumin dan Luhan mengingat bagaimana gadis di bola kristal lolos mengikuti seleksi pemilihan istri pangeran tersebut. "Aku bahkan masih mengingat namanya," Changeling itu menerawang, "Kim Jongdae," dia tersenyum.
"Tapi kau dengan cepat menetapkan pilihanmu." Bisik Luhan, membuat senyum Xiumin memudar dan menghela nafas.
Matanya menerawang jauh seolah kehidupan itu adalah hidup yang tak ingin dia ingat-ingat. "Dia hidup dengan baik," ceritanya, "Kim Minseok. Dan putra mahkota sangat mencintainya, tapi kemudian aku muncul dan menghalangi mereka."
Luhan mengerutkan dahinya. Cinta? Apa itu cinta? Dia tak pernah mendengar kata itu, sama sekali belum pernah. Dan kalimat yang Xiumin ucapkan membuatnya berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang buruk.
"Apa kau pernah merasa sakit ketika Sehun memanggilmu dengan nama yang lain, bukan namamu yang sebenarnya?" Luhan menatap tangannya dan menggeleng, dia tak pernah merasakan sakit fisik apapun di kondisi yang disebutkan. "Maksudku adalah hatimu."
Luhan berpikir sejenak, "Pernah, sedikit, yah, lebih kurang."
"Aku juga seperti itu, dia terus memanggilku Minseok," Xiumin mengutarakan, menatap Luhan yang menunduk, "Dia tak mencintaiku, dia melihat orang lain di dalam diriku. Jadi aku membunuh orangtua gadis itu dan pulang."
Roh itu merasa Luhan terlalu cepat untuk jatuh, rasa yang tak seharusnya dia miliki dan tak boleh dia miliki muncul dengan sangat cepat setelah dia berada di dunia manusia, anehnya, hal yang sama terjadi padanya.
"Tapi," mereka mengatakannya bersamaan dan yang lebih tua memintanya untuk melanjutkan. Sekarang Luhan tahu situasinya, bagaimana Xiumin ingin sang pangeran memanggilnya dengan namanya yang sebenarnya, Xiumin telah jatuh cinta dengan pangeran itu. "Tapi sepertinya kau belum rela melepaskan kemanusiaanmu."
Xiumin mengangguk, "Aku sangat serakah."
Luhan terus memikirkan kalimat Xiumin, matanya menatap Sehun yang tengah membaca di ruang tamu mereka. Dia ingat perkataan roh itu, sudah lama sekali, ketika dia mengatakan bahwa Luhan akan menjadi sepertinya suatu saat.
Mungkin saja Xiumin dapat melihat keraguan di matanya bahkan ketika mereka baru bertemu. Mungkin saja Xiumin dapat menerawang apa yang akan dia lakukan disini. Mungkin saja Xiumin dapat memprediksi perasaannya.
Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa Sehun menjadi semakin mempesona ketika dilihat dari sini? Kenapa dia tampak tampan di setiap sudut pencahayaan lampu yang menerpanya? Kenapa tatapan seriusnya ke buku yang dia baca membuat Luhan menelan ludah?
Hati manusia sangat aneh, menurut Luhan. Dia berdebar untuk orang yang tak seharusnya, Luhan semestinya membunuh Sehun dan ibunya, bukan menikmati jantungnya yang melompat-lompat karena memperhatikan remaja itu.
Xiumin terus memperingatkannya agar tidak menjadi seperti dirinya. Cepat atau lambat, dia harus membunuh mereka dan pulang, bukan tetap berada di antara mereka dan tumbuh dewasa, ini bukan takdirnya.
Dia menyaksikan remaja itu meletakkan bukunya di atas dada dan memejamkan mata, tertidur. Luhan memandangi wajah polos dan damainya, seolah tak ada beban apapun yang membawanya ketika dia berada di alam mimpi. Andai saja mimpinya membuat tidur Luhan nyenyak.
Setiap kali dia tertidur, dia akan kembali ke negeri orang mati, dimana dia berbincang dengan Hani, lalu terbangun dengan tubuh pegal. Bukan karena dia tak mau kembali ke daerah bayang-bayang, tapi dia merasa jengah ketika setiap hari harus terbangun dengan tubuh kesakitan.
"Hani," panggil ibunya dan dia menoleh, "Panggil kakakmu, ayo kita makan."
Dan dengan perlahan Luhan menuju tempat Sehun terlelap, dengan lembut mengguncangkan bahu yang lebih tua. "Oppa, Eomma bilang makanan sudah siap, Oppa." Panggilnya dan menarik tangan Sehun.
Namun matanya membelalak ketika Sehun justru menariknya ke sebuah pelukan, menjatuhkan buku yang tadi dia baca, dia mengerti jika Sehun tanpa sadar melakukannya, namun itu membuatnya ketakutan, jantungnya seolah bermarathon ketika mereka berada di posisi itu.
"Oppa," dia memukul pelan lengan kakaknya, "Oppa, bangun." Dan Luhan merasa bersyukur ketika mata Sehun mengerjap terbuka, dengan kaku melepaskan pelukannya. "Eomma bilang makanan sudah siap." Lalu berjalan cepat menuju ruang makan, meninggalkan Sehun yang mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kau tampak kacau, Hun." Tegur Chanyeol, sahabatnya sekaligus kakak kelasnya, dan dengan penuh rasa jahil mengusak rambut Sehun hingga berantakan. "Ayo, katakan pada Hyung-mu ini."
"Hyung," mulainya dan Chanyeol mengangguk-angguk, memintanya meneruskan. Sehun membasahi bibirnya, merasa ragu apakah dia bisa mengatakan ini pada temannya. "Apa kau pernah menyukai seseorang?"
Chanyeol terbahak, mendengar perkataan Sehun yang terdengar polos, "Tentu pernah, tapi itu hanya tambatan hati biasa, aku tak menyukainya lagi. Apa itu yang membuatmu bimbang?"
Yang lebih muda menghela nafas, "Masalahnya adalah, dia adikku." Dan dengan itu Chanyeol tersedak minuman yang tengah diteguknya, menatap Sehun tak percaya, matanya membulat.
"Kau bercanda." Dia tertawa gugup, namun orang di depannya hanya menatapnya, membuat Chanyeol mati kutu. "Kau serius?" Sehun mengangguk, dan yang lebih tua nyaris tertawa, nyaris. "Oh Hani? Adikmu? Kau menyukainya?"
"Dia aneh, Hyung, aku... aku tak mengerti juga, aku tahu ini gila, astaga, Hyung!" dia mengibaskan tangannya, meneguk minuman dari botolnya sebelum berdiri dari duduknya, "Lupakan saja, ini mungkin hanya pemikiranku."
Chanyeol hanya mengangguk, "Berdoa saja ini baru gagasan, kalau sampai kau terlibat incest, ah, aku tak ingin hidup sahabatku dipenuhi drama."
"In... apa?" Chanyeol hanya mengibaskan tangannya, mengajak temannya untuk pulang dan tak membicarakan itu lagi.
Diam-diam, Sehun juga berdoa bahwa ini hanyalah gagasan belaka, dia tak ingin terlibat kisah cinta rumit dengan catatan bahwa gadis yang dia sukai adalah adiknya. Hani adalah adiknya, adik! Darah mereka mengalir dari wanita yang sama, mereka tumbuh besar bersama, memanggil orang yang sama dengan sebutan ayah dan ibu, Sehun tak mungkin menyukainya, dia tak bisa.
Dia memperhatikan Hani yang tengah makan dengan lahap dan perlahan di sampingnya, membuatnya berdeham dan memfokuskan diri pada piringnya sendiri. Sangat sulit ketika orang itu berada di sampingnya.
Seharusnya dia tak memikirkan itu, karena Sehun mulai berpikir bahwa gagasan itu mulai menjadi nyata. Dan itu membuatnya gugup serta ketakutan. Gadis itu menatap balik padanya, mengerjap dua kali sebelum beralih ke piringnya lagi, mengabaikan yang lebih tua.
Dia mulai bersikap aneh, Sehun yakin bahwa dia baru saja menelan ludahnya sendiri kasar ketika memperhatikan adiknya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Sebenarnya apa yang ada di otaknya sehingga dia terkena gagasan semacam ini?
Hani adalah adik yang seumur hidup terus bersamanya, astaga mereka bahkan pernah mandi bersama saat masih kecil, tapi memikirkan itu lagi, wajah Sehun bersemu merah. Ini seharusnya tidak terjadi, tidak ada satupun yang seharusnya terjadi di sekitar sini.
"Eomma, aku akan naik dulu." Ucap yang paling kecil, menerima anggukan dari ibu mereka dan dengan itu dia beranjak dari tempat duduknya.
Sehun memperhatikannya pergi, menimbang-nimbang apakah dia harus ikut ke atas atau tidak, karena wajah anak itu tampak cemberut sejak tadi. Remaja itu berdeham dan melanjutkan makannya, mencoba untuk tidak menghiraukan apa yang barusan terjadi.
Namun ketika ibunya sudah pergi meletakkan piring yang kotor dan Sehun menatap sisa makanan adiknya yang masih benar-benar tak habis, dia mengerang kesal, mengacak-acak rambutnya. "Kenapa hanya aku yang begini?!"
Dia mengetuk – baca, menggedor – pintu kamar di depannya, nampan berisi makanan di tangannya. Sehun menghela nafas gusar, dia benar-benar gila, bahkan dulu, walaupun dia sangat menyayangi Hani, tak pernah ada sejarah menuliskan bahwa seorang Oh Sehun membawakan nampan berisi hidangan makan malam lengkap ke kamar Oh Hani. Tak pernah.
Tapi selamat datang, para pencatat sejarah.
"Hani, buka pintunya, kau tak menghabiskan makanmu." Ucapnya perlahan dan dia mendengar sayup-sayup suara langkah kaki dan pintu akhirnya terbuka, menampakkan gadis 12 tahun yang sudah mengenakan gaun tidurnya. "Kukira kau takkan menjawab."
Luhan menundukkan kepala, membiarkan rambutnya tergerai ke depan menutupi wajah. Bahkan dalam pemandangan seperti ini, dengan gaun tidur kusut yang pasti karena tiduran dan rambut yang baru setengah disisir, adiknya nampak cantik di mata Sehun. Remaja itu berdeham keras-keras, menghilang pikiran itu dari kepalanya.
"Kau... kau belum menghabiskan makan malammu." Ucapnya datar dan menyerahkan sebuah nampan berisi nasi, sup, dan kimchi lengkap. "Kenapa?" tanyanya ketika gadis itu menggeleng, "Aku tak mau kau sakit, makanlah."
Luhan terus menggeleng, "Aku tak lapar." Sejak apa yang dia bicarakan dengan Xiumin, nafsu makannya menurun drastis, seolah tubuhnya mengetahui bahwa dia kehilangan harapan untuk menjadi tetap utuh.
Remaja itu menggeleng, merengsek masuk ke dalam kamarnya dan duduk di kursi meja belajar, meletakkan nampan di atas meja. "Aku tak mau pergi hingga kau makan." Dia memutuskan, "Atau kau perlu kusuapi juga?"
Luhan menggeleng dan dengan terpaksa mengangkat nampannya, menyeruput kuah sup sebelum mengambil sesendok nasi. Dia melirik Sehun yang masih setia menunggu mangkuknya kosong, menatapnya.
Gadis itu meletakkan sumpitnya dan mendorong sisa makanannya, "Sudah kubilang aku tak lapar." Dia merenggut, membuat Sehun menghela nafas kasar, mencoba untuk menghadapi yang lebih muda.
"Jika kau sakit bagaimana?"
"Aku takkan sakit."
"Kau dengar kata 'bagaimana'?"
"Sudah kubilang aku takkan sakit." Luhan mendesak, menaikkan suaranya, "Jadi berhenti mengkhawatirkanku dan pergi saja."
Sehun mundur seketika. Adiknya tak pernah berbicara dengan kasar padanya, apalagi meninggikan suaranya, namun anak di depannya tampak seperti orang asing yang baru saja dia kenal.
Remaja itu mendorong dirinya untuk berdiri, "Kalau begitu terserahmu." Ucapnya dingin, mengangkat nampan yang masih berisi makanan dan beranjak pergi begitu saja, "Tak usah makan dan mati saja."
Sudah berhari-hari sejak Sehun dan Luhan bertengkar, hal ini membuat ibu mereka merasa frustrasi. Seperti pagi ini.
Ketika Sehun beranjak untuk sarapan dan melihat yang lebih muda lebih dulu duduk di kursinya, remaja itu akan mengambil sepotong roti dan memakannya di perjalanan. Dan Luhan juga menjadi lebih sering makan di kamarnya di bandingkan di ruang makan bersama mereka.
"Berhentilah bertengkar, jika Eomma mati kau yang harus menjaganya." Sehun menatap ibunya, bingung.
"Kenapa Eomma bicara seperti itu?" ibunya hanya menggelengkan kepala dan terus mencuci piring yang kotor. Sehun melihat ibunya dengan curiga, "Eomma?" namun ibunya hanya menghela nafas dan terus membersihkan alat makan.
"Kau tak perlu khawatir, pergilah."
Sang ibu menghela nafas perlahan, menatap punggung anaknya yang beranjak untuk masuk ke kamarnya, lalu mengelap tangan dan menemui putrinya yang berada di kamarnya.
Dia mengetuk pintu beberapa kali dan masuk ke ruangan itu, menemukan anak 12 tahun yang sedang membuka bukunya, pensil di tangan. Dia tersenyum dan duduk di atas tempat tidur.
"Sedang belajar?" dia mengangguk, diam saja. "Kau dan kakakmu masih tak mau berbaikan?" Luhan menegang karena itu, dia tahu dia salah ketika berteriak pada kakaknya tempo hari dan mengusirnya karena mengkhawatirkannya. Tapi perkataan Sehun sangat menusuk dirinya ketika remaja itu menyuruhnya untuk tak usah makan dan mati.
"Dia yang harus minta maaf." Ucap Luhan, membela diri dan terus mengulang apa yang dia pelajari di sekolah. Gadis itu menghela nafas, dapat merasakan tatapan memohon 'ibu'nya dari belakang. "Eomma, apa aku terlalu kasar?"
Ibunya bergumam bingung, "Eomma bahkan tak tahu apa yang kalian pertengkarkan." Jawab wanita itu, tersenyum, "Intinya harus ada yang meminta maaf, jika tidak, akan ada yang terluka."
Xiumin datang malam itu, dan Luhan kembali menceritakan apa yang terjadi kepada roh yang berteman dengannya. Namun dia tak terlalu membantu apa-apa, Changeling yang lebih tua hanya berkata bahwa jika mereka tak berbaikan, merekalah yang akan menderita.
"Kau mungkin akan membunuhnya, itu bagus, tapi jika kau terus merasa bersalah itu sama saja menjadi Changeling tak sempurna." Ujar roh itu, berjongkok di atas tempat tidur dimana Luhan merebahkan tubuhnya.
Yang lebih muda menghela nafas, membenarkan apa yang dikatakan temannya, andai saja dia mau meminta maaf duluan. Namun dia merasa canggung melakukan itu, apalah dengan berbagai kalimat yang mereka perdebatkan.
Tak usah makan dan mati saja.
"Benar, aku seharusnya mati saja." Ucap Luhan tanpa sadar dan Xiumin menegakkan pandangannya, menatap kaget yang lebih muda. "Itu akan menjadi lebih mudah."
Roh itu menggelengkan kepalanya, "Kau gila, Lu." Dia menatap lekat-lekat Luhan yang kini berdiri dari tidurnya, matanya bertemu dengan mata Xiumin. "Sebenarnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
Luhan hanya diam.
"Tak usah makan dan mati saja." Ulang Xiumin, mengeraskan suaranya, mirip dengan nada Sehun waktu itu, tertawa kesal, "Kau kira dia serius mengatakan itu?" Luhan mengendik, kembali tiduran dan memutar badannya, membuat yang lebih tua menendang punggungnya.
"Aduh!"
"Bodoh." Ucap Xiumin, menatapnya tajam. "Dia sangat menyayangimu, dia tak ingin kau kelaparan, karena itu dia mengucapkannya. Apa kau mau mati?" tanyanya dan Luhan menggeleng, "Kalau begitu makan."
"Tapi," Luhan terdiam, mengingat seseorang di sel penjara yang pernah dia datangi, matanya berubah menjadi sayu dan sedih, "satu hal yang kau salah adalah dia menyayangiku." Ucapnya nanar, membuat Xiumin merasa bersalah. "Dia menyayangi Oh Hani, bukan aku. Aku ini Luhan."
Xiumin menunduk, seolah mengingat masa-masa ketika dia dengan bahagia bertukar kabar dengan putra mahkota yang mengira bahwa dia adalah calon permaisurinya. Situasi Luhan hampir mirip dengannya saat itu, seolah dia berada di sejarah edisi terbaru.
"Kau benar." Ucap yang lebih tua, suaranya pelan dan lirih, "Sangat sulit untuk disayangi ketika kita tak ditakdirkan untuk itu. Tapi bukankah itu lebih dari cukup ketika dia menatapmu, mengkhawatirkanmu?"
Luhan menoleh ke arah Xiumin, menatap bola matanya yang sudah berkaca-kaca, seolah percakapan mereka membuka luka yang sudah lama menutup.
"Jangan sepertiku, Luhan. Kau tak bisa sepertiku."
Luhan menatap nanar pintu kamar Sehun, menimbang-nimbang apakah dia harus mengetuknya atau tidak. dia sudah memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu, setelah Xiumin yang terus mendesaknya, akhirnya Changeling itu bersedia untuk mengutarakan rasa bersalahnya.
Namun ketika berada di pintu kayu di samping ruangannya, hati Luhan mulai goyah. Apakah mungkin Sehun mau memaafkannya, setelah sekian lama tak bertemu walaupun mereka berada di satu rumah? Setelah kata-kata yang mereka ucapkan.
Luhan mulai ragu, apakah dia benar-benar harus meminta maaf atau tidak. Mungkin dia harus menemui Oh Hani untuk bertanya apa yang dia lakukan jika kakaknya marah padanya. Namun Luhan merasa dia perlu melakukan ini sendiri, tanpa berpura-pura, menjadi seorang Luhan bukan seorang Oh Hani.
Walaupun Sehun akan selalu memanggilnya itu.
Luhan menyentuh dada kirinya, tempat dimana organ yang disebut sebagai jantung oleh manusia mulai berdetak tak karuan, seolah merasakan suasana hatinya yang bimbang dan gugup. Andai saja sisi kemanusiaan ini tak ada, bisa saja dia membunuh mereka dan kembali ke negeri orang mati.
Namun itu tak mungkin. Pilihannya adalah hidup atau mati, dia harus kembali dengan darah di tangannya, atau mati sebagai makhluk yang menyelamatkan keluarga kembarannya. Bagi Luhan, keduanya adalah sama. dia ingin hidup, namun dia tak pernah mau dan tega untuk membunuh dua anggota keluarga Oh.
Seperti kata Xiumin, keserakahan.
Changeling itu menghela nafas, merasa tak ada gunanya jika dia terus berdiri di depan kamar Sehun tanpa melakukan apa-apa. Dan saat telinganya menyentuh payu tersebut ketika kepalanya bersandar, dia dapat mendengar dengan jelas dua suara. Membuatnya mengerutkan kening.
"...saja, dasar kau pengecut." Ucap satu suara, yang jelas bukan Sehun, diikuti tawa ketika terdengar suara berdebum berat di lantai. "Hey, santai sedikit."
"Diam saja, Hyung, aku sedang berpikir." Dan itu adalah Sehun.
"Hei, kalau kau menyukainya katakan saja."
"Jika misalnya kau menyukai Yoora Noona, apa kau mau mengatakannya?" tak tedengar sebuah balasan. "Lihatkan?"
"Hei, tapi tak mungkin aku menyukai Noona-ku, hah!" teriaknya ketika suara berdebum kembali terdengar. "Jika kau terus melempar bantal itu lebih baik kau tak menelponku untuk datang."
"Hyung! Tak bisakah kau bantu aku sedikit?"
"Sudah kubilang untuk mengatakannya saja, atau perlu aku yang panggil dia? Hani!"
"Sialan! Chanyeol Hyung!"
"Hah!"
Dengan itu pintu terbuka, menjatuhkan Luhan yang tadinya bersandar di pintu. Tangannya menahan diri di atas lantai, berhadapan dengan remaja tinggi bertelinga caplang, matanya melotot kaget.
Sementara Sehun tengah duduk di tempat tidurnya, mata sama lebarnya.
Si caplang, Chanyeol, langsung menoleh ke Sehun. "Dia Hani, kan?"
Luhan menatap Sehun yang membalasnya dengan tatapan yang sama. Gadis itu berusaha mencerna apa yang mereka bicarakan tadi, Sehun menyukainya? Atau dia menyukai Oh Hani?
Semuanya terasa membingungkan ketika kau memiliki wajah yang sama dengan orang lain dan orang disekitarmu tak tahu bahwa kalian serupa, terlebih lagi jika kau adalah bagian dari dunia astral.
Jadi Luhan atau Hani?
Hanya itu kalimat yang berputar di pikirannya sementara Changeling itu terus menatap kaget orang yang dipanggil kakak olehnya, sementara Sehun menatapnya dengan kaget kemudian meloncat turun, menarik tangannya.
Sehun menariknya sampai ke kamarnya, mendobrak pintu hingga tertutup sebelum berjalan untuk memunggunginya.
"Sejak kapan kau menguping?" tanyanya, namun anak di belakangnya tak menjawab, hanya tertunduk. "Oh Hani, sejak kapan kau menguping?"
Luhan sangat ingin berteriak untuk berhenti memanggilnya seperti itu. Untuk pertama kalinya, dia membenci nama yang diberikan oleh manusia yang serupa dengannya, untuk pertama kalinya dia ingin memberitahu Sehun siapa namanya yang sebenarnya.
"Kau tak mau menjawab?" tanyanya, berbalik, menatap gadis yang masih menunduk, tak mau menunjukkan wajahnya. Dari balik surai kecoklatannya, Luhan dapat melihat tatapan Sehun yang mengintimidasi, sangat dingin dan tegas, mengerikan.
"Oh Hani, kau tak mau menjawab?" Berhenti, Luhan menutup matanya, mencoba menulikan telinganya. "Apa yang kau dengar?"
Apa yang dia dengar?
Kalimat yang membuatnya bingung.
"Banyak." Jawabnya dingin, suaranya serak, "Banyak sekali." Cukup banyak untuk membuatnya berpikir bahwa Sehun memiliki perasaan yang tak seharusnya.
"Sebanyak apa?"
"Sudah kubilang banyak sekali."
"Aku tanya sebanyak apa?!"
Luhan mundur seketika. Sehun telah membentaknya, atau ini hanya karena mereka belum berbaikan sehingga dia terus terbawa emosi ketika bersamanya? Atau Sehun memang ingin membentaknya dengan keras seperti itu?
Dan seketika, hati Luhan terasa sangat sakit, tanpa sadar, iris matanya memerah, menggelap penuh luka. "Aku ingin membunuhmu." Bisiknya parau, dan sebelum Sehun dapat mengatakan apapun, suara debuman terdengar dari meja belajarnya.
Sebuah buku tebal yang terletak di tengah tiba-tiba terjatuh.
Dan dari sudut matanya, dia melihat Xiumin yang berada sangat dekat, berbisik, "Kendalikan dirimu." Dan seketika, mata Luhan menghitam kembali.
Sehun menghela nafas dan berbalik, membuat roh disampingnya kembali berdenyar pergi. "Kau mendengar apa? Sangat banyak?"
Luhan mengangguk.
"Dan kau ingin mendengarku menyatakan perasaanku atau mengusirku sekarang?"
Luhan mengangkat kepala, memberanikan diri bertemu mata dengan Sehun. Batinnya menjerit agar memintanya membuat Sehun menyatakan perasannya, namun Changeling itu mengerti, Sehun tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Oh Hani adalah orang yang Sehun sukai.
Jika Sehun berkata bahwa dia menyukai adiknya maka itu bukan Luhan itu Oh Hani, dan takkan pernah ada gunanya jika remaja itu membuat sebuah pernyataan disini.
"Keluar dari kamarku." Ucapnya dingin.
Dan Sehun dengan tegas berbalik dan menutup pintu, bersandar di balik pintu kayu kamar sang adik. "Aku menyukaimu." Bisiknya nanar, tak menyadari Luhan yang ikut bersandari di sisi baliknya.
Changeling itu menggelengkan kepalanya, menghapus air mata yang terjatuh ke pipi lembutnya dengan kasar. Orang itu bukan dia, Luhan tak punya hak untuk mendengar pernyataan itu, dia memang seharusnya tidak mendengarnya.
Seharusnya dia bersikap biasa, tapi kenapa itu membuat hatinya terasa sakit?
Aku ini tak sempurna, bahkan hingga nanti, aku mungkin takkan pernah menjadi sempurna, dan bahkan hidup yang akan dan sedang kuhidupi, sekarang ataupun nantinya, terasa sangat tidak sempurna.
Itu karena kau.
This is too fast, oh my God
Anyway, gimana?
Boring, fast, or... is it good enough?
Anyway, aku baca sendiri chapter satu dan baru nyadar ada beberapa typo.
Aku mohon maaf kalau ada typo kayak gitu, karena tanganku mungkin kepeleset di keyboard.
Disini juga, kalau ada, neomu neomu neomu mianhae... /\
So, that's all, thanks...
Oh, forgot, kalau ada sesuatu tak mengenakkan, kritik, saran dkk,
Review juseyo /\
Yoon Soo Ji, Out!
