Title: MYSTERY OF BIGHIT HOSPITAL
Cast: Yoongi, Hoseok, Taehyung, Namjoon, Jimin, Jin, Jungkook
Lenght: Chapter Part
Rating: 15+
Author: Tae-V [Twitter KTH_V95]
CHAPTER 2
.
TAEHYUNG POV
Aku membuka kedua mataku.
Perasaan apa ini?
Mengapa kepalaku terasa sangat sakit?
Seluruh anggota tubuhku juga terasa sangat nyeri dan sakit untuk kugerakkan?
Aku menatap sekitarku.
Kamar bertembok putih, dengan gorden putih di jendela.
Semua serba putih.
Aku berusaha mengingat lagi apa yang sebenarnya terjadi.
Dan perlahan tapi pasti, ingatan itu terputar di benakku.
Ketika aku dan Jimin sedang bersemangat untuk menaiki bus itu.
Ketika aku, Jimin, dan teman-teman lainnya tertawa bersama di dalam bus itu.
Dan...
Ketika bus kami terjatuh ke jurang...
Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Argggghhhh..
Rasa sakit di kepalaku benar-benar membuatku kesakitan!
Apa ini rumah sakit?
Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki berjalan mendekatiku.
Lalu sebuah suara terdengar.
"Kau sudah sadar, Taehyung ah? Dahengiya!"
Suara yang sangat tak asing di telingaku.
Suara milik Park Jimin, sahabat terbaikku.
Tubuh Jimin kini terlihat berdiri tepat di samping kasurku.
"Jimin ah... Kita ada dimana?" tanyaku, masih dengan nada lemah.
"Bighit Hospital." sahut Jimin. "Rumah sakit.."
"Ahhhh..." sahutku pelan. "Jadi.. Kita belum mati?"
Jimin menganggukan kepalanya, namun ekspresinya berubah menjadi sedih.
"Mana teman-teman lainnya?" tanyaku.
Jimin terdiam.
"Waeyo? Mengapa kau tak menjawabku?" tanyaku.
"Hanya kita... Yang selamat." sahut Jimin.
DEG!
Apa aku salah dengar?
Apa pendengaranku terganggu?"
"Mwoya? Apa maksudmu? Kau bercanda kan? Ya kan?" tanya ku.
Jimin menggelengkan kepalanya. "Aku juga mengetahui hal itu awalnya karena dokter disini memberitahuku ketika aku sadar.. Aku juga tidak percaya, sama sekali tidak percaya! Namun, setelah melihat beritanya ditayangkan di televisi, aku baru percaya bahwa itu benar."
"Bagaimana... Bagaimana bisa hanya kita yang selamat?" tanyaku.
"Bersyukurlah kau memiliki teman seperti Park Jimin hwanja, Jika tidak, kau juga sudah ikut terbakar di dalam sana." sahut sebuah suara yang asing di telingaku.
Sesosok pria yang mengenakan seragam perawat berjalan menghampiriku dan Jimin.
"Ah.. Hoseok ganhosa..." sahut Jimin.
"Selamat pagi, Jimin hwanja." sapa pria yang dipanggil Hoseok ganhosa itu kepada Jimin sambil tersenyum.
Lalu, perawat itu menatapku. "Syukurlah kau sudah sadarkan diri... Selama kau koma, Jimin hwanja selalu berdoa sambil menangis, memohon agar kau membuka kembali kedua matamu."
"Aku? Koma? Berapa lama?" tanyaku.
"Hampir satu minggu kau tidak membuka matamu, Taehyung ah..." sahut Jimin.
Aku bisa melihat, kedua bola mata Jimin sudah dibasahi air mata.
"Kau menangis?" tanyaku. "Untukku?"
"Tentu saja, imma!" sahutnya sambil menghapus air mata di bola matanya itu.
"Tunggu sebentar." sahutku sambil menatap perawat itu. "Apa maksud ucapanmu tadi? Kalau bukan karena Jimin, aku sudah terbakar? Apanya yang terbakar?"
"Bus yang kalian tumpangi sudah meledak ketika tim medis kami tiba di lokasi. Tubuhmu dan Jimin hwanja kami temukan terbaring tak sadarkan diri di tengah hutan tak jauh dari lokasi kejadian. Ternyata Jimin hwanja sempat sadarkan diri sebelum bus itu meledak, lalu ia membopong tubuhmu dan membawamu keluar dari bus itu. Tak lama kemudian ia jatuh pingsan bersama tubuhmu di tengah hutan." sahut perawat bernama Hoseok itu.
Aku terbelalak.
"Jin... Jinjja?" sahutku.
Perawat itu menganggukan kepalanya. "Itu yang Jimin hwanja ceritakan pada kami."
"Untung saja aku sempat sadar saat itu, Taehyung ah! Kalau tidak.. Kita juga akan ikut terbakar di dalam sana..." sahut Jimin. Ekspresinya bergidik ketakutan.
Seolah membayangkan bagaimana panasnya tubuh kami jika kami ikut terbakar di dalam sana.
"Jadi.. Maksudmu... Mereka semua mati terbakar?" tanyaku, masih dengan rasa tidak percaya.
Jimin dan perawat itu menganggukan kepala mereka.
Aigoo...
Mengapa acara kami yang seharusnya menyenangkan ini justru berakhir tragis?
Aku menatap Jimin.
"Gumawo, Jimin ah.. Karena sudah membawaku keluar dari bus itu..." sahutku.
"Dweso, imma! Bukankah kita sahabat? Sudah sewajarnya bagiku untuk menolongmu selama aku bisa." sahut Jimin.
Aku tersenyum. "Gumapta, jinjja..."
"Aigoo~ Persahabatan kalian ternyata sangat erat.. Aku terharu melihatnya.." sahut perawat itu.
"Gumawo, ganhosa.." sahut Jimin.
Setelah mengecek kondisi tubuhku, perawat itu pun berjalan keluar dari kamar kami.
"Bagaimana kondisimu, Jimin ah?" tanyaku.
"Sudah jauh membaik, tapi luka jaitan di kaki dan kepalaku masih sering terasa sakit..." sahut Jimin. "Untung kau sudah sadarkan diri, Taehyung ah! Kalau tidak, aku bosan berada disini sendirian."
"Berapa lama kau tak sadarkan diri disini?" tanyaku.
"Kata dokter, dua hari. Dua hari setelah kita ditemukan, aku sadarkan diri." sahut Jimin.
"Berarti, empat hari ini kau selalu menangisiku?" tanyaku.
Jimin menganggukan kepalanya. "Aku benar-benar akan membencimu jika kau tidak bangun-bangun juga, imma!"
Aku tertawa kecil. "Aigoo... Hehehehehe.."
.
.
.
AUTHOR POV
Setelah Taehyung sadarkan diri pagi tadi, siang harinya Jimin mulai membantu Taehyung belajar berjalan.
Kaki Taehyung mengalami patah tulang akibat kecelakaan itu. Untung saja para dokter sudah menyambung kembali tulang-tulang yang patah, namun selama pemulihan Taehyung harus berjalan menggunakan tongkat bantu.
Jimin yang kondisinya sudah cukup membaik, walaupun luka jahitan di kepala dan kakinya belum pulih total dan masih butuh pemulihan juga, berusaha membantu Taehyung membiasakan diri untuk sementara waktu menggunakan tongkat bantu berjalan itu.
"Pelan-pelan saja, Tae. Jangan terlalu dipaksakan... Nanti juga terbiasa." sahut Jimin, berusaha menyemangati Taehyung.
"Ne.." sahut Taehyung sambil berusaha berjalan dengan bantuan tongkat itu.
Setelah mereka tiba di taman belakang rumah sakit, mereka memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak disana.
"Orang tuamu belum datang juga." sahut Jimin.
"Mereka hanya akan membayar biaya rumah sakit dari sana. Percayalah, mereka baru akan mengunjungiku jika aku sudah menjadi mayat. Untuk sekedar mengadakan pemakaman sederhana." sahut Taehyung.
Jimin menatap Taehyung dengan tatapan pilu.
Hanya Jimin satu-satunya yang tahu betul keadaan Taehyung.
Taehyung sudah tinggal sendirian sejak SMA di Daegu.
Kedua orang tuanya pindah ke German dan menetap disana, tanpa berniat membawa Taehyung sama sekali.
Alasannya? Karena mereka menganggap, Taehyung membunuh Taesoon, adik wanitanya.
Waktu itu Taehyung kelas 3 SMP. Ia mengajak adiknya yang masih berumur 7 tahun itu berjalan-jalan di sekitar rumah mereka.
Rumah mereka dekat dengan rel kereta api.
Sore itu Taehyung mendadak ingin buang air kecil, jadi ia menyuruh adiknya diam di tempat, sementara Taehyung mencari semak-semak untuk buang air.
Tiba-tiba saja, ketika Taehyung sedang buang air, suara kereta terdengar melintas di rel itu, diiringi jeritan nyaring Taesoon.
Dan Taehyung langsung jatuh pingsan ketika melihat...
Tubuh Taesoon yang sudah hancur terlindas kereta itu.
Sejak saat itu, kedua orang tuanya sangat sangat membencinya.
Karena menurut kedua orang tua Taehyung, semua ini terjadi karena kelalaiannya. Karena Taehyung lah, Taesoon harus meninggal dengan tragis seperti itu.
Kedua orang tua Taehyung memutuskan pindah ke German, tanpa mengajak Taehyung.
Bahkan, sejak kepergian orang tua Taehyung lima tahun yang lalu itu, sekalipun orang tuanya tidak pernah menghubungi Taehyung, apalagi mengunjunginya.
Mereka hanya mentransfer uang bulanan untuk kebutuhan Taehyung di setiap tanggal 1 di awal bulan.
"Pihak rumah sakit sudah menghubungi keluargamu, dan masalah administrasi sudah selesai. Tapi, mengapa mereka sama sekali tidak berniat menjengukmu? Bukankah kau anak mereka?" tanya Jimin.
"Mereka sudah tidak menganggapku anak mereka. Kau lupa?" sahut Taehyung.
"Tetap saja... Bagaimanapun kau kan anak mereka.." sahut Jimin, lirih.
"Lalu, orang tuamu bagaimana?" tanya Taehyung.
"Mereka juga sudah menyelesaikan administrasi dengan mentransfer ke rekening rumah sakit. Kau kan tahu, ayahku stroke. Mana mungkin eomma meninggalkan appa untuk menjengukku kesini?" sahut Jimin.
"Majjayo..." sahut Taehyung. "Padahal mereka sudah sangat senang ketika mendengarmu akan ke Busan ya..."
"Mungkin takdir belum mengijinkanku menemui mereka..." sahut Jimin. "Aigoo... Bogoshipda, jinjja... Eomma... Appa..."
"Setelah kita keluar dari rumah sakit ini, aku janji akan mengantarmu ke Busan..." sahut Taehyung.
Jimin menatap Taehyung dengan penuh rasa terima kasih. "Gumawo, Taehyung ah..."
Taehyung tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Dan tatapan Taehyung tiba-tiba terarah ke seorang wanita yang duduk di kursi taman itu, tak jauh di belakang Jimin.
Wanita itu sejak tadi menatap ke arah Taehyung dan Jimin dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya mengenakan bahu pasien.
"Ada apa dengan wanita itu?" gumam Taehyung.
"Kenapa, Tae?" tanya Jimin.
Taehyung menganggukan kepalanya. "Aniya."
.
.
.
Taehyung berjalan tertatih menggunakan tongkat itu
Jimin sedang melakukan pemeriksaan dengan Yoongi, dokter yang mengoperasi Jimin, di ruang praktek Yoongi.
Karena itu, Taehyung sendirian di kamarnya dan ia ingin berlatih berjalan agar ia bisa secepatnya pulih dan tidak perlu merepotkan Jimin lagi.
Taehyung perlahan melangkah keluar dari kamarnya.
Lorong itu terlihat sepi.
Entah mengapa, Taehyung juga bingung, tapi di lantai 6 memang terlihat sangat sepi, tidak seperti di lantai bawah yang cukup ramai.
Ketika sedang berusaha melangkah dengan bantuan tongkat di tangannya itu, dari kejauhan Taehyung melihat ada seorang perawat wanita berjalan menuju ke arahnya.
Tidak seperti perawat yang dilihatnya di lantai bawah tadi, perawat yang berjalan menuju ke arah Taehyung itu terlihat sangat pucat. Seolah tidak menggunakan make up apapun di wajahnya.
Taehyung menganggukan kepalanya, menyapa perawat itu, ketika mereka berpapasan.
Taehyung bisa membaca nama yang tertera di seragam perawat itu.
Jang Heejin.
Perawat itu tersenyum balik ke arah Taehyung.
Namun, anehnya, entah mengapa senyuman itu terlihat lebih seperti sebuah seringai daripada senyuman.
Dan tiba-tiba, hawa dingin menjalari sekujur tubuh Taehyung.
Ada bau semerbak bunga yang tercium di hidung Taehyung seketika.
Taehyung terdiam sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Perawat itu sudah tidak terlihat.
"Ia kemana?" gumam Taehyung sambil memiringkan kepalanya.
Taehyung akhirnya memilih lanjut untuk belajar berjalan lagi.
Dan tak jauh di hadapan Taehyung, Taehyung bisa melihat dengan sangat jelas.
Ada seorang anak kecil tengah berdiri di ujung lorong itu.
Rambutnya panjang, namun karena posisinya membelakangi Taehyung, Taehyung tidak bisa melihat wajahnya.
Tapi.. Entah mengapa... Sosok itu sangat tidak asing di mata Taehyung.
Langkah Taehyung kembali terhenti.
Tubuh Taehyung terasa beku seketika.
Kakinya seakan tidak mau digerakan.
"Tae... Taesoon?" sahut Taehyung pelan.
Sosok anak kecil itu mulai berjalan, menjauh dari Taehyung. Menikung ke kanan tepat di ujung lorong itu.
"Taesoon? Itu Taesoon?" gumam Taehyung.
Taehyung ingin melangkah namun tubuhnya benar-benar terasa sangat kaku.
Tak lama kemudian, pintu lift di ujung lorong itu terbuka.
Jimin berdiri disana dan melangkah keluar dari lift.
Ada seorang dokter juga di lift itu.
Dokter itu melangkah mendahului Jimin, menuju ke arah Taehyung.
"Ya! Kim Taehyung! Mengapa kau berkeliaran?" pekik Jimin ketika melihat Taehyung berdiri disana.
Jimin berlari kecil dan nyaris menabrak dokter yang tadi keluar dari lift bersamanya itu.
"Park Jimin! Jangan berlari! Kau akan menabrak dokter itu!" teriak Taehyung.
Langkah Jimin terhenti seketika.
"Mwoya? Apa maksudmu?" teriak Jimin.
"Kau nyaris menabrak dokter di depanmu, imma!" sahut Taehyung.
Jimin menggaruk kepalanya sambil berjalan pelan menghampiri Taehyung. "Dokter? Kau mengigau?"
"Uh?" Taehyung mengernyitkan keningnya.
"Disini hanya ada kau dan aku, imma." sahut Jimin.
Dokter itu melintas di samping Taehyung sambil tersenyum menyeringai.
Wajahnya terlihat sangat pucat.
Seketika itu juga, hawa dingin kembali menyerang sekujur tubuh Taehyung.
"Lalu... Siapa yang lewat disampingku barusan?" tanya Taehyung sambil menatap Jimin.
Jimin melihat ke sekitar Taehyung.
"Apa maksudmu? Tidak ada siapapun selain aku dan kau, Taehyung ah!" sahut Jimin.
DEG!
Taehyung menoleh ke belakang.
Dan jantungnya nyaris berhenti berdetak seketika itu juga.
Sosok dokter yang baru saja melintas di sampingnya itu berdiri tepat di belakang Taehyung.
Menatap Taehyung dengan seringai di wajahnya.
Namun... Wajahnya kini tidak lagi seperti tadi.
Wajahnya hancur separuh seperti habis terbakar.
Seluruh tubuhnya juga gosong penuh luka bakar seperti habis terbakar api.
Jas dokter yang dikenakannya juga gosong terbakar.
"Kau... Bisa melihatku rupanya?" sahut dokter itu dengan seringai mengerikan di wajahnya.
Taehyung langsung terduduk lemas di atas lantai.
Tongkat yang dipegangnya pun terjatuh.
"Kim Taehyung! Kau kenapa?" Jimin langsung berjongkok di hadapan Taehyung dan memegang kedua pundak Taehyung.
.
-TBC-
MINAL AIDIN
MAAF LAHIR BATIN YA, READERS-NIM KESAYANGAN TAE-V {} /PELUK SATU2/
MAAFKAN TELAT UPDATE CHAPTER :(
ASLI, GEDEG BANGET SAYA, TETHERING WIFI DARI HP KE LAPTOP SINYALNYA SUSAH BANGET -_-
MAU UPDATE DARI HAPE, SAYA KUDET :(
SEMOGA KALIAN MASIH BETAH STAY SAMA ABANG YA {}
reply for review:
HanaChanOke : HANAAAA :) here lanjutannya :)
iymyhzxx : AAAAAAAAAA WIDYAAAA {} DARIMANA AJA? (ups? saya nya ya yg darimana aja? wkwkw) SEMOGA SUKA SAMA FF INI YA {}
ichikawa haru : HERE, HARUMAN {}
Habibahjeon : HABIB AAAAAAAAAA ABANG RINDU LOH :')
Sugabias : HERE LANJUTANNYA, SAYANG :)
Vn RM09 : INI LANJUTANNYA SAYANG :) MAAF LAMA UPDATE :(
