Chapter 2

Disclaimer © Masashi Kishimoto

My Love In Dorm © RiuDark-Blue

Warning : AU, OOC, Typo, dan hal buruk lainnya...

'Bicara dalam hati.'

"Sebaliknya."

Selamat membaca minna-san XD

.

.

Di kamar asrama putri, semuanya sudah nampak gelap. Karena hari sudah malam sekitar pukul 21.00, meskipun lampu sudah dimatikan, dikamar asrama putri no 211 ini, terlihat seorang gadis berambut indigo sedang gelisah, sambil tiduran ditempat tidurnya. Sesekali Hinata gadis tersebut berekspresi tegang, kadang wajahnya memerah, mungkin jika lampu dinyalakan wajahnya akan nampak seperti kepiting rebus, untungnya kedua temannya tersebut sudah tidur. Jika tidak Hinata pasti akan diberondongi berbagai pertanyaan.

'A-aduh bagaimana ini? Aku berniat menjauhi Uchiha-san. T-tapi aku malah terikat perjanjian dengannya. Jika aku t-tidak menurutinya, aku akan dikeluarkan d-dan yang paling parah aku akan dipenjarakan. Tidak i-itu tidak b-boleh terjadi a-aku kan menyayangi keluarga ku.' Ucap Hinata dalam hati dengan wajah tegang.

'D-dan apa itu tadi. A-aku tidak sadar mengikutinya sampai kamar mandi. B-benar-benar memalukan sekali. L-lebih baik aku tidur, m-mungkin besok Uchiha-san akan menyuruhku lagi.' Lanjutnya dalam hati dengan wajah memerah karena malu, dan mata yang tertutup sesudah mengucapkan hal tersebut.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke, sedang memetik gitarnya dimalam hari yang dingin ini, tepatnya di balkon asrama putra.

'Sepertinya tidak akan terlalu membosankan, karena aku punya mainan.' Ucapnya dengan seringai mengerikan.

Karena dirasa malam semakin dingin, Sasuke pun bergegas untuk kembali kedalam yang tentunya untuk tidur.

.

.

.

.

.

.

Kamis, hari ini adalah hari yang paling menegangkan bagi Hinata. Karena sekarang pelajaran matematika. Catat. Itu. Matematika. Dan Hinata benci itu, meskipun pelajaranya sudah agak paham, rumusnya lumbayan gampang, tapi selalu saja salah mengalikan. Entah kenapa, padahal Hinata itu hapal perkalian, mungkin karena gugup. Dan pelajaran ini sudah dibahas selama 3 kali, tapi yah... Hinata memang belum paham. Yang paling parah Anko Mitarashi selalu memberikan 10 essay, sebelum menerangkan, meskipun hanya 10 itu sangat menegangkan dan membuat otak panas. Seperti saat ini...

'K-kenapa susah sekali? Padahal semalam aku sudah belajar.' Kata Hinata dalam hati. Lalu Hinata pun menengokkan kepalanya tepat ke arah Sasuke, Hinata melirik soal matematika yang ternyata sudah dikerjakan 9 soal. Itu berarti tinggal 1 soal lagi.

'B-berarti rumor yang mengatakan Uchiha-san jenius itu b-benar.'

"Apa?" Tiba-tiba Sasuke bertanya sambil memendang Hinata.

"T-tidak ada." Kata Hinata gelagapan.

"Kau mencontek ya?"

"A-apa? Tentu saja ti-tidak." Hinata berusaha mengatakan kenyataan kepada Sasuke.

"Lalu, jika tidak mencontek apa?" Tanya Sasuke.

"I-itu aku hanya m-melihat_"

"Jawabannya, eh?" Kata Sasuke dengan seringainya.

"B-bukan aku ha_"

"Waktunya 10 menit lagi." Perkataan Anko berhasil memotong ucapan Hinata, dan tentunya menyadarkannya juga.

"G-gawat. Bagaimana ini? 4 soal sepuluh menit. P-pasti nilai ku jelek." Gerutu Hinata dengan wajah panik, dan pipi yang digembungkan. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis, setelah itu Sasuke pun menyerahkan lembar essaynya pada Anko. Hinata pun berkutat dengan essay yang sangat membosankan tesebut, dan pastinya memusingkan. Sedangkan Sasuke dia hanya santai saja, karena dalam waktu 20 menit, Sasuke sudah menyelesaikannya. Seharusnya, waktu normal menyelesaikan essay adalah 30 menit, memang dasar jenius jadilah... Sasuke dapat menyelesaikan dalam waktu 20 menit.

"Waktu habis." Kata Anko sesudah 10 menit berlalu.

"Tapi Sen_" Ucap salah satu murid yang langsung dipotong oleh Anko.

"Tidak ada tapi-tapian. Cepat kumpulkan. Setelah itu kita bahas, minggu depan Sensei bagikan." Kata Anko tegas.

"Hai. Sensei." Kata para murid patuh.

.

.

.

.

.

.

TETT TETT

Bel istirahatpun berbunyi, yang disambut sorak sorai siswa siswi. Tapi tidak dengan Hinata, Hinata masih teringat tentang essay matematikanya, yang hanya bisa Hinata kerjakan 6 soal saja. Waktu 10 menit itu, Hinata memang menggunakannya untuk menghitung, tapi Hinata tidak menemukan jawabannya.

KRIET

Suara kursi digeser oleh Hinata, dengan wajah cemberut Hinata berniat meninggalkan kursi, namun baru tiga langkah, tepatnya disamping bangku Sasuke...

"Mau kemana kau?" Kata Sasuke dengan nada datar.

"E-eh"

"Hn"

'A-aku lupa, jika aku masih punya urusan panjang dengan Uchiha-san.' Batin Hinata.

"A-ano, em aku i-ingin_"

"Ck, belikan aku makan siang. Dan bawakan ke atap."

"B-baiklah." Kata Hinata, setelah itu Hinata pun pergi.

.

.

.

.

.

.

"Kau terlambat." Kata Sasuke, setelah Hinata membuka pintu atap dan berdiri disebelahnya.

"G-gomen tad_"

"Sudahlah. Kemarikan makan siang ku."

'D-dia, suka sekali memotong perkataan orang lain.' Gerutu Hinata dalam hati.

"Hai. I-ini Uchiha-san."

"..." Tanpa menjawab Sasuke mengambil bungkusan dari tangan Hinata.

Hening. Itulah yang terjadi setelah Sasuke menerima bungkusan tersebut, hanya suara anginlah yang menemani mereka makan siang. Sampai Sasuke membuka suaranya, setelah 10 menit Sasuke habiskan untuk menyantap makan siangnya.

"Selain tidak peka, kau juga bodoh dan lambat."

"A-apa?"

"Hn kau." Kata Sasuke dengan rasa tidak bersalah sama sekali.

"Gomen." Kata Hinata malah meminta maaf.

"Kenapa?"

"P-padahal. Disekolah lama ku, aku selalu masuk tiga besar." Kata Hinata malah menggerutu, disertai pipi yang menggembung. Dan tanpa mendengarkan Sasuke.

"Benarkah?"

"Tentu s-saja."

"Hn."

"E-eh go-gomen, Uchiha-san."

"Aku bosan mendengar kata gomen mu itu."

"Go, e-eh maksud ku baiklah. A-aku tidak akan mengucapkannya lagi."

"Hn, bagus."

.

.

.

.

.

.

"Teme, bagaimana? Apa tidurmu nyenyak kemarin?" Tanya Naruto dengan wajah tak berdosanya. Sasuke yang diingatkan tentang tidur berdua dengan Gaara menjadi enek.

"Hn" Jawab Sasuke malas. Lalu Sasuke berjalan menuju single bed, yang sudah disediakan untuknya. Duduk dan mengambil gitarnya.

"Kau mau kemana Teme?" Naruto bertanya, setelah melihat Sasuke yang masih mengenakan seragam sekolahnya berjalan kearah pintu.

"Atap." Jawaban singkat itu keluar dari mulut Uchiha tersebut.

"Terserah. Tidak menyenangkan sekali, sekamar dengan duo mahkluk dingin." Gerutu Naruto dengan wajah masam, sambil melirik Gaara, yang sedang asyik dengan nootebooknya.

.

.

.

.

.

.

Warna oranye yang dipantulkan sinar matahari senja, menambah kesan indah hari ini. Tepatnya diperpustakaan Konoha High School, terlihat seorang gadis berambut indigo, keluar dari perpustakaan, menyusuri koridor yang sudah sepi. Karena sekarang sudah pukul 17.00.

"P-padahal aku belum selesai membaca novelnya, t-tapi perpustakaannya ditutup. Menyebalkan sekali." Kata Hinata malah menggerutu.

"Ternyata kau ini suka sekali menggerutu."

"E-eh Uchiha-san."

"Hn."

"Kenapa Uchiha-san d-disini?" Kata Hinata tanpa menjawab pertanyaan Sasuke yang lebih mirip pernyataan tersebut.

"Aku ada perlu dengan mu."

"A-aku" Ucap Hinata sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Hn." Sasuke berkata sambil memutar bola matanya. Bosan mungkin, karena gadis dihadapannya begitu lemot.

"B-baiklah, a-ada apa?"

"Ke atap."

"A-atap?"

"Hn. Dan bawakan gitarku."

"B-baiklah." Kata Hinata setelah menerima tas gitar Sasuke.

"K-kenapa dia suka sekali membawa gitar? J-jika hanya aku yang direpotkan." Hinata malah menggerutu dibelakang Sasuke.

"Apa kata mu?" Kata Sasuke dengan nada datar dan sorot mata tajam.

'P-padahal aku mengucapkannya dengan pelan.' Batin Hinata

"T-tidak go-gomen Uchiha-san." Kata Hinata gelagapan. Dan sepertinya Hinata mendapat dua kesalahan, pertama, Hinata menggerutu dengan suara pelan tetapi terdengar oleh Sasuke, sepertinya Hinata harus mengingat bahwa pendengaran Sasuke tajam. Kedua, Sasuke benci kata maaf yang diucapkan Hinata.

"Coba katakan sekali lagi." Perintah Sasuke. Disertai langkah mendekati Hinata. Hinata yang mengetahui Sasuke mendekat refleks mundur.

"Y-yang m-mana?"

"Tentu saja yang tadi aku merepotkan mu, dan kata gomen mu itu."

'A-aku lupa j-jika Uchiha-san tidak menyukai aku mengucapkan kata maaf.' Batin Hinata, sayangnya ketika Hinata akan melangkah kembali punggungnya menabrak tembok dibelakangnya.

'A-aku terjebak. B-bagaimana ini?' Batin Hinata menjerit panik.

"Ayo ucapkan lagi." Sasuke berkata datar dan menyeringai karena berhasil mendekati Hinata. Dilihatnya Hinata dari mata onyxnya berkeringat dingin, sedangkan Sasuke hanya melebarkan seringainya.

"A-aku_"

"Hn." Kata Sasuke sesudah sampai didepan Hinata. Sekarang jarak mereka hanya tersisa 8 cm jarak wajah mereka.

"U-Uchiha-san a-ak_"

"Hm." Kata Sasuke, sambil memilin rambut indigo Hinata.

"A-aku_"

"Aku apa?" Sasuke bertanya dengan tersenyum tipis, karena Hinata malah menutup matanya seperti sedang menikmati Sasuke yang sedang memilin rambutnya.

'Kenapa aku sangat menyukai ekspresi saat aku menjahilinya.' Kata batin Sasuke.

"B-bisakah k-kau menjauh?"

"Kenapa?" Sasuke masih asyik dengan kegiatan memilin rambut Hinata.

"K-karena_"

"Hm."

"U-ugh m-menjauhlah s-sedikit." Kata Hinata dengan wajah merona.

"Kau gugup sekali. Seperti aku akan menciu_"

"J-jangan katakan." Hinata meninggikan suaranya.

"Kenapa? Apa kau ingin aku menci_"

"K-ku bilang j-jangan k-katakan."

"Hn. Kalau begitu cepat ke atap." Kata Sasuke, memutuskan untuk mengakhiri acara menjahili Hinata.

"U-um." Kata Hinata setelah merasakan nafas Sasuke tak lagi dekat dengannya. Setelah itu Hinata menyusul Sasuke yang sudah lebih dulu melangkah.

.

.

.

.

.

.

"Tuliskan nomor ponsel mu." Kata Sasuke, setelah menyerahkan ponsel hitamnya, yang langsung diterima Hinata.

"U-untuk apa?"

"Ketika aku ingin menyuruhmu, aku tidak perlu mencarimu."

"O-oh." Hinata hanya ber-oh-ria saja, lalu mengetikan nomor ponselnya.

"S-sudah." Ucap Hinata sambil menyerahkan ponsel Sasuke.

"Kau boleh pergi."

"P-pergi."

" Kau tahu kan arti kata pergi?"

"T-tentu saja. I-itu artinya, ketika s-seorang tak ingin k-kita didekatnya." Hinata malah menjelaskan dengan polosnya.

" Hn bagus, kau boleh pergi." Sasuke masih menyuruh Hinata pergi.

" B-baiklah."

'D-dasar menyebalkan, merepotkan, a-andaikan aku tidak terikat dengannya. M-mungkin tak akan seperti ini. Dia menyuruh ku ke atap h-hanya untuk ini? Kenapa t-tidak dibawah saja' Batin Hinata sambil menggembungkan pipinya sebal.

'Aku harus sering menjahilinya.' Kata Sasuke dengan seringainya. Lalu duduk dan memetik gitarnya sambil memandang sunset.

.

.

.

.

.

.

DRRTT DRRTT

Suara getaran ponsel mengalihkan perhatian Hinata, dari novel yang sedang dibacanya.

'Siapa ya?' Batinnya sambil merogoh ponsel dari saku roknya.

'Eh tidak bernama.'

From: +81-645-xxx-xx

Bawakan aku minuman. Ke lapangan basket indoor.

To: +81-645-xxx-xx

Subjek:-

Siapa ya?

From: +81-645-xxx-xx

Subjek:-

Majikan mu. Dasar lemot.

To: +81-645-xxx-xx

Subjek:-

Hai Uchiha-san.

"Dalam pesan singkat pun dia masih begitu. D-dasar." Hinata menggerutu kesal, setelah keluar dari perpustakaan, dengan berjalan sambil menghentakan kakinya.

.

.

.

.

.

.

DUK

DUK

DUK

Suara bola terpantul dilantai, tepatnya dilapangan basket indoor Konoha High School.

"Teme masukkan bolanya." Teriak Naruto kepada Sasuke.

DUK

SYUTT

Dan..

"Kyyaaa Sasuke-kun keren..."

"I Love You Sasuke-kun."

"Sasu-pyon."

"Sasuke-senpai."

Begitulah teriakan para siswi yang menonton pertandingan basket tersebut.

'B-berisik sekali.' Kata Hinata yang baru saja masuk. Yang ternyata disambut teriakan para fans fanatik tersebut. Setelah itu Hinata pun mencari tempat duduk paling depan, agar mudah menemukan Sasuke.

"Wah... Teme kau semakin terkenal saja, jujur aku agak sedikit iri padamu. Tapi ingat sedikit. Sedikit iri, aku juga tak kalah terkenalnya dengan mu." Oceh Naruto panjang lebar dan hanya direspon 'Hn' oleh Sasuke. Ternyata ocehan Naruto tersebut terdengar oleh Hinata, karena mereka berjalan kearahnya.

"E-eh Hinata." Sapa Naruto

"I-iya. Konnichiwa Namikaze-san?" Sapa Hinata formal.

"A-ah. Konnichiwa Hinata-chan, tidak usah seformal itu. Itu terdengar aneh." Jawab Naruto kikuk.

"O-oh, b-baiklah, Naruto-san." Hinata menjawab terbata-bata dengan wajah merona, karena Naruto memanggilnya dengan suffix-chan.

"Ya begitu lebih baik. Meski masih terdengar aneh." Jawab Naruto sambil terkekeh, sedangkan Hinata tersenyum manis.

"Mana minuman ku?" Kata Sasuke dengan datar dengan sorot mata tajam seakan mengatakan 'Jika kau mengabaikan ku lagi, kan ku pastikan kau akan menyesal.'

"Go, e-eh ini Uchiha-san." Katanya sambil menyerahkan botol minumannya, yang langsung diterima Sasuke.

"Teme aku ke toilet dulu."

"Hn."

"Dasar." Gerutu Naruto.

Sedangkan Hinata, ia malah memandang wajah Sasuke yang sedang minum, dimulai dari rambut ravennya, alisnya, mata onyxnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, dan garis rahangnya.

'Uchiha-san i-itu memang tampan. P-pantas saja b-banyak yang jatuh h-hati padanya. H-Hinata a-apa yang kau pikirkan d-dia i-itu mengerikan.' Batin Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Terpesona eh?"

"I-iy e-eh maksud ku t-tidak." Jawab Hinata gelagapan karena tertangkap basah sedang memerhatikan Sasuke.

"Benarkah?" Kata Sasuke dengan mengangkat sebelah alisnya.

"T-tentu saja." Kata Hinata dengan mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu tatap aku."

"T-tidak m-mau." Ucapnya masih mengalihkan pandangannya.

"Kenapa?" Kata Sasuke mengangkat sebelah alisnya lagi heran, tentu saja heran mana ada seorang gadis apalagi, yang tidak terpesona pada Uchiha Sasuke.

"K-karena kau b-bau k-keringat."

"Apa!"

"U-um." Jawab Hinata sambil mengangguk dengan polosnya.

"Go,e-eh maksud k_" Hinata gelagapan karena berkata seperti itu dan langsung dipotong Sasuke.

"Awas kau ya."

"U-Uchiha-s_"

"Setelah ini cucikan bajuku."

"B-baiklah."

"Teme, Eh Hinata-chan masih disini? Memangnya kalian berdua dari tadi ada apa?" Pertanyaan beruntun tersebut diajukan Naruto, yang baru kembali dari toilet untuk Sasuke dan Hinata.

"Tidak ada." Jawab Sasuke acuh.

"Y-ya aku h-hanya berniat menonton, tapi pertandingannya s-sudah selesai."

"Oh begitu." Sedangkan Naruto yang dasarnya lemot hanya ber-oh-ria.

'Dasar Dobe.' Batin Sasuke.

"Ayo Teme kita ganti baju sebentar lagi bel berbunyi."

"Hn."

.

.

.

.

.

.

"Teme, kau dan Hinata-chan_" Kata Naruto setelah tiba diruang ganti.

"Hn." Dan perkataannya pun dipotong oleh Sasuke.

"Ada apa-apa ya?" Tanyanya penuh selidik.

"Maksudmu?"

"Jangan pura-pura lemot." Diterimalah deathglare dari Sasuke.

"..."

"Aku tahu kau jenius, apa kau pacaran dengan Hinata-chan?"

"Tidak. Kenapa memang?"

"Kau kan jarang dekat dengan gadis. Tadi Hinata-chan didekat mu, dan kau tidak menghindar."

"Hn. Mana ku tahu."

"Iss, kau ini." Desis Naruto kesal.

"Kau tidak dengar apa katanya?"

"Memangnya apa?" Kata Naruto dengan muka polosnya... Memang dasar Naruto itu bodoh .

"Ck, baka. Tadi dia bilangkan akan menonton pertandingan."

"O iya ya. Hehehe." Naruto pun tertawa garing.

"Baka." Umpat Sasuke.

"Hey, Teme mentang-mentang kau jenius, jangan mengatai orang seenaknya." Kata Naruto marah, sambil menyusul Sasuke yang keluar dari ruang ganti, dan hanya ditanggapi 'Hn' Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Sasuke sedang duduk dibangkunya, tepatnya di sebelah Hinata. Merasa diacuhkan, Sasuke pun menengokkan kepalanya ke arah Hinata. Dilihatnya Hinata sedang berkutat denga rumus-rumus fisikanya, sesekali terlihat wajah Hinata yang merenggut sebal, lalu berkata...

"A-aku yakin rumusnya sudah benar, lalu kenapa tak terjawab."

Atau...

"K-kenapa sulit s-sekali."

Dan...

"M-mungkin a-aku salah menulis soal. T-tapi aku yakin soalnya t-tidak salah lalu a-apa ya?"

Terakhir...

"A-aku menyerah." Ucap Hinata dengan menggembungkan pipinya. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis menyaksikan kejadian tersebut.

"Dasar bodoh." Kata tersebut keluar dari mulut Sasuke.

"M-maksud Uchiha-san?"

"Kau bodoh."

"Go, e-eh maksud ku, aku hanya kurang mengerti."

"Benarkah." Tanya Sasuke dengan mengangkat sebelah alisnya.

"T-tentu s-saja."

"Aku lihat soalnya."

"A-apa?"

"Hn."

"I-ini." Kata Hinata sambil mengangsurkan buku fisikanya. Setelah itu Sasuke pun melihat soalnya.

Soal No. 1

Suatu gas memiliki volume awal 2,0 m dipanaskan dengan kondisi isobaris hingga volume akhirnya menjadi 4,5 m . Jika tekanan gas adalah 2 atm, tentukan usaha luar gas tersebut!

(1 atm = 1,01 x 10 Pa)

Setelah dirasa cukup memehami soalnya, Sasuke pun menggoreskan pensilnya dibuku Hinata.

"Kukira ini jawabannya." Katanya setelah selesai mengerjakan soal, lalu mengangsurkan bukunya pada Hinata.

"O-oh." Kata Hinata sambil menerima bukunya.

'Pembahasan

Data :

V = 4,5 m

V = 2,0 m

P = 2 atm = 2,02 x 10 Pa

Isobaris → Tekanan Tetap

W = P (ΔV)

W = P(V − V )

W = 2,02 x 10 (4,5 − 2,0) = 5,05 x 10 pangkat lima joule. H-hebat jawabannya tepat, b-bahkan dalam waktu 2 menit.'

"E-em Uchiha-san."

"..." Tanpa menjawab Sasuke menengokkan kepalanya kearah Hinata.

"A-arigatou." Kata Hinata dengan senyum manis.

"Hn."

"Hn, apa?" Hinata mengulang perkataan Sasuke, dengan memiringkan kepalanya.

"Ya."

"O-oh ya, ya?" Katanya dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

.

.

.

.

.

Malam ini sangat terasa dingin memang ,jika kalian keluar hanya dengan menggunakan piama saja. Seperti halnya Hinata. Keluar dengan menggunakan piyama berlengan panjang, serta celana piyama yang panjang pula, tak lupa sandal tidurnya yang berbentuk kepala kelinci. Sambil menggerutu Hinata membeli secangkir kopi hangat.

"D-dia itu selalu s-saja menyuruh ku m-mengantarkan ini itu, m-memang aku tidak k-keberatan kalau waktunya tepat. T-tapi ini... Ughh menyebalkan sekali." Gerutunya dengan menggembungkan pipinya.

Kita kembali ke 15 menit yang lalu...

Hinata berniat tidur lebih awal, malam ini karena dirasa besok tidak ada pekerjaan rumah, memang akhir-akhir ini Hinata selalu terlambat tidur, dikarenakan tugas yang sangat menumpuk. Setelah puas bergossip ria denga Ino dan Sakura, meskipun Hinata tidak suka bergosip, tapi mau bagaimana lagi jika dipaksa. Lalu Hinata pun pamit kepada duo ratu gossip tersebut, kata mereka, mereka masih belum mau tidur. Katanya banyak urusan seperti menggossipkan Sasuke, fashion, dan lain-lain, dari pada Hinata jadi kambing congek mending Hinata tidur. Hinata pun menaiki single badnya dengan terkantuk-kantuk. Menarik selimut lalu menutup mata. Hinata akan terbuai di alam mimpi jika saja...

DRRTT DRRTT

Getaran ponsel tak mengganggunya.

Sambil meraba nakas disampingnya Hinata pun bangun dan membaca pesan singkat

'Uchiha-san.'

From: Uchiha-san

Subjek:-

Ketaman belakang asrama. Dan bawakan aku kopi hangat.

To: Uchiha-san

Subjek:-

Tapi ini sudah malam.

From: Uchiha-san

Subjek:-

Belum. Ini masih pukul 8.

To: Uchiha-san

Subjek:-

Baiklah.

From: Uchiha-san

Subjek:-

Anak pintar.

"Dasar m-menyebalkan. Aku kan takut." Gerutu Hinata sambil turun dari tempat tidurnya.

"Mau kemana Hinata-chan?" Tanya Sakura melihat sahabatnya turun dari tempat tidur.

"Iya katanya mau tidur?" Ino pun menimpali.

"A-aku ada urusan sebentar S-Sakura-chan Ino-chan."

"Benarkah?" Ino pun mengangkat sebelah alisnya.

"Hai Ino-chan."

"Hmm" Sakura pun mengelus dagunya pose berpikir, lalu melanjutkan ucapannya.

"Baiklah, tapi hati-hati lah karena sekolah in_"

"Sakura-chan." Pekik Hinata panik.

"Hahaha... Baiklah Hinata-chan hati-hati." Tawa Sakura pun meledak.

"Hai jaa."

"Jaa" Jawab Sakura dan Ino.

Flashback 15 minute end

Dan disinilah Hinata sekarang dibelakang taman asrama putra. Yang ternyata cukup terang. Tapi tentu saja membuat bulu kuduk merinding, bagi Hinata yang penakut.

'A-aku harus segera menemukan Uchiha-san." Katanya sambil menelusuri taman.

'A-ah itu dia.' Batinnya girang karena berhasil menemukan Sasuke. Yang saat ini sedang duduk dibangku taman, dengan headphone yang bertengger di kepalanya, tak lupa gitar yang sudah dikeluarkan dari tas gitarnya.

"Uchiha-san." Sapanya.

TBC

Hallo minna-san saya kembali, maaf updatenya kelamaan *bungkuk-bungkuk* soalnya penyakit malas saya selalu kambuh akhir-akhir ini jadilah... Begini, dan tugas sekolah semakin hari semakin banyak... Hehehe malah curhat XD. Jadi maafkan saya selaku author baru. Semoga masih ada yang mau membaca dan bahkan mereview fanfic saya. Terima kasih yang sudah membaca dan mereview *bungkuk-bungkuk*

Author Note:

Bougenville: iya namanya udah di tag tadinya, tapi entah kenapa nggak ada, makasih udah ngingetin. Udah saya perbaiki kok, makasih juga reviewnya.

Sasuhina69: iya mereka itu emang imut... Apa lagi Hinata, iya ini dah lanjut.

Myuchin2307: iya saya juga suka pairing SasuHina. Makasih udah bilang fanfic saya seru, penasaran ya? Ini udah lanjut kok. Maaf updatenya kelamaan. Saya nggak janji buat update kilat, soalnya banyak tugas dan penyakit malas saya sering kambuh XD

NurmalaPrieska: makasih... Iya ini dah lanjut.

Aburame Soni: iya ini dah lanjut. Updatenya nggak janji, karena penyakit 'M' XD dan tugas yang amat sangat menumpuk... Ya kita mengalami hal yang sama...

lovely sasuhina: salam kenal juga... Makasih udah bilang cerita saya menarik... Penasaran ya? Kalau penasaran baca aja ya? *maksa* nggak maksa cuma kasih tahu hehehe... Saya masih belum tahu ini bakal jadi cinta segitiga apa nggak yang pasti rahasia... Iya ini dah lanjut...

Arcan'sGirl: iya Sasunya emang jahil, iya ini dah lanjut...

Makasih juga yang review dari PM... Jangan bosen baca fanfic saya... Meskipun fanfic saya membosankan XD

REVIEW PLEASE