Two Sides

By Niigata Sasuchikura

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Main chara : Sasuke-Sakura-Hinata

Genres : Romance,Hurt

Don't Like Don't Read.

In here Sakura,Sasuke and Hinata 18 years old

Happy Reading

Cause Nobody can't save me from the past

Nobody

Except You

Sakura POV

TOK TOK TOK

"Masuk!"

"Gomen sensei. Saya telat."

"Silahkan duduk Haruno-san."

"Hn."

"Sekarang buka halaman 237 dan lanjutkan yang tadi." Kudengar Hatake-sensei menyuruh kami, -oh bukan mungkin menyuruh seisi kelas kecuali aku-melanjutkan pelajaran hari ini. Seharusnya mereka tak usah perduli padaku tadi. Ahh~ Sakura! Memang tiada satu pun orang yang mau perhatian padamu! Terima saja nasibmu!

Seperti biasa. Pelajaran hari ini sama sekali tidak kuperhatikan. Mungkin melihat bunga Sakura berguguran akan membuat diriku lebih nyaman jika dibandingkan dengan mendengar semua sensei berbicara. Tak penting. Selalu saja membosankan. Dan akhirnya aku akan menyadari bahwa dari dua jam yang lalu bel pulang sudah berdering. Tak ada yang mau menyadarkanku eh? Yah, kuharap begitu. Di duniaku cukup ada aku karena semua orang membenciku.

Pulang kerumah adalah suatu hal yang paling tidak kuinginkan. Semua kenangan akan selalu terlintas dipikiranku. Tak perduli berapa kali aku ingin melenyapkannya. Semuanya sia-sia. Karna setiap aku mencoba, justru aku semakin mengingat semuanya. Kenangan tentang orangtuaku yang tewas beberapa tahun yang lalu, atau perayaan ulang tahun dengan sahabat. Apa? Sahabat? Bahkan aku tak punya teman untuk berbicara satu sama lain dan sekarang aku berkata sahabat? Jangan pernah bermimpi Sakura!

~~~000~~~

"Antarkan aku kerumah." Perintahku pada Sasori saat aku sampai di parkiran. Tidak ada kata sapa. Ya,aku benci basa-basi!

"Kau tak mau kemana-mana Sa…"

"Cukup antarkan aku kerumah!"

"Baiklah." Kudengar Sasori mendengus tertahan. Apa ia juga benci berada didekatku? Cih,siapa yang tidak membencimu Sakura? Bahkan pelayanmu juga ikut membencimu! Apakah aku seburuk itu dimata kalian? Hhh,aku mohon Kami-sama. Secepatnya.

End of Sakura POV

~~~000~~~

Normal POV

"Sakura,kau sudah pulang?" Kurenai menyambut Sakura didepan pintu rumah.

"Hn." Sakura menjawab acuh.

"Setelah ganti baju,segeralah ke ruang makan. Jangan sampai telat makan." Kurenai mengingatkan Sakura yang memang tidak pernah peduli dengan kesehatan dirinya sendiri. Sakura hanya mengangguk pelan.

~~~000~~~

Jingga telah berubah kehitaman. Menandakan sore yang telah berganti malam. Tapi Sakura belum juga turun dari kamarnya setelah percakapan Kurenai dengannya tadi siang. Kurenai yang khawatir dengan keadaan ini pun segera mendatangi kamar Sakura yang letaknya dilantai dua sambil membawa makanan untuk majikannya.

Sakura sedang meringkuk memegang kedua lutut di balkon kamarnya saat Kurenai datang membawa makan siang- yang lebih pantas dikatakan makan malam mengingat waktu yang menunjukkan jam enam tepat. Kurenai yang menyadari bahwa majikannya melamun lagi hanya bisa menggeleng pelan. Ia bahkan hapal yang dilakukan Sakura setiap pulang kerumah. Tidak jauh dari kata diam dan melamun.

"Sakura." Kurenai menepuk tangan Sakura pelan lalu mulai duduk disebelah majikan yang sudah dianggap anak sendiri.

"Hm?" Sakura hanya menggumam sedikit tapi tetap tidak melihat kearah Kurenai. Ia masih sibuk didunia yang Ia buat sendiri. Dunia kelam yang tak tersentuh siapapun.

"Makanlah. Aku sudah membawakan makanan kesukaanmu. Kau pasti lapar."

"Aku tidak lapar. Letakkan saja makanannya di atas meja, baachan."

"Kau harus makan Sakura. Nanti kau bisa sakit. Ayo makan,jangan sampai makanannya dingin." Kurenai membujuk Sakura.

"Nanti akan ku makan baachan." Sakura tetap tidak beranjak dari posisi duduknya.

"Baiklah kalau kau tidak mau makan. Aku suapi ya,Sakura."

"Aku bilang aku akan makan!" Sakura menatap sengit pada Kurenai. Ada nada penekanan disetiap kata yang baru Ia ucapkan.

"Maaf baachan. " Sakura menunduk sedih setelah melihat raut kekecewaan dari Kurenai. "Aku akan makan sekarang." Sakura akhirnya mengambil nampan makanan yang masih dipegang Kurenai, ia mulai makan. Kurenai tersenyum lembut menatap Sakura yang sedang makan-walaupun Sakura terlihat tidak menikmati makanannya- tapi setidaknya majikan yang Ia anggap anak ini menuruti perintahnya.

Kurenai merupakan pengasuh Sakura sejak kecil. Ia yang selalu mengasuh dan menjadi pengganti orang tua dikala orang tua Sakura sibuk bekerja. Tapi hal itu tidak membuat Sakura kehilangan kesempatan berharganya bersama orang tua yang sangat ia sayangi.

Dulu Sakura adalah anak yang periang dan mudah diatur. Ia selalu menuruti apa yang dikatakan orang lain. Sikapnya yang ramah selalu membuatnya disenangi banyak orang dan punya banyak teman. Tapi sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Haruno Sakura yang Kurenai dan semua orang kenal bukanlah Sakura yang mudah bergaul dan disegani banyak orang karena sikapnya yang perfectionis, Sakura yang sekarang adalah Sakura yang disegani karena sifatnya yang dingin dan pendiam.

Hal itu mungkin tidak akan terjadi jika Sakura tidak kehilangan orang tua yang Ia sayangi lima tahun yang lalu. Semuanya takkan berubah jika Sakura tidak menyalahkan dirinya atas kejadian naas yang menimpa orang tuanya. Ia terlalu shock atas apa yang Ia alami. Tak ada setetes air mata yang keluar saat Ia mendengar orang tuanya meninggal. Tak ada teriakan histeris saat kedua orang tuanya dimakamkan layaknya seseorang normal.

~~~000~~~

Sakura datang pagi kali ini. Walaupun hari ini hari Kamis dan para guru IKS atau International Konoha School akan memulai kegiatan belajar mengajar pukul sembilan pagi. Berbeda dengan hari Senin sampai Jumat –kecuali Kamis tentunya- yang masuk pukul setengah delapan pagi. Satu-satunya alasan yang membuat Ia datang lebih pagi karena Ia benci berlama-lama dirumah. Tetap tinggal dirumah adalah neraka bagi Sakura. Semua penghuni rumah tahu kebiasaan majikannya –Sakura- yang selalu pergi dari rumah dan akan pulang telat. Dan mereka tahu alasan nona muda ini.

Keadaan sekolahnya memang tidak pernah sepi walaupun siswa siswinya dijadwalkan masuk agak siang seperti hari Kamis sekarang. Dan hal ini membuat Sakura kesal, pasalnya Ia datang pagi ke sekolah untuk mencari ketenangan yang tidak pernah Ia dapat dirumah. Biasanya sebelum datang ke sekolah, Sakura mendatangi tempat pemakaman orang tuanya. Tapi kali ini Ia berusaha menghentikan kebiasaannya seperti rencana yang telah Ia buat jauh-jauh hari.

Sakura sedang berjalan ke perpustakaan saat Hinata memanggilnya berulang kali. "Sakura-chan." Hinata berlari mendatangi Sakura,berniat menghentikan langkah Sakura yang justru semakin cepat walaupun dipanggil. "Hari ini cuacanya cerah ya?" Hinata kembali mencoba mengajak Sakura bicara saat langkahnya sudah menyamai Sakura. "Langsung ke intinya Hinata!" Sakura menatap tajam Hinata. Tatapan tidak suka. Seperti biasa. "A-ano,aku hanya ingin menawarkan Sakura-chan untuk ikut kelompokku."

"Tidak." Sakura menjawab dengan suara datar,melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. "Tapi,bukannya Sakura-chan belum punya kelo-"

"Aku bisa mengerjakannya sendiri."

"Sakura-chan. Anko-sensei menyuruh kita berkelompok." Hinata menahan lengan Sakura, menghentikan Sakura –lagi-.

"Biarkan saja Hinata." Sasuke datang menengahi.

"Ta…"

"Dia bisa melakukannya sendiri." Sasuke memotong perkataan Hinata.

"Ayo Hinata!" Sasuke menarik Hinata pergi,tidak ingin lebih lama berada didekat Sakura.

"Apa aku seburuk itu?" Sakura menatap keduanya –Sasuke dan Hinata- yang mulai menjauh. Tatapan kosong yang sering ia berikan kepada siapapun. Tak terkecuali Sasuke dan Hinata.

To Be Continued…

Hai minna-san. Kembali lagi saya datang membawa fic Two Sides. Hufft,ngebuat fic emang gampang-gampang susah ya. Alurnya macet terus kalau udah ditengah,padahal idenya udah pernah dibuat sampai selesai. Nah nah, gimana fic ini? Apa alurnya kecepetan dan terkesan maksa? Maaf ya,habisnya susah nyari kata-kata yang tepat. Fic ini masih punya banyak kekurangan jadi Niigata berharap minna sekalian mau mereview untuk memberikan nasihat,saran dan idenya. Oh iya,sekalian saya mau ngasih saran kalau mau baca fic ini mendingan sambil dengerin lagu yang mellow dan terkesan hurt biar feelnya berasa aja.

So, do you want to give me review,please?

Jaa nee