Update! Update! Karena banyak waktu luang akhirnya bisa update juga ini cerita :D

Yosh, ceritanya mulai berkembang nih, Naruto sama Gaara udah mulai muncul hubungannya, tapi chapter depan lebih seru. Kasus kecelakaan Iruka-sensei juga mulai terkuak, hm.....

Udah deh, langsung aja, enjoy it


Naruto POV

Aku memijit dahiku yang pening karena mataku selama berjam-jam terus menatap layar computer. Entah sejak kapan aku sudah duduk di computer di dalam kamarku. Kemarin Kakashi-sensei memintaku untuk pulang karena aku harus sekolah.

Indahnya, ternyata kewajiban sebagai pelajar masih harus dinomorsatukan.

Namun toh, akhirnya aku ada di di sini, di depan computer, di dalam kamar, sedang menyelidiki Hiiragi Company dan bolos sekolah.

Paling-paling aku akan kena hukuman besok, namun itu bukanlah hal penting. Lagipula ini juga bukan pertama kalinya aku bolos sekolah.

Dan yang penting sekarang, aku sedang berusaha meng-hack jaringan data Hiiragi Company. Tentunya hal itu bukanlah hal mudah, semua proteksi, kode password dan keamanan canggih selalu menghambatku, tapi yah....

Aku tersenyum, tanganku meraih buku tebal yang masih berbau toko di samping komputerku. Aku memang lumayan ahli dalam hal meng-hack data namun aku butuh lebih banyak trik-trik baru untuk bisa menembus semua 'pertahanan' itu. Sebenarnya buku-buku yang aku beli semalam tidak begitu banyak membantu, namun setidaknya ini memperkuat dasar teknik meng-hack, sisanya aku belajar sendiri.

Aku menutup buku itu dan melemparkannya ke lantai, aku kembali mengalihkan perhatianku pada layar computer dan kembali meng-hack data.

Setelah berkelit dari beberapa pertahanan, akhirnya aku berhasil membuka jaringan data Hiiragi Company.

"Ah....ini...."

Ternyata dugaanku benar....

***

Gaara POV

Aku melirik bangku di sebelahku yang kosong. Si pirang yang selalu berisik itu hari ini tidak masuk. Memang hal itu tidak penting, tapi pak guru menyuruhku untuk pergi ke rumahnya untuk memberikan fotocopyan pelajaran hari ini.

Sebenarnya itu bukanlah masalah besar, tapi yang membuatku keberatan adalah aku tak tahu dimana rumah Uzumaki Naruto sebenarnya. Kenapa tugas ini tidak diberikan pada orang lain?

Namun, yang paling anehnya, nyaris tak ada seorang pun di kelas ini yang tahu dimana rumah Uzumaki.

Sangat aneh, padahal kupikir Uzumaki itu orang yang supel dan memiliki teman yang banyak, otomatis banyak orang yang tahu tentang dirinya bukan? Masa tidak ada satu orang pun yang tahu dimana ia tinggal?

"Ah, maaf Yamanaka-san?" aku memanggil teman sekelasku yang bermbut pirang panjang dengan poni menutupi satu matanya. "Ya?" ia bertanya balik.

"Kau punya nomor handphone Uzumaki-kun?" tanyaku. Kurasa lebih baik aku bertanya alamat Uzumaki Naruto pada orangnya sendiri. Yamanaka mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya. Setelah menunggu beberapa detik ia segera memberikan nomor handphone Uzumaki padaku. Dengan cepat aku meng-savenya di handphoneku sendiri dan segera mengirim pesan.

Uzumaki-kun, ini aku Sabaku no Gaara. Aku disuruh Pak Guru untuk mengantarkan fotocopy pelajaran hari ini padamu. Di mana rumahmu? Aku akan mengantarkannya langsung.

Setelah pesannya terkirim, aku memasukkan hanphoneku ke dalam kantung baju dan berjalan ke luar kelas. Sebenarnya Uzumaki sering bolos, namun Pak Guru bilang, wali Uzumaki mengalami kecelakaan dan sedang di rawat di rumah sakit, karena Uzumaki berada semalaman di rumah sakit, hari ini ia minta ijin untuk istirahat.

Belum tentu juga ia ada di rumah, mungkin saja ia sedang berada di rumah sakit, pikirku. Aku berjalan ke gerbang sekolah, sebenarnya hari ini aku ingin langsung pulang, badanku sedang tidak sehat jadi aku ingin beristirahat di rumah. Aku sudah memaksakan diri seharian, rasanya aku sudah sampai batasnya. Namun, aku harus memberikan fotocopyan ini pada Naruto dulu.

Aku merasakan handponeku bergetar, aku segera mengambilnya dan membuka pesan baru dari Uzumaki.

Aku ada di mini market di dekat stasiun, kalau mau datanglah kemari, akan kutunggu. Ngomong-ngomong, terima kasih ya. Aku jadi tidak enak sudah merepotkanmu. Atau kau bisa memberikan fotocopyan itu lain kali, jika bisa aku besok akan masuk (^_^)

Aku segera mengirimkan balasannya. Usul Uzumaki bagus juga, aku bisa menyerahkan fotocopyan ini lain kali, namun aku merasa tidak enak jika harus melakukan itu. Pak Guru sudah memberi tugas ini padaku, ini tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Aku mengecek suhu tubuhku dan mendesah, mungkin besok malah aku yang tidak masuk.

***

Naruto POV

Aku menatap keluar jendela, aku berada di kafe di samping mini market. Gaara memutuskan untuk menemuiku. Dengan beberapa alasan aku memutuskan untuk tidak membiarkan Gaara tahu dimana rumahku berada. Entahlah, aku merasa tidak enak jika memberitahukan dimana apartemenku berada. Rasanya, aneh saja, lagipula semua akan jauh lebih aman jika ia tidak tahu.

Aku mendesah dan mengalihkan perhatianku ke laptop di depanku. Aku kembali mengecek jaringan data Hiiragi Company. Dengan menggunakan jaringan internet WiFi, meng-hack akan jauh lebih gampang karena keberadaanku akan lebih sulit diketahui. Meski memang, ada resiko orang-orang melihatku meng-hack di sini. Tapi, sudahlah, seorang remaja wajarkan bermain sedikit dengan internet?

Aku mengecek data pengeluaran keuangan Hiiragi Company sambil meneguk sedikit teh yang kupesan tadi. Mengapa sepertinya data pengeluaran di sini berbeda hasilnya dengan pendapatan? Pendapatannya sedikit namun kenapa pengeluarannya besar sekali? Perusahaan seperti ini seharusnya sudah bangkrut sejak dulu. Aku kembali mengecek hal lain dan menemukan kalau perusahaan ini tidak memiliki hutang apapun, lalu darimana dana bisa mengalir?

Aku memijat dahiku dan berpikir keras.

Korupsi?

Pendapatan yang sebenarnya dikorupsi dan dimasukkan data pendapatan palsu? Lalu, jumlah pengeluaran yang besar berasa dari para koruptor?

Cuma itu satu-satunya jawaban yang masuk akal.

Tapi, korupsi bukan hal asing untuk hal seperti ini dan kalau memang benar perusahaan ini mengandung banyak koruptor apa hubungannya dengan kecelakaan Iruka-sensei.

Aku meng-hack data karyawan perusahan dan mengecek lagi gaji, pendapatan, jabatan dan hal-hal lainnya. Hanya satu hal yang bisa kudapat saat mengecek data Iruka-sensei.

Sangat bersih.

Beliau tak pernah mengkorupsi uang perusahaan sepeserpun. Lalu....

Aku menjetikkan jari. Itulah jawabannya, Iruka-sensei mempunyai jabatan penting di perusahaan, sementara para survisornya melakukan banyak korupsi. Mereka ingin menyingkirkan Iruka-sensei karena takut perbuatan mereka ketahuan? Atau malah sudah ketahuan?

Aku mengecek lagi potongan-potongan berita yang kusimpan disuatu file dan mengeceknya baik-baik.

Rem blong dan ban selip adalah penyebab kecelakaan. Aneh bukan?

Terlalu disengaja, seharusnya bila rem blong sejak awal, Iruka-sensei pasti akan membawa mobil itu ke bengkel, bahkan kemungkinan besar Iruka-sensei tak akan sampai di kantor. Jika memang rem blong terjadi karena kurang perawatan, maka itu juga aneh, bukankah minggu kemarin saat aku menelepon Iruka-sensei ia sedang berada di bengkel untuk melakukan pengecekan rutin untuk mobilnya? Tidak mungkin hanya dalam waktu seminggu mobil sudah rusak lagi, terlebih lagi rem blong.....

Apa orang-orang di Hiiragi Company itu yang mensabotase mobil Iruka-sensei?

Aku menggeretakkan gigiku. Iruka-sensei adalah orang baik, tapi ia justru kalah dengan orang-orang jahat? Kenapa dunia ini selalu tidak adil!? Kenapa Iruka-sensei tidak curiga pada teman-teman sekantornya? Harusnya ia menyadari kejanggalan perusahaan ini dan segera pergi!

Tapi, memang hidup ini tidak segampang itu. Iruka-sensei sudah mendapatkan "titik lemah" para koruptor itu sehingga ia dilenyapkan. Tapi, seharusnya Iruka-sensei juga tidak bersikap lemah, ia harus kuat!

Memang di dunia ini kita tidak bisa bersikap lemah. Tak ada yang bisa dipercaya. Harus bersikap kuat! Manusia benar-benar kotor, sikap mereka seperti binatang, "yang kuat adalah yang menang, yang lemah adalah yang kalah". Benar-benar..... Bahkan Iruka-sensei, orang yang sangat baik sekalipun akhirnya terjerumus seperti ini?! Lalu apa gunanya ia bersikap baik selama ini?

Aku merasakan handphoneku bergetar, memecahkan pikiranku sesaat. Dengan kesal aku membuka handphoneku dan membuka pesan yang baru saja masuk.

Uzumaki, kau berada dimana? Aku sudah berada di mini market

Ah, aku lupa.....Gaara!

Aku segera meminum tehku sampai habis dan segera mematikan laptopku. Dengan buru-buru, aku memakai "topeng"ku kembali dan segera berlari melesat keluar café.

Terima kasih pada kenyataan baru ini, aku sudah tahu kenyataan di balik kecelakaan yang menimpa Iruka-sensei.

Namun, kini apa yang harus kulakukan!?

Tenang Uzumaki, tenangkan dirimu. Aku menarik napas panjang dan berjalan masuk ke dalam mini market. Aku melihat Gaara berdiri di depan rak majalah, aku menenangkan diriku dan menghampirinya. Tak lupa, senyum ceriaku kupajang dengan bangga.

"Hey! Gaara!" aku memanggilnya dan menepuk bahunya. Ia terkejut dan menegang di bawah sentuhanku. Aku sempat memandangnya dengan tatapan bertanya namun aku tidak menanyakan apapun.

"Kau lama sekali," katanya dengan nada rendah, dan meski samar kusadari kalau suaranya agak serak.

"Maaf, aku keenakan makan di café, jadi lupa," kataku sambil tertawa bodoh. Sudahlah, Gaara, aku ingin cepat pulang dan memikirkan cara balas dendam ke Hiiragi Company dengan cara yang bagus dan menyenangkan!

"Uhm....fotocopyannya?" tanyaku mengingatkan Gaara. Ia tampak baru sadar dari lamunannya dan segera membuka ranselnya. Aku menunggunya dengan tak sabar.

"Ini," katanya sambil menyodorkan fotocopyan. Aku tersenyum dan mengambilnya, sekilas aku melihat wajahnya sedikit merah dan napasnya tersenggal-senggal. Orang tuli sekalipun bisa tahu kalau keadaan Gaara sedang tidak sehat.

"Kau tak apa, Gaara? Kau tampak...." belum sempat kuselesaikan perkataanku, aku terkejut melihat Gaara limbung, jatuh ke arahku. Dengan sigap aku segera menangkapnya.

"Ga-Gaara! Kau tidak apa-apa?" tanyaku panik. Bodohnya diriku, banyak orang melihatku dan menimbukan kerumunan, dengan terpaksa kutarik si rambut merah ini dan mengungsi ke taman yang sepi. Ini benar-benar merepotkan. Aku duduk di bangku taman dan menidurkan Gaara di pangkuanku. Aku tidak sepenuhnya terkejut saat tahu kalau Gaara itu ringan sekali, tapi yah....bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu.

Aku mengusap dahinya dan akhirnya tahu penyebab kenapa Gaara bisa jatuh pingsan seperti ini. Ia terkena demam tinggi. Aku jadi kagum, dengan demam seperti ini ia masih bisa sekolah? Bahka mengantarkan fotocopyan padaku? Wah, benar-benar murid teladan sekali – kalau tidak ingin kubilang bodoh.

Aku dengan perlahan memindahkan posisi tidur Gaara agar aku bisa bangkit. Aku meraih sapu tanganku dan berjalan menuju pancuran air. Apa aku harus membawa Gaara ke rumahnya? Rumahnya dimana saja aku tidak tahu. Bisa kutanyakan ke teman-teman sekelas sih, tapi bagaimana cara menjelaskan keadaan ini pada keluarganya.

Atau kubawa saja ke rumahku? Itu jauh lebih berbahaya, lebih baik ku bawa Gaara pulang ke rumahnya saja.

Aku menyalakan keran air dan membasahi sapu tanganku sedikit dan memerasnya agar airnya tidak menetes-netes kemana-mana. Setelah dirasa cukup, aku kembali ke tempat Gaara berbaring, tangan kananku meraih handphoneku dan dengan cepat mengetik sebuah pesan yang menanyakan dimana alamat rumah Gaara dan mengirimkannya ke semua anak di kelas.

Tepat saat aku kembali ke tempat Gaara, aku melihat wajahnya lebih pucat dari yang tadi. Dia memang terkena demam tinggi, saat demam seperti ini memang sangat menyiksa, kepala pusing seperti mau pecah, bahkan tiduran pun tak membantu sama sekali. Aku melipat sapu tanganku dan meletakkannya di dahi Gaara, agar bisa menenangkannya sedikit.

Aku menunggu balasan SMS dari teman-temanku sementara aku duduk di samping bangku Gaara. Mungkin Ketua Osis yang teladan ini akhirnya menyerah karena terlalu banyak kerjaan. Yah, entahlah.

Aku mendesah, dengan bosan aku membuka laptopku dan mengecek apa yang kulakukan sebelum aku bertemu Gaara.

Balas dendam ke perusahaan Hiiragi Company....

Ya, itu benar. Bagaimana caranya? Yang paling kuinginkan adalah mereka semua berlutut minta maaf di depan Iruka-sensei dan mengakui perbuatannya. Tapi, tentu saja tak bisa semudah itu. Belum tentu juga ini dilakukan secara kelompok, mungkin yang mencelakakan Iruka-sensei adalah individu dari Hiiragi Company, tapi perusahaan itu sendiri tidak terlibat apapun.

Memang, aku harus meniliti hal ini lebih jauh lagi.

Aku menggigit bibirku. Aku tidak habis pikir, kenapa orang sebaik Iruka-sensei bisa terjerumus ke hal seperti ini. Karena ia adalah orang yang bersih, ia justru celaka. Apa bila Iruka-sensei ikut berkorupsi maka ia tidak akan celaka. Lalu sebenarnya mana yang benar dan mana yang salah? Aku sudah sering melihat, betapa sulit bagi seseorang untuk memperjuangkan apa itu yang disebut "kebenaran". Padahal kebenaran itu sendiri memiliki arti yang rancu. Contohnya, di negeri Eropa, free seks merupakan hal yang wajar karena banyak orang melakukannya, sehingga itu dianggap "benar". Tapi, untuk negara bagian Timur yang menganut nilai dan norma yang kuat, free seks merupakan sesuatu yang "salah". Aneh bukan?

Artinya, saat semua orang di sekitar Iruka-sensei melakukan korupsi, karena banyak yang melakukannya maka itu dianggap "benar". Dan, karena Iruka-sensei tidak melakukannya, maka itu dianggap "salah". Setidaknya, itulah hukum yang berlaku di perusahaan itu, kan?

Benar dan salah, aku tidak tahu siapa yang salah dan benar dalam hal ini.

Aku sering melihat, banyak orang yang memperjuangkan kebenaran namun justru terjerumus jatuh, kalah dengan kejahatan. Aneh, sekali....

Sama seperti banyak penjahat yang tidak diadili sebagaimana mestinya.

Aku bahkan terkejut saat menerima kenyataan kalau hukuman orang yang mencuri ayam jauh lebih berat daripada pejabat berkorupsi 1 milyar (A/N: itu berlaku di Indonesia). Padahal jelas-jelas yang pejabat yang berkorupsilah yang bersalah lebih besar, dengan berkorupsi ia telah merugikan banyak warga negara, sementara orang yang mencuri ayam, mungkin saja ia melakukan itu karena lapar dan tidak punya pilihan lain kan? Orang yang mencuri seperti itu bisa terkena penjara 1 sampai 5 tahun, sementara pejabat yang berkorupsi hanya terkena hukuman 1 tahun atau bahkan bila ia mensabotase pihak yudikatif bisa saja ia tidak terkena hukuman sama sekali

Lalu, sebenarnya mana yang salah dan mana yang benar?

Apakah membunuh penjahat itu salah? Apakah membunuh orang tidak berguna itu salah? Apakah berkorupsi itu benar? Apakah melukai orang yang baik itu benar?

Aku memijit dahiku, merasa kepalaku pusing tidak karuan. Mataku terasa buram, rasanya bila aku terus berpikir seperti ini aku akan jatuh pingsan....

Aku merasakan handphoneku bergetar lagi. Aku segera membukanya dan menerima sms masuk.

Dari Ino, si penggosip paling hot satu sekolah, ia memberitahu dimana alamat rumah Gaara sekaligus bertanya "mengapa kau menanyakan alamat rumahnya?". Daripada kerepotan menjawabnya, lebih baik kujawab besok saja, bila bertemu orangnya langsung.

Aku menghela napas panjang, hampir saja aku lupa kalau Gaara ada di sebelahku dan sedang menderita demam tinggi. Yah, bukan masalah besar sih. Semua orang pasti akan mati, untuk apa meributkan penyakit kecil semacam demam tinggi?

Aku membaca alamat Gaara sekali lagi. Tidak jauh, bila naik bis cuma memakan waktu 15 menit. Tapi tentu aku tidak bisa membawa Gaara seperti ini ke dalam bis kan? Akan banyak orang yang melihat, akan banyak orang yang bertanya, akan banyak orang yang sok khawatir namun kenyataannya tidak membantu apa-apa.

Merepotkan. Dasar manusia yang selalu memakai topeng

Tapi, aku juga membantu Gaara seperti ini karena "topeng"ku. Aku bisa saja meninggalkannya di sini, biar ia terbangun sendiri dan pulang sendiri. Atau bahkan membusuk sampai mati, aku tidak peduli. Kematiannya tidak memberi dampak besar pada kehidupanku, paling jauh hanya memakan waktu 2 hari untuk melayat dan memilih ketua osis yang baru.

Tapi, tentu bila aku biarkan hal itu terjadi bsia berbahaya bukan? Aku orang yang melihat Gaara seperti ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan fans Gaara padaku bila mereka tahu aku meninggalkan idola mereka dalam keadaan sekarat di taman.

Aku melakukan ini demi kebaikanku sendiri, bukan untuk Gaara.

Aku memang egois, aku tahu itu, tapi yang penting aku tidak naïf.

Sudah, sudah, hentikan Naruto, bila kau berpikir seperti itu terus tidak akan habisnya.

Aku mendengus, ya sudahlah, langsung pada intinya saja. Lebih baik naik taksi. Mahal sih, tapi supaya aku mendapat kesan baik dari keluarga Gaara. Yah, supaya tidak repot juga sih.

Aku mengambil sapu tanganku yang basah, dengan cuek kulipat dan kumasukkan ke kantung jaketku. Aku menarik tangan Gaara dan memapahnya. Seperti yang kubilang, Gaara itu ringan, tapi tetap saja berjalan jadi susah kalau sambil memapah orang.

Setelah berusaha sekerasnya, aku sampai di pinggir jalan raya. Ingatkan aku untuk olahraga di akhir minggu, sudah terlalu lama aku mengurung diri di kamar sampai tubuhku terasa kaku seperti ini.

Aku melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada tak si lewat. Setelah menunggu sekian menit, akhirnya satu taksi berhenti di depanku. Supir taksi membukakan pintunya dan membantuku memasukkan Gaara ke dalam. Aku pun ikut masuk dan duduk di sebelah Gaara.

"Jalan Sunagakure, blok 5, no. 44," kataku memberi alamat Gaara. Supir taksi itu pun mengangguk dan segera menyetir mobil ke alamat yang kusebutkan. Aku melirik argo taksi, mengecek apakah argo taksi itu sudah dikutak-katik sehingga memberikan ongkos jalan yang lebih mahal adri standar yang seharusnya.

Setelah yakin argo taksinya benar, aku menyenderkan diriku ke kursi dan melirik Gaara yang masih tidak sadarkan diri. Entah bagaimana reaksi keluarganya nanti bila sampai rumah.

Orang yang matanya dingin dan gelap sama seperti diriku.

Mata yang dingin dan gelap tak bisa terbentuk begitu saja, bahkan penjahat kelas kakap sekalipun belum tentu punya mata seperti mataku ini. Lalu, kenapa si Ketua Osis teladan ini memiliki mata yang sama seperti diriku?

Tapi, itu bukan urusanku. Tapi, kesalnya juga aku jadi penasaran.

Sudahlah. Lupakan saja, tidak perlu menarik diri ke dalam permasalahan orang lain, nanti jadi terjerumus sendiri......

***

Gaara POV

Aku terbangun di kamarku dengan kepala berdenyut sampai membuat ruangan ini serasa berputar. Aku mengerang sedikit dan mencoba untuk bangun. Badanku sangat lemas dan kepalaku sakit. Akhirnya, setelah memaksakan diri sekian minggu, badanku pun akhirnya menyerah.....

Tunggu dulu.....

Aku tidak ingat aku pergi ke kamar, aku bahkan tidak ingat aku pulang ke rumah. Lalu, kenapa ku bisa berada di sini?

"Gaara! Kau sudah bangun!?" jerit Temari membuatku kaget. Aku hanya bisa mengangguk pelan.

"Aku kaget sekali saat temanmu mengantarkanmu pulang ke rumah, katanya kau pingsan karena demam tinggi. Ia baik sekali, ia mengantarkanmu pakai taksi. Ia memberikan salam padamu, katanya semoga cepat sembuh," oceh Temari panjang lebar. Aku hanya bisa mencerna sedikit dari perkataannya.

"Siapa?" tanyaku singkat, namun aku tahu Temari mengerti apa yang kumaksud.

"Kalau tidak salah, namanya Uzumaki Naruto, yang rambutnya pirang dengan kulit sawo matang itu, aku tidak menyangka kau punya teman sebaik dirinya," kata Temari lagi, ia meraih handuk basah yang ada di dalam baskom di meja dekat tempat tidur dan memerasnya, kemudia meletakkannya di dahiku.

Aku merasa tubuhku lebih rileks dan bisa berpikir lebih focus. Uzumaki Naruto mengantarkanku sampai rumah? Tunggu....jangan-jangan aku pingsan saat menyerahkan fotocopyan pelajaran untuknya?

"Kau terkena demam tinggi Gaara, tapi sekarang setelah beristirahat kau nampak lebih segar, demammu juga sudah turun tapi masih sedikit tinggi. Besok kau tidak perlu masuk, aku akan menulis surat ijin untuk gurumu," tambah Temari lagi, bersikap layaknya seorang Ibu. Aku hanya bisa mengangguk.

"Nanti saat masuk kau harus ucapkan terima kasih pada temanmu itu, pasti mahal mengantarmu memakai taksi," katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk lagi.

Setelah mengecek suhu tubuhku lagi, Temari akhirnya keluar dari kamarku. Aku menghela napas panjang, merasa pening setelah mendengar ocehan yang begitu panjang. Tapi......

Uzumaki Naruto mengantarku sampai rumah? Setelah aku pingsan di depannya? Yah, hal yang wajar sih, kalau ia tidak melakukan itu berarti ia adalah orang berhati dingin. Meski kami jarang mengobrol di sekolah, tapi kami tetap teman sekelas. Aku sudah mengantarkan fotocopyan pelajaran padanya meski aku sedang sakit dan ia mengantarkanku sampai rumah karena aku pingsan, impas kan?

Handphoneku yang tergeletak di meja di samping tempat tidur berbunyi, dengan lemas aku mengambilnya dan melihat ada pesan masuk. Setelah kubuka, ternyata berasa dari si rambut pirang itu.

Yo, Gaara. Kau sudah bangun? Kau pingsan tiba-tiba membuatku kaget setengah mati! Kupikir kau kenapa, tidak tahunya demam =_____=". Kuantarkan kau sampai rumah pakai taksi lho, dompetku jadi tipis, harus kau ganti ya! Becanda, aku melakukannya dengan tulus kok :P

Semoga cepat sembuh, Ketua Osis (^_^)b

Aku membaca pesan itu berulang-ulang. Padahal kami tidak akrab, tapi tampaknya perkataan kalau Uzumaki-kun itu ramah dan pandai bergaul tampaknya benar. Tapi.....

Aku tidak suka matanya......

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tak ingin berada dekat dengannya. Senyumnya memang cerah namun matanya terlihat "mati". Aku sendiri tak begitu mengerti. Tapi, kalau bisa aku tak ingin terlibat apapun dengannya

Namun, demi menjaga sopan santun, lebih baik kubalasa SMSnya.

Terima kasih, Uzumaki-kun. Maaf karena sudah merepotkanmu, aku mengucapkan banyak terima kasih. Aku juga berharap aku akan segera sembuh. Kau tidak perlu khawatir. Terima kasih atas perhatiannya.

Setelah menekan tombol kirim, aku kembali menjatuhkan diri ke tempat tidur. Rasanya capek sekali, namun aku senang bisa beristirahat di kamarku yang tenang ini. Dan besok aku tidak perlu berhadapan dengan tugas-tugas ketua osis yang sangat merepotkan.

Handphoneku kembali berbunyi dan menampilkan pesan masuk.

Ya, sama-sama. Aku tulus kok, percaya deh :D

Besok aku akan mengantarkan fotocopyan pelajaran padamu, gantian, boleh kan? ^^

Aku mendengus dan segera men-reply pesannya.

Ya, terima kasih. Kau boleh mengantarkan fotocopyan pelajaran padaku, kalau memang hal itu tidak merepotkanmu.

Ternyata Uzumaki-kun itu tipe orang yang selalu men-reply semua SMS yang masuk ya? Ketika handphoneku kembali berbunyi, aku segera membukanya dan melihat apa isinya.

Ya, hitung-hitung menghabiskan waktu. Besok aku akan ke rumahmu, nanti kubawakan oleh-oleh.....er......kalau bisa sih :P

Selamat malam Gaara, semoga cepat sembuh ^^

Aku tersenyum sedikit dan jatuh tertidur sebelum sempat menjawab pesan itu.

Namun sayang, mimpi yang menyambutku di alam sana bukanlah mimpi yang indah.

***


Dan itulah chapter kali ini :D

Seperti janjiku di fic yg kemarin, aku bakal nerangin apa itu arti psycopath:

Psikopat tak sama dengan gila karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.

Bahkan ada penelitian mengatakan kalau Psikopat itu rata2 jenius, mereka berpenampilan sempurna dan menyenangkan, tidak menyendiri (kalau menyendiri artinya anti-sosial). Jadi, jangan suka mengecap orang Psikopat cuma karena mereka suram dan jarang bergaul, karena Psikopat sendiri itu tidak kasat mata, dan bisa saja ada di sekitar kita.