Gundam SEED & Gundam SEED Destiny © SUNRISE

Warning ; OOC, Typo, short story in the chapter, perusakan karakter, etc.

Note ; some italic is flashback

...

"Lalu—setelah itu Shinn mengajakku kencan hari minggu nanti, aku bingung sekaligus senang. Jarang-jarang Shinn bisa meluangkan waktunya untukku. Oiya, menurutmu waktu kencan nanti aku harus pakai baju warna apa ya, Kira?"

"..."

"Kira?"

"..."

"Ya, Kira~"

Eh? Jangan katakan. Apakah aku baru saja—

"Kau melamun, Kira?"

Saat bersama Luna? Yang benar saja?!

"Baru kali ini kau melamun, ada apa denganmu sih?"

Iya, ada apa ini? "Tidak apa, aku hanya lelah," sebisa mungkin kupasang ekspresi normal, aku juga tidak ingin membawa Luna kedalam kebingungan yang sedang tidak kuketahui penyebabnya.

"Uuh... kau harus lebih banyak bersantai, kulihat kau terlalu serius—" Luna kembali berceloteh tanpa ambil pusing penyebab aku baru saja melamun ditengah percakapan kami, mungkin dia sedikit mengerti kalau ada kalanya aku merasa lelah. Aku tersenyum simpul ketika tangannya relfeks menggandeng tanganku. Aku tidak pernah memulainya lebih dulu, selalu Luna yang berinisiatif. Dia bilang bila bergandengan seperti ini, dia akan merasa terlindungi. Ya, benar. Aku akan melindunginya seperti caranya melindungiku sewaktu kecil dulu.

"Tidak apa-apa kah?" itu yang sering Luna katakan sehabis menolongku dulu, masih terasa kehangatan kata-katanya. Meski sekarang setelah kami bertemu kembali dia tidak pernah mengatakan kalimat itu, yah—tentu saja, aku saja ragu dia masih mengingat Kira Yamato kecil yang lemah dan cengeng. Setidaknya genggaman tangan ini lebih dari cukup untuk mengganti kalimat yang begitu ingin kudengar.

"—bagaima kalau lain kali kau ikut aku jalan-jalan bersama Meyrin dan Lacus, ajak Athrun juga, nanti aku akan ajak Shinn—"

"Lacus?"

Rasanya namanya tidak asing bagiku.

"Iya, Lacus Clyne yang kemarin bersamaku dan Meyrin, yang berambut pink panjang. Jangan bilang kau tidak ingat?"

Ah? Si gadis kereta api rupanya.

"Namaku Lacus Clyne, kau—Kira Yamato kan? Apakah kau mengenaliku?"

"Tentu saja—"

Mata birunya langsung berbinar cerah menatapku, seakan-akan dia menyimpan harapan menggebu-gebu dari jawabanku barusan.

"—teman-temanku banyak yang mengidolakanmu, seisi sekolah juga begitu. Tentu aku mengenalimu," meski aku tidak tahu namamu.

"Ohh, begitu kah?" nafasnya yang sejenak menggebu tidak teratur langsung berhembus lemah. Ada apa dengan dia? Apa dia kecewa aku tidak bersikap antusias layaknya penggemarnya disekolah. Yah—maaf, aku dan dia berada diderajat yang sama di sekolah. Bukan bermaksud untuk sombong, aku baru menyadarinya dari Athrun bahwa ternyata frekuensi gadis-gadis membicarakan kami berdua sama banyaknya dengan siswa laki-laki yang mengidolakan Lacus Clyne. Itu sebabnya aku tidak terlalu perduli dengan omong kosong yang berbau populer.

Sejenak keheningan diantara kami, tidak ada lagi yang mengisi selain kebisingan bunyi mesin kereta yang berhenti. Satu per satu penumpang mulai turun, termasuk kami.

"Aaa, aku lupa," lagi-lagi gadis ini memberiku kejutan dengan ekspresinya yang berubah ke mode ceria kembali, "terima kasih sudah menolongku, Kira Yamato-kun."

Hanya begitu saja.

Aku tidak menjawab ucapan terima kasihnya, aku juga bertahan lebih lama di stasiun kereta, membiarkannya berjalan lebih jauh meninggalkanku. Aku selalu sendiri, dan aku tidak ingin berjalan dengan siapapun selain Luna.

"Entahlah, sepertinya aku pernah melihatnya," dustaku.

"Ck, apapun tidak ada yang bisa menarik perhatianmu. Aku sendiri heran seperti apa seleramu. Teman-teman disekolah banyak yang tertarik pada Lacus, tapi kau malah tidak perduli."

Karena kau sudah lebih dari cukup, Luna.

"Kakak?"

"E, Meyrin?" genggaman tangan Luna terlepas begitu adiknya—Meyrin—menghampiri kami.

Ah, lagi-lagi ada gadis itu.

"Kata kakak akan pulang bersama Shinn, kenapa kakak malah pulang bersama Kira-senpai?"

"Kau sendiri bukannya mau menginap dirumah Lacus, kenapa kalian berdua malah berjalan disini?"

"Kami ingin mengambil barang Meyrin yang ketinggalan, Luna-senpai," gadis itu. Lagi-lagi kenapa dia harus tersenyum begitu? Apakah dia tidak tahu aku merasa terganggu? Senyum yang mencemoohku bahwa aku punya senyum palsu yang serupa. Senyum yang berbohong mengatakan 'aku bahagia', 'aku baik-baik saja'. Dan dia—apa yang sedang ia coba tutupi dengan senyumnya?

"Tuh, kakak dengar sendiri apa kata Lacus. Dan kakak sendiri kenapa bisa bersama Kira-senpai?"

"Memangnya apa urusanmu, aku hanya berubah rencana—"

Aku menghela nafas membiarkan dua bersaudara itu beradu argument lagi. Ini toh bukan pemandangan yang tidak biasa kok, memang sering terjadi. Nanti juga berhenti.

"Dasar," keluhku. Tanpa sengaja mataku dan iris biru itu bertemu. Dan dia—tersenyum? Padaku?

"Luna, kau pulang bersama mereka saja ya. Aku lupa kalau ada sesuatu yang harus kukerjakan,"

"Ehh, tapi Kira—"

Aku berbalik pergi tanpa mendengar lebih banyak perotes dari Luna. Cukup. Jangan coba sampaikan apapun dari senyum itu. Meski hanya aku yang bisa mengerti, atau aku terlalu over-reaktif, entahlah. Kehadirannya membuatku tidak nyaman.

...

"Lacus Clyne suka padamu."

Aku memutar mataku dengan bosan. Persepsi apa lagi yang ingin Athrun argumenkan denganku? Kemarin-kemarin seperti bom atom dia memborbardirku dengan pernyataan bahwa aku menyukai Luna, lalu sekarang mendadak dia bilang si gadis kereta api api itu suka padaku. Aku yang kelewat tidak peka, atau Athrun dan terlampau berimajinasi tinggi?

"Aku tidak perduli." Semoga penegasan singkat ini bisa membuat Athrun mengerti situasiku yang tidak ingin melanjutkan omong kosong ini.

"Kenapa kau mulai tidak percaya padaku sih?" Athrun tetap memasang wajah tenangnya. Masing-masing dari kami punya topeng tersendiri untuk memperlihatkan kepribadian yang tanpa cacat. Kalau aku dan Lacus Clyne itu memasang senyum ramah 'hidupku baik-baik saja', sementara Athrun akan memasang wajah tenang seperti dia orang yang mampu berpikir jernih dan bijaksana tingkat dewa. Padahal aslinya kalau kalian ingin mengetahuinya, aku sadar betul pemuda beriris hijau ini ingin menonjokku karena meragukan analisanya. "Aku tahu kau juga sadar kalau gadis itu sering memperhatikanmu belakangan ini. Dia memang terkenal sebagai gadis yang perduli pada siapapun, tapi dia bukan tipe gadis yang akan menatap lama pada laki-laki tidak menarik sepertimu."

"Hhh, hentikan omong kosong itu Athrun," dalam hidupku yang paling kuhindari adalah beradu pendapat dengan Athrun. Bukan aku takut kalah, aku hanya tidak ingin—

"Lalu—kalau kukatakan satu jam yang lalu Lunamaria pulang kerumah dengan menangis karena bertengkar dengan kekasihnya, apakah kau akan percaya?"

...

Athrun menghembuskan nafas lelah. Sudah diduga akan seperti ini. Kira Yamato yang sederhana selalu memilih jalan yang rumit. Bukannya Athrun tidak sadar bahwa sahabatnya menyimpan perasaan mendalam pada sesseorang bernama Lunamaria, dia hanya ingin menghargai privasi Kira. Ada saat dimana pemuda tersebut membatasi diri dengannya. Meski kembar dan keras kepala, Kira jauh lebih tertutup dari saudari kembarnnya yang cenderung ekspresif.

Sekarang ini ia hanya sedikit kesal karena Kira tidak memilih opsi menanggapi perasaan Lacus Clyne yang aman dari pada menempeli Lunamaria yang mengambang. Athrun sendiri masih belum paham perasaan seperti apa yang Kira simpan sehingga mata dan pikirannya tidak lepas dari seorang Lunamaria. Kekesalannya makin bertambah ketika Kira tanpa pikir panjang menyambar tasnya—bolos menghadiri kelas—mencari Luna karena mendengar kabar buru tentang gadis itu yang belum terbukti kebenarannya.

Athrun tersenyum menatap ponselnya yang bergetar karena memiliki panggilan, "Ya,"

"Kenapa suaramu lemah seperti itu?"

"Aku hanya kurang istirahat."

"Aaa, kau pasti beradu argumen lagi dengan Kira."

Alis Athrun berkerut kecil. Orang itu berada ribuan killo meter untuk melihat apa yang terjadi antara dia dan Kira beberapa menit yang lalu.

"Jangan terlalu mencemaskan Kira. Dia itu sama bodohnya denganmu, nanti kau malah bertambah bodoh darinya."

Athrun tertawa ringan mendengar candaan dari seberang sana, orang itu memang selalu mengerti suasana hati Athrun walau terpisahkan jarak. "Ya, kau benar Cagalli," aku Athrun menyerah, menatap langit diluar jendela, merasa seakan bisa melihat sosok gadis itu lewat pantulan langit biru, "Kami berdua sama-sama bodoh."

Memang dasar Kira Yamato yang rumit.

...

"Senpai?" Meyrin sedikit terkejut melihat kedatanganku yang terengah-engah berdiri di depan pintu rumahnya seperti habis meraton.

"Mana Luna?" tanpa basa-basi aku menerobos masuk menuju kamar Luna. Ini bukan pertama kalinya akau datang kesini, aku sudah jauh lebih hafal bagian sudut-sudut rumah dua bersaudara ini.

"Tolong jangan ganggu Luna-senpai," lagi-lagi dia, dia sudah berdiri didepan pintu kamar Luna, mencegahku masuk, "sekarang Luna-senpai butuh waktu sendiri."

Heh! Ternyata tuan puteri ini bisa juga bersikap angker.

"Kalian yang seharusnya meninggalkan kami sendiri," ketusku menerobos masuk.

"Hei!"

Aku tidak lagi memperdulikan suasana disekelilingku, yang kutahu sekarang mataku melihat Luna duduk menekuk lutut dilantai, membenamkan wajahnya yang tengah menangis terisak. Perlahan aku mengambil posisi berjongkok dihadapannya.

"Luna?" kusentuh pundaknya yang gemetar, perlahan wajahnya terangkat menatapku.

"Ki,kira..."

Sebisa mungkin aku memberikan senyum terbaikku, aku benar-benar tidak ingin melihatnya terluka.

"Tidak apa-apa kah, Kira?"

'Tidak apa-apa kah?' seakan ada pisau yang begitu tajam menusuk, denyut nadiku terhenti. Kata-kata Luna membuatku sadar bahwa aku telah membiarkannya terluka. Aku gagal melindungi perasaannya.

"Tidak apa-apa, Luna. Semua baik-baik saja," aku ingin kau mendengar kalimat ini, meski dulu kau yang mengucapkannya untukku, aku ingin kau juga merasakan keajaiban dari kata-katamu yang membuatku sadar bahwa didunia ini ada orang yang bisa perduli pada orang lain yang ditinggal kesepian.

Seketika tangis Luna pecah, tubuhnya berhambur kepelukanku mencari perlindungan. Aku tidak perduli air matanya akan membasahi pakaianku, aku juga tidak perduli ada tatapan lain yang memperhatikanku. Sekarang, aku hanya ingin membuat Luna merasa jauh lebih baik.

...

Langkah kakiku terasa berat menuju rumah. Langit sudah mulai bewarna jingga keunguan saat aku pamit pada Luna. Gadis itu jauh lebih merasa baik setelah meluapkan emosinya dengan menangis satu jam lebih dalam pelukanku.

"Kira Yamato-kun"

Aku lelah, aku ingin cepat-cepat sampai dirumah dan beristirahat. Aku sudah berbaik hati membiarkannya jalan di belakang mengikutiku, tapi tidak bisakah dia bersikap seperti hari-hari kemarin? Hanya berjalan tidak berbicara, menganggap kami ini tidak saling kenal.

"Kira..." suaranya kian lirih melihatku yang enggan berbalik menghadapnya.

Dan—Kira? Tanpa embel-embel 'senpai'? Dimana letak kesopanannya sebagai seorang junior?

"Pulang," hanya itu yang terlintas, aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Dia selalu membuatku tidak nyaman. Pilihan terbaik adalah mempercepat langkah dan meninggalkannya jauh dibelakang, menghindar—

"Kumohon," aku tidak berkutik ketika langkahnya jauh lebih cepat sehingga sudah memelukku dari belakang. Tubuhku berubah kaku, perasaan tidak nyaman yang selalu kurasa saat bersamanya kian menyeruak. "—kumohon padamu, Kira Yamato," pelukannya kian erat seakan dia merasa aku akan lari darinya saat ini. "Tolong jangan suka pada Lunamaria."

Dadaku sakit.

Aku tidak punya riwayat lemah jantung.

Perasaan apa ini?

.

.

To be continued...

Mohon masukannya ^^

Dan terimakasih yang sudah mereview. Meskipun minim review dan pembaca, benar-benar senang rasanya bisa mempublish fanfic ini ^^