That Summer Breeze

Bitter Beginning

Cast
Kim Joonmyeon
Kim Suho
Zhang Yixing
and Another Cast

Disclaimer
The cast aren't mine, but the story are Orizuka's!

Genre
Romance, Drama, Angst

Summary
Menanti datangnya musim panas, saat di mana aku bisa kembali bertemu dengannya / SuLay / Remake from Orizuka's That Summer Breeze / Twin!JoonmyeonSuho / GS / Mind to RnR?

Warning
GS, Typo, OOC, AU. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, kawan o/

.

Happy Reading! ^^

.

"Myeon! Bisakah kau berhenti menyalakan musik tidak karuan seperti ini?" sahut Suho dari luar kamar Joonmyeon.

Joonmyeon tidak menggerakkan satu pun anggota tubuhnya untuk menuruti permintaan Suho. 'Saint Anger' masih berkumandang di kamarnya dengan volume maksimal. Suho menggedor-gedor pintu kamar Joonmyeon dengan sekuat tenaga.

"Joonmyeon! Aku sedang belajar!" serunya lagi. Joonmyeon memutar bola matanya, tapi tetap tak melakukan apa pun. Joonmyeon memejamkan matanya lagi sambil menggerak-gerakkan tangannya sesuai irama drum.

"MYEON!" teriak Suho bersamaan dengan terbukanya pintu dengan paksa. Joonmyeon melirik kesal ke arah Suho. Suho menghela napas sebentar, lalu berjalan kaku ke arah tape dan menekan tombol stop. Seketika ruangan menjadi sepi. Joonmyeon bangkit dan terduduk di tempat tidurnya.

"Kau tahu, yang kau sebut music tidak karuan itu Metallica. Dan aku tidak mengerti, kalau ada namja yang tidak membedakan musiknya Metallica," kata Joonmyeon sengit.

"Oh, aku jelas-jelas bisa mengerti musiknya Korn kalau dipasang sesuai dengan batas ambang pendengaran manusia," balas Suho dengan tangan terlipat di dadanya. "Tsk, tidak usah menghindar. Seperti kau bisa membedakan mana yang musiknya Korn mana yang musiknya P.O.D," Joonmyeon bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mencari handuk.

Suho memerhatikan saudara kembarnya sesaat. "Aku bisa melihat dengan jelas masa depanmu," katanya setelah melihat Joonmyeon yang tak kunjung menemukan handuknya. "Maksudku, lihat saja tempat ini. Tempat ini bahkan tidak pantas dibilang kamar. Kandang sapi masih lebih pantas mendapatkan penghargaan dekorasi." Suho menendang handuk yang sedari tadi berada tepat di depan kakinya. Handuk itu mendarat mulus di kepala Joonmyeon.

"Aku juga bisa melihat masa depanmu," kata Joonmyeon dingin sambil beranjak keluar kamarnya. "Atlet hebat, penerima beasiswa, namja populer di kampus... Ups, itu bukan masa depan ya? Hanya sayangnya, kau pernah salah membedakan Marilyn Manson sama Marilyn Monroe..."

Suho menatap masam kakak kembarnya yang keluar tanpa memandangnya, lalu kembali menatap kamar yang dipenuhi segala macam barang milik Joonmyeon. Dindingnya sudah tak terlihat lagi warna aslinya, karena sudah penuh ditempeli poster-poster bintang rock dan alternative mulai dari Kurt Cobain, Queen, sampai Metallica. Lantainya pun bernasib serupa. Baju-baju kotor -atau bersih, Suho tak bisa membedakannya- bercampur baur di sana dengan segala macam CD bertebaran di atasnya.

Suho menghela napas sebentar, lalu memutuskan untuk pergi dari kamar itu, karena aura-aura yang dikeluarkan poster-poster itu membuat Suho tidak nyaman. Tapi beberapa langkah sebelum mencapai pintu, kakinya menyandung sebuah travo. "Sialan!" umpat Suho sambil memegangi jempolnya yang nyut-nyutan, lalu menatap ingin tahu ke arah benda yang tadi menghalanginya.

"Travo!" keluhnya kesal. "Travo di tengah jalan!" sahutnya lagi sambil menendangnya dengan sekuat tenaga. Tentu saja, travo itu tak bergerak dari tempatnya semula dan sekarang jempolnya terasa luar biasa sakit. "Awas kalian semua!" kutuk Suho kepada kamar Joonmyeon dan semua barang yang ada di dalamnya, lalu dengan langkah berjingkat dia keluar dari sana.

.

.

.

"Myeon, tidak berangkat kuliah?" tanya Ny. Kim begitu Joonmyeon keluar dari kamar mandi.

"Tidak," jawab Joonmyeon singkat, lalu duduk di sofa. Tangannya sibuk memindah-mindahkan channel dengan remote. "Oh, tapi kenapa barusan Suho berangkat kuliah ya?" tanya Ny. Kim heran.

"Eomma," tukas Joonmyeon kesal. "Aku sama Suho beda jurusan. Tidak mungkin jadwal kuliahnya bersamaan."

"Oh, iya ya. Eomma pikir kamu dengan Suho satu jurusan," kata Ny. Kim lagi sambil mengaduk adonan kue. "Maka dari itu, perhatian sedikit kek," gumam Joonmyeon. "Sudah mau dua tahun kuliah, juga."

"Apa, Myeon?" Ny. Kim tak mendengar perkataan Joonmyeon karena suara putaran mixer.

"Bukan apa-apa. Tidak penting." Joonmyeon mematikan TV, lalu bergerak ke arah kamarnya. "Myeon, kamarnya dibereskan dong," kata Ny. Kim sebelum Joonmyeon sempat menutup pintu. "Kamu itu malas sekali. Lihat kamarnya Suho. Rapi, bersih..."

"Seperti kamar yeoja," sambar Joonmyeon. Ny. Kim berhenti mengaduk adonan, lalu mengernyit kepada Joonmyeon. "Kejantanan namja bukan diukur dari keadaan kamarnya," katanya serius. "Ha-ha," Joonmyeon menanggapi dingin komentar Ny. Kim, lalu masuk ke kamar. Dia melangkahi travo-nya yang melintang, menggapai gitarnya, lalu duduk di pinggir jendela. Kejantanan seorang namja tidak dilihat dari keadaan kamarnya. Yang benar saja, pikir Joonmyeon sambil mendengus.

Kalau kamar namja itu bersih, tidak ada satu poster pun, yang ada hanya foto-fotonya bersama piala-piala dan medali-medalinya, dengan banyak CD Glenn Fredly atau Josh Groban di atas meja, jelas-jelas kejantanannya patut dipertanyakan. Juga bisa dipastikan kalau pemilik kamar tersebut memiliki kadar kenarsisan yang sangat tinggi.

Joonmyeon mulai memainkan lagu kebangsaannya. 'Creep' milik Radiohead.

'But I'm a creep, I'm a weirdo.

What the hell am I doing here?

I don't belong here.'

.

.

.

"Hai Suho!" Suho mencari sumber suara itu. Dia berbalik, dan mendapati Kyungsoo sedang berlari-lari kecil ke arahnya dengan riang. Suho tersenyum kepadanya. Kyungsoo masih belum berubah sejak Suho memutuskan hubungan dengannya. "Hei," sapa Suho. Kyungsoo menatap Suho dengan mata bulatnya. Suho lantas mengalihkan pandangannya, karena kenyataannya dia masih tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk Kyungsoo setiap kali melihat sepasang mata yang bersinar itu.

"Kamu kenapa?" tanya Kyungsoo. "Lesu banget."

"Oh ya?" Suho tertawa kecil. Kyungsoo mengangguk, lalu mulai berjalan. Suho mengikutinya. Mereka mengambil jurusan yang sama, dan juga kelas yang sama. "Kenapa? Bertengkar lagi sama Joonmyeon ya?" tanya Kyungsoo lagi. Mendengar pertanyaan Kyungsoo, Suho mendengus.

"Kapan sih aku pernah tidak bertengkar dengan dia?"

Kyungsoo menatapnya dengan pandangan serius. "Kyung, aku pernah bilang, kalau aku sama Joonmyeon itu sudah ditakdirkan tidak bisa akur. Kita sudah bertengkar sejak masih di perut. Tendang-tendangan," kata Suho lagi.

Kyungsoo terbahak saat mendengarnya. "Hiperbolis deh," sahutnya sambil mendorong Suho. "Serius," Suho balas mendorongnya. "Udah ah," kata Kyungsoo setelah pulih dari gelinya. "Bilang aja kamu sayang sama Joonmyeon. Kata orang, benci itu artinya peduli. Peduli itu artinya sayang."

"Kata siapa?" Suho mengetuk kepala Kyungsoo pelan. Kyungsoo hanya mengedikkan bahu sambil melirik penuh arti kepada Suho.

Suho menghela napas, lalu berhenti berjalan. Dia memegang kedua pundak Kyungsoo dan menatapnya lekat-lekat. "Kyung, kalau ada orang yang paling aku benci di dunia ini, orang itu sudah pasti Joonmyeon."

.

.

.

"Joonmyeon!" Joonmyeon membuka matanya dengan malas. Suara Tn. Kim membuatnya mual seketika. "JOONMYEON!" sahut Tn. Kim lagi, kali ini sambil menggedor-gedor pintunya. "Apa?" sahut Joonmyeon tanpa beranjak dari tempat tidurnya.

"Apa? APA?! Makan malam bersama! Cepat keluar!" sahut Tn. Kim lagi. Joonmyeon bangun dengan sangat terpaksa, lalu membuka pintu kamarnya. Seluruh keluarganya tampak sudah berkumpul di meja makan. Walau demikian, Joonmyeon lebih merasakan suasana yang suram dibandingkan dengan suasana yang hangat. Tanpa mencuci muka, Joonmyeon langsung mengambil tempat di meja.

"Apa Appa harus selalu teriak-teriak memanggilmu setiap kita mau makan?" tanya Tn. Kim ketus begitu Joonmyeon menampakkan diri. "Kalian bisa mulai makan tanpa aku," jawab Joonmyeon sambil memandang Appa-nya dingin. "Saat makan malam itu waktu untuk keluarga berkumpul," Tn. Kim tidak membalas pandangannya dan menyendok sosis. "Seperti ada pembicaraan keluarga saja," gumam Joonmyeon sengit.

Tn. Kim tampak tak memedulikan kata-kata Joonmyeon. Dia mengalihkan pandangannya kepada Suho yang sedang asyik melahap ayam goreng. "Bagaimana kuliahmu, Nak?" tanyanya.

Joonmyeon langsung mendengus.

"Oh, baik, Appa. Sebentar lagi ujian," jawab Suho tenang. "Oh, begitu. Belajar yang rajin ya. Biar IP-mu tidak merosot seperti hyungmu ini," sindir Tn. Kim membuat Joonmyeon melotot. "IP-ku tidak merosot," sambar Joonmyeon. "Oh, ya, sama seperti semester sebelumnya, tapi sama jeleknya," kata Tn. Kim sambil melemparkan pandangan masam.

"Kau tau Myeon, kalau kau begitu terus, kau bisa-bisa di-DO."

"Cepat atau lambat aku juga akan di DO, kan? Aku hanya mempermudah prosesnya saja," tandas Joonmyeon. "IP-mu yang hanya dua koma satu itu tidak bisa membanggakan siapa pun, Myeon. Apa kau tidak malu, hah?" intonasi Tn. Kim sekarang mulai naik.

"Malu? Untuk apa malu? Itu sudah hasil terbaik yang aku bisa," jawab Joonmyeon tak peduli. Tn. Kim mendengus. "Bohong. Kau bisa lebih baik dari itu. Dirimu saja yang tidak mau berusaha. Kau hanya ingin mencari sensasi supaya lebih diperhatikan."

Joonmyeon memandang Tn. Kim tak percaya. "Aku ragu sensasi apa yang bisa aku lakukan supaya lebih diperhatikan. Mungkin aku harus membakar rumah ini baru bisa diperhatikan," jawab Joonmyeon ketus, lalu meninggalkan meja, tak berminat untuk makan malam dengan situasi seperti ini.

"Joonmyeon! Kembali ke sini sekarang juga!" sahut Tn. Kim garang. Joonmyeon tak memedulikan teriakan-teriakan Tn. Kim. Dengan langkah besar-besar, dia masuk ke kamarnya, lalu membanting pintunya. Dia melangkah ke tape, menyetel CD Disturbed dengan volume maksimum, lalu dengan kalap membanting semua benda yang dilihatnya.

"Brengsek!" serunya setelah dia kehabisan tenaga. Joonmyeon terduduk di samping tempat tidur, lalu menjambak-jambak rambutnya.

Dunia tidak adil.

Dunia tak pernah adil padanya.

Appa memang menyebalkan. Eomma juga menyebalkan. Suho lebih menyebalkan. Seisi rumah ini menyebalkan. Semuanya selalu bersikap seperti keluarga kecil bahagia. Joonmyeon merasa dia tidak diterima di keluarga ini. Joonmyeon selalu saja berbeda. Joonmyeon membanting tubuhnya ke tempat tidur, lalu mulai menyesali keberadaannya di dunia, sama seperti malam-malam sebelumnya.

.

.

.

Joonmyeon perlahan membuka pintu kamarnya dan mendapati ruang keluarga pagi ini sudah kosong. Joonmyeon mensyukuri keadaan itu, tak mau harinya diawali oleh suara salah satu anggota keluarganya. Setelah mengembuskan napas lega, Joonmyeon berjalan menuju lemari es. Dibukanya lemari es itu, tapi ternyata lemari es itu kosong. Tidak ada susu, tidak sereal, tidak juga roti. Joonmyeon membanting pintu lemari es dengan sekuat tenaga.

"Wah, wah. Bisa rusak semua barang-barang elektronik di rumah ini kalau kau menyentuhnya pakai tenaga dalam terus," komentar Suho yang tiba-tiba muncul dari balik lemari es. Joonmyeon menatapnya sebal. "Kau bisa membelikannya lagi, karena kau sudah pasti sukses," kata Joonmyeon ketus.

"Selalu ada hukum alam. Ada yang merusak, ada juga yang menciptakan," sambungnya sambil melangkah keluar rumah dengan juga membanting pintunya. Suho menatapnya sambil geleng-geleng kepala.

.

.

.

Joonmyeon melangkah cepat menuruni jalan kompleksnya. Tak seperti Suho yang memiliki motor, Joonmyeon selalu naik bus saat pergi kuliah. Bukannya Joonmyeon tak pernah meminta, tapi dia 'tak mau' meminta apa pun dari orangtua-nya, juga apa pun yang dimiliki Suho. Ayahnya memberi motor itu kepada Suho karena dia lulus ujian dengan nilai rata-rata delapan, bukan karena Suho memintanya. Dan Joonmyeon tak bisa berbuat apa pun kecuali diam dan menelan bulat-bulat nilai rata-rata merahnya.

Tahu-tahu, Joonmyeon melihat ke sebuah taman yang terletak tak jauh dari kompleks rumahnya. Joonmyeon berhenti sebentar, dan menatap taman yang tak pernah berubah dari sejak dia masih kecil. Taman yang asri dengan lapangan basket di tengahnya dan beberapa kursi taman di pinggirannya. Taman yang menyimpan banyak kenangan. Terlalu banyak kenangan. Joonmyeon memutuskan untuk memasuki taman itu. Entah kekuatan apa yang menariknya ke sana.

Terakhir kali dia ke sana adalah ketika umurnya masih sembilan tahun. Sejak itu, dia tak pernah ke sana lagi, untuk menunggu janji sepuluh tahun yang pernah dibuatnya dengan gadis kecil berkepang dua. Joonmyeon memaksakan diri untuk berjalan ke sebuah pohon, tempat janji itu dipahat. Setelah bertahun-tahun berlalu, tulisan itu masih di sana. Tulisan Joonmyeon-Yixing-Suho. Joonmyeon menatapnya tanpa ekspresi. Baginya, janji ini hanya kekonyolan. Hanya kerjaan iseng anak-anak.

Gadis itu tak akan pernah muncul lagi. Tak akan pernah lagi setelah ia mengingkari janjinya sendiri. Yixing. Gadis kecil itu pergi ke Amerika sebulan tepat setelah mereka berjanji untuk selalu bersama. Dia pergi begitu saja setelah mereka membuat surat permohonan.

Dan sekarang, sudah sepuluh tahun lebih semenjak perjanjian itu dibuat. Tanggal 14 Februari 2005 bahkan masih terpahat di sana. Tidak mungkin kalau tulisan itu tulisan Yixing yang dulu, pikir Joonmyeon. Suho pasti sudah memahatnya kembali selama sepuluh tahun ini. Suho masih saja percaya bahwa gadis itu akan datang.

Dulu, anak bodoh itu bahkan pernah menyebut nama Yixing muncul di sebuah forum di dunia maya. Benar-benar penuh imajinasi. Benar-benar sebuah lelucon. Gadis itu tak akan pernah datang. Yixing tak mungkin datang lagi. Joonmyeon yakin, Yixing bahkan tidak ingat lagi akan perjanjian ini. Joonmyeon menatap pohon itu benci, lalu memukulnya dengan keras hingga buku-buku jarinya terasa sakit. Joonmyeon tak peduli lagi pada masa lalunya. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari masa lalunya.

Bahkan, kenyataan, tak ada lagi yang bisa diharapkannya dari masa kini maupun masa depannya. Semuanya omong kosong. Joonmyeon meninggalkan taman segera setelah menendang pohon itu.

.

.

.

"Suho, bantu Eomma dong."

Suho langsung melompat dari sofa begitu melihat Ny. Kim muncul di ambang pintu, tampak kesusahan membawa barang-barang belanjaan.

"Eomma beli apa saja sih? Heboh amat," komentar Suho sambil membawa belanjaan itu masuk dan menaruhnya ke meja makan.

"Makanan," jawab Ny. Kim singkat sementara Suho mengernyitkan dahi.

"Persediaan untuk setahun?" Suho memandang bungkusan-bungkusan besar di depan matanya.

Ny. Kim tak banyak berkomentar dan hanya mengedikkan bahu. "Ada saja," jawabnya misterius sambil menata sayuran di lemari es. Suho mencoba membuka sebuah bungkusan, tapi tangannya langsung ditepis oleh Ny. Kim. Suho meringis sambil mengelus punggung tangannya.

"Ada apa sih, Eomma? Mau ada pesta?"

"Sudah deh, kamu nonton saja sana, tidak usah banyak tanya. Nanti kau akan mengetahuinya," kata Ny. Kim, masih dengan nada misterius. Suho menuruti kata-kata Ny. Kim walaupun dengan menggerutu. "Eh, Joonmyeon ke mana?" tanya Ny. Kim sambil melongok ke ruang TV. "Kuliah, mungkin," jawab Suho malas, tangannya sibuk mengganti channel. "Lalu dia sarapan apa? Tidak ada apa-apa di kulkas," kata Ny. Kim lagi. Suho mengangkat bahu. "Mungkin sarapan di kampus," gumamnya.

Ny. Kim mengangguk-anggukkan kepala, lalu mengamati Suho yang bergerak mendekat dan mengambil sebuah apel dari salah satu bungkusan belanjaan yang sudah terbuka. "Suho, eomma khawatir sama Joonmyeon... Beberapa hari ini dia semakin sering bertengkar dengan appa-mu," kata Ny. Kim pelan.

Suho menatap ibunya yang sekilas tampak lebih tua dari biasanya, lalu mendesah pelan. "Eomma tenanglah. Joonmyeon sudah besar. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," kata Suho, lalu bergerak mengambil bola basketnya yang tergeletak di samping sofa. "Aku main basket dulu ya, eomma."

Setelah berpamitan pada ibunya Suho berjalan keluar rumah dan menghirup udara pagi yang segar. Hari ini cuaca agak mendung. Suho mendesah pelan. Joonmyeon itu, pikir Suho. Selalu saja membuat Appa dan Eomma kesal. Selalu saja membuat keonaran supaya bisa diperhatikan. Padahal perbuatannya justru tidak akan mendatangkan simpati dari siapa pun.

Suho men-dribble bolanya sampai ke taman. Suho berhenti sebentar, menatap taman yang penuh akan kenangan masa kecilnya. Setelah menghela napas, dengan mantap dia mulai berlari ke lapangan basket dan memasukkan bolanya ke ring. Lima belas menit kemudian, dia terduduk di bawah pohon akasia besar yang terletak persis di samping lapangan. Dia mendongakkan kepala, lalu melihat tulisan 'Joonmyeon-Yixing-Suho' yang terpahat di pohon itu. Pikirannya lantas melayang ke masa kecilnya.

Yixing. Gadis cilik berkepang dua yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Seharusnya Suho melupakannya, tapi setiap kali berpikir seperti itu, dia semakin tidak bisa melakukannya. Seorang Yixing malah tumbuh semakin besar dalam fantasi terliarnya dan menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Ingin rasanya Suho menganggap bahwa semua ini konyol dan tidak masuk akal, tapi ia tidak mampu.

Tidak pernah mampu. Dia memiliki keyakinan itu. Keyakinan bahwa Yixing, gadis kecilnya yang cantik, akan kembali suatu saat nanti. Suho bangkit, mengambil sebuah batu berujung tajam, lalu menggoreskannya ke tempat yang sama di mana tulisan 'Joonmyeon-Yixing-Suho' terpahat. Dia memahatnya kembali agar tidak hilang. Suho sudah melakukan hal itu selama sepuluh tahun ini. Dia masih berharap bahwa janji sepuluh tahun yang lalu itu masih berlaku, walaupun sudah melewati batas yang ditentukan. Sejak beberapa bulan yang lalu, Suho sering berpikir untuk membongkar kaleng yang dikubur di dalam tanah, dengan persetujuan Joonmyeon. Tapi Suho tak pernah melakukannya. Joonmyeon juga. Sepertinya orang itu bahkan sudah lupa akan perjanjian itu.

Hal ini membuat Suho sedikit enggan untuk ikut menebalkan tulisan 'Joonmyeon'-nya, tapi entah mengapa, tangannya bergerak di luar keinginannya. Suho merebahkan tubuhnya di rumput yang hijau. Selama sepuluh tahun ini, Joonmyeon tak pernah bicara tentang Yixing ataupun pohon, ataupun perjanjian itu.

Bahkan, Joonmyeon tak banyak bicara tentang apa pun kepada Suho. Rasanya Joonmyeon sudah melupakan semua memori masa kecilnya begitu saja. Tidak ada keingintahuan. Bahkan, tidak ada respon saat Suho menyebut nama Yixing di depannya sekitar dua bulan yang lalu, saat sebuah e-mail masuk ke kotak surat Suho. E-mail itu mengejutkan Suho dan membangkitkan semua kenangan yang selama ini terkubur dalam-dalam di otaknya.

E-mail itu dari Yixing. Yixing-nya. E-mail itu mengatakan semua yang ingin didengar Suho. Bahwa Yixing baik-baik saja, bahwa Yixing tidak lupa akan perjanjiannya, bahwa Yixing akan kembali, walaupun tidak akan tepat pada tanggal 14 Februari karena dia belum mendapat libur sekolah. Senyum lebar menghias wajah Suho. Gadis itu masih SMA. Suho sering kali melupakannya, menganggap Yixing seumuran dengannya.

Tapi semua itu tidak penting. Yang penting Yixing akan kembali, walau entah kapan. Dan nanti malam, Yixing akan masuk ke chat room untuk mengobrol dengannya. Lagi. Rutin selama dua bulan terakhir ini. Kegiatan yang membuatnya melupakan Kyungsoo.

.

.

.

Seperti biasa, Joonmyeon memasuki kampus tanpa semangat macam apa pun. Tidak ada niat untuk belajar. Dia hanya datang ke kampus untuk menghindari rumah selama mungkin. Tidak ada alasan lain selain itu. Joonmyeon berjalan menuju kelas mata kuliah Telaah Drama Inggris. Joonmyeon betul-betul muak. Segala paket yang dihidangkan dalam mata kuliah, baik dosen, diktat, maupun Shakespeare membuatnya sakit perut seketika.

Selama dua tahun ini, Joonmyeon menyesali seluruh kehidupan perkuliahannya. Joonmyeon membuka pintu kelasnya dengan malas. Begitu menampakkan diri, Mr. Sung, sang dosen lah yang pertama kali terlihat. Joonmyeon menatapnya sebal sesaat lalu memtutuskan untuk mencari tempat duduk paling belakang, yang paling memungkinkannya untuk tidur dengan nyaman. Tapi sebelum Joonmyeon sempat bergerak, Mr. Sung menghalanginya. "Look who's coming?" katanya sinis sambil memindai Joonmyeon dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Worn out t-shirt, refugee-like pants, dog necklace... So a next generation. I'm wondering... What are you doing in my class, Mr. Kim?" Joonmyeon menatap Mr. Sung dengan pandangan menantang. Si tua ini merasa dirinya sebagai pemilik kampus ini.

"Do you have a problem with that?" tanya Joonmyeon dingin. Mr. Sung langsung membelalakkan matanya. "YOU!" seru Mr. Sung berang, tapi detik berikutnya langsung mengendalikan diri karena seluruh kelas memerhatikannya. "If you don't have any intention to get along in my class, you may leave now. Please," Mr. Sung menunjuk ke pintu pintu.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Joonmyeon melangkah keluar dengan menendang pintu kelas hingga menjeblak terbuka. Di koridor, dia masih menendang apa pun yang dilihatnya. Tempat sampah, kursi, bahkan pot bunga. Tanahnya sampai berhamburan.

Joonmyeon diteriaki oleh semua orang, tapi Joonmyeon tak peduli. Saat ini, dia benar-benar di luar kendali. "Myeon!" Seseorang memanggil Joonmyeon, tapi Joonmyeon sedang tak ingin berbicara dengan siapa pun. Yang memanggilnya ternyata Kyungsoo. Gadis manis itu berlari sekut tenaga untuk menyamai langkah Joonmyeon. "Myeon! Kamu kenapa sih? Kenapa semuanya ditendang?" serunya setelah bisa sejajar dengan Joonmyeon. "Apa urusanmu?" bentak Joonmyeon tanpa menoleh.

"Myeon, kamu tau Suho ada di man-"

Langkah Joonmyeon segera terhenti. Dia mendelik sengit ke arah Kyungsoo yang malah tersenyum. Joonmyeon menatapnya seakan ingin membunuh seseorang. "Apa kau serius mau tau jawaban dariku?" sahut Joonmyeon keras.

"Tidak," jawab Kyungsoo tenang, sudah mengetahui watak Joonmyeon dengan jelas. "Aku hanya ingin membuatmu berhenti berjalan seperti The Flash saja," sambungnya, lalu tertawa kecil. Joonmyeon tidak ikut tertawa. Dia masih memandang tajam Kyungsoo, membuat Kyungsoo segera menghentikan tawanya.

"Aku mau bicara," kata Kyungsoo akhirnya. "Tapi setelah kamu memberitau kenapa kamu jalan seperti orang kesurupan gitu."

"Aku sudah bilang bukan urusanmu," tandas Joonmyeon sambil kembali berjalan. Kyungsoo segera mengikutinya. "Kenpa? Perasaanku, dulu apa pun urusanmu urusanku juga," kata Kyungsoo lagi. Joonmyeon berhenti mendadak sehingga Kyungsoo menabrak punggungnya.

Joonmyeon menatap Kyungsoo lagi, lalu tertawa sinis. "Kau bercanda, kan?" tanyanya. "Bercanda gimana?" Kyungsoo balas bertanya. "Aku serius, Joonmyeon. Kamu kenapa?"

"Aku juga serius," Joonmyeon mencondongkan wajahnya ke wajah Kyungsoo, tatapannya menajam. "Kau jangan bercanda lagi. Aku muak dengan tampak sok innocent-mu, dengan kata-katamu yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa," sambungnya, lalu kembali berjalan cepat menuju taman.

Kyungsoo terdiam sesaat, lalu mengejar Joonmyeon. Kyungsoo meraih tangan Joonmyeon yang kekar dan membalik tubuhnya. "Apa, Myeon? Apa? Apa yang sudah terjadi? Kita baik-baik saja, kan?" seru Kyungsoo, matanya sudah berkaca-kaca. Joonmyeon benar-benar muak dengan gadis ini, walau juga diam-diam menyayanginya. Tapi, perasaan itu segera sirna setelah dia ingat bahwa gadis ini, gadis yang sangat dekat dengannya setahun lalu, adalah kekasih Suho.

"Dengar, Soo. Jangan kau pikir kita masih bisa baik-baik aja setelah apa yang kau lakukan padaku! Sudahlah. Minggir! Cari sana si atlit tengik itu," Joonmyeon berkata lelah, lalu berbalik. "Myeon! Aku sama Suho sudah putus!" sahut Kyungsoo, membuat langkah Joonmyeon terhenti. "Aku sama dia sudah putus! Kamu dengar kan?"

Joonmyeon bergeming. Berita itu mengejutkannya. Selama ini, dia menyangka hubungan Kyungsoo dan Suho baik-baik saja. "Aku baru sadar kalau yang aku pedulikan itu kamu. Dan aku sangat menyesal kehilangan kamu," kata Kyungsoo lagi, suaranya sudah bergetar. Selama beberapa menit, yang terdengar hanyalah isakan Kyungsoo.

"Penyesalan selalu datang dibelakang," komentar Joonmyeon akhirnya, lalu untuk ke sekian kalinya mencoba untuk pergi. Tapi untuk kesekian kalinya juga, tangan Kyungsoo mencegahnya. "Myeon, tolong dengarkan aku!" jerit Kyungsoo. Joonmyeon menatap Kyungsoo lagi. Gadis yang pernah dekat dengannya, bahkan satu-satunya yang pernah berbicara dengannya. Gadis yang dulu pernah mendapat tempat di hatinya. Tapi semua lenyap dan terbakar menjadi kemarahan saat Kyungsoo dengan cerianya mengatakan bahwa dirinya dan Suho sudah bersama. Ternyata, selama setahun Kyungsoo mendekati Joonmyeon, hanyalah untuk mendapatkan seorang Suho.

Oh, bukan 'hanya' seorang Suho, tapi namja yang hebat di segala bidang, baik akademis maupun ekstrakurikuler, sekaligus namja paling populer di kampus. "Soo, dengar. Dengar baik-baik karena aku hanya ingin bicara sekali. Aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Kau pikir, setelah kau putus sama Suho dan kau mengatakan bahwa kau menyesal dan segala tetek bengeknya, kau bisa dekat lagi denganku? Jangan mimpi," kata Joonmyeon dingin sambil berusaha melepaskan tangan Kyungsoo. Tapi gadis itu memegangnya dengan sekuat tenaga. "Myeon, tolong beri aku kesempatan sekali lagi...," kata Kyungsoo lirih. "Aku mohon..."

Joonmyeon menatap Kyungsoo jijik. Dia tak menyangka Suho sudah memutuskan hubungannya dengan gadis ini. Dulu, Joonmyeon mengira Suho tak akan menyia-nyiakan Kyungsoo.

Tapi tidak. Joonmyeon tidak akan peduli apa pun lagi. Kebenciannya kepada Kyungsoo sudah terbentuk sejak Kyungsoo mengatakan bahwa dia mencintai Suho. Dan karena statusnya sebagai pasangan dari Suho, Kyungsoo yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak menjadi yeoja terpopuler saat itu. Kyungsoo jelas menikmatinya sehingga melupakan keberadaan Joonmyeon.

Tetapi dari semua itu, yang paling membuat Joonmyeon muak adalah, Kyungsoo mengetahui ada persaingan di antara Joonmyeon dan Suho. Maka dari itu, dia mendekati Joonmyeon dengan tujuan membuat Suho cemburu. Joonmyeon tahu betul hal itu. Hal bahwa selama ini Kyungsoo sudah memperalatnya.

"Soo. Kau tau aku bukan tipe orang yang biasa memberi kesempatan kedua. Jadi kau seharusnya tahu tidak ada gunanya kau melakukan ini," kata Joonmyeon. Disentaknya tangan Kyungsoo sehingga terlepas dari tangannya. "Myeon, aku menyesal! Aku menyesal, oke? Aku menyesal, Myeon!" sahut Kyungsoo putus asa. Gadis itu mulai menangis lagi. Joonmyeon mencoba untuk tidak menatapnya. "Bagus kalau kau menyesal. Tapi itu tidak ada artinya buatku."

"Myeon! Aku kangen kamu. Aku kangen saat-saat dulu kita main bareng!" sahut Kyungsoo lagi. Joonmyeon meliriknya tajam. "Soo, kau kenapa? Ingin kembali lagi pada Suho tapi tidak tau caranya? Mau menggunakan cara licik seperti dulu? Sudah tidak populer lagi ya rupanya?" bentak Joonmyeon, membuat Kyungsoo menangis lebih keras.

Joonmyeon membuang mukanya. Kalau saja Kyungsoo menangis bukan karena hal sepenting ini, Joonmyeon pasti sudah memeluknya untuk menenangkannya. Tapi Joonmyeon pantang menyentuh apa pun yang sudah disentuh Suho.

Kyungsoo tiba-tiba melompat ke arah Joonmyeon dan memeluknya erat. Sejenak, Joonmyeon terdiam karena terkejut. Tapi detik berikutnya, dia sadar dan melepas pelukan Kyungsoo. Kyungsoo masih terisak. "Myeon, apa tidak ada jalan buat kita kembali seperti dulu?" tanya Kyungsoo di tengah isakannya.

Joonmyeon menghela napas. "Benar," katanya mantap. "Jadi, jangan sangkut-pautkan aku ke dalam urusanmu dengan Suho lagi." Joonmyeon meninggalkan Kyungsoo yang menatapnya sedih. Joonmyeon tak mau tahu lagi soal Kyungsoo dan Suho. Cukup sudah semua pengkhianatan yang dialaminya.

.

.

.

"Joonmyeon, ada pesan. Ada yang memanggilmu di belakang kampus."

Seorang yeoja tiba-tiba mendekati Joonmyeon saat dia baru beranjak pulang. Joonmyeon menghabiskan sepanjang hari dengan berbaring di kursi taman kampusnya sambil menghabiskan dua bungkus rokok. Joonmyeon menatapnya heran. "Siapa?"

"Aku tidak tahu dan tidak mengenalnya. Tapi namja," kata yeoja itu, lalu pergi begitu saja, seolah tak mau berurusan lebih lanjut dengan Joonmyeon. Joonmyeon menatap kepergian yeoja itu, lalu menutup loker dan berjalan menuju belakang kampusnya.

Dalam hati, dia merasakan adanya ketidakberesan. Benar saja, segerombolan namja yang tampak marah sedang menunggunya di sana. "Mau apa mencariku?" tanya Joonmyeon begitu dirinya sudah berjarak tiga meter dari gerombolan itu.

Salah satu dari mereka maju, tampaknya yang paling kuat. Wajahnya legam dan memiliki banyak bekas luka. "Kau Joonmyeon?" tanyanya dengan suara yang berat, khas perokok. Sama seperti yang dimiliki Joonmyeon. "Bisa dibilang begitu," jawab Joonmyeon dengan nada menantang. "Dan kau? Berandal pasar?" Laki-laki itu mendengus. "Besar juga nyalimu."

"Mau apa kalian? Suruhan siapa?" tanya Joonmyeon ringan. Dirinya sudah terbiasa akan hal-hal seperti ini. Orang yang membencinya tidak bisa dibilang sedikit. Malah orang yang menyukainya yang luar biasa sulit dicari. "Tidak penting suruhan siapa. Yang jelas, kau pastinya sudah tahu kita ingin melakukan sesuatu," jawab seorang laki-laki lainnya. Joonmyeon menarik napas, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Diisapnya dalam-dalam, lalu dihembuskannya tepat ke wajah si hitam.

"Aku tau," katanya singkat. Laki-laki itu segera melayangkan tinjunya pada Joonmyeon, yang dapat dihindari dengan mudah. Secepat mungkin Joonmyeon meraih tangannya, memelintirnya, lalu mematikan rokoknya pada tengkuk laki-laki itu, yang langsung berteriak kesakitan. Teman-temannya memandang Joonmyeon geram. "BAJINGAN!" seru gerombolan itu, lalu menyerbu Joonmyeon dengan membabi buta.

.

.

.

"Akan ada pertandingan lagi, Appa," suara Suho terdengar ketika Joonmyeon memasuki rumah. Joonmyeon menarik napas sebentar, mengembuskannya, lalu meneruskan langkahnya melewati ruang tamu. Tn. Kim, Ny. Kim, dan Suho sedang duduk di sana.

Benar-benar sial. Pertemuan keluarga tepat di saat keadaannya berantakan. Joonmyeon memutuskan untuk bergerak cepat ke kamar, bermaksud menghindari pertemuan itu. Tapi rupanya tak cukup cepat, karena semua keluarganya menyadari keadaan Joonmyeon dan tubuhnya yang kotor dan wajahnya yang lebam.

"Joonmyeon! Kau berkelahi lagi ya?!" teriak Tn. Kim berang. Joonmyeon tidak berhenti untuk menerima lebih banyak pukulan lagi. Dia segera masuk ke kamarnya dan membanting pintu tepat di depan hidung ayahnya.

"JOONMYEON! JOONMYEON! BUKA PINTUNYA! DASAR ANAK KUR-" Suara Tn. Kim teredam suara Kurt Cobain dengan 'Smells Like Teen Spirit'-nya. Joonmyeon membanting tubuhnya ke atas ranjang, lalu terduduk karena rasa sakit luar biasa yang menyerang perutnya. Gerombolan sialan tadi berhasil memukulnya sekali pada perut dengan sebuah balok kayu besar. Rupanya tadi Joonmyeon bergerak kurang lincah. Biasanya dia tak pernah terluka separah ini. Joonmyeon sudah melumat semua anak yang tadi menyerangnya. Semua dibiarkan terkapar tak berdaya dengan berbagai macam keluhan. Mungkin yang terbanyak adalah patah hidung dan gigi. Tapi Joonmyeon cukup yakin tadi dia berhasil mematahkan tangan satu-dua orang.

Gerombolan tadi suruhan Jongin, saingan utama Suho dalam kompetisi basket antar kampus. Dia adalah mantan pacar Kyungsoo sebelum Suho, dan ternyata kabar bahwa Kyungsoo memeluk Joonmyeon langsung sampai ke telinganya. Joonmyeon mendengus sebal. Rupanya banyak sekali mata-mata Jongin di kampus.

Baru beberapa jam kejadian itu berlalu, si pengecut itu sudah mengirim pasukan tak berguna untuk menghabisi Joonmyeon. Joonmyeon memaksakan dirinya untuk mendekati kaca, lalu memperhatikan wajahnya yang lebam di bagian tulang pipi kirinya. Joonmyeon bersumpah dalam hati, akan terus mengingat orang yang berhasil menempatkan kepalannya di sana, lalu balas dendam dua kali lebih parah.

Tiba-tiba Joonmyeon bergeming.

Bukan karena dia menemukan luka baru di wajahnya, tapi karena dia menemukan wajah Suho di sana. Wajah yang persis dengan yang dimilikinya.

Wajah yang tidak diinginkannya.

Joonmyeon pun sadar kalau dia sudah terlalu lama tidak bercermin. Dia terlalu takut untuk melihat wajah yang selalu membuatnya marah itu. Karena itulah, cermin pernah menjadi hal terkutuk baginya. Joonmyeon melangkah menjauhi cermin, lalu kembali terduduk di pinggiran ranjang.

Mungkin lebih baik dia merubah wajahnya agar tidak terlihat mirip lagi dengan sang atlet. Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari ini. Dan semuanya membuatnya luar biasa lelah, sampai dia merasa ingin mati.

.

.

.

Suho buru-buru melangkah ke kamarnya begitu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Malam ini, Yixing akan muncul di chat room, seperti janjinya. Suho segera duduk, menyalakan notebook-nya yang segera terkoneksi dengan internet. Setelah beberapa lama mencari, nama Yixing belum muncul. Suho sudah mencoba berbagai nama yang mungkin digunakan Yixing, tapi tak satu pun benar. Yixing belum muncul. Selama satu jam dihabiskan Suho untuk menunggu kehadiran Yixing. Tapi, gadis itu tak muncul juga.

Suho mulai menggigiti kuku jarinya. Apa mungkin Yixing lupa? Suho memutuskan untuk menunggu lebih lama. Sementara itu, dia mencoba membunuh waktu dengan membuka situs-situs tentang NBA. Walaupun demikian, Suho hanya bisa memandang sosok Jason Kidd dengan tatapan kosong. Nama Yixing belum muncul juga. Satu jam berikutnya, Suho memandang layar notebook-nya hampa. Mungkin Yixing memang lupa. Suho mengklik tampilan compose new message, lalu mulai membuat pesan.

To: zyxzjs

Subject: Hi!

Xing, lupa ya, janji kita untuk bertemu di chat world? Tidak apa-apa, tapi besok kita bertemu ya? Ada banyak yang ingin aku bicarakan! Miss you always.

Suho.

Suho menekan tampilan send, lalu mengempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

Yixing.

Gadis itu sudah membuatnya gila. Setelah menutup notebook-nya dengan berat hati, Suho bergerak menuju ranjang dan membanting tubuhnya. Dia mencoba untuk menutup mata dan sosok Yixing langsung terbayang di pelupuk matanya. Yixing tidak pernah mau mengirimkan fotonya.

Dia juga tidak menampilkan foto pada profil media sosialnya. Gadis itu tidak tahu betapa Suho benar-benar merindukannya. Tidak lama kemudian, Suho tertidur pulas, masih memimpikan Yixing yang tumbuh dewasa.

.

.

.

Perlahan, Joonmyeon membuka pintu kamarnya. Benar saja. Pagi ini semuanya berkumpul di ruang tamu, karena ini hari Minggu. Harusnya Joonmyeon tadi tetap berada di dalam kamar saja. Joonmyeon tidak dapat mundur lagi, karena Tn. Kim sudah keburu melihatnya dan memberinya tatapan tajam. Jadi, dia melangkah ke luar kamar, lalu duduk di meja makan. Dia mengambil gyoza dan makan dalam diam. Tn. Kim mendengus sambil membuka koran dengan kasar setelah melihat wajah Joonmyeon yang lebam. "Kau ini ingin sampai kapan melakukan hal-hal yang tidak berguna?" serunya tanpa melepaskan matanya dari koran. Joonmyeon terdiam sesaat. Ayahnya sudah mulai lagi membicarakan hal ini.

Joonmyeon hanya menggerakkan bahu, malas menjawab. Begitu tahu Joonmyeon tak menjawab, Tn. Kim mendelik sewot kepadanya. Suho dan Ny. Kim memilih diam. Sebentar lagi pasti terjadi pertengkaran, seperti yang biasa terjadi di hari Minggu pagi.

"Kau ini bisanya hanya mencoreng nama baik Appa," kata Tn. Kim lagi. Urat-urat di dahinya sudah mulai tampak. "Aku tidak pernah menyebut-nyebut nama Appa waktu berkelahi," jawab Joonmyeon tak peduli. Tn. Kim mengempaskan koran yang sedang dibacanya ke meja makan, lalu menatap Joonmyeon galak. "Kecuali kau bukan anak Appa, sana berkelahi sepuasnya!" serunya dengan suara menggelegar.

Joonmyeon balas menatapnya geram. Gyoza yang dipegangnya sudah terasa lembek. "Mungkin hanya kematian yang bisa membuatmu berhenti berkelahi," sambung Tn. Kim, lalu mendesah panjang. Joonmyeon mendengus. "Mungkin saja," katanya, lalu kembali melahap gyozanya. Ny. Kim menatap Joonmyeon khawatir, lalu mengulurkan tangan untuk membelai pipinya yang biru dan bengkak. Joonmyeon segera menepis tangan ibunya.

"Apa sebaiknya kamu ke dokter aja, Myeon?" tanya ibunya pelan. "Tidak usah," tandas Tn. Kim sebelum Joonmyeon sempat mengeluarkan suara. "Biar kapok."

Joonmyeon memilih tak menanggapi perkataan ayahnya. Joonmyeon tak akan kapok hanya dengan pukulan ringan di pipi. Selama beberapa menit, keheningan merayapi keluarga itu.

"Appa. Pinjam korannya," Suho mencoba mencairkan suasana. Tn. Kim menyodorkan koran ke tangan Suho, sambil melirik Joonmyeon yang tampak tidak berminat. "Coba sekali-kali kau baca koran. Kerjaanmu hanya mendengarkan musik aneh terus. Bagaiimana bisa menambah pengetahuanmu?" sindir Tn. Kim sinis. Baca koran. Kerja yang bagus, Suho, pikir Joonmyeon.

Membaca koran adalah hal yang paling dibenci Joonmyeon selain apa pun yang berhubungan dengan orangtuanya –terutama sang ayah—dan Suho. Bukannya Joonmyeon tidak mau membaca, tapi Joonmyeon divonis menderita disleksia lima tahun yang lalu. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut di keluarganya, karena Joonmyeon selalu menutupinya. Seumur hidupnya, Joonmyeon menderita dan dia tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Baru setelah remaja, Joonmyeon memutuskan untuk memeriksakan diri tanpa ada yang menemani, dan dari dokter dia tahu bahwa dia ternyata penderita disleksia, penyakit gangguan saraf pada otak yang menyerang anak yang lahir prematur atau otaknya kekurangan oksigen saat baru lahir. Kemungkinan besar, penyebab kedua lah yang terjadi kepada Joonmyeon, karena dia dan Suho tidak lahir pada waktunya.

Penyakit ini menyebabkan Joonmyeon tidak dapat membaca, menulis, atau mengeja dengan benar. Walaupun disleksia yang terjadi pada Joonmyeon tidak begitu parah, dia tumbuh menjadi anak yang emosinya labil karena terbiasa dikatakan bodoh oleh semua orang. Selama dua puluh tahun, Joonmyeon berusaha keras untuk menyetarakan dirinya dengan Suho –yang sialnya—begitu cemerlang.

Tn. Kim menyerah mengajari Joonmyeon karena dia lambat dalam menangkap pelajaran dan akhirnya menganggapnya lebih bodoh dari Suho. Sementara itu, ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Bukannya Ny. Kim tidak mencintainya, dia dilarang oleh Tn. Kim untuk membantu Joonmyeon supaya Joonmyeon jera. Tidak punya pilihan lain, Joonmyeon belajar membaca, menulis, juga mengeja sendiri pada waktu malam hari. Joonmyeon selalu mendapat nilai jelek dalam pelajaran matematika ataupun sains. Dia juga tidak begitu bisa menghapal. Maka dari itu, dia selalu menjadi urutan terbawah di kelasnya. Joonmyeon selalu disimbolkan dengan elemen yang selalu berkebalikan dengan Suho.

Tidak seperti Suho, Joonmyeon tidak begitu mengerti musik jazz yang mengutamakan ketepatan nada. Joonmyeon lebih akrab dengan musik-musik rock atau metal yang keras. Perjuangannya selama dua puluh tahun membuahkan hasil. Kini Joonmyeon sudah lebih terbiasa untuk membaca dan menulis, tapi dia tetap tidak senang melihat tulisan-tulisan kecil di koran karena dia masih harus berpikir keras. Joonmyeon tidak akan membaca apa pun kecuali memang perlu.

"Myeon? Kenapa melamun?" Ny. Kim tahu-tahu mengusap rambut Joonmyeon. Hal yang tidak pernah dilakukannya lagi selama bertahun-tahun. Joonmyeon menatap ibunya muram. Sebenarnya Joonmyeon merindukan pelukan Ny. Kim, merindukan cerita-ceritanya sebelum tidur, yang terhenti saat usianya baru tujuh tahun, segera setelah orangtuanya mengetahui ada yang tidak beres pada otak Joonmyeon. Selanjutnya, hanya Suholah yang masih dibelai dan diceritakan dongeng sebelum tidur, sementara Joonmyeon dipukuli karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang benar dari Tn. Kim.

"Kerjaannya kan memang begitu. Melamun saja seperti orang bodoh," kata Tn. Kim tiba-tiba sambil bangkit untuk mengisap rokok. "Cobalah, melakukan sesuatu yang berguna. Sekali saja, buat appamu ini bangga." Mata Joonmyeon mengikuti Tn. Kim yang segera berbalik dan berjalan menuju pintu depan. Joonmyeon merasakan darahnya sudah mendidih dan naik ke kepalanya. Ny. Kim menatapnya simpati, tapi bergerak menuju dapur. Suho juga bangkit dan membawa koran ke depan TV. Selalu begini. Selalu Joonmyeon yang tertinggal di belakang.

.

.

.

"Uh, panasnyaaa!" keluh seorang gadis saat keluar dari bandara. Dia menyibak rambut indahnya yang panjang dan bergelombang, lalu menyeka keringat yang mengalir di dahinya dengan sekali gerakan indah. Orang-orang yang berada di sekitar gadis itu menatapnya kagum. Gadis itu menengok ke kanan, bermaksud mencari taksi. Dia sudah tak sabar bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

[[Well, karena ini bahasanya non-formal –banget- terutama dibagian percakapannya. Jadi aku ganti pake semi-formal. Jadi maaf kalo ada beberapa bagian yang kurang pas /bow/]]

[[Maafkan kalo kemaren ada typonya. Maklumin aja ya, tapi sudah aku ganti kok :)]]

[[Setiap satu chapter sama kaya satu bab novelnya yaaa. Hehe]]

[[Maaf lama update. Banyak hal yang harus di edit sana-sini. Selain itu aku lagi uts – sebenernya banyak libur sih—tapi tetep aja. Mata pelajarannya besok bener-bener nyebelin –meskipun udah dapet bocoran soal dari kelas lain—. Terkutuklah kau, limit trigonometri.]]

Mind to review?