Tinggal 5 meter lagi ke kamar Neji, Hinata berhenti dan melihat dokter Ino keluar dari kamar Neji.
"Oh, t-tidak. Gawat." Gumam Hinata. "Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Naruto heran.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi. Kau mau membantuku kan?" Ucap Hinata pada Naruto.
"Ya okelah."
"Etto…K-kau m-mau kan berpura-pura jadi kekasihku? T-tapi hanya di depan Neji nii-san saja dan sampai dia sembuh, pliss…" Kata Hinata memelas.
"Apa?"
"A-aku mohon…"
"Ehhm, ya sudahlah tapi kau kembalikan cincin ku dan nanti kau harus jelaskan ini semua." Jawab Naruto. "Pasti." Balas Hinata singkat.
Dan Hinata pun akhirnya masuk ke kamar Neji dengan perasaan campur aduk.
"Hinata.. Kau membuatku cemas, kenapa kau bisa pingsan?" Tanya Neji yang masih cemas. "Aku hanya kelelahan.. Gomen Neji nii-san."
"Siapa ini?" Tanya Neji sambil mengarahkan pandangannya ke Naruto. "Saya Naruto Uzumaki, ehm.. pasangan Hinata." Rupanya Naruto pintar berakting. "Pasangan? Kekasih maksudmu?" Ucap Neji seperti menginterogasi Naruto. "Eh iya..begitulah" Balas Naruto. 'Ternyata benar kata dokter Ino, Hinata membawa kekasihnya.' Batin Neji.
"Naruto Uzumaki..biar kutebak. Kau anak dari Minato Namikaze, direktur utama di Namikaze Corp, dan Kushina Uzumaki, pemilik RS Konoha ini, ya kan? Apa aku salah?" Tutur Neji. "Hehe iya benar." Jawab Naruto.
"Bagaimana kau bisa tau banyak tentang Naruto-kun, Neji nii-san?" Tanya Hinata.
"Saat aku masih jadi manager di Hyuuga Corp, aku sering melihat Minato-sama berkunjung ke Hyuuga Corp dan bercakap-cakap dengan direktur Hyuuga Corp, ayahmu, Hiashi-sama. Mengenai ibunya, aku tahu dari dokter Ino yang sudah lama berkerja di rumah sakit ini."Tutur Neji. Hinata hanya ber-oh ria sementara Naruto hanya tersenyum seperti Sai yang murah senyum.
"Pekerjaanmu sekarang apa, Naruto?" Tanya Neji pada Naruto. "Aku bekerja sebagai wakil direktur di perusahaan tou-san." Jawab Naruto bersemangat. 'Eh? Wakil direktur? Dia hebat sekali.' Ucap Hinata dalam hati.
Setelah cukup lama berbincang-bincang.
"Ehh, baiklah Hinata, karena sudah malam sebaiknya aku pulang dulu, kau mau pulang juga? Mau kuantar?" Ajak Naruto. "Emmm, kau pulang duluan saja Uzu-.. Naruto-kun, aku masih mau di sini menunggui Neji nii-san." Balas Hinata. "Ya sudah, kalau pulang nanti hati-hati ya.." Pesan Naruto kepada Hinata *hanya akting*
Seperginya Naruto, Neji memulai pembicaraan.
"Kau sangat beruntung sekali mendapatkan Naruto, setahuku dia orang yang baik dan sangat pengertian kepada perempuan. Orangtuanya juga kerabat dekat keluarga kita." Seketika muka Hinata memerah.
"Neji nii-san, aku pulang dulu ya.." Tanpa menunggu jawaban Neji, Hinata langsung pergi meninggalkan Neji. Hinata sudah terlalu banyak pikiran hari ini, sehingga membuatnya lelah. Hinata hanya ingin segera sampai di rumah dan segera melepas semua kepenatannya.
Sesampainya di rumah Hinata segera mandi untuk menyegarkan pikirannya. Selesai mandi dan berganti pakaian Hinata lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Tiba-tiba handphone Hinata berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.
"Haahh, nomor tidak dikenal, siapa ini. Hmm.. moshi mo..." Belum selesai mengucapkan salam, seseorang yang menelpon sudah berkata dengan nada yang tegas.
"Hinata, kau harus jelaskan kejadian tadi." Kata seseorang di dalam handphone. "Kau lagi, darimana kau tau nomor handphone ku juga? Kau ini benar-benar stalker ya.." Jawab Hinata lesu.
"Aku tau dari Kiba, sudahlah yang penting cepat jelaskan." Kata Naruto.
"Begini, sebenarnya tadi itu terpaksa. Sebelum itu Neji nii-san mengira aku sudah punya kekasih, padahal aku belum mempunyainya. Tapi, dilihat dari raut wajahnya, dia terlihat sangat senang sekali. Jadi, kalau aku harus berterus terang padanya, aku tidak tau apa yang akan terjadi padanya. Dia memiliki penyakit jantung dan aku sangat mengkhawatirkannya, sementara itu dia hanya tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku juga bingung harus apa. Gomenasai.." Jelas Hinata.
"Ya sudahlah tak apa. Ngomong-ngomong, aku lupa meminta maaf soal kejadian kemarin waktu di taman, gomenasai ne.." Maaf Naruto pada Hinata. "Iya, aku sudah memaafkannya." Jawab Hinata. "Oh, ya sudah istirahatlah sana, kau kelihatan kelelahan sekali tadi." Ucap Naruto sembari memutuskan panggilan.
Hinata berbicara dalam hati, "Kiba-kun, kenapa, kenapa, kau susah hilang dari otakku.., Baiklah Hinata, kau harus melupakan Kiba-kun kau harus move on Hinata. Tapi bagaimana aku bisa sebegitu lancarnya ketika curhat dengan Naruto?" Pertanyaan itu masih terpikirkan oleh Hinata. Dia tidak biasa curhat dengan orang lain kecuali sahabatnya sendiri. Tapi bagaimana dengan Naruto? Dia baru mengenalnya tadi pagi dan Hinata sudah menceritakan semuanya kepada Naruto dengan lancar dan jelas. Entahlah, dia masih belum punya jawabannya. Karena sangat kelelahan, Hinata pun tertidur.
…..
"Ano ne, Hinata-chan, hati-hati jika ada lebah yang mendekatimu."
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Karena hari ini kau sangat manis. Jadi, aku tidak mau jika milikku ini diambil oleh para lebah."
*blushing* "Kiba-kun… Lelucon macam apa ini.." Jawab Hinata sambil menutupi mukanya yang memerah.
"Heii, aku tidak bercanda jika kau mau tau. A-aku ini.. akuu.. aku. Ehm Aku menyukaimu, lebih dari teman, bahkan sahabat. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku? Hinata-chan?"
"K-Kiba-kun…"
…..
"K-Kiba.. K-Kiba.. KIBA-KUN!" Hinata tersadar."Hanya mimpi, huh?"
Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela kamar. Hinata yang terkena pun segera bangun menuju dapur.
"Memimpikan Kiba-kun membuatku lapar- Eh? Benar-benar sudah kosong?! Jadi begini rasanya saat melihat kulkas kosong. Aku rasa aku harus segera ke supermarket."
Hinata yang lapar pun akhirnya segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke supermarket.
"Yoshh.. Ittekimasu!" Hinata berangkat. Dari rumahnya ke supermarket cukup jauh juga. Biasanya masalah berbelanja seperti ini dilakukan oleh Neji tapi sekarang, ya Hinata harus melakukannya sendiri.
-Di jalan menuju supermarket-
"Neji nii-san, aku merindukanmu yang dulu. Ya bukannya aku tidak mau kalau harus ke supermarket sendiri, memang ini adalah pekerjaan wanita, tapi aku benar-benar merindukan Neji nii-san yang bisa menemaniku, bercanda denganku, ber- Brukk..HUAA!"
Karena berjalan tanpa menggunakan fokus, Hinata menabrak seseorang lalu kehilangan keseimbangan dan….
"U-uzumaki-san?"
"Kau ini bagaimana sih Hinata, jalan itu tidak boleh sambil melamun. Coba kalau kau tidak kutangkap, mungkin kau sudah kesakitan sekarang ini." Balas Naruto. "Aah.. kakiku..Yasudah sih -_- kalau menolongnya tidak ikhlas, tidak usah menolong saja."
Seketika Naruto melepas pegangannya pada tangan Hinata. Hinata yang sedang mengomel sendiri pun hampir terjatuh, karena kakinya masih terasa sakit. Lalu Naruto memegangnya kembali.
"Yakin?"
"Ah, maafkan saya Uzumaki-san. Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Terimakasih sebelumnya dan sampai jumpa." Jawab Hinata sambil tersenyum palsu.
Karena tidak mau berlama-lama dekat Naruto, dengan terpaksa Hinata harus memaksa kakinya untuk berjalan, meskipun pelan-pelan.
Setelah melalui sebuah perjalanan dengan usaha keras, Hinata akhirnya sampai di supermarket. Hinata membeli semua kebutuhan rumah. Setelah selesai membayar, Hinata keluar. Tiba-tiba hujan turun, padahal sewaktu Hinata masuk ke supermarket cuaca masih cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.
"Payung… payung.. Ah sial, aku tidak membawa payung. Aku harus menunggu di sini hingga hujan reda." Ucap Hinata.
Hinata pun akhirnya mencari tempat duduk terdekat, sembari menunggu hujan reda.
Setengah jam berlalu…
Sejam berlalu…
"ZzZzZz" Hinata tertidur. Mungkin hujan belum mengizinkan Hinata untuk pulang ke rumah saat itu.
….
Hinata membuka matanya.
"A-aku dimana? WAA?! Nii-san tolong! Aku diculikkk! AAH tolong!"
"Bisakah kau duduk dengan tenang? Kau harus tau, kita sedang di mobil."
"U-uzumaki-san?! Lagi?" Tanya Hinata heran.
"Aku tidak tega melihatmu duduk sendirian di sana, apalagi sampai tertidur seperti itu. Kau seperti orang hilang yang tidak punya tujuan." Ucap Naruto.
"E-etto, arigato ne. Tapi ini kita mau kemana?" Tanya Hinata. "Terserah aku lah. " jawab Naruto.
"Barang belanjaanku dimana?" Sambil sesekali Hinata melihat ke jok belakang, walaupun tidak ada apa-apa.
"Apakah kau membawa barang belanjaan sebelumnya?"
"Tadi waktu aku duduk, barangnya ku taruh di sebelahku." Jawab Hinata.
"Oh, maaf. Tetapi tadi saat aku membawamu ke mobil, di sebelahmu sudah tidak ada apa-apa lagi." Jelas Naruto.
"JADI?! Nii-saaaann… maafkan adikmu ini. Aku kurang hati-hati. Huaa.. Aku tidak bisa menjaganyaa." Hinata menangis menyesali dirinya sendiri.
Di lain pihak, Naruto tersenyum geli melihat Hinata menangis. Di mata Naruto, Hinata terlihat seperti anak kecil.
"Kenapa kau malah tersenyum,hah?"
"Ah, maaf. Nanti kuantar kau ke supermarket lagi."
Sebelum ke supermarket, Naruto membawa mobilnya menuju café yang belum pernah dikunjungi Hinata sebelumnya. Café tersebut terlihat sangat mewah dari luar. Keduanya pun turun.
"Kenapa kita malah kesini?" Tanya Hinata. "Aku tahu kau pasti lelah ya kan? Dan pasti kau belum sarapan tadi, makannya kau ke supermarket. Jadi aku ajak kau kesini." Jawab Naruto.
Kemudian mereka duduk dan melihat daftar menu.
"A-ano.. Uzumaki-san? Bukankah harga di menu ini terlalu mahal?"
"Aku bisa membeli 10 kali menu-menu itu. Lagipula, harga semua makanan disini tidak semahal cincin itu."
"Oh iya cincinnya….. Etto, maaf cincinnya kutinggal di rumah, hehe." Ucap Hinata.
"Tak apa, aku bisa memintanya padamu sesuka ku kan?" Tanya Naruto.
"B-baiklah." Balas Hinata. "Sudah sekarang pesanlah sesuatu. Pelayan?" Naruto pun akhirnya memanggil pelayan.
"Bagaimana tuan? Ada yang bisa saya bantu?" ucap sang pelayan.
"Aku pesan original cafelatte, kau pesan apa?" Tanya Naruto pada Hinata.
"A-ano.. aku.. Tiramisu Pudding dan air putih." Jawab Hinata. "Hm, sudah kuduga." Batin Naruto.
Pelayan tersebut pergi. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Waah.. sugoi na. Tiramisu pudding di sini lebih enak." Batin Hinata.
"Enak? Mau tambah lagi?" Balas Naruto seakan-akan bisa membaca pikiran Hinata.
"E-ehh, tidak terimakasih. Maaf merepotkanmu Uzumaki-san." Jawab Hinata sambil blushing.
Matahari sudah hampir berada di atas kepala. Mereka menyudahi acara makan mereka. Naruto mengantarkan Hinata ke supermarket karena kejadian tadi. Hinata pun masuk ke supermarket, sementara Naruto menunggu di dalam mobil. Setelah itu..
"Hanya itu saja yang kau beli?" Tanya Naruto. "Iya, memangnya kenapa?"
"Ah, tidak. Ano- bagaimana kalau kita refreshing dulu, seperti ke mall misal?" Ajak Naruto.
"Aku sih tidak masalah, asal.."
"Asal apa?" Naruto penasaran. "Asal setelah ke mall, kau temani aku ke rumah sakit." Pinta Hinata. "Baiklah."
Mereka akhirnya pergi ke salah satu mall yang terkenal di Konoha. Di sana mereka bermain di game station selama hampir 2 jam, lalu menemani Hinata membeli baju dan berbelanja barang lainnya, kemudian membeli beberapa es krim yang mereka habiskan sendirian. Setelah hari mulai petang, barulah mereka pergi ke rumah sakit.
"Neji nii-san… sumimasen.." Ucap Hinata.
Tetapi yang dipanggil tidak ada jawaban. Ternyata Neji sedang tertidur. Hinata dan Naruto akhirnya duduk di sofa di sudut ruangan kamar tersebut, sambil menunggu Neji bangun.
"Nee, Hinata-san. Arigato na." Ucap Naruto. "E-eh, harusnya aku yang berterimakasih Uzumaki-san."
"Tidak, aku sangat berterimakasih padamu. Hari ini aku sangat bersenang-senang." Jawab Naruto. "Ano ne Uzumaki-san, apakah ada yang membuat sedih akhir-akhir ini?" Tanya Hinata.
"Eh? Tidak, aku biasa saja. Memangnya kenapa?"
"Oh.. Tidak seperti biasanya saja." Jawab Hinata sambil mengalihkan wajahnya.
"Seperti biasa? Oh, jadi selama ini stalker setiaku itu kau?" Tanya Naruto balik. "M-mana mungkin, tidak, aku bukan, aku bukan stalkermu. Lagian, mana ada yang penasaran pada orang sepertimu?" Jawab Hinata gugup.
"Asal kau tahu, dulu ini aku populer kan ya. Aku terkenal. Jadi, tidak sedikit juga perempuan yang jatuh cinta padaku, termasuk kau juga kan?." Balas Naruto sambil tersenyum lebar.
Neji yang mendengar suara percakapan seseorang pun membuka matanya, menyadari bahwa disitu sudah ada Hinata dan Naruto. Tetapi keduanya tidak menyadari bahwa Neji sudah bangun. Karena masih mengantuk, Neji memutuskan untuk tidur kembali tanpa menghiraukan keberadaan mereka berdua.
"Neji nii-san mungkin lelah, jadi tidurnya sangat nyenyak. Apakah kau mau pulang sekarang Uzumaki-san?" Tanya Hinata.
"Mengusir nih ceritanya?" Jawab Naruto. "Tidak, bukan begitu." Hinata memalingkan wajahnya yang memerah. "Ya sudah, ayo pulang." Ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata.
"H-hhei! A-aku bisa pulang sendiri Uzumaki-san."
"Tidak boleh. Karena aku yang menculikmu, jadi aku harus mengembalikanmu ke tempat asalmu."
Hinata pun berakhir pulang dengan Naruto.
Hari-hari terus berjalan dan keterpaksaan itu mau tidak mau harus ikut berjalan juga. Naruto terpaksa menjadi pacar Hinata karena cincin itu, tetapi sekarang Naruto malah makin akrab dengan Hinata. Hingga suatu hari…
"Waaa,.. dimana cincin itu.. Padahal kemarin aku taruh di sini bagaimana bisa tidak ada. Bagaimana dengan Naruto? Pasti dia marah.. Kami-sama, bagaimana ini?"
TBC
Yee! Maaf sebelumnya karena update nya kelamaan ._. Akhir akhir ini sibuk banget soalnya. Udah mau UN :v jadi banyak try out. Makasih buat yang udah review, yang silent reader makasih juga ;).
Reply :
The KidSNo OppAi – ini sudah lanjut. Terimakasih ^^
Guest - ini sudah lanjut. Terimakasih ^^
Akari Yuka – Maaf saya melupakannya :v Terimakasih sudah mengingatkan ^^
Mitsu Rui – Hai, salam kenal juga '-' hehe amiin. Terimakasih ^^
Koneko – hehehe :v Terimakasih ^^
