Welcome to the Konohagakure Academy 2
Disclaimer: Masashi Kishimoto adalah pemilik resmi Naruto. Saya adalah pemilik tidak resminya. XDD
Kalo saya pemilik Naruto, akan saya buat Itachi tidak mati! (Ngayal)
.
.
.
.
"Cuit…. Cuit…."
Sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar .
"Nghhhhh…."
Naruto terbangun.
Dilihatnya Sasuke sudah tidak ada.
Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi malam.
Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba wajahnya memerah.
Ia mengucek-ngucek matanya dan bergegas kekamar mandi.
.
.
.
.
"Cklek." Naruto mengunci kamarnya dengan kunci yang diberikan Sasuke kemarin. Ia berjalan melintasi lorong-lorong asrama itu. Diluar, ia bertemu Sai. Pemuda tersenyum padanya.
"Bagaimana tidurmu semalam, Naruto? Nyenyak?"
"Lumayan."
"Ah ya hari ini nggak ada pelajaran. Kamu mau kemana Naruto?"
"Lho? Kok nggak ada pelajaran?"
Sai tersenyum.
"Setiap hari Jum'at dikhususkan untuk ekstrakurikuler. Setelah itu bebas deh."
"Ekstrakurikuler? Memangnya ada ekskul apa saja disekolah ini?"
"Banyak. Kalau Sakura ikut Ikebana. Ino kaligrafi. Sasuke Kendo, dan aku sendiri ikut ektra melukis. Selain itu ada ektra yang lain juga sih. Mau lihat ruangan-ruangan latihannya?"
"Mau!" Jawabnya cepat. Ia sangat ingin menjelajahi sekolah ini.
"Oke. Ayo ikut aku!"
.
.
.
.
"Hahahaha!"
Barusan ia dan Sai menyelinap keruang klub Kaligrafi dan mencoret-coret salah satu karya milik Karui, ketua klub Kaligrafi. Membuat gadis itu marah-marah dan mengejar mereka.
"Ahahaha, menyenangkan sekali." Kata Naruto sambil terus berlari, melintasi lorong-lorong sekolah itu.
"Iya, kan? Oh ya kita keruang klub ku, yuk."
"Ok."
Ruang klub melukis tidak terlalu besar. Mungkin karena peminatnya sedikit. Naruto melihat seorang pemuda berambut coklat panjang tengah menggambar sesuatu diatas kanvas.
"Namanya Neji." Bisik Sai ditelinganya.
Naruto terkejut.
"Memang siapa yang nanya?"
"Hehe, pandanganmu kayanya penasaran gitu sih. Yuk kesini." Sai menarik tangan Naruto dan membawanya kesebuah pintu. Didalamnya ruangan itu, nampak Kakashi-sensei yang tengah menggerak-gerakkan tangannya disebuah kertas gambar. Naruto mendekatinya. Pria itu tersenyum dan memperlihatkan gambarnya pada Naruto.
Naruto terpesona.
Kakashi sensei menggambar pemandangan sekolah dari tempatnya berada.
Gambarnya benar-benar bagus dan mirip aslinya.
"Ada apa kau kesini, Naruto?"
"Ngg… itu saya diajak Sai, Kakashi-sensei."
"Oh."
Sai menepuk pundaknya dari belakang.
"Kakashi sensei adalah penanggung jawab klub ini. Apa kau berminat untuk bergabung, Naruto?"
"Hmm… boleh juga."
Sai tersenyum.
"Klub ini enak lho. Bebas banget. Kau bisa datang sesukamu. Kalau lagi males ekstra kau bisa bolos lho."
Kakashi sensei tertawa.
"Hahahaha, jangan ajarkan dia yang jelek-jelek dong ,Sai."
Naruto tersenyum.
Sai mengambil sebuah buku sketsa dan memberikannya pada Naruto.
"Ayo menggambar!"
.
.
.
.
.
Sai mengecek jam tangannya.
"Ah, sudah jam segini. Pasti sudah mau dimulai."
"Apanya?" Tanya Naruto bingung. Tangannya masih asyik menggambar. Ia tengah membuat wajah Sasuke. Sai menambahkan berbagai macam gambar aneh digambar itu. Membuat gambar itu menjadi hancur dan sangat tidak mirip dengan aslinya.
"Konser Sasuke."
"Konser, Sasuke?"
"Mau lihat nggak?"
"Aku..." Naruto menatap gambar yang dibuatnya.
"Bagaimana? Mau ikut? Aku mau kesana." Kata Sai sambil tersenyum.
Naruto mengangguk.
"Iya deh."
Mereka keluar dari kompleks sekolah, menuju sebuah gedung besar didekat sekolah itu.
"Ini tempatnya?"
"Yap. Ini gedung Opera milik sekolah. Tapi terkadang dipakai juga sebagai ruang pertemuan. Tidak hanya opera, ditempat ini juga sering diadakan konser-konser lainnya."
"Oh..."
Mereka memasuki gedung itu lewat pintu belakang.
Kata Sai, pintu depan hanya untuk tamu-tamu penting. Kalau siswa sih, masuk lewat pintu belakang.
Mereka mencari tempat duduk. Tiga perempat bangku digedung itu telah diisi oleh para tamu. Sementara sisanya, kursi-kursi dibelakang masih kosong. Naruto melihat Sakura duduk disalah satu bangku ditempat itu. Ia menghampiri.
"Hai, Sakura." Sapanya.
"Eh, hai Naruto, Sai."
Mereka segera duduk.
Ruangan itu menjadi gelap. Sasuke muncul dari balik tirai.
Ditangannya, terdapat sebuah biola dengan hiasan yang sangat indah.
Ia membungkuk sekali.
"Konser kali ini bukan hanya Sasuke sendiri. Dia berkolaborasi dengan salah satu siswa lain sebagai penyanyinya." Kata Sai sambil menaikkan sebelah kakinya keatas sebuah kursi didepan mereka.
"Lho, yang nyanyi bukan Sakura?" Allen menoleh pada gadis berambut pendek disebelahnya, gadis itu menggeleng.
"Bukan. Spesialisasiku Seriosa. Kalau Sopran, bukan aku yang nyanyi."
"Kalau begitu siapa?"
"Ssssttt...Mau dimulai." Kata Sai sembari menempelkan telunjuknya pada bibirnya sendiri.
Naruto terdiam.
Sasuke mulai menggerakkan tangannya.
Nada- nada mulai terdengar.
Prelude.
Naruto terpesona.
Tiba-tiba, tirai terbuka.
Seorang gadis berambut indigo panjang keluar dari sana.
Ia mulai menyanyi.
"Win dain... a lotica...
En val turi, silota...
Fin dein, a loluca...
En dragua sei lan...
Vi va rules shutai am,
En riga lint...
Win chent a lotica,...
En val turi, silota...
Fin dein a loluca,
Sikatgura,... neuver...
Floreria... for chesti...
Si entina...
Lalalalalalala...
Lalalalala...
Fontina blue cent... des cravi esca letismo...
Lalalalalalala...
Lalalalala...
Des quantine la finde reve...
Win dain... a lotica...
En val turi, silota...
Fin dein a loluca...
En dragua sei lan..."
"Siapa gadis itu?" Tanya Naruto pelan. Sakura tersenyum padanya.
"Namanya Hinata. Dia penyanyi sopran terbaik dari kelas kita."
"Benarkah?"
"Ya." Jawab Sai. Ia menoleh pada Naruto.
"Dialah pemilik kemampuan Photographic Memory yang sama denganku." Sambung pemuda itu.
Ketika pertunjukkan itu selesai, Naruto ikut bertepuk tangan.
Sai berdiri, ia mengikuti.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya Sai padanya. Naruto menggeleng.
"Ngggg... aku mau ke toilet sebentar. "
"Baiklah, kalau begitu aku mau ke klub lagi. Nanti kau menyusul ya?"
Naruto mengangguk.
Ia berlari menyusuri lorong-lorong sekolah. Saat kembali dari toilet, ia melihat seorang gadis yang tengah berjalan pelan di depannya. Gadis dengan mata lavender pucat dan rambut indigo panjang. Gadis yang bersama Sasuke tadi. Ia menghampiri gadis itu.
"Hai." Sapanya.
Gadis itu menoleh kearahnya dan tersenyum.
"Hai. "
"Namaku Naruto Uzumaki, aku murid baru disini. Kudengar kau berada dikelas yang sama denganku. Salam kenal ya." Kata Naruto sambil mengulurkan tangannya. Beberapa kali tangan gadis itu meleset diudara sebelum akhirnya ia berhasil menggenggam tangan Naruto.
"Ngg?" Gumam Naruto bingung.
Gadis itu hanya tersenyum tipis.
"Maaf, aku tidak bisa melihat."
Naruto terkejut.
Tidak bisa melihat?
Buta?
Padahal penampilan gadis itu terlihat biasa saja. Ia tidak nampak seperti orang yang tidak mampu melihat.
"Aku..."
"Tidak apa-apa kok." Gadis itu melepas tangan Naruto dan tersenyum. Ia mendekat. Tangan kanannya meraba wajah Naruto.
"Sasuke, sudah bercerita padaku tentang kamu. Sepertinya kamu orang yang menyenangkan."
"He, Sasuke bercerita tentang aku?"
Hinata mengangguk.
"Katanya kemarin kalian bertengkar ya?"
Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Begitulah."
Naruto jadi salah tingkah, ia merogoh sakunya dan menemukan sebuah lollipop rasa caramel. Ia menyodorkannya pada gadis itu.
"Mau?" Katanya menawarkan.
"Apa?" Tanya Hinata.
"Permen."
Gadis itu tersenyum tipis dan menggeleng.
"Tidak. Terimakasih."
Mereka berbincang sesaat.
"Wah, wah, wah. Nona penunggu UKS udah masuk sekolah ya." Kata seseorang dari belakang mereka. Hinata mengerutkan alis. Naruto menoleh kebelakang, nampak dua orang berambut perak tengah berkacak pinggang dan bersender ditembok. Mereka menyeringai.
"Kenapa kamu sudah masuk Nona UKS? Bukankah lebih baik kamu kembali keranjangmu dan tidur?" Kata seorang dari mereka .
"Mereka..." Naruto ingin menghajar mereka tetapi tangan Hinata mencegahnya.
"Tidak usah dipikirkan Naruto..." Kata Hinata pelan. Namun Naruto melihat wajah gadis itu pucat, tubuhnya sedikit gemetar.
Pemuda berambut perak itu membisiki temannya. Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Orang cacat kok bisa sekolah disini. " Kata pemuda itu.
"Paling nyogok."
Hinata terduduk lemas. Tubuhnya gemetaran.
Kemarahan Naruto memuncak. Saat ia ingin menghajar mereka, sebuah bakutou melayang disamping kepalanya dan menancap tepat didinding tempat dua orang itu bersandar.
Ia kaget dan menoleh kebelakang.
"Teme?"
Sasuke berjalan melewatinya dan menghampiri dua orang itu. Mereka nampak ketakutan.
"Wah,wah,wah. Ayam petok-petok yang main alat musik aja masih nggak becus malah ngeremehin orang lain..."
Ia mencabut bakutounya yang menancap tepat ditembok itu. Diarahkannya bakutou itu pada leher mereka.
"... Sekali lagi kudengar kokokan tidak berguna kalian..."
Ia berlagak memotong leher mereka dengan bakutounya.
"...Kusembelih kalian..."
"Hiii! Maaf Sasuke-sama!" mereka berlari dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Naruto terpaku menatap kejadian itu. Beberapa murid yang kebetulan juga berada ditempat itu bergegas pergi. Sasuke mendekati Hinata dan membantunya bangun.
"Dasar Bakahina, sudah kubilang kalau sakit kau harus langsung ke kamarmu. Bukannya istirahat, malah jalan-jalan. Dasar bodoh!"
"..."
"Sudah, ayo bangun. Obatmu habis, kan? Aku sudah memintanya pada Tsunade-sensei. Cepat kembali kekamar."
Sasuke memapah gadis itu pergi. Sebelum pergi, pandangannya bertemu dengan Naruto. Sekilas mulutnya seakan berkata.
"Terimakasih..."
Mereka menghilang dari pandangan.
"Narutoooo!"
Naruto menoleh, Sai menghampirinya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu.
"Yah, nggak kok."
"Syukurlah. Aku dengar dari Chaoji kalau Sakon dan Saxon berulah lagi. Hah, kukira kau berkelahi lagi."
"Hampir,sih. Memangnya siapa mereka?"
"Mereka Saxon dan Sakon. Si kembar dari kelas B. Mereka memang sering membuat ulah. Sebaiknya kau tidak terlibat dengan mereka, Naruto."
Naruto menggerutu.
"Kenapa sih mereka bisa diterima disini. Nggak ada tampang jenius-jeniusnya."
"Hahaha. Aku juga sempat berpikiran begitu. Makanya aku nanya sama Jiraiya-sama. 'Kenapa mereka bisa diterima disini?'. Jiraiya-sama malah ketawa..."
"Kenapa?"
"Katanya, 'Kalau cuma tokoh Protagonis semua, nggak seru dong'. Begitulah..."
Naruto tidak dapat mengerti jalan pikiran orang itu.
"Ah, Naruto. Kita ke ruangan klub lagi aja yuk."
"Ok."
.
.
.
.
Sasuke menatap gadis yang tengah tertidur itu. Rupanya pengaruh obat yang ia minum telah bekerja. Ia membetulkan letak selimut gadis itu dan pergi keluar.
"Bagaimana keadaan Hinata?"
Sasuke menoleh kesamping. Sai menatapnya.
"Biasa. Dia telat minum obat karena terlalu semangat konser."
Sasuke berjalan pergi.
"Apa kau mau selamanya seperti ini, Sasuke?" Tanyanya serius.
Sasuke berhenti berjalan. Ia menatap Sai tajam.
"Apa maksudmu, Roots?"
"Apa kau mau, selamanya seperti ini, Sasuke Uchiha?"
"Mungkin. Kalau dengan begitu aku bisa menebus kesalahanku padanya."
"Walau kau tidak akan pernah bahagia?"
Sasuke berbalik dan menarik kerah baju pemuda itu.
"APA PEDULIKU PADA KEBAHAGIAAN KU SENDIRI SEMENTARA IA SUDAH TIDAK BISA BAHAGIA LAGI KARENA AKU?" Bentaknya pada Sai. Pemuda itu hanya mengerutkan alisnya.
"Sasuke..."
Sasuke melepas cengkramannya dan pergi.
"Jangan pernah... kau mencampuri urusanku lagi, Roots..."
Sai hanya memandang punggung pemuda itu dari belakang. Ia menghela napas dan menggaruk-garuk kepalanya dengan tampang frustasi.
"Hahhhh, dasar keras kepala."
.
.
.
.
Naruto memandang keluar jendela. Nampaknya hari ini tidak akan hujan. Ia teringat akan gadis tadi. Entah mengapa, ia merasa tidak enak. Ia menatap tempat tidur Sasuke yang masih rapi. Sejak kejadian tadi siang, ia tidak melihat Sasuke lagi. Pemuda itu menghilang begitu saja dan tidak kembali bahkan sampai jam makan malam berakhir.
"Kenapa kamu bengong, Naruto?"
Naruto terperanjat. Sai telah berada didalam kamarnya.
"Sai? Kenapa kamu bisa masuk kesini?" Tanya Naruto heran. Seingatnya, ia telah mengunci pintu kamarnya tadi.
"Hehehe." Sai tidak menjawab dan malah tidur-tiduran diranjang Sasuke.
"Hei, jangan tidur disitu. Nanti Sasuke marah." Kata Naruto menceramahi. Ia teringat kata-kata Sasuke kemarin kalau ia tidak boleh membuat tempat itu berantakan.
Sai tertawa pelan.
"Tidak apa-apa. Dia nggak bakal marah kok."
"Terserah kamu, deh." Naruto duduk ditempat tidurnya sendiri.
"Hei, Sai kamu tahu Sasuke kemana?"
Sai bangkit dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Kenapa? Kamu khawatir?"
Naruto menggeleng.
"Tidak. Masa udah segede itu masih dikhawatirin?"
"Hehe. Tenang aja. Dia memang biasa nggak balik-balik ke kamar sampai pagi. Dia suka keluyuran didalam sekolah. Bahkan kadang-kadang ada murid yang ngira dia hantu..."
"Oh... Hahaha..." Naruto tertawa pelan.
Sai menatapnya.
"Kenapa?" Tanya pemuda berambut hitam itu.
"Eh?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Naruto tersentak. Kenapa Sai seolah bisa membaca pikirannya?
"Tidak, itu..."
"Tentang Hinata kan?"
"Kenapa kau bisa tahu?" Tanyanya penasaran. Memang itulah yang sedang ia pikirkan.
"Aku paling ahli... dalam hal seperti itu..." Katanya sembari melempar-lempar bantal guling Sasuke.
Naruto menatap Sai serius.
"Memangnya, Hinata itu siapa? Kenapa dia buta? Apa hubungannya dengan Sasuke?" Tanyanya beruntun.
" Hinata ya Hinata. Salah satu murid dari kelas kita. 10 tahun yang lalu , kedua orangtuanya dan orangtua Sasuke meninggal pada saat yang sama karena kecelakaan pesawat. Saat itu semua penumpang termasuk pilotnya meninggal. Hanya mereka yang selamat."
"Karena itukah, dia buta?"
"Tidak. Ia menjadi seperti itu semenjak beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya ia adalah orang yang normal, sama seperti kita. Tapi, karena suatu kejadian, saat ia berumur 12 tahun ia kehilangan penglihatannya, indera perasanya dan juga hidupnya..."
"Hidupnya? Dia masih hidup kan?"
"Hahahaha, bukan itu yang kumaksudkan Naruto-chan. Dulu, Hinata itu pianis berbakat. Karena kejadian itu, tangannya cedera dan ia tak bisa bermain piano lagi. Ia juga jadi tak bisa melihat dan merasakan rasa apapun lagi..."
"Tidak bisa, merasakan...?"
"Yap. Makanan apapun yang masuk ke mulutnya tidak akan mampu ia rasakan. Bahkan kalau kau mencampurkan satu kilogram garam ke makanannya ia takkan tahu."
Naruto termenung. Itukah sebabnya Hinata menolak permen yang ia berikan tadi?
"Kau tidak pernah membayangkannya kan, Naruto? Hidup tanpa bisa merasakan apapun yang masuk kemulutmu. Hidup tanpa rasa. Hidup yang hambar..." Sai berdiri dan menghampiri Naruto. Ia duduk disebelah pemuda berambut golden eve itu.
Naruto memandang Sai.
"Lalu, apa hubungannya dengan Sasuke? Apa mereka bersaudara?"
"Tidak. Mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Hanya saja, ketika kedua orangtua Sasuke meninggal, Hinata yang mengambil Sasuke dan mengurusnya. "
"Dia lebih tua?"
"Hanya satu tahun."
Naruto terdiam.
"Sebenarnya ini rahasia, hanya Sasuke, Hinata dan aku yang tahu. Jangan bilang siapa-siapa ya , Naruto. Kalau Sasuke tahu, aku bisa dibunuh."
"Ng ... baiklah ... Ah, kenapa kau bisa tahu hal itu? Bukannya kau bilang dia merahasiakannnya?"
Sai tersenyum.
"Aku tahu hampir semua informasi disekolah ini. Orang-orang memanggilku Roots. Aku menjual dan membeli berbagai macam informasi dari semua orang disekolah ini."
"Menjual, dan membeli informasi? Apa maksudnya?"
"Artinya, kalau ada seseorang yang ingin membeli informasi dariku, dia harus menjual informasi yang sama 'harganya' dengan informasi yang kuberikan. Begitulah, hahaha..."
"Eh, aku sudah menanyakan sesuatu padamu. Berarti aku harus bayar dong?"
"Tentu saja." Sai nyengir.
"Apa bayarannya?"
"Beritahu aku masa lalumu."
Naruto terpaku sejenak. Memberitahu masa lalu nya pada orang lain adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
"Aku sudah memberimu informasi yang sangat berharga, jadi kau harus membayarnya dengan harga yang setimpal bukan?"
Naruto tertawa.
"Benar juga. Baiklah. Kurasa ini bukan cerita yang bagus untuk pengantar tidur, tapi karena kau memintaku untuk menceritakannya ya sudah."
Sai memasang pose sok serius.
"Telingaku berfungsi dengan sangat baik untuk mendengarkan."
Naruto tersenyum.
"Dulu... Aku dan keluargaku tinggal di Tokyo. Ayahku bekerja sebagai penulis dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang galak. Suatu hari...
"Hore! Hari ini kita jalan- jalan kerumah nenek! Hore!hore!"
Langit nampak mendung. Hujan turun rintik-rintik. Namun hal itutidak mengurangi kebahagiaan Naruto. Ia meloncat-loncat kegirangan didalam mobil. Kushina mengomel dan menyuruhnya untuk tenang. Sementara Minato hanya tertawa pelan melihat tingkah anak tunggalnya itu.
"Eh ayah, ayah, nanti disana aku bisa ketemu Kyuu kan?"
Minato tersenyum.
"Tentu saja, Kyuubi-chan pasti senang."
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah truk nampak melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Berkali-kali Minato mengklakson agar truk itu kembali kejalurnya, namun nampaknya pengemudi truk itu mabuk.
"GYAAAAAAAA!"
.
.
.
Naruto berusaha bangkit. Ia terkejut tatkala melihat kedua orangtuanya terdiam tak bernyawa. Kusahina dan Minato memeluknya erat. Mereka berdua melindungi Naruto.
"A... yah...? ibu...? Ayah, ibu bangun...ayah..."
Hujan turun semakin deras. Kilat menyambar-nyambar. Naruto menangis sambil mengguncang-guncang tubuh kedua orangtuanya yang sudah kosong itu.
"AYAHHHHHHHH! IBUUUU!"
.
.
.
Sai terbengong-bengong mendengar cerita Naruto itu. Sekarang ia mengerti kenapa Naruto nampak selalu tidak ingin membicarakan tentang dirinya sendiri.
Naruto tersenyum.
"Setelah itu aku hidup tinggal bersama nenek dan adik sepupuku, Kyuu. Tapi belum sebulan setelah kejadian itu nenekku meninggal. Kyuu ikut menyusul 3 bulan kemudian karena sakit. Tidak ada satu pun keluarga ibu atau ayahku yang lain yang mau merawatku. Mereka bilang aku ini membawa sial... jadi aku dimasukkan ke panti asuhan. Tapi..."
"Apa?"
Naruto tertawa.
"Aku kabur. Pengurus disana galak-galak sih. Disana juga tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Jadi aku memutuskan untuk kabur dari sana. Saat itu aku hampir mati kelaparan karena belum bisa bekerja. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana kemudian aku bisa hidup sampai selanjutnya... Eh, ternyata bakat pemusik ayahku menurun padaku. Dan mulailah perjalananku sebagai pemusik jalanan. Hahaha..." Naruto mengakhiri kisahnya dengan tertawa pelan.
Sai tidur-tiduran di atas tempat tidur Naruto.
"Kau memberikan informasi yang sangat berharga untukku Naruto-chan. Tenanglah, akan kujual informasi ini semahal mungkin."
Naruto tertawa.
"Usahakan lebih mahal daripada informasi Sasuke ya."
Sai tersenyum tipis.
"Wah, bagaimana ya? Informasi dari Sasuke tidak hanya sampai segitu saja. Harga informasinya secara keseluruhan jauh lebih mahal daripada informasimu, Naruto."
"Memangnya, informasi apa saja yang Sasuke berikan padamu?"
"RA-HA-SI-A."
"Uhhhh..." Naruto menggembungkan pipinya.
"Hahahaha, lebih baik sekarang kau tidur. Sudah malam lho!"
"Iya iya, aku akan tidur. Kau sendiri kembali kekamarmu sana!"
"Malas ah. Malam ini aku menginap disini ya, Naruto."
"Eh?"
"Boleh ya? Masa kamu nggak ngasih sih? Sasuke aja ngasih..."
"Berarti kamu sering kesini dong?"
"Yah, kalau lagi nggak bisa tidur. Aku bakal minta dikeloni Sasuke."
"Bhuh!" Naruto menahan tawa. Sasuke ngeloni orang? Hahahaha.
Ia seakan lupa kalau ia mengalaminya sendiri kemarin.
Sai tertawa.
"Yah, aku diusir terus sih. Tapi aku tetap bandel."
Naruto ikut berbaring disamping pemuda itu. Sai tersenyum padanya.
"Sasuke itu, punya sihir. Sihir yang bisa menenangkan, sekaligus membuat orang ketakutan."
"Seperti tadi siang?"
"Ya. Itu sih sihir Raja Iblis nya dia. Kalau yang satunya itu sihir malaikat. Sihir yang bisa bikin kamu ngantuk kurang dari sepuluh detik."
Naruto tersenyum. Benar juga.
Sai menepuk kepala Naruto.
"Sudah cepat tidur, ya."
Naruto menutup matanya.
"Oyasuminasai, Sai."
"Oyasuminasai."
.
.
.
Sai tersenyum tipis saat melihat wajah Naruto yang tertidur itu.
"Rahasia Sasuke. Adalah Informasi termahal yang aku punya. Dan aku telah berjanji, tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun tanpa seijin Sasuke. Sekalipun orang itu memberikan informasi yang sangat mahal untukku. Maaf ya Naruto."
.
.
.
.
Sasuke menyenderkan punggungnya ditembok.
Suasana begitu sunyi.
Tak seorang pun yang memperhatikan sosoknya yang seolah tersembunyi dalam gelapnya malam itu.
Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah pelindung kepala berwarna biru tua.
Ia menatap benda itu.
"Kakak!"
"Ada apa Sasuke?" Tanyanya Itachi lembut. Ia menepuk-nepuk kepala adiknya itu.
"Uhhhh... masa kakak lupa sih? Sekarang kan ulang tahunku!" Kata anak itu sembari mengembungkan pipinya sebal.
Itachi menepuk kepalanya.
"Ah maaf, kakak lupa. Maaf ya Sasuke... kamu mau hadiah apa? Besok kakak beliin deh."
Sasuke menggeleng.
"Aku mau sekarang..."
"Tapi ini sudah malam Sasuke, besok kakak janji kakak bakal beliin deh."
"Nggak usah beli..." Kata Sasuke sambil menunduk malu.
Itachi berjongkok sehingga posisinya sekarang sejajar dengan Sasuke. Ia tersenyum.
"Memangnya Sasuke mau apa?"
Sasuke menunjuk sesuatu yang menggantung di tas kakaknya.
"Aku mau itu."
Itachi menoleh pada pelindung kepala yang ia ikatkan di tali tasnya itu.
"Ini?"
Sasuke mengangguk.
Itachi tersenyum dan melepas ikatan benda itu.
"Jaga baik-baik ya, Sasuke."
Sasuke mengangguk senang. Ia memang sangat menginginkan benda yang selalu dipakai kakaknya itu.
Itachi mengikatkan pelindung kepala itu dikepala Sasuke.
"Benda ini, adalah benda yang diberikan ayah padaku. Benda ini akan membawa keberuntungan bagi orang yang memakainya. Selamat ulang tahun Sasuke!"
.
.
.
.
.
.
Sasuke menimang-nimangnya sejenak. Cahaya bulan terpantul dari permukaan besi benda itu.
.
.
.
.
"Sasuke, kau mau kemana? Sebentar lagi pesawatnya take off lho."
"Aku mau ketoilet sebentar kak."
"Hati-hati ya."
.
Sasuke keluar dari toilet. Ia berlari-lari kecil. Takut ditinggalkan sang kakak.
Tiba-tiba ia menabrak sesuatu dan terjatuh.
"Ukhh..."
"Maaf, kau tidak apa-apa?"
Sasuke mendongak. Seorang gadis kecil berambut indigo pendek nampak memandangnya gelisah. Gadis itu mengulurkan tangan kanannya. Sasuke menerima uluran tangan itu dan bangkit.
"Terimakasih." Katanya pelan.
"Engg...Sama-sama."
Gadis kecil itu terlihat malu-malu. Wajahnya yang manis memerah.
" Namaku Sasuke Uchiha. Aku dan keluarga ku akan berlibur ke Paris. Kalau kamu?"
" Mmmm... aku juga mau liburan ke Paris... berarti pesawat kita sama ya...?" Ucap gadis itu pelan. Sasuke sampai harus memfokuskan telinganya untuk mendengar suara gadis itu yang terlalu kecil.
"Mungkin."
"Kak Hinata!" Seorang anak perempuan kecil melambaikan tangannya. Gadis itu menoleh dan tersenyum.
"Adikku memanggil. Sampai jumpa lagi... Sasuke-kun."
Gadis itu berlari meninggalkannya. Sasuke pun pergi ketempat Itachi dan kedua orangtuanya yang telah menunggu.
.
.
.
.
Saat diatas pesawat, Sasuke melihat gadis itu duduk dua kursi didepannya. Ia tersenyum. Anak kecil disebelahnya tertawa-tawa senang.
Beberapa jam kemudian, terjadi keanehan.
Tubuh pesawat seakan oleng. Para penumpang terlihat panik. Apalagi saat menyadari bahwa api muncul dari bagian sayap pesawat. Sasuke menggenggam erat tangan kakaknya. Itachi hanya dapat berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apa-apa.
Tiba-tiba, pesawat itu meluncur dengan kecepatan yang luar biasa.
Jatuh.
"AAAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
Sasuke membuka matanya, ia memegang kepalanya yang berdarah. Perih.
Pecahan-pecahan kaca jendela pesawat berhamburan dan melukai tubuhnya. Menancap dibeberapa tempat ditubuh mungilnya itu.
"Ka... Kakak…?" Sasuke meraba-raba sekitarnya. Berusaha mencari keberadaan sang kakak.
"Sa...suke…." Sebuah suara terdengar dari bawah kursi pesawat yang terguling.
"Kakak!" Sasuke berusaha menyingkirkan kursi itu. Ketika berhasil, ia melihat sosok kakaknya yang terluka sangat parah. Darah membasahi tubuh pemuda itu.
"Ka...kakak... ? Kakak tidak apa-apa?" Ia sangat panik. Apalagi saat ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah tak bernyawa lagi, tergeletak tak jauh dari tempat mereka berada.
Itachi tersenyum tipis.
"Syukurlah... kamu selamat, Sasuke..."
"Kak! Kak Itachi bertahanlah! Seseorang tolonggg!" Jeritnya, namun ia sendirian disana. Diantara mayat-mayat para penumpang yang telah tewas itu.
Itachi menggenggam tangan Sasuke erat.
"Maaf, Sasuke..." Pemuda itu menutup matanya.
"Kak, KAKAKKKKKKKK!"
Sasuke menangis.
Itachi telah mati.
Saat itu sebuah jeritan lain terdengar.
Suara seorang gadis kecil. Gadis itu menangis dengan kencang. Dihadapannya nampak sesosok tubuh seorang anak.
Hari itu, sebuah benang tragedi telah terjalin.
Perlahan membentuk sebuah ikatan.
Ikatan yang akan terus membentuk untaian nasib.
Yang takkan pernah terputus.
Yang akan terus membentuk simpul lain,
Dan membentuk jalinan takdir...
.
.
.
Sasuke terduduk diam diatas ranjang rumah sakit. Tangannya menggenggam sebuah benda.
Sebuah pelindung kepala berwarna biru tua. Benda keberuntungan sang kakak.
Tiba-tiba, pintu bangsal itu terbuka.
Seorang gadis kecil dengan rambut indigo pendek menghampirinya.
Sasuke menatapnya dengan wajah datar.
"Mau apa…. Kau kesini….?"
Gadis itu malah menangis disamping tempat tidurnya.
Sasuke menjadi iba.
Ia membelai kepala gadis itu pelan.
Sasuke membiarkan sampai akhirnya tangisan gadis itu reda.
Gadis itu menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
"Kau ...akan kemana... Sasuke-kun?"
Sasuke menggeleng.
"Aku tidak tahu. mungkin mereka akan membawaku ke panti asuhan..."
"Tinggal sama aku... aja ya...? aku nggak bakal bisa... kalau sendirian..."
Sasuke menatap gadis itu hampa.
"Kenapa...?"
"Aku nggak mau sendirian... kau juga kan...?"
Lama Sasuke terdiam, baru kemudian ia mengangguk pelan.
Gadis itu tersenyum tipis.
"Terimakasih, Sasuke-kun
.
.
Gonggongan anjing liar mengagetkan pemuda itu. Ia terdiam sejenak dan memasukkan kembali benda itu kedalam tasnya. Perlahan, ia bangkit dan pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
"Nghhh?" Naruto membalik posisinya dan membuka mata.
Sai tersenyum.
"Ohayou Naruto-chan."
.
.
.
.
"Aduh... harusnya kamu nggak sekasar itu dong, Naruto..." Sai mengusap-usap pipi kanannya yang membiru. Naruto tersenyum bersalah..
"Maaf, Sai. Kamu sih tiba-tiba nongol didepanku sambil senyum-senyum. Aku kan kaget." Katanya membela diri.
"Ukhhh..."
Tiba-tiba handphone Sai bergetar. Sai mengambilnya, sebuah pesan singkat.
"Ada apa?" Tanya Naruto.
"Hmmm... Pain sensei nih."
Sai membuka pesan singkat itu dan membacanya.
Perhatian, kepada seluruh siswa Class A. diharapkan segera datang ke ruang kelas. Pemberitahuan lainnya akan diberitahukan langsung disana. Terimakasih.
Naruto bengong.
"Bukannya hari ini kita libur?"
Sai mengangkat bahunya.
"Sebaiknya kita segera pergi."
Mereka berjalan menuju kelas. Sesekali mereka berpapasan dengan murid lainnya yang juga tengah menuju kelas.
.
.
.
.
"Sudah berkumpul semuanya?" Pain sensei meneliti satu-persatu murid didalam kelas itu.
"Baiklah, sebelumnya aku hanya ingin memberitahukan, Proyek akhir tahun ajaran kita akan dilaksanakan dua minggu lagi. Jadi kita harus membuat proyek yang sangat mengesankan. Untuk mengalahkan kelas sebelah..." Pain sensei menekankan kata 'kelas sebelah'dalam ucapannya.
"Bagaimana kalau Opera? " Tanya Sakura sambil mengangkat tangannya. Pain sensei menggeleng.
"Kelas B sudah memilihnya."
"Kalau begitu apa?" Tanya Chouji.
Pain –sensei berjalan pelan didepan kelas. Ia mengambil setumpuk kertas print-out dari atas mejanya.
"Drama Musikal. Aku pikir itu lebih bagus."
"Wawww..."
Beberapa murid perempuan terlihat senang. Mereka mengharapkan untuk mendapat pemeran utama wanitanya.
"Aku sudah memilih cerita, yang pastinya cocok dengan konsep kita sekarang. Tapi aku belum menentukan pemerannya. Ada yang bisa memberikan usul?"
"Sakura sebagai pemeran wanitanya saja Pain-Sensei!" Kata Tenten. Sakura tersipu-sipu.
"Ah kalau begitu saja tidak seru, bagaimana kalau kita undi saja pemerannya?" Usul Karui.
Pain Sensei mengangguk-ngangguk.
"Boleh juga. Baiklah kita undi saja pemerannya."
Pain sensei segera menyuruh beberapa murid untuk menyiapkan potongan-potongan kertas yang sudah diberi nama. Ia memasukkan kertas-kertas yang sudah digulung-gulung sedemikian rupa itu kedalam sebuah kantong.
"Siapa yang mau mengambilnya?"
Terjadi keributan sejenak. Masing-masing ingin maju untuk mengambil kertas itu. Akhirnya diputuskan bahwa Hinata yang akan mengambilnya. Tentu saja, ia tidak mungkin bisa curang.
Ia maju dan mengambil sebuah gulungan kertas dari dalam kantong itu dan menyerahkannya pada Pain Sensei.
"Hmmm... yang pertama, pemeran antagonis prianya... Sai..."
Beberapa murid bersuit-suit. Sai tersenyum lebar.
"Antagonis? Nggak apa-apa deh."
Hinata mengambil selembar kertas lagi.
"Pemeran utama prianya... Sasuke Uchiha..."
Murid-murid wanita terpekik pelan. Sasuke memasang ekspresi cueknya seperti biasa.
Hinata memasukkan tangannya sekali lagi kedalam kantong itu.
"Baiklah pemeran utama wanitanya..."
Para murid perempuan dalam kelas itu berdoa dalam hati. Tentu saja mereka berharap mendapat pemeran utama wanita dan didampingi oleh Sai dan Sasuke. Duo Pangeran dari kelas mereka.
"...Naruto Uzumaki..."
DHUARRR!
Serentak semua murid dikelas itu menoleh pada Naruto. Naruto sendiri hanya terbengong-bengong shock.
"A... apa...?"
Sai tertawa.
"Selamat ya, Naruto-hime."
Murid-murid wanita merutuk kesal. Tapi apa daya? Nasi telah menjadi bubur, tak ada teknologi yang bisa mengubah bubur menjadi nasi kembali.
"Baiklah, pemeran figuran lainnya akan ditentukan nanti. Sekarang para pemeran utama ambil naskah masing-masing." Kata Pain sensei sembari menyodorkan lembaran-lembaran kertas naskah.
Sakura mengangkat tangannya lagi.
"Maaf sebelumnya Pain-sensei. Memangnya drama apa yang akan kita mainkan?"
Pain sensei tersenyum.
Lebih tepatnya menyeringai.
"Ice anda Dark. Second Hand of Time..."
TBC
Wah terimakasih buat kalian yang udah baca n review fic ini ya!
kita bales reviewnya dulu nyok!
muthiamomogi-san:
nah setelah dibaca chappy dua ini uda ketahuankan? sasuke sensi soalnya naruto juga bisa main piano sehebat hinata XDD
Shaneeta:
Yap memang typo yg tidak berguna (pundung) makasi buat reviewnya ^^
Arale L Ryuuzaki:
apa yang ada dikamarnya sai? oh tidak bisaa~ itu rahasia XDD
apakah sai punya perasaan tertentu pada sasuke? bagaimana kalo kita tanya langsung pada orangnya?
sai: sebenarnya aku BENCI banget sama sasuke ^=^
mii: (merinding) sai serem...
arashi chika:
ha, sasuke itu jahat lho~ dia uda bunuh itachi!
sasuke: ==
mii: ahhh jangan serang aku dg mangekyou dong sasu-chan 0
yap benar sasuke ternyata punya sisi baik juga lho!
chiuzuka arahime:
terimakasih, salam kenal senpai (bungkuk2)
ya kalo beneran ada skula kaya gitu mii juga mau XDD
yuuchan no haru:
(nampung hujan permen)
arigatou ^^
chary ai temedobe
masa lucu? rasanya ini bukan humor deh. apa mii salah masukin unsur humor nih ?(author yg kebanyakan bikin fic humor) thx bwt reviewnya ya ^^
micon:
masa? masa nggak boleh? (histeris)
tapi ini kan fic mii sendiri, ga plagiat XDD
yap makasi reviewnya yaaa! (hug)
pochi yuna:
6 huruf buat yuna-san
M.A.K.A.S.I
XDD
hehehe
kitsuney:
hehehe maaf, nama authornya juga Miss Typo kan? jadi wajar kalo ada typo (dikemplang) hahaha pertanyaanmu akan mii jawab dichap2 berikutnya.^^
thx
tsukiyomi hikari:
wah, mungkin mii akan mengecewakan hikari-san nih... T^T
ini sasunaru ato narusasu?
kayanya bakal sasunaru dgn beberapa adegan narusasu (nah lo?)
hehehe
CCloveruki
iya nih, si sasuke cari2 kesempatan dlm kesempitan! XD
Richi sugutsuzu
iya nih sai manja!
sai: ^=^
mii: (ngambil selimut) sai kamu serem! jg senyum2 gaje gitu napa?
sai: kamu menyebalkan sih mii-kun
mii: =0=, mii kun? ah sai kmu adalah orang pertama yg memanggilku bgtu! XDD
uchiha naruto-chan
ahahaha, gomen2~
yap rasa penasaranmu akan terjawab dichappi aini dan selanjutnya, jadi sabar ya XDD
Nahhhhh~
Hinata datang! Hinata punch!
Hinata: =/= Mii-chan jangan gitu dong... aku malu...
Mii: Eh kenapa Hinata? Aku kan udah masukin kamu kesini? Senang dong~
Sasuke: Kok jadi Sasuhina? Kamu bilang ini Sasunaru? Ada adegan Naruhinanya lagi.
Mii: Memang~ tapi kan nggak seru kalo ceritanya datar-datar ajah~
Naruto: Huweeeee! Otousannnn! Okasannnnn!
Mii: ah, gomen Naru-chan... (nepuk2 bahu Naruto)
Naruto: Jahat mii jahat!
Mii: Ukhhh... Naruchan jangan gitu dong! Nanti aku nangis lho!
Sasuke: Arghhh... Itachi nii tetep mati ya... (pundung)
Mii: Hieee? Kok pada pundung semua nih? Semangat dong!
All: URUSAI!
Oh iya, dichap lalu ada typo dengan nama ALLEN ya? Ah dugaan mii bener kan? == padahal mii udah cek-cek ampe tiga kali, ternyata masih ada typo juga... Gomen...
Allen: Aku tahu kamu ngefens sama aku tapi inget ini fandom NARUTO mii...
Mii: Ih, Allen GR! Aku kan ngefansnya sama Yuu! (meluk2 Kanda)
Kanda: Jauh2 Teme Otaku!
Mii: Hueeee... Yuu jahat yuu jahat yuu jahat! Itachi-samaaaaa! (Nemplok Itachi)
Itachi: Kok aku mati sih? Kamu nggak sayang sama aku? (HUWAAAA! SEANDAINYA BENAR ITACHI BERKATA SEPERTI ITU!)
Mii: TENTU AJA MII SAYANG ITACHI SAMA! Tapi kalo ceritanya datar kan nggak bagus~~~~~
Itachi: (Menghela nafas) Hah... iya deh...
Mii: Oh iya mii punya berita buruk lho~
Naruto: Apa?
Mii: ah sebelumnya Itachi sama keluarin Susano'o dong!
Itachi: Buat apa?
Mii: ya pokoknya keluarin, nanti mii kasih krim anti keriput paling manjur deh!
Itachi:=/= Oke deh.
(Setelah Susano'o keluar.)
Sakura: Jadi apa berita buruknya?
Mii: Kayanya mii bakal hiatus deh...
ALL: APPPPPPAAA? (Semua readers ngelempar kunai dan shuriken)
Mii: KYYYYAAA! ITACHI SAMA! (Sembunyi dibalik Susano'onya Itachi)
GOMENNNNN! Soalnya mii uda kelas tigaaa! Tugas-tugas mulai numpuk dan berbagai ujian mulai datang! Huweeeee (meratapi nasib)
Kanda: Berarti fic ini bakal DISCONTINUED dong?
Mi: ENGGAK LAH BAKANDA! Mii akan berusaha unrtuk mengapdet fic ini sampe selesai! Sebelum ujian2 datang! Tapi kalo nggak bisa dan fic ini terpaksa hiatus, gomen ya...
Oh ya, Mii mau nanya...
Apa hubungan SASUKE sama TOMAT? Ato pantat ayam?
Mii penasaran nih ...==
Ah review pleaseeee!
