Chapter 2.


Hinata duduk di atas tempat tidurnya berukuran king size dengan gaunnya yang menjuntai ke bawah. Kembali lagi ia menundukan wajahnya.

Perasaanya sekarang campur aduk. Dia tidak menyangka, lebih teatnya benar-benar tidak menyangka bahwa pria yang ia nikahi bukanlah orang yang tidak ia kenal melainkan idolanya sendiri.

Sasuke yang melihat Hinata bersikap seperti itu hanya bisa menatap tajam istrinya. Dengan kasar ia lepas dasi dan kemejanya, dan melemparnya kearah sofa. Ia lalu mengacak-ngacak rambutnya yang tertata rapih, kemudian membuka 2-3 kancing kemejanya.

Sasuke lalu menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap Hinata yang masih memunggunginya.

"Kau mau sampai kapan seperti itu terus?"

"A..ah maaf." Hinata langsung berdiri dan berjalan hendak memasuki kamar mandi.

"Tunggu.."

Hinata pun menghentikan langkahnya, dan dengan ragu-ragu ia menatap wajah suaminya yang saat ini menyandarkan tubuhnya pada punggung kasur.

"I..iya?"

Sasuke yang menatapnya datar melambai-lambaikan tangannya yang berarti ia ingin Hinata mendekatinya. Dengan ragu-ragu Hinata mendekati suaminya dan berdiri di depannya.

Sasuke menggeserkan tubuhnya dan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.

Hinata yang mengerti akan maksud Sasuke, duduk di sebelahnya dengan pelan.

"Siapa namamu?"

"Hinata.."

"Hn. Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"P..perasaan?"

"Perasaanmu menikah dengan actor sepertiku."

"A..aku t..tidak tahu, yang pasti a..aku akan berusaha menjadi istri yang baik..U..Uchiha-san."

"Panggil namaku saja, namamu jga sudah menjadi Uchiha sekarang." Ucap Sasuke dingin tanpa melihat Hinata.

"B..baik K..kak Sasuke."

"Kakak? Berapa umurmu?"

"D..dua puluh kak.."

"Masih kecil rupanya.. cih."

Hinata terdiam. Entah kenapa ia merasa takut pada Sasuke yang bersikap dingin padanya. Hinata baru tahu, sosok yang ia kagumi ternyata bersifat dingin dan terkesan tidak perduli. Hal itu tentu saja membuat Hinata sedikit kecewa.

"Mandilah, setelah itu siapkan air untukku."

"B..baik."

Hinata lalu pergi menuju kamar mandi dan dengan cekatan ia melakukan perintah suaminya.


Sasuke pergi menaiki mobil mewahnya menuju sebuah studio. Hari ini ada pemotretan untuk film terbarunya.

Sesampainya di studio, ia bertemu dengan mantan kekasihnya Sakura yang sepertinya sudah menunggunya.

Sasuke yang menatapnya memutuskan untuk menhindarinya namun Sakura datang menghampirinya dan menampar wajah putihnya.

"Sakura.."

Sakura yang menampar wajah Sasuke menahan air matanya yang keluar namun ia tidak bisa. Air itu tetap mengucur deras dari kedua bola matanya. Tatapannya seakan-akan ingin membunuh pria itu. Pria yang sudah menghancurkan hatinya.

"Kejam sekali kau Uchiha."

"S..sakura…aku.."

"Diam! Aku tidak menyangka kau akan menikahi gadis lain. Dengan seenaknya kau memutuskanku secara sepihak, memangnya aku ini apa?"

Sakura memukul-mukul tubuh Sasuke dengan sekuat-kuatnya. Tapi Sasuke tidak menahan pukulan Sakura melainkan menerimanya.

"Maafkan aku Sakura.. aku.."

"Aku apa? Aku bosan dengan ucapan maaf mu!"

"Aku…aku membencimu. Lupakan aku dan hiduplah bersama pria yang lebih baik dari diriku."

Sasuke lalu pergi meninggalkan Sakura yang masih terisak-isak.


"Hinata, Sasuke itu suka tomat. Ia sangat menyukai semua makanan yang beraroma tomat atau rasa tomat."

"Oh begitu ya mah?"

"Kau kan pintar memasak, jadi sepertinya Sasuke akan menyukai masakanmu."

Hinata tersenyum dan tertawa. Ia kemudian membalikkan halaman demi halaman setiap foto yang terpampang di album pribadinya Sasuke.

"Hinata, kau menyukai anakku?"

"Y..ya?"

"Bagaimana tadi malam?"

"Em..bagaimana ya. Kalau soal mencintai Kak Sasuke…ehm..aku ini sebenarnya fans beratnya..M..mah."

"Wah benarkah?"

"I..iya, tapi aku juga tidak menyangka kalau Kak Sasu akan putus dengan Sakura-san. Dan malah menikahi aku. Kalau aku boleh tahu, ada apa dibalik ini semua?"

Mikoto terdiam, dan menatap wajah polos Hinata. Sebenarnya ada sebuah permasalahan yang terjadi diantara keluarga Uchiha dengan keluarga Haruno.

Fugaku suaminya, tidak ingin mengingat-ingat permasalahan itu, sehingga ia tidak ingin kembali berhubungan dengan keluarga Haruno yang merupakan keluarga mantan kekasih anaknya.

"Tidak apa-apa nak." Jawab Mikoto sambil tersenyum.

Hinata yakin mertuanya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun ia tidak kembali bertanya karena iya pikir ia tidak pantas mengetahui rahasia keluarga suaminya lebih dalam.

"K..kalau begitu, saya pamit dulu mah."

"Kamu mau kemana?"

"Saya mau ke panti. Anak-anak pasti menunggu saya. Kalau saya tidak ada, mereka pasti mogok makan." Jawab Hinata sambil meletakan album foto suaminya.

"Mama juga ikut yah?"

"Iya mah." Jawab Hinata sambil tersenyum.

Setelah Sasuke selesai dari kegiatannya di studio untuk pemotretan dan juga berbagai hal yang ia lakukan sebagai seorang selebriti, Sasuke tidak berencana kemana-mana lagi sehingga ia memilih untuk pulang saja karena saat ini waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.

Sasuke membuka pintu mobil sedan hitam miliknya dan segera menggas kencang mobilnya. Matanya menatap datar kedepan namun ia masih tetap focus untuk menyetir hingga akhirnya ia memelankan mobilnya dan menghentikannya saat lampu merah menyala.

Perhatiannya kini tertuju pada sepasang kekasih yang baru saja keluar dari sebuah toko boneka. Si gadis tersenyum lembut menatap kekasihnya sambil memeluk boneka beruang kecil berwarna pink.
terdengar samar-samar gadis itu mengucapkan kalimat terima kasih pada pria yang kini ada di depannya.

"Terima kasih Yuu-kun."

"Sama-sama Rei-chan. Maaf aku membelikanmu boneka beruang yang berwarna aneh. Tidak seharusnya warnanya pink."

"Tidak apa-apa, aku sangat suka yang seperti ini."

Saat Sasuke melihat sepasang kekasih tersebut, terlintas di bayangannya ketika ia pun pernah membelikan sebuah boneka beruang yang berwarna senada dengan rambut mantan kekasihnya.
Entah sadar atau tidak, perlahan cairan bening mengalir dari kedua matanya. Sakit yang dirasakan Sasuke kini memaksa air itu keluar dari mata onixnya.

Bunyi klakson mobil menyadarkan Sasuke, dan dengan cepat ia segera menjalankan mobilnya karena saat ini lampu sudah berubah menjadi hijau dan ia lihat mobil-mobil di depannya kini telah menjauh.


Sesampainya di rumah, Sasuke segera masuk kedalam kamarnya dan membanting blazer hitamnya ke atas sofa. Ia pun segera menduduki sofa dan menyenderkan tubuhnya pada punggung.
samar-samar ia mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Ia tahu kalau Hinata saat ini ada di dalamnya.

Sasuke menutup matanya dan memijat dahinya yang ia rasa pusing. Ia kembali terbayang akan kebersamaannya bersama Sakura tapi saat ini dan untuk selamanya yang Sasuke inginkan adalah bisa melupakan Sakura.

Tidak lama kemudian Hinata keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang hanya tertutupi handuk. Gadis itu berteriak kaget saat ia melihat kini suaminya yang tampan tengah duduk di sofa.

Hinata menggenggam erat handuk yang ia pakai. Ia merasa malu. Sedangkan Sasuke yang sadar akan jeritan Hinata membuka matanya dan ia pun ikut kaget setelah menangkap sosok di depannya yang kini hanya memakai sehelai handuk.

Sasuke menatap tubuh Hinata dari bawah hingga atas. Kulit Hinata yang putih bersih dengan tetesan air yang mengalir dari tubuhnya membuat Sasuke menelan ludahnya.
Sasuke tidak tahu bahwa gadis yang ia nikahi ternyata memiliki tubuh yang bisa disebut sempurna.

Hinata segera kembali masuk kedalam kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya dari pintu. Ia melihat Sasuke yang masih menatapnya dengan tatapan datar.

", Kakak bisa keluar dulu. Aku mau berpakaian dulu."

"Hah? A..apa? O..oh iya."

Tanpa berkomentar, Sasuke menurut dan keluar dari kamar mereka. Setelah Sasuke menutup pintunya, ia lalu menyenderkan tubuhnya pada pintu sambil menutup wajahnya sendiri dengan satu tangannya.

"Ck..apa yang kau lihat Sasuke?" gumamnya.

"Lihat apa?"

Sasuke terkejut saat ia melihat sosok ayahnya yang kini berdiri di depannya. Sasuke tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya.

"Tidak ada."

Fugaku mengerutkan dahinya, ia tatap putra bungsunya yang kini melihat kearah kanan dengan tangan yang dilipat di depan dadanya. Sekilas fugaku bisa melihat rona merah di wajah putranya itu.

"Kau sedang apa diam di luar kamar begini?"

"Ayah juga sedang apa disini?"

"Aku hanya sekedar lewat tahu."

"Oh."

"Kau belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kau berdiri disini? Istrimu mana?"

"Justru itu ayah, Hinata ada dalam kamar, ia lupa membawa bajunya ke dalam kamar mandi jadi aku menunggunya di sini."

"Apa? Menunggu? Kalian ini sudah menikah kenapa masih malu-malu?"

Sasuke mengerutkan dahinya dan kembali mengalihkan pandangannya.

"Dia sendiri yang menyuruhku keluar."

"Ck, dasar . Awas saja kalau kau tidak berhasil memberikan cucu padaku."

Fugaku lalu meninggalkan Sasuke yang masih diam di depan kamarnya sendiri. Sasuke yang masih menekuk mulutnya itu berpikir tentang ucapan ayahnya mengenai cucu.

"Cucu? Anak maksudnya? Heh tidak mungkin." Gumam Sasuke yang sekarang menghadap kearah pintu hendak untuk memasuki kamarnya.

Saat Sasuke tengah bergumam seorang diri, pintu kamarnya terbuka dan mengenai kepala Sasuke dengan keras. Sasuke berjalan mundur dan menyentuh jidatnya yang sakit karena terantuk pintu. Ternyata Hinatalah yang membuka pintu itu. Ia tidak tahu kalau Sasuke berdiri tepat di depan pintu.

"K..kakak! Maaf aku tidak sengaja."

Sasuke mengelus jidatnya yang merah. Ia merasa kesal akan perbuatan Hinata. Ia hendak meneriaki Hinata tapi keinginannya itu tidak terjadi.
Sasuke melihat Hinata yang kini menyentuh dahinya yang sedikit tergores dan menimbulkan luka kecil. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat Sasuke kini terpaku.
Hinata yang memakai baju tidur berenda berwarna biru muda yang sangat manis ia pakai dan membuat Hinata yang memakainya menjadi imut itulah yang membuat pria Uchiha itu tidak mengedipkan matanya.

"K..Kakak berdarah!" Hinata panik dan segera menarik Sasuke kedalam kamar.

Di dalam kamar, Sasuke mengedip-ngedipkan mata ketika ia sadar kini ia berada dalam kamarnya. ia melihat istrinya kini sibuk mencari obat untuk luka di dahinya.

Sasuke lalu duduk di sofa dan menunggu istrinya itu memberikan obat padanya. Setelah Hinata mendapat obat tersebut, ia segera menghampiri Sasuke dan segera duduk di sampingnya sambil sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Sasuke.

Dengan pelan Hinata menyibak poni Sasuke yang menutupi dahinya. Ia bersihkan darah yang ada dengan kapas dan dengan pelan ia berikan obat dan ia tutupi plester.

Pria 26 tahun itu terdiam saat Hinata mengobatinya. Dengan jelas ia bisa melihat leher putih Hinata di depannya. Harum tubuh istrinya masuk kedalam indera penciumannya. Ia merasa nyaman saat ini. Dan entah kenapa Sasuke tidak ingat akan kejadian tadi pagi dimana ia harus menegaskan pada Sakura bahwa Sakura harus melupakannya.

Selesai mengobati luka Sasuke. Hinata duduk di sebelahnya sambil menatap lukanya.
Ia menggenggam erat kedua tangannya, karena ia tahu Suaminya itu akan memarahinya atas perbuatannya yang tidak sengaja ia lakukan.

"K..kakak, m..maafkan aku. Aku tidak sengaja." Ucap Hinata sambil menundukan wajahnya.

Sasuke tetap diam menatap Hinata dan hal itu membuat Hinata ketakutan. Hinata memang mengidolakan Sasuke sejak dulu, tapi entah kenapa tatapan Sasuke kali ini membuatnya ketakutan dan heran padanya sendiri kenapa ia bisa mengaggumi pria yang mengerikan walau hanya dengan tatapannya saja.

Jujur Hinata tidak menyangka, sosok Sasuke yang termasuk ramah namun pendiam di dunia entertain ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.

Hinata pun memutuskan untuk berdiri dan menyimpan obatnya namun saat ia hendak berdiri tangannya di genggam oleh suaminya.

Sasuke lalu menarik tubuh Hinata kedalam pelukannya dan menenggelamkan kepalanya dalam tengkuk istrinya.

Ia hirup aroma manis yang menguar dari tubuh istrinya. Sasuke merasa nyaman dan menutup matanya.

Hinata kaget dan obat yang ia genggam jatuh kelantai. Ia dapat merasakan bibir Sasuke kini menyentuh kulitnya. Hembusan napas Sasuke yang mengenai kulit putihnya membuat Hinata merinding. Apalagi setelah ia juga merasakan lengan Sasuke yang kini melingkari pinggangnya dengan erat dan saat ini Hinata pun duduk dalam pangkuannya.

"K..kak Sasu.. tolong lepas."

Sasuke tidak merespon permintaan Hinata, ia tetap menutup matanya dan merasakan kehangatan tubuh mungil istrinya.

"Kak..tolong lepas." Hinata berusaha melonggarkan pelukan Sasuke pada tubunya namun sepertinya sia-sia, karena Sasuke adalah seorang pria yang sudah pasti kekuatannya jauh lebih besar darinya.

"Kak.."

"Diamlah Hinata, ijinkan aku untuk bisa seperti ini sekali saja."

Hinata terdiam dan menatap pundak lebar Sasuke yang masih memeluk dirinya. Hinata merasa ada sebuah beban yang Sasuke rasakan selama ini.
Hinata kemudian mengalungi leher Sasuke sambil memeluknya. Sasuke yang merasakannya semakin nyaman dan semakin mengeratkan pelukannya.

Kini mereka terdiam di dalam kamar mereka tanpa mengucapkan satu katapun hingga mereka tertidur dan masuk kedalam mimpi mereka masing-masing.


TBC

Maap apdetnya lama..hehe
mohon review ya
Makasih banyak