Wishes


A Naruto FanFic by Arisa Hagiwara

For 30 Wishes Infantrum Challenge by Evey and Aricia Betelgeuse

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi-sensei

WARNING: AU HIGHSCHOOL. Feel free to click the 'back' button , and feel free to continue reading :)

.

Part II Chorus: Confession

.

#8 Tanabata

.

Malam itu tanggal enam Juli, atau hari ke enam dari bulan ke enam pada kalender lunisolar, kalender Tionghoa. Artinya, perayaan tanabata. Perayaan tanabata memang selalu menjadi favorit Sakura, karena ia bisa menyuarakan keinginannya.

Sasuke, yang besar di Perancis, justru berpendapat sebaliknya. Kalau ingin berharap, bukankah bisa dilakukan setiap hari? Untuk apa menunggu tanabata segala?

"Sudahlah, namanya juga tradisi," sahut Sakura enteng ketika pemuda itu bertanya kepadanya. Mereka berdua memang menjadi dekat semenjak perayaan Hanami beberapa bulan sebelumnya.

Bukan tanabata namanya kalau tidak ada tanzaku, tradisi menaruh kertas berisi doa dan harapan yang diikat pada daun bambu.

Untuk pertama kalinya Sasuke—dengan wajah sedikit memerah—menggantungkan sebuah kertas berwarna putih ke daun bambu yang sudah dihiasi kertas beraneka warna. Di sebelahnya, Sakura melakukan hal yang sama, karena ia memang mengajak Sasuke untuk ikut menggantung tanzaku. "Hitung-hitung belajar budaya!"—kata gadis itu saat mengajak Sasuke. Bedanya, tanzaku Sakura berwarna merah.

Setelah menggantung, mereka berdua berjalan-jalan melihat banyaknya orang yang ikut menggantungkan tanzaku mereka di hutan bambu, meninggalkan dua buah kertas berwarna merah dan putih yang berayun pelan di salah satu daun, berisi harapan mereka berdua.

Aku tidak percaya akan hal seperti ini, tapi dia memaksaku. Apa boleh buat. Aku hanya berharap semua keinginan dalam hatiku terpenuhi. Tidak perlu menjelaskannya di sini, bukan?—S.U.

Aku berharap, semoga semua keinginanku terkabul. Ya, keinginanku sangat banyak hingga tak mungkin muat untuk ditulis di kertas sekecil ini!—S.H.

Tanpa sadar—tanpa mengetahui, sebetulnya—mereka menyuarakan permohonan yang sama dalam kertas tanzaku mereka.

.

#13 Matches!

.

Sakura duduk gelisah di bangkunya. Matanya tidak berhenti melirik jam yang tergantung di dinding depan. Lima… empat… tiga… dua… satu…

KRIIIIIIINGGG

Gadis itu menghembuskan napas lega, lalu kembali duduk manis sementara murid yang lain bergegas pulang. Suara gelak tawa tidak menggodanya untuk segera membereskan buku dan beranjak dari tempat itu. Sebaliknya, ia terlihat mengambil sesuatu dari kolongnya dan membalik badan.

"Otanjoubi omedetoo! Joyeux… Joyeux…" kening Sakura berkerut samar.

Sasuke yang tadinya melongo melihat black forest bertahtakan angka tujuh belas di atasnya tersenyum kecil. "Joyeux anniversaire."

"Aaah, ya ya ya," pekik Sakura senang, "apapun itu lah, yang penting… selamat ulang tahun! Dan jangan tanya aku dapat informasi tentang tanggal lahirmu dari mana."

Pria di depannya mengangkat alis sekilas ketika Sakura meletakkan seloyang black forest itu ke hadapannya. "Ah, tunggu sebentar!" teriak Sakura yang tiba-tiba mengobrak-abrik isi tasnya, mengeluarkan kotak persegi panjang. "Tidak bisa tiup lilin kalau tidak ada korek api!"

Setelah bernyanyi-nyanyi konyol seperti anak kecil—sebetulnya hanya Sakura yang bernyanyi—Sasuke sudah akan meniup lilinnya ketika Sakura merentangkan tangan tak jauh di atas lilin, menghalangi hembusan napas Sasuke.

"Make a wish! Kau harus mengucapkan harapanmu, Sasuke."

Pemuda itu berusaha keras tidak memutar bola matanya. Tapi toh ia memejamkan mata, sedikit tersenyum, sebelum meniup kedua lilin itu dengan satu kali hembusan.

Berikan kebahagiaan yang sama untuknya seperti yang sedang kurasakan saat ini, Tuhan.

.

#20 Replace the gold medal

.

Sakura sangat sebal. Sungguh, ia tak pernah merasa sekesal itu sebelumnya pada Sasuke. Ya, Sasuke Uchiha! Murid baru yang dengan teganya dalam semester pertamanya di sekolah berhasil merebut juara umum yang selalu disandang Sakura! Oh, andai saja waktu bisa diputar, ia pasti akan belajar lebih giat.

"Aku tidak pernah berniat mengalahkanmu. Aku sendiri tidak tahu kau selalu jadi juara umum satu angkatan."

Hening. Sakura masih membuang muka.

"Heh," Sasuke menghela napas, "baiklah, daripada kau marah terus…"

Telinga Sakura bergerak bagai telinga kelinci yang berdiri begitu mendengar kata-kata "menraktir es krim" keluar dari mulut Sasuke.

.

#5 Superstar

.

"Mengapa kau ingin begitu dekat denganku?"

Pertanyaan to the point yang diajukan Sasuke membuat sendok es krim kecil yang baru akan memasuki mulut Sakura berhenti hanya dalam jarak dua senti. Sejenak ia berpikir, dan keluarlah tawa hambar.

"Percaya diri sekali kau," ucap Sakura santai seraya melahap sesendok es krim strawberry yang sempat tertunda itu. "Aku hanya penasaran padamu… Aku hanya ingin tahu mengapa."

"Penasaran?"

Sakura mengangguk. "Kau sepertinya tidak asing, padahal aku tahu kita belum pernah bertemu, tapi…"

Kelebatan bayangan itu sekali lagi mengganggu Sakura. Belakangan menjadi intens hadir dalam hampir setiap waktu luangnya. Suara tawa anak-anak, matahari yang bersinar hangat, dan perasaan yang sangat menyenangkan menjadi sesuatu yang selalu menyertai bayangan tersebut.

"Entahlah, aku juga tidak tahu," kata Sakura akhirnya.

Terlihat berpikir keras, Sasuke menyahut, "Asal kau tahu saja, aku ini superstar di sekolah lamaku. Mungkin kau pernah melihatku di foto facebook temanmu atau apa."

Adegan itu pun berakhir dengan sebuah cherry penghias es krim yang mendarat mulus di dahi Sasuke.

.

#17 Before the sun rises again

.

Alarm berbunyi, membuat si pemilik jam weker dengan malas mematikannya. Gadis berambut merah muda itu berusaha membuka mata, menyibak beberapa helai rambut yang menghalangi pandangannya, lalu menatap langit-langit kamar yang berlukiskan bintang dan bulan.

Ia melemparkan pandangan ke luar jendela yang tidak tertutup tirai. Masih sangat pagi, belum fajar. Ia memang terbiasa bangun pagi. Selain untuk membantu sang ibu memasak, juga untuk berdoa.

Dan kali ini, sebelum matahari terbit dan menjalankan tugasnya seperti biasa, Haruno Sakura menatap langit-langit kamarnya.

Tuhan, tolong beri petunjuk.

Ah, tampaknya ia semakin jatuh ke dalam pesona seorang Uchiha Sasuke.

.

#6 Fallen angel

.

Derap langkah sepatu kets terdengar di koridor yang sepi. Sasuke Uchiha berjalan dalam diam menuju kelasnya yang terletak di ujung koridor lantai tiga.

Pintu bergeser, menandakan datangnya seseorang. Namun satu-satunya orang di kelas tersebut justru tidak menyadari. Kepalanya terkulai miring beralaskan kedua lengannya yang disilangkan di atas meja.

Sasuke sejenak tertegun melihat Sakura tertidur sepulas itu, hingga tidak menyadari kedatangannya. Sedikit mengendap, ia berjalan melewati meja-meja menuju kursi di belakang Sakura.

Entah berapa lama Sasuke memerhatikan punggung seseorang yang dengan ajaib telah membuatnya mempunyai sahabat itu.

Gadis itu seperti…

Kening Sasuke berkerut samar, memikirkan kata-kata yang tepat.

Fallen angel. Malaikat yang jatuh dari langit.

Ia tersenyum samar. Tampaknya gadis di depannya itu memang kelelahan, entah apa yang dikerjakan malam sebelumnya.

Sleep tight, cherryblossom.

.

#15 Guardian angel

.

"Hei, Sasuke."

Sasuke mengangkat wajah dari buku—kali ini buku matematika—nya. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, kali ini ia mengangkat wajah lebih lama, dan mendapati Sakura Haruno tengah memandangnya.

"Ada apa?"

Didengarnya Sakura menarik napas, menghembuskannya perlahan.

"Bayangan itu semakin nyata, Sasuke. Bayangan yang membuatku terus penasaran. Dan aku… aku mempunyai firasat buruk tentang ini, Sasuke."

"Maksudmu? Bicaralah yang jelas."

Sakura menggelengkan kepalanya. "Entahlah, sejak bertemu denganmu, aku merasa di dalam diriku ada sesuatu, sesuatu yang bangkit. Dan aku tidak tahu apa namanya. Aku takut."

"Kalau begitu…" ucap Sasuke perlahan, "aku akan menjadi malaikat penjagamu. Bagaimana?"

Sakura dibuatnya melongo dengan sukses. "Huh?"

"Aku tahu ini konyol, tapi… aku hanya ingin berbuat yang sama denganmu. Kau selalu membantuku, mendengar keluhanku, tapi aku sendiri tidak pernah mendengarkan keluhanmu."

Sakura tetap diam. Wajahnya mematung.

"Demi Tuhan, Sakura! Katakanlah sesuatu. Jangan membuatku merasa seperti orang tolol."

Gadis di hadapannya mengerjap. "Oh," katanya dengan nada terkejut, "kukira kau hanya bercanda."

.

#4 You are never mine to begin with

.

Bulan demi bulan sudah terlewati sejak pertama kali dua insan ini bertemu. Sakura yang cerewet dapat mengimbangi Sasuke yang pendiam. Ditambah tempat duduk keduanya yang berdekatan, tampaknya seluruh sekolah pun tahu mereka bersahabat… atau lebih?

Sakura tidak pernah ambil pusing terhadap hal itu. Yang ia tahu, ia dan Sasuke hanya bersahabat.

Yah, walaupun jauh dalam hatinya—juga tanpa ia sadari—dirinya mengharapkan lebih.

Dari awal pun Sasuke dan Sakura bukanlah teman atau sahabat yang saling melempar kata-kata manis. Sebaliknya, terkadang mereka melempar kertas satu sama lain karena candaan yang tidak perlu.

Apapun itu, mereka berdua sadar bahwa mereka nyaman ketika berada di dekat sahabat mereka. Sekali lagi, walaupun dalam lubuk hati mereka yang terdalam, mereka berharap lebih.

.

#19 Be a part in your life

.

"Sakura."

Ajaib. Biasanya Sakura yang memanggil Sasuke terlebih dahulu, tidak seperti ini. Dengan cepat Sakura menoleh ke belakang.

"Uh… apa kau membaca majalah dinding?"

Alis Sakura bertaut. "Baca, tapi tidak sering," sedetik kemudian ia tersenyum, "kau pasti memikirkan tentang gosip yang ditulis di artikel itu, kan? Tenang saja, Sasuke. Aku tahu kau itu terkenal dan punya penggemar di mana-mana, terlebih saat kau menjadi juara umum. Jadi, sekarang terserah padamu masih mau dekat-dekat denganku atau—"

"Maksudku bukan itu," sergah Sasuke cepat, "me—memang tentang artikel itu, tapi aku bukannya ingin menghindarimu atau apa. Justru…"

Sakura memiringkan kepalanya, menunggu Sasuke melanjutkan kalimat yang terpotong.

Pemuda itu menelan ludah. "Aku… aku hanya ingin menjadi lebih dekat denganmu, menjadi bagian dari hidupmu. Dan tidak, aku tidak peduli dengan artikel maupun gosip-gosip lain."

Sakura membuka mulutnya, namun tidak ada kata-kata yang keluar.

"Dan satu lagi," sela Sasuke, "aku tidak bercanda."

Melihat keseriusan ekspresi Sasuke—memang Ia selalu bertampang serius—Sakura pun tersenyum. "Kau tidak perlu bertanya seperti itu. Kau sudah menjadi bagian penting dalam hidupku, Sasuke."

Dan Sasuke tidak tahu apakah itu berarti 'ya' atau 'tidak'. Yang jelas saat itu ia merasakan kesenangan yang tidak terhingga.

.

#18 "I won't let you walk out of my life once more…"

.

Tidak ada kata 'jadian' dalam kamus mereka. Terlalu klise, dan terlalu norak—menurut keduanya pula. Tapi kepala sekolah yang usianya telah mendekati satu abad itu pun tidak perlu alat bantu pendengaran untuk mendengar berita yang telah tersebar ke seluruh sekolah bagai virus itu.

Bagaimana tidak? Puluhan—kalau tidak bisa dibilang ratusan—penggemar seorang Uchiha Sasuke tampak menggigit saputangan, bahkan dasi yang mereka kenakan begitu pujaan hati mereka membukakan pintu penumpang Porsche-nya dan melihat sesosok berambut pink keluar dari tempat-sakral-yang-hanya-boleh-ditempati-siapapun-yang-paling-cantik-dan-bukan-gadis-berambut-aneh-itu.

Entahlah. Sakura maupun Sasuke saja tidak ambil pusing. Mereka hanya berpikir tentang bagaimana menjaga 'keakraban' yang mereka jalin berbulan-bulan.

Karena mereka tahu, masing-masing dari mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.

.

To be Continued

.

A/N: well, sekali lagi saya minta maaf karena saya nggak pandai membuat tokoh menyatakan perasaan secara eksplisit -_- and… still, a chapter to go! Doakan supaya cepet publish-nya ya! Oh ya, saya sengaja ngepost dua chapter sekaligus karena saya pikir chap 1 itu nanggung banget ._. dan jujur saya lebih suka chap ini, hehe.

Satu lagi, semoga evey dan rici suka dan mau menerima fic abal ini ._.

.

Still need your review ^^