Chapter 1

.

.

Kise bukanlah tipikal orang yang tahan dengan perjalanan jauh. Mereka harus menempuh perjalanan dari Tokyo ke Oita terlebih dahulu. Jarak dari Tokyo ke Oita sangat jauh sekali bagi Kise. Mereka kesana dengan menggunakan Shinkansen, yang biayanya tidak bisa dibilang murah. Tapi Momoi meminta tolong pada Akashi untuk membantu mereka dalam hal ini. Keluarga Akashi merupakan konglomerat yang kaya, jadi mengurus hal seperti ini mungkin bisa dibilang cukup mudah untuknya.

Kise dan Aomine tidak berbicara satu sama lain. Mungkin ini hanya perasaan Kise saja, tetapi rasa canggung masi menyelimuti hatinya. Untung saja ada Momoi, ia membuat perjalanan mereka menjadi hangat. Momoi yang membuat perjalanan ini tidak terasa sunyi, karena sedari tadi ia berceloteh tentang betapa ia merindukan mereka semua.

Mungkin jika tidak ada Momoi, perjalanan ini akan terasa membosankan. Bagaimana tidak, perjalanan dari Tokyo ke Oita kurang lebih berlangsung selama 7 jam. Tanpa adaya gadis itu, mungkin topik yang mereka bicarakan akan terasa kaku, dan hanya seputar dunia basket saja. Selepas setelah menjadi rival, Kise rasa mereka semua akan berada dalam situasi yang sangat canggung jika saja tidak ada Momoi.

Sesampainya di Oita, van keluarga Momoi menjemput mereka. Momoi yang berperan sebagai navigator tentu saja duduk di kursi sebelah pengemudi. Di kursi tengah, terlihat seorang raksasa berambut ungu yang sedang mengunyah stik pocky. Disebelahnya, duduk seorang yang memiliki sepasang mata heterochrome. Midorima duduk disebelah Akashi, jadi bangku belakang diisi oleh Kise, Kuroko, dan Aomine.

Kuroko yang merupakan benteng penghalang antara Kise dan Aomine, sudah mulai merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Sebagai partner Aomine dulu, Kuroko sangat paham bagaimana watak Aomine.

Kuroko menghela nafasnya. Mereka selalu seperti ini sejak dulu.

"Kise-kun," panggil Kuroko. "Perjalanan ini akan memakan waktu yang lama. Aku akan mabuk jika posisi dudukku berada di tengah, bisa kita bertukar tempat ?" Kuroko menatap Kise. Sebenarnya, ia —tidak terlalu—berbohong. Kuroko bukan tipikal orang yang mudah mabuk saat di perjalanan. tetapi, melihat dari kecanggungan antara kedua orang itu, hal itu mungkin bisa sedikit membantu.

"Ehh ?" Kise terlihat kaget, Aomine pun juga langsung menatap pria kecil yang ada disebelahnya itu. "Aku membawa aromaterapi, Kurokocchi. Kau bisa menggunakannya." Kise hendak ingin merogoh isi tas nya, tetapi tangan Kuroko menghentikannya.

"Tidak perlu, aku bisa mengatasi ini." Kata Kuroko. "Aku hanya membutuhkan posisi duduk yang tepat. Jadi.. bisakah ?" Ia menatap Kise dengan senyum tipis yang lemah, seakan-akan dia benar-benar menahan rasa mabuknya. Mimik wajah polosnya membuat Kise tidak tega untuk menolak permintaannya.

Kise bangkit dari tempatnya, memberi Kuroko tempat agar ia dapat bergeser. Saat Kise hendak menduduki tempat Kuroko, ia tak sengaja bertemu pandang dengan Aomine sesaat. Terlalu singkat, karena Aomine langsung mengalihkan pandangannya. Matanya yang tajam seakan-akan berkata bahwa ia tidak ingin berada di sebelah Kise.

"Terima kasih, Kise-kun." Kata Kuroko. "Aku akan tidur sebentar." Kuroko memejamkan kedua matanya, perlahan menenggelamkan diri dalam tidurnya.

"Sacchin, berapa lama lagi sebelum kita sampai?" tanya Murasakibara. "Aku mengantuk sekali."

"Ah, mungkin sekitar 2 jam lagi. Kita tidak bisa terlalu cepat karena salju membuat jalan menjadi terlalu licin." Ia menengok kebelakang, memperhatikan wajah teman-temannya yang tampak letih setelah perjalanan mereka tadi. "Kalian bisa tidur dulu. Akan kubangunkan jika sudah sampai." Ia tersenyum pada mereka.

Akashi adalah orang kedua yang memejamkan matanya setelah Kuroko. Ia bersandar di kursi van sambil menyilangkan kedua tangannya. Murasakibara tampak bersandar di jendela, perlahan lahan menutup matanya. Midorima mulai melepas kacamatanya dan menaruhnya di saku mantelnya. Sepertiya dia juga akan beristirahat sebentar.

Momoi menatap ke arah kaca diatasnya, teman-temannya sudah mulai tertidur. Kecuali Kise dan Aomine yang sama sekali tidak berbicara apapun dari tadi. Momoi menghela nafasnya. Ia benar-benar tidak tahan melihat Aomine yang selalu memungkiri isi hatinya.

Kuroko yang hanya memanipulasi tidurnya itu pun dapat merasakan kejanggalan diantara Kise dan Aomine. Ternyata hal yang dilakukannya tidak membuahkan hasil sedikit pun.

.

.

"Jadi," kata Midorima, berusaha mengontrol suaranya serendah mungkin. "Apa maksud dari semua ini ?"

"Hei, Pelatih," kata seseorang berambut merah gelap, urat kekesalan tampak di sudut dahinya. "Kenapa mereka juga ada disini ?!"

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, dasar kutu bodoh." Kata Midorima, dia membenarkan posisi kacamatanya, tengah menatap lawan bicaranya.

"Siapa yang kau panggil kutu bodoh, empat mata!" lawan bicaranya—yang ternyata Kagami—meninggikan suaranya. Sudah lama sekali ia tidak bertengkar dengan Midorima. Rasanya tangannya sudah tidak sabar untuk melempar bola basket ke wajah Midorima.

"Hentikan, Bakagami." Kata Riko. "Kau ini masih bocah, ya?" Pelatih Seirin itu menarik telinga Kagami, tanpa menghiraukan protes yang dilemparkan Kagami.

"Ah, aku akan menjelaskannya." Kata Momoi yang sedari tadi masih sibuk memindahkan barang-barangnya kedalam penginapan. "Aku mengajak tim Seirin untuk ikut kemari, tapi sepertinya hanya beberapa saja yang ikut.." suaranya memelan.

"Ah, aku minta maaf soal itu." Kata Riko, ia melepaskan tangannya dari telinga Kagami. "Yang lainnya tidak bisa ikut karena acaranya terlalu mendadak. Disamping itu, mereka juga akan berlibur bersama keluarganya. Jadi aku hanya bisa mengajak Kagami, Kiyoshi dan Hyuuga saja." Jelasnya panjang lebar.

"Tidak masalah, Riko-nee." Kata Momoi. "Jadwal kita harus tetap berjalan, bukan?" dia berkedip ke arah Riko, yang membuat Kagami bergidik. Kedua gadis itu pasti telah menyusun suatu rencana untuk mereka.

"Tentu saja, Momoi-san." Balas Riko sambil tersenyum licik. Hyuuga disebelahnya pun ikut bergidik. Ia menatap Kagami, dan mereka pun saling bertukar pandang. Kagami dapat mengerti ekspresi wajah Hyuuga. Seakan-akan mereka mencoba berkomunikasi dengan telepati.

Firasatku buruk.

"Baiklah." Kata Kiyoshi. "Istirahatlah dulu, kita akan bersenang-senang nanti."

.

.

Penginapan itu bisa dibilang cukup besar daripada penginapan pada umumnya, dengan corak tradisional jepang yang melekat pada desain bangunannya. Didepan penginapan itu mengalir sungai kecil dengan jembatan yang menjadi penghubung antara penginapan dan jalan utama. Kurokawa merupakan kota kecil yang bersih dan sejuk. Suasanyanya sangat tenanng, dan udaranya tidak sedingin di kota lain. Hal itu mungkin disebabkan oleh onsen yang—hampir—ada di seluruh penginapan disana.

Ada 5 kamar dalam penginapan itu. Di lantai atas terdapat 3 kamar yang masing-masing dihuni oleh Riko-Momoi, Kiyoshi-Hyuuga, dan Murasakibara-Akashi. Di lantai dasar hanya terdapat 2 kamar. Kamar pertama dihuni oleh Kuroko dan Kise, sementara kamar disebelahnya dihuni oleh Aomine, Kagami, dan Midorima. Sudah bisa terbayangkan betapa ributnya kamar yang dihuni oleh ketiga orang itu.

Kamar Aomine dan Kise bersebelahan. Tapi itu bukanlah hal yang dikhawatirkan oleh Kise. Ada sesuatu yang megusik pikirannya, tapi ia tidak mau repot-repot memikirkannya. Mungkin berendam di air panas akan membuat pikirannya menjadi ringan.

"Kurokocchi," panggil Kise setelah ia memastikan bahwa pakaiannya telah tertata rapi di lemari. "Aku akan berendam di onsen, apa kau akan ikut?"

Kuroko sedang menata pakaiannya di lemari. Ia tidak cukup tinggi seperti Kise, jadi agak susah untuk menjangkau bagian atas lemari itu. "Terima kasih atas tawaranmu, Kise-kun," ia menoleh pada Kise. "Kurasa aku akan kesana saat aku selesai menata pakaianku."

"Apa kau butuh bantuan, Kurokocchi? Aku bisa—"

"Tidak apa, Kise-kun." Kata Kuroko. "Aku akan menyusul."

Kuroko tahu bahwa Kise setidaknya butuh waktu untuk sendiri—untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang mengganggunya di kepalanya. Ia butuh waktu untuk merilekskan dirinya.

"Baiklah, kalau begitu." Kise membawa perlengkapannya, lalu berjalan melewati pintu. "Aku pergi dulu, Kurokocchi!" serunya sambil tersenyum sebelum menutup pintu kamarnya.

Kuroko tersenyum tipis, lalu ia melanjutkan untuk menata pakaiannya. "Selamat bersenang-senang, Kise-kun." Gumamnya.

.

.

From: Kasamatsu-senpai

Kise, sebaiknya kau tidak usah ikut latihan esktra. Kakimu masih belum sembuh total, bukan? Istirahatlah saja dulu di rumah. Tidak ada yang memaksamu untuk berlatih. Lagipula, jika cederamu kambuh lagi, aku akan dihantui rasa bersalah.

Kise terdiam menatap pesan yang ia terima. Senyum kecil terkembang di wajahnya. Akhir-akhir ini Kasamatsu cukup sering mengirim pesan untuknya. Ia kembali mengingat hari-hari yang ia alami bersama Kasamatsu. Ada suatu hari, yang membuat Kise mulai mengubah cara pandangnya terhadap kaptennya itu. Hari itu adalah hari yang merubah pemikiran Kise.

Ya, hari itu ...

"Kasamatsu-senpai, aku mau bermain-ssu!"

"Tidak," kata Kasamatsu. "Pulanglah, Kise. Kau pikir ini sudah jam berapa?"

"Aku tidak akan pulang sampai kau membiarkanku bermain." Rengeknya. Kise terlihat seperti anak kecil di mata Kasamatsu sekarang. "Hanya sekali saja-ssu. Kumohon? Tubuhku akan melemah kalau aku tidak pernah berlatih." ia mencoba merayu Kasamatsu.

"Tidak." Hanya satu kata yang keluar dari bibir Kasamatsu.

Kise memasang wajah cemberut padanya. "Jahat-ssu."

"Siapa yang kau panggil jahat, bocah kelas satu?" dia menyeka keringat yang ada dibawah dagunya. "Kau tidak ingat kata dokter, ya? Kau harus istirahat total selama seminggu penuh. Setelah itu pun kau tidak boleh mengikuti latihan yang terlalu berat."

Kise hanya menatap Kasamatsu, memperhatikan gerak geriknya tanpa membalas ucapannya. Secara fisik, tubuh Kasamatsu memang lebih kecil darinya. Tetapi, ada sesuatu dalam diri Kasamatsu yang membuatnya pantas dijuluki sebagai Kapten. Ia bersikap lebih dewasa dari semuanya. Ia tidak pernah menunjukkan kelemahannya pada rekan-rekan timnya. Terkadang, Kise merasa bahwa Kasamatsu memikul semuanya sendirian. Ia tidak ingin membuat anggota timnya khawatir padanya.

Sekali saja ..

Kise ingin melihat Kasamatsu menangis dihadapannya.

Kise ingin Kasamatsu tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia tidak perlu bersikap tegar saat ia ingin menangis, hanya karena orang akan menganggapnya sebagai kapten yang lemah.

"Kasamatsu-senpai," panggil Kise. "Ayo bermain one on one."

"Kau ini tuli ya, Kise?" Kasamatsu berbalik memunggunginya "Aku tidak—"

"Bukankah kau berkata bahwa kau tidak bisa mengikuti latihan ekstra karena besok kau harus menjenguk ayahmu?" potong Kise. "Lagipula, ini hanya one on one ringan, kan? Aku ingin bermain denganmu sebelum kau pergi."

Kasamatsu menghela nafas. Ia menatap Kise dalam-dalam, seakan-akan mencari jawaban dari pertanyaan yang hendak dilontarkannya. Mata Kise menjawab pertanyaan Kasamatsu. Dia benar-benar serius ingin bermain one on one dengannya.

"Baiklah," kata Kasamatsu. "Tapi hanya 5 poin, bagaimana?"

Ia tengah menyeringai pada Kasamatsu. "Yang kalah menggendong yang menang sampai ke gerbang."

"Kau ini," gumam Kasamatsu. "Akan kubuat kau menyesalinya, Kise."

.

.

"Kasamatsu-senpai, kau lamban sekali."

"Kau itu berat, tahu!"

Saat ini, Kasamatsu sedang mati-matian berusaha berjalan sambil menggendong Kise di punggungnya. Sebenarnya, Kasamatsu tidak kalah dari pertandingan mereka. Kaki Kise tiba-tiba terkilir saat ia mencoba melakukan lay up. Jadi, beginilah nasib Kasamatsu sekarang.

Menggendong Kise bukan hal mudah. Tubuh Kise jelas-jelas lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Kasamatsu mungkin sudah kehilangan akal sehatnya saat ia menawarkan diri untung menggendong Kise. Tidak, Kasamatsu sudah kehilangan akal sehatnya sejak ia mulai menyadari perasaannya pada Kise. Dia sendiri pun juga tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh. Tidak ada satu pun orang yang tahu tentang hal ini, bahkan Kise sekalipun. Ralat, Kise belum tahu.

Kise memegangi kedua bahu Kasamatsu, berusaha agar ia tetap dalam keadaan seimbang meskipun Kasamatsu berjalan dengan sempoyongan. Kise tersenyum dibaliknya. Kasamatsu memang orang yang sangat bertanggung jawab.

Kasamatsu menurunkan Kise di bangku yang ada didekat gerbang. Ia merogoh isi tasnya dan mengeluarkan perban dari dalamnya.

"Kasamatsu-senpai—"

"Diam sebentar, Kise." Dia memotong kalimat Kise. "Aku akan membalut kakimu."

Kise hanya bisa diam saat Kasamatsu mulai membalut kakinya. Perlahan, Kise mulai tersenyum saat melihat Kasamatsu. Senyum yang amat tipis sehingga Kasamatsu tidak mampu melihat senyum itu jika diperhatikan sekilas. Kasamatsu adalah orang yang berkepala dingin di setiap waktu. Pikirannya yang dewasa selalu membuat Kise kagum padanya. Selain itu, kepeduliannya lah yang membuat Kise tertarik kepadanya.

Tertarik?

Tunggu..

Sedikit, hanya sedikit tertarik. Ketertarikan yang sangat amat sedikit.

Kasamatsu tidak pernah memperlakukan rekan-rekan timnya sebagaimana ia memperlakukan Kise. Ia mungkin orang yang sangat peduli, tetapi ia tidak pernah bersikap seperti ini pada anggota lainnya. Hal itu—entah mengapa—membuat Kise sedikit senang. Kise mendapat perhatian khusus dari Kasamatsu, meskipun terkadang Kasamatsu sering kali menendangnya saat ia melakukan kesalahan. Diluar hal itu, Kasamatsu bersikap begitu lembut pada Kise.

"Kasamatsu-senpai," panggil Kise. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

Kasamatsu mendongak, lalu mengangguk pada Kise. "Tentu," katanya. "Asal bukan pertanyaan untuk bermain one on one lagi denganmu."

Suara tawa terdengar dari mulut Kise. "Tentu saja tidak-ssu!" dia membantah pernyataan Kasamatsu. "Sebenarnya, pertanyaan ini bersifat agak pribadi. Jika kau keberatan, aku tidak akan bertanya."

Kasamatsu tidak membalas ucapan Kise. Ia mengeratkan perban pada kaki Kise sebelum mengikatnya agar tidak lepas. Tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba Kasamatsu bangkit untuk duduk di sebelah Kise.

Ia menghela nafas. "Aku tidak keberatan, asal jangan aneh-aneh." Katanya. "Kau ingin bertanya apa?"

Kise terdiam sejenak, berusaha menemukan kata-kata yang cocok untuk kakak kelas yang duduk disebelahnya itu. Setelah itu, ia tersenyum sambil menatap langit yang terbentang diatasnya.

"Apa Kasamatsu-senpai memiliki seseorang yang spesial?" tanya Kise.

Kasamatsu tidak tampak kaget. Tidak ada hawa kegugupan tampak pada dirinya. Ia terlihat santai, meskipun ekspresi wajahnya sedikit berbeda dengan yang tadi.

"Tidak," jawabnya santai.

"Tidak mungkin," bantah Kise. "Orang seperti Kasamatsu-senpai tidak mungkin tidak memiliki seseorang yang spesial."

"Jika kau bertanya soal 'memiliki', maka jawabanku adalah tidak."

Kise melemparkan ekspresi cemberut pada kakak kelasnya itu. "Baiklah, akan kuganti pertanyaannya." Kata Kise. "Apa Kasamatsu-senpai menyukai seseorang?"

"Oi, kau mengambil giliranku, Kise." Potong Kasamatsu

"Eh?" Kise berkedip, tidak mengerti maksud Kasamatsu.

"Kise, tadi kau sudah bertanya padaku." Balas Kasamatsu. "Sekarang giliranku, bukankah itu adil?"

"Tapi—"

"Akan kujawab pertanyaanmu jika kau menjawab pertanyaanku, bagaimana?"

"Baiklah," Kise menghela nafasnya. "Kasamatsu-senpai ingin bertanya apa?"

Kasamatsu menatap Kise dalam-dalalam. Ia menghembuskan nafasnya sebelum bertanya, "Apa kau.. Menyukai Aomine?" Ia terlihat serius, meskipun ia berusaha untuk membuat suaranya menjadi setenang mungkin.

Mata Kise sontak melebar mendengar kata-kata Kasamatsu. "Bagaimana—"

"Aku ini orang yang peka, Kise." Kata Kasamatsu sambil bersandar di bangku itu. "Kau sering—sangat sering sekali—berbicara tentang betapa hebatnya Aomine itu." Katanya, dengan penekanan pada 'Aomine'.

"Kukira itu hanya sebatas kekaguman biasa. Tetapi pada saat kau bertanding dengan Aomine, aku baru menyadari sesuatu." lanjutnya. "Pada awalnya, kau tidak ingin dia kalah. Karena itulah kau belum bisa membulatkan niatmu untuk menirunya. Itu karena kau masih memandangnya. Apa aku benar?"

Kise menatap kakinya yang baru saja dibalut oleh Kasamatsu dengan tatapan kosong. Kasamatsu dapat melihat senyum pahit yang ada di sudut bibirnya. Ia tidak menjawab, bahkan ia tidak melihat Kasamatsu. Kise hanya terdiam disana selama beberapa menit. Ia tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan itu.

"Kise—"

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Kise, memotong ucapan Kasamatsu tanpa meliriknya sedikit pun. "Yang lain bahkan tidak tahu sedetail itu. Aku berkata bahwa aku tidak bisa meniru Generasi Keajaiban karena mereka mempunyai gaya khas yang tidak bisa ditiru siapapun. Itu berarti Aomine termasuk di dalamnya. Seharusnya kau hanya berpikir sampai disitu. Apa kau tidak percaya padaku, Kasamatsu-senpai?"

"Entahlah," jawab Kasamatsu. "Aku hanya merasa ritme bermainmu pada saat bertanding dengan Seirin dan Touou sedikit berbeda, meskipun pada dasarnya kau sama-sama tidak bisa meniru Kuroko atau Aomine."

Saat Kasamatsu memperhatikan Kise, laki-laki berambut blonde itu sama sekali tidak menatapnya. Kise adalah tipikal orang yang paling tidak bisa berbohong. Mungkin lidahnya berkata bohong, tetapi Kasamatsu tidak akan pernah tertipu dengan hal itu. Kise tidak bisa menatap seseorang dalam-dalam saat ia berbohong, Kise benar-benar payah dalam hal itu.

"Kau tidak perlu menjawabnya jika kau tidak ingin, aku tidak—"

"Tidak apa," potong Kise. "Sudah tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini. Lagipula, hal ini tidak berpengaruh terhadapku sekarang."

Kise menatap Kasamatsu sebelum menyunggingkan senyum tipis padanya. Hal itu hanya berlangsung selama beberapa saat, karena Kise segera mengalihkan pandangannya dari Kasamatsu.

"Sebenarnya, aku berniat masuk ke Akademi Touou karena aku tidak ingin berpisah dari Aominecchi," kata Kise. "Tapi saat hari kelulusan, ia memintaku untuk menjauh darinya, ia tidak ingin melihatku lagi. Dia berkata aku ini menyusahkan dan tidak pantas untuk bermain dengannya, jadi..." Kise tersenyum pahit. Ia menundukkan kepalanya sebelum melanjutkan ceritanya.

"Meskipun ia bukan Aominecchi yang dulu, aku tidak pernah bisa memendam rasa dendam padanya. Jika dia memintaku untuk menjauhinya, maka itulah yang akan ia dapat." lanjut Kise. "Tapi setiap aku melihat Aominecchi, dadaku terasa sakit—sakit sekali. Aku ingin berhenti memandangnya, tetapi rasanya susah sekali karena dia adalah inspirasiku untuk bermain basket."

"Pada awalnya aku bersekolah di sini hanya untuk sekedar melupakan rasa itu. Tapi kusadari itu adalah percobaan sia-sia karena pada akhirnya aku akan masuk klub basket."

"Aku terlalu menyukai basket, rasanya sama seperti perasaanku pada Aominecchi. Aku sadar bahwa mereka saling berhubungan dan tak dapat dipisahkan. Hal itu terbukti di Interhigh yang lalu."

"Tapi di sisi lain, aku senang bisa masuk Kaijou. Aku senang bisa bertemu dan bermain basket bersama kalian. Meskipun alasanku pada awalnya adalah menjadikan sekolah ini sebagai pengalihan."

Kise mendongakkan kepalanya untuk bertemu pandang dengan Kasamatsu. "Aku... bodoh, ya?" dia tersenyum lebar. Kasamatsu tahu bahwa itu adalah senyum getir. "Aku hanya masuk ke Kaijou untuk hal bodoh seperti ini."

Kasamatsu menatap Kise. Wajah yang selalu ceria itu ternyata menyimpan kegetiran didalam dirinya. Kasamatsu menghela nafas, lalu ia mengalihkan pandangannya dari Kise. "Ya, kau benar-benar bodoh."

"Aku tidak begitu percaya jika orang sebodoh dan seceria kau ini ternyata juga bisa menyimpan hal seperti itu." Kata Kasamatsu. "Jadi hingga saat ini, kau masih menyukai Aomine. Apa aku benar?"

Kise hanya terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Kasamatsu karena Kise tahu Kasamatu pasti sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Tapi sikap Kise membuat Kasamatsu mendecak sebal.

"Kau bodoh sekali, Kise. Apanya yang 'senang' jika kau tidak bisa berhenti memandangnya." Kata Kasamatsu. Kise tersenyum tipis, seakan-akan menyetujui kata-kata Kasamatsu barusan.

"Tapi aku juga bodoh," kata Kasamatsu tiba-tiba, yang membuat Kise segera menoleh kearahnya. Kasamatsu menatap Kise. Ekspresi pada wajahnya begitu serius dan tenang disaat yang sama. "Karena aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari orang bodoh sepertimu."

Kise membelalakkan matanya. Kata-kata Kasamatsu barusan seakan membuat jantung Kise berpacu lebih cepat dari batas normalnya.

"Kau tidak bisa menggunakan seluruh anggota klub sebagai pengalihan, Kise." Kata Kasamatsu. "Kurasa seorang saja sudah cukup, bukan? Aku bisa menggantikan mereka."

Kise tidak tahu kenapa, tapi ia tersenyum. Kasamatsu adalah orang yang sangat baik di mata Kise. Tapi, saat ia berkata seperti ini ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Senyumnya itu sudah menggambarkan isi hatinya.

"Terima kasih, Kasamatsu-senpai." Kata Kise. "Aku akan mencoba untuk mulai memandangmu." Ia tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus untuk Kasamatsu.

.

.

To: Kasamatsu-senpai

Ah, aku lupa belum memberitahumu Kasamatsu-senpai. Aku sedang berlibur bersama temanku dari Teikou, sebenarnya ini adalah sebuah reuni. Tapi aku sudah memberitahu yang lainnya, jadi Kasamatsu-senpai tidak perlu khawatir. Maaf aku belum memberitahumu T.T Ah, bagaimana keadaanmu, Kasamatsu-senpai? Bagaimana dengan ayahmu?

Itu adalah balasan Kise sebelum ia berendam di onsen.

Kise merendam seluruh tubuhnya—kecuali bagian kepalanya—dalam air panas itu. Pikirannya mulai tenang. Rasa lelahnya telah hilang seketika ia berendam disana. Onsen itu tampak sepi, tak ada seorang pun disana. Mungkin terlalu sibuk menata barang mereka atau lebih memilih istirahat sebentar dalam kamar. Kise bisa memaklumi hal itu, karena perjalanan mereka bukanlah perjalanan yang singkat.

Onsen itu sangat luas, dan lebih tampak alami daripada buatan. Ada beberapa pohon dan bebatuan di sisi onsen itu. Pemandangannya juga luas. Jika bukan karena Momoi dan Akashi, mungkin Kise sudah menghabiskan banyak uang untuk bisa kesini.

Kise menghela nafas. Mereka memang teman yang baik. Tetapi sifat individual mereka sekarang tak terbantahkan. Meskipun Kuroko tidak termasuk dalam hal itu. Dan Midorima mulai bisa percaya dan lebih mengandalkan rekan tim nya sekarang. Kise berharap mereka bisa berubah, seperti pada awal Kise masuk di klub basket Teikou. Itu adalah saat-saat yang sangat dirindukan Kise. Dimana Akashi selalu peduli dengan anggota timnya. Saat Murasakibara tidak terlalu meninggikan dirinya seperti sekarang. Dan .. Aomine, yang selalu bermain dengan senyum gembira terkembang di wajahnya.

Pemikirannya itu terganggu saat pintu onsen itu terbuka pelan. Tanpa melihat kebelakang pun rasanya Kise sudah tahu bahwa itu adalah Kuroko karena tadi ia berkata akan segera menyusul Kise jika ia sudah selesai bergelut dengan pakaiannya.

"Kurokocchi, kau sudah selesai menata pakaianmu ?" tanya Kise. "Cepat sekali."

Tak ada jawaban. Seseorang—yang ukuran tubuhnya lebih besar daripada Kuroko—tiba-tiba merendamkan tubuhnya dalam air panas itu. Kise sontak menoleh kearah orang itu. Ekspresi kaget tersirat di wajahnya.

"Aominecchi.."

.

.

"Bagaimana menurutmu jika seorang Kasamatsu Yukio menyukai Kise Ryouta?"

Aomine hampir tertawa saat pertanyaan itu terucap dari bibir Momoi, kecuali saat ia melihat ekspresi serius di wajahnya.

"Satsuki," kata Aomine. "Aku sedang tidak ingin bercanda."

"Aku tidak bercanda—atau pun berbohong—Dai-chan." Momoi menghela nafasnya. "Kumohon, jangan membohongi dirimu sendiri. Lagipula, tidakkah kau berpikir Ki-chan sudah cukup tersakiti? Kata-katamu saat di Interhigh dan hari kelulusan sangan menyakitkan, kau tahu."

"Dengar, Satsuki. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau pikirkan, tapi aku benar-benar tidak membohongi diriku sendiri." Bantah Aomine. "Lagipula, apa yang aku katakan adalah kenyataan."

"Lalu, mengapa kau berkata kau ingin Ki-chan menjauh darimu ?" tanya Momoi. "Apa kau terlalu takut akan perasaanmu pada Ki-chan sehingga kau memutuskan untuk menjadikannya musuhmu?"

Aomine melirik sahabatnya itu gusar. "Satsuki," desisnya. "Aku sudah cukup muak dengan topik ini."

Momoi menghela nafasnya. Ia menatap Aomine dengan tatapan kasihan. "Dai-chan, jangan bilang aku tidak mengingatkanmu nanti," kata Momoi pelan. "Penyesalan hanya akan datang di belakang, Dai-chan. Jadi, jangan menyalahkan Ki-chan jika suatu saat nanti ia berpaling pada kaptennya."

Momoi mulai berjalan melewati Aomine, sebelum ia berhenti untuk menoleh pada sahabatnya itu. "Kuharap kau akan menyadari perasaanmu sebelum hal itu terjadi."

Momoi benar-benar tidak memahami jalan pikiran Aomine. Ia terlalu keras kepala. Aomine bukan tipikal orang yang begitu peka dengan keadaan sekitarnya. Ia cenderung bersikap acuh, meskipun ada sesuatu yang mengusiknya dalam hatinya. Momoi sudah mengenal sahabatnya itu sejak kecil, dan seperti itulah sifat Aomine. Ia cenderung menyimpan perasaannya dalam hatinya daripada mengungkapkannya pada orang lain.

Dalam sudut pandang Momoi, Aomine terlalu takut bahwa perasaannya pada Kise akan muncul ke permukaan. Ia tidak menyadari hadirnya perasaan itu. Ralat, ia tidak mau menyadari hadirnya perasaan itu. Aomine terlalu angkuh untuk membiarkan perasaan itu menguasai dirinya. Aomine tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

Meskipun itu artinya harus menyakiti Kise dan dirinya sendiri, tidak apalah..

.

.

a/n:

tadaaa~ terlalu panjang nggak sih._. kepanjangan yak -_-

mungkin ceritanya disini ngebosenin, soalnya saya lebih suka cerita chapter 2 ntar XD

maaf lagi kalo chara nya terlalu OOC, bakal saya perbaikin lagi *bows*

terima kasih untuk reviewnyaaaaaa ! XD terimakasih banyak, review kalian benar-benar berharga XD

anyway, ini balasan reviewnya!

Kyouko Bondevik: terima kasih review nya !hmmm, Aoki gak yaaa? Aoki gak yaaa XD lihat aja, kalo aomine nya terlalu nyebelin yaaaaa... aokisekasa hahahahaha

Chesee-ssu: bener! episode 25~ aomine nya terlalu gengsi buat ngakuin sih, kasian kise juga sebenernya. tapi kise enak buat disiksa /jahat banget/ xD hehehe, terima kasih review nya anyway !

Ai Selai Strawberry: terima kasih review nyaaa ! XD soal ending, itu tergantung aomine dia bakal ngapain XD ngahahahaa

Fufufu: terima kasih review nya ! saya coba ya, itu pun kalo aomine mau kerja sama. abisnya dia terlalu gengsi sih T.T

.

.

sekali lagi, terima kasih banyak ! review kalian bener-bener nambah semangat loh!

terima kasih sudah mau mampir dan membaca fanfic ini ^^

maaf kalo ada typo atau ceritanya ngebosenin atau OOC atau gak jelas T.T

mind to review ? Review kalian sangat berharga sekali!~