.
.
Aruna Wu
Presents
.
Another HunHan Fan Fiction
entitled
"OVERDOSE"
.
.
.
12 Desember 2014
"Itu benar yang mulia… aku yang membunuhnya!"
Seseorang yang duduk di kursi terdakwa mengakui perbuatannya dalam persidangan. Suasana persidangan menjadi ricuh dan gaduh. Seorang wanita paruh baya menangis tersedu dibangku penonton persidangan. Namun saat mengakui kesalahannya, orang itu sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah sama sekali. Dia tampak selalu tenang dan sama sekali tak terbebani.
"Harap tenang!" seseorang yang duduk sebagai hakim menegaskan suaranya.
"Sekali lagi saya bertanya, ini pertanyaan final. Apa anda yang membunuhnya?" tanya hakim itu tepat menatap dua bola mata orang yang duduk di kursi terdakwa.
"Itu benar yang mulia…" bisik orang itu seraya menyeringai bangga.
"Aku… aku yang membunuhnyaaa ahahahahahaa…" orang itu kembali tertawa, seakan yang baru saja dia katakan adalah hal yang lucu.
"Baiklah, karena terdakwa sudah mengakui perbuatannya maka terdakwa dijatuhi hukuman mati."
.
.
.
Main Cast: EXO - Sehun, Luhan
Side Cast: EXO Kris, Tao, Suho, Xiumin
Other Cast: EXO Kai, D.O, Baekhyun, Chanyeol, Lay, Chen
Cameo: Surprising
.
Gender Witch (GS)
Rate: T
Story: Love, Friendship, Hurt/Comfort, Angst
.
Disclaimer: All the cast belong to their selves
Idea of story, story line, plot and essential of this fanfiction belong to the author.
Aruna Wu
.
No Bash. No Hate. No Plagiarism. No Copy Paste
.
.
Aruna Wu
presents
OVERDOSE
.
.
.
Chap 1
"Psycho"
.
.
.
Seoul, 18 Desember 2013
"Emmmhh…"
Seorang namja berambut hitam cepak menggerakkan tubuhnya tidak nyaman diatas tempat tidur empuknya. Samar – samar cahaya matahari mulai menerobos masuk ke celah – celeah jendela yang masih rapat tertutup gorden berwarna maroon.
Namja tampan itu mencoba merenggangkan otot – otot tubuhnya, kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap pagi. Namja itu juga bertelanjang dada. Hanya sebuah boxer hitam menutupi daerah privatnya di balik selimut. Siapa peduli, toh dia kan hanya tidur sen…
Puk!
Tangannya merasakan sesuatu yang aneh di samping kanan tempat tidurnya yang seharusnya kosong. Namja itu lalu menghela napas beratnya seketika moodnya jadi tidak se asik tadi.
Ternyata tidak. Dia tidak tidur sendirian, Dia salah. Gundukan dibawah selimut yang ada di sampingnya menjelaskan hal berbeda.
Puk!
Namja itu memukul kasar gundukan yang ada di sampingnya lagi. Seakan sudah lelah dengan fenomena itu.
"Sejak kapan kau ada disini… Lu?" dengan sigap telapak tangan lebarnya menyikap bed cover biru tua yang menutupi gundukan yang ternyata adalah rusa cantik bernama Luhan.
"Good morning Kris!" sapa yeoja itu dengan suara serak khas baru bangun tidurnya.
Surai madu Luhan cukup acak – acakan, dia hanya menggunakan kaus dalam dan celana pendek berwarna hitam diblaik selimut itu.
"Cepat bangun dan pergi dari kamarku sekarang juga!" dengus Kris mengusir Luhan yang masih asik mengucek mata rusanya dengan imut.
"Tidak bisakah kau sedikit lembut pada seorang yeoja?" protes Luhan lalu mempoutkan bibirnya
"Bagaimana aku bisa bersikap lembut pada yeoja sepertimu!" Kris membentak Luhan
"Oh ayolah Kris… ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama kan?!" ujar Luhan seraya mengikat rambutnya yang sepanjang bahu
"Tapi kondisi waktu itu dan sekarang sudah berbeda jauh Luhan!" Kris mengenakan kembali kaos tipisnya yang tadi tergeletak manis di atas meja nakas.
"Apanya yang berbeda? Kita masih tetap kembar dan kau masih tetap adikku! Sopanlah sedikit pada noonamu ini Kris!" gerutu Luhan mulai bangkit dari ranjang.
"Kau hanya lebih tua 15 menit dariku, aku tidak akan pernah repot – repot memanggilmu noona! Tidak akan!" sanggah Kris kemudian beranjak meninggalkan Luhan yang masih menyilangkan tangannya di hadapan Kris
"Oh ya… karena kau sudah menginap tanpa ijin di apartemenku, jadi alangkah baiknya kau mau merapikan… paling tidak ranjang itu… kau ikut andil dalam membuatnya berantakan!" ucap Kris enteng kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.
Huft.
Luhan meniup poninya kasar dan menatap kesal pada adik kembarnya itu.
"Seenaknya!" racau Luhan.
.
Kris baru selesai mandi, dia sudah berdandan rapi dan mengenakan seragam kebanggaannya. Kris adalah seorang polisi, dia bertugas di district Gangnam sebagai kepala bagian penanganan tindak criminal. Walaupun dia polisi tapi dia sangat jauh dari kesan seorang polisi yang galak dan tegas, dia memiliki sifat narsis yang cukup tinggi, dia selalu yakin bahwa dia adalah polisi paling tampan di Korea.
Luhan sendiri baru saja menyiapkan sarapan untuk adik kembar tersayangnya itu. Tidak sulit, hanya semangkuk cereal gandum dengan kiwi, jeruk dan strawberry serta segelas susu vanilla hangat. Kris tidak mau makan nasi untuk sarapan. Katanya model sarapan konvensional begitu bukanlah stylenya.
"Aigoo… adikku terlihat sangat tampan pagi ini, ayo sarapan dulu!" sapa Luhan yang sudah duduk disalah satu kursi meja makan di apartemen Kris.
"Kau ini sudah seenanknya menginap, seenaknya juga memakai bajuku! Itu adalah baju mahal!" gerutu Kris pada kembarannya
Kris tampak tidak suka jika Luhan mengenakan kemeja kotak – kotak bertuliskan "showered of blessing" miliknya. Mahal.
"Pelit sekali sih! Siapa yang mengajarimu jadi orang pelit eoh?" gerutu Luhan yang lebih asik dengan gelas susunya sendiri ketimbang menatap kembarannya yang kini sudah mulai makan
"Kau tidak ke Rumah Sakit?" Kris bertanya setelah melihat jam di tangannya namun gadis di hadapannya ini tak kunjung bersiap berangkat kerja
"Aku sedang malas ke Rumah Sakit, lagipula bagian psikiatri tidak akan punya pasien yang gawat. Kau ingat kan aku ini dokter special…" bangga Luhan seraya menepuk dua pipinya sendiri.
"Jangan begitu, membolos bisa membuatmu kehilangan. Siapa tau ada kejadian menarik hari ini di rumah sakit, sayang kan kalau kau melewatkannya" Kris masih asik makan sambil menatap Luhan di hadapannya
"Shireo… Chanyeol si dokter labil itu pasti akan curhat masalah tidak penting terus padaku! rasanya ingin kubunuh dia.." Luhan berkata seraya mempraktikan bagaimana dia akan membunuh Chanyeol dengan cekikannya pada gelas susu yang sudah kosong di tangannya.
"Heol… kau tidak akan berhasil membunuh Chanyeol! Dia seperti raksasa begitu" tantang Kris
"Aku rusa cerdik… aku pasti bisa membunuh raksasa idiot macam itu!" dengus Luhan
"Sudah lah Lu… kau kan belum tau rasanya sakit hati, walaupun kau seorang psikiater tapi untuk urusan cinta, kau tidak tau apapun!" gumam Kris masih dengan serealnya
"Aku ini psikiater pintar, aku sudah baca puluhan buku untuk penanganan cinta!" Luhan tidak mau diremehkan
"Cinta itu bukanlah hal yang bisa dipelajari dari buku! Kau tidak akan bisa mempelajari dan menguasai cinta hanya dengan membaca buku seperti kau belajar sejarah!" kilah Kris agak ngotot
"Ya! Jangan membela sahabatmu terus!" Luhan mendeath glare Kris yang seenaknya pamer gummy smile dihadapannya.
Luhan diam, Luhan memang cerewet tapi dia pasti akan habis kata – kata jika sudah berdebat tentang cinta bersama adik yang lebih muda 15 menit darinya ini.
"Jadi… kenapa semalam kau ke apartemenku? Kenapa tidak pulang ke rumah? Apa ada masalah?" Kris langsung bertanya hal yang sedari tadi menjadi poin pentingnya setelah sekian banyak bergurau dengan Luhan
Luhan menggeleng lalu tersenyum lemah, ada sesuatu di senyum Luhan, Kris tau itu, dia mengenal kembarannya sangat baik.
"Jangan berbohong, aku mengenalmu!Jika kau tidak sedang ada masalah, untuk apa kau datang kemari dan tidur bersamaku semalam?"
Luhan mengangkat kepalanya dan menatap kedua manic mata Kris di hadapannya, manic mata yang sama persis dengan miliknya, hanya saja bentuk mata Kris dan Luhan yang berbeda membuat tatapan mata Kris jadi lebih tajam.
"Aku baik – baik saja adikku…" Luhan memaksakan senyumnya
"Apa karena papa? Atau karena wanita itu?" Kris memandang Luhan serius
Luhan kembali menggeleng dan tersenyum. "Tidak Kris… aku datang karena aku sangat merindukan adikku… apa tidak boleh?"
"Apa adik tirimu membuat masalah lagi?" Kris menyeringai sambil tersenyum penuh arti.
Dan Luhan mengangguk dan senyum lebarnya kembali mengembang.
"Ne! saudara tiriku itu selalu saja buat masalah!" ledek Luhan diiringi kekehan ringan diakhir kalimatnya
"Jadi panda manis itu menyusahkanmu lagi?" Kris juga bertanya sedikit terkekeh
"Manis? Kris, apa kau masih mengharapkan panda manja itu?" gerutu Luhan dengan raut wajah pura – pura kesalnya
"Jadi kau cemburu padaku?"
"Tentu saja tidak… tapi memang akhir – akhir ini dia sangat ribut di rumah, bising!" Luhan mengalihkan pandangannya dari Kris
"Aigooo…. Beruntungnya aku karena mama tidak menikah lagi setelah bercerai, jadi aku tidak harus memiliki saudara tiri seperti itu… hahahaha" Kris malah memamerkan senyum bahagianya yang membuat namja tampan itu malah terkesan idiot.
"Dia juga mamaku! Bukan hanya mamamu! Kau harus membaginya denganku!" Luhan kembali mendengus.
"Kenapa kau tidak keluar dari rumah itu dan tinggal di apartemen saja?"
Luhan menatap Kris tajam, ini bukan kali pertama Kris bertanya demikian, tapi walaupun Luhan selalu menjawab dengan jawaban yang sama Kris toh masih tetap menanyakannya.
"TIDAK! Aku bukanlah orang yang akan keluar dari rumah itu. Itu rumahku. Aku tumbuh disana sejak kita lahir Kris, banyak kenangan saat keluarga kita masih utuh di sana" tegas Luhan yang kini nampak benar – benar emosi.
Tanpa kata Luhan langsung menyerobot gelas dan mangkuk kosong di hadapan Kris dan membawanya ke bak cuci piring dan mencucinya.
Kris hanya menghela napasnya, kemudian tersenyum getir kearah punggung Luhan. Kakaknya. Kris berdiri lalu menghampiri Luhan di bak cuci piring.
Greb
"Kakakku adalah yeoja terkuat diseluruh galaxy"
Kris memeluk Luhan dari belakang dan meletakkan dagunya di pucuk kepala Luhan. Kris tau betul, walaupun Luhan adalah sosok gadis yang kuat, tegar dan ceria. Namun dia pasti akan jadi lemah ketika sudah menyangkut masalah keretakan rumah tangga kedua orang tuanya.
Tuan Lu dan Nyonya Wu dulunya hidup sangat bahagia bersama dua putra dan putri kembar mereka yang lucu dan cerdas. Lu Han lebih tua 15 menit dari Kris, gadis itu tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sangat manis. Dia juga cerdas, menyenangkan, dan pandai menari juga menyanyi sama seperti nyonya Wu. Sementara Kris, walaupun lebih muda 15 menit dari Luhan tapi pertumbuhannya benar – benar menakjubkan. Dia tumbuh tinggi dan menjulang bahkan hingga diatas rata – rata orang biasanya. Kris tidak kalah pintar dari Luhan, dalam bidang akademik mereka selalu bersaing ketat. Jika Luhan memiliki kelebihan di bidang seni, maka Kris memiliki kelebihan di bidang olah raga. Dia dulunya adalah kapten tim basket sekolahnya dan Luhan sangat bangga akan hal itu.
Jika Kris menang pertandingan maka dia akan berkata, "Siapa dulu, kapten tim basket sekolah kita kan adikku! Aku yang mengajarinya main basket dulu"
Luhan sangat suka mengakui Kris sebagai adikknya pada siapapun, Luhan bahkan mematok standar laki – laki idamannya agar bisa setara atau paling tidak lebih baik dari Kris. Chanyeol dulu adalah salah satu yang pernah naksir Luhan, tapi sayangnya Chanyeol sama sekali tidak menarik perhatian Luhan, kata Luhan Chanyeol terlalu berisik.
Berbeda dengan Luhan, Kris sangat benci jika Luhan sudah berkoar di depan public jika dia adikknya, Kris sangat benci jika Luhan memanggilnya "Adikku" di depan public. Kenapa? Karena semua orang akan selalu berkata seperti ini,
"Aku tidak percaya jika Luhan adalah kakaknya Kris, Kris nampak jauh lebih tua dari Luhan."
Salahkan wajah imut Luhan dan wajah sangar Kris yang memang anugrah Tuhan itu.
Rumah keluarga Lu dulu tidak pernah sepi, Luhan dan Kris akan selalu ribut, ada saja yang mereka perebutkan. Mulai dari makanan, mainan, sepeda, remote TV, buku bacaan, tempat tidur, bahkan kamar mandi. Fakta unik tentang kembar Luhan dan Kris, sejak mereka dilahirkan hingga orang tua mereka bercerai, mereka berdua tidur sekamar dan seranjang. Keduanya walaupun selalu bertengkar, tapi keduanya juga tidak akan pernah bisa tidur terpisah, mereka selalu tidur dengan saling menggenggam tangan masing – masing. Ini cukup aneh mengingat mereka adalah kembar yeoja dan namja.
Luhan selalu bertingkah sebagai kakak yang perhatian, selalu mengusak rambut Kris sebelum mereka masuk kelas masing – masing dan memaksa Kris makan bekal yang sudah disiapkan mama mereka. Kris walaupun terlihat selalu cuek dan tak peduli pada Luhan dan tak jarang membentak Luhan yang dinilai terlalu cerewet itu, tapi dia adalah adik kembar yang sangat menyayangi kakaknya. Kris tak akan pulang jika Luhan belum pulang, Kris tidak akan pernah meninggalkan Luhan. Dan bahkan dia sendiri akan mengintimidasi semua orang yang mencoba mendekati Luhan, termasuk Chanyeol sahabatnya.
Namun kebahagiaan keluarga itu harus berakhir ketika Tuan Lu memutuskan untuk menceraikan mama mereka. Alasannya? Karena Tuan Lu berselingkuh dan malah lebih memilih seorang janda beranak satu yang diselingkuhinya itu daripada Nyonya Wu yang jelas ibu dari kedua anaknya.
Dulu nama Kris bukanlah Kris Wu. Dulu namanya adalah Lu Fan, kembar Lu Han dan Lu Fan. Namun semenjak ketuk palu persidangan menyatakan kedua orang tuanya resmi bercerai, hak asuh Lu Fan jatuh pada sang mama sementara hak asuh Lu Han jatuh pada sang papa. Dan semenjak bercerai, Nyonya Wu pindah ke Busan dan hidup berdua bersama putranya di sana, Kris pun mengganti namanya menjadi Kris Wu mulai saat itu.
Karena perceraian kedua orang tua mereka Luhan dan Kris harus terpisah semenjak mereka lulus SMP. Tak lagi ada kontak, tak lagi ada komunikasi karena Papa mereka nyata – nyata tidak mengijinkan mereka bertemu atau berhubungan, Tuan Lu takut jika Luhan akan kabur mencari mamanya. Namun seiring mereka tumbuh dewasa, Kris yang bekerja sebagai polisi harus ditempatkan di Gangnam, Seoul dan menyewa sebuah apartemen yang letaknya justru sangat dekat dengan rumah sakit tempat Luhan bekerja. Walaupun sempat jauh cukup lama, tapi 3 tahun belakangan ini mereka kembali dekat.
.
.
.
.
"Dia tidak akan mendengarkanmu bicara yeobo…"
Seorang wanita paruh baya namun masih tetap terlihat imut sedang menatap miris seorang namja tampan berambut perak dihadapannya. Yeoja itu menatap penuh frustasi terhadap putra tunggal semata wayangnya yang tampan itu.
"Sudah 3 tahun, tapi dia masih tetap seperti ini… apa sebaiknya kita suruh dia tinggal dirumahh lagi?" seorang namja yang berstatus kepala keluarga di rumah itu juga turut memandang prihatin namja tampan itu.
Yang dipandang prihatin malah tak peduli, kenapa?
Karena dia duduk dengan tenang sambil melahap roti panggang selai strawberrynya. Dan yang membuat kedua orang tuanya prihatin adalah telinga namja itu kini tengah terpasang earphone berwarna putih yang langsung tersambung dengan ipodnya.
Namja itu adalah Oh Sehun. Dia sangat tampan, benar – benar tampan. Dia juga sangat cerdas, bagaimana tidak cerdas jika peringkat indeks prestasinya selalu menjadi yang tertinggi di jurusan Hukum Universitas Seoul? Dia juga sangat kaya, tentu saja… Oh Kyuhyun, appanya adalah seorang pemilik firma hukum terkenal di Korea dan Sehun adalah satu – satunya penerus firma hukum tersebut.
Selain tampan namja bermarga Oh itu juga sangat stylish, hal itu didukung oleh sang eomma yang juga adalah seorang designer brand ternama di Korea. Siapa yang tak kenal Lee Sungmin dan brandnya "S&E"? Semua model bahkan berlomba – lomba untuk bisa menjadi model brand tersebut. Dan salah satu model tetap S&E adalah Oh Sehun. Bukan… dia bukan seorang model professional, hanya saja sang eomma selalu meminta Sehun untuk menggunakan brand miliknya itu. Dan benar saja, tak ada satupun brand lain di lemari pakaian Sehun mulai dari pakaian terdalam hingga mantel terluar semua bermerek S&E. Bukan apa – apa, Sehun hanya terlalu malas untuk keluar dan membeli pakaian, selain itu mumpung gratis kenapa tidak?
"OH SEHUN!" Kyuhyun menegaskan suaranya menegur sang putra yang hingga kini nampak masih asik dengan dunianya sendiri.
Tak ada tanggapan dari namja berkulit pucat itu, Sehun hanya diam, tenggelam dalam musik yang mengalun melalui earphonenya dan makan dengan tenang.
"Sehun-ah…" Sungmin lalu menepuk pelan bahu sang anak.
Sehun sedikit terkejut, dia menampakkan ekspresi seperti baru kembali dari alam bawah sadarnya dan menyadari jika kini kedua orang yang dia panggil eomma dan appa sedang menatapnya penuh kekhawatiran.
Sehun segera mencabut earphone dari telinganya, mempause musik di earphonenya lalu menatap Sungmin dan Kyuhyun bergantian.
"Waeyeo?" tanya Sehun polos.
"Eomma perhatikan sejak kau mulai tinggal di apartemenmu sendiri kau selalu saja tidak pernah lepas dari ipodmu!" Sungmin berkata tegas
"Ah… aku hanya sedang mendengarkan beberapa lagu bagus… maaf eomma aku tak mendengarkan kalian bicara" Sehun tersenyum manis pada kedua orang tuanya
"Hanya mendengarkan beberapa lagu bagus? Kau sampai punya 4 ipod hanya untuk mendengar lagu bagus, Oh Sehun?" tanya Kyuhyun seraya mengutak – atik makanan di hadapannya
"Memangnya kenapa appa? Jika yang satunya mati dan sedang di charge maka aku bisa menggunakan yang lain." Jawab Sehun enteng
"Nak… eomma khawatir pada kesehatanmu… memang mendengarkan musik itu bagus, tapi jika itu berlebihan pasti akan buruk, semua hal yang berlebihan pasti akan jadi buruk sayang…" ucap Sungmin penuh kekhawatiran
"Aku masih bisa mengontrol diriku eomma." tanggap Sehun singkat
"Apa kau sudah memiliki teman? Sudah 3 tahun kau tinggal di apartemenmu sendiri… mana janjimu?" Kyuhyun menatap tajam Sehun namun yang di tatap nampak tak menghiraukan
"aku sibuk kuliah" jawabnya masih singkat
"Sehun-ah… hidup itu butuh teman nak, kau tidak bisa terus sendirian, kau butuh paling tidak satu orang untuk kau ajak berbagi, setidaknya terbukalah pada dunia luar…" Sungmin makin khawatir pada putra tunggalnya
"Aku ada kuliah pagi eomma… aku berangkat!"
Tanpa peduli bagaimana perasaan kedua orang tuanya Sehun langsung menggunakan kembali earphonenya, berdiri, mengaitkan ranselnya di bahu dan melangkah santai meninggalkan dapur. Sehun tidak peduli. Dia bahkan lelah dengan bagaimana eomma dan appanya memaksa dia untuk selalu mencari teman.
Oh Sehun. Namja yang nampak sempurna dari luar, namun didalamnya, dia sakit.
Sehun lahir sangat normal dan sehat 21 tahun yang lalu. Sungguh Sehun adalah bayi yang tampan dan menggemaskan. Sejak Sehun lahir dia bahkan sudah menjadi sosok kebanggaan keluarga terpandang Oh.
Namun menginjak usianya ke 5, ada kelainan dalam diri Sehun. Sehun tidak suka berada diluar dan bergaul dengan orang lain. Sehun lebih suka diam di kamar, bermain sendirian, belajar sendirian dan melakukan hal apapun sendirian. Bahkan ketika usianya menginjak 7 tahun, Sungmin sang eomma sering kewalahan untuk hanya sekedar membujuk Sehun mau keluar dari kamarnya.
Hari pertama Sehun masuk sekolah pun tidak berbeda. Sehun memang awalnya mau masuk kelas dengan jumlah 10 orang siswa di dalamnya, tentu setelah Sungmin dan Kyuhyun berjanji jika Sehun boleh menghabiskan akhir pekan sepenuhnya di dalam kamar. Sehun memang masuk kelas dan duduk di bangkunya, namun Sehun sama sekali tidak mau berinteraksi. Sehun sama sekali tidak pernah berbicara banyak tentang apapun, perkenalan pun dia hanya menyebutkan nama dan usianya. Saat jam belajar Sehun hanya memilih diam, tidak sedikitpun merespon apa yang guru dan teman sekelasnya lakukan. Dan yang membuat terkejut, minggu pertama Sehun sekolah dia langsung jatuh sakit.
Sehun sempat demam tinggi, dan dokter berkata Sehun kelelahan. Sungmin yang banyak mendapatkan laporan dari gurunya di sekolah bingung terhadap apa yang dokter itu katakan. Sehun sama sekali tidak bergerak banyak di sekolah, jangankan bergerak berbicara pada teman sekelas dan gurunya saja pun hanya sekedarnya saja.
Kemudian dokter itu meminta untuk mengadakan sedikit observasi terhadap Sehun. Dan setelah sekitar 1 bulan observasi, akhirnya dokter itu berkata "Putra anda adalah seseorang yang introvert, bahkan dalam kasus putra anda dia sama sekali kesulitan untuk menerima dunia luar masuk ke dunia dalam dirinya. Putra anda akan merasa lelah saat berada diluar dalam waktu yang lama. Ini bukan penyakit fisik, bukan juga berarti putra anda mengalami kelainan jiwa atau mentalnya, putra anda bahkan sangat cerdas, hanya saja… dia introvert berat"
Sungmin dan Kyuhyun tentu sangat resah dengan perkembangan Sehun selanjutnya. Setelah mendapat keterangan begitu dari dokter, Sehun akhirnya berhenti sekolah di sekolah regular dan memulai homeschoolingnya. Menakjubkan! Belajar di dalam kamar hanya dengan satu orang guru khusus membuat kecerdasan Sehun mampu berkembang pesat, Sehun sangat cerdas. Dia mampu menerima segala bentuk informasi dan pelajaran dari yang sifatnya menghapal hingga bentuk hitungan yang sulit sekalipun. Bahkan ketimbang mainan Sehun lebih suka membaca buku.
Sehun tumbuh dengan baik walau hanya sendirian. Bukan berarti tidak keluar rumah membuat Sehun tidak tau dunia luar. Sehun tau banyak tentang dunia luar dan sangat sensitive dengan keadaan tersebut karena anak itu suka membaca koran dan dia juga tau apa yang sedang tren saat ini melalui radio atau televisi. Sesekali memang Sehun diajak keluar untuk menikmati suasana dunia luar, tapi sama sekali. Sehun tak tertarik.
Sehun tetap menjalani hidup sendirinya hingga dia lulus Senior High School. Tentu dia melewati jenjang itu di kamarnya, homeschooling. Setelah lulus dari sana, Sehun ingin melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. Jika orang lain akan pusing memikirkan susahnya tes masuk perguruan tinggi, Sehun yang terlampau jenius itu tidak akan memikirkan hal seremeh itu. Yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya bisa kuliah di rumah.
Tapi tentu saja hal seperti itu tidak ada. Tak ada homeschooling untuk tingkat perguruan tinggi. Tidak. Walaupun kini ada Online learning dimana mahasiswa bisa belajar dari rumah tanpa harus hadir ke kelas dan hanya membaca buku di rumah. Ya awalnya Sehun juga memilih untuk mengikuti program Online Learning dari Ofxord university. Tapi masalahnya terletak pada Kyuhyun yang tidak lagi mengijinkan Sehun untuk mendekam di kamarnya. Tidak. Sehun adalah putra tunggalnya, masa depan keluarga terpandang Oh ada di tangan Sehun. Kyuhyun tidak akan lagi mengijinkan anak itu untuk mendekam di rumah.
Kyuhyun akhirnya memberikan pilihan, "Kau boleh kuliah tapi kau harus kuliah di Seoul University dan menjadi selayaknya mahasiswa biasa, atau kau boleh tetap dirumah tapi kau sama sekali tidak akan pernah kuliah"
Dengan nekat, Sehun yang gila belajar akhirnya memilih pilihan pertama. Dan dia belajar untuk hidup diantara orang lain dan dunia luar. Tapi untungnya kehidupan kampus bukanlah kehidupan massa seperti bangku sekolah. Di perguruan tinggi kau bebeas memilih untuk mau bergaul atau tidak, apalagi jika kau memiliki otak yang lebih encer dari pada air seperti Oh Sehun. Sehun sama sekali tidak mau melirik yang namanya kegiatan organisasi, club atau himpunan mahasiswa sejenis itu yang mengharuskan dia untuk bergaul. Sorry to say but Sehun memilih untuk hanya menjadi mahasiswa dan mengukir prestasi mengagumkan. Bahkan jika ada indeks prestasi yang lebih tinggi daripada 4, Sehun pantas mendapatkannya. Dia benar – benar jenius.
Suatu hari Sehun ingin merasakan sedikit kebebasan dari orang tua yang selalu bertanya tentang bagaimana kampus, bagaimana kuliah, bagaimana teman – teman dan bagaimana yang bla bla bla lainnya. Sehun lelah dengan pertanyaan macam itu. Akhirnya dia meninta untuk pindah rumah dan tinggal di apartemennya sendiri.
"Aku janji aku akan mencari teman, paling tidak satu… tapi… ijinkan aku untuk tinggal sendiri"
Ucap Sehun kala itu. Kyuhyun dan Sungmin tentu merasa ini adalah perubahan besar bagi pangeran mereka yang mau dengan sendirinya berjalan keluar dari istana mereka. Apalagi dengan iming – iming Sehun akan mencari teman. Oh ya Tuhan itu kemajuan namanya.
Langsung saja kata "Iya" diucapkan oleh kedua orang tua Sehun dan membelikan namja itu sebuah apartemen single yang mewah yang juga tak cukup jauh dari kampus Sehun. Dan dari saat itu lah Sehun tinggal sendiri.
Tidak seperti yang Sehun janjikan, semenjak tinggal sendiri Sehun malah lebih penyendiri lagi. Pernah dia tidak sama sekali mengucapkan satu katapun selama seharian penuh. Dan satu hal yang lebih parah. Sehun mulai kecanduan.
Awalnya Sehun hanya iseng mendengarkan musik sebagai teman belajar atau hanya sekedar hicuran yang membuatnya relax. Dia memilih berinteraksi dengan ipod dan earphonenya ketika tidak ada satupun orang yang dia ajak berinteraksi dalam kehidupan sehari – harinya. Di kampus? Sehun adalah tipe mahasiswa yang datang, duduk, lalu pulang. Orang – orang di kampus pun tau nama Sehun karena mereka mencari tau sendiri. Tak sekalipun Sehun pernah berkenalan.
Namun sayangnya pengalihan pada musik yang Sehun pilih berakibat buruk pada dirinya. Sehun mulai tergantung pada musik. Sehun tidak bisa tidur tanpa musik, Sehun tidak bisa belajar tanpa musik, Sehun tidak bisa berkonsentrasi tanpa musik, bahkan kini earphone dan ipodnya bisa jadi lebih penting daripada makanan dan minuman untuk Sehun bertahan hidup. Musik adalah oksigen baginya.
.
.
.
Hari ini adalah hari terakhir Sehun liburan dan itu artinya ini juga jadi hari terakhirnya tinggal di rumah. Sehun baru saja selesai mandi, terdengar alunan musik jazz mengisi setiap sudut kamar Sehun. Namun Sehun begitu terkejut ketika dia melihat sosok eommanya tengah duduk santai di atas tempat tidurnya.
"Untung eomma punya kunci cadangan kamarmu, jika tidak eomma bisa mati berdiri di depan pintu karena kelelahan mengetuk pintu." ujar Sungmin dengan nada sarkastik
"Eomma bisa menelponku dulu kan," Sehun malah menyalahkan eommanya
"Apa eomma juga harus melakukan hal yang sama ketika kau sendiri ada di rumah? Ini bukan apartemenmu Sehun." protes Sehun
"Tapi ini tetap kamarku kan eomma?" ketus Sehun datar seraya mengenakan kemejanya.
"Besikaplah lebih ramah ketika kau dirumah…" Sungmin membantu Sehun memasangakn kancing di lengan kanan Sehun.
Sehun hanya diam.
"Eomma tau, dan kau pun tau jika kau memiliki sifat yang lain dari orang – orang pada umumnya…"
"aku tau aku introvert!" Sehun memotong kata – kata eommanya dengan nada yang cukup tinggi, seakan dia mengisyaratkan bahwa jangan lagi mengungkit masalah itu.
"Sehun-ah… eomma hanya takut! Seseorang yang introvert kemungkinan akan menjadi orang yang buruk." Akhirnya Sungmin berani jujur terhadap kekhawatirannya.
Sehun yang kaget dengan penuturan sang eomma langsung menoleh dan menatap tajam eommanya. Dan jujur saja, Sungmin selalu takut melihat tatapan mata tajam anaknya sendiri, mata itu seakan – akan mata itu bisa berkata "jangan mengusik ketenangangku atau kau bisa mati"
"Eomma… eomma hanya tidak mau kau menjadi orang yang salah Hun-ah… eomma… hanya ingin kau tumbuh jadi anak yang baik, eomma tidak masalah jika kau suka sendirian, tapi eomma mohon, paling tidak kau bergaul saja.."
"Keluar dari kamarku eomma, aku tidak ingin mendengar hal – hal yang aneh darimu, eomma tidak mau aku benci juga kan?!" Sehun yang tak peduli kembali memotong kalimat eommanya
"Baiklah…" ucap Sungmin akhirnya setelah lama menatap mata tajam mengerikan Sehun dan menghela napasnya.
.
Sehun kesal, kenapa bisa sang eomma yang begitu dia percaya memfonisnya menjadi orang yang buruk? Dia tau dia introvert tapi apa yang salah dengan orang introvert? Bahkan Sehun merasa hidupnya selalu tenang dan damai dengan menjadi orang seperti itu, dia tidak pernah terusik dengan kekhawatirannya akan sesuatu, dia juga tidak pernah terbebani dengan perasaan – perasaan semisal rasa bersalah dan rasa ketakutan. Sehun tak pernah merasakannya terhadap siapapun.
Sehun menuruni tangga dengan perlahan, derap langkahnya yang halus membuat kedatangannya selalu terasa tiba – tiba. Kadang Sungmin sendiri heran bagaimana bisa Sehun berjalan tanpa memiliki derap langkah.
"Kyu! Aku hanya takut! Sehun itu anak kita!"
Sehun mampu mendengar suara eommanya dari balik sekat yang memisahkan ruang keluarga dan dapur.
"Katakan! Katakan sekali lagi tentang Psikopat itu!" Kyuhyun menegang setelah tadi sempat bercakap dengan Sungmin
"Aku sempat membaca sebuah artikel di majalah jika seseorang yang introvert memiliki kecenderungan besar untu berubah menjadi seorang psikopat Kyu… aku takut Sehun juga begitu.." resah Sungmin pada suaminya.
DEG
Sehun tercengang mendengar percakapan itu. Psikopat? Dirinya?
Sehun sedikit merasa tidak nyaman dengan apa yang dia dengar, kecenderungan menjadi psikopat, seorang interovert memiliki kecenderungan yang besar? Tidak, tapi Sehun tidak merasa memiliki masalah dengan hal – hal berbau penyiksaan.
Sehun langsung meninggalkan eomma dan appanya. Tidak mau lagi mendengarkan lebih jauh tentang hal – hal psikopat yang orang tuanya itu tujukan padanya.
Di dalam mobil Subaru XV white yang melaju di tengah kota Seoul entah kenapa Sehun jadi penasaran dengan kata psikopat itu sendiri. Tiba – tiba dia mengarahkan mobilnya ke tepi, Sehun segera mengambil ipadnya dan membrowsing informasi tentang psikopat, bukannya Sehun tidak tau, tapi dia hanya ingin memastikan apakah ciri – ciri psikopat ada pada dirinya.
Mata Sehun bergerak – gerak menyusuri barisan huruf yang terpampang di layar benda persegi itu, keningnya mengkerut dan dadanya berdegup cukup kencang.
"Psikopat biasanya tidak pernah memiliki rasa penyesalan terhadap apa yang dia lakukan" gumam Sehun
Kepalanya berpikir, ini benar, dia tidak pernah merasakan hal – hal seperti itu karena dia tidak pernah berinteraksi. Gejolak ingin menyakiti atau membunuh mungkin saja keluar dari dirinya tanpa ia sadari, tidak pernah bergaul dengan orang lain membuatnya jadi tidak bisa memastikan hal seperti ini. Ini rumit. Dia harus bertemu seseorang untuk membantunya. Dia tau dia sakit, tapi sebelumnya dia tak pernah butuh dokter, tapi sekarang? Dia sangat membutuhkan seorang dokter.
.
Sehun sampai di kampusnya namun dia sama sekali belum keluar dari mobilnya. Dia kini tengah menatap ponselnya, memandang 6 nama yang ada di kontaknya, iya…. hanya ada 6 nama yang pernah dia tambahkan ke dalam kontaknya selain kontak bawaan seperti cek pulsa dan panggilan darurat.
Appa
Eomma
Rumah
Kantor Appa
Boutique Eomma
dan….
Baekhyun noona.
Sehun memandang kontak bertuliskan "Baekhyun noona" di ponselnya. Nomor cantik milik seorang yeoja yang juga sangat cantik pada aslinya. Kenapa ada nomor gadis bermarga Byun di ponsel itu? Itu jelas karena gadis itu sendiri yang memasukkannya kedalam kontak Sehun ketika dia berkunjung ke rumah Sehun akhir pekan kemarin. Byun Baekhyun adalah sepupu Sehun, Appa Baekhyun adalah kakak dari Eomma Sehun.
Byun Baekhyun adalah seorang mahasiswi satu tingkat diatas Sehun. Gadis cantik bermata sipit itu mengambil jurusan psikologi di kampus yang sama dengan Sehun. Untuk itulah Sehun memandang nomor ponselnya kali ini. Dia sendiri tak menyangka ketika untuk pertama kalinya seumur hidup dia merasa butuh seseorang, yang akan dia hubungi adalah Baekhyun, sepupunya yang cerewet.
"yeobuseo?" Sehun tahu betul itu suara cempreng Baekhyun
"Noona eodiseo?" tanya Sehun langsung
"Nuguu….seo?" suara itu nampak tak yakin
"Oh Sehun!" jawab Sehun singkat
"Aaaaah…. Uri Sehuniie… woah daebak… eottoke… kau menelponku… jinjja? Wah… apa hari ini april mop?" Baekhyun yang cerewet langsung heboh sendiri
"Noona eodiseo?" Sehun kembali bertanya setelah cukup kaget mendengar teriakan Baekhyun
"Ah… aku sedang berada di kantin kampusku…"
Sehun langsung memutus sambungan telepon itu, sesegera mungkin dia langsung mengambil tasnya lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju ke tempat yang Baekhyun sebutkan.
.
"Ah… aku sedang berada di kantin kampusku… wae Se-?"
Tuut tuut tuut
"Eoh? Waegeurae? Terputus?" Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung menatap ponsel miliknya
"Baekhyun-ah gwaenchana?" tanya seorang teman Baekhyun yang sedang duduk disebelahnya
"Ah gwaenchana, barusan sepupuku menelpon tapi kenapa langsung putus sih?" Baekhyun masih bimbang antara mencoba menelpon balik atau mendiamkannya saja.
Baekhyun tau Sehun adalah anak yang introvert, itulah makanya kenapa Baekhyun akhir – akhir ini mencoba dekat dengan Sehun dan sering datang kerumah Sehun tiap akhir pekan namja itu pulang. Baekhyun ingin menjadikan Sehun dan introvertnya sebagai bahan penelitian skripsinya.
"Baekhyun-ah… baru saja aku mendapat pesan dari asisten Professor Kang, dia bilang professor Kang ada rapat mendadak, kita tidak bisa bertemu dengannya" ujar Minah, teman yang dari tadi bersama Baekhyun
"Eoh? Geurae? Ah eottokae? Chanyeol baby baru akan menjemputku setelah makan siang… huft" dengus Baekhyun tiba – tiba kesal
"Mau ikut pulang denganku? Aku bawa mobil." Ajak Minah baru saja berdiri
"Baekhyun noona!"
Seketika terdengar suara seseorang memanggil namanya, Baekhyun langsung menoleh dan shock
"Se… Sehuniie…?"
Minah-pun kaget, bahkan beberapa orang di kantin itu juga kaget. Ini fenomena. Baru pertama kalinya orang – orang melihat Sehun berinteraksi dengan seseorang selain dosen atau asisten dosen.
"Noona ada waktu? Aku ingin minta tolong" ucap Sehun lancar
"Minta tolong?" mata sipit Bakhyun membundar seketika saat mendengar kata minta tolong diucapkan dari bibir Sehun.
Sehun mengangguk tanpa peduli banyak wajah shock disekitarnya.
"Apa?" tanya Baekhyun lagi
"Bisakah kita bicara di tempat lainnya? Disini…"
"Okay… kita cari tempat lain, kau hanya ingin bicara berdua denganku kan?" Baekhyun segera merapikan barang - barangnya sementara Sehun hanya mengangguk.
"Kajja!" Baekhyun menggandeng tanga Sehun dan meninggalkan kantin dengan orang – orang shock di dalamnya.
.
Disinilah mereka sekarang, duduk berdua di mobil Sehun. Awalnya mereka ingin duduk di taman tapi karena salju turun lagi pagi ini membuat udara jadi terasa lebih dingin. Tak ada satupun dari mereka yang mau ambil resiko demam dan flu.
"Jadi… kau mau minta tolong apa Sehun-ah?" Baekhyun yang duduk di samping Sehun menatap antusias adik sepupunya ini.
"Noona… aku… ah… noona kan seorang psikolog, apa bisa noona mengobati orang yang memiliki gangguan pikiran?" tanya Sehun terlihat sulit untuk memulai
"Gangguan pikiran? Maksudmu?" Baekhyun masih nampak antusias
"Ah… aku rasa aku punya ketergantungan terhadap musik, aku tidak bisa tidur jika tanpa musik…" Sehun berkata sambil menunjuk telinga kirinya yang tersumpal sebelah earphone sejak tadi, dan kini Sehun berusaha menutupi keresahannya.
"Ah… jika seperti itu yang kau butuhkan bukan seorang psikolog Hun-ah… kau membutuhkan psikiater. Dia bisa menyembuhkan karena dia dokter, jika psikolog seperti aku hanya…"
"Apa kau punya kenalan psikiater?" tanya Sehun langsung, tak mau mendengar penjelasan panjang Baekhyun
"Ah? Aaaah… ada… kebetulan kakak dari sahabat namja chinguku adalah seorang psikiater, dia juga bekerja di rumah sakit yang sama dengannya" jawab Baekhyun sumringah
"Di rumah sakit mana?" Sehun bertanya tanpa menatap Baekhyun
"World Spin Hospital, Dokter Lu Han" jawab Baekhyun santai.
"Baiklah noona, kau boleh pergi sekarang" kata Sehun mulai menghidupkan mesin mobilnya
"Mwo?" Baekhyun dibuat cengo dengan sikap Sehun yang seenaknya ini.
"Hei hei… apakah kau mau ke rumah sakit itu sekarang juga?" Baekhyun bertanya pelan dan dijawab anggukan dari Sehun, masih tidak menatap Baekhyun
"Bisa aku menumpang ke sana? Aku tidak jadi bimbingan hari ini… jadi…"
"Baiklah, aku berhutang pada noona"
.
Woeld Spin Hospital
"Luuuuuuu….."
Suara menggelegar terdengar seiring dengan terbukanya ruang periksa Luhan. Hari ini Luhan tidak jadi bolos, Kris si adik nampaknya berhasil membujuk Luhan supaya gadis itu tetap masuk kerja.
"Wae?" Luhan menanggapi datar namja bertelinga peri dihadapannya ini seraya menulis beberapa catatan tentang pasiennya.
"Sedang sibuk? Aku baru saja selesai menangani oprasi." Chanyeol duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Luhan
"mmm… aku sedang sibuk membuat summary tentang Kim Jongin, pasien kesayangannku" ucap Luhan masih terus menulis
"Ah… anak SMA berandalan itu… dia menyeramkan, kau tau?" Chanyeol langsung bergidik ngeri
"Ya ya… walaupun kau adalah dokter bedah termuda di korea tapi untuk menangani masalah orang sakit jiwa pastinya aku lebih berani daripada kau!" gumam Luhan masih asik dengan tulisannya
Chanyeol hanya diam sambil memperhatikan beberapa alat aneh di ruangan itu. Ini bukan seperti tempat praktik dokter, ruangan Luhan seperti coffee shop yang ada arena bermainnya dan sedikit perpustakaan kecil, tapi jika dilihat sisi lainnya dimana sebuah tempat tidur nyaman ada di sana, ini seperti kamar yang nyaman dengan banyak barang – barang aneh yang ada di dalam lemari. Itu semua bukan tanpa alasan. Luhan mendesign ruangannya seperti itu agar para pasiennya nyaman saat pemeriksaan dan pengobatan berlangsung.
"Baekie tidak kemari?" tanya Luhan kini menatap Chanyeol yang tertangkap basah sedang melihat sebuah boneka rilakuma di rak yang berisi beberapa mainan.
"Ah… yeojachinguku sedang ada bimbingan proposal… nanti setelah makan siang aku akan menjemputnya" Chanyeol nyengir kuda kehadapan Luhan
"Kalau kau mau boneka rilakuma itu ambil saja… setiap kemari kau selalu memandang boneka itu!" gerutu Luhan sambil sedikit menahan senyum gelinya
"Hahahaha… boneka itu imut seperti Baekhyunku" jawab Chanyeol antusias
"Oh iya… berapa banyak pasienmu sekarang?" tanya Chanyeol lagi pada Luhan yang kini sedang membaca laporan pengobatan pasien bernama Kim Jongin.
"Yang aku tangani intensive saat ini hanya dua, Kim Jongin dan Do Kyungsoo. Dua – duanya remaja!" Luhan tersenyum manis pada Chanyeol
"Ah… senyumanmu itu manis sekali, selama bertahun – tahun aku bersahabat denganmu dan Kris, jujur saja aku tak pernah percaya jika kalian kembar. Sampai detik ini pun aku tak percaya!" ujar Chanyeol sambil melirik foto Kris dan Luhan di meja kerja dokter manis itu
"Dia adikku Park!" desis Luhan pura – pura mengancam
"Enak ya jadi Psikiater, yang kau tangani hanya segelintir orang…" dengus Chanyol kini asik dengan rilakuma yang tadi dia minta
"Walaupun pasien intensiveku hanya dua orang, tapi aku juga ikut dalam banyak penanganan kasus criminal…" bangga Luhan
"Itu yang membuatku aneh, bagaimana bisa yeoja seimut kau… ya tak seimut Baekie-ku… begitu menyukai berhadapan dengan orang – orang menyeramkan!" Chanyeol membulatkan matanya
"Kau selalu mendapat bagian untuk mengecek kejiwaan pelaku kejahatan, kau juga menangani orang – orang menyeramkan dengan jiwa – jiwa terganggu dan roh putus asa mereka… contohnya saja Kim Jongin itu… dia adalah siswa SMA berandalan yang menjadi pecandu narkoba dan perokok juga peminum berat… oh astaga…" Chanyeol sudah gawat sendiri
"Kau dokter bedah… yang kau tau hanya merobek, membedah dan menjahit tubuh manusia! Kau tidak tau bagaimana menangani perasaan mereka! Sudah lah…" Luhan melempar kertas yang tidak terpakai dan sebelumnya dia remas ke hadapan Chanyeol
"Orang yang kejiwaannya terganggu bisa saja jadi menakutkan Lu… tidak kah kau takut mereka tiba – tiba konslet lalu melukaimu?" Chanyeol sedikit berbisik kali ini, walaupun tetap saja suaranya menyeramkan
"Pertanyaan yang sama, apakah kau tidak takut dituntut akibat salah merobek atau menjahit tubuh seseorang dan melukai syaraf mereka?" tanya Luhan ikut berbisik
"Itu sudah resiko pekerjaanku!" tukas Chanyeol
"Majja… itu juga sudah resiko pekerjaanku… aku menyukai pekerjaan ini, aku mencintai pasien – pasienku…"
"Meskipun mereka gila?"
"Kau juga gila… jadi apa bedanya?"
"Ani Lu… maksudku… tidakkah mereka menyeramkan dimatamu?" Chanyeol kembali mendebatkan hal yang sama
"Tidakkah membelah perut seseorang menyeramkan dimatamu?" Luhan membalikkan pertanyaan Chanyeol
Chanyeol akan selalu speechless jika sudah berdebat dengan Luhan.
"Aku bersyukur setidaknya uri Baekki hanya seorang psikolog…" Chanyeol menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Anyeonghaseo Lu usianim…"
Seorang namja berwajah kotak masuk dengan membawa beberapa tumpuk kertas di dalam sebuah map di tangannya
"Anyeong Jongdae hyung" Luhan melambai imut pada asisten kesayangannya
"Ini berkas tentang penyidikan kasus pemerkosaan anak dibawah umur atas nama tersangka Bang Yongguk. Dan Tuan Kris juga menambahkan ini untuk bukti terkait dari kepolisian!" ujar Jongdae kemudian meletakkan map itu diatas meja kerja Luhan
"Gomawoyeo hyung" ucap Luhan lagi.
Hyung? Tidakkah seharusnya Luhan memanggil namja yang lebih tua dua tahun darinya itu dengan sebutan Oppa? Tidak… Luhan sangat menyayangi Jongdae seperti kakak sendiri. Jongdae sangat dewasa dan perhatian pada Luhan, itu mengapa Luhan senang memanggilnya hyung, bahkan Chanyeol juga sering memanggilnya Dae Oppa.
"Oh ya, apa Xiumin tidak kemari?" tanya Jongdae
"Mungkin saat makan siang nanti hyung, wae?" Luhan menatap langsung pada Jongdae
"Ani… tadi pagi dia menelponku memastikan apakah kau masuk kerja atau tidak, ponselmu mati ya semalam?" Jongdae memastikan
"Mmm… mati, aku tidur di apartemen Kris semalam, tidak pulang dan lupa mencharge ponselku!" Luhan tersenyum lucu.
"Oh ya, pasien yang bernama Kim Kyungsoo baru saja datang, aku suruh masuk saja ne?" Jongdae menunjuk pintu dengan jempolnya
"Oh ne… bawa dia kemari.." Luhan langsung sumringah seperti kedatangan tamu istimewa
"Kalau begitu aku juga permisi dulu… aku harus mengecek jahitan di pasien – pasienku… anyeong Luhan! Terimakasih bonekanya!" Chanyeol langsung berdiri dan meninggalkan tempat duduknya tadi.
Saat akan membuka pintu ternyata dia melihat sesosok remaja dengan seragam sekolahnya sedang berdiri menunduk di depan pintu.
"Anyeong Kyungsoo… mau bertemu Luhan ya?" tanya Chanyeol dengan senyum lebarnya
"Ah ne… usianim…" jawab Kyungsoo tidak berani mengangkat wajahnya
"Masuklah, dia merindukanmu…" Chanyeol berbisik seraya mengusak surai hitam Kyungsoo lalu pergi dari ruang praktek Luhan
Senyum megembang di wajah Kyungsoo mendengar apa yang Chanyeol katakan.
Do Kyungsoo. Pelajar. 17 tahun. Gadis berwajah teduh dan sangat manis, matanya bundar, pipinya chubby, dan senyumnya sangat imut. Gadis itu adalah gadis yang sangat ceria dan menyenangkan. Dia sangat berbakat, suaranya begitu merdu dan teduh. Belum lagi dia juga pintar dalam pelajaran regulernya. Dia berasal dari keluarga pejabat yang sangat terhormat, dia juga punya seorang kakak yang kuliah dijurusan design grafis bernama Do Myungsoo. Sejak usianya 15 tahun dia adalah seorang trainee disalah satu perusahaan entertainment besar di korea. Hidupnya sangat sempurna, bahkan semua gadis di dunia ini ingin punya hidup seperti Do kyungsoo. Kaya, cantik, pintar, suara merdu, tubuh yang indah, keluarga terpandang, dan seorang kakak yang menyayanginya.
Namun, kesempurnaan bukanlah hal yang nyata di dunia ini. Kejadian 1 tahun yang lalu memutar balik begitu saja kehidupan seorang Do Kyungsoo.
Ayahnya terlibat kasus korupsi dana proyek pembangunan jalan pedesaan. Satu – satunya terdakwa adalah ayahnya. Semua kekayaan keluarga Do disita, ayah Kyungsoo dipenjara selama 20 tahun. Mendengar berita itu eomma Kyungsoo yang tidak kuat langsung bunuh diri, wanita itu tidak kuasa menanggung malu akibat prilaku suaminya. Setelah kehilangan sang eomma, rumah, dan ayahnya dipenjara, Kyungsoo hanya hidup terlunta – lunta bersama Myungsoo kakaknya. Jika sebelum kasus korupsi itu mencuat orang – orang akan bersikap baik pada kedua kakak beradik itu, kini ketika masalah ini datang tak satupun orang mau mengenal Myungsoo dan Kyungsoo. Bahkan sanak saudara merekapun tak ada yang mau mengakui keduanya sebagai saudara. Mereka terbuang dan terasing ditengah cemooh orang – orang.
Karena kesempurnaan hidup Kyungsoo dulu, walaupun anak itu sangat baik, banyak juga teman – temannya yang iri, dan melalui kasus ini mereka langsung dengan senang hati membully Kyungsoo. Tak jarang Kyungsoo mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman bahkan ejekan dari gurunya. Kyungsoo bahkan pernah disiram air kotor bekas mengepel toilet oleh orang yang tidak menyukainya. Selain itu dia juga dikatai anak koruptor terus dimana – mana. Begitu pula dengan Myungsoo. Namja tampan itu harus rela meninggalkan kuliah dan bekerja serabutan demi menghidupi keduanya, Myungsoo tidak mau Kyungsoo meninggalkan sekolahnya padahal Kyungsoo sendiri bersikeras ingin bekerja saja.
Posisi Kyungsoo yang akan debut saat itu juga mengalami kekacauan. Debut Kyungsoo ditunda dengan alasan latar belakang keluarga Kyungsoo yang dapat membahayakan imagenya dan perusahaan, apalagi untuk artis yang akan debut. Perusahaan memutuskan untuk menunda debut itu sampai waktu yang tak ditentukan. Kyungsoo tidak memiliki kepastian bahkan namanya sudah tidak ada lagi di list jadwal latihan para trainee. Kyungsoo seperti tak dianggap oleh managementnya karena kasus itu. Dan jika Kyungsoo keluar maka dia harus membayar denda pinalti yang cukup besar, dimana dia bisa menemukan uang untuk membayar denda itu saat ini? Untuk makan dan tempat tinggal saja Kyungoo harus berjuang keras.
Dan sayangnya malapetaka tak sampai disana, Myungsoo mengalami kecelakaan kerja ketika dia bekerja sebagai pembantu proyek sebuah mall di daerah gwangju. Myungsoo meninggalkan Kyungsoo sendirian. Dan tak lama, seseorang dari kepolisian juga memberikan berita duka. Ayah Kyungsoo nekat gantung diri di selnya. Kyungsoo sebatangkara.
Depresi. Itulah yang Kyungsoo rasakan. Kyungsoo bahkan menangis selama seminggu nonstop, berteriak tak tentu, mengacak rambutnya bahkan melukai dirinya sendiri hingga mencoba bunuh diri. Tapi malaikat akhirnya muncul. Sesosok polisi wanita yang sangat cantik dan memang berjiwa malaikat bernama Kim Suho datang dan meraih Kyungsoo kepelukannya. Suho adalah bawahan Kris di kantor, tentu dia mengenal kakak Kris, Luhan si psikiater muda yang cantik itu. Akhirnya Suho membawa Kyungsoo kepada Luhan untuk ditangani. Tidak hanya itu, Suho pun mengangkat Kyungsoo menjadi adiknya dan mengganti nama Kyungsoo dari Do Kyungsoo menjadi Kim Kyungsoo.
Awalnya Kyungsoo sama sekali tidak mau bicara dan hanya bisa menangis serta berteriak, tapi seiring waktu berjalan. Gadis manis itu sudah mendapatkan kembali keceriaannya. Gadis manis itu sudah bisa tersenyum dan bicara, bahkan dia sudah mulai menyanyi. Luhan memang luar biasa. Dia juga malaikat.
"Anyeong Kyungsoo sayang… kau ijin sekolah hari ini?" tanya Luhan menyapa Kyungsoo dengan senyum manisnya
"Ne uisanim… aku ijin dari sekolahku untuk menemuimu.." ujar Kyungsoo masih menunduk. Karakter baru Kyungsoo sangat pemalu.
"Wae? Ada apa Kyungie?" tanya Luhan tertarik
"Aku… aku diterima jadi trainee lagi… tapi hanya di perusahaan entertainment kecil.." ujar gadis itu masih tertunduk
"Chukae chagi…. Chukae… akhirnya kau bisa meniti kembali mimpimu kan? Percaya padaku…" kata Luhan kemudian memeluk erat Kyungsoo.
"Eonni… boleh aku memanggil uisanim dengan sebutan eonni?" kini Kyungsoo mengangkat kepalanya, mata bundar itu tepat menatap mata rusa Luhan
"Tentu chagi… kau boleh memanggilku eonni! Aku sangat menyayangimu" Luhan kembali memeluk Kyungsoo lebih erat
"Kau harus yakin dan percaya, seberat apapun cobaan yang datang, Tuhan percaya kau adalah sosok yang kuat yang akan selalu tegar berdiri dan bersinar sebagai Kyungsoo." Luhan berbisik lembut di telinga Kyungsoo
Ckelek
"LUHANNIE! PASIEN KIM JONGIN MENGAMUK DI RUANGANNYA! DIA SAKAU LAGI!"
Jongdae muncul di tengah acara berpelukan Luhan dan Kyungsoo. Wajah kotak namja itu sangat panik dan berkeringat.
"Baiklah, aku akan segera kesana.. kau siapkan obat dan suntikan biasa untuknya dan bawakan padaku!" Luhan bergegas merapikan mejanya dan mengambil beberapa alat yang diperlukan
"Kyungsoo-ah… kau mau ikut?" Luhan tersneyum sumringah pada Kyungsoo seakan gadis itu tengah mengajak Kyungsoo untuk menemui seorang artis idolanya.
"Ah? Apa tidak berbahaya?" tanya Kyungsoo takut – takut
"Ani ani ani… Jongin adalah anak yang baik, sebenarnya dia sangat baik, hanya saja dia sedang sakit dan ketergantungan obat, ayo ikut eonni!" Luhan menarik tangan gadis itu dan Kyungsoo hanya bisa menurut saja.
"AAAAAARRRRRGGHHHHH!"
Teriakan keras terdengar dari dalam kamar rawat bernomr 408.
GUBRAKH… BRUGH…
"BERIKAN OBAT ITU PADAKU SEKARAAANG! AKU MAU MATI! AKU MAU MATIII!" Teriak Jongin yang kini tengah mengamuk, beberapa suster terlihat hanya berani memandang si pasien dari luar, tidak ada yang berani mendekat pada orang sakau yang sedang mengamuk
"JAEBAL! BERIKAN OBAT ITU ATAU AKAN AKU HANCURKAN KALIAN! AAAARRRGGH!"
Luhan yang mendengar teriakan Jongin hanya menghela napas panjangnya dan mengeleng sambil tersenyum kecil. Semua orang selalu aneh melihat Luhan yang begitu santai dengan apa yang dia lakukan. Ini berbahaya, Jongin sangat berbahaya.
Luhan membuka pintu kamar Jongin dan…
SET
Luhan berhasi menangkap cangkir yang melayang hampir mengenai jidatnya. Jongin terlihat cukup terkejut saat Luhan tiba – tiba masuk.
"Untung saja aku sempat berlatih basket bersama adikku, jika tidak mungkin cangkir ini sudah pecah…hehehehe" Luhan malah tertawa
"KAU! DOKTER GILA! JANGAN HANYA TERTAWA! BERIKAN OBAT ITU PADAKUUUU!" Bentak Jongin kasar
"Jangan berteriak Jongin-ah… orang – orang diluar bisa ketakutan" kata Luhan masih santai
"Jaebal… tolong aku… berikan aku obat itu… aku rasanya ingin mati…" Jongin merosot di pojok ruang rawatnya, wajahnya basah campuran tangis dan keringat, rambutnya acak – cakan, kulitnya pucat dan bibirnya membiru. Jika kau memegang tubuh Jongin akan terasa betapa dinginnya anak itu sekarang
Luhan mendekat kearah Jongin yang mulai kehabisan tenanga dan lemas, hanya isakan terdengar dari anak itu, Luhan ikut berjongkok agar mereka bisa sejajar.
"Tenang… kau tidak membutuhkan obat itu, tidak… kau sama sekali tidak membutuhkannya… kau percaya padaku kan?" Luhan menyibak rambut – rambut kusut yang menutupi wajah basah Jongin
"Aku takut… sebentarlagi mati… ahahahaha… apa kau malaikat pencabut nyawa itu? Hah?" Jongin mulai berhalusinasi lagi
"Bukan… aku Luhan… temanmu… ingat?" Luhan mencoba mendapatkan manic mata Jongin
"Kau pencabutnyawa… jelas… ada sayap hitam di punggungmu… dan itu pasti iblis neraka kan?" Jongin menunjuk Kyungsoo yang terpelongo melihat amukan Jongin
"Bukan… dia bukan iblis neraka, dia malaikat cantik.. temanmu juga… " uajr Luhan mencoba mendapatkan kembali kesadaran Jongin
"Iya kau benar… dia malaikat… ada sayap putih di belakang punggungnya, wajahnya bersinar! Tak seperti kau yang seram dan bersayap hitam…" Jongin mencoba mendorong Luhan namun tenaga Luhan yang sehat lebih besar darinya.
"Namanya Kyungsoo" bisik Luhan ketika Jongin mulai tenang
"Kyung…. Soo? Ahahahahaha…. Peri kecil Kyungsoo…" Jongin tertawa kasar.
"Ayo… tarik napasmu perlahaaaan…" Luhan mulai berbisik
"Shireo… aku mau obatku! Aku mau ecstasy! Itu temanku… bukan kalian… ahahahaa…" racau Jongin diluar kesadarannya
"Kau mau itu? Jika kau mau itu kau harus melakukan apa yang aku katakan…" Luhan berbisik
"Apa… aku akan melakukannya… janji…" Jongin memohon pada Luhan
"Kau harus berteman dengan malaikat itu" tunjuk Luhan kearah Kyungsoo.
Kyungsoo yang ditunjuk langsung kaget, dia merasa tidak tau masalah tapi kenapa dia dibawa – bawa?
"Iya… aku akan berteman dengannya… iya…" lirih Kyungsoo
"Hyung…" Luhan memanggil Jongdae untuk mendekat
Jongdae segera menyerahkan atu butir obat berwarna merah muda. Itu adalah estasi, tapi dalam dosis yang lebih rendah. Luhan menterapi Jongin dengan cara seperti itu. Sedikit demi sedikit menurunkan kadar estasi yang masuk ke tubuh Jongin. Setelah itu dia menyuntikkan beberapa cc obat penenang agar Jongin bisa tidur.
Tak lama Jongin mulai masuk lagi ke dalam alam sadarnya, lemas dan ketakutan.
"Aku buruk… aku sangat buruk…" lirih Jongin lalu memeluk kakinya sendiri
"Tidak Jongin-ah… kau tidak buruk… asalkan kau mau sembuh, kau tidak buruk nak.." Luhan mengusap surai hitam kusut Jongin yang masih berkeringat
"Aku Kyungsoo… Kim Kyungsoo.."
Jongin mendongak mendengar sebuah suara lembut menyapa gendang telinganya yang seakan tuli itu. Luhan kaget dengan keberadaan Kyungsoo berjongkok disebelahnya, gadis itu menatap mata pucat Jongin dengan mata polosnya, mengulurkan tangan lembutnya pada sesosok lusuh yang tengah diambang sadar.
"Kau bilang setelah minum obat kau mau jadi temanku kan? Aku Kyungsoo" Kyungsoo berkata lagi, kali ini dia tersenyum
Jongin cukup lama menatap wajah manis dihadapannya, orang yang tadi dia sebut malaikat. Kyungsoo mengulurkan tangannya dan tersenyum manis untuk orang sepertinya.
Air mata jatuh dari pelupuk kiri Jongin, tangan pucat, dingin dan gemetarnya dengan susah payah dia ulurkan untuk meraih tangan mungil gadis berseragam SMA di hadapannya.
"Jong…in… Kim… Jongin.."
Brugh.
Jongin langsung amburk kedepan dan menindih Kyungsoo. Pengaruh obat penenang yang tadi disuntikan Luhan nampak bekerja dengan baik. Kini Jongin tertidur, namun dia tidur tengkurap diatas dada Kyungsoo yang jatuh terlentang di lantai. Samar Jongin merasakan detakan jantung hangat di telinga kirinya. Itu degupan jantung Kyungsoo.
Kyungsoo tak berkutik, berteriakpun tidak dengan apa yang terjadi padanya, dia diam sementara Jongin mengatur napas tersengalnya. Kyungsoo merasa tubuh itu begitu dingin dan rapuh, namja diatasnya nampak sangat kosong.
"Kyungie.." Luhan memanggil Kyungsoo dan menatap gadis itu dengan tampang kaget.
"ssst…" tapi Kyungsoo hanya berdesis seakan meminta Luhan untuk diam.
Satu hembusan napas panjang terasa dari Jongin yang masih tengkurap diatas tubuh Kyungsoo. Kepala Jongin semakin berat dan… dia tertidur.
"Eonni… Jongin sudah tidur" ucap gadis manis itu sambil berbisik.
"Sudah? Oh… geurae… Jongdae hyung,… tolong bantu angkat tubuh Jongin" kata Luhan agak gugup.
Baru kali ini Luhan melihat Jongin bisa tidur sangat nyenyak dengan cepat, dan dia tidur diatas tubuh Kyungsoo. Kini Jongin sudah tidur di ranjangnya, namuan tangan lusuh Jongin masih memegang tangan Kyungsoo.
"Khajima…" bisik Jongin pada Kyungsoo
Luhan menatap Kyongsoo yang kini menatap intense pada pasien kecilnya Jongin.
"Eonni… aku akan menemaninya di sini!" ujar Kyungsoo pada Luhan
"Jinjja? Kau tidak apa – apa bila ada di sini?" Luhan membelalak
"Tidak.. aku rasa dia butuh teman.." Kyungsoo kemudian duduk di kursi sebelah ranjang rawat Jongin
"Ba… baiklah… kalau ada apa – apa langsung minta perawat memanggilku ne.." Luhan memeluk Kyungsoo sebentar lalu meninggalkan keduanya di kamar rawat bernomor 408 itu.
.
Luhan berpikir sejenak, ada apa dengan Kyungsoo dan Jongin? Tatapan mata mereka terasa begitu lekat dan dekat. Ini seperti tak biasanya Kyungsoo cepat akrab dengan orang lain, tak biasanya juga Jongin bisa setenang itu terutama pada orang asing, apa mereka bukan orang asing?
"Dokter Lu…"
"Eoh? Dokter Zhang!"
"Kau melamun!"
Luhan mendapati sesosok namja berdimple, wajahnya sangat manis dan juga lembut. Mungkinkah semua dokter psikiatri berwajah sedemikian teduhnya?
Lay. Dokter itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana panjang hitamnya dan menatap Luhan penuh tanda tanya
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Lay lagi dengan nada lebih lembut
"Tidak dok… aku baru saja menenangkan Jongin!" ujar Luhan menghapus pikirannya barusan
"Jongin… anak itu ngamuk lagi ya?" Lay melirik pintu kamar 408 dan mengangguk pelan
"Dia sakau lagi, tapi dia sudah ada peningkatan, sebelumnya dia akan sakau setiap seminggu sekali, tapi ini sudah hari ke 10 dan dia baru kumat lagi…" jawab Luhan bahagia
"Aaa… pasienmu memang banyak mengalami kemajuan… Kyungsoo gadis itu tadi tersenyum padaku saat sebelum masuk ke ruanganmu" ujar Lay ikut tersenyum bahagia
"Aku akan bekerja keras untuk menyembuhkan semua pasienku dok! Percayalah pada anak buah terbaikmu ini!" bangga Luhan mengangkat dagunya tinggi – tinggi
"Baiklah,… kau kepercayaanku… kau kebanggaanku dokter Lulu.." Lay mengangkat dua jempolnya untuk memberi selamat pada Luhan.
"Luhan… ada pasien baru yang menunggu di ruanganmu!" Jongdae berujar pada Luhan
"Pasien baru? Jeongmal?" Luhan meminta konfirmasi dari Lay
"Jika itu datang keruanganmu maka itu pasienmu nak!" ujar Lay sedikit terkekeh melihat betapa semangatnya Luhan seperti mendapat mainan baru.
Luhan segera berlari keruangannya.
Ceklek…
"Eonni anyeong!"
"Lulu-ah aku datang lagi!"
"Kalian!"
Wajah semangat Luhan mendadak pudar ketika mendapati dua orang mengganggu duduk berdua di ruangannya. Mereka adalah pasangan Chanbaek yang terkenal selalu menebar kemesraan dimanapun dan kapapun, dan yang membuat Luhan selalu kesal dengan Chanbaek couple adalah, mereka selalu mesra – mesraan di ruang praktiknya. Padahal kan chanyeol punya ruang praktik sendiri di rumah sakit itu.
"Kenapa kalian pacaran di ruanganku lagi, aku kira aku punya pasien baru… jaebal!" Luhan mendengus kesal kemudian menjewer telinga panjang Chanyeol
"Akh… Baekkie chagi… nenek sihir ini menjewerku… appo chagie.." Chanyeol merengek sambil memeluk pinggang Baekhyun dan bersembunyi di belakang punggung yeojanya itu.
"Eonni… jangan menjewer pangeranku… nanti telinganya jadi lebih lebar dari telinga yodda!" Baekhyun lalu terkekeh bersamaan dengan Luhan
"Eonni… kenalkan, dia Oh Sehun… sepupuku!"
Luhan yang baru saja duduk di kursinya tiba – tiba menyadari ada orang asing sedang berdiri di depan rak buku di ruang praktiknya.
"Sehun-ah.." Baekhyun memanggil Luhan
"Oh… Annyeonghaseo… Oh Sehun imnida.." Sehun langsung membungkuk
"Anyeong Sehun-ssi…" Luhan melambaikan tangannya dan tersenyum pada Sehun
Ajaib. Sehun seperti merasakan beberapa detik menghilang dari Zona waktunya ketika melihat senyum Luhan. Senyum itu entah kenapa membuatnya merasa sangat dekat dengan yeoja itu, senyum Luhan memang seperti magnet, senyum itu bisa dengan mudah menarik baja macam Sehun.
"Oh Sehun-ssi… gwaenchanaseo?" tanya Luhan kini berdiri
"Ah… nan gwaenchana.." ucap Sehun salah tingkah, dia sendiri tak mengerti mengapa bisa dia jadi gugup seperti sekarang.
Sehun berpikir mungkin inilah jeleknya jadi orang introvert, berinteraksi membuatnya lelah dan jantungnya berdegup tak karuan.
"Sehun-ah… kau bicara saja dengan Luhan eonni, dia sangat meyenangkan… aku akan pergi makan siang bersama Chanie.. kajja baby" Baekhyun dengan riang mengaitkan tangannya pada Chanyeol
.
Tinggal lah Sehun dan Luhan berdua di ruangan itu.
"Duduklah…" Sehun menunjuk sebuah empuk di sudut ruangan yang bersuasana layaknya coffee shop itu.
"Gomapseumnida…" kata Sehun
"Jadi… apa kau ingin bercerita denganku?" Luhan bertanya dengan santai
"Aku ingin bertanya padamu dokter…" desis Sehun
"Aku bukan dokter, aku adalah teman yang asik untuk diajak curhat" ucap Luhan tenang
"Ah?" Sehun nampak kaget
"Jangan merasa sungkan begitu… mulai sekarang aku temanmu Sehun-ah…"
"Teman? Eottoke? Aku baru bertemu dengan anda hari ini" desis Sehun kembali dengan kepercayaan introvertnya
"Kalau begitu bertemannya mulai hari ini!" Luhan memberi wink kecil pada Sehun
"Aku… aku ketergantungan pada musik, aku tidak bisa hidup tanpa musik, aku bahkan tidak akan tidur tanpa musik" Sehun memulai keluhannya
"Lalu…?"
"Aku ingin tidak tergantung lagi, kau dokter kan? Bantu aku… sembuhkan aku… aku ingin terlepas dari ketergantungan ini"
"Aku lebih suka kau melihatku sebagai teman daripada sebagai dokter"
Luhan mempoutkan bibirnya lucu dan anehnya Sehun sedikit menarik bibirnya keatas. Jantungnya berdegup kencang, sepertinya disbanding musik, senyum Luhan lebih candu.
Drrrt… drrrt… drrrtt…
Ponsel Luhan bergetar.
"Changkaman…" Luhan kemudian mengambil ponselnya dan tersenyum.
"Eoh Xiumin-ah.. wae?" Luhan menjawab dengan ceria
"Belum aku belum makan siang?" katanya yeoja manis itu
"Makan siang bersama? Ani… aku sedang ngobrol dengan seseorang sekarang" Luhan menatap Sehun sebentar
"Coffee? Tidak aku tidak ingin minum itu…" Luhan menggelengkan kepalanya imut
"Baiklah aku tunggu… anyeong"
Luhan kemudian memutus teleponnya dan kembali fokus pada Sehun.
"Namjachingu?" Sehun tiba – tiba bertanya. Demi apapun ini pertama kalinya Sehun ingin tau sesuatu tentang seseorang
"Bukan… dia adalah sahabatku… kami sudah bersahabat selama 10 tahun" kata Luhan
"Oh geuraeyeo.." Entah darimana rasa lega itu datang, yang jelas Sehun merasa entah kenapa bahagia ketika tau yang tadi menelpon bukanlah namja chingu gadis dihadapannya ini.
"Jadi kau selalu mendengarkan musik dan tak bisa lepas dari earphone dan ipodmu?" Luhan kembali ke topic
"Aku selalu merasa pusing dan tidak bisa konsentrasi tanpa musik" jawab Sehun
"Pernah mencoba seharian tanpa musik?" Luhan bertanya lagi
"Tidak… tidak pernah… aku rasa aku akan jadi gila jika itu terjadi" Sehun memandang ipod yang kini dia pegang.
Ini menarik, semenjak Luhan menyuruhnya duduk, kedua lubang telinga Sehun tidak satupun disumpal earphone. Padahal biasanya dia akan menyumpal salah satunya jika dia bicara dengan orang lain.
Luhan yang melihat itu hanya menganggukkan kepalanya dan kembali tersenyum.
"LULU!"
Xiumin muncul dari pintu ruang praktik Luhan dengan senyum lebarnya. Dia melihat punggung Sehun.
"Oh mian.. aku kira pertemuanmu sudah selesai" ucap Xiumin tidak enak
Sehun menoleh pada Sehun dan menatap tajam Xiumin, mata itu seolah berkata "siapa orang ini? Sangat mengganggu"
"Xiu-ah… kau ini… ini bahkan belum jam makan siang kau sudah kemari" Luhan mengerucutkan wajahnya
"Mian… di apartemen sepi sekali makanya aku kesini" Xiumin duduk di kursi lain yang agak jauh dari sofa tempat Luhan dan Sehun sedang ngobrol
"Kenalkan dia Kim Xiumin, sahabatku!" Luhan menunjuk Xiumin dengan tangan kanannya
"Anyeong Xiumin!" namja imut itu melambaikan tangannya pada Luhan
Sehun? Tak diduga respon positifnya saat dia pertama bertemu Luhan tidak terulang saat dia bertemu namja berpipi chubby ini.
Xiumin yang merasa diacuhkan menarik kembali tangannya dan beralih mengacak rambutnya sendiri.
Dengan cepat Luhan merekam reaksi Sehun atas Xiumin tadi. Kepala Luhan dengan cekatan menangkap dan mencatat hasil observasi pertamanya
"Lalu… ada hal lain yang mengganjal di pikiranmu?" Luhan kembali masuk ke topic
"Aku adalah seorang introvert. Aku tidak pernah bergaul sebelumnya dengan orang lain!" ujar Sehun dalam sekali tarikan napas
Luhan mengangguk imut, seakan hal itu biasa saja. Reaksinya sangat tenang bahkan senyumnya masih memikat.
"Tidak masalah, menjadi introvert bukan hal yang salah" gumam Luhan masih dalam mode cerianya
"Apakah benar orang introvert memiliki kecendrungan untuk menjadi psikopat lebih besar dari orang normal" tanya Sehun tiba – tiba
Luhan mengatupkan cengirannya dan menatap Sehun dengan menyipitkan sedikit matanya. Sehun yang melihat wajah imut itu langsung kembali tak bisa mengatur detakan jantungnya. Entahlah… baru kali itu Sehun merasa jantung dan otaknya tak sejalan.
"Ahahahaha… bagaimana kau bisa berkata seperti itu?" Luhan bertanya dengan tampang imut
"Entahlah… aku hanya takut itu terjadi, selama ini aku tidak pernah bergaul dengan siapapun… termasuk keluargaku sendiri" Sehun serius kali ini
"Jangan berpikiran seperti itu… orang introvert bukanlah orang yang menyeramkan… tenang saja" Luhan berkata enteng.
Sehun merasakan ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk dan itu dari eommanya.
"Jadi… kau ingin aku menyembuhkan ketergantunganmu terhadap musik itu?" Luhan mengambil ipadnya dan melihat jadwal kosongnya
"Aku… apa bolehkan aku sering datang kemari?" tanya Sehun menatap tajam pada Luhan
"Tentu saja, jika kau ingin bercerita padaku… aku ada di sini setiap hari" Luhan tersenyum lagi.
Darah Sehun terasa berdesir. Hangat. Senyum itu begitu hangat menyentuh tubuhnya dari ubun – ubun hingga ujung kuku jari kakinya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi… aku ada urusan lain… gomawo"
Sehun langsung berdiri dan meninggalkan ruangan praktik Luhan. Xiumin yang sedari tadi seperti tak dianggap hanya melihat punggung lebar Sehun keluar dengan tenang.
"Kenapa kau berbohong Lu?" Xiumin menatap intense sahabatnya yang masih duduk di tempat yang sama
"Bohong? Apa?" Luhan menangkat kepalanya
"Jika orang introvert tidak memiliki kecendrungan jadi psikopat?" Xiumin memiringkan kepalanya imut
"Aku tidak bilang tidak… aku hanya memintanya untuk tidak berpikiran seperti itu" Luhan menegaskan kalimatnya.
"Biar aku tunjukkan padamu apa arti psikopat yang sebenarnya." Xiumin langsung mengetikkan sesuatu di tabletnya dan memperlihatkannya pada Luhan
"Ada empat tanda orang psikopat…. Satu, psikopat adalah seorang antisocial. Dua, kepribadiannya sulit ditebak. Tiga, orang psikopat itu luarbiasa egois. Empat, psikopat itu sangat cerdas" Xiumin membacakan temuannya
"Aku tau… aku adalah psikiater, aku tau lebih banyak tentang psikopat daripada kau…" kata Luhan narsis.
"Lalu kenapa kau berbohong, kenapa tak jujur saja?" Xiumin protes
"Jadi jika ada seseorang sakit dan tidak mungkin sembuh, apa dokter harus berkata 'kau akan mati' di hadapan pasiennya?" tentang Luhan
"Itu makanya aku tidak mau jadi dokter, dokter itu pandai berbohong" Xiumin memasang tampang tidak sukanya yang tetap imut
"Aku tidak berbohong, aku hanya tidak mau pasienku tertekan dengan penyakit mereka" Luhan ngotot
"Lalu jika anak tadi berubah jadi psikopat dan dia tidak menyadarinya, dia anggap itu hanya prilaku introvert biasa… apa kau tidak merasa bersalah padanya?" Xiumin menantang Luhan
Luhan terdiam sejenak dan memikirkan ucapan Xiumin. Xiumin benar, pasiennya bukanlah orang sakit yang bisa mati seperti pasien Chanyeol. Pasiennya mungkin saja bisa menyebabkan kekacauan dengan kelainan yang dia derita.
"Tunggu saja hingga anak tadi berhasil membunuh seseorang maka kau pasti akan merasa jadi orang paling bersalah di dunia" Xiumin masih tetap kukuh memprotes
"Xiu-ah… apa yang harus aku lakukan pada anak itu?" Luhan menatap kosong form data Sehun yang tadi dia isi di ipadnya
"Entahlah… kau kan dokternya… kau yang ahli,… kau yang tau…" Xiumin menakup kedua pipinya dengan tangannya sendiri seraya memandang wajah kebingungan Luhan yang amat cantik di matanya.
.
"one… two… three…"
Cahaya blitz saling bersautan di tengah sinar lampu sorot dan suara dentuman musik yang memenuhi sebuah ruang pemotretan di salah satu gedung tua.
S&E, brand milik eomma Sehun sedang mengadakan pemotretan. Dan seorang model cantik berkulit eksotis sedang dengan penuh percaya dirinya berpose di tengah sorot kamera.
"Excellent!" kata sang photographer.
"Okay… terimakasih semua… kalian sudah bekerja keras… terimakasih…" Sungmin membungkukkan badannya pada semua kru.
"Ajhuma… baju ini sangat bagus… bolehkah ini untukku?"
Zitao. Model sexy itu tengah beraegyo di depan Sungmin
"Tentu saja sayang… kau terlihat sangat cantik memakainya… itu boleh untukmu!" Sungmin mengacak sedikit surai Tao dan tersenyum.
"Thankyou ajhuma…" Tao memeluk Sungmin. Sungmin kemudian pergi dan menghampiri kru yang lain.
Sehun masuk ke dalam set. Sesuai dengan perintah Sungmin, dia datang ke lokasi pemotretan. Memang tak biasanya Sehun mau datang, tapi karena suasana hatinya sedang baik. Dia pun datang.
Sehun hanya berdiri terpaku menatap seorang gadis bermata panda sedang dengan asik mengambil beberapa selca dari ponselnya sendiri. Zitao merasa ada seseorang di belakangnya, dia berbalik dan… Sehun sedang menatapnya.
"Menyingkir dari hadapanku!" ketus Sehun dengan tatapan mata mematikan plus wajah datarnya.
"Siapa kau berani – beraninya berbicara kasar padaku?" Zitao langsung marah
"Menyingkir!" Sehun masih ketus
"Kau mau cari mati? Kau tidak tau siapa aku?" Zitao meninggikan nada bicaranya dan menatap sinis Sehun
"Uri adeul waseo…" Sungmin menghampiri Sehun dan mengaitkan tangannya pada lengan Sehun
"Eomma…" sapa Sehun datar
"Eomma?" Zitao kaget
"Ne… dia Oh Sehun… putraku!" Sungmin tersenyum imut
"Aaaah…. Anyeong!" Zitao malah salah tingkah.
"Oh ya, ada yang mau eomma berikan untukmu… kau tunggu disini!" Sungmin pergi lagi untuk mengambil sesuatu.
"Jadi… apa kau masih mau membunuhku?" ketus Sehun dengan tatapan seakan Zitao adalah object menarik untuk dibunuh.
Sehun langsung saja meninggalkan Tao yang masih cengo sendiri dengan cara Sehun menatapnya barusan
"Aku menginginkan dia!" Zitao bergumam.
"Nugu?" Seorang yeoja yang rupanya adalah eomma Zitao, Heechul menghampiri anaknya.
"Namja tadi… aku menginginkannya eomma!" rengek Zitao pada Heechul
"Ah… anak dari pemilik S&E?" Heechul melirik lapar kearah Sehun
"Aku akan selalu mendapatkan apa yang aku inginkan! Bagaimanapun caranya!" tekad Zitao kemudian tersenyum sinis.
.
Luhan, lagi – lagi dia tidak pulang kerumah. Ini sudah jam 10 malam. Dia kini sedang berbaring di sebuah tempat tidur dengan bedcover biru tua. Ini kamar apartemen Kris dan namja itu belum pulang.
"Lalu jika anak tadi berubah jadi psikopat dan dia tidak menyadarinya, dia anggap itu hanya prilaku introvert biasa… apa kau tidak merasa bersalah padanya?"
Ucapan Xiumin siang tadi terus berputar di kepalanya. Apa yang harus dia lakukan jika benar yang Xiumin katakana itu terjadi.
"Tidak… aku bukanlah dokter yang menjerumuskan pasienku sendiri… aku harus bertemu dengan anak itu… Baekhyun…"
Luhan langsung meraih ponselnmya dan mendial nomor Baekhyun segera.
"Yeobuseo Lulu…."
Suara itu bukan milik Baekhyun.
"Chanyeol-ah… Baekie eoddi?" tanya Luhan segera
"Baekkie sedang tidur disebelahku… kau taukan…. Kekekeke…"
"Jangan hamili gadis imut itu jika kau belum menikahinya…" desis Luhan kesal
"Okay… aku tau dimana batasku… by the way ada apa menelpon calon istriku?"
"Aku ingin minta nomor telpon Sehun pada Baekki… bisakah?" Luhan sedikit gugup
"Tentu… akan aku kirim lewat email"
"Gomawo Park!"
Luhan kemudian memutus telponnya.
"Tidak… tidak akan aku biarkan Sehun menjadi psikopat… tidak…"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Anyeong! Mianhae author telat update… janjinya jam 2… tapi tadi masih ada kesibukan dikit… biasa, habis bantuin bang Galaxy ngecek tagline di IGnya… kekekeke…
.
Gimana Chap 1 ini?
beda dari teasernya ya? Iya laaah… ini baru intro aja kekeke…
Konfliknya gak banyak kok, cumin tentang seseorang psikopat yang jatuh cinta. Siapa yang psikopat diantara Sehun dan Luhan sebenarnya?
Psikopat biasanya tidak sadar dirinya adalah psikopat, dia hanya merasa hal – hal yang orang lain takuti adalah hal yang lumrah untuknya.
Silahkan ditebak…
Oh iya,… karena gak ada yang nanya tentang teaser FF ini kemarin, jadi author akan bales review kalian mulai chap depan…
Pai pai!
.
.
.
Akhir kata author ucapkan… Auuuu ah! Saranghaeyeo….
RnR Juseo…
.
.
.
.
.
Chapter 2
First Sight
.
.
.
"Apa benar Xiumin hanya sahabatmu? Dia selalu bertindak seakan kau hanya miliknya" – Kris
"Aku sangat menyayangimu Lu, aku tidak mau melihatmu terluka…" – Xiumin
"Kau… menjauhlah dariku… karena aku sangat benci melihatmu!" – Zitao
"Tidak… semalaman ini aku akan menemanimu tidur lagi… kita coba untuk tidur tidak dengan musik kali ini!" – Luhan
"Aku akan menjadi bukan diriku jika bersama yeoja ini" – Sehun
"Apa kau yang bernama Zitao? Kau cantik" – Suho
"LUHAN! KENAPA KERJAMU TIDAK BECUS?" – Lay
"Aku mencintaimu Jongin-ah" – Kyungsoo
"Kyungsoo… hanya ada nama itu dihatiku!" – Jongin
"Jadi… apa kau menyukai Xiumin?" – Jongdae
"Jadi Luhan eonni adalah cinta pertama Chanyeollie?" – Baekhyun
"Aku hanya mencintaimu Baek… bukan orang lain!" – Chanyeol
