Chanyeol tersadar dari pingsannya. Baekhyun yang duduk bersimpuh di atas ranjang sambil menggenggam erat tangan Chanyeol masih terisak.

"Hyung, Huwee." Baekhyun langsung memeluk tubuh Chanyeol yang masih terbaring dan kembali menangis.

Chanyeol kembali terkejut. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak keras, darahnya berdesir. Chanyeol langsung menggelengkan kepalanya sebelum dirinya kembali pingsan.

Tangan besarnya menepuk-nepuk pelan punggung sempit Baekhyun. Mencoba menenangkan anak itu yang menangis tersedu-sedu.

Cklek,

Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah pintu yang terbuka. Menampilkan wanita dewasa yang memang di kenalnya.

"Kyaa!" Wanita itu menjerit membuat Chanyeol dan Baekhyun terkejut mendengarnya.

Baekhyun melepaskan pelukannya dan kembali bersimpuh di samping Chanyeol yang mendudukan dirinya di atas ranjang.

Mereka menatap aneh wanita yang kini kelabakan mengambil tisyu di meja belajar Chanyeol untuk kemudian menyumpalkannya di lubang hidung.

"A-ah, bagus kau sudah sadar Chanyeol. Sungguh memalukan. Bagaimana bisa kau pingsan dengan mimisan begitu melihat anak itu." cerewetnya.

"hey, nona. Berkacalah" Chanyeol mengucap datar.

Iya, wanita yang 8 tahun lebih tua dari Chanyeol itu juga tengah mimisan melihat Baekhyun yang memang begitu menggemaskan. Chanyeol tau betul itu.

"Setidaknya aku tidak sampai pingsan sepertimu." wanita itu mencebikan bibirnya.

flashback on,

Wanita itu, Kim Jiyeon tengah melangkahkan kakinya kedalam flat miliknya. Kantong belanja juga tertenteng di kedua tangannya.

Saat dirinya baru saja mengarahkan kunci untuk membuka pintu flatnya. Jiyeon di kejutkan oleh suara jeritan dan di susul tangis memekakan anak kecil dari kamar sebelahnya. Tanpa menunggu, Jiyeon langsung menghampiri pintu flat itu. Mengabaikan belanjaannya yang teronggok begitu saja di atas lantai. Di pikirannya, pemilik flat yang sangat di kenalnya itu, tengah mencabuli seorang anak kecil. Astaga, pikiranmu nona.

Jiyeon langsung membuka kasar pintu flat yang ternyata tidak di kunci itu. Segera dirinya mencari sumber suara. Langkahnya terhenti di ambang pintu kamar dan darah langsung menyembur dari hidungnya melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.

Seorang anak kecil yang menggemaskan dengan baju kebesaran di tubuhnya tengah mengguncang lengan lelaki yang tertidur di lantai dengan darah yang keluar dari hidungnya. Anak itu menangis tersedu-sedu.

Jiyeon langsung tersadar dan mengambil tisyu yang ada di meja belajar Chanyeol untuk mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Lalu menghampiri anak itu untuk membantunya.

"Hey adik kecil, apa yang terjadi?"

Baekhyun menoleh dan menggeleng menjawabnya. Dia terus menangis sambil mengguncang lengan Chanyeol.

"Yak Park Chanyeol! bangun sialan." Jiyeon menendang pelan kaki Chanyeol untuk menyadarkan lelaki itu. Namun Chanyeol masih tetap pulas dalam pingsannya.

Akhirnya dengan susah payah Jiyeon memindahkan Chanyeol ke atas ranjang. Jiyeon juga membersihkan darah di sekitar hidung dan mulut Chanyeol.

Baekhyun hanya mengikutinya sedari tadi. Sekarang bahkan anak itu sudah bersimpuh disamping Chanyeol dengan menggenggam erat tangan Chanyeol. Membuat darah di hidung Jiyeon keluar semakin banyak.

"Adik manis, berhentilah menangis jika kau ingin Chanyeol cepat terbangun dari pingsannya." Bujuk Jiyeon yang ternyata ampuh untuk menghentikan tangis Baekhyun meski masih terisak kecil.

"Benarkah, bibi?" Baekhyun bertanya dengan imut.

Jiyeon hanya mengangguk tidak sanggup untuk bersuara. Dia kewalahan menghentikan darah yang masih tetap keluar dari hidungnya.

"Sekarang tunggu saja disini sampai Chanyeol bangun, ya? Aku akan kembali ke rumah sebentar." dibalas anggukan lucu dari Baekhyun.

Jiyeon yang sudah tak tahan pun segera keluar dari flat Chanyeol masih dengan menutup hidungnya dengan tisyu.

"Ibuuuuu!" ratap Jiyeon di susul dengan gebrakan di pintu flat Chanyeol.

Flashback off.

"Kau berhutang budi padaku Chanyeol. Tapi, ngomong-ngomong siapa anak kecil itu? Kenapa dia bisa bersamamu? Kau tidak menculiknya bukan?"

Chanyeol hanya mendecih dan memutar bola matanya malas. Tangannya meraih Baekhyun untuk bersandar di dadanya. Baekhyun membalas dengan melingkarkan tangan mungilnya pada pinggang Chanyeol.

Jiyeon yang melihat itu menahan jeritannya. Sungguh, pemandangan di depannya sangatlah manis melebihi apapun. Chanyeol yang tampan dan Baekhyun yang imut, membuat jiwa fujoshi Jiyeon berkoar.

"Namanya Byun Baekhyun. Dia putra direktur di tempatku bekerja. Dia di titipkan padaku karna ayahnya sedang sibuk dan keluarganya yang lain sedang keluar kota." Tangan Chanyeol tak berhenti mengelus lembut kepala Baekhyun. Membuat Baekhyun nyaman dan tertidur karna lelah menangis.

"Ah begitu rupanya. Dan kau tertarik padanya? Ingat umur kalian Chanyeol." Jiyeon memperingati.

Meskipun Jiyeon mendukung mereka. Tetap saja Chanyeol adalah pedophil jika berpasangan dengan Baekhyun. Di tambah hubungan sesama jenis di negaranya masih di pandang tabu oleh masyarakat.

"Kau benar noona. Aku tertarik padanya. Aku menyukainya. Tidak, kurasa aku jatuh cinta padanya." Chanyeol tersenyum menatap wajah tenang Baekhyun.

"Lagipula usia kami hanya terpaut 15 tahun. Aku baru menginjak kepala tiga saat Baekhyun cukup usia."

Jiyeon menatap lembut ketulusan yang terpancar dari kedua mata Chanyeol. Jiyeon tersenyum.

"Aku mendukung keputusanmu Chanyeol. Bagaimanapun kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Tapi, bagaimana dengan keluarga kalian jika mengetahui hal ini?" Jiyeoni kembali resah ketika pikiran mengenai tanggapan keluarga mereka terhadap Chanyeol yang mencintai Baekhyun menghinggapinya.

"Kau tau aku tidak bisa berhenti jika sudah memulai. Aku akan berusaha meyakinkan mereka. Aku tidak semudah itu berputus asa hanya karena kata tidak yang mereka ucapkan padaku." Chanyeol serius dengan perkataannya.

"Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Apa dia memiliki perasaan yang sama terhadapmu?"

Pertanyaan Jiyeon membuat Jiyeon dan Chanyeol terdiam saling pandang. Hingga jawaban yang Chanyeol berikan membuat Jiyeon tersenyum mendengarnya.

"Aku tidak tahu. Tapi aku akan membuatnya mencintaiku juga, noona."

-

Dua jam setelah Jiyeon meninggalkan flat Chanyeol, Chanyeol masih memeluk Baekhyun yang terlelap. mereka saling berhadapan. Tangan kiri Chanyeol dijadikan bantal untuk Baekhyun. Sedang tangan Chanyeol yang satunya menelusuri lembut wajah manis Baekhyun.

Chanyeol memang membaringkan tubuh mereka tepat setelah Jiyeon keluar.

Baekhyun mengerjapkan matanya. Dia terbangun dari tidurnya. Wajahnya langsung memerah saat berhadapan langsung dengan wajah tampan Chanyeol.

"Hyuung~" panggilnya mendayu. Baekhyun langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol. Baekhyun sangat malu. Hal itu membuat Chanyeol terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Baekhyunie, tadi ayahmu menelpon. Dia tidak bisa menjemputmu sekarang. Banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya. Apa Bekhyunie keberatan jika bermalam di tempat hyung? Besok pagi ayah Baekhyunie baru bisa menjemput." Chanyeol memulai pembicaraan.

Baekhyun menggeleng tidak keberatan. Chanyeol tersenyum dan mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"Hyung? ada yang ingin Baekhyunie katakan pada hyung." Baekhyun mendongak menatap Chanyeol.

Chanyeol tersenyum menunggu yang akan di katakan Baekhyun.

"Sebenarnya Baekhyunie hanya sebentar disini. Ibu Baekhyunie tidak mengizinkan Baekhyunie berlama-lama di sini. Besok sore Baekhyunie akan kembali ke Eropa." ucapnya sedih.

Chanyeol merasakan dentum menyesakan di dadanya. Dia mencintai Baekhyun. Tapi kenapa secepat ini pertemuan mereka.

"Baekhyunie menyukai hyung. Jantung Baekhyunie berdetak cepat saat bersama hyung. Baekhyunie juga merasakan ada kupu-kupu di dalam perut Baekhyunie saat hyung tersenyum untuk Baekhyunie."

Chanyeol tertegun mendengarnya. Bukankah itu berarti perasaannya terbalas?

"Baekhyunie ingin terus disini bersama hyung. Tapi Baekhyunie tidak bisa meninggalkan ibu terlalu lama. Baekhyunie sedih hyung. hiks. Dada Baekhyunie sesak. Hiks . huuuu~"

Baekhyun pecah dalam tangisan. Chanyeol langsung menenggelamkan kepala Baekhyun pada dadanya. Mengusap halus punggung Baekhyun.

Chanyeol juga merasakannya. Begitu sakit. Tapi Chanyeol juga tidak bisa memaksakan keinginannya.

"Sssst.. Tidak apa Baekhyunie. Suatu saat kita pasti bisa bertemu kembali. Saat itu tiba, Hyung tidak akan melepaskan Baekhyunie lagi. Hyung mencintaimu, sayang." Chanyeol ikut meneteskan air matanya.

Chanyeol tidak mampu menahan perasaannya lagi. Hingga dia menarik wajah Baekhyun untuk menatapnya dan mencium lembut bibir merona itu. disesapnya pelan bibir atas bawah Baekhyun meski tak mendapat balasan dari Baekhyun. Baekhyun hanya mengerjap polos dan membiarkan Chanyeol menciumnya. Karna Baekhyun menyukai apa yang Chanyeol lakukan pada belah bibirnya.

Mereka pun menghabiskan malam dengan saling berpelukan. Menikmati waktu yang mereka miliki. Hingga hari esok memisahkan mereka.

-

Chanyeol masih mengingat betul perasaan tak relanya 12 tahun silam saat dirinya ikut mengantar Baekhyun yang akhirnya memang meninggalkannya. Chanyeol masih ingat jelas bagaimana Baekhyun menangis keras saat orang suruhan ibunya membawanya memasuki pesawat yang akan segera membawanya kembali ke Eropa

Setelah itu Chanyeol tidak tau bagaimana kabar Baekhyun. Chanyeol masih menjalani hari-harinya. Hingga Chanyeol menyelesaikan perkuliahannya. Dia yang tadinya hanya sebatas office boy di Proxima coopration, Kini dia bekerja disana sebagai orang kepercayaan direktur Byun. Ayah Baekhyun.

Otaknya yang cerdas, dan keprofesionalan Chanyeolah yang membuatnya menjadi orang yang di percaya Tuan Byun untuk keberlangsungan proxima coopration.

Seperti dejavu, Tuan Byun meminta Chanyeol untuk menemaninya makan di restaurant sebrang perusahaan pada saat jam makan siang.

Tuan Byun mengatakan ada hal yang ingin di sampaikan pada Chanyeol.

Selesai menyantap makan siang mereka, Tuan Byun mengatakan hal yang membuat dada Chanyeol bergemuruh bukan main.

"Jemput Baekhyun di bandara Chanyeol. Sebagai seorang ayah yang mengharapkan kebahagiaan anaknya, Aku mempercayakan Baekhyun padamu."

Chanyeol terkejut mendengarnya. Parasaan bahagianya membuncah. Chanyeol langsung membungkuk berterima kasih kepada Tuan Byun dan langsung bergegas menuju bandara untuk menjemput Baekhyun.

-

Chanyeol tak dapat menahan perasaanya saat tiba di bandara. Rasa rindunya membuncah. Dadanya bergemuruh mengingat dirinya yang akam kembali bertemu dengan Baekhyun.

Baekhyunnya yg selalu ia harapkan selama 12 tahun. Baekhyunnya yang selalu ia sertakan di setiap doa-doa yang ia panjatkan. Baekhyunnya yang masih sangat Chanyeol cintai. Benar, Baekhyunnya. Chanyeol sangat merindukan Baekhyunnya.

"Hyung!"

Chanyeol memutar tubuhnya saat mendengar panggilan itu. Disana, Baekhyun yang dulu hanya memiliki tubuh imut setinggi pinggangnya, Kini tumbuh menjadi sangat cantik dengan tubuh moleknya.

Chanyeol bahagia melihatnya. Melihat kekasih hatinya masih mengenal dirinya.

Chanyeol melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun yang berlari menyeret kopernya menghampiri Chanyeol. Dan menerima dengan erat terjangan Baekhyun pada tubuhnya. Memeluk erat sosok yang sangat di rindukannya itu.

Mereka tenggelam dengan pelukan penuh kerinduan mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya. Pun mengabaikan koper yang tergeletak begitu saja di dekat kaki mereka.

Tubuh mereka sedikit berputar saking eratnya pelukan mereka.

Chanyeol melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Baekhyun. Menghapus air mata Baekhyun di pipinya. Dan Chanyeol mengecup lama kening Baekhyun.

"Aku merindukanmu". Ucap Chanyeol.

"Aku masih menunggumu. Aku mencintaimu." lanjut Chanyeol.

Baekhyun hanya mengangguk. Tak sanggup membalas perkataan Chanyeol. Dadanya terlalu sesak karna bahagia.

Hingga akhirnya Baekhyun menempelkan belah bibirnya pada bibir tebal Chanyeol. Saling menyesap dan melumat.

Meluapkan perasaan mereka melalui sebuah ciuman intens. Mengabaikan dunia dan hanya berpusat pada perasaan membuncah mereka.

Setelah semua yang mereka lewati, Chanyeol berjanji tidak akan melepaskan Baekhyun lagi. Begitu juga dengan Baekhyun yang berjanji tidak akan pergi dari sisi Chanyeol lagi.

Seperti takdir yang mempertemukan mereka dalam perasaan cinta, Maka mereka akan menjalani hidup mereka dengan penuh cinta sampai maut memisahkan.

~

END.