Bedeviled


Main Cast:

Sehun, Chanyeol

Support Cast:

Tidak ada


###HAPPY READING###


Prologue

Namja yang sedang mencuci piring itu adalah Park Chanyeol. Dan tepat jam dua belas teng nanti malam usianya tujuh belas tahun. Yeah. Asiiik! Tau apa artinya itu? Itu artinya adalah kebebasan yang tidak bisa didapatkan bila kita berusia enam belas. Oke. Beneran, bagi Chanyeol menjadi tujuh belas itu asik! Majalah porno, film yang banyak adegan ciumannya, pergi kemanapun dengan siapapun sebebas hati, kondom…tau kan maksudnya? Hahaha! Becanda.

Tapi hal-hal semacam itu tidak akan terjadi bila kita mempunyai Ibu seorang ahli supranatural yang kolot dan sangat protektif. Ahli supranatural disini maksudnya adalah peramal rumahan jadul yang kerjanya duduk-duduk dibelakang bola aneh terbuat dari kaca, bukan yang sering wara-wiri di Tv dengan kamera infra merah dan alat pendeteksi hantu super canggih.

Kadang Chanyeol sendiri, sebagai anaknya, tidak mengerti manfaat apa yang didapatkan Sehun dari pekerjaan itu.

"Mama membantu orang banyak dengan cara yang berbeda dari orang-orang awam pada umumnya." Itulah alasan sok keren Sehun kalau ditanya kenapa dia lebih pilih jadi seorang peramal ketimbang Aktor drama musikal.

"Meledek ya? Mentang-mentang suara Mama ekstra datar begini."

Tuh kan. Malah tersinggung dia.

"Tapi Mama kan masih bisa lipsync. Cukup goyang pinggul dan hentak-hentakkan kaki jadilah aktor drama musikal. Yang penting kan tampang."

"Aku tidak tau darimana kau belajar itu, tapi biar kau cari sampai ke belahan dunia manapun, tidak ada aktor drama musikal yang lypsinc. Kecuali kalau kau ingin melihat Mama dipermalukan di depan umum."

"Apa salahnya? Kim Kadarshian sering dipermalukan di depan umum. Toh dia dan payudara berlemaknya masih bisa hidup juga. Miley Cyrus malah mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Toh dia masih tetap twerking meski banyak yang menghujat."

Sehun menghela napas panjang. Hal yang selalu ia lakukan jika mendengar anaknya, yang memiliki tubuh raksasa dan bersuara seperti om om paruh baya, melantur kacau seenak jidadnya, "Terkadang aku merasa kau ini bukan anakku."

WHAT?! Jawaban macam apa itu?!

"Jadi… aku ini pangeran yang tertukar?" tanya Chanyeol melotot hiperbolis. Ya. Chanyeol memang agak hiperbolis. Kadang-kadang. Meskipun menurut Chen, Chanyeol itu always hiperbolis. Yang apabila 'always' itu diterjemahkan menjadi 'setiap detik', katanya Chanyeol hiperbolis setiap detik. Enak saja! Darimana sih dia belajar itu? (mengutip kata-kata favorit Sehun).

"Bukan. Bukan begitu. Kenapa malah jadi nyerempet kesana sih?" dengus Sehun sebal.

"Mama tuh yang duluan ngebahas masalah anak." Cibirnya, "Tapi beneran nih aku bukan anak Mama?" tanya Chanyeol masih takjub.

"Tentu saja kau itu anakku, bodoh!"

Wew… itu agak…

"Apa kita perlu melakukan tes urin bersama agar kau mempercayainya?" Sehun menyipitkan mata. Jujur saja Chanyeol paling tidak suka kalau dia sudah begitu. Sehun terlihat seperti akan melempar bola kristal menyala-nyalanya itu ke kepala Chanyeol. Eh, ngomong-ngomong… apa orang melakukan tes urin bersama untuk mengetahui keaslian hubungan darah? Bukankah itu dengan tes DNA?

"Ma, bukankah kita melakukan tes DNA untuk mengetahui apakah anak kita asli atau anak pungut?"

Sehun menjentikkan jari dengan senyum tertahan, "Tumben kau pintar!"

Hah? Jadi yang tadi pertanyaan ngetes doang?! "Terima kasih untuk tes dadakannya, Mamaku sayang." sindir Chanyeol pura-pura terkesan.

"Sama-sama." Jawab Sehun kalem. Hari ini namja itu membuat pancake apel untuk sarapan pagi. And thank god meskipun ini weekend, tapi kali ini rumahnya tidak dipenuhi oleh orang-orang asing yang mengaku sebagai Klien Sehun. Mereka benar-benar membuat Chanyeol merasa tidak tenang di rumah sendiri. Oke. Ralat. Bukan orangnya yang membuat Chanyeol tidak tenang. Tapi permintaan mereka yang aneh-aneh. Dan itu semua berhubungan dengan ritual pemanggilan arwah dengan bola kaca konyol kesayangan Sehun. Kalau sudah begitu, pasti banyak 'tamu tak diundang lain' yang bakal berseliweran di rumah ini. Mulai dari roh yang penampilannya cantik dan rupawan, sampai yang buruk rupa dengan lidah menjulur-julur ke lantai dan bola mata yang berguling kesana-kemari.

Malah dulu lebih parah. Entah manusia macam apa yang sudi meluangkan waktunya untuk memanggil setan pembawa kepala. Bayangin aja, Chanyeol lagi enak-enakan baca komik di kamar dan tiba-tiba setan itu nongol dengan kepala berlumuran darah di tangannya. Horror kan?

Tapi kata Sehun itu arwah seorang pengacara yang mati karena kepalanya kelindes ban truck tronton. Dan klien yang datang waktu itu kebetulan Istri dari pengacara tersebut. Dia hanya ingin say 'hi' ke almarhum suaminya.

Ibu itu pasti kosong sekali sampai mau memanggil roh suaminya yang super duper seram itu. Sumpah! Chanyeol sampai susah tidur selama seminggu berturut-turut gara-gara 'orang' itu muncul seenak dengkul di kamarnya. Kata Sehun, sebagai wujud terima kasih karena telah dipertemukan oleh sang istri, dia ingin menyapa anak Sehun juga sekalian. Oke. Cara menyapa yang bagus. Sangat elegan. Sangat berkesan. Dan sangat… menyenangkan.

Well, Sehun memang peramal. Selain meramal nasib dan peruntungan seseorang dengan kartu tarot, dia juga menerima tugas 'sampingan' untuk berkomunikasi dengan arwah orang mati melalui bola kristalnya. Dan biasanya klien Sehun selalu datang dengan request yang beragam. Mulai dari kasus yang berat sampai yang ringan. Seperti ingin dipertemukan dengan anaknya yang hilang dalam kecelakaan tragis pesawat, ingin dipertemukan dengan Ayahnya yang mati secara misterius di ruangan kerjanya, jadi dia bisa bertanya langsung ke sang Ayah siapa yang telah membunuhnya. Ada juga yang hanya mau sekedar say hello ke arwah nenek moyangnya yang mati puluhan tahun lalu, ada yang ingin dipertemukan dengan arwah anjing kesayangannya, ada yang ingin mengobrol untuk melepas kangen dengan arwah kedua orangtuanya, macam-macam deh pokoknya permintaan orang-orang itu.

Makanya Sehun selalu bilang dia membantu orang-orang dan berbuat mulia dengan cara yang berbeda. Sehun memang tidak pernah menyalahgunakan 'bakat' yang dia miliki. Dia menggunakannya untuk sesuatu yang benar. Membantu orang bertemu kembali dengan anggota keluarganya yang telah lama mati atau hilang. Atau membantu muda-mudi yang tidak sempat menyatakan perasaan karena kekasihnya keburu mati duluan. Meskipun hanya beberapa menit saja. Karena kalau kelamaan takutnya arwah-arwah itu ogah balik dan terlanjur keenakan tinggal di rumah mereka. Kalaupun misalkan ada kasus yang agak melenceng, seperti dulu ada seorang remaja dari perkumpulan penyihir lovers ingin bertemu dengan arwah penyihir di masa lampau, Sehun dengan tegas menolaknya. Bukannya apa. Selain dia ragu apakah penyihir itu ada, takutnya juga dia akan salah memanggil roh penyihir jahat.

Kalau roh penyihir jahat, Chanyeol langsung keinget sama Batseeba. Ituloh setan barbar berwajah ancur di film Conjuring. Bayangkan jika arwah seperti itu yang dipanggil… bagaimana jadinya cerita ini?

Dan biasanya Sehun juga menetapkan kualifikasi atau persyaratan khusus bagi klien-klien dan requestnya. Jika kemungkinan besar kliennya adalah orang gak beres. Dia akan langsung menolaknya dengan berpura-pura bola kacanya lagi rusak dan belum sempat di servis. Ya emang sih alasan konyol, tapi buat orang awam yang gak tau sama sekali pasti bakal mempercayainya mentah-mentah. Dan kalau kliennya lolos kualifikasi tapi giliran permintannya yang nyeleneh dan berbahaya, Sehun akan memberikan seribu satu alasan logis yang intinya dia tidak bisa memanggil 'yang bersangkutan' karena takutnya justru akan menjadi 'penyakit' karena pasti susah disuruh 'pulang'.

Kayak pernah dulu ada kejadian, seorang nenek berusia lima puluhan datang dan minta dipanggilkan arwah cucu kesayangannya yang mati di dorong teman-temannya di lumpur hisap. Sehun sudah capek-capek melakukan ritual, eh ternyata arwah anak itu sangat mengganggu dan nakalnya minta ampun! Sehun sampai butuh waktu selama berhari-hari untuk membujuk anak itu agar mau kembali ke alamnya. Soalnya anak itu ogah pulang dan terus mengacaukan barang-barang di rumah ini. Seperti memecahkan selusin piring dan vas bunga, memindahkan tempat tidur Chanyeol ke atas genteng, menambahkan kumis dan kotoran gigi di semua foto Chanyeol, mengotori selimut Sehun dengan kaki-kaki kecilnya yang penuh lumpur, dan menjambak rambut Chanyeol tiap menit. Iya. Arwah anak itu sensi sama Chanyeol.

Makanya Sehun kalau mau menerima job dari orang, dia akan menanyakan dulu latar belakang si orang mati yang mau dipanggil ini. Kalau kira-kira waktu hidupnya gak beres, Sehun dengan sangat terpaksa dan berat hati sekali harus membatalkannya. Jujur saja sebagai paranormal dia malas berurusan dengan roh-roh pembawa bencana. Apalagi kalau roh itu sudah melakukan tindakan ekstrem seperti melempar pisau dan garpu ke muka. Nah. Berabe kan urusannya?

Bayaran? Yaah… beragam sih kalau udah bicara soal duit. Tergantung dari kesediaan dan keiklasan orang-orang itu, berapa dia mau menghargai jasa Sehun. Sehun kan bukan mata duitan, dia ogah pasang tarif.

Meskipun peramal dan paranormal, tampilan Sehun justru tidak mencirikan dua profesi itu sama sekali. Dia tidak memakai kalung tengkorak manusia di leher, tidak mengolesi matanya dengan arang pantat panci dan tidak menjadikan kain pel kumal sebagai jubah. Sehun justru terlihat seperti seorang namja beranak satu biasa dengan kemeja oversize dan celana rumahan. Tapi coba deh perhatikan kalau dia sudah duduk dibelakang bola anehnya itu, aura Sehun langsung berubah seketika. Membuat seluruh bulu kuduk merinding total. Apalagi kalau mulut Sehun sudah komat-kamit baca mantra, entah kenapa sepertinya rumah ini seperti diselubungi kabut tak kasat mata yang dikirim dari alam gaib.

Chanyeol tidak mengerti kenapa Sehun mau-mau saja melakukan pekerjaan tidak masuk di nalar manusia logis kayak gitu. Bukan. berarti Chanyeol logis sih, dia hanya… tidak habis pikir. Bagaimana seorang sarjana seperti Ibunya sudi melepas jabatan penting dan malah beralih profesi jadi semacam peramal. Dulu Sehun punya pekerjaan normal yang lebih 'manusiawi', dia dibagian marketing sebuah perusahaan swasta. Meski tidak bisa dipungkiri Sehun sudah memiliki 'bakat khususnya' itu semenjak lahir. Dulu menjadi peramal hanya sebagai sampingan saja. Entah sejak kapan Sehun memilih keluar dan justru menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi tetapnya. Tapi seingat Chanyeol, Sehun jadi makin terlarut dalam pekerjaannya seiring dengan usia Chanyeol yang bertambah. Saat Chanyeol enam belas tahun, Sehun betul-betul berhenti total dari pekerjaannya dan makin hobi memantrai rumah ini. Tidak hanya rumah yang dimantrai, Chanyeol pun juga ikut dimantrai. Tentu saja semacam mantra pelindung agar terbebas dari gangguan. Entah gangguan apa. Sehun hanya bilang jangan pernah lepaskan kalung di lehermu, jangan lupa minum susu yang Mommy mantrai, jangan lupa pasang itu di kelingkingmu, dan berbagai macam hal-hal klenik lainnya yang bikin Chanyeol gerah setengah mampus! Kalau Chanyeol menolak, Sehun pasti akan memaksanya dengan berbagai macam cara dan alasan agar Chanyeol mau memakai benda-benda aneh bin ajaib itu di tubuhnya.

Chanyeol suka? Tidak. Dia tidak suka. Itu aneh. Dan itu membuat Chanyeol mendapat predikat 'freak' dari teman-temannya di sekolah. Dulu dia sering jadi bahan bulan-bulanan waktu awal-awal semester. Tapi karena Chanyeol orangnya emang cuek dan lumayan kebal sindiran, jadi anak-anak itu bosan sendiri.

Oh…tidak. Tidak semua. Masih ada beberapa diantara mereka yang bertahan. Mereka itu adalah geng Jinyoung cs. Orang-orang yang merasa diri mereka paling penting sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Chanyeol tidak suka mereka semua. Ralat. Kecuali satu, Kris wu. Cowok blasteran Kanada-Cina yang saat ini sedang Chanyeol taksir habis-habisan dan jadi idola namja-namja uke serta yeoja-yeoja di sekolahnya. Dibandingkan yang lain, Kris ini beda. Dia tidak pernah melontarkan kalimat-kalimat dingin dan bernada kasar seperti teman-temannya yang lain. Kalau teman-temannya angkuh, merasa diri paling populer, cowok itu malah down to earth. Kris tidak segan-segan menggabungkan diri dengan gerombolan kutu buku atau mengobrolkan spare part, komputer, game, robot atau apa saja dengan para geek, yang dianggap para kaum borju, sebagai orang-orang 'pinggiran'. Selain itu, Kris terkenal sebagai cowok yang sangat cerdas diangkatannya. Nomer dua setelah Suho. Sudah cerdas, baik hati, ganteng, blasteran, kaya raya, gitaris pula.

Cowok ganteng yang serba bisa. Perfecto! Gak hanya menang di tampang doang. Makanya itu yang bikin Chanyeol makin kesengsem dan jatuh hati setengah hidup sama Kris. Chanyeol tidak mengerti kenapa cowok keren selevel Kris bisa 'terjebak' dengan orang-orang kayak gitu yang bisanya hanya mengkritik dan mengkritik.

Kesimpulan Chanyeol, mungkin karena mereka sama-sama populer, berdompet tebal dan teman satu band.

"Ma." Panggil Chanyeol sambil mengunyah potongan pancakenya.

"Hm?" Sehun tidak menoleh dari majalah klenik langganannya. Tapi Chanyeol lebih suka menyebut majalah itu majalah dukun internasional. Dan sudah pasti isinya gak jauh dari hal-hal berbau perdukunan.

"Kapan sih aku berhenti dimantrai? Sebentar lagi aku tujuh belas tahun, Ma. Aku bisa jaga diri. Lihat badanku yang tinggi menjulang ini. Apa aku keliatan kayak bocah lemah yang baru di dorong sekali langsung kena epilepsi? Enggak kan?" tukas Chanyeol keki.

"Ukuran tubuh tidak menjamin seseorang aman atau tidaknya. Lagipula gangguan yang Mama maksud disini bukan gangguan dari makhluk halus kacangan biasa. Tapi gangguan dari…" Sehun selalu aja memotong omongannya kalau sudah ditanya soal gangguan yang kelak akan 'meneror' Chanyeol. Bikin penasaran aja!

"Dari apa sih, Ma? Kebiasaan suka bikin orang bingung." dengus Chanyeol bete.

"Gangguan dari…" Sehun masih terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, "Makhluk atau entah apapun namanya, yang jelas dia itu sesuatu yang paling tidak ingin kau temui di dunia ini."

Dahi Chanyeol berkerut, "Entah apapun? Dia? Sesuatu? Apa sih, Ma? Yang jelas dong! 'Dia' ini siapa?"

Sehun tampak salah tingkah. Bolak-balik melirik jam tangan. Seolah-olah jam tangan itu bisa membuatnya menghilang dalam sekejap dan terbebas dari pertanyaan beruntun Chanyeol.

"Dia itu… dia itu… pokoknya makhluk yang tidak bisa kujelaskan sekarang. Cepat atau lambat dia pasti akan menampakkan diri. Dan tentu saja itu tidak akan kubiarkan! Selama aku masih berada di dunia ini!" tekad Sehun ala pejuang kemerdekaan.

Kenapa ya kok aura Sehun tiba-tiba berubah? Kenapa wajahnya mendadak mengeras dan serius begitu? Ekspresi wajah yang sama kalau Chanyeol bertanya soal kemana perginya sang ayah kandung? Pasalnya dari Chanyeol balita sampai sekarang, dia hanya hidup berdua dengan Ibunya. Dan Chanyeol tidak ingat sama sekali pernah dikunjungi seorang pria paruh baya yang mengaku dirinya 'Papa'. Tidak pernah. Malahan Sehun kalo ditanyain Chanyeol soal siapa ayahnya dan dimana dia sekarang, selalu dijawab dengan singkat, padat dan jutek. Sehun hanya pernah menceritakan kisah asmaranya satu kali.

Jadi Namja yang pernah dia nikahi itu dulu seorang dosen di kampusnya, sedangkan Sehun adalah mahasiswa 'kesayangan' dosen itu. Karena jumlah pertemuan mereka yang begitu intens, mengingat Sehun dulu sampai diangkat asisten segala, akhirnya timbul lah benih-benih cinta diantara dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu. Kemudian waktu Sehun selesai, pria itu langsung melamar dan menikahi Sehun. Hingga dua tahun kemudian mereka dikarunia satu anak laki-laki. Itulah Chanyeol. Namja yang telah tumbuh menjadi raksasa yang unyyu dan manis ini.

Sehun bilang awal rumah tangganya dulu baik-baik saja, sampai akhirnya ada suatu konflik yang menyebabkan mereka harus pisah ranjang sampai sekarang. Waktu kedua orangtuanya bercerai, usia Chanyeol masih setahun. Masih merangkak-merangkak sambil pakai popok. Jadi wajar saja kalau dia tidak ingat.

Nah konflik itu yang bersikeras tidak ingin diceritakan Sehun meskipun Chanyeol udah ngotot maksa sampai kayang, salto, sikap lilin dan jungkir balik segala.

"Lalu kapan Mama akan menjelaskannya? Aku sudah mau tujuh belas, Ma!" tuntut Chanyeol.

"Bisa gak sih jangan bawa-bawa umur? Memangnya kenapa kalau kau tujuh belas? Justru disitulah yang Mama takutkan. Mama takut kau berusia tujuh belas tahun."

"Oke. Itu alasan paling lucu yang pernah aku dengar, Ma. Takut kalau aku berusia tujuh belas? Memangnya kenapa kalau aku berusia tujuh belas?" serang Chanyeol seperti boomerang yang sukses bikin Sehun makin gelagapan.

"Pokoknya… Mama hanya…ehmm… cemas. Sudah ya, Mama mau jemput temen sekalian beli kue ulang tahunmu dulu. Byee!" Sehun buru-buru melarikan diri sebelum Chanyeol sempat buka mulut untuk protes.

Menyebalkan! Selalu memantrai ini itu tanpa mau memberi tau apa alasannya. Jangan harap dia mau dibegitukan terus. Bukankah sebentar lagi dia akan tujuh belas? Dia sudah bukan bocah kecil lagi. Sudah saatnya bagi Chanyeol untuk berhenti menjadi Mommy's Little boy.

.

.

.

.

"Maa, apa kalimat 'Hombala-hombala' ada dalam mantramu?"

Sehun menggeleng dengan mata ngantuk. Satu tangannya menopang dagu dan tangan lain memegang korek api, siap-siap buat nyalain lilin kalau jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka dua belas nanti.

Beginilah tiap tahun. Ulang tahun kecil-kecilan. Hanya berdua saja dengan Sehun. Tadinya Chanyeol mengundang Chen juga sih, tapi sayang sahabatnya itu lagi ada acara keluarga. Ya udah. Terserah. Dua orang aja cukup.

"Kalau 'Palaluleoleonticus Erectus Javanicus'?"

Sehun menggeleng, "Tidak ada, Chan. Darimana sih kau belajar itu? Lagipula Javanicus itu nama belakang spesies manusia purba. Kau ini asal ceplos aja!"

"Kalau 'Hompimpah alay lu homgambreng'?" tanya Chanyeol dengan posisi dan muka ngantuk yang sama. Sebenarnya daritadi Sehun nyuruh anaknya itu kasih tebak-tebakan lucu biar mereka terjaga sampai jam dua belas. Tapi Chanyeol malah menanyakan sesuatu yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Malah membuat Sehun semakin ngantuk dan ingin segera terbang ke alam mimpi.

"Apa barusan kau mengataiku alay?" tanya Sehun yang udah teler parah gitu masih sempet-sempetnya tersinggung.

"Enggak kok, Ma. Siapa yang ngatain? Itu kan cuma perasaanmu saja." Hoaaaahmmm! Chanyeol menguap kelebaran ala monster kuda nil.

"Jangan lebar-lebar, nanti kue mu terhisap."

Chanyeol mencibir manyun, "Biarin. Toh, Mama juga gak mau aku berusia tujuh belas."

"Kau tetap akan berusia tujuh belas tanpa kue mu, Chan."

Chanyeol nyengir. Oh iya ya.

Tilililit tilililit… kira-kira begitulah bunyi alarm hape Chanyeol.

"Yess! Sudah saatnya!" seru Chanyeol terlonjak bangun sambil tepuk tangan antusias, "Ayo, Ma. Cepat nyalakan!"

Sehun membakar tujuh belas lilin diatas kue dengan perasaan cemas dan gundah gulana. Tapi biar bagaimanapun Sehun sadar dia tidak bisa menolak takdir. Takdir yang sudah digariskan sejak lama untuk keturunannya. Takdir yang terjadi sebagai 'buah' dari kecerobohannya mencintai Pria yang salah. Pria yang justru membuat kehidupannya berubah drastis seperti sekarang ini. Lagian emang dia sendiri sih yang salah, main kepincut aja sama tampang. Lihat sekarang akibatnya? Dia bertindak seperti orang gila, duduk dibelakang bola, berbicara dengan orang mati, berkeliling rumah sambil membacakan mantra. Semua itu dia lakukan demi apa? Demi melindungi anak semata wayangnya. Chanyeol.

"Aku tiup ya, Ma? Satu… dua… tiga!" Pfuuuh! Chanyeol cuma niup taplak meja karena kuenya keburu ditarik sama Sehun. Sial. Padahal dia monyongnya sudah maksimal begini. Saking maksimalnya, sampai Chanyeol kentut sedikit.

"Tunggu dulu! Tidak ingin mengucapkan permohonan atau semacamnya?" tanya Sehun dengan senyum yang terkesan aneh dan maksa banget.

Alis Chanyeol berkerut curiga, "Ma… kau hanya ingin mengulur-ngulur waktu kan?"

"Mengulur apanya?" Sehun pura-pura idiot.

Chanyeol terdiam lamaaa sekali. Ada sekitar tiga menit. Sampai akhirnya dia menghela napas menyerah, "Ya sudah. Lagipula aku sudah tujuh belas tanpa kue bodoh dan lilin bodoh."

Sehun melongo. Duh. Iya ya. Chanyeol kan sudah tujuh belas tahun hari ini. HARI INI. SEKARANG!?

Tuhan…

Kenapa jantung Sehun berdebar heboh begini?

"Em..baiklah, ini kue mu. Silahkan tiup. Kau benar. Kau tetap tujuh belas tanpa lilin dan kue." Sehun pasrah dan menyorong kuenya kembali kehadapan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lega melihat Mamanya sudah berlapang dada menerima anaknya kini telah beranjak dewasa. Namja bersurai coklat terang itu mengambil napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, membuat permohonan dalam hati.

Tuhan. Semoga Kris Wu, siswa senior sekaligus namja paling tampan dan tenar di kelas dua belas, bersedia menjadi pacarku. Oke. Becanda. Tapi kalau beneran juga gak apa-apa sih, Tuhan. Semoga kau sudi mengabulkan permohonan pertamaku di usiaku yang ketujuh belas ini. Amin.

Setelah selesai berdoa, Chanyeol langsung meniup lilin-lilin di depannya dengan sekuat tenaga.

Pfuuuuh!

JRENG-JRENG! Mendadak semuanya gelap gulita. Seluruh lampu di rumah ini padam tanpa sebab. Bahkan lilin diatas meja makan juga ikut padam dengan sendirinya.

"Ma, apa aku niupnya terlalu kencang? Kenapa lilin itu padam juga?" tanya Chanyeol mulai merasa merinding-merinding gak enak dibagian tengkuk, "Atau jangan bilang ini salah satu kerjaan arwah-arwah tolol itu?"

"Sssst! Jangan sebut 'mereka' tolol. Mama tidak memanggil apapun. Lagipula tidak ada yang…" Sehun tiba-tiba bungkam.

"Ma? Ma? Kok diem? Ma? Mama!" panggil Chanyeol panik. Masalahnya ini gelap banget dan dia tidak bisa merasakan apapun kecuali suara nyamuk yang mulai terbang mondar-mandir di sekelilingnya. Mencari tempat mendarat yang paling strategis di tubuh Chanyeol.

"Sstt! Jangan kemana-mana. Mama mau ambil lilin dulu di dapur." tukas Sehun dalam kegelapan.

"Lho? Lho?! Kok ke dapur?! Jangan tinggalin aku, Ma!" Chanyeol belingsatan panik sambil menahan tangan Sehun. Bagaimana kalau ini beneran ulah salah satu makhluk-makhluk jelek itu? Bagaimana jika ada yang tiba-tiba muncul di depan mukanya?! Bagaimana jika dia keburu tewas dicekek salah satu dari mereka sebelum impiannya sempat terkabul?!

"Goddamnit! Aku hanya pergi sejauh sepuluh langkah. Kenapa kau bertingkah seolah aku akan pergi liburan di Hawaii? Kau itu sekarang tujuh belas tahun, ingat?"

Huh. Pake bawa-bawa umur segala.

Sehun beranjak dari kursi, "Duduk dan tunggu. Aku hanya ingin mengecek saklar, mungkin ada kabelnya yang korslet atau apa. Kau tunggu disini ya? Ini tidak akan lama."

Chanyeol mengangguk. Begitu sadar Sehun tidak bisa melihatnya, buru-buru dia menyahut, "Oke." Meskipun dalam hati sebenarnya Chanyeol dilanda cemas akut.

"Nah, jangan kemana-mana. Oke?"

Chanyeol mengangguk patuh, "Oke."

Dengan bermodalkan korek api kecil, Sehun berjalan menuju dapur. Berusaha menyesuaikan penglihatannya di kegelapan. Satu tangannya meraba-raba kedepan agar tidak menabrak sesuatu atau 'seseorang'.

Becanda. Tidak ada 'seseorang' disini. Hanya mereka berdua. Iya kan?

Sementara Chanyeol menunggu di meja makan sambil celingukan kesana-kemari.

"Ma, Mama…cepat kembali…perasaanku tidak enak…" gumam Chanyeol yang keringat dinginnya mulai bercucuran. Antara merasa kepanasan dan merinding hebat. Sumpah. Dia belum merasa pernah setakut ini sebelumnya. Chanyeol sudah sering diperlihatkan wujud 'makhluk-makhluk' itu, tapi dia belum pernah merinding sehebat ini. Siapa ya yang ada dibelakangnya? Kenapa Chanyeol merasa seperti ada yang memperhatikan dia daritadi?

"Maaa! Sudah beluuum?" pekik Chanyeol dengan suara agak bergetar.

"Sabaar! Sebentar lagi!" balas Sehun dari arah dapur.

Chanyeol mendesis. Ayolah. Cepat. Cepat. Cepat…

"Yak! Sudah!"

Tepat di detik saat lampu kembali terang benderang, Chanyeol melihat ada seonggok kepala berkulit tan nyengir diatas kue tartnya. Dan kepala nyengir itu berkata:

"HALOO, NAK! SELAMAT ULANG TAHUN!"

Chanyeol pun pingsan seketika.

.

.

.

TBC?—

.

.

A/N: So… this is my next future project^^. Karena ff yang Uke-uke absurd juga udah mulai jalan. Jadi gantian saya menandai ini sebagai 'Coming soon'.

Kesan, pesan, saran, atau apapun, silahkan kirim aja :D. Asal jangan ngebash dan menjudge. Oke? Meskipun basic ceritanya terinspirasi dari novel yang asli, tapi jujur aja scene diatas MURNI saya karang sendiri xD. Dan gak tau kenapa tanpa sadar langsung nyerempet ke horror (;-,-).

Jadi FF ini nantinya tentang Jongin si jelmaan Lucipreet dan Sehun si Mamah Loreng, serta anak mereka Chanyeol jerapah setengah iblis dan gebetan idolanya Abang Kris gitaris tambal band… oke, band aja gak pake 'tambal'. Maap. Heheh.

Meskipun di prolog ini kebanyakan ngemeng masalah asal usul dan latar belakang para tokohnya, semoga pembaca gak bosen ya hehe^^

Oke. Cukup sekian ;). Leave your comment bagi yang bersedia :D. Dan semoga bisa sabar menunggu dikarenakan kesibukan saya yang tak menentu. Maklum. Mahasiswa semester bontot.

This is just for fun. So, don't take it personally ;). Kalo kata abang GD: Why so serious? xD

#RnR plz ;)?