ABNORMAL
.
Author :
Rafiz Sterna
Main Cats :
Kyuhyun Super Junior as Kyuhyun
Original Character : Min Chang / Changmin
Lenght :
Chapter 2/?
Genre :
Drama, humor,
Rating :
General (all ages)
Chapter 2 :
Reseamble
Summary :
"Kalian mirip! Jangan-jangan, dia adalah anakmu? Kyuhyun! Katakan yang sebenarnya."
.
.
.
A/N :
Gomen-ne~
Dari chapter 1 ke chapter 2 ini lama sekali aku melanjutkannya. Jujur, bukan masalah writer block atau yang lain. Aku hanya malas melanjutkannya. Itu saja.
Untuk mengetahui apakah aku sukses atau tidak, mudah! Para readers, please read, like and comment. Review jika ini menarik ataupun tak menarik untuk kalian.
Last word, hope you like it!
.
.
.
Kepala Kyuhyun berdenyut hebat. Beberapa jari-jarinya berusaha memijit-mijit pelipisnya. Dia butuh obat. Minimal aspirin untuk mengurangi rasa sakit yang terus menerus menghujam kepalanya. Jam putih di pergelangan tangan kanan menunjukkan pukul 11 malam. Dia ingin tidur, tentu saja. Setelah minggu kemarin hari-harinya dipenuhi jadwal yang padat, sore tadi dia melewati kejadian luar biasa yang seumur hidup tidak pernah terbayangkan.
Kejadian di jalanan sepanjang rumah makan itu benar-benar tidak akan Kyuhyun lupakan. Chaos. Penuh teriakan. Memanggil-manggil namanya. Derap langkah yang setiap detiknya memacu jantung Kyuhyun berdetak lebih cepat.
Nyaris, semua orang yang berlari di belakangnya bisa dikategorikan sebagai ELF. Ever Lasting Friend, nama fansclub dari grup Super Junior. Beberapa diantaranya mungkin sasaengs fans yang selama ini mengikutinya. Dilihat dari sisi pandang yang lain, memungkinkan sekali jika mereka menggila ketika mendapati Kyuhyun di jalanan. Sendirian. Tanpa pengawal. Tanpa manager. Tanpa para hyungdeul. Tidak ada seorangpun yang seharusnya menemaninya ada.
Hanya seorang anak kecil yang begitu mencolok ketika berdampingan dengan Kyuhyun. Tepatnya, digendong oleh Kyuhyun. Bayangkan, seorang Kyuhyun seperti itu?
Dengan usaha yang begitu keras, Kyuhyun bisa tiba pada kendaraan yang menyelamatkannya. Mobil berwarna hitam dengan model Ford –tertulis di bagian bemper mobil itu dan sepertinya merk termahal yang Kyuhyun tahu- yang sepertinya milik Changmin. Kilap yang ditampilkan kendaraan itu bisa menunjukkan betapa mahal dan juga prestisiusnya ketika diparkirkan di pinggir jalan bersama beberapa mobil lain yang secara kebetulan terlihat begitu jelek. Mengingat bagaimana anak laki-laki itu memerintahkan sang sopir dengan nada yang sangat bossy, memaksa Kyuhyun untuk menaruh rasa curiga yang makin besar.
Secepatnya William memacu kuda besi itu. Sementara bulir-bulir keringat Kyuhyun makin deras meskipun pendingin mobil telah bekerja bahkan sebelum Kyuhyun memasuki mobil.
"Wae, hyung?"
Ucap Changmin memecah keheningan yang ada.
"Min, bisa kau minta William untuk lebih cepat membawa mobil ini? Seperti jumlah sasaengs fans yang mengikutiku melebihi biasanya."
Pandang Kyuhyun menatap beberapa mobil di belakang mereka dan taksi dengan kecepatan yang mengimbangi mobil ini, di samping kanan dan kiri. Kyuhyun tahu itu dengan baik. Karena beberapa diantara wajah itu adalah wajah yang tidak asing dalam hal mengikuti mereka. Mengikuti ke manapun Super Junior pergi.
"William, kita keliling Seoul dengan cepat. Buat mobil-mobil itu kehilangan kita atau kehabisan bahan bakar, lalu kita akan ketempat biasanya."
Perintah sang tuan muda dengan tenang namum penuh intimidasi. Tanpa salah pada kalimatnya. Kyuhyun tidak punya waktu untuk memikirkan kenapa anak lima tahun ini begitu berkuasa. Yang dia inginkan adalah kabur secepatnya dari jeratan para fans gila.
Diraihnya ponsel yang seharusnya di saku. Menghubungi beberapa hyung atau siapapun untuk memberitahu bagaimana keadaannya sekarang.
Tapi tidak bisa. Karena ponselnya mati tanpa pasokan energi.
.
.
.
Sejak 30 menit yang lalu Kyuhyun telah cek in di salah satu hotel di Seoul dengan Changmin yang menggandeng tangannya erat di lobi hotel. Mengingat keberadaan yang bisa mengguncang apapun. Dengan beberapa pembicaraan, Changmin memerintahkan sang sopirnya untuk melaksanakan pemesanan hotel.
Kyuhyun tidak bisa lepas dari anak laki-laki yang berumur lima tahun itu. Dia tak tahan untuk membantah tatapan memohonnya setiap kali Kyuhyun meminta untuk izin pulang ke dorm. Jika dipikir lagi, sejak kapan Kyuhyun selemah ini menghadapi anak kecil?
Dengan keputusan mutlak yang dihasilkan Changmin, malam ini Kyuhyun bermalam di hotel bintang lima bersama anak lima tahun dan supirnya. Hanya seorang Kyuhyun dan adik barunya. Bukan Cho Kyuhyun, magnae Super Junior.
Melupakan sesuatu yang sangat penting. Memberi tahu para hyung di dorm mengenai apa yang terjadi. Yang pasti, berita simpang siur mengenai apa yang terjadi mulai masuk ke pemberitaan. Fancafe Super Junior dipenuhi pembicaraan dan bukti-bukti kejadian sore tadi. Dan Kyuhun belum menampakkan dirinya dimanapun, di tempat dimana orang lain yang mengenalnya baik berada. Menghadirkan berbagi macam spekulasi tak berdasar.
Yang paling penting, meninggalkan hyung yang tidak tahu harus mencari Kyuhyun di mana. Untuk pertama kalinya Kyuhyun menghilang tanpa jejak setelah meninggalkan sebuah adegan yang mengejutkan.
"Astaga! Aku kesiangan!"
Suara teriakan membahana memenuhi kamar hotel bernomor 132. Tempat salah seorang member Super Junior bermalam dengan terpaksa bersama seorang anak laki-laki berumur 5 tahun.
"Ah, semalam aku mimpi buruk. Aku bermimpi di kejar oleh gerombolan mengerikan yang seolah siap mengulitiku dan dijadikan pajangan pada laboratorium biologi, akibat bertemu seorang anak kecil yang memaksa aku untuk bersamanya. Lalu melakukan balapan di jalanan Seoul dengan kecepatan yang tidak biasa."
Racau panjang Kyuhyun dengan posisi terduduk dan mata terpejam. Senyum masih terpasang di wajahnya menyakini bahwa saat ini dia baru bangun dari mimpi buruknya.
"Good morning, Kyuhyun hyung."
Sebuah pintu terbuka tepat d hadapan Kyuhyun. Menampilkan seorang anak kecil dengan pakaian langkap –tuxedo berwarna biru laut dan kemeja putih dengan celana pendek serta sepatu yang menghentak-hentak lantai- Wiliam hadir di belakang Changmin dengan wajah datarnya.
Mata Kyuhyun menatap nanar. Ternyata kemarin itu bukalah mimpi, tapi kenyataan.
"Hyung, apa hari ini kita akan ketaman bermain?"
Tanya Changmin tanpa basa-basi lagi. Tidak perduli bangaimana berantakannya Kyuhyun setelah bangun tidur. Lihat saja, rambut kehitaman itu yang mencuat tak tentu arah. Wajah berminyak dan seolah menampilakan ekspresi 'aku butuh tidur lagi'. Melihat tidak ada jawaban, Changmin kembali bersuara, sedangkan William sudah ada di samping Kyuhyun.
"Hyung, kau berjanji padaku."
Secara kebetulan, suara Changmin seolah menggema di kamar hotel. Tapi tidak bisa menembus Kyuhyun yang sudah kembali bergulung dalam selimutnya sekalipun ini musim panas. Dengan satu gerakan kepala dari Changmin, selimut yang Kyuhyun kenakan berpindah ketangan William. Meninggalkan ekspresi jengkel pada Kyuhyun.
"Min, aku mau tidur."
Oh, ayolah, Kyuhyun sekarang mencoba memohon pada anak 5 tahun.
"Kau sudah berjanji."
Balas Changmin, tidak peduli dengan bantahan Kyuhyun. Changmin berbalik dan duduk dikursinya, sedangkan matanya tidak juga lepas dari Kyuhyun.
Mengikuti Changmin sepertinya lebih mudah dari pada bertengkar dan Kyuhyun tetap tidak bisa melanjutkan tidurnya.
Kyuhyun bangkit dari tempat tidur dan mulai bergerak menyeret tubuhnya perlahan. Di sebelahnya ada William yang mengikuti hingga pintu kamar mandi. Kyuhyun melancarkan protes, diwakilkan oleh tatapannya yang tajam. Pandangan itu seolah berarti, 'kau mau apa?'
"Pakaian untuk anda sudah saya siapkan didalam. Jika ada yang kurang tolong katakan saja."
Ucapnya khidmat dengan senyum tipis menyangkut di wajahnya. Alis Kyuhyun bertaut, berpikir bahwa ini aneh. Baru 5 menit yang lalu selimutnya diculik darinya dan dia hampir terjengkang dari kasur karena pria yang selalu patuh dengan Changmin, sekarang berkata penuh hormat dengannya?
Sesaat setelah Kyuhyun menutup pintu beberapa kalimat terdengar samar.
"Siapkan apa yang kita butuhkan."
"Baik, tuan muda."
.
.
.
Ruangan dengan nuansa coklat lembut dan beberapa gambar awan dilangit seolah tengah dirundung mendung. Nyaris semua yang ada di ruangan ini sibuk dengan pikiran masing-masing. Dihadapan mereka tergeletak begitu saja ponsel pintar. Beberapa yang lain meremas ponsel itu seolah siap menghancurkannya. Layar ponsel menanyangkan hal yang serupa. Kyuhyun yang tertangkap kamera bersama seorang balita laki-laki yang wajahnya disamarkan. Seluruh portal berita yang mereka ketahui menayangkan hal serupa sebagai headline news.
"Hyung, itu bukan Kyuhyun, kan?"
Tanya Donghae yang ditujukan kepada leader yang terpekur di sudut ruangan. Menatap ganas layar ponselnya tanpa berkedip.
"Astaga, uri magnae sudah besar. Siapa gadisnya? Kenapa dia tidak pernah memberi tahukannya pada ku?"
Siwon sibuk menggumam sendiri disudut ruangan lain. Berubah dari dirinya yang biasanya yang senantiasa tersenyum. Sekarang dia menyendiri, memeluk lututnya. Suaranya bergetar. Seolah begitu sedih karena adik kesayanggannya selama ini tidak jujur padanya.
"Ini memang Kyu-hyung! Kyuhyun hyung!"
Histeris. Histeris dimana-mana. Suara Henry memantul-mantul di dalam ruangan. Dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi.
"Aigoo, manis sekali dia. Apa mungkin dia adalah anak Kyuhyun hyung?"
Ucap Henry kembali. Pandangan seluruh ruangan mengarah padanya seketika, seolah kalimat barusan adalah tabu.
"Henry, kenapa kau bicara seperti itu?"
Lirih Sungmin datar, namun aura jengkel menguar kemana-mana. Menusuk orang yang ada di dalam ruangan dan membuat ngeri.
"Lihat saja, mereka seolah mirip. Kyuhyun hyung hanya punya kakak perempuan, kan? Kalau bukan anak, siapa lagi?"
Jawab enteng Henry, tak peka akan keadaan. Serta merta mereka berlari mendekat ke Henry, penasaran dengan gambar yang dimaksud. Karena sejak tadi mereka hanya mendapatkan gambar sang anak yang disamarkan.
Ponsel Henry berpindah dari tangan yang satu ketangan yang lain. Siwon yang begitu ekspresif, makin menjadi-jadi.
"Kyuhyun-ah, waeeee?"
Air mata yang entah asli atau palsu terjun bebas menghantam lantai. Kedua telapak tangannya menyentuh lantai sementara wajahnya menunduk. Siwon, tolonglah malu pada rambut yang menghiasi wajahmu itu.
"Siwon, kau tidak pantas menangis dengan wajah seperti itu."
Ucap Yesung guna mengalihkan guncangan jiwa yang didapatkannya.
Semuanya, seluruh member Super Junior terguncang ketika mendapatkan berita ini tengah malam tadi. Pemberitaan mengenai seorang idola mengenalkan pacarnya yang baru beberapa bulan, jagat korea dan pada fans geger. Sekarang, pemberitaan mengenai idola, teman, adik, dan kakakmu yang kau hormati dan idolakan tiba-tiba saja muncul bahwa dia telah memiliki anak. Bagaimana ceritanya duniamu tidak terasa runtuh?
Mereka pikir, tidak kembalinya Kyuhyun adalah hal yang sama saja seperti sebelumnya. Pergi tanpa memberi tahu, lalu kembali ke asrama beberapa saat sebelum jadwal dimulai dan mengacau menjadi evil seperti biasanya.
Terkutuklah, mengapa Kyuhyun tidak bisa dihubungi? Yang semakin membuatkan keadaan memburuk.
Jadi inilah jawaban perasaan jelek yang sempat mampir dan dibicarakan pada makan malam sebelumnya.
.
.
.
Kyuhyun tidak sempat berfikir, musibah macam apa yang akan menimpanya beberapa jam dari sekarang. Pikiran sempitnya tentu akan berfikir itu adalah bencana terhebat yang pernah mampir pada karirnya. Entahlah, setiap orang bisa berubah
.
.
.
Mereka berdua seperti pasangan pangeran bersaudara yang datang dari negeri antah berantah. Berkostum seperti bangsawan. Tuxedo hitam putih dikenakan oleh saudara yang tua, dan biru untuk yang lebih muda.
Keduanya melenggang masuk ketaman bermain yang ramai. Berusaha untuk tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang.
"Changmin, kau mau mencoba yang mana?"
Ucap Kyuhyun setenang mungkin, mengabaikan tatapan aneh dari beberapa orang.
"Yang mana saja, aku mau asal bersama Kyuhyun hyung."
Diangkatnya Changmin dan digendongnya. Memudahkannya untuk bergerak kesana kemari meski membawa anak kecil bukanlah perkara mudah. Seseorang berlari dengan kecepatan tinggi menuju mereka berdua. Berkacamata hitam dan mengenakan topi. Gelas minuman di tangan kanannya sudah terlempar entah kemana. Kyuhyun sadar bahwa orang itu memanglah menuju padanya setelah namanya disebut.
"Kyuhyun! KYUHYUN! YA! BERHENTI!"
Kyuhyun diteriki seolah pencuri. Namun membuatnya berhenti seketika ditempat. Lelaki yang mengejarnya makin dekat, dan suaranya makin kencang mengucapkan kalimat serupa. Tiba-tiba, beberapa pria berseragam seperti Men In Black mengelilingi Kyuhyun dan Changmin, dan 2 orang diantara mereka menangkap pria yang berlari tersebut. Menyeretnya kehadapan tuan muda Changmin.
"Ya! Kyuhyun, kenapa kau sekarang ada disini?"
"Lepaskan aku!"
"Kyuhyun! jawab aku!"
Ucapnya tak putus-putus, Kyuhyun masih mencoba mengingat siapa dia. Mencari dipikirannya mengenai orang yang dikenalinya. Lelaki itu membuka topi dan kacamata hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya.
"Donghae hyung? Kenapa kau ada di taman bermain? Bukannya hari ini kau ada jadwal syuting drama?"
Tanya balik Kyuhyun dengan nada terkejut. Changmin memeluk Kyuhun makin erat. Menyembunyikan wajahnya di leher Kyuhyun. Donghae baru saja menyadari keberadaan balita itu.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau tidak pulang semalam?"
Kyuhyun ditanyai seolah anak laki-laki belasan tahun yang berbuat onar di sekolahan. Kyuhyun diam, bingung mau memberikan jawaban seperti apa.
"Siapa dia?"
Tanya Donghae lagi lebih garang. Mengarahkan jarinya ke Changmin yang merangsek makin dalam di leher Kyuhyun. William yang kini ada di samping Kyuhyun segera menyeret Donghae lebih jauh dari Kyuhyun dan Changmin. Donghae menepisnya dan makin mendekat kepada Kyuhyun.
"Ahh, ini butuh penjelasan yang panjang."
Jawab Kyuhyun dengan senyum garing.
"Kalian mirip! Jangan-jangan, dia adalah anakmu? Kyuhyun! Katakan yang sebenarnya."
.
.
.
TBC
