Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki.

Paring: AkaKuro

Warning: OOC, Typos and Miss Typos, Yaoi—MalexMale, Short Drabble, dll

.


.

-Fisika-

Kedua pemuda itu saling menatap. Kuroko yang berada di bawah kekangan Akashi hanya diam dengan pandangan sayu, sedangkan Akashi terus menatapnya tajam—walau sesekali menyeringai senang. Semua yang diajarkan gurunya di kelas ternyata sangat berguna untuk hubungannya dengan pemuda berambut baby blue itu.

Tersenyum dan mengelus rambut lepek Kuroko, "Bukankah ini sangat menyenangkan, Tetsuya?" tanya Akashi.

Kuroko mendesah dan sengaja memejamkan matanya—menikmati setiap sentuhan tangan dingin sedikit berkeringat itu.

Tersenyum. "Menurut hukum newton 3, aksi sama dengan reaksi—itu ternyata benar adanya. Aku senang kau selalu bereaksi dengan aksi yang kulakukan sekarang, Tetsuya." Seringaiannya semakin lebar dan semakin mempersempit jaraknya dengan Kuroko yang terbaring lemah di bawahnya.

—Ah, ternyata walaupun guru sudah menerangkan sebaik mungkin pelajaran itu di kelas. Tapi, ada saja muridnya yang menyalah gunakan arti dari pelajaran itu.

Seperti Akashi sekarang ini.

.

.


-Nonton-

Kuroko dan Akashi sama-sama menyukai tontonan yang sama saat melihat televisi. Berita tentang pertandingan basket! Tapi, di balik itu semua, Kuroko tidak tau video yang paling disukai Akashi.

Video dengan nama yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan isi video itu. Video yang membuat dia harus mengerang di bawah Akashi hanya karena menonton vidoe bersama dengan Akashi bersama, di dalam kamar—berdua.

—Video yang dikenalkan Aomine pada Akashi.

Blue film.

.

.


-Latihan-

Akashi galau memberi jatah porsi latihan untuk Kuroko. Melihat perkembangan Kuroko, Akashi memang harus memberi jatah latihan yang extra—tapi jika melihat kondisi tubuh Kuroko, Akashi menjadi harus berpikir dua kali.

Sedangkan untuk Kuroko, setiap ditanya oleh Kise. 'Kenapa Kurokocchi terlihat lelah padahal baru bermain 2 ronde?', Kuroko hanya menjawab, 'Tenaga 3 rondenya sudah diambil untuk jatah latihan Akashi.'

Yang akhirnya, Kise akan berteriak sambil menangis, bilang jika Kuroko sudah disiksa Akashi karena jatah latihan tambahan.

—Ckck, salah paham lagi.

.

.


-Pertarungan-

Kuroko dan semua anggota Kiseki no Sendai tau jika seorang Akashi Seijuurou tidak pernah mau kalah atau bahkan untuk sekedar dibangkang. Mereka tau betul jika dalam setiap hal dalam masalah Akashi yang selalu menang. Tapi—mereka tidak tau, terkadang dalam setiap pertarungan mulut, Akashi selalu kalah dari Kuroko. Akashi selalu mengalah karena dia terlalu malas untuk bicara.

Bukankah lebih menyenangkan mendengarkan suara Kuroko dibandingkan harus sulit-sulit menyanggah, pikir Akashi.

Tapi lain halnya dalam satu pertarungan lagi.

Akashi pintar memasukkan bola? Tidak juga, karena Midorima lebih hebat akan hal itu dibanding dirinya.

Tapi—Akashi akan hebat memasukan apabila ada Kuroko di sampingnya. Dia akan lebih berkuasa dan berkekuatan penuh sewaktu memasukkannya. Hingga akhirnya, Kuroko akan tergeletak lemas dan Akashi memenangkan pertandingan itu sampai akhir.

.

.


-Pertama-

Kuroko sedang meminum vanilla milk shake miliknya sambil melihat bulan dalam perjalan menuju rumahnya. Mengingat beberapa potong memory yang hampir sama disaat seperti ini lalu tersenyum. Malam ini, tepat pada tanggal yang sama dan malam yang hampir sama saat pertama kalinya dia merasakan debaran jantungnya meningkat—selain saat bermain basket.

Mengingat bagaimana bisa dia bertemu dengan Akashi yang sedang bermain basket sendirian, di lapangan dekat rumahnya. Memanggilnya dan bermain basket bersama. Di saat lelah mereka beristirahat, dan tepat saat bulan yang begitu indah muncul menampakan sinar kecantikannya—Akashi mengatakan sesuatu yang membuatnya tercengang.

'Kau mau menjadi orang yang kucinta?'

Kuroko tersenyum mengingat pemilihan kata yang diucapkan Akashi.

Akashi orang yang pintar dan jenius itu ternyata tidak pintah merangkai sebuah kalimat hanya untuk membuat dia menjadi milik Akashi. Mungkin masih mending, kata-kata itu dibanding dengan beberapa kata yang dirangkai untuk memberinya perintah untuk menjadi kekasihnya.

Tidak. Itu sangat tidak romantis.

Kuroko tersenyum lagi.

'Akashi-kun sedang menyatakan perasaan padaku?'

Kuroko tau, saat itu dia terlalu spontan dan bertanya seperti itu. Membuat pemuda di depannya mengerang kesal, dan memeluknya dengan cepat.

'Ya. Terserah kau mau bilang apa akan hal itu. Jadi—kau mau menjadi kekasihku?'

'...Ya.'

Ah, saat itu Kuroko tau. Akashi memang orang pertama yang menyatakan perasaan padanya, dan orang yang membuatnya sangat bahagia di malam itu.

Kuroko tersenyum lebih lebar lagi saat mendengar suara pantulan bola dengan beton. Menengok ke kiri. Di sana, pemuda berambut merah sedang men-dribble bola basket dan melihatnya. Tersenyum, melambaikan tangan seperti mencoba memanggilnya.

Kuroko menghampiri pemuda itu dalam diam.

"Aku sudah lama menunggumu disini, Tetsuya." Ucap Akashi.

"...maaf, kafetaria mengantri." Jawabnya singkat.

Akashi menghela nafas. "Ok, kalau begitu boleh aku minta bukti permintaan maafmu?" tanya Akashi tersenyum—atau mungkin menyeringai.

Kuroko mengangguk dengan sedikit rona merah.

Kecupan manis di dahinya dan pelukan lembut menyelimuti tubuhnya.

Mengangkat kepala bersurai birunya, Kuroko bertanya, "...hanya di—dahi?" tanya ragu.

Akashi tersenyum, "Kau ingin dimana memang? Bibir?" tanyanya jahil.

Kuroko diam.

Tersenyum dan merengkuh tubuh yang hanya lebih pendek beberapa centi darinya itu dengan erat. Akashi bergumam, "Aku pikir kecupan dahi lebih memberi kesan manis untukmu." Jawabnya.

"..."

"...tapi, kalau kau ingin lebih. Kita bisa pulang ke rumahku." Lanjut Akashi menyeringai.

Ah—dia lupa. Dulu, malam seperti ini pun sama—karena dulu pun untuk pertama kalinya, dia mengangguk pelan dengan pertanyaan implist itu.

.

.

.

End~


A/N: ok, ini drabble lainnya di fic ini. lebih absurd dari yang kemarin ya? T.T... Ah, sepertinya gak jadi lebih panjang, karena aku udah putus ide tengah jalan T.T

Kritik dan saran ditunggu^^

Mind to review?