Hai minna.
Aku kaget ternyata ada yang ngereview… Ternyata aku tidak sendiri di sini ! fic tanpa review kan seperti orang cerita tapi nggak ada yang nanggepin… Positif negatif aku terima.
Makasih buat reviewers ya.. pengen nangis *byoorr*
Inilah chapter 2 !
Happy reading~
Disclaimer : Fairy Tail punyanya Hiro Masahima.
Lucy's Confusion
Chapter 2 : Kesalah Pahaman
.
.
.
(Third Person POV)
Mage air itu membulatkan matanya, tidak percaya pada pemandangan di hadapannya ini. Melihat gadis pirang itu terisak di dada pujaan hatinya dan terlebih lagi pujaan hatinya itu mengelus-elus rambut pirang itu dengan lembut. Jadi benar dugaanku, bahwa Lucy adalah saingan cintaku, batin gadis itu.
Berniat untuk melabrak mereka berdua layaknya polisi yang menggerebek orang-orang mesum dan memaki-maki mereka dengan mata berkilat-kilat, itu sangat tidak mungkin. Sangat di luar karakternya. Dan lagipula jika Gray senang dia pasti akan berusaha senang juga. Itu yang namanya cinta sejati bukan ? Cinta sejati tidak harus memiliki, kata pepatah.
Tapi, jika terus seperti ini, hanya diam dan terpaku melihatnya, apakah ada kemajuan ? Apakah Gray-sama nya itu akan terus tumpul pada perasaannya saat ini ? Gadis itu jelas tidak mau. Ya, dia memang berencana untuk menyatakan cinta secara blak-blakan di hadapan pria muda itu hari ini *padahal dari sikap sehari-hari aja udah ketahuan suka*. Dia mulai bingung. Apa yang harus dia lakukan saat ini juga ?
Dia hanya terpaut beberapa pohon saja dengan dua insan yang saling berpelukan itu. Dia terus memandangnya, dan memutuskan untuk berusaha menenangkan dirinya dengan pemikiran; ah mungkin Lucy sedikit kangen pada sahabatnya yang baru saja menjalankan misi itu, mengingat tim terkuat Fairy Tail sudah agak merenggang sejak datangnya adiknya Mirajane dan Elfman, aku kira semuanya jadi terkesan individualis khususnya antara Lucy dan Natsu.
Dia terus memikirkan hal itu. Tapi beberapa menit dia berdiam di situ, tidak nampak sedikitpun pergerakan dari dua sosok itu. Gadis pecinta biru itu sudah tidak kuat menahan gemuruh sakit di dadanya. Akhirnya dia mematahkan deduksi awalnya tadi dan beranjak menuju ke guild Fairy Tail. Anehnya, dia menarik sudut-sudut bibirnya meskipun matanya berkaca-kaca.
Bodoh sekali, padahal deduksinya hampir betul.
~ NaLu 4ever ~
Juvia membuka pintu guild Fairy Tail dan berjalan menuju bar. Semua orang yang dilewati Juvia menyapanya dengan ramah. Ah, ternyata Juvia juga mulai terkenal di kalangan laki-laki. Buktinya Jet, Droy, Fried, Bikslow dan lainnya menyapa Juvia dengan hangat. Mungkin mereka tidak mau kalah oleh teman perempuan setim mereka yang sudah di'ambil alih' oleh Gajeel dan Elfman. Juvia hanya tersenyum kembali, meskipun senyumnya agak redup.
"Hai Juvia… apa hari ini hari istirahatmu ?" sapa gadis yang sedang duduk di kursi bar.
"Iya, Levy…" jawab Juvia. Lantas kedua orang itu hanya diam. Juvia masih tenggelam dalam pikirannya, apa dia yakin akan mengatakan hal itu pada semua anggota guild ? Apa dia akan setegar itu dalam menghadapinya ?
Juvia ternyata berpendapat bahwa Gray dan Lucy sebenarnya menjalin hubungan, tetapi ditutup-tutupi karena ada di yang notabene menggilai-setengah-mati pada Gray. Mungkin mereka berdua merasa kasihan padanya, sehingga tidak mempublikasikan hubungan mereka.
Sayangnya Juvia tidak mau diperlakukan begitu. Seperti anak kecil. Hei, dia juga punya hati kan. Rasanya memang tidak enak kalau mengganggu seperti itu. Sudahlah, kalau mengaku bersama ya mengakulah. Kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti itu.
"JUVIA … !" Juvia tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara.
"Eh… Maaf Levy… Aku ngelamun,"
"Ah… Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pamitan," ucap Levy sambil tersenyum.
"Memangnya Levy mau pergi misi ?"
"Eng… Tidak… Tapi…"
"Tapi… ?" Juvia terus mengejar pernyataan Levy. Sementara Levy hanya tersenyum dan sedikit merona. Dia melirik ke arah seorang pria yang sekarang berada di sampingnya. Juvia yang menyadari itu kaget dan tidak percaya.
"Eh… ? Se, sejak kapan kalian berdua ?" ucap Juvia agak terbata-bata. Levy hanya melebarkan senyumnya dan mukanya juga sedikit lebih merah. Sementara Gajeel hanya mendengus.
"Sudah selesai gosipnya ? Ayo aku sudah lapar," ucap Dragion Slayer Iron itu sambil menarik tangan Levy. Levy hanya mengeluarkan gumaman tidak jelas.
"Sudah ya Juvia, kami mau—"
"Sebelumnya ketahuilah info yang baru-baru ini aku dapatkan," potong Juvia. Levy dan Gajeel saling pandang dan mengerutkan kening mereka.
"Kalian sudah tahu kalau Gray-sama, ehm, maksudku Gray punya hubungan khusus dengan Lucy ?" ujar Juvia dengan senyum ceria, tapi semua tidak tahu kalau senyuman itu dipaksakan.
Rupanya Juvia sengaja membesarkan volume suaranya agar semua orang di guild mendengarnya. Dan benar saja, setelah Juvia mengatakan itu, semua anggota guild memandangnya. Ya, semuanya.
Termasuk… Natsu.
Natsu sempat melebarkan kelopak matanya. Wajahnya jadi sedikit kesal karena berita itu. Tapi dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa dia kesal hanya karena dua orang itu menjalin hubungan khusus. Dia hanya merasa kesal.
"Apakah itu benar Juvia?" tanya gadis berambut putih pendek itu.
"Ya ! Juvia tidak salah lagi." Jawabnya. Sementara Lisanna hanya diam dan tersenyum sedikit.
"Apakah kau tidak apa-apa Juvia ?" tanya sang Titania sambil memegang pundak mantan S-class Phantom Lord itu. Yang dipegang pundaknya merasa bingung, berusaha mencari-cari alasan untuk tegar. Dan dengan asal dia menjawab pertanyaan Erza itu.
"Iya aku tidak apa-apa. Aku sudah tidak menyukai Gray lagi kok. Lagipula aku menyukai… La, Laxus-sam, sama…" ujar Juvia bingung. Semua anggota guild menatap Juvia tidak percaya. Apalagi orang berambut kuning yang sedang duduk bersama Raijinshuu di dekat bar. Bukannya kaget, orang berambut kuning itu malah mengernyitkan dahinya.
"Kau ? Suka padaku ?" Juvia hanya mengangguk pelan. Laxus masih terus bertanya-tanya, kenapa dia bisa suka padaku ? Batinnya.
Tanpa diduga semua anggota guild menyoraki Laxus dan Juvia. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang langsung berbicara riang kepada mereka, ada yang bersiul, dan lain-lainnya. Juvia hanya menanggapinya dengan senyum yang dipaksakan, sedangkan Laxus hanya berpikir dalam diam.
"Wah… Juvia menembakmu tuh, Laxus ! Apa jawabanmu ?" tanya Evergreen sambil menyenggol lengan Laxus.
Laxus hanya diam sambil menatap lurus pada Juvia. Tapi, pandangan Laxus bukanlah pandangan orang yang kaget karena ditembak, melinkan pandangan seorang detektif yang sedang mencari bukti kesalahan dari sang pelaku. Melihat itu, anggota-anggota Raijinshuu merasa bingung dengan sikap Laxus.
Tiba-tiba Laxus berdiri tegap. Dia menghampiri Juvia dan memegang kedua pundaknya. Juvia sangat kaget dan takut, apalagi saat Laxus mendekatkan kepalanya.
"Hei Juvia, kau salah pilih objek dadakan. Aku tahu kau berbohong. Kau hanya ingin pura-pura tegar. Lain kali jangan pilih aku gadis bodoh." Ucap Laxus memindahkan tangannya ke kepala Juvia dan menepuk-nepuknya. Lalu dia keluar dari guild.
Juvia hanya melongo tidak percaya. Sementara yang lain mulai mengerubungi Juvia dengan muka kaget dan simpati.
"Na, Natsu… 30 menit lagi bisakah kau temui aku di bawah pohon di taman?"
"Hrrmm ? Ada apa ? Sekarang kan juga bisa, Lisanna." Natsu menjawab balik perintah Lisanna. Lisanna hanya mengalihkan pandangannya dan sedikit merona.
"…Ada… Sesuatu yang ingin kukatakan."
~ NaLu 4ever ~
Sementara itu di taman, Lucy sudah mulai bisa mengontrol emosinya setelah terisak beberapa lama. Gray yang merasa Lucy sudah agak baikan, merenggangkan pelukannya yang erat itu. Dia tidak memaksa Lucy untuk langsung bercerita. Dia tetap sabar menunggunya.
Setelah isakan tangisnya benar-benar mereda, Lucy memulai curahan hatinya yang selama ini ia tanggung sendiri.
"Sebenarnya… Aku juga tidak tahu kapan aku menyukai… Natsu. Awalnya aku pikir itu tidak mungkin, tapi… Lama kelamaan aku pun menyadarinya. Walaupun aku takut akan merusak persahabatan, aku tetap ingin menyatakan perasaanku."
"Aku berencana menyatakan perasaanku setelah kasus Edolas ini selesai. Tapi… Aku tidak menyangka kalau…" Lucy berhenti sebentar dan matanya mulai memanas kembali.
"Dia datang. Dia kembali hidup. Dia langsung merebut perhatian Natsu. Lihat saja, seminggu terakhir ini Natsu tidak pernah mengunjungi rumahku. Dia telah menjadi agenda utama Natsu. Aku terus berfikir bahwa mungkin Natsu kangen padanya mengingat mereka adalah teman semasa kecil. Tapi setelah melihat mereka bercanda tawa sendiri, aku merasa diasingkan. Habis manis sepah dibuang."
"Aku yang mau menyatakan perasaanku, sudah seperti tidak punya harapan lagi. Hilang. Pupus. Dia merusak rencanaku, dia merusak semuanya. Dia, yang tiba-tiba bangkit dari kubur. Li..sa..nna.." ujar Lucy sambil berurai air mata. Gray menepuk-nepuk lembut punggung Lucy.
"Sekarang… Apa yang harus aku lakukan … ? Apakah aku diam saja dan menahan rasa cemburu, sedih dan marah setiap harinya ? Ataukah aku tetap menyatakan perasaanku walaupun aku tahu bahwa perasaanku ini tidak terbalas karena dia sudah bahagia bersamanya ?"
Gray berfikir sebentar. Setelah beberapa saat Gray tersenyum lembut.
"Luce… Kau itu bodoh," ucap Gray. Lucy yang mendengar itu mendongakkan kepalanya dan menatap bingung Gray.
"Kalau kau ingin mengatakan perasaanmu, katakan saja. Masalah dibalas atau tidaknya perasaanmu itu belakangan. Dan kau juga jangan pesimis seperti itu, mungkin saja Natsu juga merasakan yang sama tapi dia menyembunyikannya. Berfikir positif saja. Jika kau tidak menyatakan perasaaanmu, kau justru akan tersiksa sendiri. Dan jika kau tertolak, aku yakin persahabatanmu dengannya tidak akan rusak. Percayalah." Ujar Gray panjang lebar. Lucy berfikir selama beberapa saat. Kemudian dia tersenyum manis ke Gray.
"Terima kasih Gray, kau memang sahabat yang baik. Aku memutuskan akan menyatakan perasaanku pada Natsu."
"Kalau begitu, ayo ke guild !" ajak Gray sambil berdiri dan menarik tangan Lucy.
"Apa ? Sekarang !"
"Kapan lagi dasar bodoh," Gray menyeringai dan langsung berlari. Karena tangan Lucy masih digandeng Gray, otomatis Lucy harus ikut berlari.
~ NaLu 4ever ~
(Lucy's POV)
Akhirnya aku dan Gray sampai ke guild. Kami segera masuk ke dalam guild. Dan ketika kami masuk, kami merasa heran dengan tatapan anggota-anggota guild yang menurutku menatap kami berdua seperti anggota baru.
Aku menuju bar dan mendapati Erza, Mirajane, Bisca, dan Cana sedang mengerubungi Juvia. Juvia kenapa ?
"Yo, minna !" sapaku dengan ceria. Sementara gadis-gadis itu menoleh dengan ekspresi kaget. Dan ketika aku melihat Juvia, Juvia sedang menangis tersedu-sedu. Aku yang bingung hanya bisa menjawab ekspresi kaget mereka dengan pandangan bingung.
"Juvia kenapa ?" tanya seorang laki-laki di sampingku. Lalu Erza mendekat ke kami berdua.
"Tidak apa-apa. Dia hanya shock karena mengetahui hubungan khusus kalian berdua." bisik Erza pelan. Aku dan Gray saling berpandangan. Bingung.
"Kami tidak pacaran!" sahut kami berdua bersamaan. Juvia yang mendengar itu langsung menoleh ke arah kami.
"Bohong. Tadi kulihat kalian berdua berpelukan. Dan Gray-sama mengelus-elus rambut Lucy." ucap Juvia sambil sesenggukan. Aku yang menyadari bahwa Juvia salah paham, langsung terkikik.
"Juvia… Kau salah paham…" ucapku sambil tertawa kecil. Gray pun juga tertawa.
"Kenapa kalian malah tertawa hah ? Sudahlah tidak usah berakting. Aku tidak perlu dikasihani. Tenang saja, hubungan kalian sudah aku umumkan ke semua anggota guild ini." jawab Juvia menantang.
Aku yang sudah tidak tahan difitnah begitu, segera duduk di bar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kecuali tentang Natsu tentu saja. Aku menyamarkan namanya.
Setelah duduk perkaranya sudah selesai, semua gadis—ralat, semua anggota guild yang aku tidak tahu sejak kapan mereka menjadi hening, menjadi tersenyum sendiri. Tersenyum karena kecemburuan Juvia yang lucu. Sedangkan Juvia masih tidak puas.
"Aku tidak percaya kalian seorang sahabat. Lagipula siapa 'dia' yang kau cintai ? Buktikan kalau kalian benar-benar sahabat."
Gray yang sudah jengah mendengar kalimat tidak percaya dari Juvia bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju Juvia dan memegang pundaknya. Juvia ikut berdiri tapi tidak merespon apa-apa. Aku hanya diam melihatnya.
"Kau ingin bukti ?" tanya Gray sambil menyeringai.
"Iya, aku ing—" Kalimat Juvia terpotong oleh sentuhan lembut dari bibir Gray. Juvia kaget setengah mati dan langsung blushing berat. Bahkan semua anggota guild pun ada yang blushing juga. Beberaap detik kemudian Gray melepaskan bibirnya dari Juvia. Aku hanya tertawa kecil. Ternyata Gray juga suka pada Juvia ya.
"Sudah puas… ? Aku hanya sahabat dengan Lucy. Dan dia tidak bisa menjelaskan siapa 'dia' di dalam ceritanya. Mungkin suatu saat kau akan tahu kalau rencana Lucy berhasil." ujar Gray sambil mengedipkan matanya padaku. Aku hanya blushing sedikit dan berwajah jangan-bocorkan-rahasia.
"Ja.. Jadi… Juvia cuma salah paham ya…" ucap Juvia menundukkan kepalanya. Lalu dia mendekatiku dan memelukku.
"Juvia minta maaf pada Lucy…"
"Hahaha… Kau imut sekali sih Juvia. Iya iya aku maafkan. Tapi aku minta traktiran ya~" jawabku sambil membalas pelukan Juvia.
"Traktir ? Dalam rangka apa ? Juvia tidak berulang tahun hari ini." kata Juvia sambil mengernyitkan dahinya. Aku hanya menyeringai.
"Traktir dalam rangka hari jadianmu sama Gray lah ! Tadi Gray kan menciummu, itu artinya dia juga menyukaimu Juviaaaa!" ucapku geregetan. Juvia langsung blushing berat dan sementara Gray mendengus. Yah, lihat saja bagaimana hubungan kedua orang ini berlanjut, apakah berjalan lancar seperti Gajeel dan Levy-chan ? Ataukah berjalan berliku-liku seperti aku dan … Orang bodoh itu.
Di saat guild kembali normal dari situasi tadi, aku bertanya kepada Mirajane.
"Mira, kau tahu di mana … Natsu ?"
"Hmm, aku kira dia sudah keluar agak lama tadi. Dia sudah keluar saat kau masuk guild." jawab Mirajane. Aku hanya ber'oh' ria dan berjalan keluar guild. Dan saat aku melewati meja Gray, aku melihat Gray mengavungkan jempolnya dan mengedipkan matanya padaku. Aku hanya menjulurkan lidahku.
Aku berjalan-jalan sambil meneliti ke seisi kota. Mencari di mana keberadaan dragon slayer bodoh itu. Di toko-toko makanan tidak ada. Di apartementku ? Kurasa tidak mungkin. Dan aku berhenti saat aku menemukannya. Di bawah pohon yang dulu sebagai tempat persembunyian foto-foto anggota Fairy Tail yang konyol.
Aku ingin segera menghampirinya, tapi aku tidak bisa. Karena apa ? aku melihat dia sedang berhadap-hadapan dengan gadis itu. Ya, gadis itu. Lisanna. Aku fikir, daripada aku nanti sakit hati, mendingan aku pergi saja dari sini dan menyatakan perasaanku besok.
Tapi, sebelum aku melangkahkan kaki pincangku, aku mendengar suatu percakapan yang membuat sekujur tubuhku kaku.
"… Natsu, kau tahu, Lucy sudah berpacaran dengan Gray…" Hei ! Aku tidak berpacaran dengannya ! Aku ingin ke sana tapi aku tidak mempunyai keberanian.
"Yaa.. Lalu kenapa ?"
"Aku juga ingin seperti mereka…"
"Maksudmu apa, Lisanna ?"
"Natsu… Aku menyukaimu…" ucap Lisanna terbata-bata. Hatiku serasa dipukul-pukul. Tapi entah kenapa kakiku tidak mau beranjak dari sini. Kuintip, Natsu kaget dan berfikir sebentar. Setelah beberapa saat dia mengeluarkan suaranya.
"Aku juga… Menyukaimu."
~ To Be Continued ~
Kira-kira ada yang bisa menebak alurnya ?
Sebaiknya gimana ya sikap Lucy ? ^^
Read and Review please ... !
