Title: Dan Kau Hadir (Mengubah Segalanya)
Author: nanaspineapple
Pairing: Kaisoo
Genre: Romance, drama, slice of life
Rating: T
Disclaimer: Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Word Count: 4,327
Summary: Do Kyungsoo yang mengedepankan logika dan Kim Jongin yang mengandalkan imajinasi. Bagaimana jika dipaksa bersatu?


CHAPTER 2 — Awal yang Baik

"Bab 13! Cepat diedit!"

"Junmyeon-ssi, sebentar lagi sudah harus naik cetak!"

Ada sedikit kekacauan di kantor penerbit karena Jongin tiba-tiba menambahkan tiga kalimat di salah satu bab di bukunya saat naskahnya baru mau dikirim untuk dicetak. Untungnya, Junmyeon adalah orang yang tenang, dan dia segera memperbaiki naskah itu untuk benar-benar dikirim.

Rasa panik orang-orang penerbit sudah mereda begitu Junmyeon menyerahkan naskahnya, dan ia kembali ke bagian editorial untuk menemui Jongin. Saat sampai di ruangannya, Jongin sudah terkapar di balik meja yang biasanya dipakai rapat para editor. Junmyeon baru mau berjalan ke arahnya saat Yoona memanggilnya.

"Junmyeon-ah, tadi ini dikirim ke sini, katanya untukmu," ujar gadis itu sambil mengangkat bungkus plastik berisi dua boks makanan, dan Junmyeon baru ingat kalau tadi Jongin minta dibelikan makan siang.

"Oh, iya. Terimakasih, Noona."

Junmyeon segera membawa bungkusan itu ke meja, lalu mengguncang-guncang Jongin sampai terbangun. Butuh agak lama sampai penulis itu bergerak, tapi setidaknya ia sudah mau bangun. Ia juga makan sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan agar tidak jatuh ke meja lagi. Junmyeon yang ikut makan di sebelahnya menghela napas lelah.

Beberapa jam setelah Jongin pulang dari kedai tempat ia makan siang dengan Kyungsoo tiga minggu lalu, pihak kantor meneleponnya dan memintanya jadi salah satu penulis pojok cerpen di website mereka bersama penulis-penulis lain. Ia langsung setuju saja. Dua minggu kemudian, ia ditawari kontrak untuk jadi penulis cerpen di majalah dari luar penerbitnya. Yang itu juga ditandatangani begitu saja.

Otomatis, jadwal Jongin menjadi sangat padat, sampai-sampai saat sedang menyelesaikan novelnya, ia lupa sebuah kata penting yang dibiarkan kosong sampai deadline habis dan baru mengingatnya saat hampir naik cetak. Biarpun tadi sempat kacau, Junmyeon tidak akan menyalahkan Jongin karena ia tahu Jongin sangat lelah.

"Terima kasih makanannya," gumam Jongin sambil menutup boks sterofoam itu dan melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Junmyeon, wajahnya khawatir. Jongin melihatnya dengan mata yang masih setengah terbuka.

"Tidak juga. Aku kemarin numpuk kerjaan empat bulan, jadi tidak tidur," jawab Jongin dengan suara yang lebih lemas dari biasanya. Dalam keadaan normal saja Jongin sudah tukang tidur, apalagi saat lelah begini.

Semua orang tahu kebiasaan Jongin 'menumpuk pekerjaan.' Kalau biasanya orang menumpuk pekerjaan di belakang saat hampir deadline, maka Jongin menumpuk pekerjaannya di depan. Ia bisa mengerjakan pekerjaan untuk tiga sampai delapan bulan dalam tiga-sepuluh hari tanpa keluar rumah. Hal ini biasanya terjadi satu atau dua kali setahun, saat pekerjaannya terlalu banyak atau ia sedang merencanakan liburan.

Junmyeon, sebagai editornya sejak ia mulai menulis, selalu meloloskan tulisan-tulisan itu karena Jongin bukan orang yang berkurang kualitas pekerjaannya hanya karena ia mengerjakannya semalam suntuk.

Sebenarnya Junmyeon ingin sekali menyuruh Jongin pulang dan istirahat, tapi mereka harus menunggu orang produksi konfirmasi soal novel Jongin yang sedang dicetak, dan setelah itu baru ia boleh pulang.

"Bagaimana Kyungsoo?" tanya Junmyeon, berharap Jongin lebih semangat dengan obrolan ringan begini. Jongin belum cerita apa-apa sejak ia mampir ke kantor Kyungsoo.

Gelengan kepala jelas bukan jawaban yang Junmyeon inginkan. Tapi ia sudah setengah mengiranya, karena tiga minggu terakhir ini Jongin sangat sibuk. Apalagi Kyungsoo seorang direktur, mereka pasti sulit mengatur jadwal kencan. Junmyeon masih ingat kalau Jongin bilang mereka harusnya masih sempat pdkt sampai musim dingin, padahal sekarang hampir masuk musim dingin.

"Jangan-jangan kamu numpuk kerjaan biar bisa kencan, ya?" goda Junmyeon, dan ia tertawa lega saat Jongin tersenyum. Seperti biasa, mudah ditebak. Junmyeon mencubit pinggang Jongin dan mereka tertawa bersama.

"Habis, ibuku menyuruhku meluangkan waktu untuk kencan, sih."

"Terus? Sudah diatur?"

"Sudah. Besok Minggu kami makan bareng."

"Di restoran mahal seperti waktu pertama kali itu?"

"Aku bunuh diri saja kalau harus terus-terusan makan di tempat begitu," canda Jongin. "Rencananya di restoran cina langgananku."

"Oh, yang di kompleks toko seberang stasiun itu?" Junmyeon ikut mengangguk saat Jongin mengangguk. "Kenapa seorang direktur harus makan di tempat seperti itu?"

"Ejek saja terus!"

Mereka tertawa bersama lagi, kali ini lebih keras. Jongin bersyukur karena Junmyeon selalu tahu bagaimana membuat suasana ringan, membicarakan hal-hal santai sampai tak ada tawa terpaksa lagi.

oooooooooooooo

Restoran cina itu tenang seperti biasa. Jongin menikmati musik-musik yang diputar di sana. Instrumental dengan alat musik tradisional cina tanpa lirik—lembut dan menyenangkan, tidak membuat makan jadi terburu-buru. Biarpun saat jalan ke sini tadi suhunya sangat dingin, restoran ini sangat tertutup dan pemanasnya bekerja dengan baik, jadi Jongin bisa langsung melepas jaket dan syalnya begitu masuk.

Jongin tidak pernah keberatan menunggu.

Untungnya, sesaat kemudian, pintu depan terbuka dan sosok Do Kyungsoo masuk. Jongin tersenyum makin lebar melihat cara direktur itu berpakaian. Mantel hitam panjang yang diristleting dari paha sampai leher, syal hitam dilingkarkan tiga kali, dan beanie yang juga hitam. Kalau saja Kyungsoo orang yang bisa diajak bercanda, ia pasti akan bertanya kalau ia baru datang dari pertemuan para pemuja setan atau semacamnya. Tapi Jongin tidak akan melakukan itu.

"Hei," sapa Jongin riang saat Kyungsoo duduk di seberangnya. Kyungsoo hanya meliriknya lalu mengangguk dan duduk dalam diam. Meskipun mereka baru bertemu dua kali dan ini pertemuan ketiga mereka setelah hampir sebulan, Jongin sudah belajar untuk memahami sikap Kyungsoo yang seperti ini. "Tadi naik mobil?"

"Mobilku di bengkel. Aku naik kereta," jawab Kyungsoo pendek. Suaranya begitu pelan, tapi untungnya restoran itu tidak berisik sehingga Jongin masih bisa mendengarnya.

"Masih dingin, ya?" tanya Jongin lagi, karena biarpun Kyungsoo sudah melepas mantel, syal dan beanienya, ia terus mengusap-usap lengannya sendiri. Direktur itu tidak menjawab dan hanya menunduk, pandangannya tak terbaca oleh Jongin.

Daripada berlama-lama, Jongin segera memanggil pelayan dan memesan makanan. Tadinya Jongin kira Kyungsoo adalah tipe pejabat yang selalu makan di restoran mahal dan akan bingung saat melihat daftar menu yang dibukakan di depannya, tapi ternyata Kyungsoo langsung pesan buljjajang dan teh hangat, dan Jongin langsung tertawa. Kyungsoo memang bukan orang biasa.

Sejak dulu Jongin selalu punya persepsi buruk mengenai orang-orang berpangkat tinggi, tapi Kyungsoo terlihat sangat berbeda. Ada aura kesederhanaan yang selalu dibawanya, membuat Jongin tidak terlalu merasa berat bersamanya. Jongin kira Kyungsoo akan sok tahu dan bicara soal keadaan ekonomi dan harga saham, tapi ternyata malah tidak bicara apa-apa.

Masih dengan senyum geli, Jongin memesan jaengban jjajang dan teh hangat, dan berterima kasih pada pelayan yang sudah mencatat pesanan mereka. Setelah itupun, Jongin tidak berusaha membuka pembicaraan lagi. Ia akan menyimpan semua yang ia ingin katakan pada Kyungsoo untuk nanti. Saat ini, ia hanya terus-menerus memperhatikan Kyungsoo yang masih saja menunduk.

Bahkan ketika makanan mereka datang dengan kepulan asap yang masih tebal dan aroma hangat yang mengitari meja mereka, bahkan ketika mereka mulai makan, Jongin masih tidak bicara apa-apa. Ia semakin kagum karena Kyungsoo bahkan tidak mencuri pandang ke arahnya, yang berarti lelaki itu tidak merasa canggung sama sekali. Pasti sebenarnya ia malas datang ke sini. Mungkin tadi ibunya mengancamnya atau semacamnya.

Jongin merasa ingin bertepuk tangan pada Kyungsoo yang terus melirik ke mana-mana kecuali kepadanya. Tadinya ia pikir Kyungsoo akan terus meliriknya karena penasaran, karena Jongin tidak mengajaknya mengobrol seperti biasa. Tapi Kyungsoo justru bersikap seolah-olah Jongin tidak ada di sana, ia makan dan minum dengan tenang tanpa berkata apa-apa.

Barulah sekitar 10 menit setelah makanan dan minuman mereka habis, Jongin mengangkat jaketnya yang ia letakkan di kursi sebelahnya. "Ayo, pulang."

Kyungsoo langsung memakai beanienya, memakai mantel tanpa diritsleting dan menenteng syalnya. Ia hanya mengikuti Jongin yang pergi ke kasir untuk membayar, lalu mengeluarkan dompet dan menimbang-nimbang untuk menggunakan kartu kredit yang mana kali ini. Kyungsoo baru mau mengeluarkan salah satu kartunya ketika Jongin berbalik dari kasir dan menarik lengannya.

"Aku belum bayar…" ujar Kyungsoo sambil berusaha menahan tubuhnya di tempat.

"Aku sudah bayar semua, ayo pulang saja."

Cara Jongin tersenyum ringan saat mengatakannya membuat perut Kyungsoo melilit sedikit. Ia tidak mengatakan apapun saat mengantongi dompetnya dengan ragu, karena selama ini ia tidak pernah membiarkan dirinya dibayari saat makan kecuali oleh Baekhyun. Itu juga karena ia biasanya memilih makan sendiri.

"Kamu tidak perlu melakukan itu." Kyungsoo melingkar-lingkarkan syalnya di sekitar lehernya sambil berjalan di sebelah Jongin. Malam semakin dingin dan ia tidak mau sakit karena besok ia harus kerja.

"Melakukan apa?" Jongin balik tanya dengan santai, senyumnya melebar saat menatap Kyungsoo.

"Membayar makanku. Aku kan bawa uang sendiri."

"Tapi kencan kemarin kan kamu yang bayar, sekarang gantian aku dong."

Malam ini Kyungsoo belajar bahwa Jongin selalu bisa membalas apapun yang ia katakan, dan biarpun bidang pekerjaan mereka berbeda, mereka berdua sama-sama dituntut untuk pandai berkata-kata dan mungkin akan lebih baik kalau ia tidak membalas.

Jongin berdiri di depan mobilnya dan mengeluarkan kunci. Kedua lampu di depan mobil itu berkedip sekali saat Jongin membuka pintu dengan remote di kuncinya. Kyungsoo berdehem dan Jongin langsung menatapnya.

"Kalau begitu, aku ke stasiun dulu. Selamat ma—"

"Apa maksudmu ke stasiun? Aku akan mengantarmu."

Rasanya Kyungsoo ingin sekali menggeram karena kesal, tapi ini sudah terlalu malam dan dingin, ia juga sudah terlalu kenyang dan lelah untuk mengeluarkan argumen-argumen cerdasnya, jadi ia menyerah saat Jongin membukakan pintu untuknya. Mobil Jongin nyaman dan bersih, dan walaupun keadaannya tidak seperti itu, ia tidak akan protes.

Malam itu jalanan belum cukup sepi untuk ngebut, jadi Jongin menyetir dengan santai dan ia bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputarnya. Ia memilih lagu-lagu SNSD dan biarpun Kyungsoo tidak tahu banyak soal girlband itu, ia tidak bisa bilang lagunya jelek juga.

"Kamu pernah makan di restoran tadi sebelumnya?" tanya Jongin, kakinya berpindah dari pedal gas ke rem saat mobil di depan mereka memberi tanda untuk belok ke kiri.

"Belum."

"Tapi makanannya enak, kan?"

"Iya."

"Kalau ke restoran cina, kamu selalu pesan buljjajang?"

"Aku suka mi."

"Begitu, ya." Jongin mengangguk-angguk, senyumnya masih di wajahnya.

Daripada saat di restoran, Kyungsoo justru merasa lebih canggung sekarang. Jarang sekali ada orang yang mau mengobrol lama dengannya. Teman sekolahnya dulu pun, karena malas dengan Kyungsoo yang hanya membalas sepotong-sepotong, akhirnya memilih tidak mengajak ngobrol. Ia pikir Jongin juga akan begitu, tapi cara penulis itu tetap merespon dengan ramah sedikit menenangkan hatinya. Makanya tadi di restoran saat Jongin tidak bicara apapun, ia sebenarnya sedikit kesepian.

"Kamu tinggal di mana? Masukkan alamatmu ke GPS, dong." Jongin menghidupkan GPS mobilnya tapi Kyungsoo menggeleng.

"Tidak perlu. Di perempatan depan belok kanan, kompleks apartemenku di sana."

Jongin seharusnya sudah menduganya. Seorang petinggi perusahaan seperti Kyungsoo sudah pasti memilih tinggal di pusat kota di mana harga apartemennya selangit. Apalagi di distrik seperti ini, Jongin sendiri tidak tahu sebesar apa apartemen Kyungsoo. Ia sendiri, biarpun merupakan salah satu penulis terkaya di Korea, ia lebih memilih tinggal di pinggir kota yang lebih sepi dan tenang.

Ia tidak kaget melihat gedung apartemen Kyungsoo yang dari luar saja sudah kelihatan mahalnya. Untuk menunjukkan bahwa ia setidaknya peduli, ia menemani Kyungsoo sampai ke depan pintu rumahnya. Kyungsoo tinggal di unit nomer 746, di lantai 7.

Kyungsoo mengetik password di depan pintu dan kunci pintunya terbuka. Ia membuka pintu dan memegangi gagangnya, tapi tidak segera masuk. Ia justru menahan pintu dengan kakinya dan menatap Jongin yang berdiri di belakangnya.

"Terima kasih ya hari ini," ujar Kyungsoo pelan, dan Jongin tidak tahu ia tulus atau tidak mengatakannya, tapi setidaknya direktur itu sudah mau bicara padanya.

"Hari ini menyenangkan, jadi tak masalah." Jongin mengedikkan bahu, dan biarpun Kyungsoo merasa hari ini tidak ada yang menyenangkan karena mereka hanya makan dalam diam, ia mengangguk juga. Jongin mengangkat satu tangannya untuk mengusap pipi Kyungsoo dengan jempolnya, membuat lelaki itu membelalak. "Kalau begitu, aku pulang dulu, ya. Selamat malam."

Kencan ketiga: sukses. Saat Jongin berbalik untuk pergi, ia sempat melihat wajah Kyungsoo memerah dan senyum malu yang mekar di wajahnya.

oooooooooooooo

Harusnya Kyungsoo tahu kalau membiarkan Jongin mengantarnya adalah kesalahan besar.

Tapi malam ini sudah hampir seminggu sejak kencan mereka di restoran Cina dan ia sudah hampir lupa akan lelaki itu. Kesibukan mengikat otaknya di satu tempat, membuatnya lupa hal lain selain kerjaan. Saat ini sudah hampir jam 11 malam dan ia baru memarkir mobilnya di basement apartemennya. Rasa lelah melilit kakinya dan ia bisa merasakan langkahnya makin lama makin pelan, tapi bayang-bayang akan kasurnya yang hangat dan nyaman membuatnya terus melangkah masuk ke dalam lift.

Lift terbuka, dan ia menghela napas lega karena ia akan bisa segera beristirahat.

Harusnya Kyungsoo tahu kalau membiarkan Jongin mengantarnya adalah kesalahan besar.

Tapi ia baru menyadarinya saat melihat penulis itu duduk bersila di depan pintunya, ada tas di sebelahnya, ia mengenakan kaca mata baca, dan ia sedang mengetik di laptop di pangkuannya. Jongin langsung mengangkat wajahnya begitu sadar bahwa Kyungsoo berdiri di dekatnya, dan ia tersenyum.

"Kamu sudah pulang."

Itu kata-kata yang sederhana, tapi ada bagian hati Kyungsoo yang meleleh mendengarnya. Itu kata-kata yang diucapkan seseorang yang telah menunggunya. Kyungsoo tidak tahu sudah berapa lama Jongin duduk di situ, tapi omelan yang sudah ia siapkan secara mendadak tadi ia telan lagi. Sudah lama ia tidak ditunggu untuk pulang. Rasanya hangat.

"Kyungsoo?" panggil Jongin, bingung karena tidak dijawab.

"Ngapain kamu di situ?" tanya Kyungsoo, ada rasa kesal menyelip di suaranya, tapi Jongin masih tersenyum.

"Menunggu kamu pulang," jawab Jongin, seolah tindakannya masih kurang jelas bagi Kyungsoo. Direktur itu hanya menatap Jongin dengan sayu dan tidak mengatakan apa-apa. Jongin melepas kaca matanya dan berdiri. "Tidak boleh?"

Mendengar itu, buru-buru Kyungsoo berjalan ke arah pintunya dan mengetik passwordnya. "Masuk dulu, di sini dingin."

Mereka masuk, dan entah sudah keberapa kalinya dalam hidup Jongin, ia dikejutkan oleh Do Kyungsoo. Gedung ini memang mewah dan sewanya mahal, tapi cara Kyungsoo menata interior rumahnya bahkan tidak sementereng itu. Jongin bahkan mengenali beberapa furnitur seperti sofa dan lemari-lemari di sana bukan dari merk yang mahal.

Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang menyukai pajangan pecah belah yang mahal dan antik, Jongin hampir tidak menemukannya di sini. Rumah itu rapi, lengang, dan hanya dengan melihatnya saja terasa nyaman.

"Aku mau mandi dulu," ujar Kyungsoo setelah ia kembali dari kamarnya. Jongin masih berdiri di tengah ruangan, lalu tersenyum padanya.

"Ikut mandi, boleh?" pertanyaan itu langsung membuat wajah Kyungsoo memerah, dan ia tak mampu menjawab. Jongin sadar bercandanya kelewatan, jadi dengan canggung ia berdehem. "Maksudku, aku boleh minta minum?"

"O-oh. Yang dingin… di kulkas. Teh dan kopi di lemari. Ketelnya di dekat kompor."

"Baiklah."

"Iya."

"Aku akan buat minuman."

"Iya. Santai saja."

Keheningan kembali membungkus suasana begitu Jongin sendirian di ruangan, tapi ia segera ke dapur dan merebus air. Ia hanya menemukan teh di lemari, tapi ia tak keberatan.

Untuk seorang laki-laki yang tinggal sendiri, rumah Kyungsoo terlihat seperti ia sudah beristri. Kalau hanya rak buku atau rak sepatu yang rapi, sih, Jongin tidak akan heran. Tapi bahkan dapurnya ditata dengan begitu apik. Botol-botol seperti kecap dan saus, bumbu-bumbu dapur, sampai bungkus ramen instan dirapikan sendiri-sendiri. Jongin sampai mengira Kyungsoo mungkin punya OCD. Atau mungkin tiap pagi ada tukang bersih-bersih rumah yang datang untuk membantunya. Entahlah.

Tehnya sudah jadi, dan Jongin menikmati rasa hangat yang menyelinap ke jari-jarinya saat ia menggenggam cangkir. Sambil minum, ia berjalan ke arah balkon yang dipisahkan ruangan dalam dengan pintu kaca.

Ia membayangkan Kyungsoo berdiri di sana sepulang kerja, masih dengan seragam kerjanya dan memandang ke bawah, ke arah kota yang padat dan tak pernah tidur. Bahkan ia sendiri bisa merasakannya, rasa tenang saat berdiri menghadap balkon, rasa tenang yang dibawa oleh lampu-lampu mobil di bawah sana—ia tidak paham, tapi ia merasakannya.

Ada rak buku yang besar dan memanjang di sisi tembok sebelah balkon, dan Jongin tidak tahu harus terkejut atau tidak saat melihat isinya hanya buku-buku ekonomi dan sejarah. Tidak ada buku fiksi sama sekali.

Jangan-jangan dia tidak suka fiksi, makanya ia sebal padaku, canda Jongin pada dirinya sendiri.

Ia sebenarnya masih ingin melihat-lihat buku kalau tidak ada beberapa bingkai foto di sana. Foto-foto itu berisi foto Kyungsoo waktu kecil dengan keluarganya, saat SD dengan teman-temannya, saat SMA juga dengan teman-temannya. Jongin sadar bahwa jumlah orang yang berfoto dengan Kyungsoo, semakin ia tua, semakin sedikit sampai akhirnya ia hanya difoto sendiri. Ekspresi Kyungsoo juga, senyumnya makin pudar sampai akhirnya ia tidak tersenyum sama sekali.

Tapi bingkai foto yang di ujung adalah yang paling menarik perhatian Jongin.

Di foto itu, Kyungsoo tidak sendiri, tapi berdua. Ia dirangkul oleh seorang lelaki yang lebih tua darinya dan—

Jongin tersentak saat Kyungsoo menyambar bingkai itu dan dari ekspresi wajahnya, Jongin merasa ia tidak seharusnya melihat foto itu. Sebenarnya Jongin tahu ia tidak seharusnya menanyakan ini, tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri. "Siapa yang di foto denganmu itu?"

"Bukan siapa-siapa."

"Kalau bukan siapa-siapa ngapain kamu pajang di sini. Kakakmu?"

"Bukan."

"Mantan?"

Kyungsoo tidak menjawab, dan saat itulah Jongin tahu kata-katanya memanah titik yang tepat. Ekspresi Kyungsoo berubah lagi, tapi kali ini mungkin ia sedang menatap proyeksi masa lalunya dengan mantan kekasih. Entah soal hari jadi mereka, hari kencan mereka, atau hari saat mereka putus. Makanya Jongin kaget waktu Kyungsoo mengangkat kepalanya dengan tampang menyebalkannya seperti biasa.

"Kenapa? Kamu mau tertawakan aku karena masih simpan-simpan foto mantan?"

Sambil tersenyum sedikit, Jongin meletakkan cangkir tehnya di atas rak buku dan mengeluarkan dompet dari saku belakangnya. Ia membuka-buka dompet itu, lalu mengeluarkan selembar foto. Itu foto seorang lelaki, agak mirip Jongin, tapi lebih manis dan garis wajahnya lebih luwes.

"Ini pacarku waktu kuliah. Namanya Taemin. Kami pacaran dari awal masuk sampai hampir lulus, tapi setelah lulus tiba-tiba ia meninggalkanku karena ada seorang cowok bernama Minho yang… entahlah, menarik perhatiannya? Aku belum pacaran lagi sejak itu."

Jongin memasukkan foto itu ke dalam dompetnya, lalu mengeluarkan foto lain lagi. Kali ini foto perempuan, dan Kyungsoo mengernyit.

"Ini pacarku waktu SMA. Namanya Soojung."

"Kamu pernah pacaran dengan cewek?" tanya Kyungsoo heran. Karena kalau Jongin bukan gay, buat apa mereka dijodohkan?

"Normalnya cowok pacaran dengan cewek, kan? Tapi setelah pacaran dengannya selama 10 bulan, aku sadar kalau aku sebenarnya tidak suka dengan perempuan. Aku bicara baik-baik dengannya soal itu, dan kami putus begitu saja."

Keheningan datang lagi, tapi kali ini membebani jemari Jongin yang masih memegang foto Soojung dengan kenangan-kenangan masa lalunya. Soojung memang cantik, Taemin memang manis. Masa-masa mereka pacaran bukan sesuatu yang mudah dilupakan, tapi Jongin sudah belajar untuk menerima mereka sebagai suatu kalimat pelengkap di paragraf tentang masa sekolahnya. Semuanya sudah berubah. Baik ia, Soojung atau Taemin. Mereka semua sudah berbeda.

"Kalau mantanmu?" tanya Jongin, merasa tidak adil kalau hanya ia yang cerita.

"Aku… pernah pacaran beberapa kali dari SMP sampai kuliah," jawab Kyungsoo pelan. Ada keragu-raguan di suaranya, tapi Jongin mendengar rasa percaya diri yang menyeret kata-katanya perlahan. "Tapi, Hyunsik ini—dia yang paling lama pacaran denganku. Kami pacaran hampir tiga tahun waktu kuliah. Dia yang ajak aku kencan duluan. Dia bilang aku manis."

"Lalu?"

Kyungsoo mengedikkan bahu dan meletakkan bingkai itu di meja. Ia menggeleng pelan. "Semua mantanku memutuskanku dengan alasan yang sama. Mereka bilang aku membosankan."

Sebagai seseorang yang menulis cerita fiksi, Jongin banyak belajar mengenai masalah sosial. Ia pernah membaca mengenai labelling, dan Kyungsoo ternyata mengalaminya. Dijuluki 'membosankan' oleh mantan-mantannya padahal orang-orang itu adalah tempat di mana Kyungsoo pernah menambatkan hatinya. Itu mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya, setelah Jongin lihat-lihat, ternyata cukup besar juga. Kyungsoo terus bertambah tua sambil berpikir bahwa ia memang membosankan, makanya ia berpakaian dan bersikap biasa saja. Karena menurutnya semua orang berpikir kalau ia membosankan, jadi ia sudah menurunkan ekspektasi orang lain terhadap dirinya sendiri.

Merasa suasananya tidak enak, Jongin langsung berdehem dan memasukkan dompetnya ke celana lagi dan mengedarkan pandangannya ke buku-buku yang ditata rapi di sana. Sekarang begitu Jongin memperhatikannya, buku-buku itu juga disusun dengan rapi sesuai penulis dan tahun terbit. Beberapa buku bahkan disusun berdasarkan warna dan ukuran. Jongin jadi semakin yakin kalau Kyungsoo mengidap OCD.

"Ehm, kamu tidak punya novel, atau buku fiksi apapun?" tanya Jongin, agak tersinggung karena tidak ada buku yang ia mengerti di situ.

"Tidak… aku tidak biasa baca novel. Paling-paling hanya biografi."

"Waktu kecil, kamu juga tidak suka baca buku? Buku cerita bergambar, gitu. Pinokio atau apa." Jongin belum menyerah, karena kesukaannya pada sastra saat ini juga dimulai dari buku-buku seperti itu. Makanya, Jongin kaget waktu Kyungsoo menggeleng pelan. Ekspresinya masih sama seperti tadi, dan Jongin tidak suka melihatnya.

"Waktu kecil, bacaanku hanya buku pelajaran dan ensiklopedia."

Saat itulah Jongin muak. Kehidupan macam apa yang dijalani Kyungsoo selama ini? Mendengar ceritanya begitu, kalau dipikir-pikir Kyungsoo memang tipe yang akan dijodohkan orang tuanya. Kalau Jongin beda cerita. Seandainya saja ia sempat cari pacar selama kerja, ia tidak akan dijodohkan begini.

Meskipun pada awalnya Jongin sedikit keberatan, ia merasa saat ini sudah terlalu terlambat untuk mundur. Ia harus jadi bagian dari masa depan Kyungsoo. Harus.

Hasrat itu entah kenapa malah membuatnya marah.

"Begitu, ya. Makanya hidupmu monoton begini. Pasti soal kamu jadi direktur itu juga sudah rencana orang tuamu."

Jongin sadar bicaranya kelewatan, tapi ia sudah tidak tahan lagi. Sebagian dirinya ingin ia menarik kata-katanya dan meminta maaf pada Kyungsoo. Ia ingin Kyungsoo mengerti bahwa hidupnya bisa lebih dari sekedar mengurusi keadaan ekonomi perusahaannya saja. Ia tahu Kyungsoo tidak bahagia. Dan ia ingin Kyungsoo tahu bahwa kadang kebahagiaan itu bisa didapat dari tempat membosankan seperti itu, kalau ia ingin mengubah dirinya sendiri.

"Jadi kamu juga berpikir kalau aku membosankan, ya?" tanya Kyungsoo. Jongin bisa merasakannya, rasa tersinggung dalam suaranya. Rasa itu membuatnya sedikit gemetar, tapi tidak membuat nyala di matanya mati. "Kalau begitu, apa bedanya kamu dan mantan-mantanku?"

"Bedanya adalah," Jongin berhenti. Pandangannya tertancap di rak buku di depannya sebelum kemudian dipindah ke wajah Kyungsoo. "Aku mau duduk di depan pintumu selama 4 jam untuk menunggumu. Aku mau meladenimu sampai tiga kali kencan walaupun kamu menyebalkan. Dan walaupun aku sudah tahu kamu membosankan—"

Jongin berhenti lagi, kali ini agak menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Mungkin Kyungsoo salah lihat, mungkin lensa kontaknya harus diganti, tapi ia melihatnya di dalam wajah Jongin. Ia melihat ketulusan di sana.

"Aku mau menyelesaikan tiga puluh dua cerpen dan tiga bab novel yang harusnya kukerjakan empat bulan dengan hanya tidur tujuh jam dalam lima hari. Untuk apa? Agar aku bisa mengatur jadwal kencan denganmu lagi, tahu?"

Saat itulah Kyungsoo tidak bisa membalas. Jongin terdengar marah, dan kalau orang lain yang dengar, pasti mereka berpikir kalau, 'pasti dia terpaksa melakukan itu,' atau, 'pasti orang tuanya yang menyuruhnya melakukan itu.' Tapi saat itu hanya ada mereka, hanya ada Kyungsoo yang mendengar omelan Jongin, dan ia tahu pasti kalau Jongin melakukan semua itu karena keinginannya sendiri. Tidak ada perjodohan yang tidak terpaksa, dan Kyungsoo tidak tahu kenapa Jongin mau melakukan itu tanpa disuruh.

"Pokoknya," Jongin mulai lagi, dan kali ini nadanya sedikit lebih santai. "Yang masih simpan foto mantan itu bukan kamu saja. Aku tahu kamu sudah tidak cinta pada Hyunlala siapalah itu, seperti aku sudah tidak mencintai Taemin dan Soojung.

"Tapi cobalah ingat lagi, mantanmu itu pernah punya tempat khusus di hatimu, kalian pernah saling mencintai walaupun sekarang rasa itu sudah tidak ada artinya lagi. Mungkin waktu pergi ke suatu tempat, kamu malah jadi ingat waktu kamu pergi ke situ dengan mantanmu, dan itu normal. Kamu merindukannya, dan itu wajar. Karena aku juga begitu.

"Kamu tidak perlu mempertanyakan rasa rindu itu. Dia hanya bagian dari ingatanmu, dan tidak masalah kalau sesekali kamu teringat tentangnya. Bukan berarti kamu masih suka padanya atau ingin dia jadi pacarmu lagi, tapi ini soal menerima mereka sebagai bagian dari masa lalumu. Masa lalu tidak bisa diubah, makanya kamu tidak perlu menyesal.

"Kamu tidak perlu menyesal soal mantanmu, kenangan tentangnya, atau soal kamu yang cerita soal mantanmu padaku. Kamu juga tidak perlu berusaha melupakannya, karena kamu sudah menemukan hal yang kamu suka, dan… aku yakin kamu sudah tidak sering memikirkannya."

Tangan Kyungsoo justru makin dingin meskipun sudah agak lama sejak ia selesai mandi, dan teh di cangkir Jongin masih lebih hangat jadi penulis itu memilih untuk menggenggam cangkir itu dari pada tangan Kyungsoo. Bukan karena ia merasa tidak pantas, tapi mungkin belum saatnya. Saat ini lebih tepat untuk digunakan menghabiskan tehnya yang semakin dingin.

"Kamu harus istirahat," ujar Jongin, lalu menghela napas lelah. Ia menoleh ke arah Kyungsoo yang kelihatannya jadi banyak pikiran gara-gara kata-katanya tadi. "Aku pulang, ya. Makasih tehnya."

Sebagai tuan rumah yang baik, Kyungsoo mengantar Jongin ke pintu depan, mendengarkan langkahnya yang pelan tapi tegas. Biasanya Kyungsoo tidak peduli, tapi malam ini ia tidak ingin langkah itu menjauh. Karena suara-suara kecil dari Jongin seperti ketika ia mendecak atau meletakkan cangkir di atas permukaan kayu, mengisi celah-celah sunyi di kegelapan rumahnya.

Ia memperhatikan saat Jongin memakai sepatunya, tanpa sadar iri pada kakinya yang panjang. Jongin menghentak telapak kakinya ke lantai pelan untuk memastikan sepatunya sudah cukup nyaman untuk dipakai berjalan. Tanpa memandang Kyungsoo, Jongin menggenggam kenop dan membuka pintunya, cukup lebar untuk ia keluar dari sana. Saat Kyungsoo kira Jongin akan segera pergi, penulis itu justru berhenti dan berbalik.

"Ada yang kelupaan," katanya sambil memutar mata, dan Kyungsoo baru akan minggir untuk memberinya jalan masuk ke dalam saat Jongin memegang pipinya dan mengecup bibirnya lembut. Mata Kyungsoo melebar, membelalak pada kelopak mata Jongin yang menutup kilatan cahaya matanya. Sudah lama ia tidak dicium siapapun, dan ia tidak melakukan apapun selain berdiri kaku di sana.

Meskipun tangan Kyungsoo tadinya sudah ada di depan badan Jongin dan siap mendorongnya kapan saja, ia tidak melakukannya. Justru perlahan tangannya mendarat di pinggang Jongin, meremas mantelnya dengan lemas.

Sejujurnya, awalnya tidak ada yang spesial dari ciuman itu. Hanya bibir dengan bibir, tidak lebih. Jongin tidak memaksakan ciumannya, tapi begitu Kyungsoo menciumnya balik dengan ragu, Jongin menangkup wajah Kyungsoo dengan satu tangannya untuk menahannya di tempat agar bisa menciumnya lebih dalam. Penulis itu menjauhkan wajah mereka setelah beberapa detik dan mengetuk bibir Kyungsoo dengan telunjuknya pelan, membuat Kyungsoo tersentak sedikit.

"Maaf aku tadi bilang kamu membosankan," bisik Jongin tiba-tiba, suaranya dibalut penyesalan. "Sebenarnya kamu tidak membosankan, kok. Kamu menarik sekali, makanya aku mau kencan denganmu. Mantan-mantanmu mungkin tidak cukup berusaha untuk mengenalmu, makanya mereka bilang begitu."

Kyungsoo terdiam mendengarnya, karena Jongin mungkin orang pertama yang mengatakan kalau ia tidak membosankan. Tangannya gemetar karena ia takut ini hanya padang bunga yang berujung jurang. Ia tidak mau Jongin melakukan ini kalau ujungnya ia akan menyerah dan meninggalkannya.

Seolah bisa melihat air mata yang membuat mata Kyungsoo mengkilat sedikit, Jongin mendekat lagi dan kali ini mengecup dahinya. Saat itulah air mata Kyungsoo menetes, tubuhnya terasa jauh lebih hangat entah apapun alasannya. Tangan Kyungsoo masih dingin, tapi Jongin sudah tidak memegang cangkir tehnya jadi ia tidak punya alasan untuk tidak menggenggamnya. Jemari Jongin melingkar di sekitar tangan Kyungsoo, mengusap-usap kulitnya dengan jempolnya.

Jongin kembali berjalan ke pintu dan benar-benar pergi kali ini. Biarpun terpisah selembar pintu, Kyungsoo masih bisa mendengar langkahnya yang semakin jauh ke arah lift, dan kali ini ia yakin kalau ia tidak ingin kehilangan suara itu lagi.


A/n:Halo
Saya hampir lupa apdet karena keasyikan ngerjain tugas (sebenernya banyakan nonton youtube sih daripada nugas, but ok)

Gatau kenapa menurut saya chapter ini sweet banget. Saya sampe bosen bacanya pas lagi ngedit
Saya nulis ini bener-bener random dan gak ada patokan jalan cerita sama sekali, jadi nulis lanjutannya susah banget. Takut kemana-mana. Huhu
Untuk kedepannya saya usahakan kualitas tulisannya tidak berkurang
Mohon dukungan pembaca sekalian
Terima kasih atas respon positif di chapter sebelumnya :D
Sampai ketemu di chapter 3 minggu depan!

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang udah nyempetin review :B