Chapter 2 update! Yey~ \(~.~)/
Ah iya, author mau ngasih sedikit info nih seputar Ino-Sakura, berhubung disini mereka kembar.
*) Di fiction ini, Sakura lebih tua 15 menit dari Ino.
*) Kalau di cerita asli Sakura itu terlihat cengeng dan heboh(?) di depan Sasuke, maka disini author membuat ia lebih tegar, sedikit pendiam, dan sedikit dewasa dari sifat aslinya. Tapi tinjuan hebatnya masih ada~ *plak
*) Nah, kalau Ino dalam cerita asli lebih dewasa dari Sakura, maka disini dia lebih imut-imut berhubung karena dia juga lebih muda dari Sakura. Tapi tenang aja, dia masih terlihat seperti Ino yang biasa kok. Cerewet dan hebohnya didepan Sasuke tidak diubah dalam fiction ini. *plakk
*) Tidak semua orang tahu bahwa Ino-Sakura kembar, karena dari wajahnya saja berbeda. Tapi untuk tahu alasan lainnya, silahkan dibaca dibawah saja ya…
*) Selama beberapa tahun, Ino pernah tinggal di desa Suna bersama nenek Chio. Tapi Sakura tetap di Konoha.
Oke deh, kayaknya itu aja… Selamat membaca! ^^
Warning : Mengandung imajinasi author yang sepertinya gila(?)
dan Perubahan sifat asli karakter
Read and Reviews, please!
Ino menyerngit heran melihat kelakuan teman semejanya itu, Uchiha Sasuke. Ada apa dengannya? Ini sudah hari ke-3 dia bertingkah aneh begini pikirnya heran.
"Ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Sasuke meletakkan kepalanya diatas meja dan membalas tatapan Ino.
Blush! "Ha? Eh.. ng.. Siapa yang memandangimu? Aku sedang melihat ke arah lapangan yang diluar itu kok."
"Benarkah? Jendela itukan ditutupi tirai. Tidak mungkin kau melihat ke lapangan."
Ino membelalakkan matanya. "Ughh.. Lupakan!"ucapnya kali ini. Ia merasa sudah sangat malu. Sesegera mungkin dia memalingkan wajahnya dari Sasuke. Sasuke yang melihat itu hanya bisa tersenyum jahil, atau lebih tepat disebut senyuman acting.
Sialan! Mereka terus memperhatikan kami! Akkhh..! Lihat saja, setelah semua ini berakhir mereka akan merasakan akibatnya. Berani-beraninya mereka mengatai seorang uchiha!batin Sasuke.
Beberapa pasang mata yang daritadi mengawasi mulai cekikikan melihat Ino yang memblushing dan juga senyuman usil Sasuke.
Skip Time…
Sore itu Ino sedang merawat tanaman-tanaman miliknya dikebun belakang. Dan tentu saja saudara kembarnya, Sakura juga berada disana. Berbeda dengan Ino yang terlihat sibuk dengan ini-itu, Sakura malah terlihat santai di gazebo yang tak jauh dari tempat Ino. Sambil menikmati semilir angin sore dan menghirupnya sedalam mungkin, Sakura berkata "Hei, Ino-chan.."
"Hm.. Ya?"
"Akhir-akhir ini kalian terlihat dekat ya." Sakura mulai memejamkan matanya.
Ino langsung berhenti dari pekerjaannya dan berkata, "Maksud mu dengan Sasuke-kun?"
"Ya, tentu saja" Sakura membuka matanya dan melihat Ino yang tiba-tiba saja sudah duduk dihadapannya.
"Ah, benarkah? Akhir-akhir ini dia memang berubah. Kau tahu tidak Sakura-chan, sekarang dia tidak secuek dulu. Dia tidak mengabaikan semua perkataanku, semuanya ia dengarkan, dia juga sering menawarkan ku bento-nya. Kyaaaa~ aku senang sekali…" tanpa sadar, tangan Ino yang penuh dengan tanah menyentuh kedua pipinya.
Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat saudaranya itu lalu berkata, "Kau menyukainya, yaaa… Hahaha"
Jleb!
"A-apa? Haha, aku juga tidak tahu Sakura-chan. Apa menurutmu begitu?" Ino berusaha menenangkan detakan jantungnya yang tiba-tiba.
"Hemm… mungkin~"
"Sudahlah, aku mau lanjut mengurus bunga-bungaku."ucap Ino
Sedangkan Sakura kembali menikmati udara dan langit sore ini. Tak lama, dia tertidur pulas.
"Astaga! Aku terlambat! Terlambat! Terlambat!" seorang gadis berambut merah jambu terlihat tergesa-gesa berlari ke arah kereta yang hampir menutup pintunya secara otomatis.
Sedikit lagi.. hampir sampai.. hampir sampai…batinnya. "Fiuhhh… hampir saja." Sekarang gadis itu (Sakura) bisa bernafas lega saat sudah berhasil masuk ke dalam peron kereta yang menuju stasiun dekat sekolahnya (Konohagakuen), dari sana ia bisa berjalan kaki 10 menit untuk benar-benar tiba disekolahnya.
Sebenarnya ada satu kesamaan diantara kembar non-identik ini. Mereka sama-sama tidak suka jika saling disangkut-pautkan satu sama lain. Misalnya, karena mereka kembar jadi harus berangkat sekolah bersamaan. Atau mungkin pulang bersama, atau hal lainnya yang mengakibatkan mereka bersama saat diluar area rumah. Tidak, mereka tidak akan pernah melakukan atau menyukai hal itu, karena mereka berprinsip 'Kembar tak haruslah saling dihubung-hubungkan'. Mungkin ini terdengar aneh, tapi tidak bagi mereka. Maka dari itu pula, sedikit orang di Konohagakuen yang tahu tentang hubungan mereka, kecuali orang itu bertanya atau melihat dari data-data siswa.
Begitu tiba di stasiun dekat sekolahnya, Sakura langsung melihat jam yang ada disana. "7.27!" pekiknya kuat. Ia segera berlari kepintu keluar stasiun, melompati 2 anak tangga sekaligus, dan lanjut lagi berlari sekuat tenaga. Sepertinya dia mulai putus asa. Langkahnya kini mulai melambat, ia tidak terlihat semangat seperti saat mengejar kereta. Dia lelah. Semakin lama, langkahnya semakin pelan, pelan, pelan, dan… bruk! Sakura terjatuh dan tak sadarkan diri.
Ciittt! Suara ban yang mendecit tiba-tiba terdengar, tak jauh dari tempat Sakura yang pingsan.
seorang pemuda keluar dari mobil yang tampah mewah itu dan berjalan ke arah Sakura, memandangnya sejenak. Dia menyerngitkan dahinya, seakan-akan mengingat dimana dia pernah bertemu dengan gadis itu. Begitu ia ingat, dengan sigap dia mengangkat tubuh Sakura, memasukkannya ke mobil dan blam! pintu mobil pun tertutup lalu mobil hitam itu berjalan memutar arah, bukan ke arah Sekolah SMA Konohagakuen.
Tap..tap..tap..tap… terdengar suara langkah kaki di sebuah rumah yang besar. Kemudian langkah itu berhenti, disusul suara pintu yang dibuka dan ditutup. Dengan perlahan, pemuda yang tadi menolong Sakura meletakkannya di tempat tidur. Tiba-tiba saja mata Sakura terbuka, dia sudah sadar. Masih dengan posisi membungkuk dan kedua tangan dibawah tubuh ramping Sakura, pemuda bermata onyx itu berkata, "Ah, kau sudah sadar rupanya."
Sakura tidak menjawab. Dia masih mencerna apa yang terjadi, lalu melihat ke sekelilingnya.
"Apa yang kau lakukan, baka!" Sakura menjerit dan segera mengeluarkan tinju andalannya.
Bugh! Yap, pukulan itu tepat mengenai wajah tampan Sasuke. "Aww..!"
Karna menerima perlakuan yang tidak semestinya begini, Sasuke memandang tajam ke arah Sakura yang masih berada di tempat tidur. "Cih! Tidak tahu berterima kasih! Terserahmu, Sakura!" pemuda itu langsung pergi meninggalkan Sakura di ruangan itu.
"Ya! Kau pantas menerimanya! Dasar baka! Apa yang kau pikirkan, sehingga berani menyentuh tubuhku?!" Sakura mulai terlihat emosi dan berteriak-teriak dari dalam kamar itu.
Dia berjalan keluar kamar, menuruni tangga, dan melihat Sasuke yang sedang duduk di ruang tengah masih mengenakan seragam. Tanpa memerdulikannya, Sakura berjalan dengan cepat ke pintu keluar.
"Kau mau kemana, Sakura?"
Sakura berhenti, dan berpaling "Tentu saja pulang."
"Biar aku antar."
"Tidak usah. Aku bisa naik kereta bawah tanah. Setidaknya lebih aman daripada diantar olehmu" ucapan sinis Sakura mampu membuat Sasuke melihat ke arahnya. Tentu saja dalam hatinya amarah Sasuke sudah bergejolak. Hening. Akhirnya Sasuke mendengus kesal dan berkata, "terserahmu." Setelah berkata demikian, dia meninggalkan Sakura dan naik ke kamarnya.
Jadi hari ini baik itu Sakura ataupun Sasuke, batal pergi ke sekolah.
To be Continued…
RnR, please ^^
