Konnichi wa, minna~ aku kembali dgn fic ini...
langsung aja, semoga kalian terhibur, ya~
Aku mengikutinya -pemuda berambut emo itu- hingga ke tempat yang agak sepi. Aku tidak peduli dengan keheranan Hinata akan sikapku yang tiba-tiba menariknya pergi dari keramaian.
Hanya satu yang ingin kulakukan- memastikan apa yang terjadi. Saat itu aku merasa benar-benar heran dengan pemuda tegap itu.
Pertama, aku ingat betul ia pernah bilang bahwa taman bermain itu adalah hal yang kekanakan. Aku tertawa geli saat tahu ia juga pergi ke taman bermain itu.
Dan yang kedua, ia terlihat ... aneh. Tersenyum dan tertawa seorang diri, apa dia benar-benar sudah gila? Ini semua dimulai sejak ia kenal dengan gadis yang bernama Sakura. Jujur saja, aku menjadi sedikit khawatir dengan perubahan sikapnya.
Setelah berpikir cukup panjang dalam waktu yang singkat, aku memutuskan untuk menghubunginya. Kini ponsel touchscreen berwarna biru laut itu sudah berada di genggamanku. Aku menghubunginya.
Tak perlu waktu lama hingga terdengar suara rendah pemuda itu menjawab telponku. Aku mengawasi gerak-gerik anehnya dari kejauhan bersama Hinata.
"Hn. Ada apa?"
"Kau dimana?"
Ada penjedaan agak lama ketika ia mendengar pertanyaanku. Kurasa ia berpikir sejenak sebelum menjawabnya.
"Di taman bermain. Ada apa?"
"Kau sendiri?"
"Jangan salah paham, dobe! Aku menemani Sakura."
Aku berpikir sejenak sembari terus memperhatikan gerak-gerik pemuda itu.
"Apa dia sekarang bersamamu?"
"Sebenarnya kau mau bicara apa, eh?"
"Jawab saja!"
Pemuda itu terdiam sejenak. Ia seperti menimbang-nimbang maksud pertanyaanku yang terdengar cukup memaksa itu.
"Aku selalu di sampingnya. Kau puas?"
Aku memutuskan pembicaraan kami dengan alis yang saling bertaut satu sama lain. Ini benar-benar aneh. Untuk beberapa saat aku bergidik mendengar jawaban pemuda itu.
"N-Naruto-kun, sebenarnya a-ada apa?"
Ujar Hinata lembut sembari menggenggam tanganku. Aku menatap kedua iris lavendernya dengan tatapan horor. Kepalaku benar-benar terasa berputar-putar dengan banyak pertanyaan mengenai pemuda itu.
"Sasuke, dia ..."
.
.
.
.
Jalan yang Terpisah
Disclaimer: ©Masashi Kishimoto | Story: ©KuroYupi
Genre: Horor, Romance, Tragedy | Rating: T semi M | Pair: Sasuke U. & Sakura H.|
Typo(s), alur pasaran, OOC
Ide dari cerita ini original punya saya.
mohon pemberitahuannya jika fic ini mempunyai alur yang sama dengan fic lain,
agar plotnya dapat saya ubah secepatnya.
.
.
DLDR
.
.
.
Enjoy it ^^
Jalan yang Terpisah Bagian 2: Hal Aneh Diantara Kalian.
"Gaara!"
Suara tenor Naruto terdengar jelas di pendengaran pemuda berambut merah itu. Ia menoleh mencari asal suara yang memanggilnya barusan, tanpa sedikit pun mengubah posisi berbaringnya di atas sofa berwarna soft cream itu.
Tak lama kemudian, indra pengelihatannya menangkap sosok pemuda jabrik yang baru saja membuka pintu apartemennya, tengah melambaikan tangan padanya.
Naruto -pemuda jabrik itu- tidak sendiri. Ia bersama dengan pemuda tampan dengan rambut model emonya- Sasuke. Mata pandanya menatap datar dua sosok pemuda yang menghampirinya itu.
"Ada apa?"
Tanya Gaara to the point saat Naruto dan Sasuke sudah ada di dekatnya. Ia tak suka berbasa-basi dalam berbicara, karena baginya itu tidaklah penting. Naruto mengerucutkan bibirnya mendengar nada bicara Gaara.
"Kau tidak merindukan kami, eh?"
Ujarnya sambil merangkul punggung Sasuke dengan sebelah tangannya. Sasuke yang menerima perlakuan Naruto hanya berdecak pelan sembari menepis tangan sahabatnya itu dari punggungnya. Iris jade itu memutar bosan. Ia kembali menenggelamkan iris jadenya dalam kelopak matanya.
"Sayang sekali, tidak."
Naruto kemudian menekuk wajahnya mendengar jawaban Gaara. Pemuda merah itu sama sekali tidak mepunyai kata-kata yang dapat menyenangkan hati pemuda blonde itu.
Sedetik kemudian, Naruto melenggang ke arah dapur untuk mengambil cemilan di kulkas Gaara. Tak berapa lama ia kembali terlihat dengan beberapa makanan ringan dan minuman bersoda hasil jarahannya.
"Bagaimana pertandinganmu?"
Ujar Sasuke setelah sekian lama membisu. Ia menatap wajah stoic Gaara yang menoleh ke arahnya. Gaara kemudian terlihat menghembuskan napas berat.
"Hanya juara kedua. Juara pertama direbut oleh Suna High School."
Sasuke ber'oh' ria mendengar jawaban sahabatnya itu. Mata onyxnya menangkap raut wajah lesu Gaara saat menceritakan hasil kerja kerasnya selama ini.
Mungkin baginya hasil itu tidak setimpal dengan semua yang ia lakukan. Tapi apa boleh buat, tim lawan memang kuat dan ia sudah melakukan yang terbaik untuk menang.
"Kalau kau bergabung, mungkin kami akan menang. Kau berbakat."
Sambungnya seraya menatap lesu Sasuke yang juga mengambil tempat di samping Naruto yang sudah menduduki sofa, di samping sofa tempat Gaara berbaring. Sasuke hanya menghela napas pelan mendengar perkataan Gaara.
Sudah beberapa kali ia diminta oleh sahabatnya itu untuk bergabung dengan club basket. Namun sayang, kegiatan itu sama sekali tidak membuatnya tertarik.
"Hhh. Sudah kubilang aku tidak berminat untuk itu."
Gaara menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya untuk memutuskan kontak mata dengan pemuda raven itu. Wajahnya yang lesu jelas memperlihatkan bahwa dirinya masih kelelahan pasca pertandingan basket semalam.
"Ya, aku tahu itu."
Sekali lagi terdengar hembusan napas berat dari Gaara yang membuat suasana menjadi makin suram.
"Bagaimana denganku? Kau tidak pernah mengajakku bergabung."
Celetuk Naruto tiba-tiba seraya menekan remote TV yang tergeletak di atas meja, guna menghidupkan benda yang merupakan salah satu media informasi elektronik itu.
"Jangan harap. Dulu kau bahkan mencederai dirimu sendiri sebelum pertandingan. Aku tidak akan pernah memintamu."
Ujar Gaara dengan nada yang jelas membuat Naruto sakit hati mendengarnya. Memang benar kenyataannya. Dulu Naruto pernah menjadi anggota club basket atas kemauannya sendiri.
Namun sehari sebelum ia akan bertanding, ia berlatih sangat keras hingga kakinya cidera. Sayang sekali, dirinya hanya bisa terbaring di rumahnya saat pertandingan itu berlangsung.
Sejak saat itu, Gaara dengan tegas tidak memberikan izin pada Naruto untuk ikut bertanding. Selalu ada-ada saja yang terjadi pada pemuda blonde itu sebelum pertandingan berlangsung, dan itu membuat repot timnya.
"Aku harus pergi."
Ujar Sasuke tiba-tiba seraya bangkit dari posisi duduknya, setelah ia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana jeansnya. Iris saphire Naruto sedikit membulat ketika melihat sahabatnya itu beranjak dari tempat duduknya.
"Eh?! Kita baru saja sampai, kau sudah akan pergi?!"
Sasuke tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut sahabat jabriknya.
"Sakura sudah menungguku."
Naruto mengerutkan dahinya ketika kembali mendengar nama gadis itu dari mulut Sasuke. Sejak ia melihat Sasuke di taman bermain tempo hari, ia menjadi sedikit merasa aneh ketika mendengar nama itu.
"Aku pergi."
Ujar Sasuke sekali lagi sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Naruto hanya diam melihat sahabat ravennya itu menghilang. Gaara yang masih dalam posisinya hanya melambaikan sebelah tangannya malas sebagai tanda berpisah dengan Sasuke.
"Gaara-"
Naruto menggantungkan kata-katanya yang hanya direspon 'hn' oleh pemuda beriris jade itu. Nampaknya pemuda bertatokan 'ai' itu ogah-ogahan mendengar ocehan Naruto.
"Akhir-akhir ini teme aneh."
Gaara terdiam sesaat saat Naruto mengatakan hal itu, seolah mencerna baik-baik apa yang pemuda tan itu ingin utarakan padanya.
"Jangan diambil pusing jika dia mengacuhkanmu karena seorang gadis."
Naruto terkesiap saat mendengar jawaban Gaara yang sama sekali tidak mengena dengan maksud kata-katanya. Pemuda beriris jade itu sepertinya tidak ada niat sama sekali untuk mendudukkan tubuhnya saat bicara dengan Naruto.
"Bukan itu! Memang benar aku merasa sedikit kesepian karena teme menomorsatukan pacarnya dan kau tengah fokus pada basket. Tapi ini beda! BE-DA!"
Celetuk Naruto panjang lebar. Pemuda berkepala bak durian itu menampilkan ekspresi horor di wajahnya. Sepertinya ia agak sedikit frustasi ketika melibatkan Gaara menjadi lawan bicaranya.
"Hn? Lalu apa masalahnya?"
Iris saphire Naruto menunjukkan cahayanya, seolah sudah menanti-nantikan pertanyaan tadi keluar dari mulut pemuda bertato ai itu.
"Percaya atau tidak, aku yakin kalau gadis bernama Sakura itu tidak nya-"
"Gaara, aku selesai. Sekarang giliranmu."
Naruto menolehkan wajahnya cepat ketika menyadari bukan hanya mereka berdua saja yang berada di apartemen Gaara saat itu.
Iris saphirenya membulat saat melihat sosok lelaki seumurannya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Kelihatannya pemuda berkulit tan eksotis itu sangat terkejut melihat sosok pemuda seksi yang tiba-tiba saja muncul dari kamar mandi. Kedua bibirnya pun seolah tak sanggup untuk saling bertemu kembali.
Gaara yang sedari tadi berbaring sambil menutup mata dengan sebelah tangannya itu, kemudian perlahan bangkit dan berjalan dengan gontai ke dalam kamar mandi.
Iris brownis pemuda bertelanjang dada itu menangkap tatapan heran sahabat Gaara tersebut. Ia kemudian mengembangkan senyuman tipis di wajah baby facenya itu.
"Konban wa."
"K-k-konban wa."
Ucap Naruto tergagap. Sekilas pemuda baby face itu terkekeh kecil melihat tingkah pemuda pemuda jabrik itu. Setelahnya kemudian, ia memasuki salah satu kamar dari dua kamar yang ada di dalam apartemen Gaara ini.
Dengan tatapan horor Naruto menatap lantai apartemen Gaara yang tak bersalah. Dengan secepat kilat ia meraih ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya dan segera menghubungi teman karibnya itu dengan panik.
"Te-teme! Siapa dia itu?!"
Ujar Naruto ketika tak lama kemudian Sasuke menjawab telponnya. Ia terdiam sesaat ketika sahabat jabriknya itu tiba-tiba menanyakan hal yang ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Apa maksudmu? Jangan ganggu aku, dobe! Aku sedang mengemudi!"
Celetuk Sasuke tanpa membuat Naruto merubah ekspresinya.
"A-ada seorang pemuda seksi di sini! A-apa dia itu ukenya Gaara? Jangan-jangan Gaara tidak punya pacar karena dia itu 'GAY'!"
Celetuk Naruto panjang lebar. Sasuke kemudian menghela napas panjang. Nampaknya sahabatnya yang satu ini sudah memikirkan hal yang macam-macam.
Namun ia tidak bisa membantah apa yang Naruto ucapkan. Satu hal, Naruto benar. Jujur saja, kemungkinan itu ada, bukan? Toh kenyataannya Gaara memang tidak mempunyai hubungan khusus dengan seorang gadis mana pun.
"Hn? Aku tidak tahu. Tanyakan saja padanya."
Ujar Sasuke kemudian menutup pembicaraannya dengan Naruto. Mata pemuda jabrik itu masih berkilat-kilat.
.
.
BLETAK
"Aaa! Itai!"
Naruto meringis kesakitan sambil memegangi kepala kuningnya. Pemuda bertato ai itu benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang satu itu. Enak saja ia mengatai dirinya itu gay.
"Rasakan! Kau pikir aku bercinta dengannya, eh?"
Gaara melirik pemuda yang memiliki warna rambut yang senada dengan rambutnya itu. Pemuda itu tengah bersantai di atas sofa dengan sebungkus makanan ringan di pangkuannya. Ia tersedak mendengar perkataan Gaara barusan. Apa katanya tadi? 'BERCINTA'?!
"Dia itu sepupuku dari Suna. Dia datang ke Konoha untuk bertanding basket denganku kemarin."
Ujar Gaara seraya melipat tangannya di depan dada.
"Go-gomenasai."
Ucap Naruto sambil sedikit membungkukkan badannya pada pemuda baby face itu.
"Iie. Tidak apa-apa, kami memang sering disangka gay. Itu semua karena panda ini tidak punya pacar."
Pemuda itu jelas bermaksud menggoda Gaara. Tergambar dari nada bicaranya dan raut wajahnya yang jenaka. Alhasil, sebuah deathglare sukses ditujukan padanya.
"Namaku Sasori. Salam kenal, ya."
Dengan sebuah cengiran lebar yang mengembang di wajahnya, Naruto membalas perkenalan Sasori dengan penuh semangat.
"Ha'i! Aku Naruto. Salam kenal!"
.
.
••Jalan yang Terpisah••
.
.
"Sakura-"
"Hm?"
Iris emerald gadis pinky itu menatap hangat sosok bungsu Uchiha di sampingnya. Tangan mungilnya ia gunakan untuk membenarkan beberapa helai rambut pinknya yang sedikit berantakan.
"Apa kau keberatan?"
Ucap Sasuke sukses meninggalkan sebuah tanda tanya dari pertanyaannya di kepala gadis pinky itu. Sakura menaikkan sebelah alisnya bingung. Pertanyaan Sasuke benar-benar ambigu. Tidak bisa dijawab dengan satu jawaban yang pasti, bukan?
"Jika kuperkenalkan dengan sahabatku."
Sambungnya lagi setelah melihat ekspresi kebingungan Sakura. Gadis itu kemudian tersenyum lembut. Tangan dinginnya kemudian meraih tangan besar Sasuke dan menggenggamnya.
"Tentu saja tidak, Sasuke-kun."
Ujarnya lembut. Emeraldnya kembali menatap ke depan, memutuskan kontak mata dengan pemuda raven di sampingnya. Sasuke tersenyum tipis mendengar jawaban Sakura.
"Tapi-"
Sasuke mengernyitkan alisnya mendengar satu kata dari Sakura yang terdengar sangat menggantung.
"Aku yakin sahabatmu itu tidak akan menyukaiku."
Sambungnya lagi. Sakura menundukkan wajahnya yang terlihat lesu saat mengatakan hal yang baru saja ia katakan. Sasuke semakin menautkan alisnya mendengar perkataan Sakura yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya.
Sedetik kemudian, pemuda emo itu menghembuskan napas panjang lalu mengembangkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. Tangan hangatnya kemudian meraih pucuk kepala Sakura dan mengelusnya pelan.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Sakura menatap wajah stoic Sasuke. Wajah putih pucat itu kemudian tersenyum hambar.
"Itu karena aku hanya gadis biasa. Tidak ada yang spesial dariku. Aku juga tidak ingin dalam sosok seperti ini."
Jawab Sakura sembari menatap kedua tangan pucatnya. Sasuke terdiam sesaat mendengar jawaban Sakura yang lagi-lagi tidak membuat hatinya senang dengan apa yang ia ucapkan. Gadis itu terlalu sering merendah, dan itu membuat Sasuke menjadi semakin ingin bersamanya.
"Bahkan aku seharusnya tidak berada di dunia ini. Aku tidak pantas untukmu, Sasuke-kun."
Sekali lagi gadis pinky itu mengeluarkan pernyataan yang membuat hati Sasuke memanas. Iris emerald yang menatapnya sayu itu benar-benar membuat emosinya meluap.
Dengan cepat kedua tangan Sasuke merangkul sosok pinky di sampingnya. Ia menghirup aroma cherry yang menguar dari tubuh Sakura. Tanpa memberi celah sedikit pun, Sasuke memeluknya erat seolah gadis itu akan pergi jika ia tak melakukannya.
"Bodoh! Kau membuatku marah!"
Kedua iris Sakura terlihat sedikit membulat saat menerima perlakuan tiba-tiba Sasuke. Sedetik kemudian ia tersenyum tipis lalu membalas pelukan hangat pemuda itu.
"Sasuke-kun ..."
"Kau pikir kenapa aku memilihmu jika kau hanya gadis biasa?"
Ujar Sasuke lagi sembari melonggarkan rengkuhannya dari Sakura. Kedua maniknya menatap lekat wajah manis di hadapannya dengan jarak dekat.
"Berhenti berkata seolah kau tidak diinginkan!"
Sasuke sedikit berteriak di depan wajah Sakura, membuat gadis manis itu sedikit terkejut dengan perubahan nada dari kekasihnya itu.
Bibir mungilnya kemudian sedikit membuka, sepertinya hendak menyanggah apa yang baru saja diucapkan Sasuke. Namun, tentu saja pemuda raven itu tidak mengijinkannya. Sekali lagi, dengan tiba-tiba bibir pemuda itu mengecup singkat bibir Sakura.
Wajah gadis itu merah padam. Usai insiden kecupan yang tidak ia sangka-sangka itu, Sakura memukul dada bidang Sasuke pelan.
"Sasuke-kun! Sudah kubilang, jangan tiba-tiba-"
"Aku menginginkanmu."
Sekali lagi, Sakura sukses dibuat terkejut oleh sikap Sasuke. Sungguh, pemuda itu sulit ditebak. Apa yang ia ucapkan, apa yang ia lakukan, semuanya tidak terbayang oleh otak Sakura.
Gadis itu hanya mematung mendengar apa yang baru saja Sasuke ucapkan. Iris emeraldnya menatap lekat wajah tampan di depannya. Beberapa detik berlalu, tak satu pun dari mereka yang melakukan gerakan sedikit pun.
Sasuke kemudian menghembuskan napas berat saat melihat ekspresi Sakura. Wajah gadis itu benar-benar tidak bisa diterjemahkan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa gadis itu tengah menatapnya kosong.
"Aku harap kau mengerti."
Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura. Sedetik kemudian ia dapat merasakan kedua lengan putih itu merangkulnya erat-erat. Wajah gadis itu tenggelam di dada bidang Sasuke. Sasuke yang menerima perlakuan Sakura hanya tersenyum tipis sembari mengelus lembut surai pink itu.
"Aku juga ... menginginkanmu, Sasuke-kun."
"Hn."
.
.
••Jalan yang Terpisah••
.
.
"Sasuke, berhenti melihatku seperti itu! Itu menjijikkan!"
Tegur Gaara saat merasa tidak nyaman dengan tatapan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Hn."
Gaara yang melihat tatapan onyx Sasuke yang masih sama dengan tatapannya tadi, kemudian menghela napas berat. Ayo lihat apa yang dipikirkan pemuda emo itu.
'Jadi benar yang dikatakan dobe. Gaara itu gay!' batinnya. Oh, ayolah! Darimana lagi pemikiran negatif seperti itu kalau bukan dari Naruto? Pemuda tan itu nampaknya telah meracuni pikiran Sasuke mengenai sahabatnya yang satu itu.
'Dan 'dia' ini adalah ukenya?' batinnya lagi seraya melirik sosok pemuda berambut merah marun yang tengah asyik bermain basket one on one dengan Naruto.
"Gaara-"
Ucap Sasuke setengah berbisik pada Gaara yang sibuk memutar-mutarkan bola basket di ujung jari telunjuknya. Gaara kemudian menoleh, menjawab tatapan datar Sasuke.
"Hn."
Sasuke lalu mendekatkan dirinya dengan pemuda berambut merah marun itu. Sebelah tangannya lalu menempel pelan di telinga Gaara dan berbisik.
"Jadi kau benar-benar gay?"
Ucap Sasuke dengan nada innocentnya. Seketika itu juga Gaara terperanjat kaget, tangan kirinya menyiku perut Sasuke agak keras. Sasuke meringis pelan mendapat gerakan tiba-tiba sahabatnya itu.
Gaara menatap horor Sasuke yang terlihat sedikit kesal dengan perbuatannya barusan. Salahnya sendiri! Seenaknya saja mengatainya gay, padahal sudah tentu ia adalah seratus persen lelaki normal.
"Kau mau kubunuh, eh?! Demi Tuhan! Darimana kau mendengar itu?"
Sasuke terdiam sesaat, mencoba mencerna arti dari respon Gaara barusan. Hanya ada dua kemungkinan mengapa ia bersikap kalang kabut seperti itu. Apa karena memang ia lelaki normal dan sangat anti jika dikatakan gay, atau dia malu untuk mengakui bahwa dia itu ... gay.
"Astaga, Sasuke! Percaya padaku! Kalau aku benar gay, lalu kenapa aku tidak menyerangmu sejak dulu? Katakan, siapa yang menghasutmu!"
Sasuke menimbang-nimbang pembelaan Gaara. Memang benar, Gaara tak pernah sekali pun melakukan hal-hal aneh mengenai orientasi seksualnya. Dan lagi, iris jade itu memang nampak tak ternodai oleh kebohongan.
"Na-ru-to."
Ujar Sasuke datar. Seketika itu juga iris jade Gaara bekilat geram. Sesaat ia menoleh ke arah Naruto yang terlihat sedikit frustasi karena selalu kehilangan point dari permainan basketnya bersama Sasori.
Perlahan namun pasti, Gaara menghampiri pemuda jabrik itu masih dengan kilatan di matanya tentunya. Naruto hendak melakukan shoot saat Gaara tepat berada di sampingnya dan menjatuhkan bola basket itu dari tangan Naruto.
Naruto kemudian tekejut dengan apa yang baru saja dilakukan pemuda panda itu. Iris sapphirenya memandang horor Gaara yang sungguh membuatnya kesal.
"Apa yang kau lakukan?! Aku baru saja punya kesempatan untuk melakukan shoot, dan kau menggagalkannya?! Arrg! Kau pikir seberapa susahnya mencuri bola dari anak ini?!"
Celetuk Naruto frustasi sembari menunjuk-nunjukkan jarinya kesal ke arah Sasori. Pemuda baby face itu hanya diam. Dengan sekali lihat, ia tahu tingkat emosi dari sepupunya itu sedang naik.
Gaara menatap dingin Naruto. Naruto yang kemudian menyadari tatapan mengerikan dari sahabatnya itu kemudian begidik ngeri membayangkan apa yang akan tejadi selanjutnya.
"U-ZU-MA-KI!"
Ucap Gaara pelan namun terdengar sangat menusuk. Satu hal lagi, Gaara memanggil namanya dengan nama keluarganya. Disaat seperti itu, biasanya Gaara telah habis kesabarannya.
"Y-ya?"
Ucap Naruto takut. Wajah jenaka pemuda jabrik itu tak terlihat lagi sekarang. Dengan tatapan horornya ia menatap irs jade Gaara yang berkilat marah padanya.
"Kau harus mati!"
Ujar Gaara singkat sembari menyunggingkan sebuah senyum ala psychopath di wajahnya. Jemari-jemari tangannya saling beradu, memperdengarkan bunyi yang semakin membuat situasi diantara kedua pemuda itu semakin menegang.
Perasaan Naruto semakin memburuk saat melihat Gaara sudah menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku. Dengan segera, pemuda jabrik itu mengambil langkah seribu mengelilingi lapangan basket itu untuk menghindar dari hantaman yang akan dilayangkan Gaara padanya.
Tentunya pemuda bertatokan 'ai' itu tidak diam saja melihat mangsanya(?) lari. Dengan cepat kaki-kaki jenjangnya mengejar Naruto dan berusaha menghajarnya.
"Gaara! Ampuni aku!"
"Tidak akan!"
Sasori menatap jenaka tingkah kedua pemuda berambut kontras itu. Ia tertawa lebar saat melihat Gaara berhasil mendapatkan Naruto dan mulai menjitaki kepala kuningnya dengan segenap hati.
Sementara Sasuke, ia hanya diam dengan tatapan stoicnya melihat tingkah kekanakan kedua sahabatnya itu. Senyuman tipis tak lewat dari wajahnya tampannya. Jujur saja, ia merasa sedikit terhibur melihat Naruto disiksa dengan penuh cinta(?) oleh Gaara. Poor Naruto.
BRAK!
Suara debaman terdengar dari arah pintu masuk ruang olahraga itu. Tentu saja hal itu membuat keempat pemuda di dalamnya terkejut dengan bunyi keras barusan. Keempat iris yang berbeda satu sama lain itu kemudian menatap sosok yang tengah berdiri di depan pintu.
"Hinata?"
Naruto kemudian bangkit dari posisi teraniayanya lalu berjalan mendekati Hinata yang masih terdiam di tempatnya sembari menundukkan wajahnya, menyebabkan surai indigo panjangnya itu menutupi wajah manisnya.
"Hinata? Kau mencariku?"
Tanya Naruto heran saat sudah berhadapan dengan gadis indigo itu. Tidak seperti biasanya Hinata mencarinya dengan cara seperti itu. Membanting pintu, eh?
Gadis selembut itu mana mungkin melakukannya, kecuali ia mempunyai kepribadian ganda yang berubah setiap waktunya. Namun Naruto yang sanggat mengenal kekasihnya itu tahu pasti, Hinata tidak mempunyai hal semacam itu.
"Ada apa?"
Tanya Sasuke yang jaraknya lebih dekat dengan mereka berdua dibandingkan kedua pemuda berambut merah itu. Naruto lalu menolehkan wajahnya untuk membalas tatapan ketiga pemuda yang masih menatapnya heran.
Pemuda berkulit tan itu hanya menaikkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan singkat Sasuke. Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hinata. Ia bersikap begitu ... aneh.
Naruto kemudian kembali menatap Hinata yang masih belum bergerak sedikit pun. Pemuda jabrik itu mencoba untuk melihat wajah Hinata yang tertutup oleh rambut panjangnya, namun tak berhasil.
Semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada kekasihnya, Naruto lalu menyingkapkan rambut Hinata. Kini pemuda tan itu dapat jelas melihat wajah manis gadis itu.
Alangkah tekejutnya ia ketika melihat wajah kekasihnya itu begitu basah oleh air mata. Kedua bola mata lavender Hinata membelalak seolah hendak jatuh dari tempatnya. Naruto semakin khawatir dengan keadaan Hinata, terlebih saat gadis itu masih terus menangis dalam diam.
"Astaga, Hinata! Apa yang terjadi padamu?!"
Gadis itu masih diam. Ia bahkan tidak membalas tatapan mata Naruto. Tangan tan Naruto refleks sedikit mengguncangkan tubuh mungil Hinata, namun hal itu tidak menghasilkan apa-apa.
Ketiga pemuda yang juga berada di dalam ruang olahraga itu turut heran dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Gaara dan Sasuke tentunya tahu bahwa Hinata tidak bersikap seperti biasanya.
Ia bahkan tidak menunjukkan semburat merah di wajahnya ketika berhadapan langsung dengan Naruto dalam jarak dekat. Keduanya kemudian mulai merasa sedikit cemas dengan keadaan gadis itu, terlebih ketika mereka juga melihat wajah Hinata.
Sasori yang tidak tahu apa-apa hanya menatapnya bingung. Iris brownisnya melihat Sasuke, Gaara, Naruto, dan Hinata secara bergantian. Ia tahu jelas bahwa kedua pemuda berwajah stoic itu sebenarnya juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan gadis indigo itu.
"Hinata! Jawab aku!"
Naruto mulai panik saat tidak mendapat respon apapun dari Hinata. Gadis itu masih tetap diam tanpa bergerak sedikit pun. Naruto kemudian menatap nanar keadaan Hinata yang begitu mengkhawatirkannya. Dengan lembut ia merangkul tubuh gadis itu sembari mencoba menghentikan tangisannya yang tak kunjung juga mereda.
"Khukhukhu-"
Naruto terkejut dengan apa yang ia dengar dari gadis yang ada dalam pelukannya itu. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dan kembali melihat wajah gadis itu. Hinata masih saja menangis, namun entah mengapa ia juga tertawa disaat yang bersamaan.
"Hi-Hinata?"
Naruto terbelalak kaget melihat ekspresi Hinata. Baginya ekspresi itu sangat menakutkan. Ia belum pernah melihat Hinata seperti ini. Hal ini membuatnya berpikir bahwa gadis yang ada di depannya ini bukanlah Hinata, kekasihnya.
Refleks Naruto memundurkan dirinya sebanyak dua langkah menjauhi Hinata. Ia masih shock dengan sosok gadis yang selama ini ia cintai.
Tak lama kemudian tawa Hinata berhenti. Dengan langkah gontai, ia bejalan melewati Naruto yang terpaku menatapnya pergi. Tak lama langkah kaki gadis indigo itu berhenti ketika ia sudah berjarak lima langkah lagi dari pemuda baby face itu.
Sasori menatapnya bingung. Ia kembali melihat Gaara, Sasuke, dan Naruto yang kini menatap ke arahnya dengan wajah tegang –hanya Naruto-.
Hinata mengangkat wajahnya dan kembali tertawa keras. Keempat pemuda itu bergidik mendengar suara tawa Hinata yang terdengar menggema di dalam ruangan itu. Tangan putih Hinata kemudian terangkat dan menunjuk ke arah Sasori yang masih bingung dengan situasinya.
Tawa Hinata kemudian terhenti. Air mata yang tadi sempat terhenti, kembali membasahi kedua pipi mulus Hinata. Wajah gadis itu terlihat seolah sedang marah pada pemuda beriris coklat di hadapannya.
"Kau-"
Ucap Hinata menggantung dengan suara berat, membuat suasana di sekitarnya semakin tidak mengenakkan. Perlahan kedua bibir gadis itu kembali membuka, hendak menyambung lagi kata-katanya.
"PEMBUNUH!"
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
A/N: woaah, puanjang~ ahaha, ga papa. Yang penting aku hepi~
Gomen ya, updatenya lama banget. Yupi udah ngasi tahu, kan fic ini cuma pelarian dari penyelesaian fic aku yg BLIND. Yah, semoga readers sekalian enjoy with this fic aja, ya..
Himetsuka ini udah lanjut. sepertinya kedua pertanyaanmu itu sama aja deh ^^ Udah tau kan, kalau Sakura ntu gak kelihatan atau gak bisa dilihat oleh orang lain selain Sasu. Kalau tertarik, RnR terus ya~Thx udah review/KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke haha, bilang gak ya? Kasi tau gak ya? *dirajam* kayaknya kamu udah tau jawabannya deh. Thx udah review/hanazono yuri ini udah lanjut. Thx udah review/Uchiha Shesura-chan wah, hontou ni? Makasih atas pujiannya *terharu* aku sebenarnya agak ragu dgn fic ini, takut kalau ceritanya sama dgn cerita di fic lain. Saku itu arwah, jawabannya udah bisa ditebak,kan? Mungkin akan jadi sad ending mengingat genrenya tragedy. Gomen ne gak bisa update kilat. Thx udah review/Alifa Cherry Blossom makasih atas pujiannya. Kayaknya story fic ini gampang ketebak arah ceritanya, ya? Yah, baguslah. Itu berarti readers udah bisa ngerti ntar arah ceritanya gimana. Gomen ne gak bisa update kilat. Thx udah review/Love Foam wah, berarti aku bisa membuat sinopsis yg menarik, ya *senangnya* ampe kamu yg anti ama semua genre d'fic ini jadi baca juga, hehe. Ok, pertanyaanmu kayaknya udah bisa ketebakkan jawabannya? Kalau belum, silahkan ikuti hingga end ya*evilsmirk* hoho. Thx udah review/Sakurai Shiina aku masih ingat, kok Shii-chan~ arigatou pujiannya. Gomen ne gak bisa update kilat. Thx udah review.
Thaks banget buat kalian yang sudah bersedia membaca dan juga mereview fic ini. bagi silent readers, thanks juga~ walaupun belum bersedia mereview, tapi semoga kalian terhibur ^^
Salam hangat, KuroYupi.
Palu, 23 Sepember 2013- 20.59 WITA.
