Kawai No Okama
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Kuroi Sora18
Pair : Sasuke U. X Naruto U.
Warning!
Alur kecepetan/ update siput/ story super gaje
Fic ini mengandung unsur BL atau Boys Love bagi kalian yang tidak suka, silahkan klik tombol back pada layar masing-masing. Saya author cinta damai, lebih suka kritik yang membangun dari pada flame nggak bermutu.
Summary :Damn! Uchiha dan tradisi anehnya! Diwajibkan memiliki calon pendamping hidup di usia 18 tahun. Sementara Sasuke Uchiha adalah remaja kuper yang sulit jatuh cinta yang harus menjalani tradisi itu.
"Dame!"/" Jadilah kekasihku!"/ " HEEEEEEH?!"/ Akankah
Sasuke menemukan cintanya?
.
.
.
Sasuke mengedip - kedipkan matanya pelan. Hal pertama yang dia lihat adalah kepala ibu tercintanya dan kepala dengan wajah keriput milik baka anikinya - Itachi. Dia merasa sangat sesak dan tidak bisa bernafas. Terasa di sumbat oleh sesuatu yang membuat hidungnya terasa sangat gatal. Dan...
" HATSHUUU!"
Melayanglah dua gumpalan kapas dari hidung Sasuke.
" Huah, Tou-san, Kaa-san! Sasuke belum mati!"
HELL NO! Siapa yang bilang dia sudah mati? Sasuke cepat-cepat bangun dari tidurnya. Dia menatap wajah kedua orang tuanya dan sang kakak yang balik menatap heran kearahnya.
" Doko ni iru desuka?"
Sasuke menatap sekeliling ruangan bernuansa putih itu. Hidungnya tiba-tiba berdenyut nyeri ketika dia menghirup bau menyengat obat-obatan . Dia sudah bisa menyimpulkan kalau dia ada di semacam klinik atau rumah sakit.
" Kau baik-baik saja, Suke?"
Mikoto Uchiha -sang ibu yang baik hati dan lemah lembut itu mengusap sayang kepala ayam Sasuke.
" Hn. Aku baik-baik saja. Tapi, apa yang sebenarnya yang terjadi?"
" Kau tidak ingat , otouto? Seseorang mengantarmu ke klinik ini karena katanya kau mengalami pendarahan di hidungmu."
" Heh?!"
" Hidungmu benar tidak apa-apa? Kau -tunggu bagaimana hidungmu bisa mengalami pendarahan begitu? Apa kau terbentur sesuatu?"
" Tidak... Tidak usah dibahas!" Sasuke menggelengkan kepalanya mengusir ingatan nista yang tiba-tiba melintas di pikirannya.
' Sekarang kau percaya kan, jika memang aku punya 'pedang' yang sama denganmu?'
Sasuke sontak memandang tangan kanannya . Perlahan potongan ingatannya tentang sosok Namikaze Naruto tiba-tiba membuat hatinya berdebar sangat kencang. Di mulai saat pertama kali mereka bertemu, saat Sasuke mengajaknya kencan, lalu kilas balik adegan nistanya juga tidak luput dari bayangannya.
SERRR...
Shit! Sensasi yang tadi sempat dia rasakan kembali datang. Hidungnya tiba-tiba berdenyut nyeri dan terasa sangat hangat.
" Are, Kaa-san, Tou-san , hidung Sasuke berdarah lagi!"
'HEEEEEEHHHHH?!'
Dan Sasuke kembali tumbang setelahnya.
.
.
.
Naruto itu punya keinginan yang sederhana kok. Dia orangnya tidak neko-neko dan muluk-muluk. Dia hanya ingin hidup seperti remaja pada umumnya. Dimana dia hanya akan berpikir mengisi waktu luangnya dengan sekolah, belajar, mengikuti ekstrakulikuler yang diadakan oleh senpai di sekolahnya, bermain game, dan memacari gadis cantik. Bukan dengan bekerja di kafe bertema cosplay dimana dia bercosplayria menjadi seorang maid kafe yang manis.
" Hah~"
Lihat saja, dia sudah berkali-kali menghela nafas semenjak kakinya menginjak area Uzushio Gakuen tiga puluh menit yang lalu. Aura suram sudah sedari tadi terpancar di sekitar tubuhnya. Awan mendung pun nampak menggantung di atas kepalanya, membuat orang-orang enggan berdekatan dengannya. Takut tersambar petir yang tiba-tiba muncul.
" Oi, Naruto!" seorang remaja laki-laki berlari kearah si pirang yang duduk di pojok belakang. Dia menepuk bahu si pirang keras-keras.
" Ohayou!" sapanya penuh semangat.
" Ah, Ohayou~" sahut Naruto lirih nyaris berbisik. Hal itu membuat Kiba menaikan salah satu alisnya. Dia menatap Naruto dengan heran.
" Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kau bertingakah suram begitu. Uang bulananmu habis lagi?"
Naruto menggelengkan kepalanya.
" Lalu kenapa? Oh, apa Orochimaru-sensei menggodamu lagi?"
"..."
Naruto kembali menggeleng disertai kedutan di kepalanya. Enak saja! Dia tidak akan lagi berurusan dengan guru melambai aneh itu.
" Lalu apa? Kau tahu, tingkahmu yang diluar kebiasaan ini membuatku takut berada di dekatmu." ujar Kiba lirih. Dia sudah bersiap mengambil langkah seribu , antisipasi jika saja Naruto tiba-tiba menjotosnya karena menggangunya di saat bad mood seperti itu.
" Sepertinya aku harus resign dari tempat kerja sambilanku."
" Heeeh? Nande? Kan kau sendiri yang bilang, meskipun kerjaanmu aneh tapi gajinya lumayan besar."
" Aku melakukan hal bodoh kepada adik bos tempatku bekerja. Hal itu membuat aku tidak punya muka lagi untuk bekerja disana lagi. Aku yakin, Itachi-san akan memecatku hari akan menyiapkan mentalku."
Kiba duduk di bangku di depan Naruto.
" Hal bodoh apa yang kau lakukan? "
" Akan sangat memalukan jika kau tahu. Sudahlah, jangan membahas ini lagi!" ujar Naruto judes. Dia langsung menutupi wajahnya dengan buku paket matematikanya -berpura-pura belajar.
.
.
.
Sasuke melirik kakaknya yang duduk di sampingnya sambil mengupas apel untuknya. Ayah dan ibunya sudah kembali ke rumah satu jam yang lalu. Kini mereka tinggal berdua di ruang rawat Sasuke.
" Ano, aniki..."
" Hnn?"
Sasuke berdehem sejenak. Dia melihat kakaknya terfokus dengan kegiatan mengupas apelnya.
" Pelayan kafe bernama Namikaze Naruto itu, apa dia sebenarnya seorang laki-laki?"
Tangan Itachi berhenti mengupas apel. Dia menatap adiknya yang sedari tadi menatap tangan kanannya.
" Ah~ ketahuan ya?"
GUBRAK!
" Apa-apaan kau, baka aniki?!"
Sasuke berteriak kesetanan memarahi Itachi yang malah menatapnya innocent.
" Kupikir, kau tidak menyadarinya. Makanya kuberitahu saja namanya ketika kau bertanya tentangnya. "
" Tapi kau tidak bilang apapun mengenai gendernya. "
" Salahmu sendiri tidak tanya."
Itachi menghendikan bahunya bersikap acuh, membuat tangan Sasuke gatal ingin menjotos sesuatu.
" Memangnya kenapa kalau dia itu seorang laki-laki? Kau merasa kecewa karena dia bukan seorang gadis yang kau impikan?"
Benar juga, dia sendiri yang menganggap Naruto itu seorang gadis tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Dia yakin dia seorang stright karena saat mimpi basahnya dulu dia bermimpi beranu-anuria bersama seorang gadis berambut pirang dan bermata biru. Jadi saat bertemu dengan Naruto, entah kenapa dia merasa over exited dengan hadirnya Naruto. Apa karena dia memiliki rambut pirang dan bermata biru? Lalu kenapa dia bisa mimisan meskipun dia telah menyentuh -uhuk- barang privasinya?
" Apa terjadi sesuatu diantara kalian? Bukannya kemarin kalian berkencan?"
Sasuke memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
" Sudah kubilang kan untuk tidak membahasnya!"
Sasuke segera menidurkan badannya ketika sakit kepala yang di deritanya semakin menjadi.
" Tapi aku benar-benar penasaran dengan apa yang menimpamu."
" Mou ii yo! ( Sudah cukup!)"
Sasuke segera menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Mendengar jawaban Sasuke, sepertinya Itachi akan mengubah jadwalnya hari ini. Hari ini pokoknya dia akan mengadakan sesi introgasi kepada Naruto. Khukhukhu~
.
.
Siang itu Naruto tetap bekerja seperti biasanya. Mendapat shift siang dan diawali dengan mengelap meja. Dia sedikit beruntung atau bisa jadi sial yang tertunda karena sampai saat ini Itachi -si bos di kafe itu belum menampakan batang hidungnya. Yah, setidaknya dia bisa bernafas lega untuk sejenak dan selanjutnya dia tinggal berdoa semoga si bos tidak datang ke kafe setidaknya untuk hari ini saja.
" Hah~"
Lagi-lagi menghela nafas. Naruto yakin hari ini kebahagiannyanya banyak yang berkurang. Mata birunya menatap segerombolan gadis SMU dan SMP yang sedang mengabadikanya dalam sebuah jepretan kamera ponsel mereka masing-masing. Memang hari ini ada yang berbeda sih, biasanya dia di foto oleh pelanggan laki-laki ketika dia bercosplay menjadi seorang maid atau chara anime perempuan lainnya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya dia memakai -entah ini disebut kostum atau seragam pelayan laki-laki pada umumnya. Kemeja putih dan celana hitam. Tidak lupa, dasi kupu-kupu yang terpasang di lehernya. Rambutnya juga ditata sedemikian rupa hingga tampilannya yang biasanya seperti durian montong itu kini klimis karena gel rambut super strong yang dipakainya. Lalu, ekspresinya yang dalam mode ' gloomy' membuatnya terlihat lebih awe awesome dari bisanya yang berpenampilan girly. Perubahan yang drastis itu tentu saja membuat para pegawai Akatsuki kafe yang lain terheran - heran. Termasuk Deidara.
" Apa dia baik-baik saja?"
Deidara mendekat kearah Sasori yang sedang menggoreng tempura. Si koki bersurai merah itu memandang ' sailor moon' jejadian di sampingnya yang dengan watadosnya mencomot tempura yang susah payah dia goreng.
PLAK! Sasori menampol tangan Deidara yang hinggap di piring dengan ujung spatula.
" Ittai!" Deidara mengelus-elus tangannya yang ditampol Sasori penuh sayang. " Aku kan hanya mengambil satu."
" Bukan masalah itu! Kenapa kau bercosplay seperti itu? Menjijikan, bulu-bulu kakimu terlihat bodoh!"
Deidara memandang kakinya yang berbalut rok berlipat-lipat pendek miliknya hingga menampilkan kaki kekar berbulu miliknya. Ya ampun!
" Hehe, doushite? Kawaii deshou?" tanyanya dengan ekspresi yang minta ditampol. Sasori ingin muntah dibuatnya.
" Hey, lupakan soal tempura dan bulu kaki,aku ini sedang bertanya padamu."
" Siapa juga yang membahas tempura dan bulu kaki. Kau ingin tanya apa? Tidak lihat kalau aku sedang sibuk?" ujar Sasori sambil menyibukan diri dengan membolak - balik tempura yang sudah setengah matang di kuali.
" Ada apa dengan Naru-chan? Dia hari ini berbeda sekali. Penampilannya memang berbeda, jadi keren sih tapi bukan karena itu! Dia terlihat murung hari ini."
" Mana aku tahu. Tanya saja sendiri."
Deidara mendengus sebal mendengar respon sohibnya itu.
" Kau ini, sebagai senior kau harus lebih peduli pada juniormu, Bakasori!"
Dahi Sasori berkedut-kedut mendengar ejekan Deidara untuknya.
" Sorry aku hanya bercanda. Tapi... Tapi lihat!" Deidara menunjuk Naruto yang sedang melamun di meja kasir. " Dia terus-terusan seperti itu seharian ini. Dan aku baru tahu jika Naru-chan bisa sekeren itu dengan baju itu. "
" Bukannya itu bagus? Hari ini orderan kita banyak karena banyak gadis-gadis datang untuk berfoto dengan Naruto. Sudahlah, jangan banyak bicara! Antar ini ke meja nomor 9 sana!"
Deidara mendengus ketika nampan berisi vanilla shake dan sepering omelet diberikan kepadanya.
KLIRING~
" Konnichiwa."
Naruto terperanjat hingga menjatuhkan lap yang dia pegang.
" Ko-Konnichiwa-" Naruto dengan gerakan patah-patah menoleh kearah pintu masuk. " - Itachi-san."
Pria itu tersenyum mencurigakan hingga matanya menyipit.
" Naru, bisa kita bicara berdua di ruanganku sebentar saja?"
Saat itu juga, Naruto berharap dirinya mempunyai kemampuan untuk menghilang dari hadapan sang boss.
.
.
.
Sasuke berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Dia telah dinyatakan baik-baik saja oleh dokter dan diperbolehkan pulang siang tadi. Dia sungguh tidak tahan dengan bebauan obat yang seperti menusuk hidungnya ditambah para perawat genit yang setiap waktu bertandang ke ruangannya hanya untuk menggodanya.
" Tadaima~"
Sasuke berderap menuju ruang tengah tempat biasanya keluarganya berkumpul.
" Okaeri."
Mikoto menyahut dari arah dalam. Tangannya sibuk merangkai bunga diatas sebuah vas keramik berwarna biru favoritnya.
" Kau sudah pulang, Suke? Gomen ne, Kaa-san tidak bisa menjemputmu. Apa keadaanmu sudah baik-baik saja?"
" Hn. Aku merasa baik-baik saja!" Sasuke berjalan menuju sebuah sofa . Dia duduk disitu dan menyenderkan punggungnya yang terasa sangat kebas.
" Dimana aniki dan Tou-san? Aku tidak melihat mereka."
" Hmm... Tou-sanmu sedang di kantor, katanya sih ada meeting mendadak bersama kliennya dari Sunagakure. Lalu Itachi... sepertinya dia sedang mengunjungi kafe miliknya di distrik sebelah."
Punggung Sasuke langsung menegak ketika mendengar kakaknya sedang mengunjungi kafe dimana Naruto bekerja. Shit! Bisa-bisa Itachi bertanya macam-macam tentang kejadian kemarin kepada Naruto. Sasuke mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Hal itu membuat Mikoto menatap anak bungsunya heran.
" Ada apa, Suke?"
" Hn. Iie betsuni! Okaa-san, aku pergi sebentar."
Sasuke beranjak pergi. Dia menyambar kunci motor kesayangannya yang dia letakan di meja.
" Chotto matte, Suke! Kau baru saja pulang!"
" Daijoubu, Kaa-san! Aku pergi dulu. Jaa, ittekimasu!"
Mikoto menghela nafas melihat kelakuan anaknya. Lagi-lagi dia sendirian di rumah. Ingin dia mempunyai menantu yang akan memani dia mengobrol dan cucu yang akan membuat dia tertawa karena tingkah lucunya. Bersama ketiga makhluk dingin berwajah papan triplek super sibuk di rumahnya membuatnya kesepian.
" Itterasai."
.
.
.
.
.
Sejak Naruto masuk kedalam ruangan Itachi lima menit yang lalu, netranya sama sekali tidak lepas memandangi pantulan dirinya di meja kaca yang membatasi jarak antara dirinya dan sang boss.
" Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Naru-chan."
GLUK. Naruto menelan ludah pahit saat mata onyx Itachi menyorot tepat ke matanya.
" N-Nani?"
"..."
.
Mendadak suasana menjadi begitu hening dan suram. Hawa mengintimidasi menguar pekat dari balik tubuh Uchiha sulung.
" Apa yang terjadi diantara dirimu dan adikku?"
JLEB! Nampak tombak imager menusuk tepat ke jantung Naruto hingga menembus punggungnya.
" Haha.. Etto...betsuni!" ujar Naruto tergagap. Mata birunya bergulir memandang patung gagak di sudut ruangan yang ia rasa jauh lebih menarik dari pada memandang mata kelam orang di depannya.
" Hounto ka?"
Itachi mengapit dagunya -bergaya berfikir ala detektif negeri barat sana.
" Lalu apa kau tahu penyebab Sasuke mimisan hebat seperti itu? Menurut resepsionis rumah sakit, kaulah yang membawa Sasuke kesana."
BRUK!
Kini nampak batu imager berukuran besar menimpa kepala Naruto. Pertanyaan skakmat!
" Yeah, aku yang menyebabkan Sasuke-san seperti sudah melakukan hal bodoh kepadanya. Gomenasai, Itachi-san!"
"..."
Alis Itachi saling menukik ketika melihat Naruto tiba-tiba menundukan kepalanya dalam-dalam sambil berurai air mata.
" Eh? Hal bodoh?"
" Ya, dia terus-terusan menganggapku sebagai seorang gadis. Aku jadi kesal dan aku membuktikan kepadanya kalau aku memang laki-laki tulen. Tidak penting bagaimana caranya, yang jelas dia jadi seperti itu setelahnya. "
Naruto menghela nafas dan memberanikan diri mematap mata Itachi.
" Aku panik dan membawanya kesana. Tapi aku minta maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu. Sungguh aku tidak ada niat untuk mencelakainya. Jika kau memecatku sekarang, aku tidak apa-apa."
Ini pasti ada kesalahan! Memecat Naruto? Yang benar saja! Naruto itu sumber devisanya!
" Eh, tidak...tidak! Mana mungkin aku seperti itu."
Itachi tersenyum kaku sambil mengibaskan tangannya di depan dada. Duh...membuat pegawai seinnocent dan sekawaii Naruto menangis membuat dirinya jadi merasa bersalah.
" Aku sama sekali tidak akan memecatmu kok! Malah sangat ingin berterima kasih."
LHO?!
" E-eh?" Mata Naruto mengerjap tidak paham.
" Aku bertanya seperti ini karena Sasuke sama sekali tidak mau menceritakan acara kencan kalian kemarin."
" Ke-kencan?" Naruto bersweatdropria.
Apa yang kemarin itu disebut kencan? Berlarian di jalanan dengan dandanan menyebalkan, mengejar pencopet dibumbui sedikit adegan action lalu diakhiri dengan pertumpahan darah yang menyebabkan tumbangnya Uchiha Sasuke. Oke, itu kencan penuh intrik dan anti main stream namanya.
" Maaf, Sasuke telah banyak merepotkanmu."
" Haha..tidak juga. Akulah yang ceroboh."
Itachi tersenyum tipis melihat Naruto tertawa garing di depannya. Akhirnya dia mengetahuinya. Adiknya yang manis kini telah beranjak dewasa. Dia tidak sabar ingin melihat akhir dari dua anak itu.
" Omoishiroi..."
.
.
.
.
.
TO Be discountinued...*gampar*
.
.
.
TBC maksudnya. *nyengir*
