Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas
This story is belong to sureaLive
Cast:
Jimin from BTS
Yoongi from BTS
Jin from BTS (Mentioned)
Jungkook from BTS (Mentioned)
Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)
OC
And other(s)
Rated:
M (For Theme and Language)
Length:
Chaptered
Warning:
BoysLove, OOC, Typo(s)
Full of narration in this chapter. Be patient okay? ;)
Slow Plot ^w^'
Disclaimer:
They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^
Summary:
Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.
~][~
Setelah kepergian Jimin, Yoongi menghembuskan napas lega sembari menutup kedua matanya. Aroma kayu dan buku-buku di ruang kerja Jimin membuatnya sedikit tenang. Jimin sebenarnya tak perlu khawatir kalau Yoongi akan berubah pikiran. Karena kesepakatan yang telah dibuat justru membuat Yoongi seratus kali lebih tidak sabar untuk segera memulai perjalanan mereka dibanding Jimin sendiri. Karena kemungkinan besar kedua pamannya tengah mencarinya sekarang, dan itu membuat Yoongi dipenuhi oleh rasa ketakutan.
Saat dia melarikan diri pada akhir musim panas kemarin, dia tertangkap tepat di depan pintu masuk club ayahnya. Saat kedua pamannya membawanya kembali, mereka memukulnya sampai bibirnya robek, dan di salah satu matanya terdapat lebam kehitaman, begitu juga dengan lengan dan punggungnya tak luput dari memar yang menyakitkan. Dan seteleh itu dia selalu dikurung di kamarnya, hanya di beri air dan roti sebagai pengganjal perut.
Tidak ada satupun diantara temannya yang tau tentang itu, baik Jin, Jungkook, maupun Jeonghan, tak ada yang pernah mengetahuinya. Hidup bersama keluarga pamannya merupakan mimpi buruk bagi Yoongi. Mereka selalu menyiksa dan mencoba meruntuhkan tekad Yoongi untuk mengunjungi ayahnya, namun mungkin tekad seorang Min Yoosuk sebagai petarung di atas ring tinju mengalir dalam darahnya, bukan tekad untuk bertarung, namun tekad untuk bertahan dan juga kekeras kepalaannyalah yang mendominasi, oleh karena itu Yoongi masih terus berusaha dan mencoba untuk lepas dari keluarga ibunya.
Yoongi sangat ingin berkumpul bersama ayahnya, menjaganya, merawatnya, karena Yoongi tau bahwa hanya ayahnyalah satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus. Yoongi mengerti mengapa ayahnya menyerahkannya pada keluarga ibunya setelah ibunya meninggal karena melahirkannya, ayahnya tak ingin ia hidup dilingkungan club yang akan menghancurkan masa anak-anak dan juga remajanya. Ayahnya hanya ingin yang terbaik untuk Yoongi. Namun, seandainya saja ayahnya tau seberapa buruk perlakuan keluarga ibunya padanya, apakah ayahnya akan tetap pada keputusannya untuk menyerahkan Yoongi? Setelah dia berusia 20 tahun keinginannya untuk melepaskan diri dari keluarga ibunya semakin kuat, apalagi setelah mengetahui bahwa ayahnya di vonis memiliki penyakit paru-paru kronis 2 tahun lalu, Yoongi telah berusaha selama itu, namun tak ada hasil.
Ibunya telah meninggal, begitu juga ayahnya tidak dalam keadaan baik-baik saja, setidaknya Yoongi ingin ada di samping ayahnya di saat-saat terakhir. Ini adalah satu-satunya cara yang Yoongi pikir dapat melepaskannya dari keluarga ibunya, yaitu meminta perlindungan pada lelaki yang telah ia ajak menikah beberapa saat yang lalu. Yoongi masih sedikit tidak percaya bahwa dia bisa berbicara dengan cukup baik dengan seorang Park Jimin, lelaki yang penuh dengan intimidasi dengan rambut dan mata hitam sewarna langit malamnya, dan juga bibir penuh yang diciptakan untuk mencium dan merayu. Dia seperti malaikat yang jatuh ke bumi, lengkap dengan pesona fisik yang sempurna yang mungkin saja bisa membuat seorang Lucifer iri. Park Jimin adalah seorang yang egois dan juga jahat, dan kejahatannya telah dibuktikan dengan percobaan penculikan terhadap tunangan sahabatnya sendiri. Dan itu pun membuktikan pada Yoongi bahwa mungkin saja seorang Park Jimin akan sanggup menghadapi kedua pamannya jika mereka diharuskan bertemu kelak.
Park Jimin akan menjadi seorang pasangan yang buruk tentu saja, namun selama Yoongi tidak mempunyai harapan dan perasaan padanya, semuanya akan baik-baik saja. Selama Yoongi tak memperdulikannya, dan menutup kedua matanya akan semua hubungan dan skandal yang Jimin buat dengan perempuan maupun lelaki lain, Yoongi akan baik-baik saja. Yoongi yakin itu. Betapa berbedanya pernikahannya nanti dibanding dengan teman-temannya, tiba-tiba membuat Yoongi ingin menangis. Dan mungkin saja tak ada harapan untuk Yoongi untuk tetap bisa bersahabat dengan Jin, Jeonghan, terutama dengan Jungkook setelah dia menikah dengan Park Jimin. Yoongi mengedipkan matanya untuk menahan kembali air yang hampir jatuh ke pipinya, Yoongi menghembuskan nafas lelahnya kembali.
Membayangkan betapa murka kedua paman dan bibinya saat tau dia telah menikah, membuat kesedihan Yoongi sedikit berkurang. Apa yang ia lakukan sekarang akan sebanding dengan apa yang ia dapatkan kelak, lepas dan hidup bebas dari kekangan keluarga pamannya, tak lagi di paksa untuk menikah dengan sepupunya, itu membuat Yoongi merasa lebih baik. Yoongi tidak membenci sepupunya, Yoongi hanya benci saat Han Gu selalu menuruti apa yang diperintahkan orang tuanya, seburuk apapun perintah itu. Tapi, ironisnya, Han Gu lah yang membuat Yoongi bertekad untuk melarikan diri kali ini.
Sambil menyandarkan kepalanya ke belakang, Yoongi kembali mengingat kejadian 2 hari yang lalu saat Han Gu mendatanginya setelah jam makan malam, dia menyerahkan kotak beludru kecil berwarna merah yang ternyata berisi cincin untuk mengikat mereka.
"Ini. Aku disuruh ibu untuk memberikannya padamu. Pakailah. Kau tak akan mendapatkan makanan lagi sampai kau memakainya. Jangan sampai kau membuat ibuku marah, atau kau akan disiksa lagi olehnya. Pertunangan akan diumumkan minggu depan." Han Gu berbicara tanpa memandang Yoongi sedikitpun. Hal ini tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Yoongi, mengapa secepat ini? Memikirkan pertunangannya membuat emosi Yoongi muncul, dan itu membuat Han Gu menatapnya sambil tersenyum. "Hey.. kemarahanmu membuat kulit pucatmu merona, Yoongi. Cantik."
"Hh-han Gu, aa-apabila aku menerima untuk me-menikah denganmu, maukah kk-kau membantuku menghadapi oo-orangtuamu agar aku bb-bisa mengunjungi ayahku?" Yoongi tak menghiraukan perkataan Han Gu yang menggodanya, fokusnya kini hanya pada kesempatan yang mungkin saja dapat ia peroleh dari Han Gu.
Senyum di wajah Han Gu menghilang. "Mereka tidak akan memperlakukanmu seperti ini kalau kau tidak keras kepala, Yoongi."
Kemarahan menguasai Yoongi, "Kk-kau mendapatkan hartaku, tt-tapi kau tak bisaa mm-membatuku sebagai bb-balasan…."
"Lagipula kau membutuhkan hartamu untuk apa? Kau hadir dipesta-pesta yang diadakan oleh para Chaebol karena kau berteman dengan para pewaris itu. Bukan karena kau memang layak untuk diundang, kau bahkan membuat emosi orang-orang yang mengajakmu berbicara, kau tidak menarik untuk diajak berkencan. Aku heran mengapa para pewaris itu mau berteman denganmu. Kau tak membutuhkan pakaian ataupun aksesoris mahal, kau tak membutuhkannya…"
"Aa-aa-aku…"
"Apalagi yang ingin kau katakan, bodoh?" Han Gu bertanya dengan tidak sabar, dan melamparkan kotak beludru yang masih di genggamnya, membuat isinya terlempar ke bawah ranjang Yoongi. "Lihat. Kau membuat cincinnya hilang. Kau yang menghilangkannya. Sebaiknya kau menemukannya atau kau akan kelaparan." Setelah itu Han Gu meninggalkan Yoongi dengan menutup keras pintu kamarnya.
Tubuh Yoongi bergetar karena emosi yang menguasainya. Pada akhirnya, bukannya mencari cincin yang telah dilempar Han Gu, Yoongi malah mengambil ranselnya dari dalam lemari dan memasukkan beberapa pasang pakaian dan surat-surat yang mungkin akan ia butuhkan kelak. Serta sejumlah uang cash simpanannya karena semua ATM dan Credit Card dari ayahnya ditahan oleh pamannya. Setelah berhasil kabur melalui balkonnya di lantai 3 menggunakan kain yang dia ikat, Yoongi berlari melintasi taman belakang dan keluar melalui pintu gerbang kecil yang memang telah rusak dan hanya di tutupi oleh tumpukan kayu. Yoongi kembali berlari dan mulai menyusun rencana, apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Yoongi tidak punya banyak waktu, karena saat matahari terbit dan pamannya menyadari ketiadaan Yoongi di rumahnya, maka berakhirlah hidup Yoongi. Yoongi berencana mendatangi club ayahnya, namun pasti pamannya akan kembali mencarinya kesana. Dan Yoongi pun tak bisa mendatangi teman-temannya, Yoongi tak ingin menyusahkan mereka dengan masalahnya. Saat itu akhirnya Yoongi memutuskan untuk pergi ke hotel terlebih dahulu sambil memikirkan rencana selanjutnya. Setidaknya untuk sekarang dia telah terlepas dari pamannya dan juga tak perlu menikah dengan Han Gu.
Yoongi sedikit heran, kalau dipikir kenapa sepupunya itu selalu mengikuti semua yang diinginkan oleh orang tuanya, bahkan untuk seorang pasangan yang akan menjadipendamping hidumpu. Apakah Han Gu tak memiliki seseorang yang dia cintai sehingga dia menerima saja saat dia akan dinikahkan dengan Yoongi. Han Gu itu bukan lelaki jelek, Yoongi akui itu. Namun Yoongi tak pernah mendengar Han Gu berkencan dengan wanita maupun lelaki manapun. Bahkan Han Gu jarang mengikuti pesta yang diadakan oleh para pengusaha Seoul.
Tidak seperti Park Jimin. Lelaki yang akhirnya Yoongi pilih dan Yoongi harapkan dapat membantunya. Park Jimin adalah lelaki yang mengencani terlalu banyak wanita dan juga beberapa lelaki, jumlahnya hampir tak bisa dihitung. Mungkin, bagi kebanyak wanita - dan juga lelaki – berpikir bahwa seorang Park Jimin adalah lelaki yang menarik, tapi tidak bagi Yoongi. Namun dengan adanya rekor seorang Park Jimin, maka tak akan ada yang meragukan ke-sah-an pernikahan mereka. Karena sebuah pernikahan akan benar-benar sah saat pasangan tersebut telah menghabiskan malam pengantin mereka.
Park Jimin benar-benar jauh dari kriteria pasangan yang diinginkan oleh Yoongi. Dia bukan lelaki baik-baik. Dia juga tidak penyayang dan perhatian dan bukan lelaki yang lucu dan sedikit kekanakan. Park Jimin adalah seorang predator yang senang memainkan mangsanya sebelum menghabisinya. Memandangi kursi yang tadi telah diduduki oleh Jimin, Yoongi mengingat bagaimana rupa Jimin di bawah cahaya lampu christal di atas mereka. Jimin adalah lelaki yang memiliki tubuh yang lumayan tinggi, dengan otot yang terbentuk sempurna di balik kemeja putih yang tadi dikenakannya. Rambutnya berwarna hitam lurus dan tebal, dipotong rapi dan terlihat lembut saat kau menyentuhnya. Matanya sewarna rambutnya, sehitam warna lautan terdalam, yang tidak memancarkan emosi apapun saat dia tersenyum. Senyumnya sendiri telah cukup membuat para wanita bertekuk lutut padanya. Sensualitasnya. Mulut sinisnya. Ya, Park Jimin adalah lelaki yang mempesona. Dan Jimin sendiri menyadarinya.
Walaupun begitu, anehnya, Yoongi tidak takut pada Jimin. Dia tau bahwa Jimin terlalu pintar untuk melakukan kekerasan fisik terhadap siapapun, kata-kata dari mulutnya telah cukup menghentikan omongan kosong yang membicarakannya. Yang dia takutkan adalah pukulan yang diberikan pamannya ataupun tamparan yang sering membuatnya pusing dari bibinya.
Suara pintu yang terbuka menyadarkan Yoongi dari pikirannya rumit. Seorang pelayan wanita masuk dan tersenyum padanya.
"Tuan Park menanyakan adakah yang anda butuhkan, Tuan?" Pelayan tersebut bertanya sambil masih tersenyum.
"Emh.. Bi-bisakah anda memberitahukan di mana kamar mandinya? Saya butuh mengganti baju." Yoongi menjawab di selingi senyum gugup. Matanya menatapi pakaiannya sendiri yang masih setengah basah.
"Tentu. Anda bisa mengikuti saya."
Yoongi menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti pelayan tersebut dalam diam. Yoongi merasa tidak enak, sungguh. Ini sudah jauh lewat dari tengah malam, dan dia mengganggu pelayan tersebut yang pastinya tengah beristirahat.
Pelayan tersebut membawanya ke sebuah kamar di lantai atas, dan menunjukkan letak kamar mandinya.
"Silahkan Tuan. Apakah ada lagi yang anda butuhkan?"
"Ti-tidak, ini cukup. Terimakasih. Mm-maaf merepotkan." Yoongi menundukkan kepalanya.
Pelayan tersebut membalasnya dengan tersenyum dan juga menundukkan kepala. "Tidak sama sekali Tuan. Ini sudah tugas saya. Saya permisi. Apabila anda membutuhkan sesuatu, anda bisa langsung memanggil saya." Pelayan tersebut pergi meninggalkan Yoongi di depan pintu kamar mandi. Yoongi mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Ini mungkin kamar tamu, begitu pikir Yoongi, lalu dia memasuki kamar mandi sembari menjinjing ranselnya.
~][~
Yoongi merasa lebih baik setelah membersihkan diri, badannya tak lagi kedinginan karena baju setengah basahnya. Tak ada suara apapun sebelumnya, tak ada peringatan, namun perasaan Yoongi tiba-tiba dipenuhi kewaspadaan saat tengah mengeringkan rambutnya. Yoongi kemudian berbalik dan menemukan seorang Park Jimin tengah berdiri dan menyandarkan badannya ke daun pintu, kepalanya sedikit dimiringkan saat memandangi Yoongi dengan seringai kecil di sudut bibirnya. Perasaan ganjil tiba-tiba menyerang Yoongi, perasaan hangat yang tengah menyebar keseluruh saraf di tubuhnya. Yoongi tak tau mengapa dia merasakannya, namun kehangatan itu membuatnya merasa lemah dan lelah. Dan membayangkan akan perjalanannya nanti menuju Swedia, membuat tenaga Yoongi semakin menyurut. Yoongi menghela napas, berusaha membuat perasaannya lebih baik, lalu melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan. Namun seketika langkahnya terhenti saat hujaman cahaya putih sesaat membutakannya dan Yoongi merasa lantai tengah menariknya.
Menggelengkan kepalanya untuk sedikit menjernihkan pandangan, Yoongi lalu menyadari bahwa Park Jimin kini tengah berdiri di hadapannya dan menahan kedua pundak Yoongi agar tak terjatuh. Yoongi tak pernah melihat Jimin dalam jarak sedekat ini, dan seketika indra penciumannya dipenuhi oleh aroma Jimin. Aroma dari campuran parfum mahal, pelembut pakaian, dan aroma dari tubuh Jimin sendiri. Dan Yoongi kembali menggelengkan kepalanya.
"Kapan terakhir kau makan?" Jimin bertanya dengan suara rendahnya. Matanya tak lepas dari wajah Yoongi.
"Mmm.. Kemarin pagi. Mm-mungkin." Yoongi menjawab tidak yakin, karena Yoongi sendiri tak ingat kapan terakhir dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Kemarin, setelah menginap semalam di penginapan, Yoongi pergi sambil memikirkan langkah selanjutnya. Yoongi tak bisa lebih lama tinggal di hotel karena kemungkinan besar pamannya sudah mulai mencarinya, dan hotel sudah pasti masuk daftar tempat yang akan di datangi pamannya. Akhirnya, Yoongi bersembunyi di perpustakaan kota hampir seharian sampai pada akhirnya Yoongi sampai pada keputusan yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Yoongi harus berlindung pada orang yang memang mempunyai hak atas dirinya, yang kuat dimata hukum Negara. Dan orang yang mempunyai hak atas dirinya selain keluarganya adalah pasangannya sendiri, namun Yoongi tak memilikinya, bahkan kekasihpun Yoongi tak punya, tak pernah punya. Lalu entah kenapa, di kepalanya keluar satu nama. Park Jimin.
"Jangan katakana bahwa keluargamu membiarkanmu kelaparan?" Yoongi tak menjawab, "Ini makin terlihat menyedihkan, kau tau? Aku telah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu. Pegang tanganku, kita harus turun."
"Tt-tidak perlu. Aku masih bb-bisa berjal…"
"Pegang tanganku." Jimin kembali mengulang perintahnya. "Aku tak akan membiarkanmu jatuh dan mematahkan leher cantikmu. Mencari pewaris yang menyerahkan dirinya dengan suka rela itu susah."
Yoongi pasti lebih lelah daripada yang ia sangka, karena nyatanya dia memang butuh Jimin untuk menopangnya saat berjalan. Jimin menggenggam tangan Yoongi dengan erat, sedangkan sebelah tangannya yang lain ia lingkarkan melewati punggung Yoongi dan menggenggam tangan Yoongi yang bebas membimbing Yoongi melawati setiap undakan tangga dengan selamat. Yoongi memandangi tangan yang kini tengah menggenggam tangannya, terdapat lebam samar di buku jari-jari Jimin peninggalan dari perkelahiannya dengan Kim Taehyung minggu lalu. Melihat lebam itu membuat Yoongi membayangkan bagaimana jika Jimin bertemu dengan kedua pamannya, akankah Jimin bisa menghadapi mereka?
Saat mereka sampai di ruang makan, telah tersedia beberapa potong roti hangat dan daging di atas meja, dan segelas susu hangat.
"Makanlah, kau akan merasa lebih baik." Dengan sungkan Yoongi mengambil susu hangat yang sejak tadi menggodanya. Melihat Yoongi sudah mulai memakan makanan, Jimin kembali melanjutkan, "Ohh, kita tak bisa ke Swedia sekarang, Jet ayahku tengah dipakai, dan penerbangan tercepat kesana dengan pesawat umum adalah besok siang, jadi…"
Mendengar itu Yoongi terbatuk disela-sela kunyahannya. "Jjj-jadi kita tidak bb-bisa menikah ss-ss-secepatnya?"
"Woow, perlahan sayang. Apakah kau begitu bersemangatnya menikah denganku?" Jimin tersenyum menggoda dan sebelah tangannya mengusap lembut punggung Yoongi untuk menenangkannya.
"Bu-bukan begitu. Hanya saja aa-aku takut kalau pamanku akan segera menemukanku." Yoongi menjawab dengan menggelengkan kepalanya cepat.
"Akankah pamanmu berpikir bahwa kau akan datang padaku?" Jimin bertanya dengan bibir yang masih di hiasi seulas seringai tipis.
"Ti-tidak. Mereka tak akan menyangka bb-bahwa aku akan segila ini." Jimin tertawa mendengar jawaban Yoongi.
"Baiklah. Kau sudah selesai? Mari kita berangkat." Jimin kembali menggenggam tangan Yoongi setelah melihatnya mengangguk.
"Berangkat kk-kemana? Kau bilang kita tidak bisa pergi ke Swedia malam, emm.. pagi ini." Yoongi mengoreksi kata-katanya saat ia melihat ke arah jam besar yang di pajang di salah satu ruangan yang di lewatinya. Dan jam itu menunjukan pukul 4.10 am.
"Ya, kita memang tidak bisa ke Swedia, tapi aku telah memesan tiket tujuan Belanda. Ku pikir itu tak ada bedanya, Belanda juga melegalkan pernikahan seperti kita." Mendengar itu Yoongi menganggukkan kepalanya. Yoongi tau bahwa Belanda adalah Negara pertama yang melegalkan pernikahan kaum minoritas sepertinya. Saat mereka sudah mendudukan diri mereka di mobil Jimin yang nyaman, Jimin kembali bersuara, "Hei, apakah kau pernah memikirkan kemungkinan bahwa kau mungkin saja akan menikmati saat tidur denganku dan kau menginginkannya lebih dari satu kali?"
"Tt-tidak. Aku tidak mau." Yoongi menjawab dengan tegas.
Jimin kembali tertawa. Sebenarnya itu hanya pertanyaan iseng, tapi saat melihat raut serius Yoongi saat menjawab pertanyaannya, itu cukup menghibur Jimin. "Hmm, aku menyukai tantangan."
"Aku mm-mungkin saja menikmati saat tidur denganmu," Yoongi menatap tepat di manik kelam Jimin, "Aku berharap aku aa-akan menikmatinya, tapi itu tak akan merubah keputusanku. Karena aku tau ss-siapa dirimu, dan aku tau reputasimu."
"Manisku.." Jimin berkata dengan lembut dan seringai kecil kembali muncul di bibir penuhnya, "Kau bahkan belum melihat sisi terburukku."
~][~
TBC
Note: (curhat walaupun gak ada yang baca) :D
Harusnya Note ini dimasukin di chapter 1 kemaren, tapi karena saya belum ngerti cara post story, jadinya kemaren cuma seadanya. Hehe
Saya buat ini karena saya mabok MinYoon moment kemarin, terimakasih BigHit dan PUMA hehe *love*
Sebenernya udah lama pengen buat cerita ini, (karena novel ini favorit saya :D) sejak saya masih ngeship XiuHan/LuMin ampe akhirnya mereka pisah :') Lalu saat saya mulai ngeship Jeongcheol/Seunghan masih belum juga kesampean :D Akhirnya tercapai(?) di MinYoon/YoonMin :') walaupun belum tau kelanjutannya gimana hehe
Jujur, saya baru-baru ini suka BTS, tadinya hanya sekedar kenal. Saya bahkan lebih dulu suka SEVENTEEN. Jadi apabila ada informasi atau apapun itu yang salah tentang BTS di sini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, khususnya untuk para ARMY yang baca cerita ini. Walaupun kemungkinannya kecil ada yang baca :) jadi mohon di koreksi ya, terimakasih ^o^
Untuk pemilihan kenapa Swedia, karena saya searching Negara-negara yang udah legal pernikahan sesama, di sana ada Swedia. Tadinya mau Belanda tapi saya mau yang beda aja, makanya pilih Swedia. Tapi akhirnya tetep pakai Belanda. Maafkan saya yang labil ini…
Untuk tokoh-tokoh tambahan/antagonis saya memutuskan untuk memakai OC imajinasi saya sendiri. Karena saya tidak bisa membayangkan para idols jadi jahat. Apalagi kalo fans nya ada yang gak terima, jadi menurut saya itu keputusan terbaik..
Cukup sekian note dari saya.. kurang lebihnya saya mohon maaf..
Terimakasih buat yang sempetin baca..
Review please? ^o^
Balasan Review di chapter kemarin yang off line :)
Ym: ini saya coba lanjut.. terimakasih ya udah baca dan review :) Keep watching yaa hehe
PoppoMing: makasih ya udah baca dan review ^o^ buat yang nganu(?), saya gak tau mau di bikin atau nggak, kita liat aja kedepannya hehe
Masalah gagapnya Yoongi, semoga bisa saya jelaskan di chapter2 depan yaa.. terimakasih, keep watching yaa :)
Anunya hoshi: terimakasih, ini saya coba lanjut ^o^
Makasih, di tunggu reviewnya juga yaa :) btw, uname nya nganu(?) banget haha peace \/
Yang review online, udah saya bales lewat PM, terimakasih semuanya udah baca dan review, jangan bosen yaa ^
