Chapter 2 Update.
Run Run Run
Disclaimer-Masashi Kishimoto
Author-KelvinKLR
Rated-M
Pairing-Naruto & Hinata
Gendre-Romance, Drama, & Hurt/Comfort
...
Happy Reading and Please Review !
...
"Mmmmm... Berat" Naruto membuka mata dari tidurnya, tubuhnya mengeluh mendapati beban meniban diatasnya.
"Aduh, sudah pagi ya ?" horden yang terlihat menahan terangnya cahaya matahari jadi pautannya, benar sekarang telah pagi, itu kepercayaannya setelah melihat jam dinding.
"Mmm.. Terus dorong Naruto-kun.. Ahhh.. Suki"
Pandangannya berlabuh, tubuh berat kekasihnya sempat dia acuhkan. Apa lagi kala kekasihnya mengigau kejadian tadi malam, jika diingat itu membuatnya menegang.
"Dasar jelek, uhhh gemesssss.."
Jari jempol dan telunjuknya mencubit-cubit pipi gembil Hinata, terlihat mulus dan menggemaskan, terlebih dibarengi ekspresi cantiknya saat tidur.
"Hehehe dia pasti kelelahan, hahah sampai muncrat 5 kali"
Naruto menggeser tubuh mungil kekasihnya, menyelimuti dan mengecup sebentar bibir merona Hinata.
"Hoamm... Lebih baik aku mandi dululah haaahhh... Sial badanku masih terasa lemas"
...
Beres?
...
"Bagaimana, enak gk ?"
"Tentu saja enak, heemm.. Aku bersyukur kamu bisa masak Hinata-chan"
"Eh ?"
"Wanita yang bisa masak didunia ini mulai jarang ditemukan, dan kamu masuk dalam salah satunya"
"Be-Benarkah ?" Hinata bertanya antusias, wajahnya gembira, senang dia rasa dipuji orang yang sangat dia cintai.
"Tentu saja Sayang"
Keduanya tersenyum membalas, gembira dihati, sejuk dijiwa.
"Aku mencintaimu .." kalimat itu keluar bersamaan, menambah suasanan romantis ruangan ini. Meronakan pipi dimasing-masing wajah keduanya, dan mendebarkan jantung.
"Sudah 2 hari kamu tinggal disini, dan ini hari terakhir kita sebelum berangkat nanti sore"
"Hehehe kamu tau gk ? walau cuma 2 hari tapi aku merasa seperti pengantin baru lho, hihihi kalo Naruto-kun gimana ?"
"Ak-Aku juga sama Hihihi" keduanya tertawa menikmati suasanan sebelum mereka pergi kestasiun.
Setelah menyusun barang yang akan dibawa dalam 3 koper, dan 2 tas. Kini ruangan sempit itu sudah tak berisi, hanya ada kasur dan selimut bawaan dari sini.
2 hari yang amat panjang oleh kenangan yang mereka buat disini, kenangan yang selalu di ingat oleh tubuh masing-masing, sebuah sensasi hubungan cinta yang amat dalam.
"Huh kira-kira ditempat orang tua Naruto-kun nanti, kira kerjanya apa ?"
"Emm.. Berkebun" jawabnya.
"Berkebun ? Waahhh itu pasti menyenangkan" suaranya terdengar mirip anak kecil, yang berekspresi baru pertama kali ke taman bermain.
Naruto tersenyum mendengarnya, memang menurut dia Hinata sudah banyak membuka sifatnya yang selama ini tak pernah ia tunjuk pada siapapun kecuali kemaluan terhadapnya serta sifat santai pada orang-orang.
"Naruto-kun ?" panggilnya lembut.
"Ada apa sayang ?" rangkulan erat Naruto berikan dari belakang, memeluk erat tubuh kekasihnya yang telanjang..
Keduanya kini bersama didalam bak mandi, sebuah kegitaan terakhir sebelum berangkat meninggalkan Tokyo dan keluarga juga teman dari keduanya.
"Apa Naruto-kun punya mantan disana ?"
"Ya.. Beberapa" jawab Naruto setelah mengakses isi kepalanya, mencoba mengingat beberapa wanita yang pernah dia pacari.
*Srrrttt
"Berapa ihhh" Hinata menghadapkan tubuhnya kedepan Naruto, memaksakan benda keras yang tegang menyentuh kemaluannya. Bersama pertanyaan nada memaksa darinya, dia kepo yang sedang menahan rangsangan yang tidak disengaja.
"Hanya 4 Sayang"
"Beneran cuma 4 ?"
"Tentu" Naruto kembali tersenyum, mencoba meyakinkan kekasihnya yang terlihat murung.
"Apa kamu masih ada perasaan sama mereka ?" dia terlihat lebih murung dari sebelumnya, seperti mau menangis.
"Tenang saja Sayang, walaupun mereka kembali menyukaiku aku pasti akan tetap mencintaimu, selamanya.. Selamanya aku selalu mencintaimu Hinata-chan"
"Sukiii.." murungnya telah berubah jadi senang, terlkhat jelas wajah Hinata memerah setelah mendenhar jelas ucapan Naruto yang membuatnya amat gembira.
Cengirannua masih bertahan, itu merupakan salah satu cara ampuh untuk meredakan kemarahan Hinata, tak hanya itu. Cengirannya juga bisa menyenangkan Hinata kala Sedih, Murung, apa lagi Ngambek.
"Hihihi.. Umm.. Kalo Hinata-chan punya mantan gk ?" kini Naruto bertanya topik yang sama.
"Tidak, Aku gk punya"
"Eh ? Seriusan ?" dia kaget, merasa bingung bagaimana bisa wanita secantik Hinata tak pernah mempunyai mantan.
"Tentu, dari dulu aku cuma Cinta sama Naruto-kun, satu-satunya yang ada dihatiku dari dulu sampai sekarang cuma kamu Naruto-kun"
"Dulu saat kita masih kecil kamu pernah menyelamatkan nyawaku 3 kali berturut-turut, i¡ªtu yang buat aku jatuh hati sama kamu" Hinata mulai merona, jantungnya makin berdebar, sensasinya mirip mengungkapkan perasaan.
"Aku tak ingat pernah menyelamatkanmu"
"Kejadiannya sudah lama sekali, kala itu aku lupa memberitahukan namaku. Setelah menyelamatkanku kamu bilang nama kamu lalu pergi" Hinata merasa senang dan lega mengungkapkan alasan dia bisa jatuh hati pada Naruto, sudah lama ia ingin mengungkapkannya, dan sekarang dia sudah mengungkapkannya.
"Hinata-chan..."
"Na-Naruto-kun.."
Keduanya memanggil satu sama lain, mendekatkan kepala dan memeluk erat tubuh telanjang didepan keduanya.
"Aku mencintaimu Sayang mmmmffmmm..."
Kalimat itu terucap, lalu tersamar karna lidah keduanya telah bertemu, menggulum dan melumat satu sama lain.
Langkah awal menuju kegiatan selanjutnya dikamar mandi Naruto.
...
Stasiun Cinta
...
Kecepatan kereta berjalan normal, wajar karna dia melaju dilintasannya sendiri.
"Nanti kita nginep hotel apa langsung ke rumah orang tua Naruto-kun ?"
"Emm.. Bila blum larut kita langsung saja ke rumahku" jawabku, pandangan kami terpaut ke jendela.
Menatap indahnya alam yang terawat ini, di Tokyo ini jarang ditemukan atau bisa dibilang tak ada.
Ini pertama kalinya Hinata keluar Tokyo, dia terlihat senang menikmati pemandangan dataran hijau dan persawahan, langit sore menghiasinya, merambat ketenangan saat dipandang.
5 tahun aku tak kembali, rindu yang kupendam pada kampung halaman, terlebih orang tuaku.
Bersama Hinata aku kembali, tempat kelahiranku, aku dibesarkan disana, dan pergi jauh dari sana.
Haah.. Dilema bila kupikirkan terus-menerus.
"Kalo udah nyampe, emm.. Ajak aku jalan-jalan ya"
"Aaa.. Tentu sa-ja" bingun kutatap dia, terasa malu menyembungikan pandangan mata indah itu. Menatap kaca kereta, meronakan pipi tanda bukti.
Tapi kenapa ? Jelas itu eksresi Hinata saat malu, mungkinkah dia enggan dianggap nora saat pertama ke desa ? Bisa jadi, tentu saja bisa, diakan Hinata.
"Naruto-kun ke Tokyo pas umur 15 tahunkan ?" cepatku mengangguk.
"Kita bertemu kembali saat melamar kerja"
"Bertemu kembali ?"
"Uu.. Naruto-kun pernah ke Tokyo berapa kali ?" pertanyaannya terdengar mewakili ekspresi berharapnya.
"Saat kecil aku pernah ke sini sama Tou-san, apa kita waktu itu bertemu ?"
"Aku udah pernah ceritakan kalau kita pernah ketemu saat kecil, bahkan Naruto-kun udah nyelamatin nyawaku 3 kali" sedih, bukan dia yang sedih melainkan aku.
Merasa kesal pada diri sendiri, bisa melupakan kejadian yang sangat-sangat penting dihidupku, bodohnya diriku, menyesal aku.
Walau sudah lama sekali tapi harusnya aku bisa mengingat Hinata sedikit, hah.. Kenapa bisa sampai lupa sih ?!
"Maaf Hinata-chan.. A-aku tak terlalu mengingatnya.." aku seperti lelaki payah, yang secara tak langsung menyakiti perasaan wanita tercintanya.
"Tak apa, aku mengerti kok Naruto-kun.. Tenang saja, Pacarmu ini tak sedih gara-gara itu... Aaa.."
*Glepppp..
Reflek ku memeluknya, diruangan khusus untuk penumpang dengan pintu dan 2 kursi yang bisa dijadikan tempat merabahkan tubuh ini aku memeluknya, ruangan yang tertutup.
Hanya ada kaca dari kereta yang bisa melihat apa yang kulakukan.
*Hikssss..
*Hiksss..
Dipelukanku dia menangis, tapi akupun ikut menangis, padahal laki-laki itu taj boleh menangis tapi nyatanya aku menangis.
Perasaan sedih Hinata tiba-tiba dapat kurasakan sepenuhnya, untung bagiku diruangan khusus ini, jika tak malunya diriku menangis didepan orang banyak.
"Hiks.. Hiks... Maaf.. Maaf.. Membuatmu tersakiti Sayang" erat, makin erat kupeluk dia.
"Ma¡ªmaafkan aku juga Na¡ªNaruto-kun.. Hiks.. Maaf bila aku menyembunyikan perasaanku ya-ng sesungguhnya Hiks.. Hiks.. Maaf.. Maaf.." dikereta yang berjalan ini kami mengakui dan mengeluarkan beban yang kami simpan.
Bersama air mata asin ini terus turun membasahi wajah kami, terus dia mengalir keluar.
"Aku... Aku mencintaimu Hinata-chan"
"Aku Hiks.. Ak-u le¡ªbih mencintaimu Naruto-kun.. Lebih dari siapapunnnnn !" perasaanku berubah tenang, terasa hangat.
Apa Hinata merasakan hal yang sama denganku ?
"Tunanganku, kamulah yang hanya pantas bertahta dihatiku" kalimat romantis itu keluar santai, kuyakin rona terpatri dipipi ini.
"Na-Naruto-kun, Arigatou" kali ini dia kembali menangis, setelah sebelumnya berhenti.
Tangisannya berbeda, jelas kulihat tangisan kebahagian yang dia keluarkan. Perasaannya pasti sudah sama sepertiku, hangat, senang, gembira, dan terasa hangat.
...
Kembali bertemu
...
6 menit sudah, rangkulan mereka manja menyatu. Kesedihan terganti kehangatan cinta, tak lagi menangis, tak lagi bersedih.
"Kamu mau kemana Naruto-kun ?"
Setelah rangkulan lepas, Naruto berdiri, kakinya melangkah menuju pintu. "Aku mau membeli makanan, kamu mau ikut ?" Uluran tangan Naruto langsung disambut hangat Hinata.
Memang dikereta yang mereka naiki menyediakan tempat membeli makanan maupun minuman.
Waktu hampir menuju jam 5 sore, 1 jam total perjalanan mereka sampai saat ini, kurang dari 40 menit untuk kereta ini sampai pada tujuannya.
"Ramai ya ?"
"Tak apakan ngantri ?"
"Tentu Heeheh" Hinata terkekeh, sdnang dia berekspresi.
Naruto menggenggam erat telapak tangan mungilnya, halus dan lembut dia rasa.
Bagi Hinata senang mengantri dalam posiai seperti ini, pamer kemesraan mungkin, agar semua orang tau apa hubungan mereka, terlebih cincin emas disalah satu jari manis keduanya.
"Naruto-kun mau makan apa ?"
"Ramen, kalo Hinata-chan ?"
"Aku...sama kayak Naruto-kun aja"
"Good"
Mmmmmmm elusan lembut dipucuk kepalanya menampakan wajah anak kecil ala Hinata, ekspresinya mirip kucing dielus-elus kepalanya, merasa nyaman juga senang.
Setelah hatinya sedih, kali ini giliran senang yang mengisi hati tulusnya.
"Naruto ?!"
"Eh ? Hotaru ?"
*Gleppplp
"Waaaa kamu kemana aja ? Aku rindu tau"
"Eeeee.. Lelaskan pelukanmu Hotaru"
"Iya iya"
Tak perlu diulangk dia meleaskan pelukan rindu tersebut, wajahnya girang. "Aku meridukanmu Naruto" wanita berambut pirang ini berucap demikian.
Pertemuan mereka setelah 5 tahun tak bertemu, membuahkan pelukan hangat dari Hotaru. Rindunya besar, bila dia besar maka Naruto...
"Naruto, kamu mau pulang ke rumahmu ?"
"Ya begitulah, sudah lama aku tak ketemu Tou-san juga Kaa-san, kalo kamu kenapa ?." jawab Naruto juga bertanya
"Aku abis liburan di Tokyo, pas banget ya kita satu kereta hehehehe" Hotaru tertawa, diikuti Naruto.
Antrian memang sudah berkurang, tapi terasa ramai karna Naruto dan Hotaru berbincang-bincang. Mereka tak sadar ada seseorang dengan aura menyeramkan menyaksikan percakapan tersebut.
Wanita berambut indigo, hatinya kembali sedih, bukan sedih seperti sebelumnya tapi ini lebih tepatnya dibilang cemburu.
Suatu kebiasaan wajar bagi setiap orang yang melihat kekasihnya mesra dengan lawan jenisnya, sakit ? Kesal ? Gelisah ? Sebal ?
"Kamu makin tampan dan tinggi ya Naruto heheh"
"Hahah dadamu makin besar ya ? Itu terlihat cocok denganmu Hotaru Hahah.."
"Dasar Mesum ! Baka !" keduanya terlihat akrab, tapi beda dimata Hinata yang melihat tingkah keduanya terlihat mesra, jujur itu membuatnya cemburu.
"Nanti kita jalan-jalan yuk"
"Ayo"
"Ohhh... Jadi kamu lebih milih ngajak jalan wanita lain ya ? Boleh juga kamu Naruto-kun ! Huhhh... Dasar Beeggooooo.."
"Hinata-chan !?"
"Enm.. Hinata siapa ?"
...
Kembali Bersedih
...
TBC !
Chapter 2 Kembali Bersedih.
Complete
Next Chapter 3 Perkenalan.
Ok gimana Chapter 2 nya nih readers ?
Merasa terhibur ?
Silakan Review..
See You Again !
