So... How can We End This One Chapter 2 by Izumi Akita Suzuki
Sumarry : Golden Trio merupakan nama sebuah tim detektif terkenal di seantero universitas, kali ini misteri pembunuhan beberapa siswa membuat mereka harus kembali beraksi.
Harry Potter belongs to J.K Rowling and as always I only have the storyline of the fic.
Fanfic ini mengandung unsur Alternate Universe, apabila anda tidak berkenan akan adanya unsur ini, maka saya persilahkan anda menekan tombol back sebelum menyesal.
"Boleh aku minta ijin untuk melakukan sesuatu, Profesor?"
Hermione mengajukan pertanyaan kepada ketiga orang guru besar yang masih berdiri di lokasi yang sama dengan Golden Trio. Severus nampak memunculkan wajah yang seolah mengejek, sementara Dumbledore merupakan seorang yang mengajukan balasan atas pertanyaan dari sang mahasiswi tersebut.
"Silahkan, Mrs. Granger. Ijin atas tindakan apa yang kau minta?"
"Mengamati mayat tersebut sebentar? Aku mempelajari tentang forensik di program studiku. Aku rasa aku bisa melakukan identifikasi jika kalian tidak keberatan."
Minerva nampak ingin menyetujui omongan sang gadis. Sayangnya, sosok Severus telah lebih dahalu menjawab ucapan Hermione.
"Mrs. Granger, kami tahu kau merupakan seorang mahasiswi yang terhitung brilian. Namun, untuk menyerahkan kasus ini kepada mahasiswa aku merasa tak yakin."
Dan...
Ketika Hermione tengah asik melaksanakan obrolan dengan para guru besar tersebut ternyata Harry telah berdiri di hadapan mayat Cedric dan mengambil beberapa foto dengan kameran telepon genggamnya. Jelas dia tidak menggunakan fitur flash agar para guru besar tersebut dan menyadari tindakannya. Hermione akhirnya mengangguk menanggapi ucapan sosok Severus.
"Baiklah, Profesor. Namun, jika semisal kau membutuhkan bantuanku kau diperbolehkan untuk menghubungiku dan teman - temanku."
Usai ucapan itu terlepas dari mulutnya Hermione segera beranjak dari lokasi pembunuhan tersebut. Well, sejak Harry berhasil mendapatkan gambar Cedric dia sudah langsung menyingkir dari lokasi bersama Ron. Jadi, Hermione merupakan satu - satunya yang masih tertinggal di tempat ini.
"Wow, mate. Tak kusangka cara untuk mendapatkan dokumentasi dari si atlet sepak bola itu semudah tadi."
Sang pemuda Weasley berucap kepada Harry dan hal itu hanya membuat sang pemuda dengan hidung bengkok tersenyum kecil.
"Kita nampak ditantang oleh Profesor yang satu itu. Dia memang nampak membenciku dari semester awal."
Helaan nafas lolos dari pemuda bermarga Potter itu dan saat itu juga Ron menggeleng.
"Dia membenci semua mahasiswa dan mahasiswi. Ah tidak, dia tidak membenci geng si Malfoy."
Harry hanya mampu mengerutkan keningnya mendengar nama musuh -ehem- lebih tepatnya saingannya dalam program studi yang diambilnya tersebut disebut. Ucapan kawannya memang benar bahwa Severus sama sekali tak pernah menunjukkan rasa tidak suka pada geng dari si pemuda berambut pirang platina tersebut.
Saat sosok Draco Malfoy memasuki pikirannya Harry segera menatap horor ke arah Ron dan menelan ludahnya.
"Tunggu dulu! Aku punya sebuah pertanyaan untukmu, mate."
Mendengar ucapan Harry yang terdengar sedikit panik membuat sang pemuda dengan rambut merah menaikkan alisnya. Bukannya tadi pemuda berambut berantakan itu nampak sangat tenang kenapa secara tiba - tiba dia menjadi panik begitu Ron menyebutkan soal Malfoy?
"Yeah? Apa pertanyaanmu?"
"Jam berapa ini?"
"12 lebih 5 menit. Ada yang salah?"
Tatapan horor langsung diajukan seorang Harry Potter kepada sang sahabat. Sial, dia telat datang di kelasnya! Malfoy pasti akan meledeknya karena hal ini. Dengan sigap ia menepuk bahu Ron dan langsung berlalu bersamaan dengan itu perkataan 'Aku harus segera pergi. Kelasku dimulai 5 menit yang lalu.' tertangkap di indera pendengeran sang pemuda Weasley dan ia memilih untuk mengangguk -karena sepertinya itulah tanggapan terbaik yang dapat ia berikan-.
Setelah Harry berhasil lolos dari hadapannya kini Hermione datang kepadanya dan nampak menunjukkan wajah yang nampak sedikit bingung. Pasti, kekasihnya ingin segera menyelesaikan kasus Cedric dan beristirahat dengan tenang.
"Harry telat datang ke kelas, Mione. Aku tak mungkin mencegahnya untuk datang ke kelas."
Sedikit keluhan diutarakan oleh sang Wealsey. Sang kekasih hanya bisa menghela nafasnya.
"Dan kau tak meminta foto yang diambil Harry sama sekali? Ron... kukira kau sudah paham bagaimana cara kerja kita."
Nada tegas terdengar dari sang gadis berambut cokelat yang ditanggapi dengan wajah tak suka dari Ron.
"Kau yang datang terlambat, Mione. Harusnya kita sudah diskusikan ini dari tadi!"
"Apa salahku?! Aku hanya berusaha mengecoh perhatian para profesor. Jelas kau yang salah di sini."
"Fine, Mione. Aku tak mau berdebat lagi karena kelasku akan segera dimulai."
Saat itu juga Ron meninggalkan Hermione yang sedang memasang wajah sebal nan jengkel. Oh, ayolah dia benar - benar berhak untuk marah pada Ron Weasley, bukan? Dan perdebatan yang tadi juga dimulai oleh Ron sendiri, lalu mengapa juga ia yang kabur? Terkadang Hermione benar - benar tak tahu apa isi pikirannya kekasihnya itu.
"Terlambat lagi di kelas, Potty?"
Sial, dugaannya benar - benar tepat. Draco Malfoy kini terduduk di meja yang berlokasi paling dekat dengan pintu dan hal itulah yang menyebabkan sambutan yang tak hangat itu menjadi awalan kelas Harry siang ini.
"Terlambat atau tidak bukan urusanmu."
Ia berusaha menanggapi ucapan sang saingan dengan sesantai mungkin, berusaha tak menumpahkan setitikpun emosinya meski dia tahu dia merada teramat jengkel pada sosok itu. Dan satu kesialan lagi, satu - satunya bangku yang kini tersisa ialah bangku yang berada di sebelah Malfoy.
"Don't worry, Potty. Aku sudah menyiapkan bangku untukmu."
Harry benar - benar ingin memukul Draco dengan sekeras mungkin, bahkan kalau bisa dia ingin membuat sang pemuda pirang tersebut pingsan di tengah kelas ini. Sayangnya, Harry sama sekali sedang tidak niat membuat keributan di kelas Minerva McGonagall ini. AKhirnya dengan sangat terpaksa dan perasaan yang sama sekali tidak ikhlas Harry segera memposisikan dirinya untuk duduk di samping sang rival. Harry masih menangkap wajah sedih yang melekat pada Cho Chang yang tengah terduduk di bangku belakang kelas. Hell, entah mengapa Harry merasa dirinya agak bertanggung jawab meskipun dia tahu dia bukanlah pembunuh dari Cedric Diggory. Sebuah pensil terlempar tepat pada dahi sang pemuda berkacamata diiringi dengan tawa menyindir dari sosok Malfoy beserta teman - temannya.
"Sorry, Potty. Kau harusnya tidak melamun di kelas."
Dengusan nafas langsung dikeluarkan oleh Harry yang memunggut pensil yang terjatuh di depannya tersebut. Mungkin, dia memang sebal terhadap sosok Malfoy tetapi dia tak suka menganggu, uh Harry tersenyum dia rasa sedikit menganggu Malfoy tak akan melukai. Pensil yang telah dipungut olehnya tadi segera dilemparkannya ke arah hidung Malfoy. Gotcha! Pensil itu tepat mengenai hidung Malfoy yang membuat sang pemuda beriris kelabu tersebut bersumpah serapah mengutuki anak dari James Potter tersebut.
"Kupikir sedikit bermain tak akan melukaimu, Malfoy."
Nada jahil terluncur dari mulut Harry, membuat Draco memang wajah geramnya. Namun, ia tahu bahwa ini adalah sebuah kelas dan dia sama sekali tak mau mempermalukan nama keluarga besarnya hanya karena seorang Potter, They Boy Who Lived. Anak yang terbebas dari kejaran pembunuh gila bernama Voldemort yang dikabarkan telah musnah setelah kematian kedua orang tua Potter. Pembunuh yang tak akan pernah terdeteksi caranya dalam membunuh sang korban, bahkan motivasinya untuk membunuh korban juga tak pernah terlacak secara pasti.
"Kau sudah mendengar soal terbunuhnya Diggory eh, Potter? Oh wait! Kau detektifnya tentu kau dengan geng bodohmu itu sudah tahu duluan bukan?"
Mendengar ucapan dari Draco, Harry mendengus dan berusaha menghiraukan sang keturunan Malfoy karena dia tahu bahwa Draco Malfoy sedang mempermainkannya. Dia benar - benar paham bahwa pemuda tersebut tak akan pernah bicara secara serius dengan dirinya. Merasa diacuhkan Draco memilih untuk memandang sedikit sengit kepada sang pemuda dengan ukiran luka berbentuk petir di dahi. Sesungguhnya, ia benar - benar penasaran soal kematian Digorry karena sang pembunuh tidaklah ditemukan, dan lagi menurut isu yang telah didengarnya luka yang berada di tubuh si Diggory membentuk sebuah motif yang mencurigakan. Well, mungkin Draco bukanlah anggota dari tim detektif seperti Potter tetapi beberapa spekualasi melintas di kepalanya. Bagaimana jika dia ikut menyelidiki ini? Sebuah senyum kebanggan terukir di wajahnya. Oh tidak, tenjtu saja tidak, dia tak akan mengemis pada Potter untuk bergabung dengan tim detektif bodoh miliknya itu. Draco akan mengadakan investigasi secara pribadi mengenai kematian Digory lagipula jika komplotan Potter sedikit memiliki petunjuk dia bisa membobol informasi yang mereka miliki. Well, Well, akan sangat menyenangkan apabila Draco dapat terlibat dalam hal sidik - menyidik ini.
Kelas tersebut kini telah usai, dan Harry memutuskan untuk menghampiri Cho Chang sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Rasa simpati yang telah membawa pemuda berambut berantakan itu menemui sang gadis yang baru saja kehilangan kekasihnya itu. Cho berusaha menutupi keseihan yang dimilikinya dengan sebuah senyuman palsu. Well, sang gadis keturunan Asia saat ini sedang berusaha menunjukkan bahwa dia kuat.
"Cho, it's okay to cry. AKu percaya bahwa dirimu kuat Cho, tapi jangan pendam semuanya karena bisa - bisa pada akhirnya itu akan meledak."
Ucapan dari Harry berhasil membuatnya terdiam sejenak. Benarkah sejak kematian Cedric dalam tempo hari kemarin ia telah memendam terlalu banyak hal? Apakah benar bahwa dia memang tak bisa sekuat dari apa yang diharapkannya? Cho terhening dalam lamunannya, hingga tiba - tiba sosok Harry memeluk dan merengkuhnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa secara perlahan air mata menetes, dan kini sosok Cho Chang tengah membenamkan kepalanya di bahu Harry guna melepaskan apa yang sejauh ini telah dipendamnya sendirian.
Sementara itu Draco seusai kelas, langsung berusaha menjalankan aksinya. Bantuan dari ayah baptisnya tentu saja dibutuhkan dalam hal ini. Severus Snape, ya ayah baptis Draco ialah dosen yang kelihatan amat sangat tidak suka kepada setiap mahasiswa yang ada di universitas ini, dan Draco tahu bahwa para guru besar menyimpan suatu rahasia tentang kematian Cedric Diggory. Langkahnya terhenti sebelum dia memasuki ruang kerja milik sang ayah baptis karena suara - suara yang sedikit berkaitan dengan pikirannya tertangkap oleh indera pendengarannya begitu saja.
"Aku mengenali motif yang ada di luka Diggory."
"Did he really dead at that time?"
"Kau tak akan pernah menembak isi pikiran Voldemort, dia gila. Bisa saja dia mempergunakan Ilmu Hitam untuk membangkitkan dirinya sendiri."
"But how is it possible? Membangkitkan dirinya sendiri?"
"Bellatrix is the key. She still alive and everyone never knows what's she doing."
Bellatrix? Pasti yang mereka maksud ialah Bellatrux Black. Seorang wanita yang tak kalah gilanya dibandingkan dengan Voldemort dan wanita itu agaknya memiliki hubungan darah dengan ibunya. Sepertinya Draco bisa selangkah lebih maju daripada Golden Trio. Senyum penuh kepercayaan diri terukir di bibirnya dan saat itu juga ia langsung meninggalkan lokasi tanpa melaksanakan tujuan utamanya untuk menemukan Severus Snape.
Ron ialah yang pertama datang kembali kepada Hermione. Masih dengan sedikit wajah cemas karena ia takut sang kekasih masih marah padanya, meski begitu Ron akhirnya mencoba memberanikan diri untuk berbicara kepada sang kekasih.
"Mione?"
"Apa lagi maumu, Ron? Marah padaku? Fine, Ronland Weasley. Semua kesalahan memang ada padaku."
"Nope, Mione. Aku hanya ingin meminta maaf untuk insiden tadi."
Well, akhirnya sebuah keberanian untuk meminta maaf dimiliki oleh sang pemuda berambut merah menyala yang ditanggapi oleh senyuman hangat dan anggukan dari sang kekasih. Usai adegan berbaikannya sang pasangan kekasih dalam Golden Trio tersebut. Sosok Harry -bersamaan dengan Cho Chang- langsung muncul di hadapan mereka berdua. Harry dengan segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto jenazah Cedric.
"Harry, kau bisa zoom tepat di bagian luka yang bermotifnya?"
Harry mengangguk, dan setelah itu Hermione langsung meraih ponsel milik Harry dan menyelidiki soal motif di bagian luka yang berada di tubuh Cedric. Matanya membulat sempurna ketika mengetahui bentuk apa yang tergambar di sana. Ular raksasa tergambar di sana. Tidak... Tidak mungkin apa yang tengah dilihat oleh seorang Hermione adalah sebuah kenyataan.
"Got any ideas there, Mione?'
"Pembunuh gila itu tidak mungkin masih hidup kan?"
Saat itu juga semua anggota Golden Trio plus Cho Chang menunjukkan wajah yang shock dan penuh ketidakpercayaan akan apa yang baru saja mereka dengar.
~To Be Contiued~
A/N : karena sudah dipost duluan di AO3 maka diupload di ffn-nya langsung dua chapter XD. Baiklah, baiklah saya ga mau ngomong banyak silahkan diriview ya sayang - sayangku.
