Title: Love Triangle Rhapsody

Cast: SiHanChul dan JongKiBin

Heechul = 26 tahun

Hankyung = 25 tahun

Jonghun = 16 tahun

Hongki = 16 tahun

Pemeran lain menyusul kkkkkk~

Author: Kim Chi Hee aka. Lady Jjinbang

Sepertinya FF ini mirip sinetron *sigh*


.

.

.


"Hyung kurang ajar!" Gerutu Hongki. "Katanya mau delivery, tapi kenapa aku yang harus belanja juga." Hongki terus-terusan mengumpat. Berbagai umpatan dan sumpah serapah keluar dari bibir tipis Hongki. Bagaimana dia tidak emosi, Heechul bilang kalau mereka akan memesan secara delivery, tapi nyatanya Hongki-lah yang harus membeli perlengkapan bergadang mereka. Apalagi Heechul juga memerintahkan Hongki untuk menjemput Heebum yang berada di pet grooms.

"Arghhhh si nenek sihir itu benar-benar menyusahkan." Umpat Hongki sekali lagi.

Hongki berjalan menyusuri deretan toko-toko makanan, setelah sebelumnya tadi dia juga sempat mampir di tempat peminjaman video. Hongki bingung sendiri saat ia harus memilih makanan apa yang cocok untuk menemani mereka berdua bergadang semalaman suntuk. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Hongki memutuskan untuk membeli semua jenis makanan yang ada di sana. Kebetulan Heechul memberikannya uang lebih.

Hongki tersenyum puas saat melihat tentengan belanjaan yang ada di kedua tangannya. "Makanan, cukup untuk membuat perut meletus. Minuman, cukup untuk membuat perut kembung. Film, cukup membuat mata berair selama seminggu." Seru Hongki saat mengecek kantong-kantong yang ada di kedua tangannya.

"Sekarang tinggal menjemput si Heebum." Seru Hongki riang.

Hongki kembali berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan pedagang-pedagang. Berbagai macam pedagang yang berada di sana, mulai dari makanan sampai tas-tas kecil. Hongki berjalan sambil bersenandung kecil, setelah beberapa menit berjalan akhirnya Hongki sampai di pet grooms tujuannya.

KLINING

Bunyi bel pintu terbuka saat Hongki mendorongnya. Mata Hongki terbuka lebar saat melihat dalam pet grooms. Begitu banyak binatang-binatang lucu dan imut-imut di sana. Hongki tersenyum sumringah melihat mereka semua. Jiwa imutnya kembali saat melihat binatang-binatang imut tersebut.

Hongki berjongkok saat melihat seekor anjing kecil yang mirip sekali dengan boneka. Hongki sendiri tidak tahu anjing itu dari ras apa, yang jelas di mata anjing itu terlihat sangat bulat, lebar dan imut sekali. Bahkan keimutan Heebum pun kalah, pikirnya. Tangan Hongki terjulur untuk menyentuh kepala anjing kecil itu. Celah antara jeruji-jeruji kandang yang cukup besar memudahkan tangan Hongki untuk bisa masuk ke dalamnya. Dengan penuh sayang dan sambil cekikian sendiri Hongki mengelus-elus kepala anjing imut tersebut.

"Kau imut sekali." Seru Hongki gemas.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya seseorang mengusik kegiatan Hongki. Dengan sedikit kesal ditambah bibir yang dimajukan sedikit Hongki mendongakan kepalanya.

"Ada apa?" Tanya Hongki malas. Mata Hongki terbelalak kaget melihat siapa yang tadi telah bertanya padanya. "Eh, Paman Jo." Hongki buru-buru bangkit dari jongkoknya, dan setelahnya ia membungkukan sedikit badannya –memberi hormat.

Laki-laki baya di hadapannya tersenyum lembut. "Kau mau menjemput Heebum yah?" Hongki tersenyum polos dan mengangguk cepat.

"Heebum sedang bermain dengan anak itu." Tunjuk pama Jo kepada seorang anak laki-laki yang tengah berdiri membelakangi mereka. Hongki menatap sebentar punggung anak laki-laki itu. Rambut panjangnya hampir menyentuh kerah kaus yang dikenakannya. Punggungnya lebar dan bidang. Hongki menatap heran paman Jo.

"Siapa dia?" Tanya Hongki heran.

"Dia orang yang menjadi pemilik anjing yang kau ajak main itu." Paman Jo menunjuk pada sebauh kandang berwarna putih yang berada tepat berada di sebelah kakinya.

"Ah, benarkah?" Tanya Hongki penasaran. Paman Jo mengangguk mantap menjawab pertanyaan Hongki.

"Binnie~ kemarilah." Seru paman Jo memanggil anak laki-laki itu. Anak itu menoleh sekilas lalu dengan cepat membalik tubuhnya. Setelahnya Ia berjalan menuju Hongki dan juga paman Jo bersama dengan Heebum yang masih dalam gendongannya.

"Binnie~ aku pergi ke dalam dulu. Kau jaga toko, oke!" Seru paman Jo. Wonbin mengacungkan ibu jarinya untuk menjawab perintah dari pamannya.

"Heebum sayang!" Seru Hongki dengan nada super manja sambil merentangakan tangannya –berniat mengambil Heebum yang berada dalam dekapan Wonbin. "Kita pulang! Ayahmu menyuruhku menjemputmu."

"Ayah?" Tanya Wonbin bingung.

"Kakakku, pemiliknya." Jawab Hongki santai.

"Kukira benar-benar ayah dari kucing manis ini yang menyuruhmu."

"Kau mencoba bergurau? Ya ampun~ kalau benar itu terjadi aku pasti sudah melenyapkan kucing aneh yang bisa berbicara." Hongki memukul pelan lengan Wonbin. Sungguh perbuatan manja, manis dan imut –di mata Wonbin.

"Loh, kenapa? Kan kau bisa untung menarik uang dari orang-orang yang ingin melihat kucingmu." Seru Wonbin sambil tertawa garing. Sungguh garing hingga sukses membuat Hongki mengkerutkan dahinya –heran.

"Selera humormu sangat buruk." Seru Hongki polos. Seketika Wonbin menghentikan tawanya dan mendesah pelan.

"Kau gak bisa diajak kompromi." Wonbin memanyunkan bibirnya –mencoba membuat pose seimut mungkin. Tapi masalahnya kelakuan Wonbin itu membuat malah Hongki berpikir Wonbin orang yang kurang waras dan sangat kurang kerjaan.

Hongki mendesah pelan sambil menepuk pelan bahu Wonbin. "Habisnya kau garing sekali." Hongki menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Sini Heebum, sama paman." Hongki menjulurkan tangannya sekali lagi –berusaha mengambil Heebum dalam dekapan Wonbin. Tapi sepertinya Heebum tidak berniat lepas dari dekapan Wonbin, yang ada ia malah mencakar tangan Hongki.

"Sakitttt…." Hongki meringis sambil meniup-niupkan tangannya yang terasa perih. "Jadi kau berani pada pamanmu ini hah?" Tantang Hongki. "Baiklah~ aku takkan memberikanmu makan selama seminggu kalau hyung sedang tidak ada. Kemari kau anak nakal!" Hongki berusaha mengambil paksa Heebum yang masih betah dalam dekapan Wonbin. Akhirnya terjadilah aksi cakar-mencakar dan tarik-menarik antara Heebum dan juga Hongki. Bahkan wajah Wonbin pun sempat terkena cakaran Heebum.

Akhirnya Wonbin berhasil menghentikan perkelahian yang sangat tidak penting antara Hongki dan juga Heebum. "Kucing manis, kalau kau datang kesini, nanti kita main lagi. Oke!" Seru Wonbin sambil menggoyang-goyangkan sebelah kaki paling depan Heebum –mungkin ia berniat berjabat tangan dengan Heebum.

Hongki memanyunkan bibirnya kesal. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Heebum bisa begitu akrab dengan orang baru? Sedangkan dirinya yang selalu memberikan Heebum makan, membersihkan kotorannya, dan bahkan berbagi tempat tidur –karena Heechul adalah tipe majikan yang hanya mau terima jadi, jadi Hongki melakukan semua tugas Heechul- selalu diajak berkelahi oleh Heebum.

"Kau tega!" Rajuk Hongki.

Wonbin tersenyum lucu melihat ekspresi menggemaskan Hongki saat merajuk. Wonbin menyerahkan Heebum ke dalam dekapan Hongki. Tubuh Heebum yang lumayan besar membuat Hongki agak sedikit kesulitan dalam menggendongnya, apalagi ditambah belanjaan Hongki yang hampir mencapai dua kantung plastik besar.

"Apa kau yakin bisa membawa Heebum dengan belanjaan sebanyak itu?" Tanya Wonbin khawatir.

Hongki menggeleng cepat. "Justru aku kerepotan!" Seru Hongki cepat. Wonbin lagi-lagi tertawa melihat tingkah ekspresif Hongki. "Ya sudah, bagaimana kalau aku membantumu membawakan Heebum, sedangkan kau membawa belanjaanmu. Aku bisa mengantarkanmu pulang." Tawar Wonbin.

"Tokonya?"

"Aku bisa minta izin pada pamanku."

"Jadi pet grooms ini milik pamanmu?" Hongki mengangguk-angguk paham. Hongki terlihat berpikir sebentar sambil memainkan bibirnya. "Baiklah~" Akhirnya Hongki setuju pada tawaran Wonbin. Menurutnya, ia memang kerepotan jika harus membawa belanjaan dan juga Heebum sekaligus.

"Baik, aku pamit pada pamanku dulu, oke! Tunggu di sini." Wonbin segera berlari masuk ke dalam ruangan yang hanya dipisahkan oleh pintu yang berada di pojok ruangan. setelah beberapa menit Hongki menunggu, akhirnya Wonbin keluar sambil mengenakan jaket baseball berwarna biru tua. "Ayo~" Ajak Wonbin.

Hongki mengangguk sambil menyerahkan Heebum pada Wonbin. Wonbin menerimanya sambil tersenyum lalu mendekapnya erat. "Kucing pintar." Wonbin mengelus-elus pelan leher Heebum. Sedangkan Hongki, ia membawa dua kantong plastik besar berisi makanan, minuman, dan juga video-video yang tadi sempat dipinjamnya.

"Ayo!" Wonbin menggandeng tangan kanan Hongki. Hongki terdiam sebentar saat tangannya tiba-tiba digandeng oleh Wonbin. Hongki menatap ke arah tangannya kanannya yang digenggam erat oleh Wonbin. Wonbin menghentikan langkahnya saat merasa tak ada pergerakan dari Hongki. Ia menatap Hongki lalu setelahnya mengikuti arah pandang Hongki. Kedua alis Wonbin terangkat seketika.

"Kenapa?" Tanya Wonbin bingung.

"Tanganmu?" Hongki balik bertanya.

"Kenapa? Tidak boleh?"

"Jelas tidak!" Hongki melepaskan tangan Wonbin dengan kasar. "Lebih baik kau menggendong Heebum dengan benar, kalau dia jatuh Heechul hyung akan menghabisiku."

Wonbin memutar bola matanya. "Baiklah~ ayo, keburu larut malam."

Akhirnya Wonbin dan juga Hongki keluar dari pet grooms itu. Sepanjang perjalanan mereka berdua berkenalan lebih lanjut –karena memang awalnya mereka belum saling mengenal sebelumnya. Mereka berdua tertawa bersama saat Hongki mengucapkan lelucon-lelucon lucu. Sebenarnya hanya Hongki-lah yang mendominasi pembiacaraan tersebut, namun entah mengapa Wonbin tak ingin menghentikan celotehan-celotehan yang keluar dari mulut Hongki.

"Ternyata apartemenmu dekat juga yah~" Seru Wonbin saat mereka berdua telah sampai di depan pekarangan apartemen Hongki. Apartemen itu memang tidak terlalu tinggi. Apartemen itu hanya memiliki lima lantai dan tidak terlalu besar, malah lebih mirip dengan rumah susun.

"Kau mau mampir? Apartemenku ada di lantai tiga." Tawar Hongki.

Wonbin menggeleng pelan. "Ini sudah malam, besok aku harus sekolah."

"Begitukah?" Hongki mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah! Kau lepaskan saja Heebum. Ia bisa naik sendiri."

"Ah benarkah? Bahkan ia bisa naik lift sendiri?" Tanya Wonbin antusias.

Hongki memukul pelan lengan Wonbin. "Mana mungkin itu! Dia paling menungguku atau menunggu tetangga yang dikenalnya. Heebum itu sepertinya mengenal seluruh orang yang menempati apartemen ini." Jawab Hongki polos. Wonbin mengangguk-angguk mengerti. Ia pun segera menurunkan Heebum. Setelah diturunkan, secepat kilat Heebum berlari memasuki pintu utama apartemen Hongki.

"Tuh kan!" Tunjuk Hongki. Wonbin mengangguk membenarkan. "Baiklah~ Heechul hyung pasti sedang menungguku sambil marah-marah. Aku tak mau jika aku pulang nanti disambit bukannya disambut. Terima kasih karena kau mau membantuku. Terima kasih." Hongki berujar sambil membungkuk sembilan puluh derajat.

"Sama-sama Lee Hongki."

"Sampai jumpa!" Setelah berujar seperti itu Hongki pun dengan cpat melesat memasuki pintu utama apartemennya. Wonbin tersenyum saat melihat Hongki telah menghilang di balik pintu. Wonbin memutar badannya –berniat kembali pulang ke pet grooms.

"Ternyata kau dekat sekali Lee Hongki. Aku mencarimu. Lama sekali." Gumam Wonbin. Kepalanya menoleh ke atas –menatap bagian atas apartemen di belakangnya. Ia pun tersenyum lembut. "Tapi aku sudah menemukanmu. Tak akan kulepaskan lagi." Wonbin akhirnya melanjutkan langkahnya menjauh dari sana.

"***"

"Hyung! Aku pulang!" Seru Hongki sambil membuka pintu apartemennya dengan kasar. Heebum yang dari tadi berdiri di samping kakinya berlari masuk ke dalam setelah pintu terbuka. Hongki masuk ke dalam, dengan satu kakinya ia menendang pintu tak bersalah itu sampai menutup dan bunyinya pintu itu sukses membuat Heechul yang tengah tertidur di sofa bangun sektika.

"Sudah kubilang berapa kali kalau mau menutup pintu jangan pakai kakimu!" Sembur Heechul sambil melemparkan bantal sofa ke arah Hongki. Hongki yang mempunyai gerak refleks bagus langsung menghindar.

"Gak kena!" Hongki menjulurkan lidahnya. Ia pun berjalan ke arah Heechul, lalu setelahnya meletakan semua belanjaan yang dibawanya ke atas meja tamu. "Semua perlengkapan perang kita malam ini siap!"

Tanpa bersalah Heechul menoyor kepala Hongki. hongki memukul balik lengan Heechul karena tak terima. "Suka banget sih mukul kepala." Sembur Hongki.

"Suka aja!" Heechul mengalungkan lengannya ke leher Hongki hingga membuatnya kesusahan bernapas.

"Hyung lepas! Lepas hyung! Bisa mati ini!" Hongki berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan Heechul dari lehernya. Heechul sepertinya tak menggubrisnya, ia malah mengeratkan pelukannya di leher Hongki. Makin erat, dan sangat erat. Mungkin Hongki bisa mati ditempat saat itu juga.

"Kau tahu, kita sepertinya sudah lama tak bermanja-manjaan." Seru Heechul sambil menciumi rambut hitam nan halus Hongki. Hongki bergidik ngeri saat mendengar penuturan Heechul. Ia sekarang mulai beramsumsi kalau Heechul tengah dirasuki oleh makhluk halus atau semacamnya. Mulutnya mulai berkomat-kamit mengucapkan berbagai mantra-mantra yang sering didengarnya dalam film-film horor Thailand.

Heechul melepaskan pelukannya dengan tiba-tiba saat melihat tingkah aneh Hongki. "Kau baik-baik saja?" Heechul menempelkan punggung tangannya ke dahi Hongki. "Kau tidak panas." Heechul menangkupkan tangannya di wajah Hongki. mengamati wajah Hongki dengan seksama, menggerak-gerakkan wajah Hongki ke kiri dan ke kanan, setelahnya menepuk-nepuk pipinya pelan. "Kau baik-baik saja."

"Aku memang baik-baik saja!" Hongki menepis kasar tangan Heechul. "Tadi pagi hyung makan apa? Bisa sampai begini?" Hongki menatap Heechul dengan tatapan penuh selidik.

"Aku tidak salah makan! Aku hanya sedang kangen padamu!" Heechul kembali memeluk Hongki, kali ini pelukannya tidak sebrutal tadi. Lebih halus dan lembut. Entah mengapa Hongki tersenyum saat Heechul memeluknya. Tanpa sadar Hongki membalas pelukan Heechul. Mereka berdua lebih mirip teletubies.

"Aku sayang padamu." Lirih Heechul yang mungkin tak terdengar oleh Hongki.

Namun, tiba-tiba saja Heebum meloncat ke tengah-tengah celah di antara badan Heechul dan Hongki yang sukses merusak suasana kasih-sayang yang ditunjukan dua kakak beradik ajaib itu. Heebum mengeong dengan keras –sepertinya ia juga meminta perhatian dari ayah dan pamannya. Heechul melepaskan pelukannya.

"Kau mau ku peluk juga? Sini anak appa." Heechul merengkuh Heebum dalam pelukannya. "Aku juga sayang padamu anak appa."

Merasa diacuhkan, Hongki memajukan bibirnya kesal. Heechul yang mengetahui hal itu mengalihkan pandangannya pada Hongki. "Sepertinya di sini ada yang cemburu." Heechul juga merengkuh Hongki dalam pelukannya. "All of ya are valuable."

Sedetik kemudian Heechul melepaskan pelukannya dengan kasar. Ia melemparkan Heebum sampai terjatuh ke lantai dan juga Hongki yang hampir jatuh terjengkang ke belakang. "Sudah selesai mellow-mellownya. Hongki kita pesta!" Heechul segera bangkit dari duduknya, kedua tangannya meraih dua kantong plastik berisi belanjaan Hongki. lalu dengan santainya ia berjalan ke arah lantai atas.

"Hyung mau kemana?" Teriak Hongki saat Heechul hampir menghilang di atas tangga.

"Kita nonton di kamarku." Teriak Heechul dari atas. "Kau bawa Heebum juga! Sebelumnya ganti bajumu dulu! Kau bau!" Lanjut Heechul, setelahnya ia menghilang di balik pintu kamarnya.

Setelah mengganti bajunya dengan piyama, secepat kilat Hongki menuju kamar Heechul. Ia berlari lalu melompat ke atas ranjang Heechul, memposisikan dirinya senyaman mungkin sambil menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut. "Aku siap!"

Heechul yang tengah berada di depan layar home teather yang berada tepat di depan ranjangnya sendiri mengacungkan jempolnya. Ia mengambil remote, mengatur suhu ac seminimal mungkin hingga kini kamarnya terasa sangat dingin. Setelahnya ia beranjak menuju saklar lampu.

"Kau siap? Kita nonton film horor dulu." Tanya Heechul. Tanpa menunggu jawaban dari Hongki, Heechul dengan cepat mematikan lampu kamarnya. Dengan cepat Heechul pun langsung naik ke atas ranjangya diikuti oleh Heebum.

Heechul melakukan hal yang sama seperti Hongki tadi. Mencari tempat senyaman mungkin lalu menyelimuti tubuh bagian bawahnya menggunakan selimut. Heebum? Heebum memilih untuk ikut duduk di antara Heechul dan juga Hongki.

Heechul mulai menyalakan dvd playernya. Layar home teathernya menyala seketika. Mendadak bulu tengkuk Hongki meremang seketika saat mendengar suara tertawa cekikikan perempuan yang keluar dari speaker besar yang terdapat di kiri dan kanan home teather Heechul. Heechul tersenyum setan saat adegan pertama dalam film itu mulai terlihat. Dengan sengaja dia mengencangkan volume suara sepakernya.

Adegan yang terlihat dari layar besar itu adalah dimana tubuh yang terpotong-potong beberapa bagian akhirnya kembali menyatu. Mata Hongki melotot melihat adegan demi adegan yang tergambar dari layar besar di depannya. Apalagi ditambah dengan efek-efek suara menyeramkan yang keluar dari speaker besar di kiri dan kanannya. Awalnya Hongki duduk tegak bersandar pada sandaran ranjang, namun lama kelamaan tubuhnya merosot. Dengan gerakan perlahan Hongki menaikan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya hingga ke batas dada.

"Arghhhh~" Jerit Hongki tiba-tiba saat dalam layar tersebut muncul gambar kepala wanita terbang melayang dengan usus-usus terburai di bawahnya. Wajah wanita itu melotot menyeramkan dengan mata merah menyala. Suasana tegang dan seram itu bertambah saat kepala wanita itu melayang-layang ditambah dengan efek suara tertawa yang terdengar begitu nyaring. Buru-buru Hongki menutup kepalanya menggunakan selimut.

"Matikan itu hyung! Matikaaaannnnnnnnn!" Jerit Hongki histeris. Heechul tak menggubrisnya. Ia malah tertawa terbahak-bahak memandangi skspresi Hongki yang berlebihan. Heechul tertawa berguling-gulingan sambil memegangi perutnya. Ternyata melihat ekspresi ketakutan Hongki lebih menarik dibanding film horor di depannya.

Heechul tertawa terbahak-bahak sampai tak terasa mengeluarkan air mata. Ia menegakan tubuhnya saat tak terdengar lagi suara cekikikan dari arah speaker besar home teathernya. Heechul menolehkan kepalanya ke depan. Dan astaga! Tiba-tiba saja kepala wanita itu ter-zoom dengan jelas di depan layar lebar itu hingga seluruh lekuk-lekuk wajahnya yang menyeramkan bagai sedang memelototi Heechul, apalagi ditambah usus-ususnya yang terburai makin membuat suasana sangat menyeramkan.

"Arrgghhhhh~~~~~"

Tak sadar Heechul juga teriak melihat hantu yang di-zoom sedekat itu. Terasa sangat nyata! Heechul bahkan sampai menyembunyikan kepalanya di balik selimut. Kali ini gantian Hongki yang mengejek Heechul. Hongki yang sudah pulih dari ketakutannya membalas perbuatan Heechul padanya dengan hal yang sama, yaitu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ketakutan Heechul. Heechul yang tak terima melempar bantalnya ke depan wajah Hongki.

BUAKK

Hongki yang merasa kesal menindih Heechul yang masih meringkuk di salam selimut. Dengan kasar Hongki membuka selimut yang menutupi tubuh Heechul. Dengan cepat Hongki pun memukulkan bantal yang dipeganya tepat ke wajah Heechul. Heechul bangkit dari rebahnya. Dengan cepat pula ia membalas Hongki menggunakan bantal lain. Perang bantal pun tak terelakan.

Jadilah mereka selama semalaman suntuk berperang bantal. Film horor yang ada di depan mereka ternyata kalah pamor hingga dibiarkan begitu saja hingga film itu selesai dengan sendirinya. Kalian tahu? Ternyata Heebum-lah yang menonton film itu hingga selesai. Untungnya Heebum kucing yang tidak bisa bicara, kalau ia bisa, sudah dipastikan ia akan berteriak-teriak histeris seperti yang dilakukan ayah dan pamannya yang sedang terlibat perang bantal itu.

"***"

Pagi harinya Heechul bangun lebih dulu dari Hongki. Ia sengaja tak mau membangunkan Hongki yang tengah tertidur lelap. Heechul menatap jam dinding yang tertempel di atas dinding. Pukul sepuluh siang. Ternyata hari telah beranjak siang. Bukan pagi lagi rupanya.

Dengan malas Heechul turun dari ranjangnya, dengan lantai gontai ia menuju kamar mandi. Setelah sebelumnya ia harus bersusah payah melewati tumpukan sampah bungkus makanan dan botol-botol minuman bersoda yang berserakan di lantai.

Heechul mencuci mukanya dan menyikat giginya. Setelah selesai, Heechul beranjak menuju lemarinya, mengganti baju merupakan hal yang tepat. Heechul memilih kaus berwarna pink dan celana jeans panjang.

Heechul berjalan menuju ranjangnya, bibirnya terangkat membentuk seulas senyum saat melihat Hongki yang masih tertidur dengan pulasnya. Dengan perlahan ia mendekati Hongki, menyibakan poni yang jatuh di atas dahinya, lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang. Heechul menegakan tubuhnya, kini pandangannya teralih ke arah Heebum yang juga tengah tertidur di dekat kaki Hongki. dengan pelan ia mencium ujung hidung Heebum. Heebum sedikit menggeliat menerima perlakuan Heechul.

Heechul meninggalkan sebuah note untuk Hongki lalu meletakannya di atas nakas. "Aku pergi ke swalayan dulu, oke! Aku mau berbelanja keperluan kita bulan ini. Kemarin kuperiksa ternyata kulkas sudah kosong." Setelahnya, Heechul pun beranjak keluar dari kamarnya.

Heechul mengambil sebuah buku yang kemarin belum selesai dibacanya –sebenarnya itu buku hasil jarahannya pada Jungsu dan juga kunci mobilnya yang tergeletak di meja tamu. Sambil bersiul-siul Heechul keluar dari apartemennya.

"Ayo kita belanja!"

"***"

Supermarket yang Heechul kunjungi entah mengapa hari ini penuh dengan orang. Setahu Heechul. Hari ini merupakan akhir bulan. Dan akhir bulan biasanya jaran sekali ada orang yang berbelanja. Tapi Heechul tak mau ambil pusing. Mungkin saja saat ini sedang ada diskon besar-besaran –pikirnya. Heechul dengan santainya melanjutkan langkahnya sambil terus terfokus pada buku bacaan di tangannya.

"Bila kita berpikir bahagia. Pasti kita akan bahagia." Heechul memainkan bibirnya. Sebuah buku yang tidak terlalu besar masih bisa setia tergenggam di tangannya di kedua tangannya. Kepalanya terus tertunduk, matanya terus terfokus pada buku bacaan di depannya tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang banyak terdapat orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Heechul yakin kepekaannya terhadap sekitar menghindarinya dari tabrakan orang-orang.

"Oh, baiklah~ pertama-tama kita cari cemilan." Heechul menutup buku yang digenggamnya. Ia mengangkat wajahnya lalu berjalan anggun ke deretan rak-rak makanan yang terjajar rapi di sana. Mata Heechul melayap dengan pasti mencari kudapan yang bisa menggugah seleranya dengan seketika.

Heechul mengkerutkan bibirnya. "Tidak ada yang menarik." Heechul akhirnya memutuskan untuh pindah ke deretan rak-rak makanan yang err… sebenarnya makanan yang diperuntukan untuk bayi dan balita. Sepertinya Heechul ingin mencoba kudapan yang lain dari biasanya.

Mata Heechul kembali melayap mencari sesuatu yang manis, tapi tidak terlalu manis. Dia masih dalam proses diet. Akhirnya setelah beberapa lama mencari, Heechul menemukannya. Ia berjongkok sedikit untuk mensejajarkan pandangan matanya pada sebungkus kecil biskuit lunak rasa coklat di depannya.

"Sepertinya ini enak." Tangan Heechul terjulur untuk mengambil sebungkus biskuit itu. Kebetulan sekali rasa coklat untuk biskuit itu tinggal satu. Saat tangannya baru saja menyentuh ujung bungkusnya, sebuah tangan dengan tiba-tiba menarik bungkus biskuit itu dari arah lain. Sempat terjadi adegan tarik-menarik selama beberapa detik antara Heechul dan juga orang itu.

Heechul yang mulai kesal mendongakan wajahnya –hanya sekedar untuk melihat siapa si pemilik tangan. Terlihatlah olehnya sosok wajah laki-laki yang cukup sempurna di mata Heechul. Hidung mancung yang rupawan ditambah bibir yang tipis di bawahnya. Sepertinya tak ketinggalan mata sipitnya yang membuatnya lebih terlihat manly.

Heechul menyipitkan matanya. "Ini punyaku." Ternyata tangan Heechul dan laki-laki itu masih belum ada yang mengalah setelah sempat terjadi adegan tarik-menarik tadi. Buktinya, mereka berdua masih teguh pada pendiriannya mengenai siapa yang paling pantas mendapatkan biskuit itu.

"Aku yang melihatnya pertama kali." Heechul masih tak mau kalah.

"Kau belum membelinya dan bahkan kau belum membayarnya, jadi ini masih berhak dibeli orang lain." Seru laki-laki itu yakin yang sukses meningkatkan emosi seorang Kim Heechul.

Heechul mendengus sebal. "Ya! Dan sekarang aku mau membayarnya. Lepaskan!"

"Ck, dasar wanita." Seru laki-laki itu sebal.

"What?" Wanita? Ingin sekali Heechul meninju hidung mancung laki-laki ini sampai patah. Enak saja dirinya yang ia anggap macho ini dianggap wanita. Ini namanya pembunuhan karakter!

"Siapa yang kau bilang wanita hah?" Sembur Heechul. Laki-laki itu hanya melengos sambil menunjuk diri Heechul menggunakan dagunya. Heechul melotot melihat ekspresi yang ditunjukan oleh laki-laki di depannya.

"Sialan! Aku laki-laki! Kau tak lihat jakunku!" Sembur Heechul cepat.

"Laki-laki tidak cerwet." Seru laki-laki itu enteng. "Dan juga tidak memakai pink." Lanjutnya.

Satu kalimat dari laki-laki itu menjadi tamparan keras bagi Heechul. Harga diri yang dijunjungnya sampai mati, bahkan jiwa kelelakiannya yang dijaga sampai mati hancur begitu saja di hadapan laki-laki asing di hadapannya. Mulut Heechul bergerak-gerak –menggumamkan sumpah serapahnya yang mematikan.

"Dan lagi, laki-laki tak memiliki wajah secantik itu. Aku ragu." Seru laki-laki itu lagi. Lagi-lagi membangkitkan iblis dalam diri Kim Heechul.

"Heh, kau orang asing. Berani-beraninya kau menghinaku." Seru Heechul dengan tangan terkepal. Tangannya sudah gatal ingin segera meninju laki-laki di depannya.

"Aku masih banyak urusan." Laki-laki itu tak memperdulikan wajah Heechul yang sudah memerah menahan marah. Tanduk dan buntut iblis yang kasat mata sudah keluar, mungkin tinggal taringnya saja yang belum terlihat.

Laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah biskuit –penyebab utama ia harus beradu mulut dengan laki-laki cantik –Heechul di depannya ini. Tapi ternyata malang baginya, saat tangannya terjulur untuk meraih biskuit itu. Sebuah tangan gempal meraihnya lebih dulu.

"Ini, kau mau ini kan? Tinggal satu, sudah jangan nangis lagi." Seru ibu-ibu bertubuh gempal yang telah merebut biskuit coklat itu tanpa harus bertarung dulu seperti yang dilakukan oleh Heechul dan juga laki-laki yang baru ditemui Heechul di depannya saat ini. Dia menyerahkan biskuit itu pada anaknya yang tengah duduk dalam kereta dorong bayi yang tadi di dorongnya.

Mulut Heechul dan laki-laki itu menganga lebar saat melihat ibu-ibu itu sudah pergi meninggalkan mereka.

"Biskuit coklatnya?" Seru Heechul masih syok.

"Dibawa." Lanjut laki-laki di depannya.

Heechul menatap garang laki-laki di hadapannya. "Ini semua gara-gara kau!" Sembur Heechul.

"Cerewet!" Laki-laki itu pun pergi meninggalkan Heechul yang tengah berdumel ria.

"Ishh~ laki-laki itu cari mati!" Heechul berniat melangkahkan kakinya dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Sebuah dompet? Heechul membungkuk untuk mengambil dompet itu. Dompet yang cukup tebal.

"Ini?" Gumam Heechul. Heechul membuka dompet itu. Terdapat berlembar-lembar uang pecahan seratus ribuan won, kartu kredit dan kartu atm, serta kartu tanda penduduk dan juga sim. Heechul mengambil sim dari dalam sana dan memperhatikan wajah yang berada di dalam foto di sim tersebut.

"Ini kan laki-laki brengsek yang tadi!" Heechul menyipitkan matanya untuk memabaca nama yang tertera di sana. "Tan Hangeng? Sepertinya ia bukan orang Korea. Pantas saja logatnya aneh." Heechul tersenyum iblis. Ternyata ia sedang merencanakan sesuatu.

"Baiklah Mr. Cina. Ini hukumanmu karena kau telah melecehkanku." Heechul menyimpan dompet itu dalam saku celananya. Setelahnya, ia kembali melangkahkan kakinya sambil bersenandung kecil.


Terima kasih yang sudah mau baca ^^

saya menghargai pendapat kalian. kkkkkkkkkkkkkkk~

salam cintah Kim Chi Hee~