"Hei Bocah! Ngapain kau di sana?"

Terdengar suara pria dari arah belakang.

"Eh…?"

"Apa-apa sikapmu itu? Memangnya orangtuamu tak pernah mengajari sopan santun, huh?"

Dia mendecih tak suka.

… Aku sedikit marah.

Memangnya dia tak sadar dengan darah yang menempel di sudut mulutku?

"Boleh Aku duduk di sampingmu?"

Aku tidak punya keinginan untuk menolak, jadi Aku biarkan pria itu duduk disampingku.

Untuk menghilangkan kebosanan di dalam hatiku, Aku lalu memulai percakapan ringan dengan pria itu.

Harus kuakui, Dia adalah pria yang baik.

Dia tak pernah mengabaikan keluh-kesahku. Sebagai gantinya, Dia mendengarkan… dia mendengarkan apa yang harus kukatakan, layaknya teman.

Kami berbicara tentang banyak hal.

Tentang keluargaku.

Tentang ayahku yang dipuja-puja sebagai penyelamat dunia shinobi.

Tentang ibuku yang berasal dari klan terhormat.

Tentang adikku Himawari… Himawari yang manja dan selalu mengikutiku kemanapun Aku pergi.

Tentang rumah besar yang kami tempati dan taman yang sangat luas, dan bagaimana Aku dan Himawari bermain bersama teman-teman kami.

-Aku bercerita tentang banyak hal sampai lupa bernapas.

"Oke. Kali ini udah cukup. Maaf Boruto, Aku punya urusan bisnis, jadi ayo kita hentikan sampai di sini."

… Dadakku terasa sakit, dan Aku merasa sedih, berpikir bahwa Aku akan sendiri lagi."

"Tenang saja, Aku akan menunggumu di sini, oke? Kau harus kembali ke kamarmu dan mendengarkan nasehat doktermu."

"Baik…"

Dia berbicara dengan santai, seakan tak memiliki beban di akhir kalimatnya.

"…Sampai jumpa besok."

Besok, kita bisa mengobrol seperti ini lagi? Aku merasa sangat bahagia.

Ini pertama kalinya Aku benar-benar merasakan sesuatu yang begitu menyenangkan semenjak Aku koma akibat kecelakaan itu.

Sejak hari itu, Aku sering berkunjung ke sana.

Aku juga memanggilnya dengan sebutan "Sensei".

Sensei akan mendengarkan apapun yang Aku katakan, dan akan selalu menghilangkan kecemasanku dengan sebuah kata, tanpa gagal.

… Aku trauma akibar insiden itu, tapi perlahan, Aku bisa mengatasinya, semua ini berkat Sensei. Perlahan tapi pasti, Aku kembali ke diriku yang dulu.

Bahkan goresan hitam yang sangat menakutkan itu tampak tidak terlalu menakutkan lagi saat berbincang dengan Sensei.

Aku tidak tau siapa dia atau dari mana asalnya… mungkin dia memang seorang guru.

Tapi Aku tidak terlalu peduli, tidak masalah mau dia seorang guru atau bukan.

Yang terpenting, Aku merasa sangat nyaman.

Itu saja, semua itu penting… dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.

"Sensei, lihat apa yang bisa kulakukan!"

Suatu hari Aku ingin membuatnya terkejut, jadi dengan menggunakan kunai yang Aku curi dari seseorang, Aku memotong pohon yang tumbuh tepat di tengah-tengah padang rumput.

Seperti yang pernah Aku lakukan, benda tajam itu Aku sayatkan ke sepanjang garis itu dan memotong dengan sangat rapi hingga terbelakah menjadi beberapa bagian keci.

"Menakjubkan, bukan? Aku bisa memotongnya dengan mudah, asalkan benda itu ada. Dan tak ada orang lain yang mampu melakukan selain Ak—"

PAKK

Dia menampar wajahku.

"Sen…sei?"

Sensei menatapku dengan sangat tajam.

… Aku tidak tau kenapa.

Detik berikutnya, Aku baru sadar.

Tak seharusnya Aku membunuh pohon itu.

"… Gomennasai."

Dengan ekspresinya yang sangat marah dan rasa sakit yang bersarang di pipi kiriku.

Aku menangis tak tertahankan.

"—Boruto."

Lalu, perasaan lembut dan hangat menyelimutiku.

"… Kau tak perlu meminta maaf."

Sensei mengusap pelan pucuh kepalaku dengan sayang dan membisikan kata-kata yang mampu menenangkan batinku yang sedang tergoncang.

"Memang benar yang Kau bersalah dan seharusnya Aku marah kepadamu. Tapi ini jelas bukan salahmu sepenuhnya.

Sensei berjongkok dan memelukku.

"Tapi Kau tau, seandainya seseorang tak pernah memberi tau tentang kekuatanmu, suatu hari nanti Kau akan mencelakai orang-orang yang kau cintai. Itu sebabnya Aku tidak kaan meminta maaf… Kau bisa membenciku sebanyak yang Kau mau, Boruto."

"… Tidak, Aku tidak pernah sedikitpun membencimu, Sensei."

"… Benarkah? Aku senang kau mau jujur kepadaku."

Sensei mulai bertanya tentang coretan yang Aku maksud.

Lalu Aku menceritakan semua hal yang Aku tau kepadanya.

Garis-garis hitam yang menyebar layaknya retakan, dan ketakutan yang selalu menghantuiku semenjak hari itu.

"… Boruto, Apa yang kau lihat itu adalah sesuatu yang tak seharusnya dilihat oleh semua makhluk hidup. Kau tau, segala susuatu yang tercipta di seluruh alam raya ini pasti akan hancur, kan? Dan matamu mampu melihat fenomena tersebut. Dengan kata lain, Kau mampu melihat masa depan."

"…Melihat… masa depan?"

"Itu benar, Kau bisa melihat kematian."

"… Sensei, Aku sungguh tidak mengerti maksudmu…"

"Itu bagus, penting agar Kau tak menggetahuinya sekarang—"

Perkataan Sensei seakan mendengung di dalam kepalaku.

"—Kau dengar Boruto? Kau tidak boleh memotong garis itu sebarangan. Karena sekali saja kau melanggarnya, maka kau akan dihancurkan oleh kekuatanmu itu, paham?"

"… Baiklah, Sensei. Aku berjanji tak akan melakukannya lagi."

Sensei akhirnya melepaskanku pelukannya dariku.

"Boruto?"

"Ha`i, Sensei…"

"Aku akan memberimu hadiah spesial besok. Jadi jangan sampai lupa, ya?"

Keesokan harinya.

Tepat pada hari ketujuh setelah Aku bertemu dengan Sensei, Dia tiba di lapangan rumput sambil membawa sesuatu yang sebelah tangannya.

"Jika Kau memasangnya, coretan anet itu tak akan terlihat lagi."

Apa yang dia berikan kepadaku adalah sebuah kacamata.

"Tapi mataku baik-baik saja."

"Cepat pake!"

Dia memaksaku memakainya.

Tiba-tiba—

"Wah, keren, ini luar biasa, Sensei! Coretan-coretan aneh itu tak nampak lagi!"

"Siapa dulu yang membuatnya? Sensei…"

Sensei berlaga layaknya orang sombong. Dan tanpa kusadari, Aku tertawa renyah akibat tingkah konyolnya itu.

"Tapi kau harus ingat, Boruto. Kacamata itu hanya bersifat sementara. Begitu kau melepasnya, maka garis-garis itu akan kembali nampak seperti semula."

"Be-benarkah?"

"Ya, itu satu hal yang tak bisa diperbaiki lagi. Satu-satunya pilihanmu adalah terus menjalani hidupmu dan melakukannya yang terbaik dengan kondisi mata yang kau miliki sekarang."

"… Tidak. Aku tidak ingin mata yang menakutkan ini. Jika Aku memotong garis lagi, Aku akan melanggar janjiku kepadamu."

"Dasar konyol! Tentu saja, kau bisa melanggar janji itu kapanpun kau mau."

"… Tapi Sensei, bukankah itu tak seharusnya Aku perbuat?"

"Yah, itu memang benar. Tapi kau tau, Boruto. Tuhan tidak pernah memberi kita kekuatan tanpa alasan. Baik tidaknya kekuatan itu tergantung dari kita sendiri. Oleh sebab itu, Kau tak boleh menyangkal keberadaan mereka, oke?"

Sensei berjongkok agar wajar kami saling sejajar.

"Aku tidak pernah menyuruhmu agar menjadi orang alim. Yang Aku maksud adalah hidup dengan kejujuran dan menjadi seorang pria yang tangguh."

Sensei lantas berdiri lalu meraih kopernya.

"Kau boleh melepas kacamata itu apabila kau berhadapan dengan situasi genting."

Dia mengambil kopernya.

-Sensei tak berucap lagi setelah itu.

Tapi jauh di lubuh hati, Aku tau kita pasti akan berpisah.

"—Tidak mungkin, Sensei. Aku tidak bisa melakukannya… Aku tidak bisa…"

"Percayalah kepada dirimu sendiri, Boruto. Mulai dari sekarang, berjanjilah kepada dirimu sendiri. Jangan pernah berkata hal-hal bodoh dan menyerah kepada nasip, oke?"

Sensei berbalik.

"Dengar, Boruto. Hidup ini tidaklah mudah karena kehidupan setiap orang itu keras dan penuh liku. Kau yang memiliki kekuatan lebih banyak daripada orang lain patut bersyukur."

Sensei pergi.

Meskipun ada perasaan tak rela membekas di dalam hati, Aku berusaha tersenyum sebaik yang Aku bisa.

"Ya, selamat tinggal, Sensei."

"Oh ya! Satu hal lagi—"

Sensei membalikan wajahnya ke arahku tanpa mengubah posisinya untuk pergi.

"—Percayalah kepada diri sendiri dan saat kau ditimpa masalah, tenanglah dan pikirkan semuanya dengan hati-hati, oke?"

Sensei tertawa gembira.

Angina berhembus.

Padang rumput bergoyang serempak.

Dan tanpa kusadari,

Sensei sudah pergi.

"… Sayonara, Sensei."

Aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal.

Aku bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata terima kasih kepadanya.

Beberapa hari kemudian.

Aku meninggalkan rumah sakit, Aku kembali ke rumah, dan Aku kambali berkumpul bersama keluargaku.

Tapi tidak apa-apa.

Boruto Uzumaki akan baik-baik saja.

Aku akan menghabiskan hidup baruku ini bersama keluargaku.

Dan entah mengapa, Aku merasa jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan diriku yang dulu…