Bulan Desember hampir segera berakhir, dan malam ini akan ada perayaan di rumah-rumah warga.
Karena wilayah Jepang memanjang dari selatan Uzushiogakure sampai utara Konoha, maka perbedaan suhu cukup jelas. Di selatan cuaca cukup ekstrim sehingga banyak tumpukan salju bertebaran di jalan maupun atap penduduk. Sedangkan di wilayah utara, beragam festival yang terkait salju dan es diadakan di sana. Wisatawan dan penduduk bersama-sama menikmati patung salju dan es yang besar dan ikut dalam adat dan acara-acara pedesaan yang ada pada musim ini. Di utara meski turun salju, matahari tetap bersinar cerah. Dan para penduduk masih beraktifitas seperti biasanya.
Pair : Naruto x Hanabi.
Genre : Romance.
Summary : Dalam hidupnya, Naruto selalu berfikir tentang kebebasan. Membuatnya tumbuh menjadi anak yang susah diatur. Hingga suatu ketika, seorang gadis dari dunia maya membantunya kembali menjadi lebih baik. Membuatnya kembali merasa bergairah dan semangat, tapi ketika gadisnya menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia begitu populer, membuatnya merasa tidak pantas bersanding dengan Imotounya. Kemudian, ia memutuskan menjauhi Imotounya selama 2 tahun. Sebelum akhirnya ia kembali dengan perasaan rindu yang tidak dapat terbendung. Akankah Hanabi mau menerimanya kembali? Ataukah ia sudah memiliki pengganti, Selama Naruto pergi. #Sekuel LDR : Daisuki Onii-Chan.
Warning : Gaje, Abal-abal, Miss Typo, EYD, dll.
"Dulu sewaktu kecil aku tidak populer dan Introvert. Setiap hari aku selalu dilarang bermain oleh orang tuaku. Aku harus menjadi sempurna di mata mereka, apapun yang ku lakukan hanya untuk mereka. Tidak pernah sekalipun aku memikirkan diriku sendiri." Kata Naruto. Shikamaru menatapnya dalam diam, melanjutkan acara minum tehnya.
"Setiap pagi bangun dua jam lebih awal, hanya untuk berolah raga membentuk ototku. Supaya ketika aku bercermin, diriku tetap terlihat keren di mata mereka." Lanjutnya.
"Sungguh?" Shikamaru berkata dengan nada tak percaya. "Lalu kenapa kamu sering bertingkah konyol di kelas dulu?" Sambungnya.
"Hehehe, aku hanya tidak tau bagaimana caranya berteman." Naruto berkata sambil mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu kenapa kamu kembali ke jepang? Padahal kamu sudah hidup penuh kesempurnaan bersama orang tuamu di London. Aku ingat dulu, pertemuan terakhir kita. Kamu menangis seperti bayi karena tidak ingin pergi ke London, sebelum akhirnya ayahmu datang dan mengajakmu pergi." Naruto melenguh panjang.
"Dan apa alasanmu putus sekolah dulu? Dan memilih menjadi sampah masyarakat!" Kali ini Shikamaru berbicara tegas dengan nada serius.
Naruto menghela nafas panjang. "Ibu dan ayah setiap hari bertengkar, itu membuatku muak. Maka dari itu aku langsung bilang pada mereka kalau aku ingin kembali ke Jepang. Awalnya ayah dan ibu menentang keras keinginanku. Tapi aku bilang pada mereka untuk kali ini saja biarkan anakmu menjadi keras kepala. Aku juga bilang, kalau aku bakal kembali ke London saat mereka berdua akur lagi..." Naruto menjeda sejenak perkataannya. "Alasanku putus sekolah memang sangat kekanakan karena masalah wanita." Sambung Naruto murung.
"Bagaimana kalau kau kerja di tempatku? Kamu juga bisa melanjutkan sekolahmu!"
"Untuk masalah kerja tentu aku akan dengan senang hati menerima tawaranmu, tapi untuk sekolah aku memang sudah melanjutkannya sejak mengenal Hanabi." Kata Naruto tersenyum lebar.
"Mulai besok atau minggu depan kamu sudah bisa bekerja di Bar milikku." Kata Shikamaru meminum tehnya hingga habis.
"Oke terima kasih atas semua bantuannya Shika! Akan ku pikirkan tawaranmu." Naruto berdiri dan mulai membungkuk di depan Shikamaru. Pemuda berambut nanas itu tersenyum, menyuruh Naruto duduk kembali ke kursinya.
Sudah dua bulan sejak pertemuan terakhir Naruto dengan Hanabi di kedai Ramen. Belum ada kabar sama sekali dari Naruto, dan itu membuat Hababi cemas. Meski begitu, hubungan mereka masih bersetatus -Pacaran- untuk saat ini. Dan hal itu membuat Hanabi, merasa sedikit lega karena tidak putus dengan Naruto karena hal sepele.
Ingin rasanya Hanabi berjumpa dengan pujaan hati, tapi karena Ujian tengah semester sudah dekat. Dia lebih memilih fokus dalam belajar, karena dia tidak ingin mengecewakan Ayahnya, "Kenapa Naruto-Nii belum memberi kabar." Gumam Hanabi pelan. Dia sekarang tengah berada di kamar tidurnya. Semua dinding terbuat dari kayu berwarna cokelat, dan terdapat sebuah jendela yang mengarah keluar.
'Setidaknya berikan aku kabar. Dasar baka!" Pikirnya memandang keluar jendela. Memandangi butir-butir salju yang terus turun, dan nenumpuk memenuhi halaman rumahnya.
Ponsel Hanabi bergetar dan berbunyi nyaring, dengan cepat diraihnya benda kecil itu. Pesan masuk, dilihatnya pesan tersebut yang ternyata dari Naruto, 'Musim dingin akan segera berakhir dan musim semi akan datang. Awal musim semi aku akan main ke rumahmu...' Itu adalah isi pesan dari Naruto dan membuat Hanabi kaget serta cemas. Raut muka yang tadinya tegang kini mulai mencair, dan dengan gerakan cepat diketiknya balasan pesan tersebut.
'Ku tunggu kedatanganmu.' Balas Hanabi. Dengan perasaan yang gembira, dia tersenyum lembut. Perasaan hangat memenuhi dadanya. Dan udara dingin sekitar pun tak terasakan lagi.
Hari berganti hari. Angin barat pun mulai berhembus, dan salju-salju mulai mencair. Matahari bersinar cerah kembali. Musim dingin berakhir dan musim semi pun datang. Daun-daun sakura mulai tumbuh bermekaran. Aroma tanah kering tercium oleh hidung, embun-embun air menempel di dahan pohon. Berlatar belakang mentari yang baru terbit, Naruto mengetuk pelan pintu kayu di depannya.
Pintu di buka menampilkan seorang wanita muda berambut hitam kebiruan dengan iris lavender. "Naruto-Kun...!" Pekik kaget wanita itu. Sedangkan Naruto juga terkejut melihatnya, ia kenal wanita itu. Teman masa Sma dulu, orang yang pernah menyatakan cinta padanya.
Mendadak Naruto bingung mau bicara apa, "Hai Hinata apa kabar?" Naruto berkata dengan gugup.
Naruto melirik kedalam. "Baik, Silahkan masuk!" Hinata mencoba ramah, walau sebenarnya dia juga cukup gugup. Ketika Hinata berbalik, ternyata di belakang tubuhnya berdiri tubuh mungil Hanabi. "Kalian saling kenal?" Tanya Hanabi penasaran.
"Kami teman Sma." Hinata menjawab cepat perkataan Hanabi barusan, membuat Hanabi dan Naruto memandanginya. "Aku akan ke dapur membuatkan teh." Sambungnya. Kemudia berlalu pergi, meninggalkan Hanabi dan Naruto di depan pintu.
"Sepertinya terjadi sesuatu di antara kalian, di masa lalu." Kata Hanabi menatap punggung Hinata.
Diam sempat menyeruak beberapa detik. Sebelum akhirnya Hanabi mendekat ke meja, mempersilahkan Naruto duduk.
Hinata kembali membawa segelas teh. "Ayah sedang tidak ada di rumah..." katanya menjeda beberapa detik. "Jadi pacar Hanabi itu kamu Naruto?!" Sambungnya menatap lekat wajah Naruto dan Hanabi bergantian, membuat keduanya salah tingkah.
"Aku kemari sebenarnya ingin bertemu ayahmu, tapi sepertinya dia tidak ada di rumah. Kalau begitu aku ingin bilang sesuatu ke Hanabi." Kata Naruto menikmati teh buatan Hinata. "Tehnya enak." Puji Naruto mencoba melihat respon Hinata.
Hinata melirik sekilas pemuda itu. "Terima kasih." Balasnya.
"Bilang apa Onii?" Tanya Hanabi penasaran. "Oh iya tadi Kiba-San telpon, katanya sebentar lagi dia akan menjemputmu Nee." Sambungnya menyeringai. Hinata menjadi salah tingkah mendengar ucapan Hanabi, perempuan itu memukul pelan bahu sang adik.
"Ehem...!" Naruto berdehem keras. "Aku akan kembali ke London." Diam sejenak menunggu respon Hanabi.
Dengan mata berkaca-kaca, Hanabi menyuruh Naruto untuk meneruskan. "Orang tuaku tau keadaanku di Jepang, mereka khawatir dengan masa depanku." Naruto tidak sanggup meneruskan. Ia bingung memilih kata yang tepat, supaya Hanabi tidak kecewa dengan keputusannya.
Menghela nafas panjang. "Dua sampai tiga tahun lagi aku baru kembali. Ketika aku sudah sukses seperti orang tuaku, aku janji akan kembali untuk melamarmu." Hinata maupun Hanabi terkejut, setelah mendengar pernyataan Naruto. Karena situasi yang begitu mendadak, Hanabi bangkit dan berlari menuju kamarnya. Ia kecewa pada Naruto, kenapa pemuda itu baru berkata sekarang.
Hinata menepuk bahu Naruto dengan pelan. "Kejarlah, aku mau pergi dulu." Kata Hinata saat mendengar suara bunyi pintu rumah diketuk.
Naruto yang masih tertunduk, tetap berjalan ke arah pintu masuk. Sepeninggal Hinata, suasana bertambah sepi. Naruto hanya diam mematung di depan pintu, tanpa niat mengetuk atau masuk ke dalam.
"Naruto-Nii, kenapa harus pergi...?" Naruto tak mampu bersuara. Ia tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu tanpa berkedip. Suaranya seakan tertahan di tenggorokan, dadanya pun menjadi sesak.
Memutar knop pintu, Naruto pun masuk ke dalam. "Maafkan aku. Sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah lama darimu, tapi demi bisa melamarmu. Aku harus punya penghasilan tetap, tapi aku janji. Aku tidak akan meneruskan usaha ayah, karena itu akan membuatku bertambah sulit bertemu dirimu." Hanabi menelan ludah, air mata jatuh berderai membasahi pipinya.
Di dekapnya tubuh mungil Hanabi dengan mesra. Gadis itu mendongak, menatap wajah pemuda yang mendekapnya.
"Kenapa...?" Dengan mata berkaca-kaca Hanabi berkata dengan suara serak. Kemudian dengan air muka bimbang, Naruto menatap lembut gadisnya.
"Untuk apa harus pergi, sekarang ini?" Tanyanya dengan keberanian yang entah ia dapat dari mana. "Aku tidak mau berpisah denganmu, walau hanya sebentar. Aku khawatir, kamu akan melupakanku dan mencari gadis lain." Katanya menahan tangis.
Naruto tersenyum. Kemudian tangannya terulur dan menyentuh rambut Hanabi dengan lembut. Kemudian membelai pipinya dengan punggung tangannya. Dengan tergesa diraihnya wajah Hanabi dan mencium bibir gadis itu penuh perasaan. "Sudah ku bilang ini untuk masa depan kita! Mana mungkin aku akan berpaling ke gadis lain." Naruto berucap pelan di telinga Hanabi, membuat tubuh Hanabi gemetar dan lemas tak bertenaga.
'Astaga apa yang kulakukan barusan! Dia masih siswi Sma Naruto, sadarlah! Untung tadi aku masih bisa menahan diri.' Pikir Naruto dengan wajah merah padam. Kemudia dia mundur selangkah menjaga jarak dengan Hanabi.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Hyuga Hanabi. Maukah kamu menunggu?" Dengan penuh harap Naruto menanti jawaban Hanabi.
"Ya, untukmu yang selalu memenuhi pikiranku. Yang selalu mengisi hatiku, dan memberi kebahagiaan kepadaku. Maafkan ke egoisanku, pergilah asal jangan lupa janjimu."
"Tentu." Dengan berlatar belakang kaca yang menghadap ke arah matahari tenggelam. Naruto sekali lagi, mendekap mesra penuh kasih sayang tubuh Hanabi.
"Jangan lupa telpon aku setiap malam." Kata Hanabi kesal sambil mencubit pinggang Naruto. "Ittai, Siap Nyonya!" Jawabnya.
.
.
.
Dua tahun berlalu. Hanabi sudah lulus sekolah. Hari ini dia akan kembali bekerja di studio musik, tempat anak-anak les piano.
"Sudah dua tahun huh." Katanya pada dirinya sendiri sambil memandang awan dari balik jendela.
"Hanabi-Chan sangat hebat bermain piano, ketika bernyanyi suaranya juga bagus."
"Benar." Samar-samar Hanabi bisa mendengar suara ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya les piano. "Jangan lupakan dia juga sangat cantik seperti seorang putri." Tambahnya membuat pipi Hanabi bersemu merah.
"Bagaimana bila dia jadi istri anakku?"
"Jangan ngawur. Tentu saja dia sudah mempunyai seorang pacar!"
"Apa itu benar? Kita belum melihat seorang lelaki dekat dengannya."
"Kau benar. Mungkin sebaiknya dia ku jodohkan dengan keponakanku."
"Enak saja...!" Hanabi hanya diam tanpa berniat ikut campur. Ia hanya duduk tenang mendengarkan obrolan ibu-ibu di luar.
"Ehem! Apa kalian tidak lelah berbicara hal yang sama terus menerus?" Timpal ibu muda yang menggandeng anaknya memasuki pintu.
Mereka saling pandang sejenak. "Tidak ini menyenangkan." Kata mereka bersamaan.
"Bagaimana kalau tanyakan langsung pada orangnya apa mau dengan anakmu?"
"Benar juga." Mereka kemudian mendekati Hanabi. Dan mulai bertanya pertanyaan yang sama dengan hal yang mereka obrolkan barusan.
"Kau bisa jadi kaya bila menikah dengan anak Mikoto-san! Anaknya yang sulung jadi kepala polisi konoha."
"Hei kalian jangan memutuskan sesukanya! Tentu saja Hanabi sudah punya seseorang yang di cintai." Kata ibu-ibu bertubuh gemuk.
Serentak ibu-ibu yang di sana memiringkan kepala bersamaan. "Eh? Benarkah? Apa dia pria keren?" Tanya mereka bersamaan. Hanabi gugup, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Iya, dia sangat keren di mataku..." Kata Hanabi malu-malu sambil menundukan kepalanya menyembunyikan rona merah di pipinya.
Tiba-tiba pintu di buka secara paksa dari luar. "Hei kalian kemari! Naruto-Sama sedang mengadakan konser langsung! Cepat kemari san nonton bersama." Dengan tergesa-gesa ibu-ibu muda itu mulai bangkit dan berjalan keluar menuju ruang sebelah yang ada televisinya. Hanabi pun ikut bangkit setelah mendengar kata Naruto-Sama barusan.
Matanya melotot nyaris keluar saat melihat pria yang di rindukannya tengah tampil di televisi. "Naruto-Kun!?" Pekiknya terkejut, membuat seluruh pasang mata menatap ke arahnya.
"Eh? Hanabi-Chan kenal?" Teriak mereka bersamaan, baik itu ibu-ibu atau pun anak-anak.
"Iya." Hanabi menghela nafas panjang. "Dia kekasihku." Sambungnya dengan muka merah padam. Seluruh orang di sana terkejut sesaat, sebelum akhirnya memeluk Hanabi bersamaan.
"Kenapa tidak bilang? Kau tau dia sering berkata tentang kesuksesannya itu untuk seorang wanita di jepang yang bernama Hanabi! Ku kira Hanabi yang lain, ternyata dirimu." Kata ibu-ibu berambut hitam panjang.
Hanabi memiringkan kepalanya. "Eh? Aku juga baru tau kalau Naruto-Kun seorang penyanyi. Setiap telpon dia selalu bilang kerja untuk melamarku. Dan tidak pernah bercerita soal pekerjaannya." Kata Hanabi murung.
.
.
.
"Naruto-Sama!" Teriak beberapa penonton konser.
"Naruto-Kun! I Love you...!"
"Menikahlah denganku!" Itulah beberapa teriakan penonton yang terdengar oleh telinga Naruto. Keringat sebesar biji jagung jatuh di kepala Naruto. Pemuda itu mendengarkan teriakan penonton dari balik layar panggung, bersama beberapa krunya.
"Apa kamu siap Naruto?" Tanya temannya yang bertugas sebagai pembawa acara.
"Tentu." Kata Naruto mulai berjalan ke depan menyapa ribuan penonton.
.
.
.
End...
Note : Sebenarnya ini fic udah bisa di update beberapa hari lalu, tetapi karena alur yang tidak sesuai maka Author ganti sampai 4x. Dan baru bisa update sekarang...
