Stasiun kereta Daegu.

Seperti kata kepala sekolah, Yoongi diterima tapi ia tetap harus mengurus data mahasiswa dan baesiswa penuhnya. Yoongi sangat pintar sehingga mendapatkan beasiswa penuh dari Institut. Hari ini Yoongi akan pergi ke Ansan dan menetap disana. Jinyoung dan Yieun mengantar anak mereka satu-satunya itu ke stasiun. Ini pertama kalinya Yoongi akan pergi meninggalkan rumah dengan begitu lama, dan jinyoung merasa sedih karena harus berpisah dengan puteranya. Jinyoung memberikan sebuah dompet pada Yoongi.

"Ada uang di dalamnya. Kodenya hari ulang tahun Jimin. belilah sepeda Jika kau mau." Jinyoung meneteskan air mata lalu menghapusnya. "Eoma akan sangat merindukanmu!"

"Aku juga akan merindukanmu. Tapi, kenapa kodenya harus ulang tahun Jimin?"

"Agar jika Jimin ingin jajan darimu kau bisa memberikannya!"

"Ini bisa membuat orang lain salah faham."

"Salah faham apanya. Kami semua tau hubunganmu dengan Jimin"

Yoongi bengong menatap dompet barunya, ia sama sekali tak mengerti maksud ibunya. Tapi ia tak bisa menolaknya.

"Keluarga kita dan keluarga Park bersahabat sejak lama. Kami sangat dekat dan aku harap kau bisa menjaga hubungan baik keluarga kita. Aku tau kau pria yang bertanggung jawab. Aku percaya kau tak akan merusak fikiran polos Park Jimin."

Plak!

Jinyoung memukul lengan suaminya. "Apa yang kau katakan? Yoongi walaupun suka berkelahi tapi dia tidak mesum sepertimu."

"Mesum sepertiku? Cham..." Yieun membuang muka lalu menatap puteranya. "Kau faham maksud appa. Jaga dirimu!" Yieun hanya menepuk pundak Yoongi, membiarkan puteranya mandiri.

"Aku mengerti Appa. Aku pergi."

Yoongi hanya mengiyakan, ia memang mengerti maksud ayahnya. Yoongi sudah dewasa dan bagaimapun Yoongi adalah lelaki normal. Berada satu rumah dengan wanita yang ia sukai tentu imajinasinya sebagai lelaki akan menjadi liar. Yoongi masuk ke dalam stasiun setelah mencium kening ibunya. Jinyoung terus menatap puteranya. Ia menghapus air matanya lalu bersandar pada pundak suaminya.

"Anak kita satu satunya sudah mandiri. Aku akan sangat merindukannya."

Cup

Jinyoung mendorong suaminya begitu merasakan kecupan di bibirnya. "Yack! Kau mesum. Ini tempat umum."

"Kalau begitu ayo pulang. Ini kesempatan kita untuk berduaan lagi setelah sekian lama."

Jinyoung memukul dada Yieun. Ia berencana memukuli suaminya untuk hukuman karena bisa-bisanya bahagia sementara anaknya pergi. Tapi keramaian membuat Jinyoung mengurungkan niatnya.

"Akan kubalas kau nanti."

"Show me!" ucap Yieun tersenyum penuh maksud. Sepertinya arti kata 'balas' berbeda dengan apa yang dimaksudkan isterinya. Ia berfikir isterinya akan membalas ciumannya nanti.

...

Jimin memakai dress pink, wajahnya sudah dihiasi riasan, dan sepatu flat berwarna pink menghiasi kakinya. Jimin berkaca, memutar badannya kiri kanan untuk memastikan ia benar-benar sempurna.

"Noona bukankah kau berlebihan?!"

Senyum Jimin hilang ia berbalik menatap adiknya yang sudah ada di pintu menatapnya dengan poker faceya.

"Mau apa kau kemari?"

"Ibu menyuruhku memintamu cepat turun. Yoongi hyung sudah dalam perjalanan dan lebih baik kalau kita menunggunya dari pada dia harus menunggu kita."

"Baik paman! Aku mengerti."

"Aku berkata ini karena aku peduli padamu noona. Pakailah pakaian biasa. Kita hanya akan menjemput Yoongi hyung bukan mengantarmu berkencan dengannya."

"Aku mengerti! Keluar sana!"

Woozi keluar. "Aish bocah itu seperti orang tua yang cerewet."

...

"Aigoo! Lihat Jimin kita yang manis. Bukankah ini adalah hari besar?! Mengapa kau mengenakan jean hm?"

"Harusnya kau memakai mini dress!"

"Eoma! Apa berhenti menggodaku!"

"Bagaimana perasaanmu?"

"Perasaanku? Maksud appa?"

"Bertemu kembali dengan oppamu, dan bahkan tinggal satu atap dengan Oppamu!"

"Appa. Aku bilang jangan menggodaku!"

"Pasti dia senang sekali. Ingat! Jika Yoongi disini kau jangan menempelinya terus."

"eoma!"

"Jangan merayunya juga. Aku tak ingin kau hamil sebelum lulus"

"APPA!"

Doojoon menatap isterinya yang tak senyum. "Kau mengotori otak park Jimin!"

"U maaf!"

"Ish Appa kau menyebalkan."

Sepanjang jalan Doojoon dan Yoseob menggoda Jimin, sedangkan woozi hanya diam mendengarkan earphone.

...

Stasiun Ansan.

Yoongi membaca pesan dari Doojoon bahwa mereka akan sedikit terlambat karena macet. Yoongi hanya bisa memaklumi, ia tak peduli dengan keterlambatan mereka, Yoongi hanya merasa sedikit gerogi akan bertemu Jimin.

Suara pemberitahuan stasiun berikutnya sudah berbunyi, ini adalah pemberhentiannya. Yoongi bersiap-siap dengan tas ransel dan kopernya. Begitu sampai orang-orang mulai keluar, Yoongi berjalan agak santai, dan begitu menginjak lantai stasiun seseorang menabraknya hingga koper Yoongi terpental agak jauh.

"OMO! Mianhae!"

Pria tinggi itu lari mengambil koper Yoongi.

"Maafkan aku, Aku sungguh tak sengaja!"

"Tak apa!,,, SIA?"

Tanya Yoongi itu melihat brosur yang dipegang pria itu.

"Ya! Aku diterima disana dan sedang membaca mapnya."

"Aku juga baru diterima disana!"

"Benarkah? Sungguh kebetulan! Aku Kim Namjoon. Jurusan Komposisi musik. Kau bisa memanggilku RapMon atau Rap Monster."

"Min Yoongi! Kalau begitu kita ada di bidang yang sama."

Mereka berjabat tangan dan tersenyum.

"Waaahhhh... sungguh kebetulan. Kau akan kesana Jugakan. Kalau begitu ayo kita pergi bersama!"

"Aku dijemput kerabat. Aku baru akan ke SIA besok."

"Sayang sekali! Kala begitu sampai ketemu di kelas nanti."

"Ya sampai bertemu di kampus."

Rapmon keluar stasiun dan langsung memanggil Taxi. Begitu Rapmon pergi mobil keluarga Park datang. Yoseob dan anak2nya keluar sementara Doojoon pergi memarkirkan mobil lebih dulu.

Yoseob menelfon Yoongi dengan kebingungan. Sementara Jimin sedang bertatapan dengan mata seseorang yang telah lama ia rindukan. Hanya beberapa detik mereka terpaku, menatap satu sama lain. Hanya dua tahun, banyak sekali yang berubah. Yoongi semakin terlihat tampan dan Jimin, Yoongi melihat Jimin seperti kuncup bunga yang sedang mekar.

"Eoma itu!"

Ucap Woozi pada ibunya begitu melihat Yoongi. Yoseob menarik Jimin, membuat lamunannya buyar. Mereka berlari kecil menuju kursi tunggu diamana Yoongi berada.

"Yoongiah Mianhae! Aku tak mengerti kenapa tadi macet. Apa kau menunggu cukup lama?"

"Tidak. Aku baru akan duduk dan kalian datang." Yoongi membungkuk memberi Yoseob hormat "Lama tak bertemu Yoseob Ajungma!"

Yoseob mengusap rambut Yoongi dengan sayang.

Mata Yoongi melirik Jimin, ia tersenyum menatap gadis yang tampak malu ia pandang. Tak sabar ingin menyerap sari madunya jika bunga itu telah mekar, begitulah ketika kumbang telah jatuh cinta pada sekuncup bunga yang indah dimatanya.

"Lama tak jumpa. Jiminie!"

Jimin bahkan menahan nafasnya ketika ditatap seperti itu. "m! Lama tak jumpa. Oppa!"

"Hanya itu?! Bukankah biasanya setiap bertemu kalian berpelukan?"

Jimin menatap horror ayahnya. Mereka memang akan berpelukan setiap kali bertemu. Tapi itu dulu, sewaktu Jimin dan Yoongi masih kecil. Sekarang mereka tak sedekat dulu, dan perkataan ayahnya membuat moment pertemuan mereka jadi semakin canggung. Ayah dan ibu Jimin selalu membahas mengenai kedekatan mereka kala kecil. Orag tua Jimin bukan membahas kebiasaan yang membuat Jimin dan Yoongi tersenyum tapi kebiasaan mereka waktu kecil yang tak pantas dibahas ketika mereka sudah dewasa. Seperti, mandi bersama, tidur bersama, dll. Mungkin itu wajar ketika mereka kecil tapi sekarang, mereka tak mungkin berbagi ciuman mengingat usia dan gender mereka. Bahkan makan malampun Jimin dan Yoongi hanya bisa saling diam karena canggung.

.

Yoongi masuk ke kamar barunya. Kamar barunya cukup luas, terletak di lantai bawah dekat dengan ruang tamu. Yoongi membuka lemari lalu merapikan pakaiannya. Yoongi tiba-tiba tersenyum begitu mengingat wajah Jimin sekarang. Jimin bukan lagi seorang gadis kecil yang manis seperti dulu, Yoongi melihat Jimin menjadi sosok gadis remaja yang menawan. Jimin sudah matang dan semakin terlihat cantik. Yoongi mengingat kembali perubahan wajah Jimin dan ia semakin menyukai gadis itu. Yoongi berbaring setelah merapikan barang-barangnya.

'Hanya kau yang bisa membuatku begini Park Jimin.'

Suasana berbunga-bunga juga mengisi energi kamar Jimin. Gadis itu sedang duduk di meja belajar, mengerjakan tugas dengan mudah sambil memikirkan Yoongi. Jimin tersenyum dan menompang dagunya. Ia kembali mengingat wajah Yoongi yang semakin tampan, senyum Yoongi yang semakin manis, serta kemeja blue navi yang membuat Yoongi terlihat semakin keren.

"Oppa semakin tampan" Jimin menghela nafas dan memegang dadanya. Jantungnya tak stabil semenjak di stasiun. 'Dan aku semakin menyukai oppa!'

...

-Yasto-

...

Bip bip bip bip

Suara alarm di kamar Jimin berbunyi membuat gadis itu terbangun dari mimpi indahnya. Jimin melirik meja dan mematikan alarmnya. Sudah pukul lima dan Jimin harus bersiap-siap. Jimin bukanlah gadis pemalas, begitu bangun ia merapikan tempat tidur lalu pergi mandi. Setelah merapikan seragamnya barulah Jimin memeriksa jadwal pelajarannya hari ini. Mengecek setiap tugas sudah ia selesaikan dengan benar atau belum, setelah siap, barulah Jimin turun untuk membantu eomanya membuat bekal.

"Pagi eoma!"

"Pagi manis!"

Melihat rumput laut Jimin langsung meletakan tasnya di kursi lalu menyiapkan Nasi. "Biar aku yang buat."

"Ne! Terimaksih sayang!"

Sementara Jimin membuat nasi kepal, Yoseob menggoreng sosis dan merebus sayuran. Jimin adalah gadis yang baik dan rajin. Yoseob sangat bersyukur memiliki anak perempuan seperti Jimin. Gadis yang sangat membantunya dalam mengerjakan tugas rumah. Yoseob tak pernah meminta bantuan Jimin, tapi puterinyalah yang akan tiba-tiba muncul sendiri untuk membantunya, dan membuat pekerjaannya terasa lebih ringan.

"Hari ini jadwal club dancemu kan? Kau akan pulang malam lagi?"

"Ne! Kami harus menang, terlebih Sungjae sunbaenim akan fokus dengan ujian akhirnya. Maka kemungkinan akan ada pergantian ketua."

"Semoga kau menjadi ketua klub berikutnya."

"I wish!"

Doojoon turun dari tangga bersamaan dengan Yoongi yang keluar dari kamarnya. Lalu Woozi menyusul di belakang Doojoon.

"Morning Honey! Waaah! Lihat dua bidadari disana, begitu menyilaukan saat menyiapkan sarapan di dapur."

Doojoon melihat Yoongi dan langsung merangkul pundak pemuda itu. "Bukankah wanita yang pintar memasak memiliki daya tarik yang lebih? Jimin cantik ketika di dapur bukan?"

Yoongi tersenyum mendengar apa yang Doojoon katakan. Yoongi tau ayah Jimin itu sedang menggodanya. "Jimin selalu terlihat cantik."

"Ohooo! Kau dengar itu Park Jimin? 'Jimin selalu terlihat cantik' ha ha ha. Aku tak tau kau pria yang pintar merayu Yoongi-ah!"

"Appa jangan menggodaku! Ini masih terlalu pagi."

Yoseob menyenggol lengan puterinya ikut mengolok-olok puterinya "Dia memujimu cantik."

"eoma hentikan!"

"Lihat wajah gadis itu. bahkan ia tak bisa menyembunyikan wajah merahnya karena malu."

"Itu karena Appa menggodaku!"

"Aku yang menggodamu? Bukankah yang bilang kau selalu terlihat cantik itu Yoongi?"

Jimin menatap Yoongi yang tersenyum padanya. Jimin kembali tersipu.

"Aigooo! Jimin bahkan tak bisa menatap senyuman yang diberikan oppanya."

"Appa diam! Jangan membuatku semakin malu."

Woozi yang mendengar orang tuanya menggoda kakak perempuannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Pagi yang selalu berisik di keluarhga Park adalah hal yang tak pernah membuat Woozi mengerti. Meskipun ia adalah bagian keluarga Park yang ramai, entah kenapa ia tak pernah bisa menyesuaikan diri dengan kehebohan keluarga mereka.

Jimin sarapan dengan cepat karena tak tahan dengan appanya yang terus saja menggodanya dengan Yoongi. Jimin keluar rumah dan buru-buru menuju halte bus. Jimin hanya ingin menjauh dari rumah secepatnya. Ia tak sanggup melihat Yoongi jika appanya terus menggodanya seperti itu.

"Memalukan sekali!"

Jimin duduk dan ketika ia menoleh, ia tercekat melihat Yoongi yang ada disampingnya. "Oppa?"

"Hm?"

"Sejak kapan oppa disini?"

"Sejak aku mengikutimu keluar rumah!"

"E?"

"Aku akan ke institut dan kita searah bukan?"

"Iya."

Pagi hari bis selalu penuh sehingga ia dan Yoongi harus berdiri. Saat bis jalan Jimin kehilangan keseimbangan dan Yoongi memegang lengan Jimin agar tak terjatuh.

"hati-hati!"

Bis di dominasi oleh siswa Danwon, dan halte berikutnya adalah tempat dimana Taehyung menunggu bis. Jimin bisa melihat sahabatnya itu mencoba masuk, ia ingin memanggil Tae tapi ia merasa bis semakin mecekiknya, membuat Jimin dan Yoongi semakin menempel. Wangi parfum Yoongi bisa Jimin cium di jarak yang sedekat itu. Jimin hanya diam di dekat Yoongi sampai halte berikutnya penumpang semakin berdesakan.

"Apa bus selalu penuh seperti ini?"

"Ne!"

Yoongi melihat pria di dekat Jimin semakin menempel pada Jimin. Bagi Yoongi itu bukanlah hal baik. Yoongi menoleh ke dibelakang dan melihat gadis yang berseragam sama seperti Jimin. Yoongi menukar tempatnya berdiri dengan tempat Jimin. ia tak mungkin membiarkan Jimin bersentuhan dengan pria yang tak dikenal. Bisa saja orang yang kini dibelakangnya itu melakukan hal yang tidak-tidak pada Jimin. Sedangkan Jimin hanya diam dengan perlakuan Yoongi, ia tau maksud yang oppanya lakukan saat menukar tempat.

"Gumawoyo!"

"Apa selalu seperti ini?"

"Mau bagaimana lagi. Inikan bus!"

"Jam berapa pelajaranmu berakhir?"

"Entahlah! Mungkin agak malam. hari ini aku ada latihan!"

"Kabari oppa sejam sebelum latihanmu berakhir."

"weo?"

"Aku akan menjemputmu! Apa lagi!"

Lipatan muncul di kening Taehyung ketika melihat Jimin sedang mengobrol dengan seorang pria. Taehyung yakin pria itu adalah Min Yoongi. Seorang pria yang sering Jimin ceritakan, dan Jimin idamkan. Taehyung terkikik melihat kuping Jimin yang terlihat merah. Begitu sampai di halte depan sekolahnya, Taehyung turun lebih dulu karena ia memang berdiri dekat pintu, ia tak langsung masuk tapi diam di dekat papan reklame halte. Tangannya ia lipat sembari menunggu sahabatnya, ia sangat siap untuk menggoda seorang Park Jimin. Ketika gadis yang ditunggu taehyung Turun, Mata mereka bertemu. Jimin tersipu ketika melihat Taehyung yang memincingkan matanya penuh maksud.

"Aigoo! Lihat siapa pria tampan di bus yang mengobrol sangat dekat sampai hampir berciuman?"

"Sttt! Aku sudah cukup diolok-olok oleh appaku. Jantungku sudah tak stabil kau jangan membuatnya semakin tak karuan."

"Ceritakan padaku apa saja yang terjadi di rumahmu?" Taehung membuka mulutnya lebar begitu menemukan fakta tentang berbagai kemungkinan dalam otaknya "Jangan katakan kamarnya bersebelahan denganmu."

"Aku juga berharap begitu tapi, kau tau sebelahkukan kamar Woozi. Jadi Oppa tinggal di lantai bawah."

"itu bagus!"

"Apanya yang bagus!"

"Kalau kamar kalian berjauhan, itu menjauhkan kau dari tindakan tidak bermoral."

"Yack! Jaga bicaramu!"

"Kau tidak boleh hamil sebelum lulus!"

Taehyung mengeluarkan lidahnya untuk mengolok-olok Jimin lalu berlari. Jimin yang geram tentu mengejar sahabatnya. Ia berencana memukul kepala kotor gadis chic bernama Kim Taehyung.

"Yack! Kim Taehyung Kemari kau bocah!"

...

Seoul Institute of Art _

"Dimana aku bisa mendapatkan formulir registrasi ulang"

"Benar disini! Kau ambil regular atau jalur khusus?"

"Khusus!"

"Apa kau membawa formulir pendaftaran dan slip pembayaranmu?!"

"Ya! Ini!"

"Tunggu sebentar ne!"

"Baik!"

BRUK

"Aw!"

Mendengar keributan Yoongi melirik sumber suara tersebut. Disana seorang gadis terjatuh dengan tumpukan map berserakan di sekitarnya. Yoongi tentu saja tak diam, ia mendekati gadis itu dan membantunya memungut buku jurnal yang berserakan dilantai. Yoongi menaling gadis itu berdiri dan ia bisa melihat heels patah gadis itu.

"Aw!"

"Duduklah disana!"

Yoongi mengalungkan tangan gadis itu ke pungdaknya untuk memudahkan gadis itu berjalan. Begitu Yoongi membantu gadis itu duduk, barulah Yoongi memberikan buku-buku yang ia pegang pada gadis itu.

"Terimakasih banyak."

"Kau terkilir!"

"ne!"

"Jika kau mengizinkan!"

Yoongi menunjuk kaki gadis itu, meminta izin untuk menyentuh kakinya. Gadis itu mengerti dan mengangguk saja.

"Ini akan sakit! Kau tahan ya!"

Yoongi melepas sepatu gadis itu. Yoongi memutar pergelangan kaki gadis itu perlakan dan gadis itu mulai meringis kesakitan.

"a- appo! Aku tak yakin bisa menahan sakitnya."

Crek

"A!"

Gadis itu teriak lalu mengigit bibirnya. Yoongi baru saja menarik pergelangan kaki gadis itu, dan membuat gadis itu meneteskan air mata dari manik indahnya. Ini pertama kalinya Yoongi melihat wanita yang memiliki aura sangat feminim seperi seorang dewi.

"Itu sakit sekali!" ucap gadis itu menahan tangis.

"Setidaknya itu tak akan membengkak! Kau masih tetap harus ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih!"

"Terimakasih! Aku Kim Seokjin! Kau mahasiswa baru?"

"Ne! Namaku Min Yoongi."

"Terimakasih banyak atas bantuanmu! Senang berkenalan denganmu!"

"JINIE!"

Belum Yoongi menjawab, seorang laki-laki berteriak memanggil Jin dan berlari ke arah mereka.

"Ken!"

"Ada apa? Kau baik-baik saja? "

"Aku terkilir! Ini sakit sekali!"

Pria bernama ken itu berjongkok membelakangi Jin. "Naiklah! Ayo kita ke dokter!"

"Tapi makalahnya!"

"Kita bisa urus nanti!"

"Andwe! Profesor Oh memintaku mengumpulkan semuanya dimejanya siang ini."

"Kalu begitu biar aku taruh kesana!" Ken melihat Yoongi "Nugu?!"

"Min Yoongi dia orang yang membantuku!"

"Min Yoongi imnida!" Yoongi menunduk memberi hormat pada pria bernama ken itu.

"Panggil saja aku Ken! Kau mahasiswa baru?"

"Ne!"

"Mengambil perogram apa?"

"Komposisi!"

"Waw! Maestro!"

Yoongi tersenyum

"Aku akan ingat namamu!"

Yoong mengangkat halisnya. Ia langsung teringat ospek. Ken pergi meninggalkan Yoongi yang masih bengong tak mengerti.

"Dia ketua dewan mahasiswa Jurusan Musik, dan Aku wakilnya."

Yoongi diam, ia berfikir kalau pria bernama ken itu adalah kekasih gadis di depannya.

"Kau pasti berfikir ken pacarku bukan?"

Yoongi tersenyum canggung, seolah fikirannya dibaca.

"Ken dan aku sahabat sejak kecil. Kami sangat dekat sampai orang-orang menyangka kami pacaran."

Yoongi mengangguk, ia menunduk, menahan senyum. Ia mengingat hubungannya dengan Jimin yang juga sahabat sejak kecil.

"Min Yoongi hakseng!"

"Aku harus kesana!"

"ne! Terimakasih lagi!"

"Anio! Itu bukan apap-apa!"

Suara seorang petugas kemahasiswaan memanggilnya. Yoongi langsung berlari kecil menuju loket "Ini kartu mahasiswamu. Kartu kredit mahasiswamu bisa kau ambil di bank!"

"Terimakasih!"

...

Jimin mengganti pakaiannya dengan pakaian training ketika latihan. Saat Jimin hendak memasukan seragamnya ke tas, ia mencium sesuatu yang beda dari jas sekolahnya. Jimin menciumnya lalu otaknya merespon cepat bahwa itu parfum oppanya. Jimin ingat mereka tadi berdesakan di bis dan tubuh mereka bersentuhan. Maka parfum Yoongi pasti menempel dari sana.

"Jimin!"

"Ne ?"

"Hari ini aku ada les kau koordinasi latihan kali ini ya! Terimakasih!"

Belum sempat Jimin menjawab seniornya itu sudah menghilang dari lorong. Jimin cemberut, ia menutup lalu mengunci pintu lokernya. Seniornya itu mulai sibuk dengan ujiannya dan kini dia menjadi ketua yang sedikit tidak bertanggung jawab. Sebenarnya tak masalah bagi Jimin mengkoordinasi latihan koreo tapi yang menjadi masalah adalah karena seniornya itu terlalu sering meminta bantuannya.

"Jika seperti ini harusnya aku langsung diberi jabatan sebagai ketua klub tanpa syarat."

Dengan malas Jimin berjalan menuju ruang latihan. Jimin sempat melihat Taehyung sedang berfoto bersama klub cheersnya. Mereka adalah segerombolan gadis chic dan Jimin bukan salah satunya meski ia dan Tae berteman.

...

Yoongi berjalan-jalan di kota setelah keluar dari bank. Ia berniat membeli sepeda seperti yang orang tuanya sarankan. Mengingat kejadian di bis yoongi memutuskan untuk membeli sepeda yang memiliki boncengan agar ia bisa membonceng Jimin.

"Aku ingin sepeda yang kuat dan bisa berlari cepat meskipun dipakai dua orang."

Begitu sang penjual menunjukan satu prodak terbaik yang mereka punya Yoongi tak pikir panjang. Ia tak peduli dengan harganya yang mahal, yang penting ia bisa membonceng Jimin dengan nyaman.

"Anda terlihat mementingkan kursi belakang sepeda, Apa anda membelinya untuk berboncengan dengan kekasih anda?"

"Anggap saja begitu"

"Bagaimana dengan tambahan aksesoris sepeda? Sebuah bantalan yang empuk untuk dipasang di kursi belakang?"

"Aku ambil itu"

...

"Guys! Sungjae Sunbaenim sedang ada jam tambahan dan dia memintaku mengkoordinasi tarian. So, lets do this!"

Jimin bengong di depan pintu mendengar penuturan Mei Qi. Jimin menatap ke lorong untuk membuang muka. Siang tadi Sungjae memintanya menggantikannya, Jimin mendengarnya dengan jelas. Tapi sekarang,,, ia tak mengerti kenapa Mei Qi mengatakan dia akan mengkoordinasi latihan hari ini.

"Jimin-ah! Cepat masuk barisanmu!"

"Ne!"

Jimin meletakan tas dan langsung masuk barisan. Konsep dancenya ada mix akrobatik dan Jimin menjadi wings bersama Cheng Xiao. Dimana mereka akan melakukan salto saat flyer melakukan lompatan dari atas. Mei Qi adalah flyernya karena dia yang memiliki badan mungil dan dia mantan anggota cheer. Jimin dan Cheng Xiao saling pandang.

"Bagaimana bisa flyer mengkoordinasi semuanya?!"

Cheng Xiao bertanya pada Jimin dan Jimin hanya menggeleng. Memang benar, Flyer adalah kunci dari koreo dan butuh konsentrasi penuh. Bagaimana Mei Qi akan mengkoordinasi sementara dia di atas sana. Jimin hanya menggeleng dan geram dalam hatinya. Ia tak bisa membiarkan Sungjae yang mulai tak bijak dalam mengambil keputusan. Ia merasa terhianati hari ini. Hal yang pasti dalam kandidat terkuat dance mereka adalah Sungjae, Jun, Jimin, Cheng Xiao, dan Mei Qi. Hal yang semua orang tau Jika Sungjae turun maka hanya ada Jimin dan Jun yang akan menjadi penggantinya.

...

Langit sudah berubah warna menjadi lebih kekuningan. Yoongi mulai siap dengan kameranya. Orang-orang sudah berdatangan dengan pakaian yang terlihat rapi. Jika orang-orang membawa kamera untuk selfie, hanya Yoongi disana yang mengambil gambar landscape. Sampai Langit menjadi gelap, lampu-lampu kota yang lebih terang dari bintang menyinari kota, Yoongi melirik jam tangannya. Sudah pukul 06:02, harusnya Jimin sudah pulang. Yoongi mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Jimin.

Jimin sedang beristirahat. Hal yang biasa mereka lakukan setelah latihan adalah mereview gerakan, menonton video latihan dan mengoreksi setiap gerakan yang kurang dari setiap member. Merasa ponsel di tasnya bergetar Jimin melihat siapa yang menelfon, itu Oppanya. Jimin tersenyum. Jimin memasukan ponselnya dan pergi keluar untuk mengangkat panggilan dari Yoongi.

Jimin kau sudah selesai latihan?

Sudah tapi kami sedang mereview latihan dan biasanya akan lama.

Aku akan menjemputmu!

"Menjemputku?!" 'Dengan apa?' Jimin teringat kejadian di bus. 'Oppa akan mengantarku dan melindungiku dengan cara yang sama seperti berangkat tadi? Ooooh Romantsnya.'

Aku akan menunggu!

Jimin mencium ponselnya. Ia tertawa seperti orang gila, Jung yang melihat Jimin tertawa sendiri berfikir kalau Jimin sudah gila.

"Anggota klub tak akan memilihmu jika mereka tau kau gila Park Jimin."

Jimin menoleh melihat Jun. Ia hanya tersenyum lalu masuk ke dalam ruang klub dance. Jimin duduk lalu mendengarkan Mei Qi mengkoreksi masing-masing gerak tubuh angota klub yang terlihat kurang power. Jimin sebenarnya tak peduli, ia hanya ingin memikirkan oppanya. Saat pesan masuk dari Yoongi yang mengatakan ia sudah ada di depan sekolah Jimin, seketika meeting menjadi sangat lama.

"Baiklah! Hari ini cukup sampai disini."

Begitu kata-kata itu terdengar Jimin langsung memasukan botol minumannya ke tas lalu pergi. Tapi mengingat Jimin yang berkeringat, ia mencium tubuhnya sendiri dan mendengus. Jimin kembali lagi ke dalam gedung untuk pergi ke toilet. Ia tak bisa bertemu Yoongi dengan penampilan lusuh dan bau keringat seperti ini. Jimin mengeluarkan seragamnya.

"Tidak! Jika aku memakai seragam akan lebih aneh."

Jimin selesai latihan dance bukan les. Maka akan aneh Jika Jimin keluar dengan seragam sekolahnya. Menemukan lotion di tasnya, Jimin memakainya untuk mengurangi bau lalu ia merapikan rambutnya, dan setelah selesai barulah ia keluar. Langkah Jimin terhenti, senyumannya hilang begitu melihat tawa teman klub dancenya dengan Min Yoongi.

"Mwoya?!"

Yoongi berhenti tertawa dan tersenyum menatap Jimin. Jimin kembali melangkah dengan mood yang sedikit buruk. Ia ingin sekali menendang satu persatu teman seklubnya. Menyingkirkan mereka dari oppanya. Jimin menggandeng lengan Yoongi agar teman-temannya tau bahwa Yoongi miliknya.

"Oppa kau sudah menunggu lama?"

"Tidak!"

"Oppa kami duluan ya! Sampai bertemu lain kali!"

"ne!"

'Lain kali pantatmu! Mereka menyebalkan! Berani sekali memanggil oppaku dengan sebutan oppa!'

"Kenapa mereka akrab sekali dengan oppa?"

"Tidak Tau!"

'Tidak tau apanya! Aku melihat oppa tertawa bersama mereka.'

"Ayo"

"Oppa sepeda ini?"

"Aku membelinya!"

"Oppa membelinya? Itulah kenapa oppa menjemputku?!"

"Oppa tak suka kau berdesakan seperti kemarin, jadi mulai besok kita naik sepeda ini bersama."

Jimin menutup mulut dengan kedua tangannya, agar tidak berteriak karena terlalu senang.

"Oppa!"

Yoongi memegang tengkuknya karena malu ditatap Jimin yang terlihat tersanjung dengan perlakuannya.

"Naiklah!"

"Ne!"

...

'Seobie Appa masuk rumah sakit.'

"Apa katamu? Berikan penjelasan lebih jelas!"

Doojoon menatap isterinya meminta penjelasan. Yoseob menjawab dengan gelengan kepala karena ia belum tau persis apa yang terjadi.

'Appa terjatuh ketika akan pergi memancing. Keadaannya kritis dan eoma juga sedang tak sehat karena shock. Bisakah kau kemari Seobie? Keadaan disini sangat kacau! Aku tak bisa menjaga eoma dan appa bersamaan.'

"Aku akan memberi tahu suamiku dulu!"

'Cepatlah kemari!'

"ne! Aku tutup telfonnya!"

'ne!'

"Apa yang terjadi?"

"Appa Kritis dan eoma sakit. Eonie memintaku kesana bagaimana ini?!"

"Kalau begitu kita pergi besok pagi!"

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?!"

"Aku bisa meminta cuti sehari."

"Haruskah kita mengajak Jimin dan Woozi Juga?!"

Doojoon terlihat berfikir. Membuat kedua anaknya izin dan melibatkan masalah keluarga dalam konsentrasi belajar mereka bukanlah kepurusan yang bijak.

"Aku rasa tidak perlu. Lagipula aku akan kembali dalam sehari sementara kau tetap disana."

"Kau yakin akan mengurus rumah untukku?!"

"Percayalah padaku sayang! Kita punya dua anak baik dan bertambah satu pria jenius. Kami bisa mengurus rumah dengan baik nantinya."

Meskipun ia membenarkan perkataan suaminya, tapi Yoseob masih khawatir untuk meinggalkan suami dan anaknya untuk mengurus rumah. Ia khawatir mereka akan mengalami banyak kesulitan karena tak ada Yoseob. Tapi ia tak punya pilihian. Ia harus pergi ke busan besok pagi. Meninggalkan anak-anaknya sendirian seharian di rumah.

.

.

.

Tbc

.

.

Lama update ya? Maaf!

Kalian ngerasa ada yang aneh dengan Chapter ini. (Garuk-garuk kepala)