Anyyeonghaseyo, kembali dengan aku~ Trisha! Aku disini mau share ff aku. Thanks to, teman aku, Farah dan Vero. Dia yang bantu aku kasih saran di ff ini. Hehehehe.

Oh iya, fanfiction ini masih bergenre hurt/comfort kok. Di fanfiction ini, kalian bisa tau gimana rasanya harus milih dua hati. Dan keduanya sama-sama mencintaimu. Kalian bakal milih yang lebih tampan? Masalahnya disini muka mereka sama, gimana tuh?

Cast:

Park Chanyeol

Park Dobi

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Xiao Luhan

Oh Sehun

Dan pemeran lain sesuai jalan cerita^^

Pair:

ChanBaek

DobBaek(?)

HunHan

WARNING!

Typo dimana-mana hohoho, dan masih kaya cerita sebelumnya. Ini ceritanya transgender/genderswitch. Aku nggak akan tega liat bias aku yaoi, meski aku kadang suka baca ff yaoi(?) hahahaha

Oh iya, if you don't like, please don't read:)

Bash aku nggak apa-apa asal jangan bias aku. Oh iyam read and reviews ya:)

Summary:

Cinta dua hati tak sesederhana itu. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Sangat sulit ketika kamu harus memilih diantara dua hati yang sama-sama kamu cintai. Apa kau akan memilih yang lebih tampan? Masalahnya disini muka mereka sama. Bagaimana? / Chanyeol, Baekhyun, Dobi, ChanBaek, Baekyeol

Note:

Mungkin saat ini judul dan ceritanya mulai mirip. Hahahaha. Ini aja bingung mau kasih judul apa -_-v

.

LET'S READ!

.

.

.

~Author POV~

Bandar udara tampak begitu ramai, hampir memenuhi berbagai sudut. Banyak orang yang berlalu-lalang dengan panik, banyak pula yang biasa saja. Semua sibuk dengan sendirinya.

Pagi ini Chanyeol tidak dapat menemani Baekhyun menuju Busan. Tentunya karena Chanyeol ada job pagi ini juga. Dan Baekhyun sudah memahami, sudah mengerti, dan sudah hafal dengan semua hal yang harus Chanyeol lakukan.

Meskipun tidak datang, namun Chanyeol telah menyiapkan sarapan, menyiapkan pesan-pesan sebuah peringatan pada Baekhyun. Termasuk ucapan, "Jangan menyukai namja disana, sebelum kau meminta persetujuanku, mengerti?!" dan Baekhyun tersenyum dan cukup terhibur dengan kalimat itu.

Sesekali Baekhyun melihat layar handphonenya. Disana terdapat wajahnya tengah ber-action bersama Chanyeol, tampak seperti sepasang kekasih.

Busan terlihat indah kala Baekhyun datang. Terdapat taman bunga yang begitu banyak bunga dan tersusun dengan apik. Baekhhyun tersenyum. Yang ia bayangkan adalah dua minggu kedepan ia akan menikmati Busan ini. Kota yang cukup jauh dari polusi.

Ketika lampu lalu lintas menunjukkan angka merah, taksi yang Baekhyun tumpangi berhenti. Banyak orang yang menyebrang di bawah lampu lalu lintas. Dengan selintas Baekhyun melihat Chanyeol, maaf maksudnya namja yang mirip sekali dengan Chanyeol. Baekhyun tak berhenti menatap namja itu. Chanyeol? Tanyanya dalam hati.

Tetapi namja itu membawa tongkat yang ia ketukan di aspal. Tongkat yang mengarahkan kemana namja itu pergi. Dia buta? Tanya Baekhyun lagi dalam hati.

Ketika lampu sudah berganti hijau, namja itu sudah menepi di pinggir jalan. Taksi yang Baekhyun tumpangi telah berjalan meninggalkan namja tersebut, namun pandangannya tetap pada namja itu. Baekhyun mengerutkan dahinya, "Tolong ke kiri sebentar," Baekhyun memilih untuk menepi di pinggir jalan.

Disana Baekhyun menelpon Chanyeol, "Yeobosseyo…" ucap Baekhyun ketika sebelumnya Chanyeol mengatakan hal yang sama. Baekhyun melihat namja buta tadi, ternyata ia bukan Chanyeol. "Lanjutkan jalannya," perintah Baekhyun lagi pada supir taksi.

Baekhyun turun dari taksi tepat di depan sebuah rumah. Baekhyun mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian terdapat Luhan yang menyambutnya. Luhan adalah sahabat Baekhyun ketika mereka junior high school. Mereka bersahabat karib hingga saat ini.

"Annyeong, Luhan… Apa kabarmu?"

"Tentunya baik-baik saja, bagaimana denganmu?" jawab sekaligus tanya Luhan dengan membantu Baekhyun membawa barang-barangnya masuk ke dalam.

"Baik juga.."

"Kau sendirian?"

"Ne, sebenarnya Sehun malam ini akan kesini, namun mungkin tidak jadi, dia terlalu sibuk.." Luhan membicarakan Sehun, kekasihnya. "…Ah ne, bagaimana kabar Chanyeol? Baik?" Luhan mengenal Chanyeol dari cerita Baekhyun selama ini.

Jujur saja, Baekhyun memang sering curhat pada Luhan. Tentang sakit hatinya pada Chanyeol, tentang kerinduannya pada Chanyeol, dan lain-lain.

Baekhyun mengangkat satu alisnya. "Baik. Namun dia semakin sibuk, hheu.." Baekhyun meratapi nasib yang sedang dijalaninya. Ia menghembuskan nafasnya, seakan-akan tengah mengurangi penderitaannya.

Luhan merangkul Baekhyun dari samping. "Ah, sudahlah Baek... Selama disini kau tak boleh selalu terfikirkan Chanyeol. Kau harus bisa melupakannya. Hmm, bagaimana kalau malam ini kita makan di café langgananku. Disana selain makanan dan minumannya enak, terdapat pemain piano yang tampan dan juga jago bermain piano, kau tahu? Hebatnya, dia dapat memainkan nada-nada yang indah dalam keadaan BU-TA!" Luhan menekankan kata buta itu, seakan-akan kata buta memiliki kehebatan yang luar biasa.

Baekhyun mengerutkan dahinya, ia seakan-akan tak percaya. Namun ia mengangkat bahu dan memilih untuk acuh tak acuh, "Terserah kau sajalah, aku lelah.." Baekhyun mengeluh dan langsung mencari tempat tidur disana.

Dengan menaruh barang-barang Baekhyun, Luhan mengikuti langkah Baekhyun. "Baek, kau harus percaya. Kau pasti akan mengaguminya. Percayalah padaku, mukanya itu mirip sekali dengan artis terkenal, Baek.." Luhan membela namja yang ia sebut pemain piano itu.

Mengingat Baekhyun yang tidak mudah tertarik hati, ia malah melanjutkan tidurnya, dan mengacuhkan Luhan begitu saja. Luhan hanya cemberut dan menghembuskan nafasnya, ia sudah memahami kelakuan sahabatnya ini.

.

.

.

Malam ini juga Luhan ingin memamerkan namja yang ia sebut-sebut tampan dan jago bermain piano dalam keadaan buta itu pada Baekhyun. Merasa seperti disepelekan, Luhan semakin memaksa Baekhyun untuk duduk dekat dengan pemain piano, agar dapat melihatnya dengan semakin jelas.

Luhan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Seraya Luhan yang memesan makanan dan minuman, Baekhyun memilih untuk melihat-lihat suasana sekitar. Cukup ramai. Sepertinya benar kata Luhan, kalau makanan dan minuman disini memang enak.

Pandangan Baekhyun terpaku pada seseorang. Seseorang yang membawa tongkat yang ditepuk-tepukan pada lantai. Seseorang yang begitu mirip dengan Chanyeol, bagi Baekhyun. Pandangan Baekhyun tak lepas hingga akhirnya, "Baek? Kau ku pesankan makanan dan minuman yang sama, ne?" ucap Luhan.

Baekhyun hanya mengangguk dan kembali melihat arah namja tadi. Namun hilang. Namja itu sudah hilang dari tempat semula. Baekhyun mengerutkan dahinya, Sebenarnya siapa namja itu? Apa namja itu sama dengan namja yang kapan itu ku temui?

"Mungkin sebentar lagi, dia datang, Baek…" Ucap Luhan dengan melihat jam di tangannya. "Biasanya pukul segini dia sudah datang. Namun entahlah ada apa dengan hari ini,"

Baekhyun hanya mengangkat satu alisnya. Sungguh ia tampak benar-benar tak tertarik. "Hey, kalau kau ingin berkenalan dengannya, aku mau menemani. Aku cukup kenal dengannya, Baek…" ucap Luhan dengan mengedipkan matanya.

"Hah… Aku benar-benar tak tertarik, Luhan…" Baekhyun mulai kesal dengan kelakuan Luhan yang sedari tadi layaknya ingin menjodohkan Baekhyun dengan namja yang ia maksud itu.

Tiba-tiba alunan nada pelan, halus, lembut, sebuah piano terlantunkan tak jauh dari tempat Baekhyun dan juga Luhan duduk. "Nah, itu dia orangnya, Baek!" seru Luhan dengan menunjuk ke arah piano. "Dia begitu banyak yang mengagumi."

Benar saja banyak yang mengagumi, cara mainnya saja sudah terdengar benar-benar bagus. Baekhyun menoleh ke arah yang Luhan tunjuk. Baekhyun sedikit menyipitkan matanya. Kemeja yang digunakan namja itu persis sekali dengan namja yang mirip dengan Chanyeol. Dan…. Memang benar, namja itu namja yang Baekhyun fikir mirip dengan Chanyeol.

Benar-benar mengagumkan. Baekhyun hanya menganga tak percaya, selain karena gayanya benar-benar mirip Chanyeol, cara memainkan piano namja itu juga benar-benar istimewa, permainan terindah sejak Baekhyun lahir. Ia tak pernah mendengar instrument seindah ini.

"Siapa nama dia?" Baekhyun bertanya dengan mata masih tertuju pada namja pemain piano itu.

Tiba-tiba ia mendengar tawa Luhan yang pecah. "Ahahahaha, sudah ku duga. Kau akan tertarik padanya, Baek!" ucap Luhan dengan memukul pelan kepala Baekhyun.

Baekhyun mengusap kepalanya. "Ish, appo! Ani-ani.. aku tak tertarik padanya. Namun wajahnya itu memang benar-benar mirip dengan Chanyeol, Luhan…" Baekhyun mencoba meyakinkan Luhan.

"Mwo?!" Luhan sedikit tak percaya. Memang benar, namja itu mirip dengan seorang artis. Tapi apa mungkin artis itu adalah Chanyeol yang Baekhyun maksud? "Kalau memang Dobi mirip dengan Chanyeol, berarti betapa tampannya Chanyeol yang kau sukai ne? Ah tak salah jika kau mengagumi bahkan mencintainya. Kau mencintai Dobi versi tak buta, hmmm.. Sempurna"

Baekhyun mendekatkan mukanya pada Luhan. Ia menghembuskan nafas keras, membuat poni-poninya beterbangan. "Hey, kau salah focus, Luhan…" Baekhyun kembali ke tempat semula dengan muka jutek. "…tunggu-tunggu. Siapa nama namja itu? Do…Bi?"

"Ne, Dobi. Park Dobi..."

"Mwo? Mereka memiliki nama marga yang sama, hm… Mungkin mereka kembar? Hahaha"

"Hahaha, bisa jadi…"

"Kau mau 'kan ku kenalkan dengannya?" tanya Luhan dengan menarik tangan Baekhyun. Tanpa persetujuan Baekhyun, Luhan berjalan menuju Dobi ketika pekerjaannya sudah selesai. Tak dapat berlaku apa-apa, ia hanya dapat mengekor Luhan di belakangnya.

Dobi tersenyum seraya membalas tepukan pada pundak Luhan setelah Luhan melakukan hal yang sama terlebih dahulu. "Hey, Dobi… Ini aku dan temanku, Baekhyun.."

Dia kembali tersenyum. Senyumannya mirip sekali dengan Chanyeol, dan hal itu semakin membuat Baekhyun terperanjat kagum padanya. Kalau dilihat dari jarak dekat, bahkan Dobi tampak tak ada bedanya dengan Chanyeol.

"Hai, Baekhyun!" sapa Dobi ramah tentunya dengan tersenyum. Namun pandangannya tak terarah pada mereka, tentu saja, saat ini ia sedang buta.

"Hey, Dobi!" Baekhyun tersenyum meski Dobi tak mengetahui senyumannya. "Menurutku, kita harus berbincang lebih. Ah, aku memiliki teman yang jago sekali menyanyi. Dan kau jago sekali bermain piano. Ku fikir, kalau kalian duet, kalian akan terlihat sempurna." Baekhyun tersenyum masih kagum karena permainan piano Dobi tadi.

"Kau mau kan?" tawar Baekhyun lagi meyakinkan.

Dobi tersenyum lalu tertunduk. "Aku sangat ingin sekali, tapi kau tahu 'kan aku memiliki kekurangan yang….fatal." Wajahnya kembali ke arah atas. Sebenarnya ia sudah bisa menerima kebutaannya, namun ia masih belum bisa percaya diri dengan kebutaannya.

"Ayolah, kau benar-benar berbakat. Sayang sekali kalau kau melewati kesempatan ini, Dobi…" pinta Baekhyun sedikit memohon.

Merasa tak dianggap, Luhan memilih untuk pergi dari mereka, ketika melihat Sehun ternyata datang menemuinya. Sebelumnya Luhan sempat mendekat pada Dobi dan membisikkan sesuatu, membuat Baekhyun mengerutkan dahinya. Entah apa yang dikatakannya, "Haha, kau ini ada-ada saja." Dobi tertawa kecil dan ditambah dengan mengusap-usap rambut Luhan.

"Hey, Dobi! Bagaimana? Kau mau tidak? Mau ya-ya-ya?" tanya Baekhyun lagi. Ia menyipitkan matanya, mengerutkan dahinya dan menyatukan kedua alisnya, ditambah dengan menyatukan telapak tangan di depan mukanya, dengan maksud memohon. "Ayolah…"

"Ku fikir-fikir lagi ya, besok akan ku beritahukan padamu?" Tawar Dobi pada Baekhyun, kemudian Baekhyun mengangguk senang. Setidaknya ada harapan, batin Baekhyun.

"Baiklah, aku jadi tak sabar untuk hari esok." Baekhyun tersenyum. Ia benar-benar merasakan sosok Chanyeol kini ada di hadapannya, bahkan sempat terlintas di fikiran Bakehyun kalau namja di hadapannya ini adalah Chanyeol yang berpura-pura buta hahaha, mustahil.

Dobi ikut tersenyum. Sebenarnya ia sangat belum percaya diri untuk menampakkan dirinya pada dunia dengan kebutaannya ini. Namun ia berfikir dua kali, kalau saja ia dapat menunjukkan bakatnya pada dunia, mungkin saja ayah dan ibunya disana akan senang dan dapat menerimanya kembali. Dobi tersenyum sendiri membayangkan itu semua.

Lamunan Dobi pecah ketika terdapat seseorang yang tiba-tiba bersuara di dekatnya, "Hey, Baekhyun, Dobi. Aku akan berkencan dengan Sehun. Ku harap kalian bisa mengenal lebih dekat okay?" Luhan datang ke arah mereka.

"E-eh t-tapi aku mau pulang, Luhan… Aku lelah." Aku Baekhyun sedangkan Dobi hanya terdiam.

"Huh, kau ini.. Baiklah ini kuncinya. Rumahku dengan Dobi tak begitu jauh. Lebih baik kau pulang bersamanya saja. Malam-malam tak baik untuk gadis berjalan sendirian, Baek…" saran Luhan dengan memberikan kunci rumahnya.

Luhan melihat dahi Dobi yang sedikit berkerut. "Uhm, setelah ini kau tak ada acara kan, Dobi?" tanya Luhan meyakinkan.

"Tidak.." Dobi tersenyum.

Hah, lenyap sudah waktu Baekhyun untuk berjalan-jalan sekitar Busan. Padahal ia ingin pulang sendiri agar ia dapat berjalan-jalan. Tapi kalau kejadiannya seperti ini, Baekhyun kan malu untuk mengajak Dobi jalan-jalan. Bagaimanapun juga mereka baru saja bertemu. Apalagi tadi ia sudah memaksa Dobi untuk bekerja sama dengan Chanyeol, masa iya dia juga memaksa Dobi untuk menemaninya berjalan-jalan.

Tak lama kemudian Luhan dan Sehun pergi meninggalkan Dobi dan Baekhyun. Baekhyun semakin menghembuskan nafasnya. Kala ini dia justru canggung dengan suasana seperti ini. Jelas saja, mereka belum juga satu jam kenal, sudah ditinggal berdua saja.

"Baek, mengapa kau diam saja? Luhan pernah menceritakanmu, kata dia kau adalah yeoja yang cerewet." Ucap Dobi menghapus keheningan di antara mereka.

Baekhyun mengangkat satu alisnya, mencoba memikirkan ulang apa yang dikatakan Dobi. "Dia berkata seperti itu? Hah, jeongmal…" jawab Baekhyun dengan mendengus kesal.

Dobi tertawa. "Jadi kau mau pulang kapan, Baek?"

"Sebenarnya aku ingin jalan-jalan dulu, tapi ku fikir kau kelelahan. Jadi lebih baik kau pulang saja, dan aku berjalan-jalan sendirian."

"Kau yakin? Huh, kalau saja aku tidak bertanggung jawab atasmu, aku mungkin akan membiarkanmu. Tapi bagaimana jika nanti kau hilang? Aku bisa mati dibunuh Luhan.. Kau tahu kan sahabatmu itu benar-benar sadis.."

Baekhyun tertawa mendengar jawaban Dobi. Akhirnya keinginan untuk berjalan-jalan di Busan, terkabul.

Tangan Dobi masuk ke dalam kantung jaketnya, angin malam begitu dingin untuknya. Dobi lebih mengeratkan mantelnya mencoba lebih menghangatkan tubuhnya. Di sampingnya terdapat Baekhyun yang sejak tadi tak henti-hentinya menatap Dobi. Mulai dari ujung rambutnya hingga ujung dagunya. Wajahnya benar-benar mirip Chanyeol, bahkan tak ada bekas jerawat yang membedakan mereka satupun.

Dan persamaan dari mereka membuat Baekhyun merasa nyaman berada di samping Dobi. Kala itu, Baekhyun ingin sekali memeluk namja di sampingnya. Dan ia berharap namja yang di sampingnya adalah Chanyeol. Bagaimana pun juga ia juga merindukan sosok Chanyeol, yang hampir tak pernah bertemu dengannya lagi.

"Luhan bilang, kau begitu menyukai lagu ballad….benarkah?" ajak bicara Baekhyun ketika ia sadar kalau diantara mereka memang benar-benar hening.

Di sampingnya, Dobi tertawa kecil. "Itu benar… Aku merasa hidupku sepaham dengan musik ballad. Hidupku penuh dengan kesedihan. Terkecuali, ketika aku bertemu sesuatu ataupun seseorang yang ku anggap bisa membuatku senang, aku akan memainkan lagu yang terdengar bahagia." Dobi tersenyum dengan jawabannya.

Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya dengan membentuk bibir huruf 'o'. Ia tersenyum mendengar jawaban Dobi. "Kau tahu? Kelakuanmu mengingatkanku pada seseorang, Baek…"

"Oh iya? Siapa? Mantan kekasihmu? Atau pacar semasa kecilmu?" Baekhyun tertawa dengan tebakannya.

Dobi tertawa kecil. "Tebakanmu benar-benar keluar dari sasaran, Baek…" Dobi kembali tertawa kecil, yeoja di sampingnya ini cukup membuatnya mengingat masa kecilnya dulu. "Tidak, dulu saat kecil, saudaraku pernah menceritakan teman baiknya. Sifat teman baiknya, benar-benar mirip denganmu, Baek…" masa-masa kecilnya kembali terlintas di fikiran Dobi. Ia tersenyum miris mengingat masa-masa kecilnya kembali, kesedihan itu kembali teringat.

Melihat perubahan air muka pada Dobi, Baekhyun ikut mengernyitkan dahinya. "Hey, kau kenapa? Kau memiliki masa kecil yang kelam?"

Dobi masih tersenyum miris. "Begitulah…"

Baekhyun meraih lengan tangan Dobi, lalu ia menyenderkan kepalanya di tangan kekar Dobi. "Ayolah, Dobi…. Semua itu sudah berlalu, kau sudah menjadi pemuda yang jago bermain musik. Bahkan sebentar lagi kau akan menjadi artis terkenal. Kau harus bangga dengan yang kau punya. Kalau memang masa kecilmu memang menyedihkan, ayolah itu semua sudah berlalu, sudah kau lewati. Lebih baik kau buat untuk pengalaman dan ambil pelajarannya, kau mengerti 'kan maksudku?"

Dobi mencoba tersenyum ke arah Baekhyun. "Benar kata Luhan, kau memang menyenangkan ketika diajak berbicara,"

Kini Baekhyun yang tertawa, "Kau ini… Bisa saja, hahaha" Baekhyun sedikit mencubit lengan Dobi. "Hm, jadi bagaimana? Kau mau bergabung bersama temanku? Suaranya benar-benar bagus. Jadi dia tak mungkin memperjelek cara bermain pianomu, Dobi…"

"Untuk masalah itu, biar ku fikirkan lagi besok, Baek…"

"Baiklah terserahmu…"

Busan terasa indah, bintang berkerlap-kerlip seakan mengerti bagaimana perasaan Dobi sekarang. Ia seperti menemukan kehidupan barunya, meskipun ia tahu, Baekhyun takkan selamanya ada di Busan, namun ia juga tak bisa terus-menerus menahan rasa yang bergejolak dalam hatinya, jantungnya yang sesaat berhenti dan langsung berdegup dengan cepat, tiap kali mendengar suara lembut Baekhyun, mungkin Dobi jatuh cinta pada Baekhyun. Cinta pertamanya.

Seseorang yang dapat membuat Dobi bercerita panjang lebar padahal belum juga 12 jam mereka kenal. Namun, Dobi sudah meyakini hatinya bahwa terdapat pandangan lain pada Baekhyun—meski ia tak dapat memandang Baekhyun.

Mereka berjalan-jalan tak begitu lama. Alasan utamanya karena Baekhyun yang sudah mengeluh karena mengantuk.

Dobi memakluminya karena ia tahu, baru juga tadi siang Baekhyun datang ke Busan.

~Author POV end~

.

.

.

TBC

.

.

.

Gimana? Ini baru perkenalan. Baca terus aja. Oh iya jangan jadi silent reader ya, aku juga pengen tau gimana respon kalian sama cerita buatan aku. Makasih ya:)