"Ayo pulang, Sasuke."
Frasa itu mengagetkannya, tapi yang lebih mengagetkannya lagi adalah tangan pria itu yang tiba-tiba meraih tangannya, lalu menggenggamnya segera tanpa memberitahunya lebih dulu. Sasuke mengangkat wajahnya, siap untuk membuka mulutnya dan marah pada pria itu—namun berhenti ketika melihat ekspresi wajahnya.
Pria itu tampak… begitu cemas sekaligus sungguh-sungguh di saat yang bersamaan. Ada sorot berharap yang begitu nyata yang muncul di mata hitamnya.
Sasuke hanya diam membeku.
Namun sejurus kemudian, pria itu melepaskan genggaman tangannya perlahan, dan melemparkan pandangan minta maaf padanya sebelum kemudian berjalan ke pintu. Sasuke yang masih terpaku di tempatnya berdiri langsung tersadar lagi ketika mendengar suara pintu yang diketuk.
Beberapa saat kemudian, Kushina muncul membuka pintu.
Pria itu mengisyaratkan dirinya untuk masuk ke dalam, yang diikuti oleh Kushina dengan perintah yang sama. Sasuke mengernyitkan keningnya heran pada perilaku keduanya yang tampak seperti sudah lama saling mengenal satu sama lain, namun menuruti permintaan Kushina tanpa berkomentar apapun.
Di dalam, TV sedang menyala—menayangkan acara kartun sore favorit Naruto, emm… ia juga menyukainya sih. Di karpet ruang depan, Naruto sedang duduk santai, pandangannya terfokus sepenuhnya pada layar TV dan ada setoples snack ikan yang terbuka di sampingnya. Sasuke menghampiri saudara tirinya itu, lalu mengambil tempat di sebelahnya.
"Hoi, Sasuke," Naruto mengalihkan pandangannya dari TV, lalu menatap anak berambut hitam itu dengan sorot ingin tahu. "Tadi itu siapa?"
"Oh," Sasuke terdiam sejenak, merasa enggan untuk memberitahu kalau orang itu adalah ayahnya karena tak ingin Naruto terkejut atau semacamnya, "itu hanya seorang kerabat jauh."
"Oh…" Naruto mengangguk, perhatiannya segera kembali ke TV lagi. Dalam hati Sasuke lega karena anak berambut pirang itu tidak bertanya lebih jauh, dan lega karena episode serial kesukaan mereka saat ini sedang begitu seru hingga bisa mendistraksi pikirannya.
Tapi sepuluh menit kemudian, Kushina kembali masuk ke dalam—dan memanggil Sasuke keluar.
Pintu ditutup lagi setelah itu.
"Sasuke, kau mau menginap di rumah…" Kushina melirik sekilas ke pria itu—yang disambut dengan gelengan kecil olehnya, "…Uchiha-san kan?" tanyanya pada Sasuke begitu anak itu telah sampai di teras.
Sasuke terdiam. Ia memandang pria itu dengan sorot bimbang, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke ibu angkatnya. Kushina hanya memberinya anggukan kecil.
Kali ini ia benar-benar yakin bahwa kedua orang ini sepertinya telah saling mengenal sejak lama.
"Tapi aku besok kan masuk sekolah, Okaa-san," kata Sasuke pada akhirnya. Kushina hanya tertawa kecil, sebelum kemudian menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Oh, Uchiha-san bilang ia akan mengantarmu berangkat ke sekolah besok," balasnya ringan. "Kau tinggal bawa seragam saja dari sini."
Sasuke mengalihkan pandangannya ke pria itu, yang memberinya anggukan kecil dengan senyum tipis di wajahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang hari Minggu sore, Sasuke," pria itu memberitahu dengan tenang. "Hari Sabtu kau libur, kan?"
Kushina segera mengiyakan bahkan sebelum Sasuke sempat menjawab.
"Nah, kalau begitu, ayo kita siapkan baju yang ingin dibawa," tukas wanita itu bersemangat. "Kau tunggu disini ya, Sasuke! Biar aku yang menyiapkan."
Dan Kushina segera berlalu ke dalam, lalu mengunci pintu—bahkan sebelum Sasuke sempat bereaksi apapun.
Sekarang tinggal dirinya berdua dengan pria itu lagi.
Sasuke menghela napas dalam hati. Ia tak tahu apakah ia harus merasa kesal atau bingung dengan hal ini. Sejenak ia ingin bertanya pada pria itu apakah ia telah mengenal ibu angkatnya dari dulu, namun menahan diri untuk mengatakannya dan pada akhirnya hanya diam.
Sepertinya pria di sampingnya juga bukanlah tipe yang periang dan suka mengobrol. Ketika Sasuke mengangkat wajahnya, pria itu hanya memberinya senyuman kecil dan tidak mengatakan apapun.
Hn. Ia berharap mudah-mudahan ibu angkatnya cepat kembali ke sini.
Harapannya terkabul. Beberapa menit kemudian, Kushina keluar dengan tas ransel di tangannya, lalu berkata ceria; "nah, selamat menginap, Sasuke!"
Naruto keluar beberapa saat kemudian, disambut Kushina yang terkejut sedikit ketika melihatnya. "Hei, Naruto! Kan sudah kubilang kau tunggu di dalam."
Anak itu hanya melempar pandangan merajuk pada Ibunya, sebelum kemudian menatap Sasuke dan pria di sebelahnya dengan sorot ceria. "Oh, jadi kau akan menginap di rumah kerabatmu, Sasuke?" ia menoleh ke arah Ibunya. "Kaa-san, aku ikut yaaaa?"
Kushina segera menggeleng tegas.
"Tidak, Naruto," katanya seraya menjitak kepala anak itu pelan. "Kau tetap di rumah. Lagipula kan kita besok mau pergi berenang," balasnya galak.
Naruto hanya merengut protes—namun beberapa detik setelahnya ia sudah kembali ceria lagi. "Ya sudah, deh," ia menoleh ke arah Sasuke, lalu tersenyum lebar. "Yah, sayang sekali kau tidak ikut berenang, hahaha!" ia tertawa seraya meninju pundak anak itu pelan dengan gestur bersahabat. "Dadah, Sasuke!"
Eh…
Sasuke mengernyitkan kening. Padahal ia belum mengiyakan kalau ia setuju untuk menginap, lho.
Namun Kushina segera menggiring dirinya ke gerbang—yang diikuti oleh pria itu dari belakang. Ia hanya mengikuti tanpa berkomentar apapun, dalam hati sudah tahu kalau ia tak akan menang bila berdebat dengan seorang Namikaze Kushina.
Mata hitamnya melebar sedikit dengan terkejut ketika menyadari alat transportasi yang digunakan pria itu.
Ia menaruh ransel di keranjang, membuka gembok dan menaikkan standar, lalu naik ke sadel dan mengisyaratkan Sasuke untuk duduk di kursi boncengan yang ada di belakangnya.
Sasuke hanya memandangnya dengan mata setengah membulat—namun segera mengernyitkan keningnya lagi.
"Kukira kau kesini naik motor atau semacamnya."
Pria itu menggeleng, lalu mengisyaratkan Sasuke untuk naik di belakang sekali lagi.
Sasuke menghela napas keras-keras, sebelum kemudian akhirnya naik ke boncengan sepeda itu. Ia membetulkan posisi duduknya hingga nyaman, dan diam menunggu.
Namun sepedanya tidak jalan-jalan juga.
Pria itu menoleh ke belakang seraya menatapnya dengan bingung. "Kau tidak pegangan, Sasuke?"
Sasuke hanya memandangi pria itu dengan sorot menolak. Ia ogah memeluk pinggang pria asing itu, terima kasih.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, seakan bingung dengan tingkah Sasuke.
"Kalau kau tidak pegangan, nanti jatuh."
Sasuke menatapnya dengan pandangan yang berkata, 'biarin!'.
Namun pria itu tak tampak kesal sama sekali atau semacamnya, dan sebagai gantinya membuka ransel Sasuke yang ada di keranjang depan.
Anak itu mengernyitkan keningnya bingung, sebelum kemudian memutuskan untuk bertanya. "Kau cari apa?"
Pria itu menoleh. "Kain yang panjang atau semacamnya."
Sasuke memicingkan matanya. "Buat apa?"
"Aku akan melilitkan kain itu ke pinggangmu dan mengaitkannya denganku supaya kau tidak jatuh."
Sasuke membelalakkan matanya begitu mendengar kalimat tadi. Cih, enak saja! Memangnya mereka berdua mau naik roller coaster, pakai sabuk pengaman segala.
Pria ini—ehm, maksudnya ayahnya, ternyata aneh sekali.
Sasuke menghela napas keras-keras, sebelum akhirnya menyerah dan berpegangan pada pinggang pria itu.
.
Sepeda melaju dengan lancar beberapa detik kemudian.
Sasuke terkejut ketika menyadari bahwa jarak yang mereka tempuh ternyata cukup jauh. Eh, sangat jauh, malah. Saat ini ia merasa mereka sudah berada di atas sepeda itu selama hampir setengah jam dan belum berhenti juga.
Sasuke mempertimbangkan untuk bertanya pada pria itu tentang berapa lama lagi mereka akan sampai, namun mengurungkan niatnya. Ia tidak mau pria ini menganggapnya kalau ia telah merasa familiar dengan dirinya. Hei, wajah mereka berdua memang memiliki kemiripan sih, kalau dipikir-pikir, namun bukan berarti Sasuke langsung menerima pria itu sebagai ayahnya.
Sejurus kemudian, pria itu menghentikan kayuhannya. Sasuke memandang berkeliling, dan mendapati kalau mereka berhenti di depan sebuah truk es krim.
Sasuke turun dengan ragu, memperhatikan pria itu memarkir sepedanya dan menghampiri penjual es krim itu.
"Kau mau rasa apa, Sasuke?"
Sasuke terkejut sedikit, tak menduga pertanyaan itu. Tapi ia menjawab juga pada akhirnya.
"Vanila."
Ia tak suka yang cokelat atau stroberi karena itu biasanya terlalu manis.
Pria itu memesan, dan beberapa detik kemudian ia menyerahkan satu cone es krim vanilla dengan taburan kacang pada Sasuke. Sasuke mengambilnya dengan ragu, sebelum kemudian menggumamkan terima kasih.
Ia memperhatikan kalau pria itu tak membeli es krim juga, dan sebagai gantinya membeli sebatang permen cokelat putih bertangkai untuk dirinya sendiri.
Sasuke mengernyitkan keningnya, namun tidak berkomentar apapun.
"Kau mau makan es krimnya disini atau sambil jalan saja?" Pria itu bertanya padanya. Sasuke segera memilih pilihan kedua. Lebih cepat sampai lebih baik.
.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan lagi setelah itu.
Di perjalanan, sepeda mereka terguncang keras karena ada sebuah undakan tidak rata di jalan—dan Sasuke tersentak ketika mendapati es krim yang dipegangnya terjatuh.
Dan mengenai punggung pria di depannya.
Ia terpaku.
Baka, baka. Sasuke buru-buru mengelap tumpahan es krim yang mengenai baju pria itu, mengabaikan cone yang kini sudah terjatuh ke jalan. Namun sepertinya yang terjadi adalah tumpahan es krim itu malah makin melebar dan kini menyerap ke baju pria itu.
"Ada apa, Sasuke?" pria itu bertanya tanpa menoleh ke belakang. Sasuke tersentak sedikit, namun berhasil menguasai dirinya lagi.
"Es krimnya tumpah ke bajumu."
Nada suaranya memang datar ketika mengatakan itu, namun sesungguhnya Sasuke sedang panik saat ini.
Pria itu menghentikan laju sepedanya. Sasuke tetap diam dengan napas tertahan, bersiap-siap jika pria itu akan memarahinya.
Namun tidak ada sesuatu yang heboh terjadi. Pria itu tampak mencari sesuatu yang ada di dalam keranjang, sebelum kemudian menoleh ke belakang dan menyerahkan permen cokelat yang tadi dibelinya ke Sasuke.
"Ini untukmu. Maaf ya, Sasuke, es krimnya jadi tumpah."
Eh?
Sasuke hanya melongo terkejut. Ia tak peduli bila ekspresinya terlihat konyol, namun ini benar-benar di luar dugaan.
"Kau… tidak marah?"
Pria itu menatapnya bingung, kerutan yang ada di bawah matanya tampak lebih dalam sedikit. "Kenapa harus marah?"
Sasuke tidak menjawab, dan sebagai gantinya hanya memutar-mutar tangkai permen yang dipegangnya itu seraya menundukkan kepalanya.
"Kau belum menjawab kenapa kau baru menemuiku setelah sekian lama ini," katanya tiba-tiba, sepenuhnya di luar topik dari keadaan yang ada sekarang.
Pria itu tampak terkejut sedikit, namun Sasuke tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena saat ini ia masih memandangi permen yang ada di tangannya dengan tidak fokus.
.
Sejurus kemudian, pria itu menjentikkan jarinya pelan ke dahinya—mengejutkan anak itu dari kontemplasi pikirannya segera. Sasuke mengusap dahinya dengan kesal, dan mendapati kalau pria itu tengah memandanginya seraya tersenyum lemah ketika ia mengangkat wajahnya.
"Maaf ya, Sasuke. Lain kali akan kujawab."
Ia segera berpaling ke depan, dan mengayuh sepedanya lagi setelah itu.
.
.
Bersambung….
A-N: terima kasih untuk Dka Darkness, yassir2374, dan Guest yang sudah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
