Title : FIREFLY

Chapter : 2

Cast : #Ryeowook #Donghae #Yesung #Kyuhyun #SuperJunior\

Pair : HaeWook / YeWook

Genre : #ShounenAi (soft yaoi) #Romance #Friendship

Disclame : milik saya seorang.

Warning : tak luput dari TYPO, No porn.

*jangan me-copy paste tanpa ijin*

*jangan bangga jadi plagiator*

*jangan tidak komen ya hehe..*

*jangan,, jhangan kelor... Yummy^^*

Cerita ini teruntukkan kepada seorang teman. Yang pernah memberikan kebahagiaan serta duka yang hingga kini masih ingin kunikmati sendiri.

Terima kasih atas pertemanan yang singkat itu. Aku selalu merindumu, teman.^^

Terima kritikan atas kepenulisan saya ya,, tapi tidak dengan hal lain.

########################################################################

"Kita teman kan?"

Entah kemana perginya kalimat itu. Kalimat yang seakan diserukan sebagai kalimat lain dari.. 'Jangan mencintaiku.'

Donghae sendiri yang memberi batasan itu. Donghae sendiri yang selalu mengulangnya. Tapi Donghae pula lah yang sering meniadakannya. Bahkan di saat malam itu.

Kemanakah kalimat itu? Apa terlupakan?

Pagi sudah terlewati. Matahari pun sudah meninggi. Tapi namja imut itu masih meringkuk di atas kasurnya. Enggan beranjak walau sinar mentari sudah memaksanya untuk bangun.

Sudah seminggu ini Ryeowook melewati harinya seperti itu. Tak melakukan apapun. Lebih memilih terdiam di kamarnya.

Ponsel yang terus berdering pun diacuhkannya. Ia hanya melirik saja lalu kembali mematung.

'Sang Kunang'

Itu nama yang tertera di ponselnya. Ryeowook tahu siapa yang menelponnya. Tapi ia sedang tak ingin diganggu siapapun. Siapa pun.

Tak lama setelah itu, Eommanya berteriak dari luar. kemudian masuk dengan membawa namja yang sudah seminggu ini tak ditemuinya.

"Donghae ah, apa kabarmu?" Tukas Ryeowook berdiri dari kasurnya.

Senyum di wajah itu mengundang keheranan dalam hati Donghae. Ryeowook bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ia baik-baik saja. Bahkan Ia memeluk Donghae.

"Aku merindumu." Ucap Ryeowook manja.

Wajah aegyo itu seakan menyihirnya. Hati Donghae merasa damai. Amarah yang tadinya siap ditumpahkannya, hilang dengan tiba-tiba.

Ryeowook terlihat lebih cantik jika ia tak memakai make up. Cantiknya yang natural. Walau Donghae merasa auranya sedikit berbeda.

"Ayo duduk." Ajak Ryeowook. Mereka pun kini duduk berdekatan di tepi kasur.

"Aku barusan menelponmu." Ucap Donghae.

Ya.. Donghae.

Sang Kunang yang tertera di ponsel Ryeowook itu adalah dirinya. Lee Donghae.

Bagi Ryeowook, Lee Donghae bagai kunang-kunang yang menemukan dirinya di lorong-lorong yang sempit dan gelap.

Donghae menemukannya dengan cahaya kecil yang ia punya. Dan tak disangkanya cahaya kecil itu jadi sangat berarti. Cahaya yang mampu mempengaruhi hidupnya. Yang kemudian meninggalkan bekas. Sebuah bekas kecil tapi begitu lekat.

Ciuman.

Sebuah ciuman yang tak terduga. Sebuah ciuman yang mengacaukan fikiran dan hatinya. Sebuah ciuman yang meruntuhkan keangkuhannya.

Ia kalah.

"Ah.. iya. maaf. Aku tidak tahu." Kilah Ryeowook. Padahal jelas dirinya tahu.

"Tapi aku menelponmu berkali-kali. Bahkan ratusan kali." Ucapnya sedikit lantang.

Donghae berusaha menahan amarah yang sudah dibendungnya selama seminggu ini.

Benar. Sejak Donghae menciumnya di malam itu, Ryeo tak pernah mengangkat telponnya dan itu membuat Donghae frustasi.

Donghae merindukannya setiap saat. Selalu memandangi layar ponselnya setiap 10 menit, berharap ada panggilan atau pesan dari Ryeowook. Sudah seperti orang gila. Tapi yang diharapkan tak kunjung menghubunginya.

"Ahh.. iya aku lupa. Maaf, tapi seminggu ini aku bersama kekasihku. Aku tidak enak jika mengangkat telponmu di depannya." Jawabnya santai.

Pernyataan itu membuat emosi Donghae kembali menguap. Sebisa mungkin ia menahan kekesalannya, tapi itu malah membuatnya terlihat kacau.

Donghae berdiri dan berputar-putar di depan Ryeowook. Untuk beberapa kali ia menarik nafas dalam, berharap ia sedikit tenang dan tak lepas kendali.

Bagi Donghae itu sudah jelas. Ryeowook memang terlihat biasa saja dengan wajah yang menampilkan senyum. Tapi yang sesungguhnya, itu hanya kepura-puraan.

Ryeowook marah. Tapi kenapa?

Malam itu memang hujan Deras. Banyak butiran air yang menetes di wajah Ryeowook. Tapi Donghae bisa membedakan mana air hujan dan air…

Air bening yang disentuhnya waktu itu terasa sedikit hangat dan itu jelas keluar dari pelupuk matanya.

Itu air mata. Ryeowook menangis. Dia menangisinya.

Itu menandakan bahwa ia terluka. Bahwa Ryeowook mencintai dirinya.

Kecuali.. ini juga kepura-puraan.

"Kau fikir hanya kau yang sakit? Aku juga sakit!" Jelas Donghae sedikit lantang.

Ryeowook menatapnya lekat. Ia menampilkan wajah heran dengan sedikit kening yang dikerutkan seakan bertanya 'ada apa denganmu?'

"Aku juga tak ingin begini. Aku sudah berusaha sebisaku untuk menghilangkannya Tapi aku kalah. Aku tak mampu. Aku tahu aku akan melukaimu. Maafkan aku. Maaf.. tapi aku... "

Sejenak Donghae menghentikan kalimatnya. Sementara Ryeowook hanya memandangnya tanpa Ekspresi. Sekali pun di depannya Donghae sudah terduduk lemas dengan airmata yang menetes di wajahnya.

Donghae menarik nafasnya dalam dan mencoba lebih tenang sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku mencintaimu, Ryeowook."

######################################################################

Suara musik beraliran Funky yang dimainkan DJ, memanggil jiwa-jiwa itu untuk bergoyang bebas di lantai dansa.

Suara-suara pedansa pun ikut riuh, meramaikan suasana.

Tempat itu sedikit remang. Tapi lampu embience di setiap sudut ruangan ditambah lampu sorot bewarna-warni yang berputar-putar cukup bagi seseorang bisa melihat kegagahan Namja dan kemolekan Yeoja yang memakai baju sexy.

Semua orang menari gila, Minum, berteriak atau apapun bahkan tak sedikit yang bercumbu mesrah di dalam sana. Itu sudah hal biasa bagi mereka.

Dan di antara dari mereka, Donghae terduduk di sofa bersama seorang namja bertubuh kekar, tinggi dan berkulit agak kecokelatan.

Mereka berciuman di depan banyak orang tanpa sungkan. Dalam keadaan setengah mabuk.

Sementara di rumah Kangin, tempat Donghae tinggal bersama dengan namja-namja yang sealiran dengannya, Berdiri dua namja itu, Kangin dan Leeteuk.

"Kemana bocah itu?" tanya Leeteuk agak cemas.

"Mungkin pergi ke diskotik lagi. Biarkan saja." tukas Kangin.

Kemudian ia masuk ke dalam rumah, bersikap seolah tak peduli. Tapi kekasihnya, Leeteuk tahu benar bahwa sebenarnya Kangin sedang marah karena khawatir.

Sudah seminggu ini Donghae keluar malam terus lalu pulang pagi. Itu pun dalam keadaan mabuk.

Semenjak Donghae pulang dari rumah Ryeowook minggu lalu, Sikap Donghae menjadi aneh. Ia jadi suka mendekati namja-namja di sekelilingnya. Baik yang sudah kenal atau pun yang baru dikenalnya.

Ia terus mencari perhatian Namja lain. Donghae juga lebih sering tertawa, sekali pun itu hal kecil. Dan itu membuat Kangin, Leeteuk Dan Heechul teman serumahnya, mengkhawatirkan dirinya. Mereka bisa menebak bahwa hati Donghae sedang kacau. Tapi Donghae tak bercerita apapun.

Entah apa yang terjadi antara dirinya dengan Ryeowook yang pasti, Donghae sangat menderita sekarang.

#### ####

"Kau pulang jam berapa semalam?" Tanya Kangin dengan suaranya yang agak berat.

Tapi Donghae yang baru keluar dari kamarnya, masih nampak kacau. Ia tak menjawab pertanyaan itu. Dan tak menyadari wajah sangar Kangin yang menahan amarah.

Alkohol yang diminumnya semalam menyisakan rasa mual dan sakit di kepalanya.

Setengah sadar ia berjalan. Dengan pengelihatan yang agak samar, ia mencoba melangkah hingga mendapati bangkunya. Heechul, Leeteuk dan Kangin hanya menatap lekat ke arahnya tanpa Donghae sadari, mereka menghela nafas berat melihat keadaannya yang seperti itu.

Kacau. Kata mereka.

Wajah lusuh. Rambut acak-acakan. Bau alkohol. Sama sekali bukan Donghae.

Bila diingat-ingat, Donghae tak pernah seaneh ini. Berkali-kali dikhianati namja, ia selalu bisa menyembunyikan kepahitannya dan mengatasi semua sendiri. Tidak seperti sekarang. Keluyuran malam, berpesta, minum, tidur dengan namja tak jelas.

Ada apa dengannya? Ryeowook bahkan bukan pacarnya.

"Minum susu ini! Ini akan mengurangi sisa alkohol." Ujar Leeteuk sembari menyodorkan segelas susu ke depan Donghae. Donghae pun meminumnya.

"Percuma saja membuatnya sadar kalau otaknya masih tak bisa berfungsi. Tak berguna." Ujar Heechul.

Dia juga teman mereka walau tak tinggal serumah, tapi Ia selalu datang dan berkumpul bersama. Dia lebih sering diam, tapi sekalinya bicara, ucapannya akan sangat menyakitkan.

"Bagaimana sekarang?" Tanya Kangin.

Ia sudah tak mau lagi menunggu Donghae bercerita. Ia akan menanyakan cerita yang sebenarnya sekarang.

"apa?" Tanya Donghae balik. Pura-pura tak mengerti.

"Kau dan dia."

"Apa kau berfikir aku benar-benar mencintainya?" Ucap Donghae kemudian, membuat ketiga temannya terdiam sejenak.

"Tentu saja tidak. Aku tertarik, itu pasti. Semua namja tertarik padanya tapi bukan berarti aku mencintainya. Kekasihku lebih cantik dibanding Ryeo, dan aku masih sangat mencintainya. Dan Ryeo bukan apa-apa. Dia,,, HANYA TEMAN." Ucap Donghae sedikit menekan pada kedua kata 'hanya Teman'.

Saat itu pun, Mereka langsung mendapat jawabannya.

Bahwa,,

Ryeowook meninggalkan Donghae

Belum lama Donghae duduk, tapi lekas ia mengatakan.. "aku sudah selesai."

Dan ia meninggalkan meja makan begitu saja. Padahal baru beberapa sendok ia memakan makanannya. Nasi itu pun masih tersisa banyak. Mereka paham.

Perasaan Donghae kembali kacau karena pertanyaan tadi. Donghae jadi sensitif tentang Ryeowook.

"Bodoh. Kenapa mereka harus menyia-nyiakan waktu?" Umpat Heechul.

"Ini yang terbaik. Jika berpisah nanti, akan lebih sulit untuk mereka." Ucap Kangin.

##### #####

"Aku mencintaimu, Ryeowook."

"Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba begini? Ah kau pasti salah paham. Aku menangis waktu itu karena sedih akan kehilanganmu. Aku shock. Aku menyayangimu. Tentu, sebagai teman. Bukankah kita teman? Kau selalu bilang begitu kan? Lagipula pernahkah Player benar-benar mencintai seseorang?"

Kalimat itu bagai racun yang merusak sel sel darah di tubuhnya. Membeku. Menyumbat aliran darahnya dan Ia kesulitan untuk bernafas.

Donghae tersungkur lemas di kamarnya. Dengan airmata yang berlinang di wajahnya.

Tak pernah ia menyangka akan sesakit itu. Tak pernah ia duga Ryeowook akan sekejam itu.

Kali ini, ia baru menyadari keangkuhan Ryeowook yang sebenarnya, hingga ia mengumpat.

"Brengsek!"

:::::::::::

Cinta tak akan pernah menipu. Tapi terkadang manusia lah yang menipu diri sendiri karena cinta.

:::::

Donghae terkejut begitu mengetahui bahwa Ryeowook telah menipu dirinya.

"DIA BERBOHONG PADAKU!" Teriak Donghae tiba-tiba. Tanpa peduli dengan orang-orang di sekitar jalan yang langsung melihat ke arahnya.

"Siapa?"

"Ryeowook!"

Ketiga temannya terdiam. Mereka saling memandang, tak mengerti.

Semua bermula ketika Kangin memaksa Donghae untuk keluar berkumpul bersama teman-temannya, Donghae tanpa sengaja melihat namja yang mirip dengan namja di foto yang pernah Ryeowook tunjukkan padanya, Yang dibilangnya adalah kekasihnya.

Tapi namja itu kini bersama orang lain dan mereka nampak mesrah.

Donghae pun menghampirinya dan bertanya baik-baik apakah ia namja yang sama. Namja itu membenarkan.

Kemudian mereka berbicara untuk beberapa menit, dan terungkaplah penipuan itu.

"Dia bilang tak mengangkat teleponku karena terus bersama pacarnya, tapi ternyata mereka sudah putus 3 hari setelah balikan. Itu berarti sebelum dia kubawa ke rumah." Jelas Donghae dengan kesal.

"aku harus pergi."

"kemana?" Kangin menahan tangan Donghae.

"kemana lagi? Aku akan menemuinya."

"Untuk apa Hae?"

"Untuk apa? Aku harus bicara dengannya, Hyung. Dia harus jelaskan kenapa dia membohongiku!"

"Jika pun kau sudah tahu alasannya apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan meninggalkan orang yang di sana untuk bersama Ryeo begitu?"

Pertanyaan itu berhasil membungkam Donghae.

"Ayo katakan. Kau akan memilih untuk bersama Ryeowook dan mengingkari janjimu? Tidakkah kau berfikir kenapa Ryeo melakukannya? Benar, dia mencintaimu. Tapi dia tak mengharapkan itu. Dia ingin kau melupakannya, agar kau bahagia. Jika menunjukkan keterpurukanmu, dia akan terluka. Dan kau hanya membebani hatinya." Tukas Kangin.

"Aku merindunya Hyung. Aku sangat merindunya." Lirih Donghae mulai meneteskan air matanya.

"Aku tahu itu. Tapi Kau harus mengerti usahanya."

"Kangin benar, Hae. Aku bisa melihat dari matanya, bahwa dia juga sangat mencintaimu. Ini juga tentu sangat sulit bagi dia. Jika kau menemuinya, itu berarti kau egois. Dia patut bahagia, Hae. " Tukas Heechul mengimbuhkan.

Donghae tak punya kata lagi untuk membantah. Semua tertelan kembali, Terpendam dalam hati.

Benar kata mereka. Tentu hanya akan membebani hati Ryeowook. Benar..

Tapi andai saja rindu tak sesesak itu. Andai saja rindu bisa hilang hanya dengan obat. Andai.. Jadi tak akan Donghae menelpon Ryeowook saat itu.

:::

Itu ada

Saat kau bersama jarak

Itu ada

Saat kau tak menjarak

Itu ada

Saat kau menatap

Itu ada

Saat ku balik menatap

Itu ada

Saat ku coba melupa

Itu ada

Saat kau tak terlupa

Rindu itu ada

Semakin ada

Saat aku mengingkari adanya

(8-12 / 12:17 WITA)

:::

Tangannya sedikit gemetar, ketika tak ada suara apapun yang terdengar dari seberang. Isak tangis Donghae semakin keras terdengar.

"Aku merindumu. Aku merindumu." lirih Donghae.

"Kumohon,, sekali ini. Sekali ini biarkan aku dengar suaramu. Aku janji tak akan mengganggumu lagi. Aku janji. Tapi biarkan aku mendengar suaramu. Aku mohon." Pintanya.

Sementara hati Ryeowook semakin teriris mendengar suara parau Donghae yang menangis.

Ryeowook masih tak mampu bersuara. Sakit di tenggorokannya akan membuat suaranya parau. Tidak. Ryeowook tak ingin Donghae tahu bahwa dirinya menangis. Ryeowook ingin suaranya tetap terdengar teguh, agar Donghae pun bisa teguh.

"Aku mohon Ryeowook. Aku mohon. Aku tak tahan lagi. Aku mohon kepadamu."

"Tidurlah sayang. Ini sudah malam."

Tangis Donghae pecah setelah akhirnya Ryeowook bersuara. Suara yang telah menghancurkan gumpalan besar di dadanya. Sesak itu menghilang.

Suara yang ia rindukan, akhirnya terdengar.

Suara itu terdengar tegas tapi lembut. Tapi tak teringkari, Ada serak yang juga terdengar di telinga Donghae. Ia pun tahu, bahwa Ryeowook berusaha untuk kuat. Ryeo pasti juga merindukan dirinya.

"Maafkan aku. Maafkan keegoisanku."

Senyum itu terulas di wajah Ryeowook.

"Sekarang, tidurlah. Aku akan menemanimu." Ucapnya.

Dan kemudian, masa kebersamaan mereka yang dulu begitu bahagia kembali ada.

Ryeowook menidurkannya dengan suara merdunya, ia bernyanyi hingga Donghae terlelap dalam mimpi yang indah. Donghae tersenyum dalam tidurnya.

Mungkin Donghae berfikir 'itu cukup'. Tapi kisah ini belum berakhir begitu saja.

Pagi itu semua orang tercengang dengan kata-kata Ryeowook yang tiba-tiba begitu sampai di rumah mereka.

"Ayo,, kita lewati sisa hari kebersamaan kita."

Ryeowook mengatakannya dengan nada datar dan tenang, tapi kalimat itu mampu mengobrak-abrik emosi Donghae.

Donghae langsung memeluknya. Airmata bahagia menetes tanpa perlu diperintah.