Disclaimer : Semua Cast disini bukan milikku, mereka milik Tuhan dan diri mereka masing-masing. Aku hanya meminjam nama tanpa mengambil keuntungan apapun ;)

Pair : KaiSoo

Length : Chapter(s).

Cast : EXO Member

Author: Shinkyu

Genre : Romance. Drama

Warning : Typo(s) Gender switch, OoC, Dramatic

DON'T LIKE? DON'T READ!


.

My Stalker, My Love

.


Chapter 2

Kyungsoo meremas-remas jemarinya, mencoba mengalihkan perasaanya yang berkecamuk. Ia tercenung sambil berjalan. Pikirannya melayang-layang memikirkan tentang Kai—namjachingu yang juga merangkap sebagai stalker-nya sendiri.

Gadis itu menyeret kakinya, mengulur waktu dengan memilih berjalan ke sekolah dari pada menaiki angkutan umum atau diantar Lay eonni-nya dengan mobil, karena Kyungsoo sebenarnya belum mampu bertemu dengan Kai di sekolah nanti. Ia tak sanggup bertatapan dengan Kai.

Namun, bagaimanapun Kyungsoo harus tetap bersekolah. Ia tak seharusnya membolos karena alasan ini. Lay-eonni akan marah jika mengetahuinya. Lagipula masalah harus dihadapi bukan dihindari, walau tak dapat Kyungsoo pungkiri ia tak siap dengan ini. Kyungsoo tak bisa percaya, ia berharap semua itu dusta.

Kebenaran menamparnya. Mau atau tidak Kyungsoo harus menerima.

"Sekarang aku harus bagaimana?" gumam Kyungsoo dengan mimik sedih. Ia mengira dengan berpacaran dengan Kai, Kyungsoo akan terlindungi dari Stalker itu lagipula, Kyungsoo dan Kai saling mencintai. Bukankah seharusnya akan berakhir dengan happy ending? Ia tak mengira malah begini jadinya. Kyungsoo seperti lolos dari intaian harimau dan malah diterjang serigala.

Memang Kyungsoo mencintai Kai dan namja itu juga memiliki rasa yang sama. Namun, setelah mengetahui kenyataan. Kyungsoo menjadi ragu.

Apakah benar yang Kai rasakan adalah cinta?

Bukan obsesi semata?

Wajah Kyungsoo langsung pucat pasi tangannya terasa basah. Lututnya berkeretak karena takut.

Ia menghentikan langkahnya untuk mengambil napas sejenak agar lebih tenang.

Ponselnya terus bergetar sedari tadi, menambah buruk suasana hatinya. Kyungsoo tak berniat sedikitpun untuk mengecek semua pesan yang masuk. Firasatnya mengatakan bahwa Kai lah pengirim pesan tersebut... sama seperti dulu.

Sebuah bunga berwarna kuning menarik perhatian Kyungsoo. Ia menghampiri semak-semak di pinggir jalan—tempat bunga itu berada.

Dicabutnya bunga kuning itu, tanpa perduli Kyungsoo melanjutkan langkahnya... berjalanan tak menentu.

Dipetiknya kelopak paling bawah sehingga kelopak itu jatuh melambai-lambai terbawa sepoian angin.

"Pertahankan" ujar Kyungsoo bersamaan dengan jatuhnya kelopak itu ke aspal. Selanjutnya Kyungsoo memetik kelopak lainnya sambil berujar "Akhiri?"

Raut wajahnya sangat serius. Alisnya hampir menyatu karena ia tengah berpikir keras. Kyungsoo dilanda dilema. Ia tak tahu harus bagaimana setelah kenyataan meremuk rendamkan hati dan jiwanya.

Kyungsoo merasa dia harus mengambil keputusan mengenai hubungannya dengan Kai lalu mencoba memaklumi Kai adalah stalker-nya atau, mengakhiri hubungan mereka—yang bahkan belum berjalan satu hari—lalu pergi menjauhi Kai. Mencari aman karena bagaimanapun Kai adalah seorang stalker— yang mungkin berbahaya.

Hatinya bagai diremas memikirkan opsi ke dua. Kyungsoo tak dapat memungkiri jika dia sangat mencintai Kai dan ingin bersama namja itu lebih lama.

Tapi, Kai adalah stalker-nya. Orang yang menguntit dan memperhatikan dimanapun Kyungsoo berada.

Oh, jangan lupakan mengenai pesan-pesan mengerikan dan menuntut yang Kai kirim selama ini.

Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepala. Mengingat kejadian yang ia alami selama ia di stalking Kai.

Kesimpulan yang Kyungsoo ambil adalah ia mencintai Kai tapi, Kai adalah stalker-nya lalu Kyungsoo sudah berpacaran dengan Kai yang merupakan stalker-nya sendiri.

Kyungsoo berteriak kesal. Kepalanya terasa mau pecah. Memikirkan solusi dari masalah ini dan Kyungsoo sama sekali tidak menemukan titik terang untuk membantunya memecahkan semua ini.

Ia mengambil napas sejenak kemudian mengalihkan tatapannya pada bunga di genggamannya.

Sorot mata Kyungsoo berubah nanar. Raut wajahnya sendu memprihatinkan.

"Bunga-ssi, aku tidak tahu harus bagaimana lagi..." ia berbicara pada bunga itu. Terlihat imut dan menggemaskan dengan kedua mata doe-nya yang memelas pasrah. Ia seperti anak kucing malang yang minta si pungut membuat seorang namja yang berjalan di seberangnya terpesona dengan mulut sedikit menganga. Mungkin jika Kai ada di sana. Dia akan mencongkel mata namja itu yang berani memperhatikan Kyungsoo-nya. Namja itu sangat beruntung karena saat ini gadis bertubuh mungil itu sendirian.

Kyungsoo terus memetik kelopak bunga kuning itu seraya berkata; lanjutkan atau akhiri. Hingga kelopak itu tersisa dua helai. Kyungsoo menarik napas dalam-dalam berulangkali dan memejamkan matanya mencoba menenangkan diri. Dipetiknya satu helai dengan maniknya yang masih tertutup. Kyungsoo merasakan jantungnya berdebar kencang mengetuk dadanya. Ia gugup. Dalam hati Kyungsoo meyakinkan bahwa apapun yang terjadi Kyungsoo harus hadapi.

"Akhiri"

Dipetiknya kelopak terakhir, "Lanjutkan"

Sedetik kemudian matanya terbuka. Ia menetapkan hatinya, keputusan telah ia ambil.

Kakinya melangkah cepat dengan senyum yang tertera di wajah cantiknya. Kyungsoo berhenti di depan halte. Ia terdiam sejenak dengan pandangan menerawang ke depan.

'Semuanya akan baik-baik saja' hiburnya dalam hati.

.

.

~MSML~

.

.

Sehun tersungkur jatuh setelah didorong oleh Kai yang tampak kalut. Ia hanya mencoba menenangkan sahabatnya itu yang gelisah karena Kyungsoo yang belum juga tiba di sekolah.

Kai menendang bangku—di kelasnya. Ia bukan orang sabar yang bisa menunggu dengan tenang. Teman-teman sekelasnya berlarian keluar, mereka dapat mendeteksi bahaya yang akan muncul jika tetap diam di sana. Tidak ada yang berani dengan Kai karena namja itu mengerikan dan sekolah ini adalah milik keluarganya. Jadi, Kai bisa mendepak atau menyingkirkan siapapun yang ia pikir menganggu.

Kini hanya tinggal Sehun dan Kai di dalam kelas itu. Kai masih sibuk mengatur napasnya yang memburu sementara Sehun mencoba bangkit dengan sedikit terhuyung. Sebelumnya ketika Kai mendorongnya, kepalanya terbentur tembok di belakangnya membuat ia pening.

"Kenapa kau tidak hubungi Kyungsoo saja, Kai?" Tanya Sehun. Dia tidak marah atau tersinggung diperlakukan kasar oleh Kai. Sehun sudah tujuh tahun ia merasakan sikap Kai yang emosian karena cinta berlebihannya yang ia pendam pada Kyungsoo.

Bola mata Kai bergerak gelisah, "A-ku sudah mengiriminya pesan dan menghubunginya berulangkali namun tak satu pun yang dia tanggapi."

Tangan Kai merogoh ponsel hitam di saku celana seragamnya. Ia menghempaskan ponsel itu ke lantai dengan keras membuat benda persegi panjang itu berserakan. Mata Kai memincing, menatap ponsel miliknya yang hancur, "Benda tak berguna..." desisnya sinis.

Iris kecoklatan Sehun terpejam sesaat. Sebenarnya ia tidak berani jika Kai sudah seperti ini. Tapi, harus bagaimana lagi selain dirinya tidak ada yang bisa menenangkan Kai.

Kai menggertakkan giginya kesal."Kyungsoo sudah mengenakan seragam ketika mengantarku keluar rumahnya lalu aku menghabiskan waktu lama di apartemenku. Seharusnya Kyungsoo telah tiba di sekolah sebelum aku! Tapi buktinya ketika aku sampai dia TIDAK ADA DIMANAPUN!" pekik Kai putus asa seraya membanting apapun yang dapat dijangkau tangannya.

Kaki Sehun seakan tak bertenaga. Ia melangkah mundur dan menjauh. Tatapan setan Kai membuatnya ketakutan.

Lelaki berkulit tan itu menghampiri Sehun lalu mencengkeram bahunya. Iris onyx Kai berubah tajam sementara wajahnya merah padam.

Sehun meringis perih, merasakan jemari Kai yang mencengkram bahunya—seakan dapat menusuk kulitnya."Hentikan, Kai" erangnya frustasi namun percuma Kai seakan tuli. Namja tampan berkulit eksotis itu hanya diam dengan pandangan menusuk dan napas yang terus memburu, seperti menahan emosi.

"Akh."Punggung Sehun didorong. Ia seperti merasakan tulangnya retak saking kerasnya punggungnya menghantam tembok.

Tanpa memperdulikan Sehun yang kesakitan oleh ulahnya, Kai meninggalkan namja itu menuju pintu kelas. Langkah kakinya angkuh dan penuh amarah. Maniknya menyipit tak senang pada beberapa siswa-siswi yang menonton sedari tadi, seketika itu mereka berhamburan pergi ketakutan.

Punggungnya Sehun perih dan linu. Ia mencoba mengabaikan rasa sakit itu kemudiaan merangkak dengan susah payah menuju tasnya. Diambilnya ponsel miliknya untuk segera menghubungi seseorang.

"Yeoboseo?"

Suara seorang yeoja dari seberang panggilan membuat bibir Sehun melengkung tersenyum lega.

"N-oona..."

"Eh? Sehun, ada apa? Kau kenapa?"

Sehun tidak menanggapi. Ia malah sibuk memijat bahunya yang terasa amat sakit.

"Sehun?"

"Baekhyun noona, apa Kyungsoo noona, ada?" Bisik Sehun. Ia lelah menghadapi Kai.

Baekhyun terdiam sepertinya dia tengah berpikir atau memperkirakan apa yang terjadi pada Sehun. "Gwenchana?" Tanyanya, khawatir pada Sehun karena suara temannya itu terdengar berbeda.

Samar-samar yeoja imut itu mendengar sesuatu dibanting disusul suara yang memekakkan dan pekikkan Sehun yang terdengar menyakitkan. Rasa cemas kembali menyelimuti dadanya.

Suara Sehun bergetar. "Ja-wab saja noona! "

Baekhyun tersentak kaget. Bahunya menegang."Kyungsoo... dia belum datang."

"Eottoke?" racau Sehun lirih.

Kai tidak lebih baik. Sekarang dia tengah membanting kursi-kursi lainnya. Namja itu semakin tak terkendali.

Terkadang Sehun bingung disaat seperti ini, kemana para guru?

Aah, mungkin mereka tak ada yang berani dengan status keluarga Kai.

Ia lantas menghembuskan napas pasrah. "Tenanglah, Kai." Mohon Sehun—yang sama sekali tidak Kai perdulikan.

Namja bermarga Oh itu tidak menyadari panggilannya dan Baekhyun belum diakhiri, sehingga yeoja itu dapat mendengar semuanya.

Kini, Baekhyun menyimpulkan bahwa yang membuat Sehun 'Tidak baik-baik saja' saat ini adalah Kai.

Baekhyun penasaran dan masih tampak khawatir pada keadaan Sehun. Buru-buru ia bangkit, berjalan tergesa-gesa ke arah pintu kelas. Apa yang harus ia lakukan jika telah berhadapan dengan Kai dan Sehun nanti. Mungkin saja kedua namja itu sedang berkelahi. Bagaimana caranya ia melerai mereka? Ia hanyalah yeoja biasa, yang pada dasarnya mempunyai kodrat lebih lemah dari namja.

Baekhyun mengigit bibir bawahnya gusar. Ia teringat dengan namjachingu-nya. Secepatnya Baekhyun menghubungi Chanyeol— meminta namja bertubuh jangkung itu segera menuju ke kelas Sehun dan Kai.

Bersamaan dengan Baekhyun yang keluar kelas. Bel masuk berbunyi, tanpa perduli dia terus berlari ke arah belokan koridor karena keadaan para sahabatnya lebih penting. Sedetik kemudiaan yeoja itu merasakan hantaman pada tubuhnya membuat keningnya sakit dan ia langsung tersungkur ke belakang. Begitupun seseorang yang menabrak dirinya.

Baekhyun meringis mengusap-usap keningnya dengan mata tertutup. Ia dapat merasakan bokongnya linu membentur lantai.

Sial sekali, padahal ia sedang buru-buru. Dengan sekali hentakan yeoja bersurai coklat itu bangkit berdiri. Ia hampir mencacimaki orang yang menabraknya jika saja bukan Kyungsoo yang terpantul dalam maniknya. Sahabat imutnya itu tengah terduduk sambil mengerang di hadapannya.

"Omona?! Kyung, gwenchana?" Tangannya terulur membantu Kyungsoo berdiri sementara Kyungsoo hanya bergumam menjawab pertanyaan Baekhyun.

Kyungsoo mendelik sambil menepuk-nepuk roknya. "Bukankah ada larangan untuk tidak berlarian di koridor?! Kau kenapa sih?" protesnya kesal.

Baekhyun tercekat ia ingat niat awalnya adalah untuk mengecek keadaan Kai dan Sehun. Ia tampak ragu untuk menjelaskannya pada Kyungsoo karena ia sendiri pun tak tahu apa yang terjadi pada Sehun dan Kai. Baekhyun hanya mengikuti instingnya untuk mengetahui inti masalahnya.

Kyungsoo diam menunggu Baekhyun menjelaskan. Alisnya bertaut bingung, Kyungsoo tersentak saat Baekhyun menarik tangannya tiba-tiba. "Yak! Kita mau ke ma—" sebelum Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun telah terlebih dulu menyeretnya untuk mengikutinya berlari.

"Sehun dan Kai, mereka... aish! Sudah ikut saja."

Mulut Kyungsoo terkatup rapat sementara firasat buruk tentang Kai memenuhi benaknya.

.

.

.

Beberapa murid berkerumun di depan kelas. Melihatnya membuat pikiran negatif terus bertambah. Menyesakkan Kyungsoo. Jantungnya berdetak keras mengetuk dadanya. Ia amat Takut. Memperkirakan apa yang terjadi di dalam sana.

Kyungsoo tahu Kai berkuasa. Namja itu bebas melakukan apapun yang dia inginkan karena statusnya.

"Kyung, sebelumnya Sehun menelponku menanyakan keberadaanmu karena Kai. Aku tidak mengerti mengapa Kai mencarimu... Apa mungkin kau ada hubungannya dengan semua ini?" Tanya Baekhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo.

Kyungsoo tercekat. Suaranya tertelan ditenggorokan, tak bisa menjawab apapun.

.

.

.

.

Kursi patah berserakan. Begitupun meja yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Di pojok tubuh Sehun terduduk, menyandar pada tembok. Seragamnya acak-acakan. Beberapa bagian wajahnya lebam.

'Apa yang terjadi?'

Perlahan Kyungsoo melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun. Dilihatnya sosok Kai berdiri membelakanginya. Kyungsoo berjalan menghampiri Kai meninggalkan Baekhyun yang masih mematung di depan pintu kelas.

'Apa ini ulah, Kai?'

'Tapi kenapa...?'

Beberapa pertanyaan berputar-putar di kepala Kyungsoo.

"Kai" panggilnya ragu.

Kai menoleh, mengukir senyum. Mendengar suara yeoja yang dicintanya. "Kau dari mana saja, Kyung?" tanyanya lirih. Memeluk Kyungsoo, mengusap surai panjang yeoja-nya penuh sayang.

Perlakuan lembut Kai tak lantas membuat Kyungsoo senang atau tersentuh. Diam-diam ia ketakutan. Bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap santai dan biasa. Setelah membuat kelas berantakan dan memukul temannya sendiri?

.

.

.

Kai dengan tergesa-gesa memapah Sehun menuju UKS, di ikuti Luhan dan Kyungsoo yang berlari kecil di belakangnya. Sementara Chanyeol dan Baekhyun sedang mengurus kekacauan yang dibuat Kai di kelas. Mereka akan menyusul jika telah selesai.

Kyungsoo memperhatikan punggung tegap Kai dari belakang. Benaknya menerka mengapa Kai bersikap seperti itu? Bukankah berlebihan jika menghancurkan beberapa kursi dan memukul temannya sendiri. Hanya karena Kyungsoo belum tiba di sekolah? Kyungsoo paham jika Kai cemas. salahnya juga yang mengulur waktu ke sekolah. Tapi tetap saja... seharusnya Kai tidak berlebihan seperti itu.

Apa mungkin jika Kyungsoo minta putus. Kai akan membunuhnya?!

Kyungsoo bergidik ngeri. Kai sangat menyeramkan.

Kai mendelik heran pada Kyungsoo. "Hei, Soo-baby jangan melamun sambil jalan. Nanti kau bisa jatuh"

"A-ah ndee" jawab Kyungsoo kikuk.

.

.

.

Bertepatan dengan sampainya empat remaja itu di depan ruang UKS. Pintu terbuka. Menampilkan sang penjaga UKS—Choi saem.

"Dia kenapa?" tanyanya kaget ketika melihat Sehun yang lemas di papah Kai. Lalu dia membantu membawa tubuh Sehun berbaring di kantil yang tersedia di dalam ruang UKS.

Kyungsoo mengigit bibirnya bingung. Tak berani menjawab. Begitupun dengan Luhan. Kekasih Sehun itu menyibukan dirinya membantu Sehun agar dapat berbaring dengan nyaman.

"Aku membantingnya" sahut Kai jujur, memasukan tangannya pada saku celana.

Pernyataan Kai membuat semua orang kaget. Namja itu dengan santainya mengaku begitu saja.

'Dasar' dengus Sehun sambil tersenyum kesal.

Choi songsaengnim menghela napas dan menggeleng. Jika saja Kai murid biasa bukan cucu pemilik sekolah. Mungkin Kai akan dia marahi dan menghukumnya hingga jera. Mati namanya jika membuat masalah dengan salah satu keluarga Kim. Bisa-bisa dia dipecat kemudian ditendang dengan tidak elit dari sekolah.

"Arraseo..."

Kai mengangkat bahunya—tidak perduli dengan tanggapan Choi sonsaengnim. Kemudian dia menarik Kyungsoo agar lebih dekat dengannya, ketika melihat yeoja itu berdiri cukup jauh.

"Begini, uhm.. sebenarnya aku ada urusan mendadak" suara sang penjaga UKS itu penuh penyesalan dan ragu karena tidak bisa mengurusi Sehun yang seharusnya menjadi kewajibannya.

Luhan tersenyum sopan. "Gwenchana... aku yang akan merawatnya"

"Aku tak apa saem, pergilah" timpal Sehun meyakinkan.

Setelah Choi sonsaengnim berlalu. Baekhyun dan Chanyeol datang dengan keringat bercucuran.

Yeoja manis bermata sipit itu berjalan begitu saja—melewati Kai. Wajahnya cemberut parah. Terlihat masih kesal karena ulah Kai yang seenaknya.

"YAK!" Teriak Chanyeol tepat di depan wajah Kai. Alisnya bertautan, rahangnya terkatup rapat.

"Ishhh, hyung. Berisik!" Risih Kai menutup telinganya.

"Bisakah kau tidak bersikap keterlaluan?! Tingkahmu itu merugikan orang lain, kau tahu! Aku dan Baekhyun yang dimarahi karenamu"

Air muka Kai cuek saja, menerima protes dari Chanyeol. Dia sudah terbiasa... hanya Chanyeol dan Sehun yang tak segan padanya. Karena mereka telah berteman begitu lama.

"Siapa orang yang memarahi kalian? Nanti aku akan memecatnya"

Chanyeol makin geram mendengar penuturan sombong Kai. Ia mencengkram rambut hitamnya frustasi. "Bukan begitu! AISH—"

Sebelum terjadi yang tidak diinginkan Kyungsoo buru-buru berdiri di depan Kai—ia bergerak refleks begitu saja—menahan pundak Chanyeol pelan. "Sudahlah Chanyeol..."

Kyungsoo tidak menyadari Kai tersenyum di balik punggung kecilnya. Merasa tersentuh akan perlakuan gadis itu, Kyungsoo mencoba melindunginya—sebelumnya tidak pernah ada orang yang seperti itu pada Kai, pengecualian untuk para bodyguard yang di bayar.

"Kai tidak bermaksud begitu..."

Sebenarnya ia ragu mengatakannya. Tapi dorongan hati meyakinkan Kai tidak seburuk itu.

"Sudahlah, yeolli.." suara yeojachingu-nya membuat Chanyeol menghela napas panjang, menyerah. Dia berbalik menghampiri Baekhyun setelah memberikan Kai deathglare mematikan berharap hoonbe-nya itu jera.

Kai menatap Chanyeol dan Sehun beberapa saat sebelum berkata pelan pada Kyungsoo di sampingnya. "Nunna, apa aku keterlaluan?"

"Hmm... begitulah" Kyungsoo menyahut jujur, mengabaikan wajah Kai yang merengut mendengarnya. "Kau terlalu berlebihan. Jangan ulangi lagi, arra?!" lanjut Kyungsoo sedikit mengancam. Dalam lubuk hatinya, Kyungsoo hanya ingin Kai berubah. Mengabaikan rasa takutnya pada namja itu karena rasa cintanya terlampau lebih besar.

Kai tampak kecewa akan jawaban Kyungsoo. "Arraseo! Kupikir kau berada si pihakku"

Kyungsoo terkekeh. Walaupun Kai stalker menakutkan, tetap saja dia remaja yang masih suka ngambek.

"Nunna. jangan tertawa!" Kai mendengus. "lagi pula karena siapa aku bersikap begitu." sindirnya menancap telak lubuk hati Kyungsoo.

Yeoja imut itu tidak tahu harus berkata apa, ia menunduk serba salah. "...mianhaeyo" lirihnya.

Bibir Kai tertarik, tersenyum lembut. Senyum yang hanya dia tunjukkan untuk Kyungsoo seorang. "Sudahlah... tak apa" bisik Kai, mengusap puncak kepala Kyungsoo.

"—Kalian berdua malah bermesraan! cepat sini" pekikan ketus Baekhyun mengintrupsi Kai dan Kyungsoo. Mereka tak menyadari sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian disana.

Kyungsoo menunduk semakin dalam. kini, pipinya merona, malu. Sementara Kai hanya mengangkat bahunya sebelum menarik Kyungsoo mendekati kantil tempat Sehun berada.

.

.

.

shinkyu

.

.

.

Luhan mengoleskan krim pengreda rasa sakit pada siku Sehun. Kyungsoo semakin terbebani, Kai yang membuat Sehun begini. Dan Kyungsoo lah alasannya. "Appo? Sehuna" tanya Kyungsoo kemudian.

"Yak! kenapa nada bicaramu begitu pada namja lain"—sebelum Sehun sempat menjawab, Kai lebih dulu memotongnya. Merasa tidak terima Kyungsoo perhatian pada orang lain selain dirinya.

Chanyeol mendengus mendengarnya. Dasar cemburuan!

Sedangkan Baekhyun berkedip-kedip bingung. Dia heran sejak kapan Kyungsoo dan Kai 'sedekat' ini. Sudah dari tadi Baekhyun penasaran. Mungkin nanti di kelas dia akan bertanya pada Kyungsoo.

Luhan terkekeh kecil. Menutup mulutnya, gadis itu imut sekali.

Kai memekik merasakan Kyungsoo menyengol sikutnya keras. Kemudian memberikan tatapan—jangan—begitu—Seharusnya Kai meminta maaf pada Sehun bukannya malah membahasnya.

Sehun memutar bola matanya malas. Sudah terlalu hapal akan prilaku Kai. Pandangannya beralih pada Kyungsoo. "Gwenchana, nunna" sahutnya pelan. Mengulas senyum kecil.

Kyungsoo ikut tersenyum lega.

Dalam diam sebenarnya Kai merasa bersalah. Dia bukan manusia es yang tak punya perasaan. Ia sangat menyesal. Namun, mau bagaimana lagi... Dia selalu begitu. Mudah hilang kendali jika menyangkut Kyungsoo. "Mianhae" gumamnya pelan. Penuh penyesalan.

Sehun tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Dia melirik arlojinya sekilas. "Bukankah saharusnya kalian kembali ke kelas? Pelajaran pertama sudah di mulai"

Chanyeol bangkit berdiri. "Kau benar aku lupa, ada ulangan harian hari ini." Katanya merasa bersalah tidak bisa menemani Sehun lebih lama.

Sehun kembali mengangguk menanggapi Chanyeol. Baekhyun ikut berdiri mengikuti namjachingu-nya. "Sebaiknya kau terus di sini saja, istirahat." saran Baekhyun penuh perhatian.

"Ne" jawab Sehun singkat.

Kyungsoo masih memperhatikan Sehun tidak enak hati. Luhan yang menyadarinya tersenyum maklum. "Pergilah, Kyung. Tenang, ada aku di sini.." ia kemudian beralih pada Kai yang masih terdiam. "Kau juga Kai,"

Kai mengangguk mengerti. Sementara Chanyeol dan Baekhyun sudah berlalu lebih dulu menuju kelas.

Kyungsoo dengan senyum sedihnya melambai pada Luhan dan Sehun sebelum Kai menggengam tangannya. Menariknya keluar dari UKS.

Selepas kepergian Kyungsoo dan Kai suasana menjadi hening.

"Hun," gumam Luhan sambil mengelus surai kecoklatan Sehun. "Hubungan Kyungsoo dan Kai itu seperti apa? mereka terlihat sangat dekat?" kemudian Luhan bertanya polos. Menyuarakan apa yang berada di pikirannya.

Sehun terkekeh geli. "Apa nunna tak tahu Kai menyukai, Kyungsoo-nunna sejak lama?" dia malah balik bertanya.

Kedua mata Luhan membulat tidak terima. "Tentu saja aku tahu!"—suaranya naik satu okaf—protes akan pertanyaan Sehun yang terkesan meremehkannya. "Kyungsoo saja yang tidak peka, sampai tidak menyadarinya." lanjut Luhan.

Sehun tertawa kecil karena respon kekasihnya. "Arra" sahutnya sambil mencoba menahan tawa.

Luhan mempoutkan bibirnya sebal. Tapi, penasarannya belum sepenuhnya hilang. "Maksudku apa mereka sudah berpacaran?"

"U-hm, kurasa begitu" Sehun mengangkat bahunya ringan.

"Syukurlah..." Luhan bernapas lega. "Tapi, Hun—"

"Apa lagiii~" potong Sehun malas.

"Kenapa Kai begitu tergila-gila pada Kyungsoo?" sekilas Luhan teringat tingkah Kai. Membuat kelas berantakan dan memukul Sehun karena kalut pada Kyungsoo. Keterlaluan. Batinnya.

Sehun tercenung. tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.

"Bagaimana Kai bisa mencintai Kyungsoo sampai seperti itu?!" Luhan antusias menegapkan punggungnya. Menunggu Sehun bersuara.

Sehun mengaruk dagunya ragu. "Ceritanya akan panjang"

Luhan tersenyum semangat. "Tak apa, ceritakan dari awal."

Tatapan Sehun berubah sendu "Kau akan kecewa... ini bukan cerita yang manis. seperti yang kau bayangkan"

Senyum Luhan luntur perlahan. "Benarkah?"

Kelopak mata Sehun terpejam mengingat kenangan dulu yang ia lalui bersama Kai kecil. Kai mencurahkan segala isi hatinya pada Sehun dulu. Tentang seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya. Rasanya tak apa jika menceritakan semuanya kembali kepada Luhan.

Sehun bangun berusaha duduk. Buru-buru Luhan mengambil bantal, menyelipkan di belakang punggung Sehun. Agar namjachingu-nya itu dapat bersandar.

"Dulu Kai anak yang kesepian..."

Luhan mencelos.

Sehun tersenyum miris sebelum melanjutkan. "Dia kehilangan Ibunya sejak bayi. ayahnya mengabaikannya dengan setumpuk uang. sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam, dan dia sama sekali tidak punya teman..."

"Kai yang malang" lirih Luhan. "Lalu?"

"Dia masih kecil sudah kaya raya, uang jajannya bahkan bisa membeli toko mainan." nada suara Sehun terdengar iri, tapi bibirnya tetap melengkung tersenyum.

"...Dia suka tertawa, bermain game, konyol dan suka tebar pesona"

Luhan ikut tersenyum.

Sehun menerawang, mengingat pertemuan pertamanya dengan Kai.

.:::.

Saat itu kelasnya kedatangan murid baru. Sehun kecil yang pendiam terlihat tak perduli malah asyik bermain robot-robotan. hingga di rasakannya ada seseorang yang berdiri angkuh di hadapannya.

"Hai, aku Kim JongIn, panggil aku Kai. Kita harus berteman karena kita sama-sama keren! haha" ucapnya sambil tertawa, sehingga Sehun terkesiap dan langsung menangis seketika.

.:::.

"Bagaimana dengan Kyungsoo?" cicit Luhan.

"Waktu itu dia pernah bercerita tentang seorang anak perempuan..."

.:::.

Kai di umurnya yang masih belia, suka sekali membuat orang susah. Dia sangat bandel, nakal dan tidak bisa di atur. Semua maid dan bodygruadnya kesusahan karenanya.

Hal itu semata-mata Kai lakukan untuk mencari perhatian ayahnya. Sehingga ayahnya akan menelponnya... walaupun sekedar untuk memarahinya saja. Kai sudah cukup senang.

Suatu hari Kai kabur dari rumah. Lagi-lagi agar diperhatikan ayahnya. Anak kecil berumur delapan tahun itu. Tidak bisa pulang, dia benar-benar lupa jalan pulang.

Dengan wajah dekil, rambut berantakan. Kai menangis di taman—yang ia sendiri tidak tahu di mana. Perutnya sangat lapar. Dia terlalu lemas untuk berjalan.

"Ehh! kamu kenapa?" suara termerdu yang pernah Kai dengar di dunia ini. Kepalanya mendongak untuk melihat asal suara.

Seorang anak gadis menatapnya. Kedua matanya bening dan sangat besar.

"Aku ingin pulang" gumam Kai malu-malu masih sesegukan.

"Memangnya rumahmu di mana?"

Kai terkesiap ketika rambut hitam gadis kecil itu melambai tertiup angin. Cantik. Dia sama sekali tak menyimak apa yang gadis itu tanyakan. Wajahnya memanas entah mengapa ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis kecil itu.

"Rumahmu dimana?" ulangnya sabar.

Kai berkedip-kedip lalu menggeleng cepat.

"Pulang bersamaku saja... nanti kita minta bantuan umma-ku" Gadis itu tersenyum, manik bulatnya sedikit menyipit seperti bulan sabit. Dia mengulurkan tangan mungilnya yang seputih salju pada Kai.

Kai melongo beberapa saat sebelum mengangkat tangannya—menerima uluran sang gadis kecil yang baik hati itu.

Ada sentuhan yang aneh pada hatinya ketika tangannya bersentuhan dengan gadis itu. Perasaan seperti ingin menggengam tangan mungil itu lebih lama.

"Aku Kyungsoo... sembilan tahun" Kata Kyungsoo sambil memperhatikan tangan mereka yang saling bertautan. Entah kenapa pipi gembulnya merona.

Kegembiraan aneh, meletup-letup di dada Kai. "Aku Kai, delapan tahun... Aah aku harus memangilmu, nunna" ucap Kai, tersenyum pada akhir kalimatnya.

"Hihihi... iya"

Kai ikut dengan Kyungsoo pulang. Orangtua Kyungsoo menyambut Kai dengan baik. Mereka ingin mengantarkan Kai ke kantor polisi. Mungkin saja keluarganya melaporkan anaknya telah hilang.

Tapi, anak berkulit tan tidak mau. Ia merengek tidak mau pulang dulu. Tentu saja dia ingin bersama Kyungsoo lebih lama...lebih baik bersama dengan Kyungsoo. Pulangpun dia hanya akan sendirian..

.

.

Kai sudah bersih, dia tadi mandi bersama Kyungsoo. Senyum tidak pernah luntur dari wajahnya. Kini rambutnya yang sedikit gondrong sedang Kyungsoo sisir dengan sangat lembut.

Hampir saja Kai tertidur karena saking lembutnya. Tiba-tiba ada suara ramai dari lantai satu kediaman Do. Kai dan Kyungsoo mengintip dari jendela—kamar Kyungsoo di lantai dua. Kyungsoo terperangah melihat mobil hitam besar mengkilap di parkiran rumahnya. Sementara Kai membelalakan matanya. Dia histeris berusaha menyembunyikan dirinya. Kai kenal betul mobil siapa itu.

Mobil itu adalah salah satu mobil keluarganya. Bagaimana mungkin mereka menemukan Kai? Aah benar keluaganya sangat kaya. Apapun bisa di lakukan orang kaya. Buru-buru Kai memeluk Kyungsoo. Mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan berpisah dengan gadis kecil itu.

Brak

"Tuan muda... ayo pulang"

"ANDWEEE!" Kai dengan segenap kekuatannya meronta-ronta. "Nunna jebal~!" tangisan Kai pecah tak dapat dia tahan lagi. Seorang ahjushi yang di ketahui sebagai orang utusan ayahnya—terus nenarik tubuhnya paksa.

Tangan kecil Kai bergetar—terulur mencoba meraih tubuh Kyungsoo—yang mematung bingung menatapnya. Melihat Kai di paksa dan menangis begitu keras. Membuat Kyungsoo ikut menangis—dengan segera tuan Do—ayahnya. menggendong tubuh Kyungsoo.

"Nunna! nunna" Kai terus berteriak sorot matanya putus asa. wajahnya basah oleh air mata. bulir air mata terus berlomba menuruni pipinya. Kai terus memohon, merengek... dia tidak mau pulang dulu. Sebentar saja... ingin terus bersama Kyungsoo.. dari pada dirumah besar sendirian.

Hati kecil Kyungsoo menjerit melihat Kai yang begitu tidak ingin berpisah darinya. Dia pun demikian. Namun, Kyungsoo pikir Kai memang seharusnya pulang ke rumahnya sendiri. Dia terisak dan meronta turun dari gendongan ayahnya.

Ahjushi yang tadinya akan membopong Kai. Mengurungkan niatnya. Saat Kyungsoo berjalan ke arahnya dan Kai. Menyadari pegangannya merenggang, Kai segera berlari menuju Kyungsoo, memeluk yeoja kecil itu. Menangis sedih di pundaknya yang hangat. "Nunna aku tidak mau berpisah denganmu" bisik Kai parau. Menghirup aroma Kyungsoo yang wangi natural.

"Annio Kai, kamu harus pulang" kata Kyungsoo suaranya bergetar dan matanya sudah berkaca-kaca.

"Shireo!"

Kyungsoo mengambil sapu tangan dalam saku dress-nya. "Hapus air matamu laki-laki tidak boleh menangis"

Bukannya berhenti tangisan Kai semakin kecang. Dia mempunyai firasat bahwa dirinya tidak bisa bertemu Kyungsoo lagi.

Kedua orang tua Kyungsoo yang menjadi penonton, tersenyum haru. Sementara ahjushi yang ingin menjemput Kai. Terdiam tak tahu harus berbuat apa.

Kyungsoo memberikan sapu tangan kesayangannya pada Kai. "Suatu saat kita pasti bertemu lagi..."

Kai mulai berhenti menangis. Dia sibuk mengagumi senyum manis Kyungsoo. Diam-diam jatungnya berdetak tak karuan. Kai tak mengerti mengapa ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.

"...jangan lupakan aku ya Kai" tambah Kyungsoo, Seyumnya berubah sedih. dia menyentuh pipi Kai sekilas sebelum berlari menuju Ibunya, menangis di sana.

"Aku tidak mungkin melupakanmu nunna" sahut Kai. bola mata hitamnya menggelap menatap Kyungsoo penuh arti.

.:::.

Sejak saat itu Kai tidak bisa bertemu Kyungsoo lagi. Firasat buruknya ternyata benar... Ayahnya memutuskan pindah ke Daegu. Mengurung Kai disana. Memberi anak semata wayangnya itu hukuman agar tidak nakal lagi. Dia bertemu Sehun dan memutuskan berteman dengannya.

"Sehun, Kyungsoo nonna manis sekali, dia seperti peri yang ada di buku cerita ku~!" Kai terlalu antusias melompat-lompat di kasur besarnya yang bergambar badman. Sehun yang berada di karpet—memainkan mobil-mobilan hanya mencibir.

"Makin hari Kai selalu menceritakan sosok Kyungsoo. Dia bilang ingin bertemu dengannya lagi..." Sehun melirik Luhan yang serius mendengarkannya.

"Saat itu aku terus meledeknya. 'Seperti orang dewasa yang merindukan sang kekasih' mengelikan" dengus Sehun. "…perkiraanku dia akan memukul atau marah padaku. Salah. Kai malah gelisah sambil mencengkram sapu tangan yang selalu dia bawa-bawa. Sapu tangan berinisial DKS"

Luhan menutup mulutnya, tak menyangka.

"Aku mulai curiga... namun, hanya bisa kupendam."

"...Lalu dia mulai sering bicara sendiri. Sambil menatap kosong sapu tangan itu."

Kyungsoo nonna, apa kau baik-baik saja di Seoul?

Apa kau makan dengan baik?

Apa ada anak nakal yang menggangumu?

Aku ingin mendengar suaramu...

Aku ingin melihatmu lagi

Suara dentingan jam mendominasi keheningan. Jemari Sehun saling meremas, resah. "...itu sangat tidak wajar." katanya pelan—hampir terdengar seperti bisikan.

"Ketika kami sudah masuk SMP. Rasa rindu Kai sudah tak terbendung lagi... dia uring-uringan setiap hari... Atas kuasanya Kai memerintah suruhannya untuk mencari Kyungsoo. Cinta pertamanya yang tak bisa ia lupakan."

"Apakah mereka lalu bertemu?" tanya Luhan penasaran.

"Tidak" Sehun menyahut dingin. "Kai hanya mengawasi Kyungsoo... menguntit kemanapun gadis itu pergi"

Luhan terbelalak. "Astaga.." yeoja itu menutup mulutnya tak menyangka.

"Pada awalnya Kai menyuruh orang kepercayaannya untuk menguntit Kyungsoo. Tapi, kini dia yang menguntit Kyungsoo langsung. Setelah memutuskan pindah Kembali ke Seoul dan meneruskan bersekolah di tempat yang sama dengan Kyungsoo." Sehun diam sejenak. "Aku juga dipaksanya untuk ikut pindah ke sini." keluh Sehun, memijat pelipisnya.

"Kai keterlaluan... kenapa dia harus menjadi stalker Kyungsoo?" pertanyaan Luhan seperti tak menuntut jawaban. Dia hanya tidak percaya akan tingkah laku Kai yang seperti itu. Setelah mengetahui semuanya, Luhan pikir Kai memiliki dua kepribadian. "Entah aku harus senang atau tidak. Kai dan Kyungsoo kini berpacaran... memang baik untuk Kai. tapi, bagaimana dengan Kyungsoo?" lanjut Luhan murung. Dia bingung dan merasa sedih mengingat temannya Kyungsoo. Dicintai oleh orang seperti Kai..

"Sudahlah..." Sehun menarik bahu Luhan. Memeluk yeoja itu hangat. "...Kita doakan yang terbaik untuk mereka."

.

.

.

.

.

.

Bel istirahat telah berdering Kyungsoo memasukan bukunya kedalam tas ketika Baekhyun mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin.

Raut wajah yeoja imut itu penuh penyesalan. "Mianhae, Baekhyun-ah. Mulai sekarang aku tidak bisa istirahat bersamamu"

Baekhyun mengernyit. "Waeyo?"

"Aku akan makan bersama Kai" Sahut Kyungsoo polos.

Baekhyun mengangguk-angukkan kepalanya. "Oh"

—eh! tunggu Kai?! "MWO?"

Sebelum Baekhyun menagih penjelasan mengenai hubungannya dengan Kai, Kyungsoo telah lebih dulu kabur meninggalkan kelas. Dia sudah mengira bahwa sahabatnya itu pasti akan menahannya untuk menceritakan semuanya, mengapa hubungannya dan Kai bisa berjalan sangat cepat. Itu akan memakan waktu lama dan Kyungsoo tidak ingin membuat Kekasihnya menunggu. Setidaknya Baekhyun akan mengerti. Pikir Kyungsoo geli.

.

.

.

.

.

Do Kyungsoo berdiri gugup di taman belakang sekolah, ia dan kai janjian akan makan siang bersama. Digenggamannya terdapan roti melon dan coklat. Gadis mungil itu tidak membawa bekal. Terlalu banyak fikiran. Sehingga tak membiarkan dia konsentrasi melakukan segala hal. Dikepalanya penuh dengan pemuda tan yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi kekasihnyanya.

Tapi Kai stalkernya.. Kai... stalkernyaa... orang yang ia cintai adalah stalkernya.

"Aaarkhh"

Kepala Kyungsoo mau pecah rasanya. Bagaimana ia akan bersikap dihadapan kekasihnya itu. Apakah nanti dia harus bertanya tentang maksud Kai menjadi penguntitnya selama ini?

Tapi, bagaimana jika Kai tersinggung atau marah. Kyungsoo memajukan bibirnya. Ah tidak mau. Kyungsoo sangat suka sama Kai. Baru beberapa jam bersama. Ini adalah waktu yang gadis itu nantikan selama dua tahun.

Apa mungkin ia pura-pura tidak tahu soal stalker itu adalah kai. Atau mungkin ia harus cuek saj—

"Kyungie"

Kyungsoo berjengit kaget mendengar suara Kai, bola matanya makin membulat melihat Kai ternyata sudah berada disampingnya. Kenapa ia bisa tidak sadar? Uh Kai makin menyeramkan saja. Kyungsoo kesusahan menelan salivanya akibat pemikirannya sendiri.

"Kenapa?" tanya Kai dengan nada datar. Astaga Kyungsoo makin takut saja. Apa ia akan dipukul? tanpa sadar Kyungsoo mundur perlahan lalu menundukan kepalanya. Ia tidak tau bahwa sikapnya membuat Kai tersinggung.

"Kamu takut padaku?!" Kai tiba-tiba berteriak, tak percaya. "Kamu takut karna aku tadi memukul Sehun?!" lanjut Kai membuat Kyungsoo tersentak dan bergetar ketakutan.

"T-ti-tidak uhhh.." bola matanya yang bening sudah buram akan air mata. Kyungsoo tidak pernah dibentak oleh siapapun, ia adalah gadis yang cengeng dan sensitif. Jadi keluarga dan teman-temannya selalu menjaga perasaannya.

Kai dapat merasakan hatinya terenyuh melihat air mata gadis pujaannya. "...kyungie" ia mencoba meraih Kyungsoo kepelukannya. Menenangkan tubuh mungil itu yang bergetar ketakutan. "Sssttt... sayang aku tidak marah"

"H-hhhuhh hiks kai-ya" rancau Kyungsoo. Hidungnya tertekan jaket Kai membuat suaranya berdengung menggemaskan.

Kai terkekeh seraya menciumi rambut gadis dipelukannya. "Maaf aku tidak akan membentakmu lagi" janjinya pelan, penuh perasaan.

Bukannya berhenti Kyungsoo malah menangis makin keras. Dia memang cengeng, rutuknya dalam hati. Tapi apa daya diperlalukan dengan begitu manis oleh orang yang ia cintai membuat hatinya lemah. Kyungsoo terlalu terlena oleh kasih sayang yang Kai yang terlimpahkan padanya.

Ia bahkan lupa bahwa lelaki yang memeluknya begitu erat saat ini adalah stalkernya, orang yang seharusnya paling ia hindari.

.

.

.

"Jadi bagaimana dengan Sehun? apa dia sudah baikan?" Kyungsoo memecah keheningan. Ia dan Kai masih berada di halaman belakang sekolah dengan Kai yang sekarang tiduran di pahanya.

Hening beberapa saat, nampaknya Kai tidak tertarik untuk menjawab. Lelaki itu malah menenggelamkan wajahnya pada perut Kyungsoo membuat gadis itu tertawa pelan, kegelian.

Jemari mungil Kyungsoo mengusap penuh sayang kening Kai. Halisnya yang tebal lalu turun pada pipi pemuda itu yang sedikit kasar. Wajah Kai yang damai saat tertidur begitu polos seakan tak pernah menyentuh dosa di dunia. Bibir Kyungsoo tertarik membentuk senyuman lembut. "...aku mencintaimu. Walaupun aku tidak tau kau kenapa"—padangan Kyungsoo meredup—"Bagaimanapun sikapmu, bagaimanapun dirimu. Aku akan tetep mencintaimu." air mata menuruni pipi Kyungsoo, menetes diatas kelopak mata Kai yang terpejam.

"...Kim Kai" Kyungsoo mulai terisak lagi. Tangan mungil gadis itu mencoba memeluk kepala Kai dipangkuannya. Ia tidak menyadari bahwa sepasang mata terbuka dalam diam. Mengawasinya dikegelapan.

.

.

"Halo Sehun"

"Ya ada apa Baekhyun nunna?" Tanya Sehun bingung, tumben sekali Baekhyun menelponnya duluan.

"Apa Kai sudah kembali ke kelas? Kyungsoo tidak ada. dia bilang akan makan siang dengan Kai. tapi ini sudah satu jam huna. Kyungsoo anak rajin ia tidak mungkin membolos" cerocos Baekhyun khawatir.

Di seberang sana Sehun menghela nafas "Aku tidak tau, aku masih di Uks"

Baekhyun menjawab oh singkat sebelum menutup telpon secara sepihak.

"Siapa yang menelpon?" tanya Luhan, dia baru kembali setelah mengambilkan Sehun air minum.

"Baekhyun" Sehun meneguk air minumnya, lalu terdiam memandang jemarinya yang pucat. "Aku mulai khawatir..." gumam Sehun pelan.

Luhan menoleh, memusatkan sepenuhnya perhatian pada pemuda yang ia cintai.

"... Aku khawatir Kai akan menculik kyungsoo"

Mata luhan membelalak. "Tidak mungkin" ia berbisik pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

"Entahlah..." sahut Sehun ragu.

"Kai harus dibawa ke psikologis" saran luhan setelah keheningan menyelimuti mereka.

Sehun menggeleng sebelum menimpali. "Kai tidak akan mau—"

"Kita bisa berbicara dengan tuan Kim" potong Luhan tidak sabaran. Masalahnya keselamatan Sahabatnya Kyungsoo dipertaruhkan.

Sesaat, Luhan dapat melihat pancaran mata kekasihnya, Menjadi lebih dingin.

"Tuan kim tidak akan pernah peduli."

.

.

.

" —Soo"

"Kyungsoo"

"Kyungsoo" –ia tersentak dan langsung menatap nyalang sekeliling. Akibatnya kepalanya langsung merengut pusing. "arhh" erang Kyungsoo, memijat keningnya.

Kai menggeleng memerhatikan gadis itu. Ia mengulas senyum maklum lalu menyentuh pundak Kyungsoo pelan. dan lagi-lagi responnya membuat Kai ingin tertawa. Kyungsoo langsung tersentak dengan mata melotot kaget. Apa gadis ini selalu gampang sekali terkejut?

"Maafkan aku membangun kanmu, tapi kau sudah tertidur selama dua jam pelajaran. Sebentar lagi waktunya kita pulang. Sebaiknya kita segera kekelas"

"Oh —um, ya." Kyungsoo menyahut bingung. Nampaknya ia masih mengumpulkan nyawa setelah tertidur lama. "Kok bisa aku yang tidur, tadikan kamu yang tertidur dipahaku?" tanya Kyungsoo matanya makin membulat ditiap kata yang ia ucapkan. Kai tidak bisa menahan tawanya.

Ahh segala hal dalam diri Kyungsoo begitu manis dan lucu.

Gadis bersurai hitam itu merengut kesal melihat Kai menertawakannya. "Oh diamlah" ia cemberut.

Kai masih terkekeh kemudian mengusap kepala Kyungsoo sebelum menyahut, "Kamu tertidur setelah menangis."

Kyungsoo tercenung, mengingat kembali alasan dia menangis. mengingat semuanya. Tentang dirinya. Stalker. Kai, Orang yang ia cintai dan perlakuan buruk Kai selama ini.

Kai yang menyadari perubahan air muka Kyungsoo, bertanya khawatir, "ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?"

"T-tidak ada apa-apa" Kyungsoo buru-buru menjawab.

Menghela napas panjang, Kai menahan emosinya. ia yang meledak-ledak bisa menjadi lebih sabar. Mungkin jika terus bersama Kyungsoo dia dapat berubah? lirih Kai dalam hati. bibirnya menyunggingkan senyum, memandang Kyungsoo penuh sayang.

Menyadari Kai yang terus menatapnya, perlahan pipi Kyungsoo menghangat. ia menduduk dan memainkan jemarinya.

"Sebaiknya kita segera kekelas" Kai tertawa kecil melihat Kyungsoo yang begitu gugup bersamanya. Ekspresi nya melembut. Bersama Kyungsoo dia menghabiskan hari dengan senyuman. Tanpa Kyungsoo hidupnya hampa dan buram. Ia akan mempertahankan Kyungsoo apapun yang terjadi. Ia tidak ingin kehilangan lagi.

Kyungsoo menggerjap bingung, saat tiba-tiba Kai menariknya berdiri dan menuntunnya menuju kelas.

Tidak... tidak, ini belum selesai. Ada yang harus Kyungsoo bicarakan. Saat ini atau tidak untuk selamanya.

"Kai tunggu!" Kyungsoo menghentikan langkahnya. Menarik genggaman mereka agar telepas, sontak perlakuannya membuat kai menoleh terkejut.

"?" Lelaki tampan itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Menuggu apa yang akan Kyungsoo katakan selanjutnya.

Ketika kedua mata onyx dan doe itu bertemu. Kyungsoo memantapkan hatinya. Ia harus berani. Karna ia mencintai lelaki dihadapannya ini. Kyungsoo ingin semuanya menjadi jelas dan dia tidak ragu lagi. "Apakah kamu stalkerku selama ini?"

"Ya" Kai tersenyum sinis. "Karna aku terobsesi padamu"

Kyungsoo tidak tau harus berekspresi seperti apa. Bagaimana mungkin Kai mengatakan hal itu dengan begitu enteng? Gadis itu menutup mulutnya tak percaya.

"Sejak kapan?"

Angin berhembus membuat hati Kyungsoo terasa begitu kebas dan dingin.

Respon Kai yang tersenyum teramat senang membuat Kyungsoo merenyit. "Sejak pertama kali kita bertemu!"

Lelehan air mata yang mencoba Kyungsoo bendung tak tertahankan lagi. Berlomba-lomba turun membasahi pipinya. "Kai-ya..."

Kekasihnya sakit. Kejiwaannya sakit. Kyungsoo menangis makin keras dan bahunya terguncang.

Lagi-lagi ia membuat Kyungsoo menangis. Kenapa? kenapa? tubuh Kai bergetar. Baru sehari mereka berpacaran tapi ia sudah membuat gadis imut itu menangis tiga kali... apa yang salah dengan dirinya.

KyungsooNya kenapa?

Kai bingung, ingin menyentuh tubuh rapuh kekasihnya tapi, terlalu takut Kyungsoo bisa pecah. Kyungsoo bagai sesuatu yang mudah hancur saat ini.

"Gwenchana?" tanya Kai pelan.

Suaranya bagai angin yang menggores hati Kyungsoo menjadi teramat pedih. Rasa sayang, sakit, kecewa, kasihan, Semuanya menyesakan dada gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kai? mengapa dia menjadi seperti ini?

Kyungsoo tidak ingin Kai menjadi stalkernya lagi, dia tidak ingin Kai berjalan dibelakangnya lagi. Dia ingin Kai disampingnya menggengam tangannya. Tersenyum disisinya. Tidak melukai orang lain dan dirinya sendiri lagi.

Sementara Kai tercenung disampingnya. Ia menatap bingung Kyungsoo yang menangis hebat tanpa tahu kenapa. "Tidak apa-apa Kyungie" Kai perlahan mengusap surai hitam kekasihnya. "Aku ada disini. Semuanyanya akan baik-baik saja"

Kamu tidak mengerti Kai. Kamu sendiri tidak 'baik-baik saja'

Kyungsoo mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata. "Berjanjilah padaku." tangannya meremat jaket depan yang Kai kenakan, resah. "Kamu akan berubah"

Onyx Kai terbelalak, bingung sekaligus kaget.

"Berhentilah menjadi stalkerku, kita sudah bersama bukan?"

Air muka Kai pucat pasi. Kedua tangannya terdiam di samping tubuhnya. Sudah lama ia menguntit Kyungsoo bahkan sudah menjadi kebiasaan untuknya.

"Aku mohon Kai, jangan kasar lagi, kendalikan dirimu" Air mata Kyungsoo mengucur deras. Mengingat perlakuan Kai pada Sehun beberapa saat lalu. "Aku tidak mau kamu tersakiti nantinya, aku sangat mencintaimu. Ku mohon. Kai hiks huu—hhh"

Kai tidak tau harus merespon seperti apa. Seperti ada sesuatu yang kasat mata menggenggam organ-organ dalamnya.

"Kalau kamu tidak berubah juga. Aku akan pergi."

Satu kalimat yang paling menakutkan bagi Kai akhirnya terucap dari bibir gadis yang paling ia cintai. Ia hanya mematung ketika Kyungsoo beranjak pergi meninggalkannya sendiri.

Sebelum Kyungsoo menghilang dari pandangannya. Kai secepatnya berlari, setengah terbang. mengejar gadis itu. Memeluk tubuh mungil yang amat ia sayangi. Tak bisa ia bayangkan apa yang terjadi bila Kyungsoo menginggalnya. dia akan mati dan kegelapan akan menguasainya lagi.

"Aku berjanji" bibir Kai yang dingin mengecup perpotongan leher gadis bermata belo di pelukannya.

Kyungsoo kehabisan kata-kata merasakan hatinya menghangat seiring pelukan Kai yang makin mengerat.

Tangan kai membalik tubuh Kyungsoo agar berhadapan dengan nya kemudian menangkup pipi tembem gadisnya. Mencium lembut bibir merah merekah Kyungsoo dengan penuh cinta sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku akan berubah demi kamu sayangku"

jeda sejenak.

"Bertahanlah demi aku, Bertahanlah mencintai orang sepertiku...Kyungsoo"

Gadis itu terisak, perlahan menutup matanya ketika kening mereka bersentuhan.

"Aku memang stalkermu, aku menguntitmu, karna aku mencintaimu Kyungsoo"

Kyungsoo menggigit bibirnya. ia tidak pernah tahu kai mencintainya sedalam ini. Rona merah merona menjalar pada permukaan pipinya.

"—setiap saat aku ketakutan kau akan pergi. Kau disakiti. Kau menangis. Kau segalanya. Hanya kau yang menyayagiku dengan tulus. Hanya kau yang kupunya."

Kyungsoo merasakan jantungnya berdentum-dentum keras di rongga dadanya.

"—Bantulah aku, aku akan berubah demi kamu. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku. jika kamu pergi. Aku akan mati dalam kegelapan yang kubuat sendiri."

Tidak dapat berkata-kata lagi Kyungsoo hanya bisa mengangguk dan menangis teramat keras. Sementara Kai terdiam memeluknya. Sesedih apapun, hati Kai yang teramat dingin tidak bisa mengeluarkan airmata. Maka Kyungsoo lah yang menggantikannya untuk menangis.

.

.

Bel pulang sudah berbunyi, Kyungsoo merapihkan peralatan menulisnya dan berniat bergegas pergi. Sebelum koridor ramai oleh orang-orang berlarian. Ia tak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Kaki mungilnya mengikuti mereka yang membicarakan kekasihnya. Ia memejamkan mata mencoba kuat. Menenangkan diri agar panik tidak menyerangnya. Ia harus tenang, tidak akan ada yang terjadi. Kai telah berjanji... mencoba menenangkan diri walau semua terasa hambar dan sia-sia.

Orang-orang makin tak sabar, berlarian untuk melihat yang terjadi. Beberapa dari mereka terus menubruknya. ia hampir tersungkur jika saja tidak ada Baekhyun yang menyangga tubuhnya.

"Kyungsoo..." tatapan prihatin Baekhyun menghimpit dadanya membuat ia kesulitan bernafas. Tidak... aku mohon jangan Kai.. doa nya dalam hati. Sulit pasrah dengan apa yang akan Baekhyun katakan selanjutnya.

"...Kai mendorong Hyusik dari lantai dua."

Perasaan sedih menyerang hatinya, membuat ia berjuang untuk tidak meledak dan menangis.

"..kamu bilang, kamu akan berubah kai.." desahnya kecewa. "Apakah aku memang harus pergi dulu, agar kamu menyadari untuk tidak bersikap seenaknya?"

Mata Kyungsoo berair ketika berhadapan dengan Kai. Tanpa memberikan kesempatan untuk Kai bicara. Kyungsoo menyela, berbisik penuh rasa sakit. Satu kalimat yang Kai dengar sebelum Kyungsoo berlari meninggalkannya.

"Disaat aku mulai percaya Cinta.. Disaat itu juga kau ajarkan aku tentang rasa Kecewa, selamat tinggal.."


.

To Be Continue

.


(A/N)

Wuhuuuuuuu~ TBC yeah :'v

Maaf ya kalau banyak kesalahan atau typo belum sempet ngedit.

Satu atau dua chapter lagi fanfic ini tamat. Aku mohon maaf baru bisa updet fanfic lumutan ini sekarang. Males hahah gak ada ide. Mudah-mudahan gak tambah ngaco juga. Berkat review2 dari kalian aku jadi semangat /terharu/

Makasih ya TT-TT maaf gak bisa balas satu persatu. Aku bacain review dari kalian rasanya senang sekali. Kali ini berharap dapat dukungan lagi agar ngelanjutin ff ini gak males lagi. Huahaha

Salam hangat

Shinkyu