Special thanks to:

holmes950

Vivian Graythorn

Alp Arslan no Namikaze

gui gui M.I.T

cha'py muetz

Wi3nter

:: :: ::

Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Rinzu15

Bab 2

Sakura perlahan membuka mata lalu mengerjap-ngerjap selama beberapa saat. "Mimpi yang aneh," gumamnya seraya mengucek matanya. Saat Sakura bangkit dari tidurnya, ia menyadari bahwa tampaknya ia berada di ruangan yang terlihat asing baginya. Matanya menyusuri setiap sudut kamar berukuran luar biasa besar dan mewah itu. Kasurnya king size dengan kelambu berwarna merah muda yang menjuntai dengan anggun. Belum lagi seprei dan selimut yang indah membalut kasur empuk itu. Cermin besar disudut jendela, bufet dan lemari yang berukiran seni tinggi, pahatan-pahatan patung, guci-guci raksasa, lalu karpet merah tebal yang menjadi alas lantainya benar-benar membuat Sakura takjub dengan mulut menganga.

"D-dimana aku?" Sakura mulai panik dan melirik kanan kirinya. Ia pun mulai beranjak dari kasurnya dan berjalan cepat menuju jendela besar. Sakura semakin terbelalak saat melihat pemandangan yang ada diluar. Sebuah taman besar menjulang sepanjang mata memandang.

"Ah, Tuan Puteri sudah bangun rupanya. Selamat pagi!" sapa seseorang dari balik pintu yang kini terbuka. Tampak seorang gadis berwajah manis dengan berpakaian maid membungkuk sopan kearahnya.

"S-siapa?" Sakura terkejut dan merapat ke jendela.

"Jangan khawatir, Tuan Puteri. Saya Matsuri dan mulai hari ini akan menjadi pelayan pribadi Tuan Puteri," jelasnya.

"T-tunggu dulu." Sakura tampak menarik napas. "Maksudmu aku tidak sedang bermimpi? Orang-orang― maksudku penyihir berjas hitam itu benar-benar ada?"

Gadis itu mengernyitkan kedua alisnya, bingung. "Um... maksud Tuan Puteri, Yamato-san dan Tobi-san?"

Tanpa menghiraukan jawaban Matsuri, Sakura sibuk mencerna kejadian aneh yang terjadi malam tadi. "Tidak, tidak... ini semua pasti mimpi! Aku hanya harus bangun, dan semua mimpi ini akan berakhir. Ya, ini cuma mimpi, Sakura!" Sakura mengacak rambutnya frustasi.

"Um ... T-Tuan Puteri, Anda tidak apa-apa?" tanya Matsuri hati-hati.

Tiba-tiba saja Sakura mendongak menatap Matsuri. "Dan perlu kau ingat, aku ini BUKAN Tuan Puteri, jadi berhentilah memanggilku seperti itu!"

"Gomenasai ... tapi itu sudah menjadi kewajibanku sebagai pelayan Anda."

"Sudah kubilang kalau kalian ini salah orang! Aku harap semua mimpi aneh ini cepat berakhir."

"Sekali lagi maaf, Tuan Puteri ... saya mengerti kalau Tuan Puteri sepertinya masih syok karena bagaimanapun juga hal ini mungkin memang terlalu mendadak bagi Tuan Puteri yang biasa hidup didunia manusia. Tapi ... saya harus menegaskan kalau Baginda Raja tidak mungkin salah memilih Tuan Puteri."

Sakura menatap sang maid. "Apa maksudmu?"

"Ya ... Tuan Puteri tidak sedang bermimpi. Tuan Puteri benar-benar berada di kerajaan kami. Kerajaan Konoha. Dan Anda benar-benar akan menjadi Tuan Puteri kami."

Sakura terdiam dengan mulut setengah terbuka. Ia menatap Matsuri begitu lama, tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan maid itu.

"Haha ..." Sakura tertawa hambar. "Kau pasti bercanda. Benar-benar lucu, kau tahu?"

"Apa semua ini terlihat seperti mimpi, Tuan Puteri?" Matsuri terkekeh kecil.

Sakura menatap Matsuri kembali dengan mata yang membulat. Perlahan, telapak tangannya terangkat dan diarahkannya ke pipi putihnya.

PLAAAKK!

Sakura tiba-tiba saja menampar pipinya sendiri dengan keras.

"T-Tuan Puteri!" Matsuri terkejut.

"HUAAA!"

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Yang Mulia Baginda Raja Minato, saya sudah membawa gadis itu sesuai dengan perintah Baginda."

"Kerja bagus. Terima kasih, Yamato."

"Ah, sudah datang rupanya? Aku jadi tidak sabar untuk bertemu," timpal Ratu Kushina dengan antusias. "Naru-chan pasti senang mendengar kabar ini!"

Raja Minato mengangguk setuju. Rambut kuningnya tampak bergoyang. "Ya, bagaimanapun juga Jiraiya-sama sendiri yang sudah memilih kalangan manusia biasa. Menurutku itu tidak menjadi masalah, mengingat pilihan kita sebelumnya pun yang dari keturunan penyihir murni ternyata tidak sesuai harapan."

Raut wajah Ratu Kushina pun mendadak menjadi murung mendengar kalimat suaminya itu. "Benar sekali. Rasanya aku jadi sedih kalau mengingat hal itu."

"Yah, kali ini kita tidak mungkin membiarkan hal seperti kemarin terjadi lagi. Ini menyangkut masa depan kerajaan, jadi kita jangan sampai membuat bahan olokan kerajaan lain gara-gara hal seperti ini."

"Aku setuju. Bagaimanapun juga, kita harus menyambut gadis itu dengan ramah dan membuatnya merasa nyaman. Gadis itu pasti merasa asing dengan semua ini. Kehidupannya di dunia biasa sudah pasti berbeda dengan disini. Terlebih lagi kalau mendengar alasan kita membawanya kemari, dia pasti akan terkejut," ujar Ratu Kushina.

Sekali lagi Raja Minato mengangguk. Mata safirnya sesaat terpejam sebelum kemudian terbuka kembali dan menatap sosok kepercayaannya yang kini masih berlutut ala ksatria didepan singgasana mereka.

"Baiklah, kalau begitu. Kita akan segera menemuinya hari ini. Yamato, kau boleh kembali sekarang dan pastikan kalau semuanya baik-baik saja. Aku mengandalkanmu."

Yamato pun membungkuk dalam sebelum kemudian bangkit berdiri. "Saya mohon pamit, Yang Mulia."

Lalu dalam hitungan detik sang bodyguard raja itu pun menghilang dengan cepat, meninggalkan sang raja dan ratu yang kini tampak bergumam dalam hati masing-masing.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa!" Sakura menggigit bibir bawahnya sambil mondar-mandir seraya mengacak rambut merah mudanya, tak bisa tenang. "Bagaimanapun juga aku harus keluar dari sini! Bagaimana kalau ternyata aku akan dijadikan persembahan untuk para dewa? Aku 'kan ada di dunia penyihir... Mungkin mereka akan menjadikanku sebagai bahan ramuan sihir dan memutilasiku untuk diambil organnya? Hiyaaa... Ini gawat! Celaka, celaka, celaka!"

Sedari tadi Sakura gelisah begitu menyadari dirinya benar-benar tidak sedang bermimpi. Matsuri tidak menjelaskan sama sekali tujuan sebenarnya Sakura dibawa ketempatnya kini berada. Dan hal itu tentu saja membuat Sakura tidak tenang. Satu hal yang dikatakan Matsuri yaitu bahwa ia akan segera bertemu raja dan ratu Konoha. Karena itulah saat ini sang maid itu tengah menyiapkan gaun untuk Sakura.

"Selagi Matsuri itu tidak ada, aku harus kabur secepatnya dari sini!"Sambil melirik kanan dan kirinya, Sakura bergegas menuju pintu double yang besar dan membukanya dengan hati-hati dan perlahan. Segera saja Sakura meninggalkan kamarnya dengan kaki telanjang dan masih dengan mengenakan piyamanya.

Ia menyusuri lorong panjang istana yang dijajari oleh patung-patung bercat putih yang artistik dengan langkah tergesa. Tak jauh dari tempatnya berada, samar-samar terdengar suara percakapan menuju kearahnya. Saat akan berbelok, Sakura refleks menghentikan langkahnya saat melihat dua orang pengawal istana yang rupanya menjadi sumber suara tadi.

"Wuooo!" Sakura segera merapat ke dinding dan menyembunyikan diri disamping patung sambil memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang saat dua pengawal itu mendekat. Beruntung, para pengawal itu tidak berbelok ke koridor tempat Sakura bersembunyi, melainkan berjalan lurus melewatinya tanpa curiga sedikit pun.

"Fiuuh... Hampir saja!" Sakura mengusap dahinya yang berkeringat karena tegang. Ia pun menghela napas lega.

"Aku harus kemana, nih? Tempat ini besar sekali. Jalan keluarnya juga ada dimana lagi?" tanyanya pada diri sendiri. Sakura kemudian mengusap perutnya dengan wajah merengut. "Perutku lapar. Aku baru sadar belum makan apapun sejak bangun tadi. Ck, sial!"

Dengan tempo yang tidak secepat sebelumnya, Sakura kembali berjalan mengendap-endap tanpa tahu arah tujuan. Lama-lama ia mulai terasa lelah karena perutnya kosong.

"TUAN PUTERI HILANG?"

Tiba-tiba saja terdengar suara pekikan para pengawal yang membuat Sakura terlonjak kaget. Derap langkah pun saling bersahutan disekitar koridor istana. Sakura mulai panik. Sepertinya Matsuri sudah menyadari kalau Sakura tidak ada didalam kamarnya dan langsung memanggil pengawal istana. Tapi Sakura tidak menyangka akan ketahuan secepat ini, bahkan dirinya masih belum menemukan pintu keluar istana.

"Cepat menyebar dan cari Tuan Puteri sampai ketemu!" seru salah satu pengawal yang kemudian segera disusul kembali oleh derap langkah yang mulai bergema ke segala arah.

"Gawat!" Sakura mulai berlari entah kemana kakinya membawanya. Tentu saja, ia mana peduli arah mana yang diambilnya, yang penting ia jangan sampai tertangkap. Namun sialnya, saat akan berbelok, ia melihat sosok berjas hitam yang ia kenal. Orang yang telah membawanya ke tempat asing ini.

Yamato.

"Sial!" Sakura segera menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Namun dari belakangnya terdengar suara derap langkah para pengawal lainnya. Keringat mulai menetes dari dahinya. Sakura mulai terdesak disatu tempat. Kalau begini, ia tidak bisa kabur lagi. Ia pasti akan tertangkap. Sakura sama sekali tidak mau itu terjadi.

Tiba-tiba saja zamrudnya menangkap sebuah kamar yang sebelah pintunya terbuka sedikit. Ia tidak punya pilihan lain selain bersembunyi disana. Sakura tidak tahu itu ruangan apa, namun tidak ada waktu lagi untuk berpikir panjang. Akhirnya ia pun memutuskan untuk bersembunyi di kamar itu.

Dengan perlahan, Sakura melangkah ke kamar dihadapannya. Sambil melongokkan kepalanya kedalam ruangan itu, ia pelan-pelan masuk dengan mata yang menyisir setiap sudut ruangan besar itu. Didalamnya begitu banyak barang berserakan disana-sini. Selimut yang jatuh terserak dilantai, tumpukan bantal bermacam motif yang menggunung, seprai kasur yang berantakan. Sakura jadi heran, kamar itu punya siapa.

Takut para pengawal dan juga Yamato memeriksa kedalam kamar, Sakura menuju gunungan bantal dan bersembunyi disalah satu sisinya. Bantal-bantal itu bisa menghalangi dirinya.

"Bagaimana? Ketemu tidak?" Samar-samar terdengar suara para pengawal istana diluar kamar. Suaranya begitu dekat. Sakura yakin mereka semua kini berada didepan kamar tempat dirinya sembunyi.

"Ada apa ini?" Terdengar suara Yamato.

"Tuan Puteri menghilang! Matsuri-san bilang Tuan Puteri tidak ada di kamarnya saat ia kembali membawakan pakaian ganti."

Yamato tampak mengernyit. "Hilang?" Sesaat, Yamato terdiam dan berpikir. Kemudian ia pun menatap para pengawal dan mulai memberi instruksi. "Kalian semua lanjutkan pencarian. Aku akan segera menghubungi Neji. Dengan kemampuan sihirnya, ia pasti akan mudah menemukan Tuan Puteri. Jangan panik, Tuan Puteri pasti masih ada didalam istana. Bagaimanapun ia tidak mungkin keluar dari sini."

Para pengawal terlihat mengangguk. "Siap, laksanakan!"

Sakura meremas tangannya sambil memejamkan mata. Perlahan, terdengar suara derap langkah Yamato dan para pengawal yang mulai menjauh. Sakura pun akhirnya bisa menghela napas lega. Setidaknya saat ini.

Setelah terdiam beberapa saat dan memastikan suara keberadaan para pengawal istana tidak ada, Sakura memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

"Haah~ rasanya seperti buronan polisi saja..." keluh Sakura yang kini merangkak keluar dari tumpukan bantal. Namun, belum sempat Sakura bergerak lebih jauh, tiba-tiba saja tangannya dipegang seseorang dari dalam gunungan bantal. Sakura terkejut setengah mati, jantungnya seakan meloncat keluar.

"Kamu siapa?" tanya seseorang yang kini memegang tangan Sakura.

Sakura tampak tegang. Perlahan, diliriknya sang pemilik suara dari dalam gunungan bantal. Mata Sakura membulat tatkala melihat sepasang bola mata safir yang kini menatap padanya dengan sayu. Tampaknya masih terlihat ngantuk.

"Kenapa kamu ada di kamarku? Kamu... pelayan baruku, ya?" tanyanya lagi. Kali ini ia mulai bangkit keluar dari dalam gunungan bantal dan menampakkan sosoknya yang berambut kuning dan terlihat kusut karena bangun tidur.

Sakura tambah panik. Ia seakan baru keluar dari kejaran harimau dan masuk ke kandang macan. Sakura tidak tahu siapa pemuda berkulit tan dihadapannya ini. Salah bicara, alamat bisa tambah runyam.

Sakura memutar otak dan berpikir keras. "U-um..."

"Hei, tunggu..." seru laki-laki itu, semakin mengejutkan Sakura. "...gelang ini 'kan..."

"Aku tidak mencurinya!" sahut Sakura memotong kalimat si blonde. "Orang-orang berjas tiba-tiba saja memberikannya padaku."

Mata safir itu semakin lekat menatap Sakura dari wajah sampai kaki, tampak menimbang sesuatu. "Mungkinkah..." gumamnya pelan.

"Ketemu!" teriak seseorang dari belakang, membuat Sakura dan si pemuda menoleh bersamaan.

Sakura membelalak saat melihat seorang pengawal istana tengah berdiri didepan pintu kamar yang kini terbuka."Sial!" umpat Sakura.

"Ada apa ini 'ttebayo?" tanya si rambut kuning bingung sekaligus kesal karena seenaknya membuat keributan didepan kamarnya.

"Maaf atas kelancangan kami, Pangeran. Tapi kami sedang mencari Tuan Puteri dan Neji menemukannya disini. Saya sungguh tidak tahu kalau ternyata Tuan Puteri tengah menemui Pangeran," ucap Yamato.

"P-pangeran?" Sakura menatap si blonde dengan tatapan tidak percaya. 'Orang ini... Pangeran?' batin Sakura.

Seakan menjawab kebingungan, sang pangeran pun sepertinya kini mengerti . Sekarang ia tampak tersenyum dgn setengah menyeringai.

"Hm... ya, sepertinya Tuan Puteri tidak sabar untuk bertemu denganku, hehehe ..." Sang pangeran nyengir lebar, membuat Sakura ilfil.

"Ah, Tuan Puteri ada disini? Aku panik karena Tuan Puteri tidak ada di kamar." Matsuri tiba-tiba datang menghampiri Sakura. "Maaf, Pangeran, saya harus membawa Tuan Puteri untuk berhias."

"Baiklah."

Akhirnya semua keributan dipagi itu usai setelah Sakura dibawa kembali oleh Matsuri ke kamarnya.

Yamato dan para pengawal kerajaan pun segera membubarkan diri.

Sakura bingung sekaligus dongkol karena ia gagal untuk kabur. Ia juga bertanya-tanya tentang sang pangeran. Padahal awalnya laki-laki itu tampak bingung, tapi begitu melihat gelang ditangan Sakura, ia malah tersenyum penuh misteri. Jujur saja Sakura merasakan perasaan tidak enak dalam dirinya.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Aku tidak mengerti dengan semua ini! Kenapa kalian semua memanggilku dengan sebutan Tuan Puteri? Aku ini BUKAN Tuan Puteri! Sudah aku bilang sebelumnya 'kan? Dan … kenapa juga aku dibawa ketempat ini? Aku tidak mengenal kalian semua. AKU MAU PULANG!" Sakura tak henti-hentinya berseru kesal.

"Maaf, Tuan Puteri. Tapi Tuan Puteri akan mengetahui semuanya setelah bertemu dengan baginda raja dan yang mulia ratu."

"A-apa? Raja dan … Ratu?" Wajah Sakura terlihat pucat begitu mendengar nama Raja dan Ratu. Pikiran negatif Sakura sudah semakin macam-macam. Usahanya untuk kabur juga gagal total. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sepertinya membujuk Matsuri pun percuma, karena kesan yang Sakura tangkap adalah bahwa Matsuri itu seorang yang loyal pada kerajaan. Buktinya, Sakura hilang sebentar, dalam sekejap para pengawal istana langsung dikerahkan untuk mencarinya.

Benar-benar merepotkan!

"Nah, sudah selesai. Sekarang Tuan Puteri sudah cantik," komentar Matsuri setelah selesai mendandani Sakura dengan gaun kerajaan yang mewah dan sepatu yang berkilau. Rambut pink Sakura yang biasanya hanya disisir sembarangan, kini ditata dengan begitu rapi dan disematkan hiasan bunga berhiaskan permata perak yang indah. Sakura terlihat takjub saat melihat dirinya sendiri dicermin. Dandanannya sederhana tapi bisa terkesan anggun. Seperti bukan dirinya saja.

'Ini aku?' gumam Sakura tak percaya.

"Nah, mari Tuan Puteri ikut saya," ajak Matsuri sambil tersenyum manis. Ia pun menggandeng tangan Sakura.

"Hah? Eh? T-tunggu dulu!" Sakura segera menahan langkah Matsuri. "Kau mau membawaku kemana?"

"Tuan Puteri belum sarapan, bukan?"

Wajah Sakura mendadak merah. Ia memegangi perutnya. Sakura yakin kalau suara perutnya yang lapar tidak sampai terdengar keras. Ia pun mengalihkan pandangannya. "I-iya, sih. Aku belum makan apapun dari tadi," sahutnya malu.

Matsuri terkekeh kecil mendengarnya. "Kalau begitu, ayo!" ucapnya sambil kembali menarik tangan Sakura agar mengikutinya.

Dengan terpaksa, akhirnya Sakura menurut juga, toh daripada ia pingsan karena kelaparan. Bagaimana bisa kabur kalau tenaganya lemah begini? Meski kali ini gagal, tapi Sakura masih berencana untuk mencoba kabur lagi. Tentunya dengan siasat yang lebih matang.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Tak lama kemudian, Sakura dan Matsuri menuju sebuah ruang besar yang sudah dijaga oleh dua orang pengawal. Saat pintunya terbuka, terpampanglah pemandangan ruangan besar itu. Sebuah meja panjang yang dikelilingi oleh duapuluh empat kursi makan. Diatas meja yang bertaplak kain sutera putih yang mengilat itu sudah tersedia bermacam hidangan yang terlihat lezat dan menggugah selera.

Namun sebenarnya bukan itu yang membuat Sakura terkejut, melainkan dua orang yang duduk disana. Seorang pria berambut kuning yang wajahnya terlihat tenang dan seorang wanita berambut merah panjang yang tersenyum kearahnya.

Sakura terdiam mematung dan bertanya-tanya siapa dua orang yang duduk dimeja makan dihadapannya.

Matsuri maju selangkah lalu membungkuk sopan dan penuh hormat. "Selamat pagi, Yang Mulia. Saya membawa Tuan Puteri."

"Ah, selamat pagi. Terima kasih, Matsuri," sahut sang wanita. "Puteri Sakura, duduklah. Kita sarapan bersama," ajaknya ramah.

"Ya, kau pasti sudah lapar, bukan?" timpal sang pria. Suaranya terdengar begitu berwibawa.

Tanpa menghiraukan Sakura yang tampak bingung sekaligus kikuk, Matsuri menuntunnya menuju meja makan panjang itu dan menarik salah satu kursinya untuk Sakura. Para maid yang lain pun dengan gesit mulai memasangkan serbet, menuangkan minuman dan mengambilkan makanan untuk Sakura.

"Silakan, Tuan Puteri," ucap Matsuri sebelum kemudian mundur dan berdiri dibelakang kursi, begitu juga dengan para maid lainnya.

"Tidak usah sungkan, Puteri Sakura. Anggap saja seperti rumahmu sendiri," ujar sang wanita berambut merah.

"Ano … kalian ini siapa?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi memenuhi otak Sakura keluar juga.

Sang pria dan wanita dihadapannya tampak saling berpandangan sebelum kemudian tersenyum kecil.

"Ah, benar juga. Kau pasti bingung, ya?" sahut sang pria. "Aku Minato, Raja Konoha. Dan ini isteriku, Kushina."

Mata Sakura membulat. "R-Raja?"

Sakura tidak menyangka ternyata Matsuri akan membawanya kehadapan sang Raja dan Ratu dengan secepat ini! Pantas saja, ia harus berdandan segala. Terlebih lagi, ternyata sang Raja dan Ratu masih begitu muda. Tampan dan cantik. Benar-benar pasangan yang serasi. Sama sekali tidak terlihat jahat sedikitpun.

Ups! Pikiran negatif Sakura muncul lagi. Tentu saja, ia tidak boleh lengah sedikitpun. Bagaimanapun, Sakura masih belum tahu apa maksud dibalik semua ini. Wajah dan sikap yang ramah bisa saja cuma topeng 'kan?

"Silakan menikmati jamuannya, Puteri Sakura," tawar Ratu Kushina. "Kami jamin masakan koki kerajaan kami lezat sekali."

Sakura mengerutkan alis menatap hidangan spageti dihadapannya. Aromanya yang harum menguar membelai hidung. Namun, Sakura rasanya enggan untuk mencicipinya. Ia pikir ada sesuatu yang dibubuhkan dalam spagetinya. Sesuatu yang berbahaya, seperti racun, mungkin.

"Kenapa? Ada sesuatu? Apa kau tidak suka spageti?" Tanya Raja Minato.

Sakura terhenyak. "T-tidak … bukan begitu," jawabnya tampak ragu.

Seakan tahu apa yang ada dalam benak Sakura, Raja Minato tersenyum. "Jangan khawatir, Puteri. Makanan itu aman. Aku bisa pastikan."

"Hah? B-bukan begitu maksudku …" Sakura tampak kalang kabut. "Um… baiklah, terima kasih. S-selamat makan."

Dengan malu, akhirnya Sakura pun meraih garpunya lalu memilin spagetinya sehingga melilit digarpu. Ia pun mulai memakannya dengan ragu dan perlahan. Raja Minato dan Ratu Kushina tampak lega melihatnya.

"Ternyata melihatmu langsung seperti ini cantik sekali, ya? Warna rambutmu manis dan matamu indah," puji Ratu Kushina, membuat Sakura tersedak dan wajahnya merona.

Dengan cepat Sakura meraih minumannya lalu menenggaknya pelan.

"A-apa maksud, Anda? Saya biasa saja," sahut Sakura.

"Tidak. Kau benar-benar cantik, Puteri. Aku senang melihatmu."

"T-terima kasih," jawab Sakura malu-malu. Meski kata-kata sang ratu membuatnya seakan melayang, namun Sakura tidak akan termakan bujuk raju seperti itu. Ia yakin dibalik kata-kata manis sang ratu terdapat maksud lain. Sekali lagi, itu cuma sandiwara! Hal yang selalu dilakukan para penyihir untuk menjerat mangsanya.

"Kami harap kau senang berada disini, Puteri. Bagaimanapun juga istana ini akan menjadi tempat tinggal―"

"Sebenarnya apa maksud semua ini?" Sakura tiba-tiba saja memotong kalimat Ratu Kushina. "Kenapa aku dibawa kesini dan … kenapa kalian semua menyebutku Tuan Puteri? Aku rasa Yang Mulia salah orang. Aku ini bukan Tuan Puteri!"

Raja dan ratu tampak terkejut mendengarnya. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya suara Raja Minato memecah ketegangan.

"Sebelumnya kami minta maaf, Puteri. Sebenarnya ada hal yang menjadi maksud kami membawamu kesini…"

Sakura tampak berdebar menanti kalimat yang akan diucapkan Raja Minato selanjutnya. Ini dia saatnya semua akan terjawab. Apa benar mereka akan menjadikan Sakura sebagai korban persembahan? Atau menjadikannya sebagai bahan ramuan sihir? Pikiran itu membuatnya begitu tegang. Mungkin sebentar lagi wajah tampan Raja Minato akan berubah menjadi kakek sihir yang menyeramkan, seperti dalam cerita-cerita dongeng.

"Kami―"

"Pagiii~"

Kalimat Raja Minato terhenti saat pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka dan memunculkan seorang laki-laki berambut kuning yang mirip sang raja. Nada sapaannya terlihat lesu, mungkin masih merasa ngantuk.

Semua orang yang berada didalam ruangan langsung menatap sang blonde muda secara bersamaan. Seketika itu juga, para pengawal juga maid langsung membungkukkan badan menyambut kedatangannya.

'Dia!' Sakura terkejut saat melihat laki-laki itu.

"Pangeran, kau terlambat." Ratu Kushina tampak merengut kesal.

"Gomen, aku kesiangan bangun 'ttebayo … hoaaahm~" jawabnya sambil menguap lebar.

"Kau ini … jaga sikapmu! Seorang pangeran tidak akan menguap dengan sembarangan begitu!" Ratu Kushina mendengus. "Duduklah! Puteri Sakura sudah menunggu."

"He?" Sakura menatap Ratu Kushina bingung. Setahunya, ia tidak sedang menunggu siapapun. Satu-satunya yang ia tunggu adalah jawaban Raja Minato.

"Ah, Tuan Puteri … gomen," sahut sang pangeran. Ia kemudian membungkuk memberi salam lalu duduk didepan Sakura.

"Jadi begini, Puteri." Raja Minato kembali memulai. "Ini adalah anak kami, Pangeran Naruto yang nantinya akan menggantikanku sebagai Raja Konoha. Dan sebenarnya kau adalah orang yang terpilih untuk menjadi calon pengantin Pangeran sekaligus menjadi Puteri Kerajaan Konoha. Gelang yang kau pakai itu merupakan tandanya. Karena itulah kau dibawa kemari," jelas Raja Minato singkat.

Sakura terpaku bagai disambar petir disiang bolong. Ia yakin pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dan ia juga yakin ia tidak salah dengar. Barusan orang didepannya ini mengatakan akan menjadikannya calon pengantin.

Calon pengantin. Bukan menjadi persembahan dewa. Bukan juga menjadi bahan ramuan sihir atau semacamnya.

Semua sangkaannya salah besar. Dan ternyata kenyataan yang ia dengar LEBIH buruk dari semua sangkaannya selama ini! Bukankah itu berarti ia akan menikah dengan pangeran blonde yang wajahnya tampak childish ini?

Menikah?

MENIKAH?

"YANG BENAR SAJAAA!" teriak Sakura yang bangkit dari kursinya dengan kasar, membuat semua orang terkejut.

Beruntung Raja dan Ratu tidak punya penyakit jantung. Kalau iya, bisa dipastikan selanjutnya Sakura akan menjadi tahanan penjara istana.

~Bersambung...~

Dibalik layar...

Naruto : "Akhirnya aku muncul juga, yeaayy!"

Sakura : "Berisik!"

Rinzu : "Membayangkan Matsuri pake baju maid… aih~ unyu banget!" #cubit pipi Matsuri gemes

Matsuri : (tersipu) "Ah, arigatou …"

Tobi : "Kenapa diriku nggak muncul lagi?"

Rinzu: "Aduh, sabar… semua 'kan ada bagiannya."

Kushina : "Aku tidak sabar untuk menikahkan anakkuuu!"

Sakura : (sweatdrop) "…"

Rinzu : "Gomen kalo pendek en kelamaan update, hehe… Aku juga gak sempet cek ulang lagi, jadi maaf kalo ada salah-salah. Sebenarnya scene tumpukan bantal itu aku ambil dari scene Spirited away. Kalau kalian pernah nonton, mungkin kalian tahu, hehe… Makasih buanget buat yang masih mau lanjut baca atau pun yang baru baca. Sampai jumpa lagi!" ^^v